Author's Note

Minna!!!! Gomennasai...!!! m(_ _)m
Telat di update.... hiks-hiks... banyak alasan sih... saya rasanya sayang banget untuk menamatkan fic ini... padahal udah nggak ada jalan lain lagi... mungkin karena setengah hati, Tuhan juga nggak merestui... tiap kali mau ngetik malah mati lampu. Tiap mau nge-upload, malah nggak konek... nyuuuhuhuhu... TT ~ TT Akh! Bukan waktunya curhat!

Review Reply!

Nazuki. Rinchan Nyakakakakak... Sasu mesum! Sasu nepsong! Sasu pervert! -dichidori-

FreiyA_SnowDropS Hiya... tapi malah ini yang nggak kena kilat... =___= Apah? Manish? Kasih garam!!! -lagi buntu- Always smile ya, minna!!! XD Senyuman di pagi hari memang membawa keberuntungan... itu salah satu alasan saya suka nge-update subuh-subuh... nyohohohoho...

Charlotte. d'Cauchemar Iya, udah mo tamat... ini yang kedua dari tamat... chapter depan... hiks, tamat... tapi, belum ada ide baru... jadi habis ini mungkin saya cuma ngereview sana sini dulu baru bikin cerita baru lagi nanti... Ganbatte, minna!!! Bikin fic yang bagus hayooo! Megu akan selalu mendukung kalian!!!

Lovely Lucifer Nyohohoho... kira-kira apa yaaa???

Sefa-sama Nggak... Sai nggak jahat... baca aja deh... -spoiler?- Apah? Kaos kaki barumu ilang? Pake aja yang kemarin, nak! -ditimpuk-

Niero-SilvaUchisa Yup, femDei... terpaksa, supaya ceritanya bisa jalan... toh dia cantik! Nyohohoho... BTW, saya lupa kasih tahu... bukan calon istri lagi, Dei udah jadi Uchiha Deidara... =D

15205060 Apanya yang pendek senpaaaai? Ceritanya secara keseluruhan ataukah chapter kemarin? Chap kemarin udah hampir 3000 kata lho... tapi kalo fic ini secara keseluruhan... well, emang pendek... daripada jadi kayak sinetron? TT ~ TT (sebenarnya berat mau namatin...) I'm sorry... no lemon... and no-no lainnya... gomen...

Uzumaki-Uchiha-Inuzuka Sai nggak jahat! Sai nggak jahaaaat...!!! TT___TT (kok saya yang nangis?)

aicchan Senpaaaai!!!! XD *lompat-lompat kegirangan* Astaga... salah satu senpai favorit saya muncul juga... yaaay....!!! Hehehe... maaf, nggak bisa dipanjangin lagi... and still no lemon. Mungkin di cerita yang lain lagi ya...? Kapan-kapan... nyehehehe...

Chiba Asuka Ya ampyun... ya nggak lah di update lima tahun lagi... Xixixixi... maunya gitu... tapi... yaaaah... gitu deh!! BTW, fic saya udah mo tamat... tapi jangan sampe Hana to Yume hiatus gara-gara itu ya?! Ta' gigit kon nanti!

Akasuna no Azura Iya... kapan-kapan ya? ^^ Thanks for d' review!!!


Disclaimer:

Megu-chan: Naruto! Ayoolaah...! Kalo kamu jadi punya saya, saya jamin bakal happily ever after sama Sasuke!

Naruto : Ugh...

Megu-chan: Gimana? Terima tawaranku? Jadi milikku, y... aaaaagh!!! -kena chidori-

Sasuke : Naruto punyaku, tahu! Nggak bakal jadi punyamu!


Have a nice read! =)


From Storm 'til Shine

9

Sham and Startle



Naruto membuka matanya. Samar-samar, bisa ia lihat cahaya mentari mengintip dari sela-sela gorden di jendelanya.

Pemuda pirang ini bangkit dan duduk, ia lalu melihat ke atas kasurnya. Mencari sosok yang menemani… ah, tepatnya ditemaninya tidur semalam.

Kosong. Tak ada siapa-siapa di sana.

"Sasuke…?" Naruto memanggil. Tak ada jawaban.

Mungkin ia sudah kembali ke kamarnya sendiri… atau mungkin sudah mandi dan bersiap-siap? Atau apalah… yang pasti sudah tak ada Sasuke di kamar ini.

Naruto meninggalkan kasurnya dan berdiri di sisi jendela. Ia lalu menyibakkan gorden dan membiarkan cahaya mentari memasuki kamarnya. Saat ia mulai membuka kemejanya dan berbalik menuju kamar mandi, dilihatnya sebuah kertas tergeletak di atas mejanya.

Naruto meraih kertas itu…

-

Pagi, dobe.

Maaf aku berangkat duluan.

Aku harus mengantarkan dokumen yang diminta ayah.

Ayah menungguku di kantornya.

Oh, ya, siapkan dirimu.

I'll give a baby for you, today.

—Sasuke

-

Wajah lelaki muda itu otomatis memerah,

"B-baby…? Bayi apaan?"


Mobil Peugeot berwarna biru tua itu berhenti di tempat parkir. Seorang pria muda keluar darinya.

Naruto menghembuskan napas. Terpaksa ia menggunakan mobil ini. Mobil yang Sasuke belikan untuknya. Selama ini Naruto selalu menolak untuk menggunakannya. Toh ia juga selalu saja bersama dengan Sasuke, dan Sasuke punya mobil sendiri. Jadi sebenarnya mobil ini tak diperlukan. Tapi hari ini ia jadi berguna. Entah bagaimana caranya ia pergi ke kantor tanpa Sasuke seperti ini.

Saat ia berjalan di parkir bawah tanah itu, handphonenya berdering.

"Halo?" sapa Naruto.

"Ah, halo, ini Kiba. Maaf, Shino sakit… jadi aku dan dia tidak bisa pergi hari ini. Aku harus menjaganya," kata Kiba dari seberang telpon.

"Ya, tidak apa-apa. Semoga dia cepat sembuh, ya!" balas Naruto.

"Ya, terima kasih Naruto-san."

PIP. Telpon ditutup.

Naruto memandangi ponselnya.

Hum… tadi sebelum berangkat, Chouji menghubungiku dan cuti tiba-tiba karena dipanggil orangtuanya. Shino sakit, dan Kiba yang menemani. Jadi… hari ini yang akan menjaga hanya aku, Neji dan Shikamaru?

Naruto membuang napas.

Semoga saja tak ada apa-apa.

Pria pirang bermata biru itu berjalan masuk ke dalam gedung kantor Uchiha's Ink. Gedung perusahaan milik Sasuke. Ia sendiri merasa ganjal. Sudah terbiasa memasuki gedung itu bersamaan dengan Sasuke setiap paginya.

Ia segera berjalan menuju lift, dan menunggu hingga lift sampai ke lantai dasar tempatnya berada dan terbuka.

Ting!

Setelah pintu besi itu terbuka, seorang wanita keluar dari sana.

Ia langsung bertatap muka dengan Naruto. Wanita yang dengan rambut hitam tergerai itu adalah Kurenai Yuhi, sekretaris Sasuke.

"Lho, Naruto? Dimana Uchiha-san?" tanyanya segera, setelah melihat ketiadaan lelaki muda berambut hitam itu di sisi Naruto.

"Ah, dia pergi mengantar dokumen ke kantor ayahnya," jawab Naruto sambil tersenyum.

"Hm, kupikir ada apa-apa… aku ke sana dulu ya?" ucap wanita itu lagi, tersenyum tipis dan kembali melangkah.

"Ya."

Naruto masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol 11, membawanya ke lantai tempat kantor Sasuke berada.

Pikirannya mulai melayang…

'kupikir ada apa-apa'…?

Naruto membuang napas lagi, meski ia sendiri tahu, berkeluh kesah pagi-pagi begini bisa mendatangkan sial.

Sungguh, hatinya memang tidak pernah tenang sekalipun ia selalu bisa menjaga keamanan Sasuke. Ditambah lagi kalimat tadi, dan ketiadaan Sasuke di sampingnya.

Naruto jadi kesal pada dirinya sendiri.


Pemuda bermata biru itu berdiri di sisi jendela kaca, memandang jauh ke bawah sana. Ia sedang berada di ruangan orang yang hingga kini belum datang juga. Ia melirik jam di handphonenya…

8.57

'…tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Belum jam 9.00 kok, jangan terlalu khawatir, OK?' ucapnya dalam hati demi menenangkan dirinya sendiri.

Tak lama, ada suara langkah yang terdengar di telinganya. Seseorang masuk ke ruangan direktur tempatnya berada. Dengan segera, Ia berbalik, berharap itu adalah orang yang ditunggunya…

Pria muda, berkemeja abu-abu tua tanpa jas dan dasi, berambut hitam dengan mata yang berwarna sama… tapi itu bukan Sasuke.

"Uchiha-san," ucap Naruto saat melihatnya.

"Selamat pagi Namikaze… ah, boleh aku memanggilmu Naruto saja? Toh kita seumur… Kau bebas memanggilku Sai," ucap lelaki muda itu.

Naruto pun membalas, "Maaf Sai, direktur belum datang."

"Oh ya?" Sai memastikan pendengarannya, "Baguslah. Kalau begitu, aku bisa bebas bicara denganmu…"

"Eh?" pria pirang itu sedikit bingung.

"Iya, aku mau berbicara denganmu. Apa kau mau ikut denganku?"

"Sayangnya aku tak bisa keluar kantor… tapi… kita tidak mungkin bicara di sini kalau ini bukan urusan kantor kan?" Naruto terlihat berpikir sebentar, ia lalu menepuk kedua tangannya saat terbayang tempat yang tepat bagi mereka untuk bicara, "Oh iya, kita ke sana saja!"


"Nice place," ucap Sai saat sampai ke tempat yang dimaksud Naruto. Atap gedung kantor Uchiha's Ink. Tempat yang tinggi, tapi juga cukup baik untuk jadi tempat melepas penat. Angin menerpa wajah mereka berdua.

"Hn," balas Naruto tersenyum manis dan memandang angkasa, "Aku bisa lihat langit di sini…"

Sai balas tersenyum, meski ia tahu Naruto tak melihatnya. Ia pun mencari tempat untuk duduk.

"Jadi… kau mau berbicara apa?" tanya Naruto sambil tersenyum pada Sai.

"Aku hanya ingin bilang… kau itu pemuda yang menarik," ucap Sai, menatap tepat ke mata Naruto, "Aku menyukaimu. Jadi… langsung saja, apa kau mau meninggalkan Sasuke dan jadi pacarku?"

Naruto ternganga beberapa detik sebelum…

"…HEEEEEEH??!!" pekiknya.

Sai tertawa melihat reaksi Naruto.

"Ta-tapi… kita baru bertemu kemarin!!" balas Naruto sambil berkeringat dingin.

"Memangnya kenapa kalau kita baru bertemu kemarin? Apa kau tidak percaya dengan yang disebut love at the first sight, Naruto?" balas pemuda berambut hitam itu.

Tak ada balasan.

"Lagipula… kudengar dari Itachi, kalian juga belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu terperangkap di pulau hanya beberapa hari, dan sepulangnya sudah menjalin hubungan… tak ada bedanya 'kan?"

'Itachi-nii-san…' geram Naruto dalam hati, 'dasar mulut ember!'

Naruto terdiam, sejenak. Hanya sejenak, untuk memaki aniki Sasuke, juga untuk memikirkan jawabannya. Tak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan Sai tadi.

"Ti—" dak.

Seharusnya itu yang terucap. Tapi mulut Naruto terhenti. Terhenti oleh gerakan tangan kanan Sai yang memberinya kode untuk diam.

Sai berkata, "Sebuah pengalaman di masa lalu membuatku paham… sebaiknya kau harus memikirkan matang-matang setiap ucapanmu sebelum kau mengucapkannya… karena bisa saja nanti, kau akan menyesalinya."

Mata Sai menerawang ke pengalaman masa lalu itu. Hanya sebuah kalimat. Sebuah kalimat sederhana yang terlontar dari mulutnya. Sebuah kalimat yang pertama dan terakhir kalinya ia ucapkan seumur hidupnya. Sebuah kalimat… yang menghancurkan persahabatan yang telah ia jalin sejak lahir dengan Sasuke.

"Aku tak akan menyesalinya," kata Naruto, menyadarkan Sai dari pikirannya.

Sai menatap Naruto.

"Kau yakin?"

"Ya," jawabnya lugas.

"Sungguh?"

Naruto menatap tepat ke mata Sai dan berucap, "Sangat."

"Biarpun aku mendatangimu setiap hari dan menanyakan pertanyaan yang sama?"

"Setiap hari itu pula aku akan memberi jawaban yang sama."

Sai terdiam. Ia menghembuskan napas panjang. Baguslah, bibit cintanya dihancurkan sebelum mekar. Ini tak akan terlalu menyakitkan…

Mulutnya berucap, "Beruntung sekali Sasuke bisa mendapatkanmu…"

Padahal Sai sendiri pun tahu… pastinya pemuda pirang ini adalah satu-satunya hal yang paling berharga milik Sasuke… mengingat semua hal berharga lain telah jatuh ke tangan sang kakak.

Tapi… ia pun sama. Sampai hari itu, tiada hari dalam hidupnya dimana ia tidak dibanding-bandingkan dengan kedua putra Fugaku. Sampai hari itu juga, ia dengan terpaksa harus mengejar sosok Sasuke, sementara Sasuke sendiri tak pernah melihat kebelakang… tak pernah menyadari keberadaan Sai sebagai saingannya, dia hanya buta akan ambisinya untuk mengalahkan sang kakak. Tapi itu semua berhenti sampai hari itu. Ya, hari itu. Hari dimana Sasuke mendengar ungkapan kekesalan Sai. Satu-satunya kalimat hinaan yang pernah ia lontarkan untuk Sasuke. Setelah itu… Sasuke berhenti. Berhenti mencoba mengejar Itachi. Bahkan berhenti mencoba untuk hidup. Meski Sai tak ada di sana, Sai tahu persis, mungkin Sasuke akan hancur… kalau tak bertemu dengan pemuda pirang ini.

"Sai…" panggil Naruto, lagi-lagi menyadarkan ia dari lamunannya.

"…hn?"

"Maaf kalau aku menanyakan ini…" kata Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "tapi… sebenarnya apanya sih, dariku ini yang bisa membuat 'love at the first sight' segala?"

Sai hampir tertawa mendengar kalimat Naruto, ungkapan kebodohan seorang Namikaze Naruto.

"Kau itu tampan," katanya sambil menahan geli.

Wajah Naruto langsung bersemu merah. Tapi Sai tak peduli, ia melanjutkan, "…mata biru… rambut pirang… entah orang bodoh mana yang tidak akan terpesona."

Mendengar kalimat ini, Naruto malah mencibir.

"Tidak juga… tak ada gadis di kantor ini yang mau melirikku."

Sai tersenyum tipis dan berucap, "Itu karena selalu ada Sasuke di dekatmu."

Meski bibirnya masih manyun, Naruto mengangguk-angguk. Memang benar. Rasanya hampir gila melihat para gadis yang terus menatap Sasuke dengan pandangan siap menerkam… menyebalkan!

"Tapi Naruto… kau punya satu hal yang tak dimiliki Sasuke atau siapapun. Dan kurasa, itulah yang paling mematikan darimu."

"…mematikan?" balas Naruto bingung. Ia memandang Sai dengan tanda tanya besar di kepalanya.

Sai bangkit dari tempatnya duduk. Ia berdiri, menatap tepat ke kedua bola mata biru Naruto.

"Senyumanmu," katanya pendek.

Ia lalu berjalan menuju pintu yang akan membawanya masuk kembali ke dalam kantor.

"Sebaiknya kau jangan sering-sering tersenyum, nanti Sasuke bisa repot," katanya, "Sampai jumpa, Naruto."


Untuk yang kesekian kalinya, Naruto menyibak lengan jas dan kemejanya untuk bisa melihat arlojinya.

11.17

Apa tidak terlalu lama? Katanya hanya akan mengantar dokumen… kenapa selama ini? Mungkinkah ayah Sasuke mengajaknya mengobrol dulu? Hei… sadarlah! Tuan Uchiha Fugaku bukan orang yang banyak omong seperti itu… terkecuali untuk urusan bisnis… Ya, mungkin saja mereka mengobrolkan urusan kantor… tapi… tetap saja…

Naruto lalu mengambil handphonenya.

Ia segera menghubungi Sasuke.

TIIIIIT… TIIIIIT….

Yang ia dengar pertama adalah nada sambung. Naruto dengan sabar menunggu sampai akhirnya…

TIT – TIT – TIT – TIT….

'Akh, di-reject?!' seru Naruto dalam hati, 'Apa-apaan Sasuke ini?!'

Naruto mencoba menelpon lagi. Nada sambung pun mengalun di telinganya… tapi tak lebih lama dari sebelumnya, karena…

TIT – TIT – TIT… langsung disusul oleh nada sibuk.

Brengsek… apa-apaan ini?! Apa dia terlalu sibuk dengan ayahnya sampai harus mereject telponku?! Tapi biasanya, biarpun ia sedang rapat, ia pasti mengangkatnya!

Naruto menghembuskan napas panjang, mencoba menguasai amarahnya.

Ya, mungkin ada baiknya kalau aku memastikan dulu…

Naruto mencari-cari nomor kantor Fugaku. Setelah dapat, pemuda berambut pirang ini tak buang waktu, ia segera menghubungi nomor itu.

"Halo?" ucap orang di sana, yang menurut Naruto, pastilah Juugo, sekretaris Fugaku.

"Ah, Juugo-san? Ini Namikaze. Aku hanya ingin bertanya, apa Sasuke ada di sana?" Naruto bertanya dengan cukup panik, sampai-sampai lupa menambah embel-embel Uchiha dan –san pada nama Sasuke. Tapi toh Juugo tak peduli.

"Tidak. Uchiha-san memang datang kemari tadi pagi. Tapi sekitar jam 8, dia sudah pulang."

"Eh…?" Naruto terkejut, tapi beberapa detik kemudian, ia membalas, "Ng… ah, ka, kalau begitu, terima kasih banyak!"

PIP. Naruto menutup telpon.

Teme… dimana kau?!

Naruto pun mengambil handphonenya lagi dan memutuskan untuk mengirimkan SMS padanya.

'Hei, teme! Kau dimana? Angkat telponku, baka! Kau mau membuatku mati kesal, apa?! Balas cepat!'

Tring. SMS terkirim.

Satu menit terlewati… tak ada balasan.

Dua menit… ponsel Naruto masih belum berbunyi.

Lima menit… tetap tak ada balasan.

Sepuluh menit…

"Aaarggh!!" Naruto berseru kesal sambil memegangi kepalanya. Ia langsung menghubungi nomor Sasuke lagi.

TIIIIIT… TIIIIIT… TIIIIIT… TIIIIIT…

Cukup lama ia menunggu.

TIIIIIT… CKREK. Telpon diangkat!

"Sa-Sasuke!! Kau dimana?!"

Ada jeda sejenak sebelum Naruto mendengar balasannya, "…sayang sekali, aku bukan Sasuke."

"Eh…?" Naruto terpaku. Terpaku karena suara yang sangat asing di telinganya itu.

"Haruskah kuulangi, Namikaze Naruto? Aku bukan Sasuke. Tapi Sasuke ada bersama kami."

"Si-siapa kau? Mana Sasuke??!" balas Naruto panik.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Satu hal yang harus kau ketahui, Sasuke bisa kehilangan nyawa kalau kau tidak menyerahkan diri."

"Apa?!" Naruto semakin panik.

Tapi ia bisa mendengar suara tawa sinis dari seberang telponnya, sebelum dilanjutkan dengan, "Kami tak butuh uang tebusan, yang kami inginkan adalah kau. Jangan beritahu polisi ataupun keluarga Uchiha. Datanglah ke tempat ini, gudang berwarna abu-abu yang ada di ujung barat kota. Datanglah dan kau akan mengerti."

KLIK. TIT – TIT – TIT… telpon ditutup.

Aaakh! Sial! Apa-apaan ini?! Penculikan? Lalu apa maksudnya mereka menginginkan aku?! Dan kenapa malah Sasuke yang diculik?!

Naruto sudah sangat panik. Rasa-rasanya ia sudah tidak bisa berpikir lagi.

Polisi… kalau telpon polisi, nyawa Sasuke bisa melayang. Keluarga Sasuke… akh, tak ada gunanya, mereka tak minta uang tebusan. Lagipula, kalau aku memberitahu keluarga Uchiha, buntut-buntutnya pasti polisi… lalu siapa yang bisa membantuku?

Ah, Neji dan Shikamaru!

"Namikaze di sini. Hyuuga-san, Nara-san, dimana posisi kalian?"

SIIING. Sunyi, tak ada balasan.

"Neji! Shika! Dimana kalian?!" seru Naruto emosi.

Sama sekali tak ada balasan.

Baru saja Naruto berniat melempar headsetnya dan menginjaknya sampai rusak. Kenapa justru di saat genting begini alat ini malah tak berguna?!

Tapi niatnya terhenti, ia mendengar sebuah suara.

"Maaf, anak buahmu tak bisa menjawab lagi kalaupun mau. Mereka sudah kami lumpuhkan," suara pria itu terdengar dari headset yang terpasang di telinga Naruto.

Suara ini… orang yang tadi?!

"Hoi! Siapa kau sebenarnya?!" tanya Naruto.

"Sudah kubilang kau tidak perlu tahu siapa aku… kau mau apa lagi? Berlama-lama di sana sementara Sasuke meregang nyawa?"

"Tunggu!" keringat dingin menjalari kulit Naruto, "A-aku pasti ke sana!"

TIT. Komunikasi terputus lagi.

Naruto pun dengan cepat berlari menuju parkiran dan masuk ke mobilnya.

Ia berangkat dan mengendarai mobilnya dengan perasaan campur aduk… kesal, khawatir, sesal, kecewa, sedih, marah… semuanya bercampur jadi satu.

Kenapa ia tak terbangun saat Sasuke pergi tadi pagi? Kenapa ia tidak menemaninya? Kenapa ia malah menunggu lama di kantor seperti orang bodoh tanpa langsung menyadari ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi?

Kenapa…

Kenapa harus Sasuke yang diculik?

Kalau aku yang kalian inginkan, ambil saja aku! Lebih baik aku mati daripada sesuatu terjadi pada Sasuke…

Kami adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Kematian Minato… kematianku juga.

Naruto tertegun. Kalimat itu melintas begitu saja. Bayangan akan kisah menyedihkan orangtuanya terputar kembali di otaknya…

Ibu… ayah… tidak. Tidak. Tidak akan kubiarkan kisahku dengan Sasuke berakhir seperti orangtuaku!

Ia mempercepat laju mobilnya, tancap gas menuju tempat yang dimaksud. Cepat? Tak masalah. Biarpun dikatai sebagai orang paling bodoh se-AU, Naruto adalah pilot handal. Mengendalikan mobil dengan kecepatan tinggi bukan hal sulit baginya. Jalan-jalan itu pun terlewati dengan mudah.

Peugeot biru Naruto segera sampai ke tempat itu. Tempat luas yang tanahnya rata dan dilapisi beton. Lengkap dengan gudang itu, gudang abu-abu tinggi besar yang berdiri kokoh di sisi tanah luas itu. Sayangnya, tempat itu ditutupi oleh jaring-jaring besi. Naruto mengelilingi tempat luas yang berada di ujung kota ini. Ia berputar, mengelilingi lokasi itu dengan mobilnya. Pemuda bermata biru ini tak kunjung menemukan tempat untuk masuk. Tapi ia menangkap sesuatu dengan ekor matanya, sebuah pintu pagar besar…

Naruto menyetir mobilnya sampai di hadapan pintu pagar itu dan turun.

Sial. Dikunci!

Sebuah rantai besar menjadi penahan kedua pintu pagar itu.

Naruto naik kembali di mobilnya.

Tidak. Tidak ada jalan lain.

Ia menyalakan sang mobil dan menggerakkan Peugeot biru tua itu mundur ke belakang. Naruto memegang erat setirnya.

…maaf Sasuke. Aku harus merusakkan mobil darimu… katanya dalam hati.

Naruto menancap gas.

Menabrak pagar itu hingga terbuka. Setelah berhasil, ia pun tidak berhenti. Ia malah langsung meneruskan perjalanan di atas tanah berlapis beton yang sangat luas itu menuju gudang abu-abu. Ia sedikit heran dengan lapisan beton yang membuat perjalanannya amat mulus itu. Sebenarnya ini tempat apa? Tapi toh bukan itu yang ada dipikirannya.

Hanya ada satu kata… tepatnya satu nama, yang terus bergema di otaknya.

CKIIIT.

Naruto mengerem dan menghentikan mobilnya tepat di depan gudang abu-abu.

Ia segera berlari keluar mobil dan memdorong pintu besar berwarna hitam itu.

"Sasuke!" seru Naruto saat ia berhasil masuk.

Segera setelahnya, tubuhnya terpaku… matanya membelalak, jantungnya serasa terhenti, sama sekali tak siap untuk melihat apa yang ada di hadapannya saat ini…

-
To Be Continued...
-