.
Disclaimer:
Fairy Tail by Hiro Mashima
Broken Vow
By
Minako-chan Namikaze
Genre: Drama, Romance, hurt, etc.
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Jika tidak suka dengan fic ini, sebaiknya langsung tekan tombol back karena hal-hal di fic ini bersifat OOC dan bikin yang baca mau banting apapun. Dan saya tidak menerima Flame tidak membangun dari para pembaca sekalian karena sudah saya tekankan di warning ini, bagi yang tidak suka, jangan dibaca. Bahasa campuran antara baku dan gak baku.
Ini sekuel dari fic You're Not Her Father
.
Enjoy!
.
.
Natsu Dragneel menyesap minuman di cangkir kecilnya. Matanya sayu. Ada sebuah tanda berwarna hitam di bawah matanya. Wajahnya kusam dan rambutnya lebih berantakan dari biasanya. Satu kata yang bisa menjelaskan keadaannya saat ini. Mengenaskan. Keningnya mengerut saat dentuman musik dan juga sorak-sorai di sekelilingnya semakin menjadi dan menusuk-nusuk gendang telinganya. Suasana yang sangat kacau seperti ini sangat tidak cocok dengan suasana hatinya yang tengah kacau pula. Dan dia sangat tidak suka disuruh menunggu seperti ini, di tempat seperti ini.
Pria pemilik surai dengan warna tidak biasa itu meraih sebuah botol bertuliskan 'Gin' di dekat lengan kanannya dan menuangkan isinya ke cangkir kecilnya. Menaruhnya kembali ke tempat semula, Natsu langsung menenggak semua cairan di cangkir tadi sampai habis. Kemudian menghentakkan cangkir itu ke meja sambil menggeram pelan. Sorot matanya menajam, dicengkramnya cangkir itu sekuat mungkin hingga benda kecil itu retak dan nyaris pecah.
"Natsu,"
Natsu segera menoleh ke belakang, menatap seorang pria yang sudah ditunggunya sejak tadi. Natsu tidak menyahut panggilan pria itu dan kembali menghadap ke depan, menuangkan kembali minuman kerasnya.
Pria di belakang Natsu mengernyit, kemudian dia berjalan menghampiri Natsu. Menarik kursi di sebelah pria pink itu, Zeref tersenyum lembut ke arah adiknya itu. "Jangan minum terlalu banyak. Nanti kau bisa tidak sadarkan diri," ucapnya.
Natsu menatap Zeref dengan datar melalui ekor matanya dan tidak memperdulikan peringatan kakaknya itu. Dia terus menyesap minuman berakohol bermerk Gin itu. "Langsung saja. Kenapa kau memanggilku ke sini?" tanyanya.
Zeref meringis kemudian memesan kopi hitam pada bartender. "Kau tidak mau menanyakan keadaan Lucy selama dua minggu ini?" tanya Zeref.
Natsu tersentak pelan. Dia menatap Zeref dengan tatapan penasaran sekaligus cemas yang tak mampu ia tutupi. "Bagaimana ... keadaannya?" tanyanya, pelan.
Zeref kembali melebarkan senyum lembutnya. "Ya, dia baik-baik saja. Meskipun awalnya dia selalu murung dan sering melamun, tapi sekarang dia sudah sedikit ceria. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."
Natsu tak mampu menahan diri untuk tidak mengembuskan nafas lega. Lucy baik-baik saja. Wanita itu masih baik-baik saja.
"Lalu, apa yang membuatmu terbang ke sini dan meninggalkan dia sendirian di mansion? Bukankah sudah kutekankan untuk menjaganya?" tanya Natsu, ketus. Dia merasakan emosi langsung menghampirinya. Situasi sudah semakin gawat dengan Sayla yang telah mengetahui di mana lokasi Lucy berada, dan seharusnya Zeref menjaga Lucy dengan lebih ketat. Bukannya malah menemuinya di Hargeon dan meninggalkan wanita-nya sendirian tanpa penjagaan!
"Jangan khawatir. Brandish ada bersamanya. Tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Lucy selama Brandish menjaganya." Jawab Zeref seraya menyesap kopinya. Kemudian dia menatap Natsu dengan tatapan yang serius, membuat Natsu sedikit tersentak dengan perubahan ekspresi Zeref yang tiba-tiba. "Aku sudah mengetahui penyebab dari bencana yang telah menimpamu dan Lucy." Ucapnya.
Natsu langsung membelalak mendengarnya. "Bagaimana bisa kau..." ucapnya tak percaya.
Zeref tersenyum pahit. "Kau pikir aku akan percaya begitu saja melihat adikku melakukan perselingkuhan seperti ini? Ditambah lagi, aku tahu seberapa besar kau mencintai Lucy..." Kembali menyesap kopinya, Zeref melanjutkan. "Aku langsung mencari tahu sumber dari masalah ini. Dan Natsu, kenapa kau tidak meminta bantuanku saat perusahaanmu mengalami krisis keuangan? Setidaknya kau bisa meminta saran dariku sebelum menyetujui kontrak kerja dengan perusahaan Tartaros. Lihat apa yang terjadi sekarang?"
Natsu menunduk mendengarnya. "Aku tahu ini adalah kesalahanku. Ini gara-gara kebodohanku. Aku tidak bisa memimpin perusahaan Ayah dengan baik sepertimu. Aku tidak bisa menjaga rumah tanggaku. Aku bahkan tidak bisa melawan saat perempuan jalang itu menyentuh tubuhku..." Natsu mencengkram gelasnya kuat. Merasa benar-benar tidak berguna sebagai seorang laki-laki yang telah diberikan tanggung jawab.
Natsu mulai menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tidak ada yang dia tutup-tutupi. Meskipun Zeref sudah tahu garis besarnya dari Invel, tapi cerita yang dituturkan Natsu langsung meredakan kemarahannya terhadap adiknya itu. Dia tahu jika dirinya juga di posisi Natsu, dia mungkin akan melakukan hal yang sama. Natsu telah diberikan kepercayaan penuh oleh Ayahnya untuk memimpin perusahaan. Dan dia tidak ingin perusahaan bangkrut di bawah kepemimpinannya. Dia juga tidak mau Lucy ikut terlibat dan terluka karena iblis seperti Sayla tidak akan segan-segan menghabisi wanita yang dia cintai itu, karena iblis itu bisa melakukan apa saja dengan kekuasaannya. Karena itulah Zeref tidak bisa menyalahkan Natsu. Semua kesalahan terletak pada wanita itu. Sayla.
"Jadi, apa yang akan kaulakukan untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya Zeref setelah Natsu usai bercerita.
"Aku sudah menemukan solusi yang bagus. Aku yakin cara ini akan berhasil. Hanya saja prosesnya begitu lambat." Jawab Natsu.
"Aku akan membantumu sebisa mungkin jika kau memerlukan bantuanku." Ucap Zeref.
Natsu menoleh ke arah kakaknya itu dan tersenyum. "Terima kasih."
Zeref balas tersenyum kemudian mengusap kepala Natsu, membuat sang empunya kepala meringis protes. "Aku senang bisa melihat adikku yang dulu." Ujar Zeref.
Natsu terhenyak mendengarnya. Dia segera memalingkan wajahnya. "A-Aku sengaja bersikap baik padamu karena kau sudah mengabulkan permintaanku untuk membawa Lucy pergi." Jelasnya.
Senyum Zeref tidak menghilang, namun berubah menjadi senyuman bersalah. "Natsu... menurutmu, aku membawa Lucy pergi karena itu adalah permintaanmu?" tanyanya tanpa memandang lawan bicara. Kepulan asap dari kopi hitam di cangkir yang tengah ia genggam sepertinya lebih menarik untuk dilihat dibanding wajah kebingungan pria di sampingnya.
"Apa maksudmu? Tentu saja. Memangnya apa lagi yang bisa membuatmu ingin membawa Lucy pergi dari sini?" tanya Natsu seraya menaikkan sebelah alisnya. Zeref mendengus pelan melalui hidungnya. Dia menoleh ke arah Natsu dan memasang sebuah senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan.
Natsu menatap Zeref dengan terkejut. Terutama dia tidak percaya Zeref menatapnya dengan tatapan itu. Tatapan bersalah... "Kau... Tidak mungkin 'kan..."
Zeref mengangguk pelan. Tidak mengalihkan tatapan bersalahnya dari manik onix Natsu yang berkilat marah. "Brengsek kau, Zeref! Lucy itu istriku!" dia kembali menghentakkan cangkirnya hingga benda kecil itu retak dan hancur seketika.
"Dia sudah bukan istrimu lagi."
"Aku akan membuatnya kembali padaku lagi!"
Zeref menatap Natsu dengan senyuman dingin. "Kau tidak akan bisa memilikinya lagi."
Mendengar itu, sontak Natsu segera berdiri dari duduknya. Diletakkannya beberapa lembar uang di atas meja dan beranjak pergi dari kursinya setelah melemparkan tatapan tajamnya ke arah pria yang pernah ia anggap sebagai kakaknya.
XXX
Suara dering ponsel memaksa seorang pria yang tengah berpetualang di dunia mimpi untuk segera kembali ke dunia nyata. Menggeram gusar, tangan kekarnya terjulur, menggapai-gapai nakas demi menemukan benda kecil yang masih saja terus mengusik pendengarannya. Setelah berhasil menggenggam ponselnya, Natsu segera menekan sembarang tombol dan menempelkannya di samping telinga.
"Hn?" sahutnya. Matanya masih terpejam, seakan tidak rela untuk terbuka barang setengah detik saja.
"..."
Pria itu langsung melebarkan onixnya. Sontak, dia langsung terduduk di atas tempat tidur. Digenggamnya dengan kuat ponsel yang tertempel di telinganya dan mendesis tak percaya. "Apa katamu?!"
"..."
"Bukankah sudah kubilang untuk merahasiakan ini darinya?!"
"..."
Natsu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Raut wajah lelah dan juga gusar semakin terlihat jelas di wajah tampannya yang terlihat lusuh. "Lalu, bagaimana keadaannya?"
"..."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Natsu melirik jam weker di atas nakas. "Sekitar dua jam lagi. Ya, aku juga akan membawa Luna."
Natsu mengakhiri panggilan telepon. Lagi-lagi, dia menghela nafas. Tatapannya mulai sayu. Entah sampai kapan dia harus menghadapi masalah yang seakan tidak ada habisnya, dan malah semakin bertambah. Dia harus melakukan sesuatu. Tidak, dia harus mulai bergerak.
XXX
"Di mana aku harus menaruh vas bunga ini?"
"Emm... Sudah kubilang tidak usah bawa bunga. Kau tahu hidungku tidak menyukai bau menyengat dari benda itu, 'kan?"
"Tapi aroma bunga ini bisa menetralisir bau antiseptik dan obat-obatan di ruangan ini. Setidaknya kau sedikit berterimakasih karena aku sudah berbaik hati memberikan perhatianku padamu."
Igneel tertawa renyah mendengarnya. Menatap lembut ke arah wanita berambut gulali yang tengah menata bunga dengan wajah kesal. Mata onixnya beralih ke luar jendela. Pemandangan dedaunan kering yang berguguran dan tertiup oleh angin segera menyita pikirannya.
"Hey, kenapa Natsu belum datang juga?" Grandine menarik kursi di samping tempat tidur Igneel.
Tatapan Igneel meredup. "Mungkin sebentar lagi," jawabnya, pelan.
Grandine menautkan kedua alisnya. Perasaan risau segera menghampiri benaknya. Dia benar-benar terkejut mendapati berita yang di dengarnya tadi malam. Bahwa Natsu sudah bercerai dengan Lucy dan Perusahaan Dragneel yang ia pimpin diambang kebangkrutan. Entah apa yang sudah terjadi hingga masalahnya bisa jadi seserius ini.
Sebuah ketukan pintu menginterupsi keheningan di ruangan itu. igneel menyahut, mempersilahkan seseorang di luar kamarnya untuk masuk. Dan seperti dugaannya, sebuah kepala berwarna pink muncul dari balik pintu. Ah, warna pink lain juga ikut muncul di balik kaki sang pria berambut pink tadi. Wajah kedua orang itu tampak khawatir dan ketakutan.
"Kakek!" Luna Dragneel berlarian menghampiri kakeknya dengan raut wajah cemas. Igneel dengan sigap merengkuh cucu kecilnya saat gadis kecil itu tiba-tiba melompat ke arahnya.
"Ah, Luna! Cucu kakek yang paling cantik!" seru Igneel seraya memeluk cucu kecilnya itu. Grandine mendengus geli. Memangnya kau punya cucu berapa, huh?
"Kakek sakit apa? Parah tidak?" tanya Luna. Mata karamelnya yang bulat menatap Igneel dengan jenaka.
"Tidak parah kok, sayang. Kakek hanya demam biasa. Luna tidak perlu khawatir." Igneel mengusap kepala Luna.
Natsu yang sejak tadi diam, mulai mendekati Igneel. Wajahnya sedikit tertunduk. Dahinya dipenuhi kerutan. Tidak ada tanda-tanda dari bibirnya kalau pria itu akan tersenyum. Matanya sayu, seolah dia sudah tidak pernah tidur berhari-hari. Grandine yang melihat keadaan putranya yang begitu kacau langsung menghujani Natsu dengan pertanyaan berlebihan.
"Natsu! Oh, Tuhan! Apa yang sudah terjadi padamu?! Kenapa kau bisa sekurus ini, nak?! Wajahmu begitu pucat! Bahkan kulitmu juga! Kapan terakhir kali kau tidur? Apa kau makan tepat waktu? Siapa yang mengurus pakaianmu? Bicaralah! Kenapa daritadi diam saja? Oh, Tuhan! Kenapa anakku bisa jadi seperti ini?!"
Natsu mengernyitkan dahi melihat Ibunya yang mulai histeris. Menggaruk tengkuknya dengan raut wajah bosan hidup, Natsu menjawab dengan santai. "Aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedang banyak masalah."
Grandine menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya melebar tak percaya dengan sorot khawatir. "Oh, Tuhan... Kau benar-benar telah bercerai dengan Lucy?!" seru Grandine. Tadinya Ia tak percaya dengan kabar itu. Makanya dia datang ke sini untuk memastikan kebenarannya dari Natsu sendiri. Namun, melihat keadaan putranya yang begitu mengenaskan, Grandine sudah mendapat konfirmasi dari keraguannya itu. Mereka memang sudah bercerai. "Kenapa tidak memberitahu Ibu? Perceraian bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah!"
Natsu menautkan kedua alisnya. Merasa tidak terima dengan bentakan Ibunya. Haruskah dia mengatakan kalau situasinya begitu gawat hingga dia tidak memiliki pilihan lain? Kalaupun dia memberitahu Grandine, dia tidak yakin Ibunya punya solusi yang bagus. Malah, mungkin Ibunya akan mendatangi Kantor Tartaros sambil membawa pistol dan katana. Oh, tidak. Dia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Ibunya bisa dimasukkan ke dalam penjara karena telah mengacau di perusahaan orang lain. Dan lagi, mereka juga tidak punya bukti untuk melaporkan Tartaros pada pihak yang berwajib. Diserahkan ke pihak berwajib pun mereka bisa apa? Tartaros bisa dengan mudah menyogok dengan nominal 10 kali lipat untuk membebaskan diri dari segala tuduhan.
"Grandine,"
Natsu dan Grandine segera menoleh ke arah Igneel yang tengah menatap mereka berdua dengan datar. Grandine terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk mengerti. Dia segera membawa Luna keluar bersamanya. Igneel ingin bicara berdua dengan Natsu.
"Mendekatlah," Igneel bersuara ketika suara langkah kaki Grandine dan Luna menjauhi ruang rawatnya.
Natsu berjalan dua langkah, berdiri tepat di samping tempat tidur Ayahnya. Tetap bungkam.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya pria tua itu.
"Bukankah Loke sudah menjelaskannya pada Ayah?" Natsu bertanya kembali.
"Sudah. Tapi aku tetap ingin mendengar penjelasanmu."
Natsu menghela nafas. Melapangkan dadanya dari segala rasa kalut dan juga gelisah. Dia sudah lelah dengan semua rahasia yang ada pada dirinya. "Mereka menjebakku. Seharusnya aku bisa menyadari itu sejak awal." Ucapnya.
Igneel tidak memalingkan pandangannya dari luar jendela. "Tartaros, ya..." gumamnya. "Kenapa mereka melakukan hal sekotor ini pada perusahaan kita?"
"Aku juga tidak tahu pasti. Tapi, Sayla, adik dari PresDir Tartaros, mencintaiku. Jadi, mungkin alasannya adalah dia ingin memilikiku dan juga perusahaan Dragneel. Ini hanya pendapatku saja." Jawab Natsu.
"Jadi, karena putus asa tidak dapat menemukan cara lain untuk melawan, kau jadi melepaskan Lucy?"
"Aku tidak melepasnya. Aku akan menikahinya kembali setelah masalah ini terselesaikan." Jawab Natsu, mantap.
Igneel mendengus. Tertawa sinis. "Kau pikir akan semudah itu membuatnya mau menikahimu kembali, huh?"
"Seharusnya bisa. Lucy dan aku saling mencintai..." jawab Natsu, namun tatapannya sedikit ragu.
"Jika dia sudah tidak mencintaimu lagi, bagaimana? Atau yang lebih parah lagi... Bagaimana kalau dia malah membencimu?" tanya Igneel, menatap lurus ke mata Natsu.
Natsu tersentak mendengarnya. Kedua alisnya bergerak gelisah. "I-Itu..." Dia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan ini.
Tatapan Igneel mendingin. Dia kembali menatap ke luar jendela. "Grandine masih membenciku sampai sekarang." Ucapnya.
Natsu menggerakkan bola onixnya ke arah sosok pria yang duduk tegap namun sebenarnya dia begitu rapuh di hadapannya. Ayahnya telah menyimpan sebuah penyesalan besar di dalam hidupnya. Bahkan sampai sekarang pun, Natsu selalu bersimpati pada Ayahnya itu. Perceraian yang terjadi antara Igneel dan Grandine sama sekali bukanlah keinginan Ayahnya. Namun, situasilah yang mengharuskan mereka untuk bercerai. Dan Ibunya, Grandine masih membenci Igneel sampai sekarang, meskipun sekarang wanita itu tidak terlalu menunjukkan rasa bencinya itu.
"Ayah, maafkan aku... Aku tidak becus memimpin perusahaan yang Ayah bangun." Natsu mengepalkan tangannya. Menunduk dalam. Dia benar-benar malu sekarang. Perusahaan yang telah dibangun dan dirawat Igneel dari titik nol, harus mengalami kebangkrutan karena ulahnya.
"Masih ada perusahaan Zeref. Perusahaan Dragneel tidak benar-benar hancur sepenuhnya." Igneel memaksakan senyum.
"Tapi... Kalau perusahaan di Hargeon mengalami kebangkrutan, maka cabangnya di Magnolia pun..." Natsu bergumam pelan.
"Aku yakin dia sudah menyiapkan sesuatu untuk menghadapi masalah ini. Kau juga, 'kan?" Igneel menatap Natsu dengan mantap. "Kau sudah menyiapkan sesuatu yang 'bagus' 'kan untuk mengejutkan mereka?"
Natsu terpana mendengarnya. Ayahnya memang selalu mengerti dirinya. Sebuah senyum tertarik di bibir pucatnya. Pria itu tersenyum hangat. "Tentu saja."
XXX
Natsu menjejakkan kakinya di atas dedaunan kering yang berserakan di sepanjang jalan setapak. Melangkahkan kakinya menelusuri jalanan panjang yang meliuk-liuk dari ujung ke ujung, Natsu diam membisu. Kesunyian yang ditemani hembusan angin yang menerpa pepohonan di sekitarnya, membuat dedaunan berwarna kecokelatan di dahannya berguguran ke tanah. Menimbulkan bunyi yang terdengar renyah saat sepatu Natsu menginjaknya.
Awalnya Natsu tidak berniat untuk ke tempat itu. Namun, entah kenapa dia malah berakhir di sana. Karena sudah terlanjur sampai, jadi Natsu melanjutkan perjalanannya. Dia sudah menitipkan Luna pada Grandine agar putrinya itu aman. Tentu saja Luna akan absen selama beberapa hari di sekolah. Kalau perlu, gadis itu bisa pindah ke sekolah yang lebih aman dan tidak diketahui seorang pun. Aneh ya? Yah, maklum. Natsu sedang dalam mode waspada 100%.
Lengan baju itu kembali Ia gunakan untuk mengelap keringat yang turun melalui pelipis dan lehernya. Padahal ini musim gugur, tapi kenapa dia malah berkeringat? Dan lagi, udara di sini semakin dingin. Natsu merapatkan kembali mantel cokelatnya. Membenarkan letak syal untuk menutupi bagian leher sampai mulutnya.
Langkahnya terhenti di depan sebuah pohon yang cukup besar. Menyandarkan punggung lebarnya di permukaan batang pohon, Natsu mengintip sedikit ke arah sebuah rumah besar di belakang pohon tempat dia bersembunyi.
Dia di sana.
Natsu melihatnya sedang berdiri di balkon kamarnya. Diam-diam, Natsu tersenyum di balik syalnya. Wajahnya tidak sepucat saat terakhir kali mereka bertemu. Rambut pirangnya juga semakin memanjang. Dia sudah tidak menguncirnya lagi seperti dulu. Betapa Natsu sangat merindukan sosok yang tengah memejamkan matanya ke arah luasnya lazuardi di atas. Ingin sekali dirinya memeluk tubuh mungil wanita-nya itu. Ingin sekali dia mengecup bibir manis dari wanita bermanik cokelat madu itu.
Dia benar-benar merindukan Lucy Heartfilia hingga dia bisa saja menukar jiwanya demi bisa merengkuh wanita itu kembali meskipun hanya satu detik.
Tersenyum legah bahwa wanita yang dicintainya baik-baik saja, Natsu segera berbalik. Berniat untuk pergi dari sana. Dia sudah sangat senang bisa kembali melihat wanita itu secara langsung lagi. Langkahnya mulai memberat. Natsu merasa dia begitu senang hingga kepalanya terasa begitu pusing. Pepohonan di sekitarnya mulai tidak jelas. Entah kenapa banyak kunang-kunang di sekelilingnya. Kenapa langkahnya mulai sempoyongan?
Natsu menempelkan telapak tangannya di batang pohon terdekat. Terengah-engah. Asap mengepul dari rongga mulutnya ketika dia menghembuskan nafas dari sana. Tatapannya mulai meredup. Dia bisa merasakan sakit dari arah lutut dan kepalanya saat dirinya terhempas ke tanah.
.
.
Bersambung...
.
AN: Akhir-akhir ini beneran capek dan gak punya waktu banget buat ngetik. Gegara ospek yang mengharuskan pergi pagi pulang sore, orz... -3-
Ini aja langsung ngetik setelah pulang dari ospek. Haha
Chapter ini rasanya agak sedikit ngaco ya? bahasanya juga, asdfghjkl apa banget! Haha! Baperan gegara akhir-akhir ini suka ngebacain fic author yang mahir berdiksi. Meskipun kemahirannya sama sekali gak nular ke saya dan malah jadinya gak jelas kalau saya praktekin sih... eh, gak jelas ya saya ngomong apa? Haha! Habisnya gak tau lagi sih mesti ngomong apa di AN. Entar kalau saya tulis bersambung doang, nantinya bakal jadi aneh (buat saya) karena saya kebiasaannya selalu nulis AN di bawah Bersambung... XD
Oke, sampai bertemu di chapter berikutnya!
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
