Limit?
By : cronos01
Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon
Zhang Yixing/ Wu Yixing
Wu Yifan/ Kris
Huang Zitao
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongdae
Kim Minseok
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D
Warning : Yaoi, Typo's. Don't Like, Don't Read. Simple!
So, Enjoy it!
Chapter 10
Previously...
Tiba-tiba ia kehilangan keseimbangannya begitu saja dan anehnya dia sempat beberapa detik tadi tidak merasakan kakinya. Dengan sigap Chanyeol langsung menangkap Kris.
"Hyung? Gwaenchana?" Tanya Chanyeol panik.
~LIMIT~
Next...
Kris membeku. Matanya terfokus kepada kakinya yang sempat beberapa detik tadi tidak dia rasakan.
"Hyung!" Chanyeol berteriak, meminta jawaban pasti dari Kris yang hanya diam.
Setelah Kris merasa bisa menguasai dirinya, Kris angkat bicara. Ia memandang Chanyeol dengan tatapan kosong.
"Kakiku- ada apa dengannya, Chan? Aku tidak merasakannya tadi." Ujar Kris terbata-bata.
Chanyeol membeku, ia tidak percaya dengan apa yang Kris katakan. Chanyeol menatap kebawah, kearah kaki jenjang Kris yang kini sudah bisa berfungsi lagi, walau masih terlihat goyah. Namja yang memiliki fake smile itu menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir segala pemikiran-pemikiran buruk mengenai Kris yang ada di otaknya.
"Kau-kau hanya kelelahan, hyung. Lebih baik kita masuk kedalam, angin semakin kencang" tutur Chanyeol dan langsung membantu Kris untuk berjalan.
Dari kejauhan, Sehun yang pagi ini memutuskan untuk berlari pagi ia melihat kejadian yang barusan terjadi didepan matanya. Sedikit tidak mengerti dengan apa yang terjadi tetapi saat melihat Chanyeol yang membantu sahabatnya itu berjalan, Sehun merasa sesuatu yang buruk sempat terjadi. Berada dalam suasana hati yang tidak enak, Sehun memutuskan untuk berlalu saja, tidak berniat menghampiri kedua sahabatnya.
~LIMIT~
Chanyeol dan Kris telah sampai di penginapan. Tepat saat mereka masuk, Kris langsung menemukan sang ibu yang kini sudah berada didalam sana dan koper besar berada disamping namja yang tidak lagi muda itu.
"Eomma?" Panggil Kris.
Kris menyingkirkan tangan Chanyeol yang sedari tadi membantunya untuk berjalan.
"Hyung," tutur Chanyeol saat ia merasa ragu untuk melepaskan Kris begitu saja karena Chanyeol tau, Kris sedang tidak baik-baik saja.
Kris menjawab kekhawatiran Chanyeol dengan tersenyum dan berbisik, " Gwaenchana,"
Dengan mencoba bertumpu dengan apa saja yang ada disekitarnya Kris berjalan menuju Lay. Seakan tidak terjadi apa-apa beberapa menit yang lalu kepadanya.
"Koper itu- untuk apa, eomma?"
Lay menatap kopernya dan mengedikan bahu.
"Menginap disini?" Jawab Lay.
Kris merasa langkahnya mulai mantap dengan perlahan ia mencoba menjauh dari berbagai barang yang menjadi sanggahannya dan berdiri tegak didepan sang ibu.
"Eomma, kau menyuruh mereka untuk menginap disini dan sekarang kau juga ingin menginap disini. Dimana kau akan tidur, eomma?" Tanya Kris.
Lay tersenyum, ia menatap anak lelaki satu-satunya itu dan mencengkram bahu Kris lembut.
"Tidur dimana saja eomma bisa, Kris. Asalkan kau bersama eomma." Jawab Lay.
Kata-kata itu seakan terdengar seperti sebuah jeritan hati dari seorang ibu yang ia rasa, anaknya adalah satu-satunya yang ia miliki saat ini. Kris sangat peka terhadap jawaban ibunya itu.
"Terjadi sesuatu dirumah, eomma?"
Lay tertawa palsu. Ya, ia tidak ingin anaknya itu akan terbebani dengan permasalahan orang tuanya.
"Nothing, tidak ada, Nak. Appa mu bahkan belum kembali dari Jepang."
"Jinjjayo?" Tanya Kris meyakinkan.
Lay menggangguk, mencoba menahan semuanya yang bergejolak dihatinya.
Tiba-tiba Baekhyun dan Tao datang berjalan menuju ruang tamu penginapan tersebut.
"Eoh? Lay eomma?" Panggil Tao.
Tao sempat melihat kekasihnya yang menatapnya tapi seakan Tao tidak melihat Kris, namja panda itu berjalan menuju Lay dan memeluk Lay.
"Eomma akan menginap?" Tanya Tao riang.
Lay tersenyum dan mengangguk.
"Waah, aku senang sekali." Tutur Tao sambil sesekali melirik ke kekasihnya.
Tao sama sekali tidak melihat respon yang berarti dari Kris.
Tao menghela nafas dan berkata, "Eomma bisa tidur di kamar bersama Kr-"
"Ekhem, eomma kita bisa ke kamar sekarang. Aku akan bantu eomma membereskan baju."
Kris memotong begitu saja perkataan Tao dan membawa Lay pergi. Tao dengan bibir kucingnya hanya dapat merengut karena kesal.
"Kau marah kepadanya hanya karena ia tidak memberimu ciuman pagi, Tao?" Tanya Baekhyun disertai helaan nafas kasar.
" dia sempat ingin menciumku, hyung. Tapi dia pergi begitu saja tiba-tiba." Jelas Tao.
Chanyeol dari kejauhan hanya berdiri begitu saja melihat hal yang diributkan Tao dan Baekhyun. Mengingat kejadian yang terjadi beberapa saat lalu di pantai, Chanyeol langsung berpikir, mungkin dia harus bicara dengan Tao empat mata.
" Tao bisa kita bicara?" Panggil Chanyeol.
Dengan cepat Baekhyun langsung berdiri didepan Tao seakan menghalangi Tao dari kekasihnya itu.
"Mianhae, Channie. Tao sedang tidak bisa diajak berbicara. Ia milikku saat ini." Kata Baekhyun.
Chanyeol menghela nafas dan menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Jebal, Baekkie. Ini penting. Masalah Kris." Tutur Chanyeol.
"Kris?" Tanya Baekhyun memastikan.
Baekhyun langsung menggeser tubuhnya yang tadi menghalangi Tao.
"Kau bisa berbicara dengannya, Chan. Tapi aku akan ikut." Ujar Baekhyun.
~LIMIT~
Sehun masuk kedalam kamarnya dan Luhan, ia menghempaskan begitu saja tubuhnya pada sebuah sofa kecil yang terdapat didalam kamar itu dan memejamkan matanya. Tak lama, kekasihnya keluar dari dalam kamar mandi. Luhan berjengit kaget saat ia melihat Sehun tengah berada didalam kamar.
"Hunnie? Aku mencarimu sejak bangun tadi. Kau kemana?"
Sehun menjawab masih dalam posisi yang sama, memejamkan matanya.
"Lari pagi, Hannie."
Sejak malam, Luhan merasa ada yang berbeda dengan Sehun hingga pagi ini. Nada jawab Sehun terhadap pertanyaannya terdengar seakan Sehun benar-benar lelah terhadap sesuatu.
Setelah mengeringkan rambutnya yang basah, Luhan menjemur handuknya dan berjalan mendekati Sehun.
Luhan memainkan lembut surai milik Sehun.
" Ceritakan, Hun."
Sehun menghela nafas.
"Terlalu cepat, Han. Semua ini terlalu cepat."
"Tuhan memiliki rencana baik untuk hambanya, Hun. Tidak ada yang perlu kau sesali atau kau sedihkan."
Sehun membuka matanya, ia menatap nanar Luhan.
"Semua itu tidak gampang, han. Tidak segampang yang kau lihat."
Sehun sejak ia mengetahui kebenarannya beberapa bulan yang lalu ia tidak berubah. Sehun tidak merubah sikap dinginnya kepada Kris. Kekecewaannya karena Kris menyembunyikan segala hal darinya entah mengapa sampai sekarang Sehun tidak bisa memaafkannya.
Flashback
Sehun memukul Kris begitu saja. Hingga lukisan yang saat itu berada ditangan Kris kini terjatuh. Mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari kamar Kris, Chanyeol langsung berlari menemui Kris.
Dilihatnya Kris kini tengah tersungkur sambil menyentuh rahangnya yang terasa sakit ketika Sehun tiba-tiba menerjangnya.
"SEHUN!" teriak Chanyeol.
Sementara, Sehun sudah kalap. Ia membawa Kris bangun dengan menarik kaos Kris. Dengan sigap Chanyeol langsung menghampiri Sehun dan mencoba untuk melerai mereka tanpa memukul salah satunya. Tapi sepertinya, upaya Chanyeol tidak berhasil karena Sehun kembali berhasil memukul Kris. Sehun terlepas begitu saja dari Chanyeol. Masih terus melakukan serangan, kini Kris berada di bawah Sehun. Tanpa ampun Sehun memukul Kris, membuat namja naga itu kehilangan tenaga dan kesulitan bernafas.
Kali ini benar-benar tidak ada cara lain bagi Chanyeol untuk menghentikan Sehun. Tanpa pikir panjang, Chanyeol memukul wajah tirus Sehun. Sadar, Sehun langsung berdiri. Namja itu menatap Chanyeol tajam dan mencengkram kerah baju Chanyeol.
"Hyung! Dia-dia sudah menyembunyikan segalanya dari kita hyung! Disaat kita kebingungan mencari Kai. Dia tau semuanya."
Sehun menunjuk-nunjuk Kris yang kini tengah terkapar dengan nafas yang terengah-engah.
"Aku tau. Aku tau, Sehun. Kris hyung memang melakukan itu!"
Jeda sesaat.
"Tapi tidak kah kau lihat, Hun? Kris hyung, juga tidak baik-baik saja menyimpan semua rahasia itu! Dia sakit, Sehun!" Teriak Chanyeol.
Sehun menatap Chanyeol dengan bingung. Tidak mengerti.
Kris menyandarkan tubuhnya pada dinding, menatap Chanyeol dan Sehun dengan lemah, masih dengan nafas yang terengah-engah.
"Mianhae, Sehun" lirih Kris disertai senyuman lemah.
Sehun masih menggeleng tidak mengerti sementara, Chanyeol menghampiri Kris dan membantu namja itu berdiri. Ia membawa Kris ke atas tempat tidur.
Diatas tempat tidur, Kris masih berusaha untuk menetralkan nafasnya tapi sama sekali tidak ada perubahan. Justru dadanya terasa sakit dan ia terbatuk mengeluarkan cairan berwarna merah. Panik, Chanyeol langsung mengeluarkan sapu tangannya dari kantung celananya dan memberikannya kepada Kris.
Kris menggeleng, menolaknya sambil berkata, "Nan gwaenchana," ia mengusap bibirnya dengan tangannya.
Chanyeol menggenggam keras sapu tangan itu dan menatap Kris dengan air mata yang mulai menggenang di matanya.
"Sehun, aku tau kau kecewa. Mianhae, kai tidak ingin kau dongsaengnya akan terluka dan kecewa kepadanya." Ujar Kris lirih.
Chanyeol langsung menatap Sehun tajam.
"Aku tetap menjaga rahasia itu karena aku tidak ingin kau kecewa dengan Kai, tak apa jika kau akan kecewa padaku."
Hening.
"Tak apa juga jika kau ingin membenciku, Oh Sehun." Lanjut Kris.
Malamnya, ketika Kris sudah tertidur dan kini hanya tersisa Sehun dan Chanyeol yang berdiri di pintu kamar Kris
"Kenapa kita tidak membawanya ke rumah sakit, hyung?"
"Kris hyung, tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit. Separah apapun keadaannya."
Mendengar ucapan Chanyeol, Sehun seakan tidak bisa menelan air liurnya.
"Mian."
Mendengar ucapan Sehun, Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya pada namja yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Bukan aku tempat kau meminta maaf, Sehun."
Chanyeol langsung kembali melihat kedalam kamar tepatnya ke Kris yang kini sudah tertidur lelap.
"Kau harus mengatakan maaf itu kepada, Kris. Sosok yang selalu menjagamu."
Sehun mengusap wajahnya kasar.
"Aku masih merasa kecewa, hyung. Entah kenapa aku tidak tau."
Dengan cepat Chanyeol menyanggah, "Kekecewaan tidak akan memberikan mu apa-apa, Hun. Jangan buat penyesalan untuk yang kedua kalinya. Cukup Kai yang kita sesali, kuharap tidak untuk Kris hyung."
Flashback end...
~LIMIT~
Kris mengantarkan Lay masuk kedalam kamarnya dan Tao.
"Kalau eomma tidur disini, kau tidur dimana, Kris?"
Kris tersenyum mendengar penuturan sang ibu.
"Kris bisa tidur dimana saja, eomma. Di tepi pantai Kris pun bisa." Jawabnya sambil memberi sedikit sentuhan leluconnya.
Lay tertawa kecil, ia mengambil alih kopernya dari sang anak, hendak membereskan baju-baju itu sendiri. Tetapi, Kris tiba-tiba menumpas tangannya lembut.
"Biar Kris saja, eomma. Eomma pasti lelah menyetir dari Korea hingga ke sini."
Lay pun menuruti saja, ia duduk di tempat tidur berukuran besar itu sementara Kris membereskan pakaian ibunya.
"Eomma,"
"Hn?"
"ada sesuatu yang terjadikan di rumah?"
Lay memang tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari Kris. Dengan tatapan yang lembut, Lay menjawab pertanyaan Kris.
"Hanya masalah kecil. Tidak perlu kau pikirkan"
"Masalah kecil tapi eomma pergi dari rumah dan memutuskan untuk menginap?"
Lay menggeleng seakan masalah yang sedang dihadapi rumah tangganya tidak seberat itu, walau kenyataannya memang cukup berat.
"kau tau sendiri, appa mu itu selalu butuh waktu untuk meredam emosinya."
Kris menghela nafas, "baiklah. Semoga yang eomma ucapakan itu benar."
Lay tersenyum, ia berdiri menghampiri Kris dan mengelus surai Kris lembut.
~LIMIT~
Begitu cepatnya waktu berlalu, angin malam kembali menemani semua orang yang ada didalam penginapan. Suasana cottage tampak senyap, hanya deburan ombak yang dapat didengar dari dalam. Malam ini penghuni cottage berkurang, Sehun dan Luhan siang tadi meminta izin untuk segera pulang ke Seoul karena ada masalah di restoran.
Walaupun Kris tau mereka memang mengurus restoran, Kris merasa itu bukanlah satu-satunya alasan kepulangan mereka yang lebih awal itu. Kris menyadari masih ada yang Sehun pendam didalam hati mengenai dirinya. Semenjak kejadian 5 bulan lalu Kris menerima perubahan besar Sehun kepadanya. Namja berdarah Cina itu menerima semua perubahan itu karena menurutnya itu pantas didapatkan olehnya.
Sehubung kamar Sehun kosong, Lay meminta untuk beristirahat saja di kamar Sehun dan Luhan. Lay tau anaknya dan kekasihnya anaknya itu sedang ada masalah, memisahkan mereka berdua justru tidak akan menyelesaikan masalah. Itu sebabnya Lay menyuruh Kris untuk kembali saja ke kamar dan dia yang akan pindah.
Waktu menunjukan pukul 11 malam. Tao didalam kamar memandang keluar pintu kaca kamarnya, melihat ombak-ombak yang beradu mengikuti arah angin. Ruangan itu gelap. Tao sengaja memadamkan lampu kamar yang cukup luas itu. Tanpa penyinaran apapun, hanya sedikit sinar bulan yang masuk memantul melalui pintu kaca tersebut.
Terdengar sebuah pintu kamar yang dibuka. Tao tidak perlu berbalik karena ia tau siapa yang masuk kedalam. Tidak ada suara sama sekali yang dikeluarkan oleh sosok itu. Tao memutuskan untuk tidur. Ia bebaring dan menarik selimutnya hingga dadanya. Berbalik tetap memandang keluar, kearah pantai. Tidak berniat untuk berbalik ke sisi kiri, tempat kekasihnya kini berdiri. Tao tau Kris mungkin sedang menatapnya yang berada dibalik selimut.
Namja panda itu menutup matanya, berpura-pura seakan-akan ia dalam keadaan tidur. Sementara Kris, ia tetap berdiri. Memandang kearah Tao yang benar-benar mengacuhkannya. Selama beberapa menit, Kris masih berdiri diam disana. Setelah ia rasa kekasihnya benar-benar sudah terlelap, Kris berjalan menghampiri Tao yang membelakanginya. Kini ia sudah berdiri didepan kekasihnya yang tampaknya sudah terpejam.
"Mianhae"
Suara serak khas Kris mengalun ditengah gelapnya kamar.
"Mianhae"
Lagi. Masih dengan kata-kata yang sama.
Kris berlutut, menyamakan tinggi nya dengan posisi Tao yang sedang berbaring ditempat tidur. Tangan kurusnya melayang kearah Tao, ia mengelus lembut surai kekasihnya itu.
"Hal terbesar yang dulu aku takuti adalah kematian, Baby"
Hening. Suasana seakan semakin hening.
"Tapi semua berubah sejak aku menemukanmu."
Kris tersenyum melihat betapa sempurnanya paras kekasihnya. Tangannya berjalan menuju pipi chubby Tao.
"Ketakukan terbesar dalam hidupku saat ini adalah menularkanmu penyakit ini."
Mata Kris berair. Dengan segala kekuatan ia menahan tangisannya.
"Aku percaya semua orang akan mati tapi mungkin aku lebih dulu dibanding kau dan yang lainnya-"
Setetes air mata jatuh di pipi tirus Kris
"Naif jika aku tidak takut pada kematian, baby."
Tangan Kris yang tadinya mengelus lembut pipi Tao kini turun perlahan menuju bibir Tao. Kris mengelus bibir Tao lembut.
"Jika saja aku bisa meminta, aku ingin-"
"Aku ingin hidup selamanya denganmu, baby. Selamanya."
Pertahanan Kris runtuh, air mata semakin banyak bercucuran. Dengan kasar Kris menghapus air matanya dan kembali mengusap lembut pipi Tao.
"Maafkan aku yang tidak menciummu tadi pagi. Keadaanku sedang tidak baik tadi pagi, baby."
Kris tersenyum beralih mengusap kembali surai Tao.
"Aku sedang tidak sehat tapi kau harus tetap sehat. Aku tidak ingin kau sakit. Jadi-"
"Maafkan aku, baby."
Kris mengecup dahi Tao lama diiringi dengan setetes air mata yang kembali jatuh di pipi Kris. Setelah beberapa detik mengecup kekasihnya, Kris melepaskannya.
"Jalja, Zitao."
Kris berdiri dari posisinya dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Tao yang benar-benar sudah terlelap.
~LIMIT~
Tao, Baekhyun dan Lay pagi ini kembali menyibukan diri mereka di dapur yang ukurannya tidak terlalu besar. Baekhyun dan Lay sibuk memasak sarapan mereka semua pagi ini, dilain sisi Tao sedang menyiapkan piring-piring yang akan digunakan mereka. Beberapa peralatan makan Tao temukan sebuah label yang disana terdapat nama Kris. Kening Tao berkerut bingung melihat nama kekasihnya tertempel di sendok, garpu, piring bahkan gelas minum.
"Baekhyun hyung,"
Baekhyun pun langsung berbalik mendengar namanya dipanggil Tao.
Tao mengangkat sendok dan garpu yang berlabel nama Kris.
"Kau menempelkan ini?"
"Ani. Kris sendiri yang menempelkannya tadi pagi. Wae?"
Mendengar nama anaknya disebut Lay pun berbalik badan. Melihat Lay berbalik, Tao bertanya.
"Eomma tau sesuatu?"
Lay berjalan kearah Tao dan mengambil sendok dan garpu itu dari tangan Tao.
"Itu memang kebiasaan Kris. Seluruh perabotan makan miliknya memang ia berikan label namanya."
"Kekanakan sekali. Aku bahkan baru tau." Tutur Tao.
Lay tersenyum, "Bukan kekanakan, Kris hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepada kita. Sekecil mungkin ia akan mencegah kita semua untuk tertular."
Tao bingung. Ya, Tao memang masih belum terlalu dalam mengetahui penyakit Kris. Mendengar penuturan Lay, Tao merasa itu terlalu berlebihan. Kris bukanlah seorang pasien Hepatitis yang harus memiliki perabotan makan sendiri, bukankah begitu?
Baekhyun kali ini angkat bicara.
"Kemarin pagi Kris memang mengatakan kalau beritahu semuanya agar tidak menggunakan gelas yang ia gunakan. Menurutku itu hal yang wajar bukan?"
Lay menaruh sendok dan garpu milik anaknya itu disamping piring makan Kris yang sudah disiapkan oleh Tao. Berjalan dengan tenang menuju masakan yang sedang dimasaknya.
Ditengah pekerjaannya, Lay berbicara.
"Pasien AIDS/HIV musuh terbesar mereka adalah darah mereka sendiri. Darah mereka merupakan cairan utama yang bisa membuat orang disekelilingnya tertular."
"Lalu apa hubungannya dengan air liur, eomma? Bukankah darah dan air liur itu jauh berbeda?" Tanya Tao.
Mendengar pertanyaan Tao, Lay mematikan kompornya dan berbalik memandang Tao dan Baekhyun bergantian.
"Mereka akan mengalami berbagai fase. Saat dimana sebuah luka muncul tiba-tiba dan lama mengering. Saat dimana mereka akan memiliki masalah pada gusi mereka yang luka dan menimbulkan darah."
Baekhyun terbelalak, mendengar ucapan Lay membuatnya merinding.
"Kris sedang mengalami kedua fase itu." Lanjut Lay dan menatap Tao.
Ingatan Tao langsung kembali saat kemarin Kris tidak menciumnya.
"Semua fase itu berhubungan dengan darah." Ujar Lay lagi.
Tao merasa bersalah. Sangat bersalah. Tao mengalihkan pandangannya ke lantai, mencoba menghalau air matanya. Lay tau, apa masalah yang ada diantara Kris dan Tao.
"Itu sebabnya Kris tidak menciummu, Tao." ucap Lay.
Tao mengangkat kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca Tao memandang Lay.
"Kris bercerita tadi malam. Ia datang ke kamar eomma dan menceritakan masalah kalian."
"Tadi malam?" Tanya Tao.
Lay mengangguk.
"Tengah malam ia datang ke kamar eomma dan duduk di sofa kamar. Eomma memang belum tidur saat itu jadi eomma menemaninya dan mendengar semuanya."
Baekhyun pun bertanya, "Lalu bagaimana Kris sekaramg eommoni? Dia baik-baik saja kan?"
Lay mengangguk. "Sejauh ini baik-baik saja walau semalam ia sedikit demam tapi pagi ini ia terlihat sudah lebih baik, tidak perlu khawatir."
Tanpa aba-aba Tao langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Baekhyun dan Lay.
~LIMIT~
Tao kini sudah berdiri didepan kamar Lay. Didepan ruangan yang didalamnya kekasihnya mungkin sedang tertidur. Dengan perlahan Tao membuka pintu. Ia melihat kekasihnya tengah tertidur dengan sedikit peluh bercucur. Tao menggenggam tangan Kris dan mengelusnya pelan.
"Gege.."
Terlihat sedikit pergerakan dari Kris. Namja itu melenguh dan membuka mata perlahan.
"Hei," lirih Tao sambil tersenyum kepada kekasihnya.
Kris menolehkan kepalanya ke kanan, didepannya ada Tao yang tersenyum padanya dengan mata berkaca-kaca. Kris memastikan bahwa ini semua bukanlah mimpi, seingatnya kekasih itu mendiamkannya.
"Pagi, baby."
Kris mengusap lembut pipi Tao yang terdapat bekas air mata disana. Namja keturunan Kanada itu mencoba untuk bangun dari posisinya tetapi usahanya gagal karena kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa sangat lemas.
"Bebaring saja dulu, ge. Kau demam semalam itu sebabnya kepalamu pusing."
"Jinjja?"
Tao mengangguk menjawab pertanyaan Kris.
Kris dan Tao diam. Sementara ditengah keheningan, Tao masih terus memainkan surai emas milik Kris sedangkan Kris sendiri ia hanya memandang Tao.
"Ahh, Tao mianhae."
"Ssst, lupakan saja. Lupakan yang kemarin saatnya kita berjalan kedepan."
Kris memandang dalam mata Tao. Mencari keraguan dari kata-kata kekasihnya itu.
"Gomawo."
Tidak ditemukannya sama sekali keraguan.
Kris sedikit terbangun, semakin memperpendek jarak dirinya dengan sang kekasih lalu mengecup dahi Tao sambil memejamkan mata dan Tao pun menikmati suasana yang intim itu.
Dari luar kamar itu, Lay berdiri dan mengintip semua yang terjadi. Sebuah senyuman bangga terpancar diwajahnya.
"Kalian memang tidak bisa dipisahkan."
~LIMIT~
Yoona keluar dari ruangan yang dijadikan Suho sebagai kamar miliknya. Menarik koper yang cukup besar, dengan langkah hati-hati Yoona turun dari tangga rumah megah tersebut sambil menarik kopernya. Seorang pelayan yang berada di lantai dasar melihat Yoona yang dengan kesusahan menuruni tangga.
"Saya bawakan saja kopernya, nyonya."
"Ah, tidak usah. Saya bisa mengatasi ini."
Yoona dengan senyumannya masih tetap bersikukuh untuk menarik kopernya sendiri.
Hingga sebuah suara sepatu terdengar dari lantai bawah. Suho dengan wajah yang keras memandang keatas tempat Yoona dan salah satu pelayannya berada. Melihat Suho yang berjalan mendatanginya, dengan gerakan pelan pelayan itu menjauh dari Yoona lalu memberikan penghormatan untuk Yoona dan tuannya.
"Kau mau kemana, Yoona?"
Yoona langsung memalingkan tatapannya dan kembali menarik koper namun, kaki Suho langsung menghalangi jalan koper Yoona.
"Kau pikir aku akan baik-baik saja tinggal disini?"
Yoona menatap Suho tajam.
"Istrimu keluar dari rumah karena aku, Suho!" Teriak Yoona.
"Yoona, tolong dengar ini baik-baik."
Jeda Suho.
"Semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Percaya padaku."
Yoona tertawa meremeh.
" kau masih mencintaiku, Suho?"
Pertanyaan membunuh bagi Suho.
"Kau masih mencintaiku kan?" Ulang Yoona.
Yoona menatap Suho intens dengan sorotan mata yang serius.
"Kalau aku-"
"Aku tidak mencintaimu lagi, Suho."
Dengan mantap kata-kata itu terlontar menyayat hati namja yang ada dihadapannya.
~LIMIT~
Sore ini adalah jadwal mereka itu kembali ke Seoul. Sambil menunggu Tao, Baekhyun dan Lay membereskan penginapan, Kris dan Chanyeol membawa masuk koper dan barang-barang yang lainnya. Chanyeol melihat Kris yang tampak sudah sangat lelah membawa beberapa barang yang memang cukup berat. Walaupun sudah terlihat lelah Kris nampaknya masih tetap berusaha untuk memasukan beberapa barang yang tertata didepan pintu cottage. Kris sebenarnya belum sepenuhnya sembuh dari demamnya terbukti saat ini masih menggunakan sweater tebalnya padahal matahari bersinar terik walaupun angin pantai Jeju tetap berhembus.
Chanyeol menghapiri Kris dan mengambil barang yang dibawa namja kanada itu.
"Gwaenchana, Chan."
Chanyeol tidak menghiraukan ucapan Kris, ia memandang sebelah mata Kris dan pergi begitu saja. Tatapan sebelah mata itu adalah bentuk protes untuk kata-kata yang dikeluarkan sahabatnya itu. Setelah Chanyeol pergi, Kris dengan langkah yang lunglai berjalan mengikuti Chanyeol. Kris bersandar pada mobilnya dan menatap Chanyeol yang menata barang-barang dalam mobil.
"Kalau tidak kuat bilang. Aku tidak ingin membopongmu kedalam mobil, hyung."
Kris berdecih dan menatap Chanyeol dengan sebelah mata walau tatapan itu terlihat lemah.
"Selama aku bisa menahannya, aku tidak akan mengadu."
"Aigoo, ne arrayeo. Kau itu memang keras kepala, hyung"
Dari kejauhan Tao, Baekhyun dan Lay berjalan menghampiri mereka.
"Sudah beres?" Tanya Kris menghampiri Tao dan mengusap surai namja panda itu.
"Hn," jawab Tao mengangguk.
"Yasudah kita berangkat sekarang." Kata Chanyeol.
"Ah, anak-anak maaf eomma tidak bisa pulang bersama kalian. Ada seseorang yang harus eomma temui dulu disini." Tukas Lay.
Kedua kening Kris berkerut.
"Siapa, eomma?"
Mendengar nada tanya Kris yang mengintimidasi, Lay berdecih.
"Aish, hanya teman lama, Kris. Tidak perlu sekhawatir itu."
Kris mengangguk mengerti.
Lay pun segera naik kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan penginapan.
"Kajja, ge. Kita pulang." Tutur Tao.
Kris mengangguk dan memeluk pinggang Tao.
Tepat saat mereka sudah ingin masuk kedalam mobil masing-masing, Chanyeol menghampiri Kris.
"Wae?" Tanya Kris .
"Aku saja yang membawa mobil, hyung."
~LIMIT~
Dengan langkah yang mantap Lay memasuki sebuah cafe yang dimana ditempat inilah seseorang itu ingin menemuinya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi cafe untuk mencari seseorang yang berjanji padanya. Hingga disudut cafe, Seorang wanita cantik dengan perut yang membesar ia temukan. Lay menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan dan berjalan menghampiri meja wanita itu.
"Yoona,"
Wanita itu, Yoona. Dia yang tengah sibuk dengan ponsel miliknya langsung berjengit saat ia mendengar namanya dipanggil oleh Lay. Yoona dengan perut yang membesar serta dengan sangat kesusahan wanita itu mencoba untuk berdiri dari duduknya untuk menyambut Lay.
"Gwaenchana, Yoona. Duduk saja tidak usah berdiri." Ujar Lay sambil tersenyum.
Lay pun langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Yoona.
"Sudah lama ya, Lay. Terakhir kita berbincang seperti saat di acara pernikahan kau dan Suho."
Lay mengangguk dan tersenyum.
Sesaat keadaan antara Yoona dan Lay terasa canggung. Yoona hanya menunduk sambil memainkan jarinya sedangkan Lay ia sesekali menghilangkan kecanggungan dengan menyeruput secangkir kopi yang ia pesan tadi.
"Kembalilah kerumah itu, Lay"
Lay langsung mengangkat kepalanya memandang wanita yang kini tengah berbadan dua itu.
"Mwo?"
Kedua kening Lay berkerut sedangkan Yoona dengan tatapan yang benar-benar mantap ia mengucapkan itu kepada Lay. Sementara Lay coba berpikir kembali mengenai apa yang diucapkan Yoona, sebuah koper berukuran cukup besar berada disamping Yoona. Bodohnya, lay baru menyadari.
"Kau benar-benar keluar dari rumah?" Tanya Lay sambil menatap koper tersebut.
Yoona mengangguk.
"Ya Tuhan, lalu kau kesini dengan siapa? Suho?"
"Ani, aku kesini sendiri."
Mendengar jawaban Yoona, Lay merasa sangat bersalah.
"Yoona, bagaimana mungkin. Kau ini wanita, dengan posisi yang sedang mengandung sekarang harusnya seseorang ada disampingmu."
Yoona menggeleng.
"Nan gwaenchana, Lay. Anak ini dan aku sudah terbiasa seperti ini."
Lay menatap nanar Yoona. Pandangannya jatuh pada perut Yoona yang terlihat membuncit.
"Sudah berapa bulan?"
Yoona tersenyum ia menatap perutnya dan mengelusnya lembut.
"6 bulan. Sebentar lagi anak ini akan lahir"
"Aku mohon, Lay. Kembalilah bersama Suho. Bagaimapun juga kau adalah istrinya."
Raut wajah Lay berubah.
"Sulit untuk mengambil keputusan begitu saja, Yoona-"
"Aku bisa tinggal bersama dengan Kris. Kau justru harus mengkhawatirkan dirimu sendiri."
Yoona merasa hina. Lay, istri dari seseorang yang dulu ia cintai masih bisa memikirkan dirinya dengan anaknya tapi mengapa ia tidak bisa berbuat apapun untuk keluarga itu.
"Aku akan kembali kalau juga kembali kerumah itu, Lay"
"Aku-sudah tidak mencintai Suho lagi, Lay. Aku yakin itu"
~LIMIT~
Waktu sudah hampir memasuki tengah malam, jam digital mobil Kris menunjukan pukul 23.15. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mereka pun akhirnya sampai. Segalanya diluar prediksi, seharusnya mereka tidak akan sampai di Seoul selarut ini namun, jadwal berubah karena sore hari tadi Tao dan Baekhyun meminta Kris dan Chanyeol untuk mengunjungi sebuah tempat yang populer di Jeju. Akibatnya mereka harus memulai perjalanan menuju Seoul saat waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Biarpun begitu, mereka semua bahagia, seakan semua masalah hilang begitu saja.
Chanyeol menarik rem tangan mobil sport Kris dan menghembuskan nafas syukur. Mengendarai mobil dari Jeju hingga Seoul membuat lehernya sangat tegang dan baginya untuk bergulat dengan rasa kantuk itu susah. Rasa syukur Kris panjatkan saat ia akhirnya sampai di apartemen Kris dengan selamat. Chanyeol memejamkan matanya sesaat dan menutup mulutnya yang menguap cukup lebar.
"Hyung,"
Chanyeol mengguncangkan bahu Kris. Selama perjalanan Chanyeol sengaja tidak membangunkan Kris untuk bergantian menyetir dengannya, Chanyeol tau Kris sangat lelah. Bahkan jauh lebih lelah dari dibandingkan dirinya.
Setelah beberapa kali Chanyeol membangunkan Kris, akhirnya sang empu bangkit. Kris dengan matanya yang sayu mencoba mengerjap beberapa kali, berusaha memperjelas pengelihatannya.
"Chanyeol? Kita-kita sudah sampai?"
Chanyeol mengangguk diiringi dengan dirinya yang kembali menguap.
Kris melepas sabuk pengaman dan membenarkan posisi duduknya.
"Kau menyetir sendiri?"
"Nde, hyung."
Kedua mata Kris terbelalak, ia mengusap kasar wajahnya dan mengumpat.
"Aish! Yak Park! Kenapa kau tidak membangunkanku?"
Chanyeol dengan raut wajah yang mengantuk menjawab, "Kau pikir aku berani membangunkan seorang naga? Untuk meminta berganti menyetir?"
"Aish, Neo!"
Tring! Tring! Tring!
Ponsel milik Kris berbunyi. Masih dengan posisi menatap Chanyeol tajam, Kris merogoh kantong celananya.
"Ne, Luhan?"
"Kris, tolong aku."
Tubuh Kris langsung tegak seketika.
"Wae? Apa yang terjadi denganmu?!"
Melihat nada bicara Kris dan raut wajah Kris berubah, Chanyeol pun ikut menegang.
"Ani, bukan aku yang dalam masalah. Nan gwaenchana geundae-"
"Geundae, Mwo?!"
Disamping Kris, Chanyeol berusaha menenangkan Kris yang tampak begitu panik.
"Seh-Sehun. Tadi pagi ia tidak datang ke cafe, handphonenya pun ia matikan. Pelayan dirumahnya juga bilang, Sehun tadi pagi berangkat dari rumah pagi sekali dan belum kembali hingga malam ini." Jelas Luhan.
Mendengar nama Sehun, Kris makin geram. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya untuk lebih memuncak.
"Dimana kau sekarang?"
Terdengar jawaban terbata-bata dari Luhan.
"A-aku dirumah, Sehun."
"Jangan coba-coba untuk keluar selangkah saja dari rumah itu. Aku akan mencari Sehun."
"Tapi, Kris-"
"Aku tau pasti dimana sekarang Sehun berada. Aku tidak ingin kau terluka atau-apapunlah itu. Jadi tetap dirumah."
Lalu telpon itu diputuskan begitu saja oleh Kris. Disamping Chanyeol dengan raut wajah yang penasaran sekaligus tegang menatap Kris penuh tanya.
"Kita ke club sekarang."
~LIMIT~
Ditempat ini kini Kris dan Chanyeol berada. Tempat yang dulu menjadi surga bagi mereka. Cahaya lampu yang cukup minim dan hanya diterangi dengan gemerlap lampu-lampu kecil yang terkadang menyala dan mati kembali. Deru musik yang berputar pun cukup kencang. Jujur, Kris merasa sangat risih. Entah mengapa tempat ini membuatnya pusing namun sebisa mungkin Kris menahan denyut-denyut yang menyerang kepalanya.
"Kita berpencar saja. Chanyeol kau ke kiri dan aku ketempat yang biasa kita berkumpul."
Chanyeol memberikan anggukan atas perintah dari Kris.
Dengan sedikit berlari Chanyeol mencoba melihat sekeliling, mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru club ini. Tak jarang Chanyeol harus bertabrakan dengan beberapa wanita yang sudah terkena sihir minuman-minuman berkadar alkohol tinggi. Hingga akhirnya, tepatnya di tengah kerumunan manusia-manusia bak iblis itu, sebuah bartender dengan beberapa pelayan disana, sosok Sehun terlihat sedang tertawa-tawa dengan seorang wanita. Sehun menyentuh pinggul wanita itu dan tampaknya Sehun mulai ingin menarik wanita itu untuk menciumnya tapi hal itu tidak akan pernah terjadi karena secara tiba-tiba Chanyeol datang memukul rahang tegas Sehun
"Hyung!"
Chanyeol hanya memasang senyum rasa tidak bersalahnya dan wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Sehun.
"Apa-hik yang kau lakukan-hik, hyung?" Tutur Sehun sambil menunjuk wajah Chanyeol dengan telunjuknya.
Chanyeol menatap Sehun nanar, merasa sangat terpukul melihat sahabatnya yang kini terlihat sangat berantakan. kantung mata terlihat jelas di wajah pucat Sehun.
Chanyeol merangkul Sehun hendak membopong sahabatnya namun sebuah penolakan ia dapatkan.
"Yak!"
Menghela nafas, Chanyeol mencoba untuk meredam emosinya.
"Kau sudah sangat mabuk, Hun. Ayolah kita pulang."
Mendengar ucapan Chanyeol, Sehun yang masih cukup sadar tertawa. Ia menepuk-nepuk punggung namja yang sudah ia anggap sebagai hyungnya itu.
"Aniyeo. Aku tidak mabuk, hyung. Kau tau sendiri kalau aku seorang peminum."
Tidak mau mendengar ucapan melantur Sehun lebih banyak lagi, Chanyeol kembali merangkul Sehun mencoba membawa tubuh Sehun berdiri dari duduknya. Kembali melakukan penolakan, kali ini Sehun justru mendorong Chanyeol, membuat namja tinggi itu terjatuh. Kali ini Chanyeol tidak bisa menahan amarah dengan cepat ia segera berdiri dan hampir memukul Sehun untuk kedua kalinya tetapi, sebuah tangan mencegah tindakan Chanyeol.
"Kris hyung?"
"Luhan memintaku untuk membawa Sehun pulang dalam keadaan baik-baik saja, Chan. Bukan dalam keadaan babak belur karena kau pukuli."
Seusai berbicara Kris langsung beralih kepada Sehun yang kini tampaknya sudah terkapar di meja bar. Kris mencoba dengan pelan membopong Sehun. Chanyeol sedikit cemburu, melihat sama sekali Sehun tidak memberontak.
"Hanya perlu menunggu ia tertidur sedikit, Chan. Jangan habiskan tenagamu untuk memukul dongsaeng kita ini. Arra?" Tutur Kris.
"Cih! Pastikan dongsaengmu ini tidak mengamuk lagi, hyung" singkat Chanyeol lalu ikut membopong Sehun yang kini sudah setengah tertidur.
Tak lama sederet kalimat terdengar dari Sehun yang kini terkulai.
"Kai hyung, Kris hyung. Mianhaeyo."
"Aish! Dalam keadaan mabuk saja dia masih mengatakan hal itu." Gerutu Chanyeol.
Kris tertawa mendengar ucapan Chanyeol lalu beralih menatap Sehun yang kini sudah menutup mata dan tertidur tenang.
"Hm, gwaenchana Sehun."
~LIMIT~
Hari sudah pagi, jam digital berwarna putih diatas nakas milik Kris menampilkan waktu pukul 02.00 pagi. Tanpa berganti baju, Kris langsung membanting tubuhnya ke kasur. Menatap kosong langit-langit kamarnya dan tak lama tertidur.
Disamping tempat tidur Kris, diatas nakas. Ponsel milik Kris terlihat bergetar dan menyala. Sebuah chat masuk. Menampilkan nama Lay disana.
"Kris, eomma tidak jadi menginap di apartemen dengan mu. Mianhae, eomma baru mengabarimu."
"kau pasti sudah tidur ya?"
"Tidur yang nyenyak, adeul. Eomma menyayangimu. Saranghae ❤"
~LIMIT~
Hari ini cuaca di Seoul cukup buruk. Pergantian musim mulai terasa, angin bertiup cukup kencang dan juga rintik hujan mulai terlihat. Tao, pagi ini ia sudah ada di apartemen untuk menemani kekasihnya. Meskipun rintik-rintik hujan pagi ini membuatnya cukup kesusahan untuk mendatangi Kris, ia tidak peduli. Sudah menjadi kebiasaan bagi Tao untuk selalu berkutat didapur setiap paginya. Tao mengolah semua bahan-bahan masakan yang ia temukan di kulkas apartemen ini. Melihat cuaca cukup dingin, Tao memutuskan untuk membuat makanan yang bisa memberikan kehanhatan pagi tubuh mereka.
Setelah beberapa lama selesai menyiapkan sarapan. Kini saatnya Tao membangunkan kekasihnya. Wajah terkejut terlihat dari Tao, sebuah pakaian yang sedari kemarin digunakan Kris masih membaluti tubuh namja Kanada itu. Karena itu sebuah kesimpulan Tao dapatkan, kekasihnya kemungkinan pulang cukup larut. Tao meraih ponsel milik Kris yang berada diatas nakas, di layar kunci tertera beberapa chat dan juga teleponnya tadi malam yang memang tidak diangkat sama sekali oleh Kris, mungkin bisa dihitung sebanyak 15 kali lah, Tao menelpon kekasihnya. Namja berkantung mata itu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya heran. Dengan gerakan yang sangat pelan dan berhati-hati, Tao duduk diatas kasur Kris yang masih kosong. Tangannya mengelus surai Kris yang basah.
Ya, demam. Itu selalu dialami oleh Kris hampir setiap malam, beruntung demam itu tidak terlalu tinggi, demam itu hanya menandakan bahwa sang empunya memang berada dalam keadaan yang cukup lelah. Metabolisme Kris berbeda dengan orang lainnya, ketika Kris mengalami kelelahan atau pikiran yang berat, metabolisme namja ini akan gampang sekali menurun. Tao mengambil sapu tangan dari dalam kantung celananya dan menepukan sapu tangan tersebut pada dahi Kris yang terlihat sedikit berkeringat, hingga tiba-tiba tangan Kris menggenggam tangan Tao yang berada di dahinya.
"Selamat pagi, baby." Ujar Kris dengan suara serak dan lirih.
Tao terkejut, ketika Kris menggenggam tangannya Tao berjengit.
Kris tersenyum samar, melihat kekasihnya yang kini hanya diam terpaku menatapnya.
"Apa yang kau lihat, baby? Kau seperti melihat pangeran yang baru bangkit."
Mendengar ucapan kekasihnya Tao merasa malu, ia menarik begitu saja tangannya yang di genggam tadi oleh Kris. Menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya karena malu.
"Sejak kapan gege bangun?"
"Sejak kau memainkan rambut ini." Jawab Kris sambil memegang rambutnya.
"Aish!" Tukas Tao sambil kembali menunduk dan menutup wajahnya dengan tangannya.
Kris kembali tertawa dan mencoba menggoda Tao dengan menarik tangan namja itu agar wajahnya dapat terlihat oleh Kris.
~LIMIT~
"hoek, hoek,hoek"
Suara itu terdengar jelas di dalam sebuah kamar mandi yang cukup besar itu. Seseorang yang ada didalamnya berusaha untuk melampiaskan semua rasa mualnya dan mencoba mengeluarkan apa saja yang berada di dalam perutnya. Setelah merasa cukup puas, namja itu, Sehun membersihkan bibirnya dan berkumur. Menarik sehelai tisu dan mengeringkannya bibirnya. Sehun berjalan dengan lunglai keluar dari kamar mandi.
"Brak!"
Tepat saat dirinya sudah berada didalam kamarnya yang bernuansa klasik itu, seorang namja yang sudah beberapa tahun ini menjadi kekasihnya masuk kedalam kamar dan membanting pintu kamar tersebut.
Luhan melemparkan jaket kulit miliknya dengan kasar kepada Sehun.
"Oh Sehun, pabbo!" Bentak Luhan.
Menatap heran kekasihnya yang tiba-tiba datang dan memakinya. Belum sempat merespon apapun perkataan Luhan, kekasihnya itu mendekatinya dan menyentil dahinya keras.
"Aw!" Jerit Sehun.
"Ada apa denganmu, Hannie? Pagi-pagi datang marah-marah dan sekarang menyentil dahi ku. Kau tau ini sakit?" Lanjut Sehun.
Luhan tertawa kesal dan menompangkan tangannya ke pinggang lalu menatap kekasihnya.
"Ada apa kau bilang? KEMANA SAJA KAU SEHARIAN KEMARIN?! KAU TIDAK TAU KALAU AKU HAMPIR MATI SAAT PELAYANMU MENELPON DAN MENGATAKAN KAU BELUM PULANG KERUMAH TENGAH MALAM TADI?"
"TERLEBIH KAU JUGA TIDAK DATANG KE RESTORAN!"
Luhan berteriak mengeluarkan semuanya yang dia rasakan, berujung kini ia sudah memojokan kekasihnya pada tembok kamar Sehun. Dengan teriakan yang cukup keras terlebih kata-kata yang panjang itu bisa tersampaikan hanya dengan dua kali mengambil nafas dan hebatnya Luhan melakukan itu semua dengan berjinjit. Berusaha mensejajarkan tingginya dengan sang kekasih. Tepat saat Luhan sudah kembali ingin berbicara, Sehun menutup bibir Luhan dengan bibirnya. Mengecup bibir kekasihnya itu dengan lembut. Sempat beberapa saat terlena, Luhan akhirnya sadar dan mendorong Sehun, membuat kepala namja itu terhantuk tembok.
"KAU PIKIR AKU BISA DIBUJUK DENGAN CIUMAN?!"
Sehun menghela nafas lelah melihat kelakuan kekasihnya. Saat Luhan kembali ingin membentak kekasihnya, tubuh Sehun luruh begitu saja. Kini namja yang memiliki keindahan rahang itu berlutut sambil mencengkram surainya.
"Oh Sehun! Kau pikir aku juga bisa ditipu oleh akal-akalanmu?" Tanya Luhan masih dengan nada yang kasar.
Luhan mencoba meyakinkan dirinya bahwa Sehun hanya mengerjainya walau nyatanya Luhan bisa melihat dengan jelas Sehun terlihat kesakitan. Hingga sebuah suara yang sangat lirih terdengar dari Sehun.
"Kepalaku sakit sekali, Luhan."
Dengan gerakan perlahan Sehun mendekati kekasihnya dan menggenggam tangan Sehun yang kini tengah mencengkram surainya sendiri. Hingga tiba-tiba Sehun pun kehilangan kesadaran didalam pelukan Luhan. Panik, Luhan mencoba membangunkan kekasihnya itu.
"Sehun! Hunnie! Ini tidak lucu! Bangun, Oh Sehun!"
~LIMIT~
Kris kini sudah rapi. Hari ini ia mengenakan Kaos V-neck putih dengan balutan sweater berwarna biru dongker. Tao tersenyum melihat kekasihnya sudah rapih dan terlihat bercahaya tetapi penampilan Kris membingungkannya.
"Gege gak kuliah?"
Kris menggeleng dan berkata, "Kuliah tapi siang. Kamu?"
Tao berdiri dan menghampiri Kris dengan riang.
"Nado! Tao juga masuk siang, kalau gitu kita jalan-jalan ya, Ge?" Tanya Tao sambil memeluk Kris.
"Mianhae, baby. Gege harus kerumah sakit hari ini." Jawab Kris tak lama.
Tao sontak langsung melepas pelukannya dan memandang Kris.
"Gege merasakan sesuatu? Apa yang sakit, ge?"
Kris tersenyum samar mendengar pertanyaan kekasihnya dan beralih kembali memeluk Tao. Mencoba menyembunyikan wajahnya yang berubah keruh.
"ani, gege tidak merasakan sakit apapun. Hanya saja, Lee uisa sangat merindukan, gege."
Tao mengangguk dalam pelukan itu.
"Gege pasti sembuh." Ujar Tao berlirih.
"Hn, semoga." Jawab Kris.
Tao langsung melepas pelukannya dan memandang Kris tajam.
Telunjuknya menunjuk hidung Kris secara berulang dan berkata, "Bukan semoga, gege. Ucapkanlah doa dengan benar. Yang benar itu, akan. Kau pasti akan sembuh."
Kris justru mengalihkan perhatian dengan tertawa dan menggigit telunjuk Tao.
"Aaaa, jariku dimakan seekor naga. Tolong!" Jerit Tao bercanda.
Kris melepas gigitannya dan membersihkan jari Tao yang tadi digigitnya.
"Digigit seekor naga rupawan, eoh?" Tanya Kris bercanda dan menggelitik Tao.
Bagaikan kehidupan indah di film-film, kini mereka berlarian mengelilingi apartemen Kris dan sesekali Tao naik keatas kursi untuk menghindari gelitikan Kris.
~LIMIT~
Langkah kaki Kris berhenti tepat didepan ruangan dokter yang menanganinya. Ketika tangannya sudah berada di tangan pintu sebuah percakapan terdengar. Mendengar dokternya memiliki tamu, mungkin Kris harus terlebih dulu menunggu diluar tetapi saat ia sudah selangkah ingin pergi dari depan ruangan, ia mendengar namanya disebut.
"Kau tidak bisa menyamakannya dengan Kris. Kris itu memiliki kemauan yang besar, Changmin." Ujar Donghae uisa didalam sana.
Kris pun kembali menyandarkan tubuhnya pada pintu serta menajamkan pendengarannya.
"Kau tau sendiri, berapa banyak pasien yang akhirnya menyerah karena ia tidak bisa lagi menjalani kehidupannya. Kris juga akan mengalami masa itu cepat atau lambat, Donghae."
"Jadi kau menyuruhku untuk menyerah? Tidak akan! Aku tidak akan menyerah, aku bisa pastikan bahwa Kris akan kembali sehat."
Kris menunduk, mendengar keyakinan besar dari dokternya entah mengapa ia justru merasakan sebaliknya.
"Sehat bukan berarti Kris akan terbebas dari beberapa komplikasi yang akan timbul kan?"
"Bruk!"
Kris terkejut saat sepertinya dokternya memukul meja.
"Urus saja pasienmu, Changmin! Bukan wewenangmu ikut campur masalah pasienku!"
Kris menghembuskan nafasnya lelah, ia memijat keningnya untuk menghilangkan nyeri yang tiba-tiba datang dikepalanya. Kris berjalan menjauhi ruangan dokternya dan duduk di kursi tunggu. Berusaha menenangkan pikirannya dengan memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada dinding putih rumah sakit. Hingga pintu ruangan Lee uisa terbuka, seseorang menyentuh bahunya.
"Kris? Neo gwaechana?" Tanya Changmin.
Melihat Kris yang terlihat lemah membuat Changmin khawatir. Dengan perlahan Kris menegakan badannya dan berdiri, membungkuk menghormati Kangin.
"Nan gwaechana, uisa. Hanya sedikit pusing."
Changmin mengangguk.
"Yasudah, kau ingin bertemu Lee uisa? Beliau ada didalam."
"Ah, nde. Gamsahamnida, uisa."
Kris pun kembali membungkuk dan pergi meninggalkan Changmin.
"Semoga Tuhan melindungimu, Kris." Lirih Changmin.
~LIMIT~
"Cklek"
Suara pintu yang terbuka mengagetkan Donghae. Didepan pintu ruangannya, pasiennya kini tengah berdiri menatapnya.
"Eoh? Kris, silahkan masuk. Kenapa hanya berdiri saja disana?"
Kris pun menutup pintu dan berjalan perlahan menuju meja Donghae dan duduk didepannya. Donghae tersenyum menatap Kris, pasien yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu, terlihat lebih baik walau dari bobot badan Kris tidak bisa dibohongi, ada penyusutan disana.
"Bagaimana? Kau merasa lebih baik?"
Kris mengangguk.
"Syukurlah, semoga pengobatan kali ini akan berjalan lancar."
Kris tertawa miris, seakan ia menertawakan dirinya sendiri.
"Wae?"
Kris yang dari tadi hanya menatap kosong berkas-berkas yang ada di meja Donghae langsung melayangkan tatapannya kepada dokternya tersebut.
"Uisa, sebenarnya untuk apa ditemukan sebuah obat jika pada akhirnya tidak akan menyelesaikan secara tuntas penyakit tersebut?"
Donghae terdiam antara mengerti atau tidak ucapan pasien mudanya tersebut.
"Museun-"
"Obat ini, hanya memberikan harapan sesaat untuk ku kan, uisa?"
Kris mengambil obatnya dari dalam kantong celananya.
"Kris-"
"Uisa, jika bukan karena eomma, abeoji, Tao dan sahabat-sahabat ku. Aku tidak mungkin akan meminum obat ini."
"Kris-"
"Uisa-"
"WU YIFAN! JANGAN MEMOTONG UCAPAN KU!"
Setelah berulang kali dipotong oleh Kris kini Donghae dengan emosi berhasil mengambil kesempatan berbicara. Mencoba menenangkan deru nafasnya yang sempat beradu dan menatap Kris nanar.
"Kris, pikirkan dirimu. Masa depanmu, keluargamu. penyakit itu-jadikan dia sebagai kekuatanmu, Kris. Jangan jadikan itu kelemahan."
"Kau tau apa hal penting yang bisa menyembukan ODHA?"
Jeda sejenak dari Donghae.
"Kebahagiaan, keluarga dan cinta. Itu semua adalah kunci utama, Kris"
Kris memandang Donghae lemah, sebuah tawa yang menandakan Kris benar-benar menyerah kembali terlihat.
"Setelah merasakan semua efek samping dari obat ini, pada akhirnya aku akan terbebas dari HIV namun, ternyata setelah sekian lama dan begitu banyak rasa sakit yang kuterima-itu tidak akan merubah apapun."
"Virus-virus yang sudah terlanjur ada didalam tubuhku tidak akan menghilang. Benar begitu, Lee uisa?"
"Virus-virus itu justru akan berkembang dan aku kembali melakukan pengobatan terhadap penyakit baru itu."
Donghae menghela nafas, Kris bahkan sudah mengetahui semuanya sebelum ia menjelaskan.
"Aku akan memastikan itu tidak akan terjadi."
Kris kembali tertawa, ia berdiri dari duduknya. Berjalan menuju pintu ruangan tinggal selangkah lagi, Kris akan keluar namun ia menahan langkahnya sesaat. Tanpa berbalik Kris mengatakan sederet kalimat yang sukses membuat Donghae seakan ditampar langsung oleh Kris.
"Satu hal yang harus kau tau, uisa. Sekuat apapun upaya yang manusia lakukan, takdir tidak bisa berbalik. Kau bukan Tuhan, Lee uisa. Saat takdir mengatakan waktu ku habis, aku tidak bisa meminta perpanjangan waktu atau hal lainnya. Selamat siang."
Pintu pun tertutup seiring dengan menghilangnya Kris.
~LIMIT~
Kris ditengah kondisinya yang sepertinya tidak baik-baik saja ia menyusuri koridor rumah sakit. Hari ini tepatnya tadi beberapa waktu lalu ia mendengar begitu banyak hal yang seakan membuat dunianya runtuh. Semua perkataan yang didengarnya beberapa saat tadi masih menguasai pikiran Kris, membuat kepalanya terasa sakit dan berat. Hingga sebuah suara menyadarkannya dari dunianya sendiri.
"Gege!"
Sosok ceria yang selalu membuat Kris untuk kembali memakai topeng. Topeng yang membuat sosok bak malaikat ini tidak mengkhawatirkannya. Tetapi kali ini topeng itu tidak bekerja dengan baik. Meskipun Kris tersenyum menyambut kedatangan Tao, namja panda itu bisa melihat sesuatu yang tidak beres dari kekasihnya.
"Ge, wae geurae? Terjadi sesuatu?"
Kris menggeleng lemah dan tetap memberikan senyumannya pada kekasihnya walau tiba-tiba Kris sempat oleng beruntung Tao langsung menahan Kris.
"Gege pusing?" Tanya Tao sambil memegang dahi Kris, mencoba meraba apa kekasihnya itu kembali demam. Tao menghela nafas syukur karena tidak ditemukannya suhu tubuh Kris yang melewati batas normal.
Kris menarik lembut tangan Tao yang berada didahinya dan menggenggamnya.
"Gege hanya pusing, baby. Gwaenchana."
Tao memandang Kris lembut, tangan bergerak menuju kepala Kris. Ia memutar-mutarkan tangannya pada dahi Kris dan berucap seakan ucapannya bagaikan mantra penyembuh untuk kekasihnya.
"Rasa sakit pergilah. Kasian Kris ge, ia kesakitan. Rasa sakit pergilah, pergilah"
Kris tertawa melihat tingkah kekasihnya yang sangat kekanakan tapi dapat dipercaya atau tidak rasa sakit itu mulai terasa berkurang.
"Sudah lebih baik, ge?"
"Hn,"
Tao tersenyum mendengar usaha nya berhasil.
"Tao, bisa bantu gege untuk duduk sebentar?"
Tao mengangguk riang, "hn, bisa, ge"
Tao pun mengalungkan lengan Kris dilehernya dan membantu Kris untuk duduk dikursi sepanjang koridor rumah sakit ini. Kris menopangkan kepalanya pada bahu Tao lalu memejamkan mata.
"Baby, Mianhae."
Tao tersenyum lembut ia meraih tangan Kris dan mengelusnya lembut.
"Gwaenchana, ge."
Hening.
"Bagaimana pertemuan gege dengan Lee uisa?"
"Tidak ada yang serius."
"Jinjja? Lalu kenapa gege terlihat tertekan seperti ini?"
Kris menghela nafas.
"Ini hanya efek obat, baby. Gwaenchana."
"Yang kuat ya, Ge." Kata Tao lembut sambil mengusap kepala Kris.
Sedikit bingung saat ia tidak mendengarkan jawaban dari Kris, saat ia melihat dengan langsung wajah kekasihnya ternyata namja berdarah Kanada itu tertidur. Tao tersenyun dan kembali mengeluskan kepala Kris dengan lembut sambil bernyanyi lirih.
TBC...
Haaaaiiiii, author kembaliiiii... Sekali lagi maafkan author yang lama mengupdatenya yaaa... author berikan kembali chap yang lebih panjang, semoga chap ini memenuhi syarat kepuasaan para readers yaa... 😆
Maafkan author yang tidak bisa membalas satu persatu review kalian, tapi terima kasih ya untuk kesan baik dan masukan-masukan baik dari kalian... tetep kasih review dan tetap setia menunggu ff ini berlanjut yaaa... Saranghae:)
