=o=o=o=o=o=
Be My Mother, Seonsaengnim!
© fumiyo92
A Kyumin fanfiction
=o=o=o=o=o=
CHAPTER 9
=o=o=o=o=o=
.
.
"Akan kuantar pulang" Ujar Kyuhyun pada pemuda manis yang sedang bersenda gurau bersama dengan seorang gadis kecil yang tak kalah manisnya. Beberapa menit yang lalu, Jinri datang menghampiri dirinyaa dan merengek meminta pulang. Kyuhyun sendiri sedikit kaget saat mendapati bahwa hari sudah mulai gelap. Sebegitu senangnya kah ia mengobrol bersama dengan Sungmin sehingga mereka lupa waktu? Haah… Kyuhyun sendiri pun tidak mengerti.
Sungmin menatap wajah Kyuhyun dan tersenyum simpul. Sebelah tangannya menggenggam tangan Jinri dengan erat saat mereka berjalan keluar dari taman, "TIdak perlu, Kyuhyun-ssi. Halte bus hanya berjarak beberapa meter dari sini. Aku bisa pulang naik bus saja" jawabnya santai.
Kyuhyun baru saja membuka mulutnya untuk memprotes ucapan Sungmin namun gadis kecil disampingnya sudah melakukannya terlebih dahulu. Jinri merengek dan memeluk lengan Sungmin seolah mencegah pria manis itu untuk meninggalkan mereka.
"Aku ingin pulang dengan mommy~~" rengeknya, "Aku dan daddy bisa mengantar mommy pulang dulu ke apartemen mommy atau kita bisa pulang bersama ke rumah daddy~~" lanjutnya sambil menarik-narik tangan Sungmin, meminta pria manis itu untuk menuruti keinginannya.
Sungmin hanya tersenyum canggung. Ia tidak tahu apa yang harus ia jawab kepada gadis kecil di hadapannya ini. Ia mengalihkan matanya pada Kyuhyun yang berdiri di sisi lain putri kecilnya, mencoba meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Jinri. Akhirnya, sang ayah mengacak rambut putri kecilnya dan membuat sang putri menatapnya sebal, "Mommy harus pulang ke apartemennya baby" jawabnya pelan. Ia mendesah saat melihat sang putri malah mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya kesal, "Tapi daddy janji, kita akan mengantar mommy pulang dulu. Benar kan mommy?" Kyuhyun menatap Sungmin dengan penuh harap. Ia sangat berharap pemuda manis ini akan menyetujui ucapannya tadi agar putri kecilnya ini bisa kembali tersenyum bahagia.
"Baiklah" ucap Sungmin setelah beberapa saat. Ia tersenyum saat melihat binar mata Jinri yang menatap bahagia padanya. "Kalian boleh mengantar mommy pulang" Sungmin terkikik geli saat melihat Jinri memekik senang dan bertos ria bersama dengan sang ayah.
"Yeay~~~~" serunya sambil memutar-mutar badannya, membuat kedua orang dewasa itu terkekeh karena tingkah manisnya. "Ayo mommy! Ayo! Ayo!" ia menarik-narik tangan Sungmin untuk berjalan lebih cepat menuju mobil Kyuhyun yang masih terparkir di halaman sekolahnya.
Senyum bahagia terukir dengan sangat indah di wajah manisnya saat melihat Jinri yang tak hentinya menarik-narik tangannya dan tangan Kyuhyun seakan meminta kedua orang dewasa itu untuk berjalan lebih cepat. "Hati-hati, baby. Mommy tidak ingin kau terjatuh" ujar Sungmin namun gadis kecil itu seakan tidak mendengarkan ucapannya. Ia masih dengan sangat semangat menarik kedua orang dewasa dibelakangnya. Hal itu malah membuat Kyuhyun terkekeh, menurutnya sekarang pria manis itu seperti seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya.
Jinri terlihat sangat senang selama pejalanan menuju apartemen Sungmin. Gadis kecil itu selalu memilki cara untuk memulai perbincangan diantara mereka bertiga. Entah itu mengenai kerlap-kerlip bintang yang mulai terlihat di atas langit atau harinya di sekolah. Gadis kecil itu sama sekali tidak pernah diam, terkadang ia meminta untuk pindah duduk di kursi belakang kemudian pindah lagi duduk di kursi depan, dipangku oleh Sungmin. Kedua orang dewasa yang melihat tingkah gadis kecil itu hanya bisa tertawa karena mereka tahu, gadis kecil itu sedang merasa sangat bahagia sekarang.
"Daddy" ujar Jinri kepada sang ayah yang masih sibuk menyetir. Gadis itu kini sedang duduk di atas pangkuan Sungmin yang duduk di kursi depan.
"Iya baby?" jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan. Jalanan yang sedikit lengang membuat Kyuhyun justru harus ekstra hati-hati dalam membawa mobil karena banyak mobil-mobil lain yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
"Aku ingin main ke Lotte World"
Kyuhyun mengerutkan keningnya dan melirik ke arah putri kecilnya sekilas. Jarang sekali Jinri meminta pergi berlibur di saat hari-hari sekolah. Sungguh aneh. "Lotte World?" tanyanya bingung.
"Eung!" Jinri menjawab sambil menganggukkan kepalanya. Ia memainkan tangan Sungmin yang melingkar di perutnya, menjaga gadis kecil itu agar tidak terjatuh. "Aku ingin pergi kesana dengan mommy dan daddy. Teman-temanku sering pergi ke Lotte World dengan mommy dan daddy-nya. Aku juga ingin seperti mereka" ucapnya semakin pelan. Matanya kini menatap pada jarinya yang masih memainkan jari-jari milik Sungmin.
Kyuhyun menginjak rem mobilnya pelan saat melihat rambu lalu lintas menunjukkan bahwa mereka harus berhenti. Ia menatap Sungmin yang tersenyum simpul ke arahnya, seolah meminta Kyuhyun untuk menuruti permintaan gadis kecil dalam pangkuannya. Kyuhyun menghela nafas panjang, wajah Jinri yang sedikit murung membuat hatinya sakit. Ia bisa membayangkan wajah putri kecilnya saat teman-temannya menceritakan liburannya bersama dengan kedua orang tua mereka. Sungguh, Kyuhyun bersyukur ia tidak melihatnya secara langsung karena ia yakin, hatinya akan semakin sakit melihat wajah sedih malaikat kecilnya. Ia mencoba tersenyum dan mengelus rambut putrinya dengan sangat lembut, "Baiklah" ucapannya tersebut bagaikan sebuah sihir. Senyum manis kini sudah terukir di wajah manis malaikat kecilnya. Matanya yang tadi menampilkan kesedihan kini sudah dipenuhi dengan binar kebahagiaan, "Asal mommy mau, daddy juga tidak keberatan"
Gadis kecil itu menengadahkan kepalanya dan menatap Sungmin dengan penuh harap. Namun, yang ditatap hanya menarik bibirnya menjadi garis tipis, seolah sedang berpikir keras. "Mommy~~"
Sungmin menahan senyumnya sekuat tenaga, Ia melirik Kyuhyun yang kini memandangnya dengan tatapan yang hampir sama dengan gadis di pangkuannya ini. "Haruskah mommy bilang okay?" candanya. Jinri yang belum paham atas ucapan Sungmin segera menganggukkan kepalanya dengan cepat serta menggenggam jari Sungmin yang tadi dimainkannya. Melihat tingkah lucu gadis itu, akhirnya Sungmin tersenyum dan mengecup pucuk kepala Jinri. "Okay mommy ikut"
Jinri kembali memekik senang. Ia lebih menengadahkan kepalanya dan mencium pipi Sungmin, "Aku sayang mommy"
"Mommy juga menyanyangimu, baby" ucap Sungmin sambil kembali mengecup pucuk kepala Jinri.
"Ooh… jadi begitu" kedua makhluk manis itu mengalihkan pandangan mereka kepada Kyuhyun yang kini sudah kembali menjalankan mobilnya, "Kalian tidak menyayangi daddy. Baiklah~" ucapnya sambil menghela nafas yang sangat panjang. Bibir tebalnya ia kerucutkan dan bahunya turun. Benar-benar terlihat seperti orang yang sudah kehilangan segalanya.
"Tidak daddy~ aku juga menyayangi daddy~" seru Jinri panik, "Mommy juga menyayangi daddy kan?" ia mengalihkan matanya kepada Sungmin kemudian kembali menatap Kyuhyun, "Ayolah daddy~ aku sangat, sangaaaaaaaaat menyayangi daddy" bujuk Jinri lagi.
Sungmin hanya terkikik geli melihat interaksi ayah dan anak di hadapannya, ia tahu bahwa sebenarnya Kyuhyun hanya sedang menggoda putri kecilnya itu. Ia bisa melihatnya dari wajah Kyuhyun yang sedang berusaha untuk menahan senyumnya. Sungmin mendesah lega, ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan bertemu dengan keluarga kecil ini. Keluarga yang terlihat sangat bahagia di luar tapi penuh dengan kesedihan di dalamnya. Hilangnya sosok seorang ibu membuat keluarga bahagia ini sedikit pincang. Walaupun Kyuhyun berusaha keras untuk menyeimbangkannya dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh wanita tersebut, selalu ada tempat kosong yang tidak bisa ia raih. Sebuah lubang besar di hati Jinri yang tidak bisa Kyuhyun isi walaupun ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Sebuah lubang yang memang hanya bisa diisi oleh sosok selain Kyuhyun.
Sosok seorang ibu.
Sungmin menatap wajah Kyuhyun yang kini sudah tersenyum bahagia bersama dengan putri kecilnya. Pria di hadapannya ini pasti sudah berusaha dengan sangat keras untuk membesarkan putri kecilnya seorang diri. Sungmin paham, hal itu bukan hal yang mudah mengingat sifat dasar seorang pria yang diciptakan bukan untuk menjadi tombak utama dalam membesarkan seorang anak. Biasanya mereka hanya menjadi pemeran pendamping dalam hal itu, tapi Kyuhyun bisa melakukannya dengan sangat baik dan Sungmin sangat mengaguminya. Ia yakin, tidak semua pria bisa melalui ini semua seperti Kyuhyun.
Sebuah kecupan di pipinya membuat Sungmin tersadar dari pikirannya. Ia menatap Jinri yang kini terkikik geli di pangkuannya, "Daddy benar" ujarnya sambil terkikik, "Mommy seperti sleeping beauty"
Sungmin menatap Kyuhyun yang hanya terkekeh sambil menyetir. Ia mengangkat alisnya seolah meminta penjelasan atas ucapan putri kecilnya. "Kau melamun untuk kedua kalinya hari ini, Sungmin-ssi" jawabnya. Ia melirik Sungmin sekilas sebelum kembali menyetir, kali ini dengan senyum jahil yang terpajang di wajah tampannya. "Kau kembali dari mimpimu saat Jinri mencium pipimu. Sama seperti sleeping beauty kan?"
Sungmin membuka mulutnya untuk merajuk namun ia segera menutupnya kembali saat mendengar suara tawa Jinri. Ia mendelik ke arah Kyuhyun yang kini tertawa bersama dengan putrinya. Tidak. Sungmin tidak boleh merajuk sekarang, bisa-bisa Kyuhyun malah makin menggodanya karena bertingkah seperti anak kecil. Apalagi di depan Jinri. Sungmin tidak ingin Jinri melihat sisi kekanakkannya.
Sama sekali tidak!
Seringaian kecil mengembang di wajah manisnya. Ia menatap ayah dan anak itu kemudian memukul bahu Kyuhyun dan mencubit gemas hidung Jinri secara bergantian, menyalurkan sedikit kekesalannya kepada pasangan ayah dan anak itu. "Sakit mommy/Sungmin-ssi" protes mereka bersamaan.
Namun, Sungmin hanya terkikik geli kemudian menatap keduanya, memicingkan matanya seseram mungkin. "Sleeping beauty marah karena dibangunkan dari mimpinya"
.
ooo
.
"Aku pulaaaaaang!" teriak Jinri saat ia dan Kyuhyun memasuki rumah mereka. Gadis kecil itu segera membuka sepatunya dan berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua, meninggalkan sang ayah yang masih berdiri di dekat pintu masuk.
"Hati-hati baby!" seru Kyuhyun saat mendengar suara kaki putrinya yang berlari menaiki tangga. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan menyimpan tas kerjanya di atas sofa. Ia terkekeh saat mendengar suara rusuh berasal dari kamar putri kecilnya. Ia hampir bisa membayangkan apa yang sedang putri kecilnya lakukan hingga menghasilkan suara-suara seperti itu. Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Kyuhyun berjalan menaiki tangga, bermaksud untuk melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Jinri.
Kyuhyun hanya bisa kembali menggelengkan kepalanya dan terkekeh saat ia melihat seragam kotor Jinri yang berceceran begitu saja di atas lantai. Tas sekolah milik putrinya itu juga sudah tergeletak tak jauh dari pakaian kotornya. Melihat kamar yang sedikit acak-acakan tersebut tidak lantas membuat Kyuhyun marah, pria itu hanya memasuki kamar putrinya dengan langkah santai. Senyum tipis terurai di wajah tampannya. Ia menyadari, perilaku Jinri yang seperti ini justru malah membuatnya merasa bercermin. Dahulu, Kyuhyun selalu melakukan apa yang dilakukan Jinri sekarang. Pakaian berserakan dan tas yang tergeletak dimana saja. Well, terkadang ia juga masih melakukannya… walaupun tidak di depan putrinya. Sebenarnya Kyuhyun juga sedikit bingung mengapa Jinri memiliki perilaku yang sama seperti dirinya padahal putrinya itu sama sekali tidak pernah melihat Kyuhyun melakukannya. Mungkin pepatah yang mengatakan like father, like son itu benar. Tapi… dalam kehidupan Kyuhyun mungkin lebih tepat jika disebut like father, like daughter?
Kyuhyun mengumpulkan seragam putrinya dan memasukannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Ia baru saja meletakkan pakaian tidur Jinri di atas tempat tidur saat ia mendengar suara pitu kamar mandi terbuka, "Daddy~" seru Jinri dari dalam kamar mandi, "Aku lupa bawa handuk" Kyuhyun kembali terkekeh mendengar ucapan sang putri. Lagi-lagi, sebuah kebiasaan buruk dirinya yang entah mengapa menurun kepada Jinri.
"Putri daddy ini selalu saja melupakan handuknya" cibir Kyuhyun saat membantu Jinri mengeringkan tubuhnya. Ia kembali terkekeh saat melihat Jinri mengerucutkan bibirnya sebal. Kyuhyun sangat, sangat bersyukur karena Jinri mewarisi wajah manis mendiang istrinya. Entah apa yang akan terjadi jika Jinri mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang sangat mirip dengannya. Mungkin akan terlihat aneh? Kyuhyun sendiri tidak mau membayangkan dirinya melakukan hal itu. Pasti sangat, sangat aneh!
"Aku lupa, daddy. Lupa!" keukeuh Jinri.
Gadis kecil itu kini memandang ayahnya sebal, bibirnya makin ia kerucutkan saat sang ayah hanya tertawa mendengarnya, "Ne, ne. Daddy mengerti" ujar Kyuhyun di sela tawanya. Perlahan, ia memangku Jinri dan berjalan menuju kamar putrinya.
"Kenapa yang ini lagi, daddy?" keluh Jinri sambil memegang pakaian tidur yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia kini sudah terduduk di atas tempat tidur dan memakai pakaian dalamnya, "Aku memakainya 3 hari yang lalu~" rengeknya.
"Benarkah?" Tanya Kyuhyun sambil memandang Jinri. Yang dipandang hanya menanggukkan kepalanya cepat, "Aah… daddy lupa" ujarnya sambil menepuk keningnya.
Jinri tertawa saat melihat ayahnya mengambil pakaian baru untuknya. Kedua tangan gadis kecil itu menutupi mulutnya, berusaha keras untuk menahan suara tawanya agar sang ayah sama sekali tidak mendengarnya, "Daddy-nya saja pelupa pantas saja kalau anaknya juga sama" ujarnya sambil terkikik.
"Kau bilang sesuatu?" Tanya Kyuhyun saat berada di depan Jinri. Ia yakin tadi mendengar putrinya berbicara sesuatu tapi ia sama sekali tidak bisa mendengar jelas apa yang diucapkannya. Kening Kyuhyun mengkerut saat melihat Jinri kembali tertawa. Perasaannya mengatakan bahwa putri kecilnya ini sedang menertawakannya, "Apa?" tanyanya lagi. Namun, Jinri hanya menggelengkan kepalanya sambil kembali menutup mulutnya. "Tidak mau menjawab pertanyaan daddy huh? Baiklah, rasakan ini!"
Suara tawa Jinri terdengar dengan sangat jelas di ruangan itu saat tangan besar Kyuhyun mengelitiki tubuhnya. Ia berusaha keras untuk lepas dari kelitikan Kyuhyun namun apa daya, tubuh kecilnya tidak memiliki kekuatan yang cukup besar untuk melepaskan dirinya dari perlakuan sang ayah. "Geli daddy~~~ hahahaha" serunya.
"Daddy tidak akan menghentikannya sampai Jinri bilang apa yang barusan diucapkannya" ucapnya sambil terus mengelitiki tubuh putri kecilnya, "Menyerah?" tawarnya yang langsung dijawab dengan anggukan cepat dari sang korban.
Gadis itu kini terbaring lelah di atas tempat tidur. Nafasnya terengah namun ia masih bisa memberikan tatapan sebal kepada sang ayah. "Daddy kejam"
Kyuhyun hanya tertawa penuh kemenangan mendengarnya. Ia membangunkan tubuh Jinri dan terduduk di hadapannya. "Salah Jinri sendiri tidak menjawab pertanyaan daddy" jawabnya, "Sekarang, apa yang tadi Jinri bilang hm?"
"Aku bilang, pastas saja aku lupa membawa handuk kalau daddy-nya saja pelupa"
Kyuhyun menatap Jinri dengan mata yang sengaja ia belakakkan. Mulutnya sedikit ia buka untuk menambah kesan kaget ketika memandang putrinya, "Jadi maksudmu ini salah daddy?" tanyanya.
"Eung!"
Kyuhyun kembali terkekeh. Ia menangkup wajah putrinya dan mengecup keningnya pelan, "Maafkan daddy kalau begitu" bisiknya.
Tidak.
Kyuhyun tidak merasa tersinggung dengan ucapan Jinri barusan. Bagaimanapun juga hal itu merupakan fakta yang memang tidak bisa dielakkan. Yah… walaupun ia berharap bahwa sifat pelupanya itu tidak akan menurun pada Jinri tapi mau bagaimana lagi, sepertinya gen-nya sangat kuat sehingga Jinri lebih banyak mewarisi sifat dirinya dibandingkan dengan sifat mendiang istrinya.
"Sekarang, pakai bajumu. Sudah malam, kau harus segera tidur" ia menyerahkan baju, yang entah sejak kapan terjatuh ke lantai, kepada Jinri. Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dan segera memakai pakaian tidurnya. Namun, kening Kyuhyun mengkerut saat ia melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di tubuh putri kecilnya. "Kau terantuk? Kenapa pinggulmu lebam seperti itu?" Tanya Kyuhyun khawatir.
Ia menatap lebam yang cukup besar di pinggul putrinya dengan seksama. Warna ungu pada lebam itu menandakan bahwa putrinya ini baru mendapatkannya belum lama ini. Kyuhyun sangat yakin, tadi pagi saat ia membantu Jinri memakai seragamnya, pinggul putri kecilnya ini masih bersih dari warna menyebalkan itu. 'Apa terjadi sesuatu di sekolah? Tapi Sungmin-ssi sama sekali tidak membicarakan apapun padaku' pikirnya. Ia mengelus lebam itu sambil menatap wajah putrinya, "Sakit?"
"Tidak" jawabnya singkat. Jinri memandang tangan ayahnya yang masih mengelus-elus lebam di pinggulnya dengan tatapan bingung. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa hal itu bisa menghiasi tubuhnya. "Aku juga tidak tahu, daddy~ aku tidak terantuk apapun di sekolah. Saat istirahat juga aku bermain puzzle dengan Hyunwoo"
Kyuhyun kembali mengerutkan keningnya bingung. Jika putri kecilnya ini tidak terantuk apapun lalu mengapa bisa ada lebam di pinggulnya? Ia menggelengkan kepalanya kemudian menatap mata putri tunggalnya, "Daddy ambilkan obat ne? Walaupun tidak sakit tapi lebam ini harus tetap diobati" ia mengecup kening Jinri sebelum pergi untuk mengambil obat yang ia simpan di kamarnya.
Saat Kyuhyun kembali, Jinri sudah menggunakan pakaiannya dengan rapi. Gadis kecil itu kini sedang terududuk di atas kasur sambil memeluk boneka kelincinya. Dengan perlahan, Kyuhyun mengoleskan obat itu di pinggul putrinya. Sesekali ia tersenyum saat Jinri mengeluh karena bau obat yang cukup menyengat. "Selesai!" seru Kyuhyun. Ia menutup botol obat itu dan meletakkannya di atas nakas.
"Bau, daddy" protes Jinri. Gadis itu mengernyitkan hidungnya saat mencium bau obat yang baru saja dioleskan sang ayah.
"Tak apa, baunya pasti hilang" ujarnya sambil terkekeh, "Sekarang Jinri tidur ne" lanjutnya. Ia membaringkan putrinya dan menyelimutinya hingga ke dada.
"Aku ingin mendengar cerita"
"Cerita?" lagi-lagi, Jinri menganggukkan kepalanya. Kyuhyun tersenyun dan membaringkan dirinya di samping putrinya. Sebelah tangannya terulur untuk memeluk putri kecilnya. "Baiklah. Pada suatu hari, di sebuah kerajaan matahari, terdapat seorang putri yang sangat cantik. Semua orang menyebutnya dengan panggilan putri Sunny karena sifatnya yang sangat baik dan hangat seperti matahari. Suatu hari, putri Sunny berjalan-jalan menuju sebuah hutan. Orang tua putri Sunny sudah memperingatkannya bahwa putri Sunny tidak boleh pergi kesana. Mereka bilang, hutan itu ditinggali oleh seekor naga dan naga itu akan memakan siapapun yang memasuki hutannya. Tapi, putri Sunny sama sekali tidak mendengarkan ucapan orang tuanya, ia melanjutkan perjalanannya memasuki hutan itu. Putri Sunny sedikit takut saat melihat keadaan hutan yang sangat gelap dan lembab bahkan suara langkah kakinya pun terdengar dengan sangat jelas. Namun, walaupun takut, putri Sunny tetap melanjutkan perjalanannya. Ia penasaran dengan naga yang selalu dibicarakan oleh orang tuanya. Putri Sunny terus berjalan dan berjalan. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan. Kakinya sangat letih namun ia sama sekali tidak menemukan apapun di hutan ini. Putri Sunny ingin pulang, tapi ia tidak ingat jalan pulang. Ia hanya bisa terduduk dan menangis, berharap seseorang akan datang dan membawanya pulang. Saat putri Sunny menangis, ia––"
"Daddy" ucapan Jinri itu menghentikan cerita Kyuhyun. Ia menatap putrinya yang kini memeluk tubuhnya dengan sangat erat, "Kenapa mommy dan daddy tidak tinggal satu rumah? Semua temanku tinggal bersama dengan mommy dan daddy-nya tapi kenapa mommy tidak tinggal dengan kita?"
Kyuhyun terkaget. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana menjelaskan ini kepada Jinri. Tentu saja ia dan Sungmin tidak mungkin tinggal serumah, mereka tidak memiliki hubungan apapun untuk melakukannya. Sungmin memiliki kehidupannya sendiri. Ia sudah cukup merepotkan Sungmin dengan permintaan Jinri untuk memanggilnya mommy dan hal itu pasti sudah sangat membatasi kebebasan pria manis itu. Kyuhyun tidak ingin merepotkannya lebih jauh lagi.
Kyuhyun mengelus rambut putrinya dengan lembut. Sesekali, ia akan mengecup kening putri kecilnya itu. "Sudah malam" bisiknya, "Jinri harus tidur"
"Tapi daddy~"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Kini, tangan besarnya mengelus pipi bulat putrinya, "Sudah malam" bisiknya lagi, "Tidak baik jika Jinri tidur terlalu malam" ujarnya.
Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun ia merasa kecewa karena sang ayah sama sekali tidak menjawab pertanyaannya tapi Jinri tahu, apa yang diucapkan Kyuhyun tadi sangat benar. Ia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang ayahnya, "Malam, daddy" bisiknya sambil menutup mata, meninggalkan Kyuhyun yang kini termenung dan menatap sedih kepadanya.
.
ooo
.
Pagi itu, kediaman keluarga Cho sudah terlihat sangat sibuk. Walaupun hari ini adalah hari Sabtu, tapi kepala keluarga Cho sudah sibuk memasak sarapan di dapur. Sebuah kemeja putih dan celana kain abu-abu sudah melekat di tubuhnya. Tidak lupa dengan celemek biru tua yang melindungi kemejanya dari cipratan minyak.
Tidak biasanya Kyuhyun sesibuk itu di hari libur.
Biasanya ia dan Jinri akan bangun lebih siang kemudian Kyuhyun akan mengajak putri kecilnya untuk sarapan di luar. Namun, hari ini sangat berbeda. Kemarin malam, ia mendapatkan telepon dari sekretarisnya yang mengatakan bahwa seorang klien mendadak merubah jam meeting mereka menjadi hari Sabtu jam 9 pagi dan hal itu sukses membuat sekretaris itu mendapatkan omelan yang cukup panjang dari Kyuhyun karena memberitahunya dengan sangat mendadak. Yaa… walaupun sekarang Kyuhyun sedikit merasa bersalah karena bagaimanapun juga hal ini bukan kesalahan sekretarisnya. Salahkan saja pria tua –kliennya– yang dengan seenak perutnya mengubah jadwal meeting mereka.
Setelah selesai memasak, Kyuhyun membawa makanan yang dibuatnya menuju meja makan. Perasaan khawatir menggerogoti dirinya saat melihat putri kecilnya terduduk lesu di atas kursi, kepalanya disangga oleh kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Tadi pagi, saat Kyuhyun akan membangunkan putrinya itu, badan putrinya itu sedikit hangat. Suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Walaupun tidak begitu tinggi tapi tetap saja membuat Kyuhyun khawatir, apalagi ia diharuskan untuk meninggalkan Jinri yang sedang tidak enak badan hari ini.
Sedikit aneh memang, kemarin putri kecilnya itu terlihat sangat baik-baik saja. Malamnya saat Kyuhyun menemaninya tidur pun, Jinri masih baik-baik saja. Kyuhyun berpikir mungkin suhu tubuh Jinri meningkat akibat lebam yang ada di pinggulnya. Sepertinya ia pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa lebam bisa membuat orang menjadi demam dan hal itu sangat mungkin saja terjadi pada putrinya kan? Apalagi melihat ukuran lebam Jinri yang cukup besar. Ya… mungkin saja.
"Makan dulu, baby" ucapnya lembut. Ia meletakkan makanan buatannya di atas meja sebelum duduk di samping putri kecilnya. Kyuhyun tersenyum sedih saat Jinri menggelengkan kepalanya, "Sedikit saja" bujuknya lagi.
Akhirnya, Jinri mendongakkan kepalanya. Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan mata yang sayu, "Tidak mau daddy" ucapnya lemah. Perlahan, ia sandarkan kepalanya ke dada sang ayah dan memeluk tubuhnya, "Kepalaku pusing"
"Daddy tahu, tapi Jinri harus tetap makan" bisiknya sambil mengelus rambut putrinya itu, "Mommy pasti tidak akan suka jika tahu Jinri belum sarapan"
"Aku ingin mommy" rengeknya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada sang ayah dan mengeratkan pelukannya, "Aku ingin mommy, daddy"
Kyuhyun menghela nafas panjang. Ia berusaha untuk tetap sabar menghadapi putri kecilnya ini. Jinri memang akan lebih manja saat sedang sakit dan Kyuhyun hanya bisa menyalahkan dirinya karena lagi-lagi, sifat itu merupakan warisan dari dirinya. Kyuhyun kembali mengelus kepala putrinya dan mengecup singkat pucuk kepala Jinri. "Jika Jinri makan, Jinri boleh bertemu dengan mommy"
"Benarkah?" Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, senyum Jinri mengembang untuk pertama kalinya hari itu. Entah mendapat kekuatan darimana namun Kyuhyun dapat melihat kalau putri kecilnya sedikit lebih sehat daripada tadi. Mungkin keinginannya yang sangat besar untuk bertemu Sungmin lah yang membuat putri kecilnya terlihat lebih sehat walaupun Kyuhyun sedikit menyangsikan kalau suhu tubuhnya benar-benar sudah turun. Ia masih bisa merasakan panas tubuh Jinri yang masih cukup tinggi dari tubuhnya yang masih menempel dengan tubuh Jinri. Melihat Jinri yang memakan sarapannya dengan cukup lahap, Kyuhyun pun mulai memakan sarapannya.
30 menit kemudian, Kyuhyun dan Jinri sudah berdiri di depan sebuah apartemen yang sangat mereka kenal. Apartemen yang sering mereka kunjungi belakangan ini. Kyuhyun sedikit bimbang saat akan memencet tombol bel yang berada di samping pintu apartemen itu. Mungkin saja Sungmin masih tertidur? Bagaimanapun juga hari masih sangat pagi dan jangan lupakan juga kalau hari ini adalah hari libur. Namun, pintu di depannya terbuka sesaat setelah ia memencet bel dan menampakkan sesosok pria manis yang sudah terlihat sangat rapi.
Sungmin tersenyum manis menyambut kedua orang yang kini berdiri di depan pintu apartemennya. "Kukira kalian akan datang lebih pagi" ucapnya sambil menatap Kyuhyun, "Dan kau bilang kalau meeting-mu mulai jam 9 pagi kan dan sekarang sudah jam uh… setengah 9?" Tanya Sungmin bingung. Jangan aneh jika Sungmin mengetahui jadwal meeting Kyuhyun. Pria tampan itu segera menelepon Sungmin sesaat setelah mendapatkan telepon dari sang sekretaris. Sedikit merasa bersalah saat Sungmin mengangkat teleponnya dengan suara yang berat. Kyuhyun langsung menyadari bahwa teleponnya itu sudah membangunkan Sungmin dari tidurnya. Tapi Kyuhyun tidak lantas berhenti begitu saja, ia menjelaskan masalahnya pada Sungmin dan mengapa ia tidak bisa meninggalkan Jinri di rumah walaupun kyuhyun tahu kalau bibi Hwang –pembantu di rumahnya– pasti tidak akan keberatan untuk menemani Jinri selama ia pergi. Kyuhyun juga pasti akan membayarnya lebih jika ia harus pulang larut sementara kontrak bibi Hwang hanya sampai jam 5 sore saja. Eeyy… kalian tidak berpikiran bahwa Kyuhyun akan membersihkan rumahnya yang besar itu seorang diri kan? Haah… ia saja sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya mana mungkin ia memiliki waktu untuk membuat semua perabotan di rumahnya tetap bersih bersinar.
"Ya" jawab Kyuhyun, "Tapi pagi tadi Jinri demam. Aku tidak tega jika harus membangunkannya pagi sekali" jelasnya. Ia menatap Jinri yang berdiri di sampingnya dan menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Demam?!" seru Sungmin kaget. Ia berjongkok di hadapan Jinri dan menempelkan telapak tangannya di kening gadis kecil itu. Sungmin mengernyit saat merasakan panas tubuh yang cukup tinggi berasal dari tubuh gadis kecil di hadapannya, "Apa yang sakit hm? Kepala Jinri sakit? Atau mual? Sudah sarapan? Ingin mommy buatkan bubur? Atau––"
"Mommy/Sungmin-ssi" ucapan kedua orang dihadapan Sungmin tersebut memotong semua rentetan pertanyaannya. "Kau jadi terlihat seperti ibu-ibu yang mengkhawatirkan anaknya saja" lanjut Kyuhyun sambil terkekeh.
"Mommy kan memang mommy-nya Jinri, daddy" sambung Jinri. Ayah dan anak itu saling menatap kemudian kembali tertawa.
Mendengar itu, Sungmin segera memeluk tubuh Jinri dan menatap Kyuhyun tajam. "Hush, kau kan ada meeting jam 9 jadi cepat pergi sana!" usir Sungmin sebal. Namun, yang diusir malah tertawa cukup keras dan mengacak rambutnya, "Berhenti mengacak rambutku, Kyuhyun-ssi!" seru Sungmin lebih kesal. Bisa-bisanya Kyuhyun mempermainkannya pagi-pagi begini. Sangat menyebalkan!
"Baiklah, baiklah" jawab Kyuhyun sambil berusaha untuk mengontrol tawanya. Ia berjongkok di hadapan Jinri kemudian mengelus rambutnya lembut, "Jinri bersama mommy dulu ne? Daddy harus pergi sebentar tapi daddy janji akan pulang sangat cepat" ucapnya, "Jangan lupa Jinri harus banyak makan dan istirahat. Daddy ingin saat pulang nanti, Jinri sudah sembuh. Okay?" ia tersenyum saat Jinri menganggukkan kepalanya dan balas tersenyum padanya.
Melihat senyum Kyuhyun membuat rasa kesal Sungmin menghilang seketika. Perasaan hangat menyeruak masuk ke dalam dadanya saat melihat betapa besar cinta pria di hadapannya ini kepada sang putri. "Tenang saja, Kyuhyun-ssi. Kau fokus saja pada pekerjaanmu, aku akan menjaga Jinri dengan baik"
Kyuhyun menatap Sungmin dan tersenyum lembut. "Baiklah" jawabnya, "Maaf karena lagi-lagi aku merepotkanmu, Sungmin-ssi"
"Tak apa"
Sungmin dan Jinri berdiri disana hingga Kyuhyun menghilang di balik pintu lift. Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam apartemen Sungmin. Sungmin tersenyum saat Jinri langsung mendudukkan dirinya di depan televisi, menonton film kartun yang memang selalu diputar pada Sabtu pagi.
"Jinri tidak ingin tidur?" tanyanya. Ia mendudukkan dirinya di samping Jinri, membuat gadis kecil itu segera memeluk tubuhnya erat.
"Tidak mengantuk, mommy" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Sungmin hanya terkekeh dan mengeratkan pelukannya. Ia mengerti, gadis kecil ini pasti sangat ingin menonton film kartun favoritnya yang hanya diputar seminggu sekali. Sama seperti dirinya dulu. Walaupun sakit, Sungmin kecil juga tidak pernah absen untuk menonton film kartun favoritnya.
Selama film itu diputar, sekitar 30 menit, Jinri sama sekali tidak mengajak Sungmin bicara. Gadis itu terlalu fokus menonton film kartun favoritnya tapi, ia tidak pernah melepaskan pelukannya pada Sungmin, seakan meminta Sungmin untuk tetap menemaninya dan Sungmin pun dengan senang hati memenuhi permintaan gadis kecil itu.
Setelah film itu selesai diputar, Jinri mendudukkan dirinya di atas pangkuan Sungmin. Kepalanya ia sandarkan di bahu pria manis itu dan memeluknya erat. "Ingin pindah ke kamar saja?" Tanya Sungmin saat mendengar gadis kecil itu mulai menguap. Kedua tangannya ia lingkarkan di tubuh Jinri, memeluknya erat.
Jinri menggelengkan kepalanya. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Sungmin dan mengeratkan pelukannya, "Aku ingin dipeluk mommy seperti ini"
Sekali lagi, Sungmin hanya terkekeh. Ia mengeratkan pelukannya sambil mengelus-elus punggung gadis kecil itu, "Baiklah. Mommy akan terus memeluk Jinri seperti ini"
Keheningan mengisi ruangan itu setelah beberapa saat. Sungmin bisa merasakan kelopak mata Jinri yang menutup di lehernya. Sepertinya gadis kecil ini sudah tertidur. Ia kembali mengelus punggung kecil Jinri agar gadis kecil di pelukannya ini tertidur lebih pulas. Sungmin baru saja akan memindahkannya ke kamar saat pertanyaan gadis kecil itu membuat tubuhnya membeku, "Kenapa mommy tidak tinggal bersamaku dan daddy?" rupanya gadis kecil itu belum tertidur.
Sungmin sedikit menolehkan kepalanya. Ia menatap mata Jinri yang sudah setengah menutup. Ia berusaha tersenyum sambil terus mengelus punggung gadis kecil di pangkuannya. Namun, kebingungan jelas terpancar di manik coklatnya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia ucapkan kepada gadis kecil ini. Jinri masih sangat kecil untuk dapat memahami hubungan mereka bertiga. Ia pasti tidak akan memahami jika Sungmin mengatakan kalau dia memang bukan siapa-siapa bagi Kyuhyun dan tidak mungkin tinggal bersama dengan mereka. Gadis kecil itu pasti akan terus menuntutnya untuk tinggal bersama karena bagi Jinri, Sungmin adalah ibunya. Dan seorang ibu memang diharuskan untuk tinggal bersama dengan keluarganya, dalam hal ini Kyuhyun dan Jinri.
"Kenapa mommy?" tanyanya lagi. "Hyunwoo saja tinggal bersama dengan mommy dan daddy-nya. Kenapa aku tidak bisa tinggal bersama dengan mommy dan daddy-ku?"
Sungmin menghela nafas panjang. Ia menatap mata Jinri sambil tersenyum sedih. Ia mengerti perasaan gadis kecil ini. Kehilangan sosok ibu pada usia yang sangat kecil membuatnya begitu merindukan ibunya. Saat kini ia merasakan kehangatan dari sosok yang dianggapnya sebagai ibunya, Jinri pasti ingin merasakan apa yang dirasakan oleh anak lain. Gadis kecil itu juga pasti ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, makan bersama, bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama.
Ia pasti ingin merasakan apa yang belum pernah ia rasakan dahulu.
"Mommy?"
"Jinri tahu…" ucap Sungmin pelan, sebelah tangannya masih setia mengelus punggung kecil Jinri dengan lembut, "Ketika seorang ayah dan ibu memutuskan untuk tinggal bersama, keduanya harus saling mencintai. Kedua orang tua Hyunwoo tinggal bersama karena mereka saling mencintai. Ayah Hyunwoo mencintai ibu Hyunwoo dan begitu juga sebaliknya. Mereka berdua juga sangat mencintai Hyunwoo sehingga Hyunwoo tinggal bersama dengan kedua orang tuanya"
Jinri mengerutkan keningnya bingung. Ia kurang paham dengan apa yang dijelaskan Sungmin barusan tapi… Jinri mengerti satu hal. Cinta. Jika mereka saling mencintai, maka Jinri bisa tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Sama seperti Hyunwoo. "Apa mommy mencintai daddy?"
Sungmin tersenyum lembut dan memeluk tubuh Jinri erat, "Mommy sangat mencintai Jinri"
.
ooo
.
Sudah lebih dari satu bulan sejak pertemuan pertama Sungmin dengan Jinri dan Kyuhyun. Ketiganya selalu berusaha menghabiskan waktu bersama. Setelah Sungmin membicarakan mengenai permintaan Jinri kepada Kyuhyun, pria tampan itu semakin mengintenskan pertemuan ketiganya. Ia selalu mengajak Sungmin kemanapun ia dan Jinri pergi, walaupun itu hanya untuk makan es krim atau jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Kyuhyun ingin Jinri merasakan kehadiran sosok ibu di sampingnya. Ia ingin Jinri tahu bahwa walaupun mereka tidak tinggal bersama tapi Jinri masih bisa merasakan kasih sayang Sungmin. Kasih sayang seseorang yang ia anggap sebagai ibunya.
Selama satu bulan ini, sudah banyak tempat yang mereka kunjungi bersama. Terkadang, mereka akan pergi menonton pada hari libur atau bermain di taman setelah pulang sekolah. Jinri sangat senang sekali saat Kyuhyun mengajaknya piknik bersama dengan Sungmin. Ia tidak berhenti tersenyum pada hari itu. Salah satu impiannya akhirnya terkabul, kini ia juga bisa menceritakan pengalaman pikniknya kepada teman-temannya.
Kyuhyun dan Sungmin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyerah pada gadis manis itu saat Jinri meminta keduanya untuk membeli pakaian yang sama. Rupanya ia iri pada salah seorang temannya yang memperlihatkan foto dirinya bersama dengan kedua orang tuanya dengan menggunakan pakaian yang sama. Pada akhirnya, mereka bertiga membeli pakaian tidur yang sama dan Jinri bersikeras bahwa mereka harus memakainya saat mereka berlibur nanti. Yang lagi-lagi, hanya dijawab dengan kekehan dari kedua orang dewasa dihadapannya karena tingkahnya yang menurut mereka sangat, sangat lucu.
Hari ini seperti biasanya bagi Kyuhyun. Pekerjaan kantornya yang sangat menumpuk membuat dirinya tidak bisa menjemput Jinri dan membuat putri kecilnya itu pulang bersama Sungmin ke apartemennya. Selalu seperti itu. Setiap Kyuhyun terlambat menjemput Jinri, putri kecilnya selalu meminta Sungmin untuk menunggu ayahnya di apartemen pria manis itu. Mungkin Jinri tidak terlalu suka berlama-lama di sekolah yang kosong dan tidak ada teman bermain. Ia bisa menghabiskan waktunya dengan hal yang lebih menyenangkan jika menunggu di apartemen Sungmin, seperti menonton televisi bersama dengan Sungmin atau membantu pria manis itu untuk memasak makan malam. Sungguh jauh lebih menyenangkan daripada menunggu di sekolah.
From: Sungmin-ssi
Message: Hari ini Jinri terus saja menanyakan kapan kita akan pergi ke Lotte World. Aku sudah berusaha untuk memberi pengertian kalau kau harus bekerja tapi sepertinya hari ini Jinri lebih sensitif dari biasanya, dia terus saja merengek. Mungkin Jinri sedang PMS? Ah sudahlah, pokoknya kau harus bertanggung jawab Kyuhyun-ssi.
Kyuhyun terkekeh membaca pesan singkat dari Sungmin. Ia juga merasakan hal yang sama. Sejak mereka membeli pakaian tidur itu Jinri terus saja menanyakan kapan mereka akan berlibur ke Lotte World. Kyuhyun yakin, putri kecilnya itu pasti sudah tidak sabar untuk memakai pakaian tidur yang meeka beli. Bukan! Tidak mungkin mereka memakai pakaian tidur untuk bermain di Lotte World kan? Jinri pasti sangat ingin memakainya saat mereka menginap nanti. Ya… menginap. Salahkan pekerjaan Kyuhyun yang sangat menumpuk dan membuat rencana liburan mereka harus diundur beberapa kali. Hal itu berhasil membuat Jinri marah dan mendiamkan Kyuhyun seharian penuh! Didiamkan selama sejam saja Kyuhyun tidak sanggup apalagi seharian penuh. Kyuhyun bahkan merasa bahwa hidupnya sudah berakhir saat malaikat kecilnya itu sama sekali tidak berbicara padanya. Hingga akhirnya Kyuhyun memiliki sebuah ide yang cukup gila.
Menginap.
Bersama dengan Sungmin.
Tapi efeknya sangat ampuh untuk membuat Jinri kembali berbicara padanya. Gadis kecil itu sangat antusias saat Kyuhyun mengungkapkan idenya.
To: Sungmin-ssi
Message: Tidak mungkin dia sedang PMS, Sungmin-ssi. Jinri masih sangat kecil. Mungkin kau yang sedang PMS? ㅋㅋㅋKau tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku kan pria yang paling bertanggung jawab di dunia ini.
SEND
Kyuhyun kembali membaca dokumen-dokumen yang ada di mejanya sambil terkekeh. Ia bisa membayangkan wajah Sungmin yang memerah karena marah. Pria manis itu pasti sedang mengerucutkan bibirnya sekarang. Mungkin juga sambil menghentakkan kaki-nya seperti anak kecil. Aah… tidak. Sungmin pasti tidak ingin Jinri melihat dirinya yang ternyata masih sangat kekanakkan. Yang pasti, pria manis itu pasti sedang membalas pesan yang ia kirim dengan penuh rasa kesal.
DING
From: Sungmin-ssi
Message: Aku ini lelaki Kyuhyun-ssi! Le-la-ki! Mana mungkin aku PMS huh? Kau sangat menyebalkan! Aku tidak mau lagi berbicara denganmu!
Kyuhyun tertawa lepas saat dugaannya tepat 100%. Pria manis itu pasti sedang merasa kesal padanya sekarang. Ia mengetikkan beberapa kata kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
To: Sungmin-ssi
Message: Iya, maafkan aku. Kau memang pria, Sungmin-ssi. Tapi, jika kau terus merasa kesal seperti sekarang dan tidak mau berbicara denganku berarti kau memang sedang PMS ㅋㅋㅋ
DING
From: Sungmin-ssi
Message: A-Aku… Argh! Kyuhyun-ssi benar-benar menyebalkan! Aku sudah membalas pesanmu jadi berhenti mengatai kalau aku sedang PMS!
Kyuhyun sepertinya sangat asik dengan ponselnya. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran seorang pria yang kini duduk di depan mejanya. Pria itu mengerutkan keningnya saat Kyuhyun membalas pesan Sungmin sambil terus tertawa. Benar-benar, jika Heechul tidak mengenal Kyuhyun mungkin sekarang ia sudah menelepon salah satu rumah sakit jiwa dan menanyakan apakah pasien mereka kabur dari rumah sakit. Kyuhyun yang berada di hadapannya membuatnya ngeri, ia tertawa cukup keras sambil menatap ponselnya.
Seperti orang gila saja.
"Apa yang kau lakukan?" ucapnya pelan.
Namun, ucapannya tadi memberikan efek yang cukup besar untuk Kyuhyun. Pria itu hampir saja terjengkang dari tempat duduknya karena kaget. Ia menatap Heechul sambil memegang dadanya, "Hyung! Sejak kapan kau berada disitu!" serunya kaget.
"Cukup lama untuk melihatmu tertawa seperti orang gila" jawab Heechul santai, "Memangnya ponselmu itu sangat lucu sampai-sampai membuatmu tertawa seperti tadi. Atau… kau pasti sedang menonton yang aneh-aneh" lanjutnya sambil berusaha untuk merebut ponsel hitam itu dari tangan sang pemilik.
"Yah! Yah! Apa yang kau lakukan hyung!" seru Kyuhyun, menjauhkan ponselnya dari tangan hyung-nya. Dengan cepat ia memasukkan ponsel hitam itu ke dalam sakunya kemudian menatap tajam pria yang lebih tua 4 tahun darinya, "Apanya yang menonton aneh-aneh! Kau saja yang suka menonton film yang seperti itu" Heechul hanya menaikkan sebelah alisnya dan menatap mata Kyuhyun seolah menanyakan kenapa ia tertawa keras seperti tadi, "Aku hanya sedang membaca pesan"
Membaca pesan? Tidak mungkin. Dia kira Heechul ini orang yang sangat bodoh dan akan mempercayai alasan konyolnya itu? Sepertinya Heechul benar-benar harus membuat janji dengan seorang dokter kejiwaan! Adiknya itu tertawa seperti orang gila tadi dan ia bilang hanya karena sebuah pesan? Cih! Alasan yang sangat, sangat tidak masuk di akal!
"Aku serius, hyung! I swear!"
Kali ini Heechul mengerutkan keningnya. Ia bingung dengan perubahan sikap Kyuhyun sekarang. Heechul akui, adiknya ini menjadi lebih terbuka dan sering tersenyum akhir-akhir ini. Tidak jarang ia juga melihat Kyuhyun meninggalkan kantornya lebih cepat dari biasanya. Rasa penasaran menyelimuti dirinya, siapakah orang yang berada di balik perubahan sikap Kyuhyun sekarang? Apa orang itu sama dengan orang yang membuatnya tertawa seperti orang gila barusan?
"Siapa?"
"Huh?"
Heechul mengehela nafas panjang saat melihat Kyuhyun kini tengah sibuk dengan ponsel yang entah kapan ia keluarkan dari sakunya. "Si pengirim pesan" jawabnya sedikit sebal.
"Aah…" ujar Kyuhyun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dia guru pendamping Jinri" jawabnya sebelum kembali mengetik pesan di ponselnya.
'Guru pendamping Jinri?' Tanya Heechul dalam benaknya. Tunggu! Bukankah beberapa minggu lalu Kyuhyun bilang kalau Yoona sedang cuti dan seorang guru baru menggantikannya hingga Yoona kembali? Apa ia guru pendamping yang sama dengan yang waktu itu Kyuhyun sebut saat mereka meninggalkan Jinri hingga malam hari?
Tunggu, tunggu!
Heechul memperhatikan Kyuhyun yang kini terkekeh sambil menatap ponsel hitamnya, mungkin ia sedang membaca pesan dari guru pendamping itu. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Heechul yang jelas-jelas duduk di hadapannya.
Tunggu sebentar, sepertinya Heechul pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Heechul mengulum senyumnya saat kenangannya dahulu berputar dengan sangat rapi di benaknya. Kenangan tentang Kyuhyun saat ia baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya. Apakah mungkin…? Heechul terus tersenyum sambil memperhatikan Kyuhyun yang sama sekali tidak menghiraukannya. Heechul bahkan melambai-lambaikan tangannya di depan pria itu namun tetap saja, Kyuhyun masih sibuk dengan sang guru pendamping.
Ya.
Sama persis.
"Melihat perilakumu sekarang, aku seperti melihat Kyuhyun semasa SMA" ujarnya cukup keras. Senyumnya bertambah lebar saat Kyuhyun menatapnya bingung, "Perilakumu. Sekarang. Sama seperti saat kau masih SMA" lanjutnya, "Tepatnya saat kau mulai jatuh cinta pada Sunkyu" ucapnya sambil tersenyum sangat lebar.
"Maksudmu?"
"Aish! Kau itu bodoh atau apa?!" seru Heechul frustrasi. "Kau, Cho Kyuhyun, kau sedang jatuh cinta pada guru pendamping itu"
Mata Kyuhyun sedikit melebar saat mendengar ucapan Heechul. Seketika wajahnya yang tadi dipenuhi oleh senyuman berubah menjadi sangat dingin. Ia menggenggam ponselnya dengan sangat erat dan menatap tajam pria dihadapannya, "Jangan gila! Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri!" bentaknya. "Hanya ada satu orang yang kucintai dalam hidupku dan orang itu adalah Sunkyu!"
Heechul, yang memang pada dasarnya mudah terpancing amarah, balas menatap Kyuhyun tajam, "Kau yang sudah gila Cho Kyuhyun! Berhenti berpegangan pada cintamu yang bodoh itu!"
BRAK
Kyuhyun memukul keras meja kerjanya, "Cintaku untuk Sunkyu tidak bodoh, Kim Heechul!" bentaknya dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
"Kau…" geram Heechul. Ia berusaha mengontrol amarahnya dengan sangat keras. Tidak ada gunanya jika mereka terus bertengkar mengenai hal ini. Pria bodoh di hadapannya ini akan tetap membentengi dirinya dengan cinta semunya untuk Sunkyu. Cinta yang sebenarnya sudah tidak bisa Heechul lihat dengan sangat jelas di mata Kyuhyun.
"Kau pria yang sangat bodoh, Cho Kyuhyun. Kau terus saja mengharapkan Sunkyu yang jelas-jelas sudah tidak ada dan membentengi dirimu dengan hal yang kau bilang sebagai cinta?" ucapnya datar, "Cinta tidak akan membuat seseorang menjadi sengsara sepertimu. Cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaannya seperti apa yang kau lakukan pada putrimu. Cinta akan menghapus semua kekhawatiran pada semua orang yang menyaksikannya, tapi kau… kau tidak pernah berhenti membuat orang tuamu mengkhawatirkanmu. Dan kau bilang kalau yang kau rasakan untuk Sunkyu sekarang ini adalah cinta?" Heechul tertawa sinis pada pria yang kini mematung di hadapannya, "Sunkyu akan menangis dalam kuburnya jika ia mendengar itu. Pikirkan itu baik-baik, Cho Kyuhyun"
BLAM
Seluruh tubuh Kyuhyun mendadak lemas. Ia terduduk di kursinya dengan wajah menengadah, menatap langit-langit kantornya yang entah mengapa terlihat begitu kabur. Ia menutup kedua matanya dengan sebelah lengannya saat merasakan air mata meluncur bebas dari kedua matanya. "Jika ini bukan cinta, lalu apa yang sekarang aku rasakan untukmu, Sunkyu-ah?"
.
TBC
Sneak Peek:
"Ayolah daddy~ Kami mohon~~"
"Foto box?"
.
"Baiklah. Satu kamar saja"
.
"Kita tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang"
.
"Aku hanya mencintaimu, Sunkyu-ah"
.
"Astaga! Jinri!"
"Semoga kau baik-baik saja, Jinri-ah"
Author Q&A:
Q: Momen Kyumin yang manisnya kapan?
A: Eeuu... tergantung kadar manisnya kayak gimana hehehehe di chapter ini udah manis belom?
Q: Dikirain kabur.
A: Nggak kok~~ ga kabur hehehe cuma banyak yang harus dikerjain jadi update-nya lama kekeke semoga readers-nya juga ga pada kabur yaaa. Amin.
Q: Author Q&A jangan diilangin.
A: Tadinya sih sempet mau disatuin aja sama author note soalnya takut kepanjangan hehehe sekalian aja, mendingan author Q&A-nya tetep diadain atau ngga? ditunggu jawabannya yaaaa.
Q: Boleh request orang ketiganya jangan SNSD?
A: *sigh* sayangnya emang anak SNSD :) tentang siapanya boleh liat di full cast BMMS di link [fumiyo92 dot livejournal dot com slash 32682 dot html]
Q: Author kuliah jurusan apa?
A: Psikologi ^^
Q: Suka sama ceritanya.
A: Terima kasih~~~ *megangin idung yang mau lepas*
Q: Kyumin bakal bersama kan?
A: Tentunyaaaa!
Q: Jinri pinter ga gangguin Kyumin.
JR: Jinri kan emang anak pinter!
KH: Siapa dulu dong daddy-nya, Cho Kyuhyun muahahahahaha.
A: *cengo*
Q: Bikin fanfic lebih seru dan romantis dong!
A: ?
Q: Kyumin kapan saling cinta?
A: Hmmmmmmmm... *lirik Kyumin*
Q: Kapan Kyumin pacaran?
A: Hmmmmmmmmm... *lirik Kyumin lagi*
Q: Ga enak pake -ssi.
A: Mungkin mereka belum merasa dekat?
Q: Bogoshipeo
A: Nado bogoshipeo~~~
Q: Kapan Kyumin kiss-nya?
A: Hmmmmmmmmmmmm... *lirik Kyumin untuk kesekian kalinya*
KH: Tunggu saja tanggal mainnya.
SM: *blush hard*
Q: Kyuhyun kayanya udah mulai jatuh cinta sama Sungmin.
A: Sepertinya. Kyuhyun-nya aja yang terlalu bodoh.
KH: Hey! Kamu yang bikin aku jadi kaya gini! *nunju-nunjuk author*
Q: Ming jadi kaya anak kecil waktu digoda Kyu.
A: Sungmin emang anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa kekekeke
Q: Joyer itu apa?
A: Panggilan buat fans Kyumin, diambil dari marga Kyuhyun sama Sungmin, 조 sama 이, kalo disatuin kan jadi 조이 (JOY), di Korea-nya kan Kyumin sering dipanggil Joy couple, soalnya udah ada Kyumin couple yang dari SS501(?). Mungkin yang lebih sering di denger itu KMS (Kyumin Shipper), tapi masih sama-sama fans-nya Kyumin kok hehehe. Iya gapapa, dimaklumin kok ^^
Q: Kangen momen Ming/Jinri.
A: Nih udah adaaaaa, Kyu/Jinri juga adaaaaa
Q: Izin baca, maaf baru review.
A: Boleh banget ^^ ditunggu lagi review-nya yaaaa *puppy eyes*
Q: Semangat buat skripsinya.
A: Semangat! Fighting! Jia you!
Author Note:
Akhirnya! Akhirnya~~~~ setelah sekian lama, uri oppadeul comeback juga! *joget-joget heboh*
Siapa yang ngakak waktu nonton MV Mamacita pas waktu pertama kali nonton? *Ngacung!*
Hahahahhaha lucu-lucu banget para oppa(ajjushi) itu~~~ the funniest MV ever! kekkeekeke dan Kyumin moment pemirsaaaaaaaa! Kyu grepe-grepe saku(dada)nya Ming sukses bikin diriku senyum-senyum sendiri~~~ got ya, Cho Kyuhyun!
dan OTP baru yang mengalahkan semua OTP yang ada di Suju! KangMelon! kekekeke the most tragic love story ever! Apalagi setelah tau kalo yang ngebunuh(?) semangkanya itu Leeteuk kekekeke sepertinya uri leader cemburu sama semangkanya hahaha triangle love teukxkangxmelon so hilariuos hehehe
Aaaahhh pokonya MV-nya keren banget! cuma aku gabisa liat mata-nya Ming gara-gara wig-nya itu huhuhu
Pokoknya kalo ngomongin MV Mamacita pasti panjang banget hehehehe
Back to the story!
Buat yang minta lanjut, ini udah dilanjut~~~ panjang lagi kekekeke
Boleh minta review-nya? hahaha *digeplak readers*
Buat next chapter-nya, seperti kemaren-kemaren aku gabisa janjiin updat cepet, maaf yaaaa tapi bakal diusahain kok ^^ semoga readers-nya ga pada kabur gara-gara aku yang lama update :) kalo kalian kabur, aku bayar cast-nya pake apa dong~~?
cast: dusta! kami ga digaji! *demo*
well, makasih banyak buat semangat dan review-nya di chapter kemaren. Yang fav sama follow juga makasih~~~ *bow* berharga banget buat aku ^^
jangan lupa ninggalin jejak di chapter ini juga yaaa
yang kemaren-kemaren belom masih banyak ruang buat kalian~~~ yang mau nanya juga boleh~~~
Sampai jumpa di chapter depan~~~
Special Thanks:
yolanda anggita2, Guest1, PRISNA SPARKYU, danactebh, Chominhyun, diahmiftachulningtyas, Guest2, Cho Adah Joyers, LiveLoveKyumin, kiran theacyankEsa, Guest3, Cho MeiHwa, sitara1083, Anik0405, Neng, GuestKyuMin, Bunnyming1186, abilhikmah, chu, IrohChan Kiwerr-kiwerr, adhe kyumin 137, GOT7mark93, 5351, fitriKyuMin, min, BangMinKi, Pumkinsjoy, Guest4, TiffyTiffanyLee, allea1186, ChoLee, Adekyumin joyer, LauraRose14, tresnaKyu, Okalee, gyumin4ever, ayyu annisa 1, Love Kyumin 137, Chikyumin, miss leeanna, ChuteKyuMin, kaihunhan, myFridayyy, dan zagiya joyer.
