Naruto milik Masashi Kishimoto.
Chapter 9
"Mufufufu ..." Seorang gadis kecil berumur enam tahun dengan dua cepol ala orang Cina di masing-masing sisi kepalanya bergidik ngeri mendengar tawa teman sepermainannya. "Mufufufu ..."
"Lee, kau tidak sedang kerasukan setan hijau bercelana senam yang kita temui kemarin kan?" tanya gadis kecil bernama Tenten tersebut. Neji, seorang lagi temannya, mengangguk setuju atas pertanyaan Tenten.
"MUFUFUFU ... MWAHAHAHA!" Hinata, saudara sepupu Neji, bersembunyi ketakutan di balik punggung kakaknya saat mendengar tawa Lee semakin keras. "Hey, Lee! Kau menakuti Hinata-sama," tegur Neji.
Lee berbalik dan menatap mereka tajam. "Jangan pernah sebut Guy-sensei dengan sebutan itu, Tenten. Dia adalah sosok idola terbaik se-Konoha. Dan berkat dirinya aku bisa menemukan keberanian tersembunyi dalam diriku. Sudah saatnya orang-orang menyadariku sebagai ninja terhebat di Konoha! Oh, dan maaf sudah menakutimu, Hinata-san." Hinata hanya mengangguk diam dan bersembunyi sekali lagi di belakang Neji.
"Masuk akademi saja belum, udah ngaku-ngaku jadi ninja." Neji menggeleng-gelengkan kepala sambil melipat kedua tangannya. Sekarang Lee mengalihkan pandangannya pada Neji. Ia memegang kedua bahu pria kecil berambut bak iklan shampo itu.
"Kau benar, Neji. Tapi perjalanan ninja kita dimulai hari ini, saat ini, dan detik ini juga," ungkap Lee dengan mantap menampilkan gigi super putihnya. Neji hanya menghela nafas. "Kau hanya meng-copy ucapan jounin gila dengan rambut batok kelapa parut itu kemarin kan?"
"Kau benar sekali lagi, Neji! Guy-sensei memang pantas dipuja!" Lee memberikan pose nice guy ke arah Neji yang hanya berkedut kesal. "Aku tidak bilang begitu. Tapi ... ah, sudahlah!" gumam Neji menyerah.
Sejak bertemu dengan jounin serba hijau bernama Guy yang meninggalkan kesan terdalam pada mereka bertiga – dengan cara mereka sendiri tentu saja – Lee langsung menjadikan jounin itu sebagai idola. Bayangkan saja pria berumur enam tahun itu langsung merubah model rambutnya seketika semenit setelah pertemuannya dengan Guy, dari yang berantakan menjadi ala jounin hijau tersebut dan poni super rata yang tak terlewatkan.
"Sudah kuduga, ia menjadi kloning jounin itu sekarang." Tenten menggeleng-gelengkan kepala. Namun, Lee tampak tidak memperhatikan. Pikiran dan pandangannya teralihkan seketika saat melihat sesuatu atau seseorang di taman dekat mereka berempat berdiri.
"Neji, ini saatnya perjalanan ninjaku dimulai. Orang yang tidak mampu menghampiri gadis pujaannya tidak akan bisa menjadi ninja sejati!" Neji, Tenten dan Hinata hanya menurunkan rahang kecil mereka sambil melihat Lee yang mengepalkan tangan dengan mata berapi-api. Tanpa mereka sadari, pria kecil berponi itu sudah melesat cepat menuju taman yang dimaksud. Mau tidak mau mereka mengikutinya.
"Sakura-saaaan!" Balita kecil berambut pink yang dimaksud menoleh dan melihat makhluk aneh datang ke arahnya dengan cepat. Wajahnya ketakutan saat makhluk itu tiba tepat di depan wajahnya. "Maukah kau berkencan denganku? Chuups!" Lee mengirimkan kecupan penuh cinta dengan tanda hati yang beterbangan ke arah Sakura. Neji dan Tenten mematung melihat kelakuan teman mereka, sedangkan Hinata berdiri dengan wajah penuh kekaguman pada Lee.
"KYAAA!" Saking kagetnya, Sakura berteriak dan berusaha menghindar dari tanda hati tersebut. Suaranya mengundang perhatian balita lain di sebelahnya. "Sakura-chan, kenapa teriak?" tanya Naruto yang langsung datang menghampiri. Balita pirang itu kemudian melihat ke arah makhluk aneh di depan Sakura.
"A-ALIEN!" teriak Naruto dan Sakura sambil mengacungkan telunjuk mereka ke arah pemuda kecil tersebut. Mata Lee langsung berkaca-kaca mendengar Sakura tidak mengenalinya. "Sakura-san, ini aku Lee. Rock Lee. Masa tidak kenal sih?"
"L-lee-san? A-ada apa dengan penampilanmu?" tanya Sakura ragu.
"Bagus kan!" Sekali lagi Lee menebarkan pose nice guy miliknya, kali ini ke arah Sakura. Tapi pose itu tidak bertahan lama saat melihat wajah Naruto yang hanya berjarak 5 cm dari wajahnya berusaha mengamati. "Hm, alismu tebal sekali ... Um, kayak apa ya namanya? Hm ..." Naruto menaruh tangan kecilnya di dagu sambil berusaha berpikir benda apa yang mirip alis tebal itu.
"Kayak ulat bulu." Masuklah balita baru bernama Sasuke yang langsung menunjukkan ulat bulu temuannya di bawah pohon ke sebelah alis Lee. "HWAAAAA!" Semua orang langsung bergeser menjauh, kaget melihat ulat bulu itu menggeliat-geliat di tangan Sasuke.
"Woy, Sasu-teme! Dateng-dateng jangan bawa begituan dong! Mana ulatnya gede banget lagi! Bikin gatal tahu nggak sih!" Naruto mencaci maki Sasuke kecil yang masih terlihat tanpa dosa tersebut. Ternyata bukannya menolong saat mendengar teriakan Sakura, ia malah asyik mencari ulat bulu. Tepatnya Sasuke tidak mendengar teriakan Sakura karena terlalu fokus dengan temuannya yang menggeliat aneh di balik daun.
"Masa sih ulatnya bikin gatal? Tapi kan lucu!" Sekali lagi Sasuke menyodorkan ulatnya tepat di wajah Naruto. Dengan refleks balita pirang itu langsung menangkis tangan Sasuke dan ulat temuan sang Uchiha langsung melayang pergi entah kemana. "Jangan tunjukin tepat di muka Naru dong! Kau sengaja kan?!"
Sasuke yang melihat temuannya pergi langsung cemberut tidak suka. Ia memandang marah ke arah Naruto. "Ih, Sasu kan nangkapnya susah. Naru nakal sama Sasu! Sekarang jadi hilang kan ulatnya!" Wajah Sasuke memerah dan menggembung kesal.
"Peduli amat. Dasar Uchiha bego!" BLETAK! Kepala Naruto langsung dipukul oleh Sakura yang langsung memeluk lengan Sasuke sambil memandang bocah pirang itu tajam. "Naru dilarang keras nakalin Sasuke-kun! Kan Sasuke-kun udah susah payah nyari ulatnya. Naru nggak boleh gitu aja ngilangin barang temuan Sasuke-kun dong!"
"Huwaaa ... Sakura-chan kok malah belain Sasu sih! Tuh Uchiha nggak ngerti apa-apa. Ntar kalau pada gatal-gatal siapa juga yang susah?! Nih bocah satu nggak akan mungkin di salahin sama orang-orang!" tunjuk Naruto dengan wajah memelas. Semua adegan itu tidak terlewatkan sedikitpun oleh keempat manusia yang menatap mereka. Apalagi Lee yang langsung merasa terkalahkan saat Sakura, gadis pujaannya, memeluk lengan balita berambut pantat ayam yang masih terlihat kesal tersebut.
"Paling yang disalahin juga Naru," ejek Sasuke.
"ITU YANG GUWEH MAKSUD!" raung Naruto. Si bocah kyuubi tidak melewatkan senyum nakal Sasuke ke arahnya. Dasar Uchiha, ingin rasanya ia merobek wajah sok imut itu. Mungkin menurut orang-orang ia seperti malaikat, tapi Sasuke itu hanyalah monster di balik wajahnya yang sering menjadi masalah bagi Naruto. Dua kata yang saat ini sudah menyebar di seluruh pelosok Konoha apabila bertemu si kecil Uchiha, hati-hati! – kalau tidak ingin jadi sasaran empuk mata miliknya.
"Dia itu Uchiha? Aku kok nggak pernah lihat ya?" tanya Neji.
"Kau latihan melulu sih di rumah. Obsesi amat jadi ninja. Di Konoha siapa sih yang nggak kenal Sasuke? Dia itu idaman semua orang. Ya kan Hinata?" ujar Tenten dengan wajah berseri-seri. Ia merupakan salah satu gadis kecil yang ada di gerombolan yang memberi bunga kepada Sasuke. Telinga Lee langsung bergerak-gerak mendengarkan.
"I-iya." Hinata menjawab lirih. Ia ingin sekali pulang dan menghindari keributan antara Uzumaki, Uchiha, dan Haruno di depannya. Tapi mau bagaimana lagi kalau ia tidak berani pulang jika Neji tidak bersamanya.
"Kalian semua hentikan!" Mereka yang ada di situ melihat ke arah Rock Lee, dengan satu tangan menjulur ke depan mengisyaratkan tanda stop dan tangan lainnya di belakang. Apa aku sudah terlihat keren, Guy-sensei? batin Lee. Tapi pikirannya langsung pecah lagi saat melihat tangan Sakura masih memegang Sasuke. Namun, ia berusaha mengabaikannya dan menatap gadis kecil serba pink itu.
"Sakura-san, bagaimana jawabanmu?" tanya Lee. Sakura mengedipkan matanya beberapa kali melihat Lee. "Eh ... um, jawaban apa ya?" tanya Sakura bingung.
KRAK! Suara hati Lee yang terbelah dua. Ternyata selama ini Sakura tidak mendengarkan pernyataannya. Ataukah semudah itu Sakura melupakan pernyataannya? Pasti karena Sasuke.
Yosh, tidak ada kata menyerah dalam kamusnya. Semangat masa muda, semangat calon ninja! Lee harus menyatakannya sekali lagi dan kali ini ia akan merebut Sakura tepat di hadapan Sasuke Uchiha.
"Sakura-san, maukah kau menjadi pacarku?!" ujar Lee lantang. WUSS! Angin semilir sepoi-sepoi melewati ketujuh bayi-bayi Konoha tersebut.
Heh, pertanyaannya beda sama yang tadi, pikir Neji dan Tenten yang telah mematung dengan rahang terbuka serta Hinata yang memandang kagum keberanian Lee sekali lagi. Sasuke menatap Lee datar dan polos sambil mengerjap-ngerjapkan mata tanpa tahu – atau tidak mau tahu – apa maksudnya. Wajah Sakura memerah. Dan Naruto ... hm, pasti sudah tahu apa reaksinya kan?
"Oi, alis tebal. Jangan mentang-mentang lebih tua terus berani menyatakan cinta pada Sakura-chan secara terang-terangan ya?" geram Naruto yang langsung cemburu. "LANGKAHI DULU MAYAT NARU!" Sekarang giliran Sasuke dan Sakura yang rahangnya jatuh.
"Eh, jangan-jangan Naruto-kun pacar Sakura-san ya?" tanya Lee terkejut dan sedikit khawatir.
"ANDA BENAR!" ungkap Naruto lantang dan bangga dengan pose super kerennya (berdiri tegap sambil menepuk dadanya).
"JANGAN BICARA SEMBARANGAN, NARUTO!" Dan pose super kerennya runtuh seketika oleh tinju mematikan balita bernama Sakura Haruno. Naruto langsung melayang menuju Lee yang berhasil bergeser cepat, melewati Tenten yang memiringkan kepalanya ke samping tidak ingin tahu, ke arah Neji yang menunduk memberi jalan, dan sampai ke Hinata yang dengan senang hati menangkapnya (baca:nggak bisa menghindar). "H-HINATA-SAMA!" pekik Neji. Dan Naruto serta Hinata terbaring tak sadarkan diri.
"Uhm ..." Lee berdeham berusaha kembali ke topik. "Jadi, karena Naruto-kun bukan pacar Sakura-san berarti aku bisa menjadi pac –"
"TIDAK!" Sakura langsung memotong kata-kata Lee. Menyadari sikapnya, gadis kecil itu langsung memerah karena malu. "Um ... m-maaf Lee-san tapi kau bukan tipeku. Kalau pacar sih, aku maunya ... um ... maunya ..." Lee melihat wajah Sakura semakin memerah saat memandang Sasuke. Tapi sayangnya sang Uchiha tidak sadar karena masih terpana melihat tubuh tak berdaya Naruto dan Hinata. Ia mengelus-elus kedua pipinya tidak bisa membayangkan jika Sakura memukulnya seperti itu. Dan Sasuke baru tahu kalau Sakura cukup mengerikan. "Pasti sakit ..." gumam Sasuke yang ikut merinding.
"Maaf, Lee-san. Tapi aku sudah memilih ... um ... S-S-Sasuke-kun!" ungkap Sakura jujur.
"NEJIIIIIIII, AKU DITOLAK!" Lee berlari cepat dan menggeret Neji yang sedang berusaha menarik Hinata dari bawah badan Naruto namun menjatuhkan tubuh saudaranya lagi ke tanah karena kaget.
"Kenapa nangisnya sama aku sih?" ungkap Neji setengah murka. Tenten langsung menyusul Lee dan Neji di sudut terjauh taman Konoha. "HUWAAAAAA!" Lee menangis tersedu-sedu dan membanjiri pundak Neji dengan air mata dan ingusnya. "Iiiiih, jijik tahu nggak sih, Lee! Masa hanya karena ditolak langsung nangis begini. Dasar cengeng!" Neji berusaha menjauhkan si poni rata tersebut dari dirinya hingga Tenten datang dan menepuk punggung Lee.
"Neji benar, Lee. Masa langsung nangis dan nyerah sih. Ingat kata Guy-sensei, orang yang gampang menyerah tidak layak jadi ninja!" Perkataan Tenten langsung menghentikan tangis Lee yang seketika itu juga mengingat wajah Guy dengan pose khasnya bagai mentari indah di pagi hari.
"Kenapa kau tidak tantang saja Uchiha itu? Pujaan banyak orang belum tentu bisa segalanya, kan?" Neji ikut menyemangati. Saat itu juga Lee tahu apa yang harus dilakukan. "Neji, Tenten, kalian memang yang terbaik!" Dan sang alis tebal berlari kembali ke tempat di mana gadis pujaan dan rivalnya berada.
Sasuke menusuk-nusukkan batang pohon kecil yang ditemukannya ke arah Naruto yang anehnya belum sadarkan diri juga. Padahal Hinata sudah berdiri di sebelah Sakura sekarang. "Naru, jangan bobok di sini. Nanti masuk angin loh. Ntar bisa sakit kayak Sasu kemarin." Sayang, nampaknya suara Sasuke tidak bisa didengar oleh bocah kyuubi tersebut.
"Lee-san!" Hinata menatap senang melihat si alis tebal kembali karena di belakangnya juga ada kakak sepupunya. Ternyata mereka tidak meninggalkannya. "Eh, dia balik lagi?" gerutu Sakura. Tapi Lee tidak berlari ke arahnya melainkan ke arah Sasuke yang masih berjongkok dan asyik menusuk-nusuk Naruto.
"Sasuke Uchiha! Perkenalkan. Rock Lee, enam tahun. Kutantang kau lari lima puluh kali taman Konoha. Siapa yang menang jadi pacar Sakura-chan!" teriak Lee yang mengundang perhatian banyak orang di taman. WUSS! Sekali lagi angin sepoi-sepoi mengisi keheningan panjang antara bayi-bayi Konoha tersebut.
Nantang sih nantang, tapi ya nggak lima puluh kali juga, Lee! pikir Neji dan Tenten yang untuk kesekian kalinya mematung, takjub akan keunikan temannya itu. Hinata memandangnya kagum sekali lagi. Sakura berkedut kesal mendengarnya. Berani sekali Lee-san menantang Sasuke-kun, shannaroo!
"NARU NGGAK AKAN KALAH!" Semuanya terkejut saat Naruto tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Ia memberikan cengiran lebar khas miliknya kepada Lee yang tampak kaget sekaligus takjub. "Ayo tunjukkan siapa yang pantas jadi pacar Sakura-chan, eh alis tebal?"
"Hmph, kau benar Naruto-kun!" Lee memberikan pose nice guy ke arahnya.
"Kenapa kalian malah memutuskan seenaknya sendiri!" protes Sakura. Hinata bergeming takut mendengar suara Sakura di sebelahnya. Namun keduanya tidak mendengarkan.
"Yosh, Sasuke-teme! Naruto Uzumaki menantangmu lari keliling taman enam puluh kali. Siapa menang, jadi pacar Sakura-chan!" teriak Naruto dengan suara cemprengnya. Sasuke menatap Naruto dan Lee lama sekali tanpa ekspresi sedikitpun.
"Sasuke-kun jangan dengarkan mereka!" ucap Sakura.
"Enam puluh?" pekik Lee. "Kutantang kau lari tujuh puluh kali, Sasuke-kun!"
"Delapan puluh kali!" tantang Naruto. Ia dan Lee saling melempar pandangan sengit. "Kenapa nggak seratus kali sekalian?" usul Neji yang mulai bosan dengan pertengkaran ini. Baru sekali saja ia meninggalkan kediaman Hyuga, ia langsung menemukan dua anak gila bersatu dalam satu waktu dan tempat.
"YA, BENAR. SERATUS KALI!" jerit Naruto dan Lee di depan wajah Sasuke. Hening lama. Bahkan orang-orang yang ada di taman ikut memperhatikan bocah-bocah itu, terutama menunggu jawaban sang Uchiha yang hari ini tampak sedikit pendiam. Apakah ia akan menerima tantangannya? Sudah pasti. Seorang calon ninja apalagi yang berasal dari klan Uchiha tidak pernah mundur dari tantangan.
Oh, tapi betapa salahnya mereka karena Uchiha yang satu ini agak sedikit berbeda.
"Um ... Nggak ah. Sasu capek."
GUBRAK! Semua orang terjatuh mendengar jawabannya. Sakura hanya memandang pujaan hatinya dengan hampa. Ia berharap Sasuke mau menerima tantangannya. Kalau Sasuke menang bukankah ia akan menjadi pacarnya? Sayang, mimpi itu dihancurkan oleh pujaan hatinya sendiri.
"Sasukeee!" geram Naruto yang langsung menyambar kerah Sasuke. "Kau menunggu lama hanya untuk mengatakan kau tidak mau bertanding karena capek, hah?! Kau ini Uchiha bukan sih? Jangan bercanda woy! Sudah kuduga kau ini anak mama yang nggak bisa apa-apa!"
"N-Naruto-kun!" pekik Lee.
"Naruto, lepasin Sasuke-kun!" teriak Sakura berusaha melerai namun Sasuke sudah menepis tangan Naruto yang hanya menyeringai lebar melihat tatapan tidak biasa dari Sasuke. "Sasu bukan anak mama!" Oh, Sasuke sayang, betapa itu adalah kebohongan publik. Semua orang di sini tahu betapa sayangnya Mikoto kepada dirinya, bahkan mungkin lebih dari rasa sayangnya kepada sang suami (?).
"Sasu kan dari tadi diam nggak ngapa-ngapain. Kalau mau jadi pacar Sakura harusnya tanyanya sama Sakura. Kok jadi Sasu yang kena?!" ungkap Sasuke dengan polosnya. Naruto dan Lee menepuk jidat mereka secara bersamaan. Ternyata Sasuke tidak sadar kalau ia adalah rival terbesar mereka dalam cinta sang gadis pujaan. Sakura tidak tahu harus bersikap bagaimana. Neji, Tenten dan Hinata hanya memandang takjub akan kepolosan Sasuke.
"Lagian kalau mau adu lari yang agak masuk akal dong. Emangnya Naru sama Lee bisa lari seratus kali sekarang? Sasu aja dengernya udah capek. Kalau emang bisa berarti kalian menang, Sasu yang kalah. Jadi Naru sama Lee aja yang tentuin siapa pemenangnya di antara kalian tanpa Sasu." Neji dan Tenten mengangguk setuju dengan ceramah anak Uchiha tersebut. Sehebat apapun dirimu atau dari klan mana asalmu, anak umur lima dan enam tahun kalau disuruh untuk lari sebanyak itu pasti akan langsung skakmat di tempat. Kecuali mereka memang sudah terlatih layaknya ninja. Sayangnya saat ini mereka masih bocah ingusan biasa.
"Tapi kalau memang mau Sasu ikut, ya jangan sebanyak itu larinya ..." tambah Sasuke riang. Entah mengapa wajah semua orang langsung cerah kembali mendengar Sasuke akan ikut jika jumlah larinya dikurangi. Lagipula siapa sih yang nggak mau lihat si kecil itu mengalahkan Naruto dan Lee?
Shannaro! Sasuke-kun memang keren! pikir Sakura senang walaupun di luarnya ia tampak tenang dengan wajah memerah.
"Oukeeey, Sasuke-teme! Kami penuhi permintaanmu!" tunjuk Naruto penuh semangat.
"Katakan berapa pun yang kau inginkan, Sasuke-kun! Rock Lee siap mengalahkanmu!" kata Lee yang sama bersemangatnya dengan Naruto. Hening kembali. Mereka menunggu Sasuke yang berusaha berpikir, memutuskan berapa kali mereka harus berlari. Beberapa menit kemudian mereka melihat Sasuke menepuk tangannya dengan riang – sepertinya ia sudah selesai memutuskan – dan memberi mereka senyuman terbaiknya.
"Sasu udah mutusin." Sasuke mengangkat telunjuk kanannya tegak ke depan Lee dan Naruto yang menatapnya bingung. "Sekali aja cukup."
Krik ... krik ... krik ... GUBRAK! Mereka semua terjatuh lagi mendengar jawaban Sasuke.
"SASUKE! BERHENTI BERCANDA,BODOH!" Naruto meraung keras. "Sekali lagi kau berpikir lama hanya untuk bilang 'sekali aja cukup'!" Naruto mencemooh sambil menirukan suara Sasuke.
"Sasuke-kun, maafkan aku. Tapi aku harus bilang ini ... " Lee memejamkan matanya beberapa detik sebelum menatap Sasuke tajam. "Kau ini sedikit ... LEMOT!" Saat ini, jika kau berdiri tepat di hadapan Sasuke, maka kau akan melihat matanya perlahan mulai membesar dan sedikit berkaca-kaca dengan pipi chubby merah yang ikut menghiasi. Mungkin kata lemot adalah penghinaan terbesar bagi seorang anak kepala klan Uchiha. Dan seketika itu juga Naruto dan Lee merasa bersalah.
"Tch, baiklah. Naruto Uzumaki menerima tantangan lari sekali aja cukup keliling taman Konoha! Siap-siap untuk kalah, Sasuke!" Naruto menepuk dadanya penuh percaya diri.
"Benar, sekali aja cukup untuk menentukan siapa yang pantas bagi Sakura-chan. Dan Rock Lee siap mengalahkanmu, Sasuke-kun!" Lee mengangguk mantap dengan mata berapi-api. Wajah Sasuke kembali cerah mendengar keduanya menyetujui permintaannya itu. Mereka pun bersiap mengambil posisi dengan Neji yang memberi aba-aba.
"Bersedia ... siap ... yak!" Dan mereka mulai berlari mengelilingi taman Konoha yang akan menjadi saksi bisu siapa yang akan menjadi pacar Sakura-chan. Lee melesat cepat diikuti oleh Naruto.
"SASUKE-KUN!" "SASUKE!" "SASUKE-SAMA!" "SASU-CHAN!"
"Sasuke-kun sungguh populer, eh? Tapi aku tidak akan kalah." Lee melesat lebih cepat dan berusaha mengabaikan teriakan memuja Sasuke oleh para penonton. Naruto perlahan mendekati di belakangnya. "Tch, kenapa Sasuke, Sasuke, Sasuke terus sih. Naru-nya kapan dong?!" gerutu Naruto yang susah fokus mendengar teriakan para suporter.
Beberapa detik kemudian terlihat dua siluet yang saling merebutkan tempat pertama. Lee melewati garis finish, diikuti oleh Naruto. Lee bersorak riang, Naruto berkabung di pojokan. Namun adegan itu terhenti saat mereka melihat Sasuke sudah berdiri di garis finish sejak tadi, tidak tampak lelah dan tanpa keringat sedikitpun. Balita itu justru tersenyum senang dan berceloteh riang pada seseorang yang sangat mirip dengannya dan berada di depannya.
"S-SEJAK KAPAN?" Naruto menganga tidak percaya. Wajah riang Lee langsung padam. Ia tersungkur lemas di atas tanah. Pupus sudah harapannya untuk mengalahkan Sasuke. Jika begini, maka ... Lee tidak ingin memikirkannya.
"Tidak mungkin! Sakura-chan jadi milik Sasuke ... I-itu tidak mungkin! INI AKHIR DARI DUNIA!" Lee ikut menangis saat mendengar Naruto menjeritkan hal yang tidak ingin ia katakan. Ia berdiri dan menepuk pundak Naruto. "Naruto-kun, kita harus sportif. Yang namanya pertandingan pasti ada yang menang dan kalah." Dan mereka menangis saling merangkul satu sama lain.
"A-ano ... Naruto-kun, Lee-san." Mereka berdua menoleh pada Hinata yang menunduk malu sambil memainkan tangannya. "S-sebenarnya Sasuke-kun tidak ikut bertanding. Tadinya dia memang sudah ikut lari, tapi kakak yang di sana itu memanggilnya dan berkata, 'Sasuke jangan lari-lari!'" Hinata berusaha menirukan. "Kemudian, Sasuke-kun langsung membelok ke arah kakak itu," ungkap Hinata. Mata Lee dan Naruto membelalak seketika. Naruto dengan bodohnya baru sadar bahwa yang sedang bersama dengan Sasuke saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Itachi.
"J-jadi suara penonton yang meneriakkan nama Sasuke-kun tadi ... ?" tanya Lee ragu.
"Um, itu karena Sasuke-kun berlari ke arah lain ..." Hinata menjelaskan lagi. Naruto dan Lee bisa melihat orang-orang di sekitar mereka seperti membeku menyaksikan si kecil Uchiha itu tidak menyelesaikan pertandingan seperti harapan mereka. Dan ekspresi Sakura sungguh tidak bisa dibaca. Sasuke tidak ikut bertanding, itu berarti Lee yang menang.
"SASUKEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!" teriak Naruto dengan geram. Bocah yang dimaksud menoleh ke arahnya. "KAU KABUR DARI PERTANDINGAN, HAH?"
"Kakak bilang Sasu nggak boleh lari-lari jadi Sasu berhenti deh."
"SEGAMPANG ITU, HAH?" Naruto sungguh tidak percaya dengan bocah itu. "Habis kakak yang bilang. Kalau kakak yang nyuruh, Sasu nggak boleh ngelawan." Naruto ingin rasanya memukul anak itu jika saja Lee tidak membuat ulah.
"Sakura-san, ayo pergi berkencan. Akhirnya kita menjadi sepasang kekasih." Lee memberikan kecupan dengan tanda hati beterbangan kemana-mana sambil menggandeng tangan Sakura.
"TIDAK! Jangan memutuskan seenaknya!" teriak Sakura dengan horor. Ia sudah ingin menangis rasanya sambil berusaha menghindar dari hati-hati yang beterbangan tersebut.
"Benar, jangan memutuskan seenaknya, alis tebal. Langkahin dulu mayat Naru karena Naru yang akan jadi pacar Sakura-chan!" teriak Naruto yang langsung melepaskan Sakura dari genggaman Lee. Tapi kesabaran Sakura sudah habis.
"Kau juga jangan bicara seenaknya, Naruto!" Dan sekali lagi Naruto terhempas jauh oleh tinju Sakura, melewati Lee yang berhasil bergeser cepat, Tenten yang memiringkan kepalanya ke samping tidak ingin tahu, Neji yang menunduk memberi jalan, dan sampai ke Hinata yang dengan senang hati menangkapnya lagi. Sasuke hanya mengusap-usap pipinya sekali lagi saat melihat Sakura meninju Naruto. "Pasti sakit ..." gumamnya.
"G-gomenasai, Hinata!" Naruto berdiri dengan pipinya yang babak belur, tapi Hinata kembali tidak sadarkan diri. "Naruto, huh?" Malangnya nasib bocah kyuubi itu saat menyadari hawa membunuh di belakangnya.
"64 pukulan rotan sakti!" Neji mengacungkan potongan rotan yang ia temukan dan menghukum Naruto yang sekali lagi membuat Hinata pingsan. Lee tidak berhenti menangis di hadapan Tenten karena ditolak sekali lagi oleh Sakura yang hanya mendengus kesal.
.
.
.
.
"Kakak, beliin Sasu sama Sakura es krim ya ..." Itachi melihat adiknya datang menghampirinya yang sedang berbincang dengan Shisui yang baru datang. Shisui menyeringai lebar saat melihat Sasuke menggandeng Sakura yang hanya diam karena malu.
"HAHAHA, adik kecil ini lebih hebat dari kakaknya rupanya kalau urusan wanita." Shisui mencubit pipi gempal Sasuke yang merintih protes. Sakura berubah menjadi tomat sekarang. Itachi hanya tertawa kecil melihat mereka. Ia menyodorkan dua es krim ke arah mereka, sebelum Sasuke mengangkat satu telunjuknya lagi ke arah Itachi. "Kurang satu buat Naru ..." Dan semua berakhir bahagia sambil memakan es krim mereka.
"Dasar Uchiha licik, gandeng-gandeng tangan Sakura-chan sesuka hati," gerutu Naruto yang masih babak belur. Sasuke hanya tertawa lebar, diikuti Sakura yang menyelesaikan es krimnya cepat untuk kemudian menggandeng Naruto.
Lee memandang mereka dari kejauhan dengan mata penuh tekad. "Tunggu aku, Sakura-san. Aku pasti akan menjadi sekeren Sasuke-kun dan semenakjubkan Naruto-kun!" Dan untuk sementara waktu, pertandingan ini tidak ada pemenangnya. Tidak ada yang mendapatkan Sakura, entah sampai kapan.
.
.
TBC
.
AN : Hai, hai again ... Petitewinsy mempersembahkan chapter terbodoh, terheboh, dan rada alaynya untuk kalian. Terima kasih karena sudah membaca. Sebenarnya ini bukan Rock Lee vs Sasuke, tapi pertemuan team Guy yang lebay dengan team 7 yang heboh dan tambahan si pemalu Hinata. Hihihi semoga menghibur. Yuk di absen satu-satu dulu ya :D
Terima kasih kepada :
Natalie River : setuju. Hokage memang jahat T^T tapi kenapa semua mau jadi hokage yah kalau emang gitu? #mikir.
Fayiyong : Request boleh kok. Tapi author ini super lambats looh update-nya. Jadi ditampung dulu yah. Xixixi #author minta digampar
Maehime : Hihi obat anak-anak mana ada yang enak ya *menurut author yang benci obat*
El cikacu : setuju banget. Itachi itu sempurna. Tapi sayang ia sudah tiada T^T
Tsuzuka 'Aita : sengaja pengen bikin keluarga Uchiha yang konyol biar nggak kaku-kaku amat. Uchiha juga manusia! Hahaha.
Kyuakira28 : ih, author dibilang lelet T^T #nangisdipojokan. Tapi emang sih... hehehe #plak
UchiHarunoKid : Arigatouuuu :*
Cocoon : Sasu emang imuut XD hihihi arigato cocoon-san.
Tomatocherry : makasih udah dibilangin bagus ficnya. Hehehe. Author usahain lebih cepet lagi updatenya. Tapi sayang lagi banyak kerjaan nih :'(
SilfiDwi : aih terima kasih banyak #tersipumalu #plaks
Frilia269 : yups, memang nggak kebayang. Tapi author yakin fugaku jii-san pasti punya sisi kebapakan yang terkadang frustasi sama anak-anaknya ampe teriak gitu XD
Shin 41: arigatouuu :P
Mayurahime : Hihihi author juga bikinnya sambil senyum-senyum sendiri :D
Uchiha daht57 : yup, akhirnya update juga XD
Ayren caddi : ah senangnya bisa bikin kamu tersenyum. Author harap kamu uda sembuh dan baik-baik aja sekarang XD
Ruenni uzumaki, sasuke ganteng, Fuyuki Fujisaki, Natsuyakiko32, Aku, Rannada Youichi, Sakumori Haruna, pindanglicious, Little Wolf and Cherry Blossom, shironeko97 : hai, arigato! Maaf ga bisa bales satu-satu lagi, tangan author uda capek ngetik nih #tukangngeluh hehe. Yang jelas author seneng pada suka chapter kemarin. Semoga yang ini juga sama.
Yosh, sampai jumpa di chapter berikutnya. Tebak-tebakan yuk siapa korbannya? Yang udah pernah muncul atau belum ya? Hihihi.
See you soon and arigato gozaimasu,
-petitewinsy-
