Jalinan Takdir

Chapter 10

Naruto mengajak Hinata ke kamarnya dan membawanya ke balkon yang lumayan luas, dia bisa memandangi pepohonan yang menjulang tinggi diatas balkon itu, bahkan sebuah danau pun terlihat begitu indah di malam hari, "wow, indah sekali!" gumam Hinata. Naruto memeluk Hinata dari belakang, dan berbisik, "aku yakin kau menyukai ini, bisakah kau melukisnya untukku, pemandangan ini, tepat saat malam hari yang gelap, aku ingin tahu apakah kau pandai melukis hanya dengan satu warna!" Naruto menantangnya, "akan ku lakukan. Apa yang aku dapat jika aku menyelesaikan lukisan itu?" Hinata melepaskan pelukan Naruto dan menghadap ke arahnya.

"aku minta imbalan dari lukisan ini!"

"apapun itu, aku akan memberikannya!"

"kau janji padaku!"

"aku berjanji."

Kata-kata Hinata menyiratkan sesuatu yang terpendam yang Naruto tidak ketahui, apapun itu yang Hinata mau, Naruto akan memberikannya, walau sesuatu yang sulit pun dia akan memberikannya. Ada sedikit, tapi mungkin banyak kekhawatiran yang Hinata rasakan ketika dirinya tak bisa menahan rasa keingintahuan mengenai apakah Naruto mempunyai rasa yang sama yang dimiliki Hinata. Terlepas dari semua itu Hinata tidak tahu bagaimana caranya untuk bertanya, maka dari itu dia ingin meminta imbalan cinta dari Naruto untuk sebuah lukisan yang ia minta kali ini.

Keesokan harinya Hinata mendapati dirinya telah sendirian di kamar Naruto, pikiran negativ pun muncul. Ini adalah hari minggu dan tidak mungkin Naruto bekerja. Hinata melewati lorong itu dan menemukan bibi Shizune tengah berjalan kearahnya, "ya tuhan bibi kau membuat ku kaget!" ujar Hinata, "maaf kan aku, aku ingin membangunkan mu tapi kau sudah bangun, sepertinya!" Hinata tersenyum, namun terpaksa. Dia ingin tahu dimana Naruto, "dia..."

"tuan Naruto pergi ke kantornya hari ini."

"tapi ini hari minggu."

"dan seorang pemimpin tidak akan mungkin meninggalkan tugas pentingnya walau hanya satu hari pun!"

"jadi hari ini dia benar-benar sibuk?" tanya Hinata, Shizune mengangguk.

Kalau pun memang begitu, Hinata juga akan memulai sesuatu yang akan mengisi waktu luangnya. Dia pergi keluar untuk mencari sebuah koran, semua koran yang telah ia pakai untuk meluki adalah edisi tahun lalu, tapi kali ini dia mencari koran bukan unuk melukis, melainkan untuk mencari info lowongan kerja. Hinata tidak mau mengandalkan bayaran yang akan diberikan Naruto padanya sebagai pelukis, dia ingin menjadi mandiri dan tidak mau bergantung. Pagi itu jam 09:00 tepat Hinata memulai aksinya untuk melukis, lukisan yang kemarin yang belum ia selesaikan.

Hinata menyukai banyak warna, dan lukisanya kali ini dipenuhi warna, ia banyak menyukai pelukis terkenal seperti Van Gogh, Leonardo Da Vinci dan lain sebagainya. Tapi yang paling ia sukai adalah Van Gogh, karena lukisan Van Gogh mempunyai ciri khas yang Hinata suka yaitu memiliki banyak warna. Namun kali ini Naruto meminta Hinata untuk melukis nuansa malam yang dimana hanya akan ada satu warna yang mencolok yaitu Hitam. Hal yang paling tidak ia suka akan menjadi hal yang paling ia suka jika Naruto membayarnya sesuai dengan keinginannya.

Beberapa jam menjelang siang, duduk di depan lukisan yang sudah sepenuhnya jadi itu membuat Hinata menghembuskan napas lega. Baru beberapa hari dia tinggal di rumah Naruto, tapi rasanya tidak betah, apa mungkin karena Naruto tidak ada, itu pasuti yang membuatnya merasa kesepian. Samar-sama dia mendengar suara mobil, "Naruto." Gumam Hinata. Dia berlari dari tangga lalu menuju lorong dan berhenti di tengah ruangan, oh tuhan betapa rindunya Hinata ingin cepat-cepat bertemu Naruto. Hinata berdiri dengan tegap, mungkin karena dia gugup, lalu Naruto masuk dan melihat Hinata berdiri mematung, menatapnya.

Naruto tersenyum, Hinata juga ikut tersenyum, lalu Naruto menghampirinya, "kau bekerja keras hari ini!" ujar Naruto. "bagaimana mungkin kau tahu aku selesai melukis?" padahal pakaian Hinata baik-baik saja, tidak ada noda sedikit pun, "ada cat di jari telunjuk kanan mu!" Naruto menyentuh jari telunjuk itu lalu mengusapnya, betapa ingin sekali Hinata memeluknya, apakah tidak apa-apa dia memeluk Naruto. Dia bahkan tidur satu kamar dengan Naruto dan itu tidak masalah selama dia tidak menyentuh Hinata, tapi ini hanya sebuah pelukan. Tanpa Hinata duga Naruto lah yang memelukn Hinata terlebih dahulu, "aku merindukan mu!" ujar Naruto lalu mencium puncuk kepala Hinata.

Aku juga, itu yang ingin ia katakan, tapi Hinata berkata lain, "kau sudah makan siang?" tanya Hinata. "belum!" gumam Naruto. "kalau begitu, aku akan memasakan sesuatu untuk mu, kau mau?"

"kebetulan sekali, aku juga ingin melihat mu memasak!"

Naruto melepaskan pelukannya dan mengangkat Hinata, Hinata memekik terkejut, "kau tidak perlu melakukan ini, bagaimana kalau bibi Shizune melihat!"

"kurasa tidak apa-apa, bibi Shizune pasti mengerti!"

Naruto tersenyum penuh kemenangan pada Hinata. Bagaimana tidak mungkin Hinata jatuh cinta pada Naruto kalau dia bersikap lembut seperti ini terus, apalagi rasa rindu yang selalu menggebu saat dirinya sedang tidak bersama Naruto. setiap saat bersamanya membuat cinta Hinata pada Naruto semakin tumbuh, sekarang dia tidak mau berpisah dengan Naruto, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka, tidak akan ada seorang wanita pun yang akan merebut Naruto dari Hinata, karena Hinata akan melakukan segala cara hanya untuk bersama Naruto, hatinya sudah terkunci, hanya nama Naruto yang ada didalamnya.

Sebelum mencapai dapur bibi Shizune terlihat didepan pintu dapur dan melihat Naruto tengah menggendong Hinata, Shizune terlihat tersenyum lebar melihat hal itu. Hinata terlihat sangat malu, sedangkan Naruto hanya tersenyum simpul, "dia ingin memasak, aku yakin bibi Shizune tidak keberatan meminjamkan dapur ini untuk sementara waktu!"

"ooh tentu saja, silahkan tuan dan nyonya, saya permisi!"

"kau dengar itu, dia menyebut ku nyonya."

"aku juga tidak salah mendengar, mungkin kau akan jadi nyonya yang hebat di rumah ini!"

Dengar. Naruto pun sudah mengatakannya, Hinata akan menjadi nyonya, tapi apa maksud dari perkataannya itu, Hinata tida mengerti, batin Hinata lalu Naruto menurunkannya, "kau belum berganti pakaian!" ujar Hinata, "aku akan melepas jas ku, mulailah!" seperti biasa Naruto suka memerintah, tapi Hinata lambat laun menyukainya. Hinata mulai menyiapkan semuanya, bahan-bahan dan juga... apa yang akan dia masak saat ini, ah... sup mungkin, tapi apa Naruto suka?

"kau menyukai sup?"

"apapun yang kau masa aku pasti suka!"

Hinata tersenyum penuh semangat tanpa Naruto ketahui karena Hinata membelakanginya. Naruto mengamati Hinata dengan sangat intens, kapan lagi dia akan melihat seorang wanita memasak di dapurnya, mungkin juga hanya ada satu wanita, dan itu hanya Hinata, tapi entahlah. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memasak semangkuk sup daging dan beberapa tumisan, Hinata menyelesaikannya dengan cepat, tapi untuk rasa dijamin enak. Hinata menghidangkannya di meja makan tepat di hadapan Naruto yang sudah duduk manis dikursi, "mhhh... wangi, sepertinya enak!"

"cobalah!" Hinata mengamati Naruto dengan teliti, "bagaimana, enak tidak?"

"ini enak, sudah aku duga masakan mu pasti enak!"

"benarkan?"

Naruto mengangguk dan memakannya lagi sampai habis, Hinata juga ikut makan, tapi kebanyakan dia hanya melihat Naruto, hingga makanannya tak habis, "kenapa kau tidak menghabiskannya?" Hinata menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Naruto tidak mengerti sama sekali, "kau sudah selesai bukan, aku harus mencuci piring ini!"

"tidak perlu, biarkan bibi Shizune yang melakukannya!"

"tapi itu tidak sopan..."

"untuk apa aku mempekerjakan orang jika tidak untuk melakukan hal itu!"

"baiklah, baiklah, aku..."

"ayo!"

Sebelum menyelesaikan kalimatnya Naruto sudah menarik tangan Hinata dan membawanya ke kamar. Hinata berdiri ditengah ruangan dan memandang Naruto yang tengah melucuti pakaian kerjanya, Hinata berlalu kearah Naruto dan membantu melepaskan dasinya, "aku tahu kau pasti sudah mahir melepaskan dasi ini, tapi biarkan aku yang melakukannya saat ini karena kau sudah memuji masakan ku, ini bentuk dari..." kalimatnya terputus karena sedari tadi Naruto memperhatikannya.

"jangan melihat ku seperti itu!"

"seperti apa?"

'seperti kau ingin memakan ku."

"aku memang ingin memakan mu!"

Hinata membalas tatapan Naruto, dia benar-benar ingin memakan ku, batin Hinata lalu tersipu malu karena Naruto terus menatapnya, "aku akan mulai melukis malam ini, jadi kau harus siap dengan apa yang aku minta!" Hinata mendominasi keberaniannya, tetap berbicara lancar walau Naruto tengah menatapnya, "apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Naruto ketika Hinata sedikit demi sedikit menjauhinya, "yang ku inginkan hanya satu dan sangat mudah, kau tenang saja, aku tidak akan meminta mu menyerahkan semua kekayaan mu padaku!" Naruto terkejut dengan ucapan Hinata, "ya tuhan, lihat dirimu, aku cuma bercanda. Sampai nanti malam!" ujarnya

Naruto masih menatapa kepergian Hinata. Apa yang baru saja Hinata katakan memang membuat Naruto sedikit terkejut, dia tidak akan melakukan hal itu, batin Naruto lalu duduk di tempat tiudrnya, masih merenungkan kata-kata Hinata. Jika Hinata meminta hal seperti itu dia pasti akan memberikannya, uang bukanlah segalanya dan Naruto sadar akan hal itu. Setelah datangnya Hinata dalam kehidupannya, uang hanyalah selembar kertas yang sangat mudah ia dapat, lain halnya dengan Hinata, Hinata adalah satu-satunya, dan Naruto tidak akan menemukan wanita seperti Hinata di dunia ini, maka ia harus tetap mempertahankannya.

Mengingat dirinya tak pernah mengajak Hinata makan malam, dia berpikir akan mengajaknya malam ini, tidak disuatu tempat, mungkin di rumahnya ini, di kamar. Yah, hanya perlu sedikit hiasan. Ketika dirinya melukis nanti Naruto akan sibuk menyiapkan makan malam, itu pemikiran yang bagus, batin Naruto. Saat itu Naruto sudah menyelesaikan semua tugas yang ia bawa dari kantor, dia bergegas ingin bertemu Hinata, tak pernah terpikir dalam benaknya kalau Hinata sangat menikmati saat-saat dimana dirinya tengah melukis. Ketika sebuah lengan kaku memecah konsentrasinya pukul tujuh malam, dia memaksakan dirinya menaruh kuasnya dan mengingat apa yang telah ia perbuat.

"Ini mengagumkan."

Rambut di lengan dan di belakang lehernya berdiri dalam kewaspadaan oleh ketenangan yang akrab, suara yang parau. Hinata berbalik. Naruto hanya berdiri di depan pintu yang tertutup, memakai kaos rapi abu-abu. Rambutnya acak-acakan seksi, seolah dia baru pulang dari kantor melalui angin danau Konoha. Hinata berjalan ke meja untuk mengeringkan kelebihan cat dari kuasnya, perlu bergerak untuk bernapas karena tatapan mata Naruto.

"Ini akan segera selesai. Aku punya masalah dengan cahaya hanya kalau aku ingin pergi ke gallery lukisan. Aku perlu pergi kesana dan berdiri di lobi sudut jendela untuk memeriksa cahaya di sana…juga melihat seperti apa lukisan itu akan di gantung." Dari sudut pandangnya, Hinata melihat Naruto berjalan kearahnya, kedekatannya seperti binatang perkasa, begitu manis. Hinata meletakkan kuasnya di cairan pelarut dan menghadap Naruo. Mata birunya mengunci tatapan Hinata dan memegang erat. Seperti biasanya.

"Lukisan ini mengagumkan. Aku menyukainya, kupikir. Ini mengagumkan melihatmu melukis. Ini sedikit seperti menangkap seorang dewi sementara dia menciptakan bagian kecil dari dunia," Kata Naruto, menyentuh pipinya, senyum mencela-untuknya di bibir pada keanehan perubahan pikirannya. "Kau benar-benar menyukainya? Lukisan ini?" tanya Hinata, tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mulut Naruto. Naruto berdiri cukup dekat hingga Hinata bisa mencium aromanya—bau sabun yang wangi lembut dari lotion beraroma rempah, dan hanya petunjuk dari kesegaran napas yang dia hembuskan.

"Ya. Tapi tidak mengejutkan bagiku. Aku tahu apa pun yang kau lukis akan mengagumkan."

"Aku tak tahu bagaimana kau mengetahuinya," Kata Hinata, menatap kesamping karena malu.

"Karena itulah dirimu," Kata Naruto, mengangkat tangannya untuk membelai rahangnya, memiringkan wajah Hinata menghadap dirinya. Naruto menunduk dan menciumnya dengan dalam. Tidak ada sentuhan, mengecap bibir itulah yang Naruto lakukan. Ketika Naruto mengangkat kepalanya beberapa saat kemudian, Hinata mengerjapkan kelopak matanya terbuka pelan, masih bingung oleh ciuman Naruto. Sentuhan jarinya bergerak cepat, dan Hinata tidak menyadarinya. Kenapa tiba-tiba Naruto mencium dirinya, "kapan kau mulai melukisnya?" tanya Naruto

Lukisan nuansa malam yang Naruto minta, "sekarang, kalau boleh. Bisa kita ke kamar mu?"

"kau tidak lelah?"

Hinata menggeleng pelan, pikirannya masih kelabu dengan apa yang Naruto lakukan tadi. Hingga Naruto menggenggam erat tangannya dan menariknya keluar ruangan, Hinata kembali pada demo kesadarannya. Naruto sudah menyiapkan semuanya, kursi alat lukis dan tentu saja pemandangan mala yang alami yang tak perlu ia datangkan, "silahkan tuan putri, ini kursi mu!" Hinata tersenyum. Apa yang akan dilakukan Hinata dengan Naruto, dia begitu mengacaukan Hinata hari ini, dan tadi, ciuman tadi membuat konsentrasinya sedikit limbung. Tidak, jangan memikirkan hal itu, itu adalah awal dimana Naruto benar-benar menginginkannya.

Tapi menginginkan tidak akan sama dengan mencintai, dan Hinata menginginkan Naruto untuk mencintainya, "hey, kenapa diam saja, apa yang kau pikirkan?" suara para Naruto memecah keheningan yang Hinata ciptakan, "tidak apa-apa, aku akan mulai!" Hinata memulai dengan sangat siap, jari-jari lentiknya bergerak sangat lembut diatas kanvas. Naruto tidak akan bosan memperhatikan Hinata melukis, dia bahkan terpesona melihatnya, "aku akan memberimu waktu luang!' ujar Naruto lalu meninggalkan Hinata, dia hanya bisa mengangguk, tak mungkin dia meminta Naruto terus menerus memperhatikan dirinya melukis.

Berjam-jam melukis sebuah pemandangan yang hanya membutuhkan satu atau dua warna membuat Hinata menggelengkan kepalanya, seakan tak percaya pada lukisan yang ia lukis sendiri. "wow." Kata pertama yang ia ucapkan untuk karyanya yang satu ini, dia sendiri terkejut dengan bakat yang dimilki tangannya, "aku tidak percaya ini, padahal ini belum selesai, Sakura dan Sasori pasti tidak akan percaya akan hal ini!" Hinata tiba-tiba bangga dengan bakatnya, selama ini dia hanya melukis sesuatu yang berwarna warni, dan warna gelap ini akan menjadi karya satu-satunya. Uzumaki Naruto telah membawanya pada perubahan yang tak terduga. Ngomong-ngomong, dimana dia, kenapa dia tidak muncul, padahal Hinata ingin sekali memperlihatkan lukisan yang setengah jadi ini padanya.

"luar biasa Hinata, kau sangat berbakat!"

Tiba-tiba ia mendapat pujian. Hinata menoleh ke belakang dan melihat Naruto tengah menatap kagum pada lukisan dan kini menatap padanya, "kau dari mana saja?" tanya Hinata penasaran. Naruto mendekat ke arahnya, "kau kehilangan ku, tenang saja sayang, aku selalu memperhatikan mu. Dan lihat, meskipun belum jadi, ini sebuah karya yang indah, kapan kau akan menggelar sebuah pameran?" kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu, batin Hinata lalu menghela napas panjang, "aku.. sudah pernah mengadakan pameran, satu kali, dan hasilnya lumayan... beberapa lukisan ku banyak yang meminatinya." Ujar Hinata penuh kebanggaan. Naruto mendekat ke arah Hinata lalu menyentuh dagunya dan mengangkatnya keatas mengarah pada Naruto yang sedang berdiri.

"kau merindukan semua lukisan mu?"

"kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?"

"itu bukan jawaban, katakan saja, apa kau merindukannya?"

"mmhhh... tentu saja aku rindu. Beberapa lukisan ku dimiliki oleh kolektor yang kaya raya, dia sangat tertarik sekali dengan lukisan ku, siapa yah namanya... kalau tidak salah.. tuan Deidara, dia memiliki dua lukisan ku, entah apa yang dia lihat dalam lukisan ku, tapi dia sangat senang sekali mendapatkannya!"

"sesuatu yang menarik dalam lukisan mu, dan dia juga tahu itu, sama seperti diriku!"

"menarik, apa yang menarik?"

"entahlah, menarik hingga membuatku takjub. Baiklah, saatnya makan malam!"

"apa?"

Naruto menarik Hinata berdiri, "tutup matamu!" Hinata tidak tahu apa yang akan Naruto lakukan, tapi dia menuruti perintahnya. Hinata berjalan dengan Naruto yang berada di sampingnya, sambil menutupi matanya, "apa yang akan kau lakukan?" Naruto bergumam pelan dan itu membuat Hinata terkikik geli. Saat mereka berdua sampai ditengah ruangan Hinata membuka matanya, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan matanya berbinar, "a-aku.. apakah.. Naruto, kau..." Naruto mengangkat bahunya dan tersenyum. Dia mengulurkan tangan pada Hinata, dan Hinata menyambutnya. Naruto menarik kursi untuk Hinata, "terima kasih sir!"

"sama-sama ma'am." Ujar Naruto.

"kau suka claret?" ujar Naruto. –claret, sejenis anggur merah-

"sedikit."

Naruto menuangkan sedikit claret ke gelas Hinata, "aku harap kau suka daging panggang!" Hinata mengangguk. mereka makan dengan damai, sesaat kemudian, "aku sangat menghargai lukisan yang kau buat Hinata, sayang aku tidak bisa melihat semuanya, apa kau mau melihatnya lagi, lukisan mu?" apa yang harus Hinata jawab. Ya Tuhan, tentu saja Hinata merindukan semua lukisan yang telah ia lukis, butuh waktu lama untuknya bisa melihat lukisannya kembali, "tentu saja aku rindu, tapi itulah seni, tidak hanya stagnan, tapi akan berubah-ubah sesuai dengan selera pelukisnya, seperti sekarang ini, mungkin aliran ku yang satu ini telah menyimpang, dan itu semua karena dirimu. Terima kasih karenanya!"

"jadi maksud mu aku membuat mu menyimpang. Sebenarnya, apa kau hanya tertarik pada Van Gogh saja, bagaimana dengan Leonardo Da Vinci, Claude Monet, Francis Bacon..."

"aku suka Claude Monet, Da Vinci juga, tapi Claude memiliki aliran impresionisme yang membuat ku kagum, aku sedikit meniru gaya lukisannya, seperti halnya lukisan yang kau minta itu!"

"bagaimana dengan abstrak?"

"aku sebenarnya tidak terlalu suka, tapi saat pertama kali melihat lukisan, Willem De Kooning, Woman III kau tahu?" tanya Hinata, Naruto mengangguk singkat, "itu adalah lukisannya yang bergaya ekspresionis abstrak, aku jadi mulai tertarik dan mencoba belajar, akhirnya aku menciptakan satu lukisan abstrak, dan itu tuan Deidara lah yang telah memilikinya. kau tahu kan, aku hanya menciptakan seni, dan tentu saja, mereka yang menyukai seni pasti akan berlomba untuk memilikinya. kau menyukai seni, aku lihat ayah dan ibu mu memiliki banyak koleksi lukisan mahal di gallery mereka!"

"tentu saku suka. Aku tidak akan menyuruh mu melukis untuk ku jika aku tidak menyukainya, kau juga sudah melihat gallery ku bukan!"

"iyah, dan aku percaya itu."

"baiklah sayang, habiskan makanan mu, bukankah malam ini indah?"

"sangat." Gumam Hinata.

~~~###~~~

Sudah berapa lama dan berapa kali dia tinggal di rumah Naruto, Hinata tidak pernah menghitungnya, ia hanya sibuk memikirkan perasaannya dan semua lukisan yang ia buat untuk Naruto. kini waktunya dia menghabiskan hari-hari bebasnya dengan menemui sahabat karibnya, Sakura.

"aku tak tahu, kau hanya ... berbeda. Aku harap kau baik-baik saja, dan apa pun masalah yang kau alami dengan si tuan kaya raya, kau bisa bicara dengan ku. Dan aku akan mencoba untuk tak menendangnya sesuatu yang salah, kau akan memberitahuku , aku tak akan menghakimi. Aku akan mencoba untuk mengerti ." Aku berkedip menahan tangis. "Oh, Sakura." Aku memeluk dia. "aku pikir aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya."

"Hinata, siapapun bisa melihat itu. Dan dia pun jatuh cinta padamu. Dia tergila-gila padamu. Tak bisa lepas dan jauh dari mu sedikit pun."

Aku tertawa tak yakin, "apa menurut mu begitu?"

"bukankah dia mengatakannya pada mu ?"

"entahlah!"

"sudahkah kau mengatakan padanya kalau kau mencintainya?"

"ku rasa, aku tidak berani. Tapi aku sudah mempunyai ide mengenai hal itu, dan ku harap aku tidak di tolak!"

"Hinata dia tidak akan menolak mu!"

"aku kahwatir aku akan membuatnya ketakutan dengan aku mengungkapkan perasaan ku, dia berbeda dengan pria lain Sakura, dia tidak pernah mengungkapkan sesuatu tentang cinta, aku takut dia kan pergi jika aku mengungkapkannya!"

"omong kosong. Bagaimana kau tahu bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama, dan apa itu tadi... dia takut dan lari meninggalkan mu, aku yakin dia bukan tipe pria seperti itu. Dengar Hinata, kau harus yakin kalau dia memang mencintai mu juga, percayalah pada isi hati mu!"

Yah, Sakura benar, dia harus yakin bahwa Naruto juga mencintainya. Hinata ingin sekali mencari pekerjaan lain, tapi Naruto pasti tidak akan mengijinkannya, dan itu membuatnya marah. Dia menyuruh Hinata tinggal di rumahnya lebih banyak, dan hanya bertemu Sakura satu atau dua hari saja, seolah Hinata adalah miliknya. Jika dia menganggap Hinata miliknya, maka apa salahnya jika Hinata juga menganggap Naruto adalah milikinya, apakah Naruto akan mengijinkannya. Entahlah! Namun yang pasti untuk saat ini dia harus menyelesaikan lukisannya segera, hanya tinggal satu langkah, dan malam ini dia akan segera menyelesaikannya.

"selamat siang nona Hinata."

"selamat siang bibi Shizune. Apa dia di kantor?"

"dia baru saja berangkat sekitar 3 menit yang lalu, kau terlambat sedikit."

"tidak apa-apa, aku akan menemuinya nanti malam. Bolehkah aku meminta secangkir teh dan sedikit kue, untuk menemani ku melukis!"

"tentu saja. Boleh aku melihat mu melukis?"

"tentu!"

Menghabiskan waktu untuk melukis sambil di temani secangkri teh, dan di tonton oleh seseorang yang dimana dia tidak pernah di tonton sebelumnya, hanya Naruto sejak malam itu dan sekarang bibi Shizune. Tapi ini menambah gairah Hinata dalam melukis, dia akan sangat berterima kasih jika Hinata melihat semua lukisannya terpajang di ruang gallery Naruto. Dan tentunya akan lebih senang lagi dia menggelar lagi sebuah pameran, "apa bibi tidak lelah melihat ku melukis?"

"aku sangat kagum dengan bakat mu Hinata, kau memiliki tangan yang sempurna."

Hinata tertawa ringan, "anda sangat berlebihan bibi, semua orang bisa melukis, hanya saja mereka butuh waktu lama agar mendapatkan hasil yang maksimal, seperti halnya diriku yang membutuhkan waktu yang sangat lama hingga akhirnya aku bisa berkembang sampai sejauh ini."

"sejak kapan kau belajar melukis Hinata?"

"sejak aku berumur 10 tahun, dan sejak kedua orang tua ku bercerai."

"mengapa bisa seperti itu?"

"anda bisa menjaga rahasia saya bibi?" Shizune mengangguk, "melihat orang tua saya berpisah, saya menjadikan moment itu sebagai sebuah ekspresi. Ekspresi sedih saya, dimana saya pertama-tama melukis dengan sebuah pensil, wajah ayah dan ibu, lalu bentuk tubuh mereka... aku menggambarnya, dengan ayah dan ibu yang saling menjauh, aku ada ditengah-tengah mereka, menatap sedih dan... anda seharusnya melihat lukisan ku itu!"

"ya tuhan, kasihan sekali kau harus merasakan kehidupan pahit seperti itu, aku turut menyesal dengan perpisahan ayah dan ibu mu. Lalu dimana lukisan itu sekarang?"

"umm... aku menyimpannya. Aku tidak mau ada satu orang pun yang menemukannya!"

"oohh tentu saja kau berpikiran seperti itu, pasti sangat sulit bagi mu. Baiklah, mungkin tuan Naruto akan pulang larut, aku mendengar dia banyak pertemuan hari ini, ku harap kau tidak bosan disini sendirian!"

"aku pasti sangat bosan jika bibi pergi."

"oooh sayang, kau begitu kuat, istirahatlah jika kau lelah, aku akan pergi sekarang, sampai nanti sayang!"

"sampai nanti bibi."

Aku membutuhkan waktu yang tepat untuk melukis nuansa gelap ku, dan inilah saatnya dimana aku harus menyelesaikannya. Aku harus selesai sebelum Naruto datang ke rumah, batin Hinata lalu mulai melukis, hari ini bulan tampak bersinar terang sama seperti hari-hari lalu ketika dia melukis nuansa gelapnya, sekarang dia teringat lukisan ekspresionismenya. Ekspresi saat dirinya sedih melihat kedua orang tuanya berpisah, dia mendapati bahwa lukisannya itu mirip dengan karya Edvard Munch, tapi sedikit berbeda, lukisan Hinata tidak semenyentuh dengan Edvard Munch yang di mana Munch mengeksplorasi tema kehidupan, cinta, takut, kematian, dan kesedihan. Kesedihan hanyalah sebagian kecil karya yang ia buat, berbeda dengan Munch.

Dalam lukisannya itu, tidak ada hidup, takut, mati atau bahkan cinta. Hanya sedih, dan hanya itu! Sudahlah Hinata, ini bukan saatnya kau bersedih, sekarang waktunya kau menyelesaikan lukisan ini. Dia hampir tersenyum kala mengingat sesuatu yang ia minta pada Naruto setelah melukis lukisan ini, "bodoh, aku... aku tidak pantas untuknya, tapi aku meminta cinta, dia tidak akan memberikannya." Aku membiarkan pikiran ku melayang dan berfantasi bahwa dia mencintaiku, dan itu begitu nyata, hampir nayata dan sebagian dalam benakku sadar, bahwa tidak akan ada celah yang terbuka lebar untuk aku masuk dalam hidupnya yang tertutup, jika Naruto tidak memberikan cinta padanya, setidaknya dia harus menceritakan masa lalu nya.

Dan Hinata, kau benar-benar jenius memikirkan hal sejauh itu. Dia bernapas lega karena Naruto belum datang, lukisannya sudah jadi dan Hinata berbinar tak percaya dengan apa yang dia ciptakan. Sebuah karya yang indah yang Hinata ciptakan, seharusnya ia menggelar pameran lagi untuk semua lukisannya ini. Berapa banyak lukisan yang kau buat Hinata, batinnya bertanya penasaran, "dasar, sepertinya aku melukis terlalu banyak hingga sampai-sampai aku tak bisa mengitungnya. Semua aliran belum aku coba, dan aku harus mencobanya. Apa Naruto akan membayarku lebih yah? Aaaahhhh... kau sudah berani memikirkan tentang bayaran, ayolah Hinata, karya mu jangan terlalu banyak kau libatkan dengan bisnis, tapi tetap saja... seni dan bisnis sama-sama akan menguntungkan jika keduanya bergabung sempurna, tidak akan ada yang menyangkalnya!"

"aku harus membereskan semua ini, dan bergegas tidur!" lalu Hinata pun bergegas, tanpa mempedulikan Naruto. Namun hatinya bertertiak rindu ingin bertemu.

^^Bersambung...^^