MENCINTAI ORANG YANG SAMA TAPI BERBEDA

By Itachannio

Vocaloid

Disclaimer: Yamaha, Crypton Future Media, and fans all over the world

Main Characters: Kaito Shion, Miku Hatsune, Kamui Gakupo, Megurine Luka.

Other Characters: Find by yourself

Author's Words:

Moshi-moshi, annyeonghaseyo, halo, hi Readers di mana pun anda berada!

Fanfic ini termasuk fanfic pertama saya, jadi pasti terdapat banyak kesalahan. Mohon bantuannya ya untuk para readers ataupun senior yang membaca fanfic ini. Dengan banyaknya saran dan kritik yang masuk pada kantung review saya, saya jadi bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan saya, juga seberapa besar peluang saya untuk memperbaikinya.

Dari sini, saya akan menambahkan lagu-lagu dari luar Vocaloid, karena jika lagu-lagu ini berasal dari vocaloid, maka akan membingungkan bagi saya untuk menulis judul lagu dan juga penyanyinya.

Oh, dan tambah satu hal lagi! Saya menambahkan beberapa kata yang tidak dalam bahasa Indonesia, maupun bahasa Jepang. Ceritanya, kata-kata ini asli bahasa negara Voca tempat para karakter berada.

Terima kasih dan selamat membaca!

Enjoy

Chapter ten: Masih Berlanjut; Pertunjukan Pertama

Summary:

Aku bertemu dengan rambut indahmu di malam itu. Rambut itu begitu berkilau saat angin menerbangkannya. Rambut itu berwarna hijau gelap. Dia tergerai panjang menutupi punggungmu yang mungil.

Aku ingin melihatmu lagi, namun setelah hari itu aku tak pernah melihat sosokmu maupun rambut indahmu yang sempat membuatku terpesona.


Hari demi hari berganti, waktu pun terus berjalan. Semakin hari, para anggota band semakin semangat berlatih. Akhirnya pertunjukan mereka sudah layak ditonton setelah sekian lama melewati masa-masa sulit saling memaki, juga saling memarahi. Sekarang tibalah saatnya dimana mereka sangat menanti-nanti momen paling sulit dan mendebarkan dalam hidup mereka; sehari sebelum konser. Sampai saat ini mereka sudah melewati minggu-minggu latihan dengan sangat sibuk.

Sebenarnya proses latihan kurang berjalan dengan baik berhubung semua anggota klub musik terdiri dari berbagai anggota klub lain yang berbeda-beda. Mulai dari Len yang paling sibuk dan paling jarang hadir saat latihan, lalu Miku yang tiba-tiba ditarik oleh klub melukis, dan Kaito yang juga mendapat tugas dari klub fotografi.

Tapi mereka semua berhasil melewati masa-masa sulit itu dengan baik berkat jadwal yang ditulis ulang oleh Luka. Akhirnya, hari esok akan menjadi hari pertama untuk melakukan pertunjukan, jadi semua anggota diwajibkan beristirahat dari menyentuh alat-alat musik mereka untuk menghindari terciptanya rasa gugup.

Sebenarnya masih ada satu hal yang kurang, yaitu tidak adanya guru pembimbing untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan mereka dalam memainkan sebuah lagu. Tapi Kiyoteru-sensei sepertinya tidak bisa menemukan waktu yang tepat untuk mencarikan mereka seorang guru pembimbing karena beliau ditunjuk untuk menjadi salah satu panitia yang mengatur jalannya festival dan menjadikan agendanya lumayan padat.

Berhubung besok juga adalah hari ulangtahun sekolah, maka pada hari ini semua kegiatan belajar mengajar digantikan oleh kegiatan mendekor. Setiap kelas wajib memiliki sebuah stand dengan tema yang berbeda-beda. Sebenarnya bukan hanya kelas-kelas yang harus memiliki stand, tapi para anggota OSIS dan anggota klub sekolah pun dianjurkan untuk memiliki stand masing-masing.

Semua siswa mendirikan stand mereka di halaman sekolah sehingga sekarang baik halaman belakang maupun halaman depan penuh dengan jajaran stand para siswa. Belum lagi sebuah panggung besar sedang disiapkan di halaman depan.

Semua orang terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Para siswa, anggota OSIS, juga para anggota klub bekerja dengan baik. Dan agar pekerjaan terkesan lebih efektif, setiap mengadakan acara seperti ini mereka akan menginap di sekolah.

Namun sayang sekali bagi para personel klub musik karena mereka hampir tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Meskipun sudah dibebaskan dari latihan band, tapi mereka tidak bisa bersama-sama mendekor stand. Padahal mereka sudah merencanakan stand dengan tema paling mudah, yaitu suasana cafe.

Kebanyakan dari mereka selalu mempunyai satu atau dua pekerjaan di klubnya yang lain. Seperti Len yang sore itu tidak bisa membantu di stand klub musik karena harus membantu klub modelling, Gakupo yang harus membantu stand klub baseball–meskipun tidak banyak yang harus dibantu–, juga Miku yang harus kembali ke klub melukis untuk membantu menciptakan beberapa karya yang akan dipamerkan. Ditambah lagi di saat-saat seperti ini, Kaito harus banyak melakukan pemotretan sehingga tidak bisa diam hanya di satu tempat.

Dengan begitu, yang tersisa hanyalah Luka dan Teto. Mereka hampir tidak mungkin menyelesaikan semuanya berdua. Apalagi mereka itu kaum wanita. Akhirnya, mau tidak mau mereka harus menunggu untuk melakukan beberapa pekerjaan berat sampai malam tiba, kemudian mendekor dengan serius bersama semua anggota yang pada saat itu kemungkinan besar akan bisa membantu.


Perkiraan Luka dan Teto memang benar, tapi rupanya semua anggota yang mendobel dua klub itu datang ke ruang musik dengan wajah lesu dan kusut. Mereka kelelahan setelah membantu klub yang lain selama hampir seharian.

"Apa saja yang kalian lakukan siang tadi?" tanya Teto sambil memberikan minuman pada mereka yang terlihat kecapekan itu.

"Aku ikut angkat-angkat barang berat," keluh Gakupo.

"Aku harus terus-terusan ganti baju dan berpose selama berjam-jam. Semua badanku pegal," keluh Len.

"Tanganku kaku karena terus-terusan dipakai melukis," keluh Miku.

"Aku disuruh mondar-mandir memotret semua proses persiapan festival sehingga harus keliling sekolah dari halaman depan sampai halaman belakang. Belum lagi tadi aku juga harus memotret beberapa model sekolah," keluh Kaito.

"Semuanya sudah bekerja keras ya," komentar Luka sambil tersenyum, "Selanjutnya tinggal stand klub kita saja yang belum persiapan matang."

"Maaf, Luka-senpai, Teto-senpai," kata Kaito, "Kalian sudah bekerja keras dari siang, sedangkan kami tidak bisa membantu."

Luka dan Teto hanya tersenyum.

"Yang penting, kalian istirahat dulu–"

BRAAAAK!

Tiba-tiba pintu ruang musik terbuka dengan suara yang sangat keras.

"APA-APAAN KALIAN?! KENAPA STAND KALIAN MASIH KOSONG BEGITU?!" Kiyoteru-sensei langsung muncul dari baliknya sambil marah-marah tak jelas. Dia membawa suatu kotak yang lumayan besar, mungkin untuk diperlihatkan kepada anggota klub.

"Maaf, Sensei," sesal Miku, "Tapi seperti yang Anda tahu, kebanyakan dari kita mengikuti klub yang lain..."

"Ya ampun, kalian ini," Kiyoteru-sensei membetulkan letak kacamatanya, "Untuk menambah semangat yang ketinggalan, aku membawakan ini!"

Kiyoteru-sensei menyimpan kotak besar yang dibawanya di depan para siswa. Semua orang langsung tertarik saat melihat si kotak.

"Apa itu?" tanya Len.

"Buka saja!" suruh Kiyoteru-sensei.

Saat membuka kotak itu, mata mereka langsung terbelalak. Wow. Isinya benar-benar keren! Di dalamnya, mereka memiliki baju waiter dan waitress berwarna cokelat dengan pernak-pernik telinga kelinci. Di bagian bawah baju-baju itu, mereka melihat banyak baju yang serupa berupa rompi berwarna putih gelap dengan kaos dalam yang berwarna merah, juga celana dan rok berwarna hitam. Ada juga cat rambut yang disimpan di sudut kotak.

"Sensei! Kawaii!" seru Teto, Miku, dan Luka sambil mengacungkan baju waitress mereka.

"Keren!" Len, Kaito, dan Gakupo juga berseru bersamaan saat melihat baju mereka untuk tampil di panggung nanti.

"Hahahahaha! Bagaimana? Bagus 'kan?" seru Kiyoteru-sensei dengan bangga seperti biasa.

"Sensei! Kami sudah kembali bersemangat!" seru Gakupo, "Ayo mendekor!"

"Setuju!"

"Ayo mulaaaaaai!"

Luka dan Teto langsung saling pandang sambil tersenyum senang.

"Baiklah! Berhubung tugasku sudah selesai sekarang, aku juga akan membantu!" seru Kiyoteru-sensei. Semuanya langsung mengerubungi Kiyoteru-sensei sambil bersorak gembira.

Semalaman itu, para anggota klub musik memulai aksi mereka menghias stand di halaman depan. Mereka melakukannya dengan cepat sampai tengah malam tiba.


"Sudah cukup untuk hari ini. Kalian butuh istirahat," kata Kiyoteru-sensei, "Ayo pergi. Seperti yang sudah ditentukan, untuk para gadis, kalian akan tidur di ruang musik, dan untuk anak laki-laki di ruang bekas klub paparrazi."

"Haaah..." keluh Gakupo, "Padahal aku ingin tidur bareng-bareng saja."

"Tidak mungkin 'kan, dasar bodoh," kata Kaito sambil geleng-geleng kepala. Gakupo langsung nyengir lebar.

"Ayolah Kaito, padahal kau juga ingin sekamar dengan–"

BUAKH!

Kaito langsung menonjok anak itu sehingga kata-katanya terputus. Semua orang tertawa melihat tingkah mereka. Malam itu, mereka hampir tidak merasakan gugup sama sekali. Kebersamaan itu membantu mereka untuk terbebas dari rasa gugup meskipun hanya untuk beberapa saat. Mudah-mudahan pertunjukan mereka besok akan berjalan dengan lancar.


Malam ini Kaito tidak bisa tidur. Begitu lampu dipadamkan, semua yang terpikir adalah soal pertunjukan besok. Huff... ternyata rasa gugup itu muncul lagi dan malah mengganggu ketertiban otaknya. Hmm... Festival baru akan diadakan sore hari, namun untuk pertunjukan musik akan diadakan malam hari setelah jumlah pengunjung meningkat.

Aah... memikirkan hal ini benar-benar membuat Kaito tidak bisa tidur dengan tenang. Dia menatap satu per satu wajah teman-temannya juga Kiyoteru-sensei yang ikut tidur bersama mereka. Kaito sempat ingin tertawa ketika melihat Len menempel pada Kiyoteru-sensei. Seperti ayah dan anak saja.

Kaito menghela napas. Sepertinya langit malam menyuruhnya untuk tetap terjaga selama beberapa menit ke depan. Anak itu lalu memutuskan untuk berdiam diri di dekat jendela, merasakan angin segar. Berhubung bekas ruang klub paparrazi ini bersebelahan dengan klub musik, jadi Kaito bisa melihat ada jendela di klub musik yang juga masih terbuka. Eh, terbuka?

Kaito penasaran dengan siapa yang belum bisa tidur juga seperti dirinya. Saat mengintip, dia melihat Luka sedang menatap bulan dari jendela. Sepertinya gadis itu sedang merenungkan sesuatu. Di wajahnya ada yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah Kaito lihat. Dia seperti seorang bidadari yang sedang kesepian dan menantikan seseorang untuk menjemputnya. Ya. Bidadari. Karena Luka itu memang terlihat sangat... cantik. Tidak. Dia memang cantik. Tak ada kata 'sangat' yang diperlukan untuk menjelaskannya.

Saat Kaito melihat rambut panjangnya tersibak angin, anak itu merasa ada yang aneh. Deja vu. Sepertinya dia sudah pernah melihat yang seperti itu. Hanya saja...

"Lho, Kaito...?" Luka menyadari kalau Kaito sedang memperhatikannya dari sisi jendela yang lain.

"Luka-senpai," sapa Kaito, "Belum tidur?"

Luka menggeleng sambil tersenyum. Kaito ikut memandang bulan.

"Perasaan seperti ini benar-benar seperti nostalgia saja," kata Luka, "Dulu aku juga sering merasakan gugup seperti ini. Padahal bukan aku yang jadi peran utama."

"Dulu..." gumam Kaito, masih sambil memandang bulan, "Apa Senpai juga tidak bisa tidur seperti ini?"

"Ya... kakakmu juga sama," senyum Luka, "Di antara kita semua, dia yang paling tidak bisa diam saat menjelang konser."

"Kakakku?" tanya Kaito.

"Ya... dulu, karena tidak bisa tidur, dia sering mengganggu dan mengajakku ngobrol," Luka tertawa pelan, "Aku masih ingat. Padahal aku saat itu sangat mengantuk, tapi dia menyuruhku untuk tetap terjaga dan ngobrol panjang lebar soal pertunjukan."

"Apa waktu itu kalian juga akan tampil di festival sekolah?" tanya Kaito lagi.

"Iya, kita tampil di festival sekolah yang tahun lalu," jawab Luka sambil tersenyum lembut.

"Jadi kalian juga bermain di festival sekolah," gumam Kaito. Luka mengangguk.

"Kaito, kau sangat mirip dengan kakakmu. Apa kau juga merasa gugup sampai tidak bisa tidur?" tanya Luka sambil menatap Kaito. Kaito juga menatap Luka. Entah mengapa, Kaito bisa melihat kesedihan di kedua mata gadis itu.

"Luka-senpai..." gumam Kaito. Dia ingin menanyakan sesuatu meskipun tidak yakin kenapa tiba-tiba ingin menanyakannya pada Luka.

"Hm?"

"Apa Senpai masih menyukai kakakku...?"

Luka tercengang. Suasana hening terjadi selama beberapa detik. Kaito juga tidak berniat mengalihkan pembicaraan. Dia sudah terlanjur ingin tahu.

Tak lama, Luka menghela napas sambil mengelus rambutnya.

"Entahlah..." jawab Luka, pada akhirnya. Kaito masih terdiam.

"Tapi..." tambah Luka, "Aku masih berharap untuk bisa bertemu lagi dengannya... mungkin."

"..."

Kaito terdiam. Apa itu artinya Luka-senpai masih menyukai kakakku? Batin Kaito bertanya-tanya.

Kalau dipikir-pikir, di hari pertunjukan nanti, mereka semua akan memakai cat rambut. Dan cat rambut yang digunakan berwarna merah. Kaito ingin tahu bagaimana reaksi seniornya itu saat melihatnya dengan rambut merah nanti. Dia benar-benar tidak menyadari kalau ternyata perasaan Luka untuk kakaknya sedalam itu. Setahun sudah berlalu semenjak kejadian itu, tapi masih saja... Perasaan Luka masih saja belum berubah.

Angin kembali datang menyibak rambut indah Luka yang panjang, membuat wajah anggun si gadis bertambah manis.

"Kupikir kakakku benar-benar beruntung," kata Kaito sambil tersenyum.

"Eh?"

"Dia bisa mendapatkan gadis tegar seperti Senpai," lanjutnya.

Wajah Luka langsung memerah. Kaito buru-buru menyadari hal itu. Ini pertama kalinya dia melihat Luka tersipu. Benar-benar imut.

"Sudah malam. Sebaiknya kau paksakan matamu untuk tidur," suruh Luka. Kaito segera mengangguk-angguk.

"Kalau begitu, sampai besok, Senpai," kata Kaito, sebelum menutup jendela.

"Oyasuminasai, Kaito..."


Festival akan diadakan sore hari ini. Semua orang langsung sibuk mempersiapkan ini dan itu demi memberikan sambutan yang meriah bagi setiap tamu yang datang. Festival ini bersifat umum yang membolehkan siapa saja masuk dengan membeli tiket yang tersedia. Dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya, festival SMA Vocaloid ini banyak menarik minat pengunjung sehingga saat festival masih baru dibuka, sudah banyak orang yang berdatangan.

Para anggota klub musik yang memiliki dua pekerjaan harus mengikuti dulu klub pertama yang mereka pilih sehingga yang berjaga di stand saat itu hanya Luka dan Teto. Kedua waitress manis ini cukup bisa menarik banyak pengunjung untuk mampir di tempat yang sudah disediakan.

Saat hari mulai menjelang senja, Kaito, Len, Gakupo, dan juga Miku langsung mengambil tempat di stand mereka dengan mengenakan pakaian yang ada tanpa bertemu Luka dan Teto–saat itu mereka sedang melayani tamu. Tentu saja para laki-laki belum sempat melihat gadis-gadis memakai baju waitress mereka. Jadi, saat mereka melihat Miku memakai pakaian itu sekeluarnya dari ruang ganti, mereka langsung tercengang karena ternyata Miku... saaaaaangat imut! Apalagi dengan bando kelincinya. Kaito saja sampai marah-marah tak jelas saat Gakupo dan Len malah menggoda gadis itu dengan terang-terangan.

Akhirnya mereka mulai bekerja di stand yang langsung meninggikan jumlah kedatangan pengunjung. Bahkan ada yang sampai minta berfoto bersama.

"Wah, wah, wah..." tiba-tiba Yuuya mampir ke stand, "Meskipun murahan, tapi tetap laku."

"Yuuya-san!" tegur Miku saat dia melihat Yuuya di depan pintu.

Saat melihat penampilan Miku yang super imut, Yuuya langsung bersiul panjang.

"Kau terlihat cocok sekali memakainya," puji Yuuya sambil mengusap-usap kepala Miku, "Manis."

"Hei Kaito," Gakupo–yang sempat melihat Yuuya mengelus kepala Miku itu–menepuk punggung Kaito saat mereka sedang di dapur, "Seharusnya kau yang mengelus kepalanya duluan!"

Brak!

Kaito langsung menyimpan baki yang sedang dibawanya dengan keras. Beberapa pengunjung sempat kaget dan melayangkan pandangannya ke arah dapur, tapi Len berusaha menutupinya dengan tebaran pesona yang langsung bekerja.

"Memangnya aku peduli?!" serobot Kaito sambil mengambil sebuah pesanan untuk diantar.

Gakupo hanya geleng-geleng kepala dengan prihatin. Dasar, kenapa mereka kelihatan belum jadian ya? Bukannya Miku sudah 'menembak' anak itu beberapa waktu lalu? Pikir Gakupo tak habis pikir.


Malam pun tiba. Inilah saat-saat paling menggairahkan semangat para pengunjung yang datang. Panggung sudah disiapkan untuk acara malam. Beberapa hal yang akan dipertunjukkan adalah teater, musikalisasi puisi, pertunjukan band serta beberapa yang menyanyi solo, dan masih banyak lagi.

Belum lagi nanti akan diumumkan pemenang stand dengan dekorasi terbaik dan stand dengan jumlah pengunjung paling banyak. Sudah pasti pemenangnya akan diberi hadiah yang cukup menjanjikan.

"Oke, anak-anak! Siapkan diri kalian! Masuk ke ruang klub untuk bersiap-siap sekarang!" Kiyoteru-sensei memberikan instruksi di depan stand klub musik setelah selesai mengawasi persiapan untuk panggung malam ini.

Semuanya langsung mengangguk.

"Aku akan melihat penampian kalian dari sini," ujar Luka sambil tersenyum.

"Luka-senpai! Kau juga harus bersiap-siap!" kata Len.

"Apa? Eh? Aku? Tapi stand-nya..."

"Dari sini biar aku yang urus," tiba-tiba Yuuya muncul dari belakang Luka, "Tapi sepertinya aku tidak bisa pakai seragam itu."

"Kau..." Kiyoteru-sensei benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Yuuya. Orang itu tersenyum ke arah Kiyoteru-sensei, lalu memukulkan tinjunya dengan akrab.

"Berikan yang terbaik," katanya. Kiyoteru-sensei sempat tertegun beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk mantap.

"Terimakasih! Kalau begitu, tolong ya!"

"Eh, tungg–" Luka tidak bisa berkata-kata saat Len dan Teto menariknya untuk ikut bersiap-siap.


"Dan begitulah, kita sudah meminta bantuan klub modelling untuk membantu merias kalian," ujar Kiyoteru-sensei saat para siswanya melihat sudah ada banyak orang yang berjaga di sana sambil memegang berbagai alat kecantikan.

"Ya ampun, sepertinya kita harus jadi banci dulu untuk sementara," bisik Gakupo pada Kaito. Anak biru itu tersenyum.

"Kau sih sudah tidak perlu jadi banci. Kenyataannya memang sudah 'kan?" cengir Kaito. Gakupo langsung menepak kepalanya dengan kesal. Yang ditepak malah tertawa-tawa geli.

"Tu-tunggu! Kenapa aku harus ikut-ikutan juga? Aku 'kan tidak akan tampil di panggung!"

Kaito, Gakupo dan Len langsung menoleh pada Luka, orang yang berceloteh barusan.

"Luka-senpai!" panggil Kaito, "Kenapa? Kau juga termasuk anggota band lho!"

"Ta-tapi..."

"Sudahlah, ayo Luka-chan!" Teto menarik-narik lengan Luka dari balik tirai. Sedang kan Miku berusaha mendorongnya untuk masuk dari luar.

"Ayo cepat anak-anak!" seru Kiyoteru-sensei sambil menepuk-nepuk tangannya berulang kali, "Kalau sudah siap, langsung ke belakang panggung!"

"Baik, Sensei!"


"Kita pakai cat rambutnya juga ya?" tanya Gakupo saat orang-orang di sekitarnya sibuk menyemprotkan cat rambut ke sana-sini. Kaito dan Len mengangkat bahu mereka.

"Tidak ada pilihan lain 'kan? Kiyoteru-sensei sudah menyediakannya di kotak itu," sahut Len, "Tapi kenapa warnanya merah ya?"

"Wajar 'kan? Kita juga akan menyanyikan lagu cinta," sahut Gakupo, "Iya 'kan, Kaito?"

Kaito terdiam sebentar sebelum mengangguk-angguk.

"Benar sih, tapi kurasa ada alasan lain," ujarnya yang membuat Gakupo dan Len saling pandang heran. Kaito tersenyum.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Luka begitu selesai didandani. Miku dan Teto dari tadi terus-terusan memandangi Luka dari atas sampai bawah.

"Waaa... Luka-chan, kawaii!" seru Teto.

"Luka-senpai benar-benar cantik!" tambah Miku.

"Ja-jangan begitu!" jerit Luka sambil berusaha menutupi wajahnya karena malu.

"Anak-anak cowok bagaimana ya? Sepertinya mereka belum selesai..." Teto mencoba mengintip dari balik tirai. Sejurus kemudian, Teto ber-waaa-ria sambil menyimpan kedua tangannya di pipi.

"Mereka keren sekali, lihat!" seru Teto sambil memperhatikan anak-anak laki-laki yang sekarang sudah siap untuk tampil. Tapi saat melihat Kaito dari belakang, Teto langsung memicingkan matanya.

"Aka..."

"Waaa...!" tiba-tiba Miku berseru dari belakang punggung Teto, "Mereka benar-benar keren!"

"A-ah, iya, kau benar!" balas Teto sambil tertawa. Dia lalu menatap Luka yang sepertinya jadi terlihat gelisah. Akhirnya gadis itu mengerti kenapa Luka tidak mau ikut ke ruang ganti. Apa mungkin karena dia takut saat melihat Kaito... dengan rambut merah? Tentu saja. Kaito berambut merah 'kan sangat mirip dengan...

"Ayo keluar!" ajak Miku sambil menarik lengan Teto dan Luka. Teto sampai kaget gara-gara lamunannya tiba-tiba saja dibuyarkan Miku.

"Tu-tunggu, Miku!" keluh Luka.

JREEEEENG!

"Waa..." Len, Kaito dan Gakupo langsung terpesona saat melihat gerombolan anak gadis keluar dari balik tirai mereka.

Para gadis terlihat imut namun juga macho dengan setelan seperti itu; mereka semua sama-sama memakai rompi putih gelap dan kaos merah. Mereka juga memakai rok di atas lutut dan kaus kaki panjang berwarna hitam sehingga terlihat sangat keren.

"A-ano..." Luka langsung mematung saat melihat Kaito menatapnya, "A-aku... aku ke toilet sebentar!"

"Tungg–Luka-senpai!" panggil Miku saat Luka berlari keluar ruangan.

"Ehm, kalau begitu, ayo kita pergi duluan," ajak Teto sambil menggiring semuanya ke luar ruangan sehingga mereka berjalan menuruni tangga dan berkumpul di depan bagunan club.

Kaito merasa ada yang tidak beres sehingga dia tidak ikut pergi ke belakang panggung dengan beralasan ingin buang air ke toilet. Setelah Kaito pergi, Gakupo juga merasakan hal yang sama anehnya dengan Kaito. Kalau dipikir-pikir, Kaito itu...

"Kalian duluan saja ya," sahut Gakupo, "Aku mau ambil minuman dulu, tenggorokanku kering nih!"

"Hei!" panggil Teto.

Miku memperhatikan ekspresi Teto yang sepertinya sedang kebingungan. Dia jadi sedikit khawatir. Mudah-mudahan tidak akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak, doanya dalam hati.


Gakupo berlari ke arah toilet, tapi tidak menemukan siapa pun di sana. Kemana perginya mereka berdua? Batin Gakupo, panik. Anak itu menatap jam tangannya. Waktu mereka tampil hanya tinggal setengah jam lagi. Seharusnya mereka semua sudah berada di belakang panggung sekarang.

"Apa sih yang mereka pikirkan?!" gerutu Gakupo sambil terus mencari.


"Kenapa kalian belum berkumpul semua? Mana yang lain? Waktunya sudah hampir tiba," kata Kiyoteru-sensei saat hendak memberikan pengarahan sebelum tampil di panggung. Yang lain hanya saling pandang tanpa berkata-kata.

"Sudah kuduga," gumam Miku, "Kurasa aku akan mencari mereka."

Gadis itu langsung pergi dari belakang panggung tanpa menunggu ijin dari Kiyoteru-sensei.

"Tunggu! Miku!" panggil Teto. Kiyoteru-sensei menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sebaiknya kalian sudah berkumpul semua saat aku kembali," ucap beliau dengan nada kesal. Teto dan Len tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

"Tidak ada pilihan lain. Kita tunggu mereka sampai tiba di sini," putus Teto. Len mengangguk setuju.


Kaito tahu Luka tidak bermaksud pergi ke toilet atau yang semacamnya. Dia menyadari hal itu saat Luka menatapnya setelah keluar dari balik tirai. Apa yang Luka lihat bukanlah dirinya, melainkan sosok kakaknya, dan Kaito tidak ingin Luka berpikiran seperti itu.

Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Kaito memutuskan untuk mengecek seluruh ruangan di lantai tiga. Dan benar saja. Dia menemukan Luka sedang duduk sendirian di bekas ruang paparrazi.

Sekarang keadaan di lantai tiga ini sudah kembali tenang. Seingatnya, para penata rias dari klub modelling itu juga buru-buru pergi setelah menyesaikan tugas mereka karena sepertinya masih memiliki perkerjaan lain. Jadilah suasananya sunyi seperti biasa.

"Luka-senpai..." panggil Kaito sambil berjalan mendekati Luka pelan-pelan.

"Ah... Kaito," balas Luka sambil tersenyum menatap Kaito.

Anak laki-laki itu tertegun beberapa saat saat menyadari luka tersenyum sambil menangis. Bekas air mata terlihat jelas di kedua pipinya. Kaito buru-buru menghampiri Luka, lalu berdiri hadapannya dengan khawatir.

"Luka-senpai, kau–"

"Kaito..." potong Luka sambil menatap lekat-lekat mata biru Kaito. Yang ditatap hanya terdiam, menunggu kelanjutan dari kalimat si gadis yang masih menggantung.

"Kau itu..." gumam Luka sambil menunduk, "Akaito... 'kan...?"

"Luka-senpai, ini aku, Kaito," tegas Kaito, mencoba meyakinkan senpainya itu.

"Kaito, maukah kau membantuku?" tanya Luka tanpa mengubah posisi kepalanya yang sedang menunduk.

"Apa itu?" tanya Kaito.

"Tolong jangan berada di dekatku untuk beberapa waktu," katanya. Kaito terdiam.

"Kau tahu 'kan kalau perasaanku sekarang ini sedang kacau?" ujar Luka sambil mengangkat wajahnya sedikit, "Tolong tinggalkan aku sendiri."

"Aku... tidak bisa," balas Kaito sambil menunduk.

"Kenapa?" tanya Luka. Kaito tidak bisa membalas pertanyaannya karena dia tidak tahu kenapa.

"Kau tahu 'kan bagaimana perasaanku terhadap kakakmu?" tanya Luka sambil menyapu sisa air mata di pipinya, "Apa kau tidak pernah berpikir kalau aku jadi menyukaimu juga?"

Tek!

Kaito langsung mematung di depan gadis itu. Apa? Apa maksud perkataannya tadi? Jangan bilang kalau Luka-senpai...

"Kaito..." gumam Luka sambil menatap mata Kaito, "Kau masih ingat dengan seseorang yang kau ajak berdansa waktu itu?"

Deg.

Kaito tidak bisa berkata-kata. Semua bayangan saat pesta kostum beberapa waktu silam langsung terlintas di benaknya. Entahlah. Bayangan itu langsung menari-nari dalam pikirannya dengan tiba-tiba, sedangkan Luka terus saja berbicara.

"Aku tidak mau menghancurkan hubunganku dengan teman-teman yang lain," Luka tersenyum, "Makanya aku tidak menceritakannya padamu."

"Menceritakan... apa?" tanya Kaito, terbata.

Tiba-tiba saja sebuah perasaan takut menyeruak ke dalam hatinya.

Takut menerima fakta yang ada jika orang yang selama ini dia cari bukanlah seseorang yang kini sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya...

Takut menerima fakta bahwa ternyata dia sudah mengabaikan orang lain yang seharusnya menjadi orang yang dia anggap paling penting di dunia ini...

Takut menerima fakta kalau ternyata selama ini dia sudah salah... mencintai.

"Aku sudah menyadarinya saat kau mulai mencari-cari seseorang, dan aku tahu kalau kau sudah merasa menemukannya..." kata Luka, "Tapi..."

"Luka-senpai," potong Kaito. Pikirannya sekarang jadi sangat kacau, "Kau begini karena terlalu terpuruk dengan masa lalu, aku yakin itu. Kau masih terjebak dengan masa lalumu."

Luka menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak–"

"Ya. Aku sangat yakin kalau semua ini akan berakhir saat kau berhenti memikirkannya," kata Kaito cepat, "Karena itu, sadarlah Luka-senpai, dan tidak usah mengatakan hal-hal yang aneh seperti itu."

"Kaito..."

"Tidak usah mengatakan hal yang tidak perlu. Kau harus segera terbebas dari masalalumu, Senpai," tukas Kaito, "Kalau sudah begitu, semuanya akan kembali seperti semula! Dan aku tidak akan salah mencari orang yang–"

"Kau salah!" getas Luka, "Aku tidak terjebak di masa lalu, aku hanya ingin mengatakan kalau sebenarnya orang yang sedang kau cari itu adalah–"

"HENTIKAN!" bentak Kaito. Luka tersentak.

"Senpai harus segera menghentikan ini!" tegas Kaito, "Apa kau ingin mengatakan kalau aku seharusnya menyukaimu? Apa kau pernah sekali saja memandang Gakupo, orang yang sangat menyayangimu selama ini? Kau tahu bagaimana perasaannya terhadapmu?!"

"Ini semua tidak ada hubungannya!" balas Luka, "Aku memang menyukai Akaito, tapi aku tetap menyayangimu sebagai seorang adik!"

"Tapi, kau bilang–"

"Itu karena sekarang kau terlihat sangat mirip seperti dia, dan aku belum terbiasa dengan hal yang seperti ini!"

"Kalau memang begitu, kau tidak perlu sampai mengungkit-ungkit masalahku seperti kau mengetahuinya!"

"Itu memang benar! Dan orang yang selama ini kau cari adalah aku! Itu aku, Kaito! Bukan Miku!" seru Luka. Kaito tertegun. Semua ketakutannya pun... menjadi kenyataan.

Jadi... selama ini... Hime itu adalah...

Ckits!

Tiba-tiba Kaito mendengar sebuah suara sepatu bergesekan dengan lantai kayu. Tanpa memperpanjang percakapan, anak itu pun langsung berlari keluar ruang klub untuk melihat apa yang terjadi.


Miku tertegun di tempatnya berdiri. Dari tadi dia mendengarkan percakapan antara Kaito dan Luka. Sebenarnya gadis itu sempat mencari-cari ke berbagai tempat, namun kemudian tepat terakhir yang dipikirkannya adalah bangunan club sendiri. Lalu, tanpa sengaja dia mendengar semuanya. Semuanya...

"Senpai harus segera menghentikan ini! Apa kau ingin mengatakan kalau aku seharusnya menyukaimu? Apa kau pernah sekali saja memandang Gakupo, orang yang sangat menyayangimu selama ini? Kau tahu bagaimana perasaannya terhadapmu?!"

"Ini semua tidak ada hubungannya!" balas Luka, "Aku memang menyukai Akaito, tapi aku tetap menyayangimu sebagai seorang adik!"

"Tapi, kau bilang–"

"Itu karena sekarang kau terlihat sangat mirip seperti dia, dan aku belum terbiasa dengan hal yang seperti ini!"

"Kalau memang begitu, kau tidak perlu sampai mengungkit-ungkit masalahku seperti kau mengetahuinya!"

"Itu memang benar! Dan orang yang selama ini kau cari adalah aku! Itu aku, Kaito! Bukan Miku!"

Deg!

Dan orang yang selama ini kau cari adalah aku! Itu aku, Kaito! Bukan Miku!

Miku terpaku. Ternyata benar... ternyata semua itu benar... pantas saja dia pernah merasa ada yang aneh. Ternyata... Kaito memang salah telah bertemu dengan dirinya.

Menyadari hal itu, dada Miku terasa sesak. Matanya panas. Air mata pun mengalir. Meskipun tidak ingin menangis, tapi Miku tidak bisa menghentikannya. Semuanya sudah jelas. Miku seharusnya tidak pernah bertemu dengan Kaito. Dari awal semuanya tentang Luka. Hanya Luka.

Miku segera berlari menjauh dan menuruni tangga. Saat itu, Gakupo keluar dari balik pintu ruang klub reporter yang berada di depan ruang klub musik setelah menyadari kehadiran Miku karena suara decitan yang diciptakannya ketika melangkah cepat di atas lantai.

"Siapa itu?!" seru Kaito saat keluar dari ruang musik.

Dan sesuatu pun berdebam di dadanya saat melihat seorang gadis sedang berlari menuruni tangga. Itu Miku! Saat Kaito hendak mengejar gadis itu, tiba-tiba dia melihat pintu ruang klub reporter yang ada di hadapannya sedang terbuka. Anak itu juga menemukan Gakupo berdiri di sana dengan wajah terkejut.

"Gakupo?" gumam Kaito. Yang namanya dipanggil hanya menunduk menatap lantai, lalu berjalan mendekati Kaito.

"Kejar dia," suruhnya sambil menepuk pundak Kaito.

"Aku..." Kaito terlihat serba salah menghadapi Gakupo, tapi anak itu menggeleng tegas.

"Kejar dia sekarang!"

Kaito menatap Gakupo lekat-lekat.

"Maaf!" gumamnya, lalu berlari ke lantai bawah untuk mengejar Miku.

Sekarang, Gakupo bisa melihat Luka yang sedang menatapnya dengan tatapan kaget. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa saat Gakupo datang dan menghampirinya ke ruang musik.


"Miku! Tunggu! Miku!" Kaito terus-terusan memanggil nama gadis yang membuatnya panik itu sejak tadi, tapi gadis itu tidak menyahutinya.

Si gadis malah terus berlari keluar gedung, lalu masuk ke dalam kerumunan masa. Kaito sempat kebingungan mencari gadis itu di depan kerumunan banyak orang, tapi kemudian dia berhasil menangkap sosoknya yang akan keluar melewati gerbang sekolah. Kaito segera melangkahkan kakinya memasuki kerumunan.


Kiyoteru-sensei yang sedang berada di pojokan panggung untuk memeriksan jalannya acara langsung menghentikan tugasnya ketika melihat Kaito berlari di antara kerumunan dengan menggunakan baju panggungnya. Sekarang ini di atas panggung sedang diadakan pertunjukan musikalisasi puisi yang hampir selesai.

Guru muda itu menatap jam tangannya. Waktu tampil hanya tinggal sepuluh menit lagi.

"Dasar, apa yang dia pikirkan?!" gumam guru muda itu sambil buru-buru turun ke belakang panggung. Dia merasa sangat heran saat melihat yang ada di sana hanya Teto dan Len saja dari tadi–semenjak Miku pergi.

"Kemana yang lainnya? Kenapa belum kembali?" tanya Kiyoteru-sensei, "Waktunya tidak akan cukup!"

"Ano, Sensei... bagaimana kalau aku ikut mencari–"

"Ck! Aku yang mencari, kalian tetap di sini!" putus Kiyoteru-sensei, memotong perkataan Teto. Sebelum pergi, Kiyoteru-sensei menatap Teto dan Len.

"Kalau waktunya sudah tiba, kalian langsung pergi ke atas panggung," suruhnya.

Teto dan Len hanya berpandangan dengan bingung sepeninggal Kiyoteru-sensei.

"Menurutmu apa yang harus kita lakukan?" tanya Len pada Teto. Gadis itu menggeleng lemah.

"Mereka tidak akan kembali. Kalau begini, tidak ada cara lain," balas Teto, "Kita berdua yang harus menyelamatkan pertunjukan ini."

"Maksudmu, hanya kita berdua yang akan berada di atas panggung?" tanya Len, "Aku tidak mau."

"Kenapa?"

"Lagipula, kenapa Senpai bisa dengan yakinnya berkata kalau mereka tidak akan kembali?" tanya Len lagi. Teto terdiam.

"Itu terlalu rumit..."


Kaito terus mempercepat langkah-langkah panjangnya di pinggiran jalan raya, mengejar Miku yang tidak mau berhenti berlari. Gadis itu terlalu sedih menerima kenyataan kalau ternyata orang yang disukainya sudah salah mengenal orang. Ini terlalu menyakitkan. Terlalu menyedihkan.

Miku terus berlari tanpa arah. Dia berkali-kali menabrak orang yang sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Gadis itu tidak memperhatikan jalan yang dia tapaki sehingga tanpa sadar kedua kaki kecil si gadis membawanya ke tengah-tengah jalan raya.

Kaito yang melihat Miku berlari ke tengah-tengah jalan seperti itu langsung merasa waswas. Dan kekhawatirannya pun benar-benar terjadi. Sesaat setelah Miku berlari ke jalan saya, Kaito melihat sebuah mobil besar berkecepatan tinggi sedang melaju ke arah gadis itu. Spontan Kaito berteriak keras,

"MIKU! AWAAAAAS!"

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!

Miku langsung terpaku dengan kaget saat menoleh dan mendapati sebuah mobil besar sedang melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak sempat melihat apa-apa lagi selain sosok Kaito yang sedang berlari ke arahnya dengan kedua tangan terulur, dan...

BRUAAAAAAAK!


Kiyoteru-sensei berlari-lari kesana kemari untuk menyusul Kaito. Tadi dia sempat melihat anak berambut biru itu berlari keluar sekolah. Entah untuk apa. Tapi sepertinya dia sedang terburu-buru.

Kiyoteru-sensei memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan tanda-tanda keberadaan anak itu. Jalanan sempat penuh dengan mobil yang melaju pelan-pelan, ini menyulitkannya bergerak jika melihat sosok Kaito.

Setelah beberapa lama berlari-lari mengikuti arah jalan, Kiyoteru-sensei mendengar suara sirine ambulans dan melihat orang-orang berkerumun mengelilinginya juga sebuah truk besar pengangkut barang. Rupanya truk itu yang membuat mobil di belakangnya memadat.

"Maaf, ada apa ya?" Kiyoteru-sensei bertanya pada orang yang berada di paling belakang kerumunan.

"Ada siswa yang tertabrak," jawab orang itu.

Deg!

Tiba-tiba perasaan Kiyoteru-sensei langsung tidak enak. Guru itu buru-buru menerobos kerumunan untuk memastikan kalau siswa yang dimaksud bukanlah Kaito.

"Maaf, permisi..." guru muda itu akhirnya bisa menerobos kerumunan, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat darah berceceran di mana-mana. Tambah terkejut lagi saat dia melihat Kaito sedang membopong seorang gadis yang berlumuran darah segar dan membawanya ke dalam ambulans dengan tingkah panik.

Lutut Kiyoteru-sensei seketika terasa lemas. Gadis itu... mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Kaito. Itu artinya, dia adalah salah satu dari muridnya di klub musik.

Tanpa berkata-kata lagi, Kiyoteru-sensei langsung berlari untuk ikut masuk ke dalam ambulans.

"Se-sensei..." Kaito tercengang begitu melihat Kiyoteru-sensei tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam mobil.

"Cepat jalankan mobilnya!" seru Kiyoteru-sensei sambil menggebrak jendela belakang mobil.

Setelah mobil melaju, guru berkacamata itu menatap gadis itu yang sedang diberi pengobatan darurat di dalam mobil. Sekarang Kiyoteru-sensei baru sadar kalau dia adalah Miku Hatsune. Darah yang menutupi hampir seluruh wajahnya membuat sang sensei sulit mengenali gadis itu.

"Apa yang terjadi?!" Kiyoteru-sensei menggucang-guncang bahu Kaito yang saat ini sudah terlihat seperti orang tak bernyawa.

"Kaito! Apa yang terjadi dengan Miku?! Kenapa dia bisa seperti ini?!" bentaknya.

Kaito tidak bergeming. Dia hanya menatap Miku dengan pandangan kosong. Kedua tangannya yang bersimbah darah terlihat gemetar. Badannya menggigil.

"Kuso!" umpat Kiyoteru-sensei.


Teto dan Len sekarang bisa mendengar sorak sorai para penonton di luar panggung. Ini benar-benar membuat mereka gugup, apalagi mereka belum melihat anggota yang lain datang, padahal sekarang adalah waktunya untuk penampilan pertama klub musik.

"Teto-senpai, apa kau yakin?" tanya Len sambil mengintip keadaan panggung dari balik tirai. Di sana ada banyak sekali orang yang sedang menanti penampilan mereka.

"Kita harus mencobanya," Teto meyakinkan Len. Anak itu menghela napas pendek, lalu mengangguk.

"Tunggu!"

Sebuah suara menghentikan langkah mereka untuk naik ke atas panggung. Saat berbalik, Len dan Teto melihat Luka, Gakupo dan juga Rin sedang berlarian menghampiri mereka.

"Kalian! Dari mana saja?" omel Len, "Mana Kaito dan Miku? Lalu, kenapa dia ada di sini?" Len menunjuk Rin yang sedang mengatur napasnya karena kelelahan setelah berlari.

"Aku akan membantu!" ujar Rin, "Kau tahu 'kan aku bisa menyanyi?"

"Lho? Memangnya kau tahu lagu apa saja yang akan kami mainkan?" tanya Len. Rin menatap Gakupo dan Luka secara bergantian sambil tersenyum. Kedua orang itu sudah memberitahunya lagu apa saja yang hendak mereka mainkan.

"Idiot, tentu saja!" sahut Rin.

"Luka-chan, kau juga harus ikut bermain," kata Teto yang langsung mengundang perhatian Gakupo, Len, dan juga Rin.

"E-eh... aku? Kenapa?" tanya Luka. Teto tersenyum.

"Tunjukkan kemampuanmu," kata Teto sambil melempar sebuah wink padanya.

"Karena pemain keyboard-nya sedang tidak ada, jadi aku yang harus menggantikannya," tambah Teto, "Dan karena pemain bass-nya pindah profesi, kau yang harus menggantikannya."

"Eh, Luka, kau bisa main bass?" tanya Gakupo yang keceplosan memanggil nama Luka tanpa embel-embel 'senpai'. Semua orang langsung menatap mereka berdua dengan curiga.

"A-ah, tidak usah dipikirkan," kata Luka cepat, "Yang penting, aku akan berusaha."

"Tunggu, Senpai," tahan Len. Semua orang langsung menatap Len.

"Kau yakin tidak mau menunggu Kaito dan Miku kembali ke sini?" tanya bocah shota itu.

Semuanya langsung saling pandang sambil tersenyum penuh arti. Mereka pikir Kaito akan datang terlambat sambil membawa Miku ke atas panggung segera setelah menyelesaikan masalah mereka.

"Band Vocaloid, silahkan langsung naik ke atas panggung," seseorang memberi instruksi kepada mereka agar segera menaiki panggung.

"Mereka bisa hadir di tengah-tengah show nanti," kata Gakupo dengan percaya diri. Semuanya mengangguk.

"Yosh!"

Saat hendak melangkahkan kaki mereka ke atas panggung, tiba-tiba ponsel Len berdering dengan keras dan langsung mengganggu konsentrasi mereka yang akan naik ke atas panggung.

"Len, matikan ponselmu! Kau ini bagaimana sih?!" dumel Gakupo. Len buru-buru memeriksa layar ponselnya. Ternyata ada panggilan masuk dari Kiyoteru-sensei.

"Halo...?" sapa Len. Yang lainnya mendecak sebal karena Len malah menerima panggilan itu.

"Cepat jalankan mobilnya!" seruan Kiyoteru-sensei terdengar bersamaan dengan suara berisik seperti orang yang sedang menggebrak jendela mobil.

"Moshimoshi...? Sensei?" tanya Len.

Samar-samar anak itu bisa mendengar suara sirine ambulans dari seberang. Tapi karena tidak ada jawaban dari Kiyoteru-sensei, Len menatap keempat orang temannya yang sekarang ini juga sedang menatapnya dengan heran.

"Apa yang terjadi?!"

Tiba-tiba suara guru berkacamata itu terdengar lagi. Kali ini memakai nada panik. Len mengeryit. Ada apa?

"Sensei, moshimoshi?" ulang Len.

"Kaito! Apa yang terjadi dengan Miku?! Kenapa dia bisa seperti ini?!"

Mendengar perkataan Kiyoteru-sensei, Len kembali menatap teman-temannya.

"Band Vocaloid, sekarang!" bisik seorang panitia.

"Kuso!"

Setelah mendengar Kiyoteru-sensei mengumpat, Len benar-benar tidak bisa tenang. Dia langsung menutup panggilan.

"Sepertinya sesuatu sudah terjadi pada Miku," ujar Len, cemas. Gakupo dan Luka langsung saling bertatapan heran.

"Kiyoteru-sensei terdengar sangat panik, lalu aku juga mendengar suara sirine ambulans..." gumam Len sambil berusaha mencerna ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.

Tiba-tiba saja semua anggota klub musik plus Rin saling pandang seakan-akan tahu apa yang mereka sedang pikirkan satu sama lain.

"Ayo cepat!" Luka berlari lebih dahulu dari teman-temannya yang juga langsung pergi mengikuti gadis itu.

Mereka tidak berlari memasuki panggung melainkan ke arah yang berlawanan. Hal itu membuat panitia yang dari tadi sedang menunggui mereka hanya terbengong-bengong sendiri tanpa sempat menanyakan apa yang terjadi.


Yuuya yang sedari tadi asyik memperhatikan panggung di depan stand langsung terkejut saat sang MC mengumumkan kalau band Vocaloid mendadak digantikan dengan band selanjutnya yang ikut mendaftar untuk tampil.

"Hei, hei, apa maksudnya ini?!" geram Yuuya.

Tak lama kemudian, dia melihat segerombolan siswa berambut merah yang memakai seragam sama berlarian di antara kerumunan. Yuuya bisa melihat mereka karena pakaiannya yang mencolok. Sudah pasti mereka itu adalah para anggota band yang seharusnya saat ini tampil. Tapi kenapa malah kabur begitu?!

"Cih," Yuuya langsung masuk ke dalam stand, lalu mengusir semua pengunjung yang ada di sana.

"Saatnya tutup! Saatnya tutup!" serunya galak, "Angkat kaki kalian dari sini! Cepaaaat!"

Karena sikap Yuuya yang 180 derajat berubah dari ramah menjadi ganas, mau tak mau para pengunjung pun berlarian keluar. Yuuya langsung menempelkan tulisan SOLD OUT di depan stand, lalu pergi untuk mengejar gerombolan berseragam mencolok tadi tanpa memperhatikan pandangan heran orang-orang sekitar.


Kaito terus saja berdiri di depan pintu ruang Intensive Care Unit, tempat para pasien yang baru dilarikan ke rumah sakit diberikan perawatan darurat. Kiyoteru-sensei juga sedang berdiri di sampingnya dengan berharap-harap cemas.

proses perawatan Miku sudah berlangsung lebih dari satu jam saat tiba-tiba Gakupo, Len, Rin, dan Luka berdatangan ke rumah sakit. Teto dan Rin langsung menjerit tertahan begitu melihat baju dan tangan Kaito penuh dengan darah.

"Kalian...!" gumam Kiyoteru-sensei.

Luka langsung menghampiri Kaito dan mengguncangkan kedua bahunya, sedangkan Gakupo, Len, dan Rin berkumpul di sekeliling anak itu.

"Apa yang terjadi?! Di mana Miku?!" tanya Luka.

Kaito hanya menatap Luka dalam diam. Air mata membasahi kedua pipinya, membuat noda darah yang masih menempel di pipi ikut mengalir bersamaan dengan jatuhnya air mata.

"Kaito..." Rin tak bisa berkata-kata.

Gakupo dan Len saling pandang dengan bingung sekaligus panik. Melihat baju Kaito seperti itu–bersimbah darah–mereka yakin kalau keadaan Miku sedang gawat di dalam. Kedua orang itu lalu mengampiri Kiyoteru-sensei yang sedang berdiri tak jauh di belakang Kaito untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya.

"Sensei!" panggil keduanya.

"Apa tadi Sensei menelponku?" tanya Len. Si sensei menggeleng dengan heran.

"Kenapa kalian ada di sini?" dia balik bertanya. Len mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan log panggilan masuk dengan ID pemanggil Kiyoteru-sensei.

Guru muda itu ikut mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu mengecek apa dia pernah memanggil Len. Dan ternyata sewaktu dibuka, layar sedang menunjukkan nomor kontak Len yang memang telah selesai dipanggil.

"Sepertinya aku tidak sengaja menelponmu saat Miku mengalami kecelakaan," ujarnya.

Gakupo dan Len tidak terkejut karena sudah bisa menebak apa yang terjadi saat melihat penampilan Kaito yang berdarah.

"Kalau Kaito, dia baik-baik saja," tambah Kiyoteru-sensei, "Dia yang membawa Miku ke dalam ambulans setelah tertabrak mobil."

Gakupo terdiam beberapa saat sambil menatap punggung Kaito. Tiba-tiba suatu perasaan bersalah langsung mengerayangi dadanya. Perasaan marah juga menyelusupi hatinya. Marah pada dirinya sendiri. Dia merasa kalau semua ini adalah salahnya.

Seandainya dia tidak pernah menguping pembicaraan Kaito dan Luka di ruang musik... seandainya dia tidakmenyuruh Kaito untuk mengejar Miku... hal seperti ini...

"Kaito..." panggil Gakupo sambil berjalan pelan mendekati Kaito, "Aku..."

Cklek!

Tiba-tiba pintu terbuka. Semua orang langsung memandang sang dokter yang baru keluar dari ruang ICU.

"Anda walinya?" tanya dokter pada Kiyoteru-sensei. Guru itu mengangguk cepat.

"Ikut saya. Ada yang harus saya jelaskan," kata dokter itu. Semua mata saling pandang dengan waswas.

"Baik," sahut Kiyoteru-sensei, lalu pergi mengikuti sang dokter ke ruang kerjanya.


Sekarang Miku sudah dipindahkan ke ruangan perawatan biasa sehingga penjenguk sudah bisa melihat keadaan Miku walaupun hanya diijinkan selama beberapa menit saja. Selama masa penjengukan itu, Luka terus-terusan menangis dan berkata kalau semua itu adalah salahnya. Teto dan Rin yang menenangkan gadis itu.

Gakupo melirik Luka yang saat ini terlihat sangat terpukul. Tak dapat dipungkiri kalau dia juga merasa sangat terpukul dengan kejadian ini.

Melihat Miku terbaring tak berdaya dengan selang-selang yang berseliweran kesana-kemari membuat dadanya terasa sakit. Dan Gakupo juga yakin kalau Luka merasa lebih bersalah dari dirinya karena secara garis besar, gadis itu menyangka kalau yang menyebabkan kecelakaan ini adalah masalah yang sudah diciptakannya.

Anak itu langsung teringat akan percakapannya dengan Luka di ruang musik.

Flashback:

Gakupo menghampiri Luka yang mash terduduk di dekat jendela. Gadis itu sepertinya tidak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana, sehingga yang dia lakukan hanya menunduk menatap lantai.

"Luka-senpai," panggil Gakupo.

"..."

"Sepertinya Miku sudah mendengar semuanya, jadi Kaito pergi untuk mengejar dia," kata anak jabrik itu. Luka tidak merespon perkataannya.

"Kalau ada sesuatu yang terjadi pada mereka..." gumam Gakupo sambil menatap keluar jendela, "Apa kau akan menyalahkan dirimu?"

Luka tetap terdiam.

"Senpai," panggil Gakupo lagi. Kali ini Luka sedikit menggerakkan kepalanya ke atas untuk mendongak menatap Gakupo.

"Bagaimana kalau hubungan mereka hancur? Apa yang akan kau lakukan?"

Mata Luka mulai berkaca-kaca. Dia tidak ingin mendengar sesuatu seperti itu. Dia tidak ingin menghancurkan hubungan siapa pun. Tidak ingin.

"Haaaah... ini benar-benar rumit. Bagaimana jadinya kalau Kaito berbalik dari Miku? Ditambah lagi, kau menganggap dia yang sekarang itu Akaito 'kan?" tanya Gakupo, "Kalau benar begitu, apa kau akan merebutnya dari Miku?"

"Apa... maksudmu?" tanya Luka dengan suara serak.

"Tidak," Gakupo tersenyum hambar, "Aku hanya ingin bilang kalau aku tidak mau temankudisukai bukan karena dia itu dirinya."

Luka menunduk lagi. Dia tidak bisa membantah. Tidak siap melakukannya. Gadis itu memang tidak menyukai Kaito. Tidak. Tapi...

Tiba-tiba Gakupo memegang kedua pundak Luka yang langsung membuat gadis itu menatap kedua matanya.

"Apa kau ingin berubah?" tanya Gakupo. Luka mengerjapkan matanya berulang-ulang. Apa?

"A-aku..." Luka tidak tahu harus berkata apa.

"Apa kau ingin berubah?" ulang Gakupo. Kali ini nada bicaranya lebih serius.

Luka meneguk ludah. Dia... gugup. Benarkah dia gugup...? Fakta berkata dia memang sedang merasa gugup, terbukti dengan lidahnya yang tiba-tiba terasa kelu untuk berkata-kata.

"Katakan kalau kau ingin berubah," ujar Gakupo.

"Aku..."

"Kalau kau mau, aku bisa saja menjadi penggantinya," senyum si anak jabrik, "Kau tidak perlu berjuang sendirian. Aku bisa membantumu untuk keluar dari semua masalah ini."

"Maksudmu..."

"Pacaran saja denganku," kata Gakupo. Luka terkesiap mendengar perkataan anak itu barusan.

Hening terjadi selama beberapa detik sebelum akhirnya Luka menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan terbaik yang sedang berada dalam pikirannya saat itu.

"Kalau begitu... aku harus segera memberitahu Miku kalau Kaito benar-benar sudah menyukainya. Bukan aku," gumam Luka. Gakupo mengerutkan dahinya.

"Maksudmu?" tanyanya, tidak mengerti.

Wajah Luka langsung merona. Sudah jelas kalau artinya gadis itu mau berpacaran dengan dia. Tapi, dasar anak laki-laki, mereka memang tidak peka dengan hal-hal seperti ini.

"Iya, maksudku..." Luka bingung menjelaskannya.

"Ya sudah, Senpai, kalau memang kau belum bisa menerimaku," kata Gakupo pasrah, "Tapi mulai sekarang, boleh 'kan aku memanggilmu 'Luka'?"

"Bu-bukan begitu, aku... aku bilang..." Luka menggigit bibirnya, masih merasa bingung untuk menjelaskan lebih lanjut.

Gakupo masih menunggu kelanjutan kalimatnya. Tapi karena kelanjutan itu tak kunjung datang, akhirnya dia hanya bisa mendesah panjang dengan nada kecewa.

"Yah, pokoknya mulai sekarang aku akan memanggilmu Luka saat sedang berduaan seperti ini," putus Gakupo, seenaknya. Luka hanya menunduk dalam diam.

"Saa, kita kembali ke belakang panggung–shimatta!" Gakupo berseru kaget saat dia menatap jam tangannya. Waktunya benar-benar sudah mepet.

"Kita benar-benar terlambat!" seru Gakupo dengan panik.

"Bagaimana dengan Kaito dan Miku? Kita harus mencari mereka juga!" seru Luka, ikut panik. Gakupo menggeleng cepat.

"Mereka itu menyusahkan, sebaiknya kita pergi mencari bantuan orang lain untuk berjaga-jaga... ng... Rin, ya! Rin bisa menyanyi menggantikan Miku!" kata Gakupo.

"Kalau begitu, ayo kita cari!"

End of Flashback


Kaito menguping pembicaraan Kiyoteru-sensei dengan dokter yang merawat Miku di balik pintu yang sedang tertutup. Dia paham dengan apa-apa yang dijelaskan si dokter mengenai bagian belakang kepala Miku yang terkena benturan dengan keras.

Namun dia masih belum dapat mencerna kata-kata sang dokter saat dokter itu menjelaskan bahwa ada suatu kerusakan pada bagian otaknya yang terhubung dengan syaraf penglihatan.

"Itu artinya, pasien..."

Kaito terkesiap. Dia benar-benar tidak siap dengan pernyataan sang dokter yang selanjutnya. Ini membuatnya berpikiran yang tidak-tidak tentang Miku. Tidak, tidak... tidak akan terjadi apa-apa pada Miku, tegas Kaito dalam hati. Dia akan baik-baik saja. Dia baik-baik saja...

Saat anak itu menoleh lagi, dia melihat Kiyoteru-sensei sedang terduduk tegang di atas kursinya bersamaan dengan suara sang dokter yang menyelesaikan kalimatnya.

"...tidak dapat melihat lagi..."

Deg!

Dada Kaito bagaikan dihantam dengan godam keras begitu mendengar berita ini. Itu artinya, pasien tidak dapat melihat lagi. Bohong... ini bohong...

Apa itu berarti Miku...

Tap! Tap! Tap!

Tiba-tiba dia Kaito mendengar suara langkah kaki menghentak ke arahnya. Saat menoleh, dia langsung disudutkan ke dinding.

BRUK!

"Katakan apa yang terjadi!"

Kaito melotot saat melihat orang di hadapannya. Orang itu adalah Yuuya!


Flashback

Yuuya sempat terbingung-bingung begitu melihat Len dan kawan-kawan malah pergi ke rumah sakit setelah keluar dari sekolah. Saat itu pikirannya kacau karena di antara gerombolan Len itu, Miku dan Kaito tidak ada. Sudah pasti ada sesuatu yang terjadi dengan salah satu dari keduanya. Apakah itu Miku, atau Kaito.

Saat hendak memasuki rumah sakit, dia kehilangan jejak Len dan kawan-kawan sehingga terpaksa mencari tahu sendiri dengan bertanya pada petugas. Petugas yang saat itu berjaga mengatakan kalau beberapa waktu lalu ada seorang pasien perempuan berseragam di bawa ke ruang ICU setelah mengalami kecelakaan. Hatinya langsung merasakan firasat buruk.

Saat sedang mencari ruang ICU dengan perasaan kacau, dia menemukan Kaito dengan pakaiannya yang... bersimbah darah...?! Perkataan petugas rumah sakit tentang seorang siswi berseragam pun langsung terngiang di pikirannya. Spontan dia langkahkah kakinya menghampiri Kaito dengan gusar.

End of Flashback


"Apa yang terjadi?!" geram Yuuya. Kaito hanya bisa menatap Yuuya dengan pandangan kosong.

"Buta..." gumamnya yang tidak dimengerti Yuuya sama sekali.

"Apa-apaan itu?! Siapa yang buta?! Kenapa kau mengatakannya?!" tanya Yuuya dengan tidak sabar.

Kaito menatap kedua tangannya yang masih berdarah. Yuuya merasa kalau firasat buruknya tentang Miku semakin menjadi-jadi.

"Apa yang terjadi pada Miku?!" geramnya.

"Miku..."

Cklek!

Kiyoteru-sensei keluar dari ruangan, dan begitu terkejut saat melihat Kaito dan Yuuya sedang berada di koridor. Saat melihat Kiyoteru-sensei keluar, Yuuya bergegas menghampirinya dengan marah.

"Apa yang terjadi pada Miku?!" geramnya sambil mencengkram kerah baju Kiyoteru-sensei yang tanpa perlawanan.

"Miku... mengalami kecelakaan..." ucap Kiyoteru-sensei dengan nada lemas. Yuuya melebarkan kedua matanya karena terkejut.

"Dokter bilang kalau..."

"Sensei!" tiba-tiba Gakupo, Len, Luka, Rin, dan Teto berlarian ke arah Kiyoteru-sensei saat mereka dikejutkan dengan kehadiran Yuuya dan kata-kata yang keluar dari mulut guru berkacamata itu.

"Miku... tidak akan dapat melihat lagi..."

Semuanya tercengang dalam diam.

.

.

.

"Bohong..." Luka menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Pundaknya langsung bergerak naik turun menahan tangis yang siap meledak.

Miku... buta?


Chapter ten's finished.

By Itachannio

Sang "Author Telat Apdet" (ATA-sesuai dengan singkatan nama asli XD) kembali hadir di antara sobat-sobat pembaca XD
Saya tidak tahu apa yang harus dibicarakan berhubung chapter ini pendek syekali sedangkan sobat pembaca harus menunggu lama agar bisa membaca lanjutannya
Tapi mudah-mudahan sobat pembaca masih terus semangat untuk mengikuti jalannya cerita ini! XD XD

Oh iya. Rencananya cerita ini akan di-update setiap hari minggu, tapi belum tahu hari minggu di minggu ke berapa. Mudah-mudahan update yang selanjutnya tidak selama yang ini. Doakan yaaah XD

Oh ya! Saya masih tetap dalam pengobatan penyakit typo, jadi jika kalian menemukan banyak cacat, kasih tahu saya ya :D

Next Chapter

Cahaya di Matamu


Review's reply:

Park Hyesung – Shiranai Yukou:

Ehehehehehehe... Ternyata dirimu masih sempat membaca dan me-review fanfic ini kawan! Terima kasih XD

Masalah typo masih ada juga DX mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu :') arigatoo, teruslah beri aku obat, Sensei! XD

Btw soal Yuuya... author malah tidak tahu dia vocaloid berapa. Asal masukin aja *lalalalala* XD

Oke deh! Mampir lagi yaa XD

Tachibana Akira:

Benarkaaaaaah?! Iya dilanjutin kok! XD XD

Arigatoo, mampir lagi ya! XD