Pagi hari lainnya lagi.

Kali ini Meiko mendapati bahwa Kaito berangkat terlalu pagi karena pada pukul 6 pagi, dia sudah tidak ada di apartemennya.

Cowok itu mengirim pesan padanya.

/Maaf, Mei-chan. Aku baru ingat ada tugas yang belum sempat kukerjakan tadi malam, jadi aku langsung ke rumah Gakupo buat numpang ngerjain di komputer rumahnya. Lumayan gratis, 'kan? :D/

"Hhh, dasar. Bakaito."

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu.

Meiko selalu diwanti-wanti untuk tidak membuka pintu apartemen jika ada yang datang berkunjung kecuali ada Kaito bersamanya. Karena ya, itu sangat berbahaya, bukan? Berhubung hanya segelintir orang yang tahu bahwa mereka sedang tinggal satu atap diam-diam.

Kalau kasusnya sama seperti ketika Miko datang, semua akan jadi lebih mudah.

"Kaito, aku masuk ya—"

Btw, Meiko tidak sempat memeriksa apakah pintu sudah dikunci. Dia terlambat menyadarinya.

Jadi dengan Meiko yang berdiri di ruang tengah, pintu terbuka dan menampakkan seseorang sedang berdiri di depan pintu. Orang itu sangat mirip dengan Kaito. Hanya saja rambutnya berwarna merah dengan sedikit highlight hitam di poni.

Mereka berdua sama-sama menganga.

"Siapa?" Meiko bertanya, mulai merasa panik. Kendati menjawab, cowok itu lebih memilih untuk diam hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu,

"Sejak kapan Kaito punya kebiasaan menyimpan cewek di apartemennya?"


.

.


Kejutan yang Datang Secara Beruntun

What Did You Say?—

Chapter 10 : Bukan Siti Nurbaya, rek!


.

.


"HACHII!"

"Kaito-senpai kenapa?" Len bertanya dengan khawatir pada Kaito yang telah mengeluarkan suara mengejutkan barusan.

"Ciee, Len khawatir," sindir Gakupo.

"Kakak cemburu ya?" Ucap Gakuko yang kebetulan lagi kumpul sama mereka gara-gara gak ada kerjaan.

Awalnya, Kaito datang ke rumah Gakupo dalam rangka mengerjakan tugas. Tapi ternyata ada Len. Dan karena hari ini Sabtu, makanya ada juga Gakuko, adik Gakupo, di rumah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bahwa semakin banyak orang, maka konsentrasi akan semakin pecah.

Intinya, sekarang Kaito tidak mengerjakan tugasnya. Malah berleha-leha. Yah, santai dululah. Meski dikejar deadline.

Btw, ngapain juga Len datang ke rumah Gakupo pagi-pagi begini? Mungkin dia punya keperluan yang sama dengan Kaito—sama-sama pengen numpang gratisan. Entah itu numpang meng-charge handphone, atau juga sekalian makanan.

"Gak tuh. Kakak malah merasa mereka seperti homo."

Kaito pun menyelepet Gakupo dengan gelang karet.

"APAAN SIH, KAITO?!"

"BACOD, DIEM!"

Melihatnya, Gakuko malah cekikikan gaje. Ketiga cowok lainnya tidak menyadarinya—atau justru tidak peduli.

"Aku gak apa-apa kok, Len. Aku tiba-tiba merasa ada yang sedang membicarakanku." Kaito mengalihkan pembicaraan dan menjawab kekhawatiran Len. Ciee, dasar homo.

"Emang siapa yang membicarakan Kak Kaito? Cewek?" tanya Gakuko asal.

"Ngibul banget. Jangan ke-GR-an dong, jadi orang," sahut Gakupo menghina Kaito.

"Bilang aja sirik," cibir Kaito.

"Siapa juga sirik sama orang gaje seperti kau."

Mereka berdiri berbarengan dan sempat terlibat baku-hantam sampai Len melerai mereka.

"Stop ah! Pagi-pagi udah berantem aja!"

"Tapi seru kok, Kak Len."

Tiba-tiba telepon genggam Kaito pun berdering. Ternyata Meiko memanggil.

"Halo."

"Kaito, kau harus pulang sekarang juga—atau setidaknya kau harus tahu bahwa kakakmu yang bernama Akaito itu datang ke rumah."

"APA?!" Trus kaki Kaito tercelup ke dalam cangkir berisi kopi panas milik Gakupo. "AAAAAARGH!"

"GAAAAH! KAITOOO! KOPI PAHITKUUU!"

"TIDAAAAAKKK! PORTOFOLIOKUUU!"

Ketiga cowok itu pun menjerit-jerit macam monyet kehilangan makanannya. Sementara Gakuko cuma memasang pose "cape deh".


.

.


"Jadi, apakah kau pacar Kaito?"

Kita kembali ke apartemen Kaito, di mana Meiko juga disibukkan dengan berbagai macam pertanyaan oleh Shion Akaito, kakak Kaito.

"Bukan."

"Lalu?"

"Teman."

"Teman apa teman?" Cibir Akaito.

"Kenapa kau mengurusi Kaito sampai segitunya?"

"Bukannya sudah kubilang tadi?" Akaito berbicara dengan suara meremehkan. "Aku Akaito, kakak Kaito yang teramat awesome ini, harus tahu apakah Kaito benar-benar sudah punya pacar selama kuliah di Tokyo ini atau belum!"

Meiko memicingkan matanya. "Bolehkah aku bilang kau itu terlalu PD—dan terlalu posesif pada adikmu sendiri?"

"Kau sudah mengatakannya barusan."

"Ayolah, adik tersayangmu itu sudah dewasa. Sudah berumur 22 tahun di 2016 ini. Jadi kupikir sebaiknya berhentilah berlebihan seperti itu."

"Apa kau berencana untuk merebutnya dariku?"

"Ck, untuk apa? Dan kenapa kau bisa ngomong seperti itu?"

"Karena kau suka sama dia?"

Meiko mendadak gelagapan mendengarnya. Akaito pun menyeringai.

"S-siapa juga yang suka sama orang idiot seperti dia, hah!"

"Ya itu kau, tsundere."

"Ts-tsundere?!"

"Sebutan untuk orang yang sangat senang bersikap kasar dan gengsi, padahal diam-diam lagi suka sama seseorang."

"Aku sudah tahu, bodoh. Jangan dijelaskan lagi seperti itu."

"Hah, dasar bocah."

"Seberapa tua kau ini sebenarnya?"

"Umurku 27 tahun, aku berbeda 5 tahun dari Kaito."

"Fuh, hanya beda 5 tahun dariku saja sudah sombong sekali. Kulempar pisau ke wajahmu baru tahu rasa kau."

"Hoo, kau tega melempari wajahku yang tampan ini dengan pisau?"

Meiko terdiam. Dia kehabisan kata-kata saking jengkelnya.

"Lihat? Kau tidak bisa membalasku lagi."

Meiko menatap tajam pada Akaito. Ibarat tatapan itu adalah pisau, entah sudah teriris berapa lapis kepala Akaito itu.

Lalu terdengar suara ketukan dari pintu.

"Aku yang membukanya," ucap Meiko dengan pelan. Terlihat sekali bahwa Meiko sebenarnya mau marah, tapi dia tahan karena rasanya tidak etis kalau dia mengamuk sekarang. "Semoga saja Kaito."

Sesuai dengan dugaan Meiko, ternyata Kaito-lah yang datang.

"Aku ke sini hanya ingin mengusirnya," ucap Kaito gamblang. Dan terlihat sekali bahwa dia baru saja lari maraton dari rumah Gakupo ke sini. "Aku tidak mau dia bikin keributan di sini."

Akaito mendengarnya dari dalam.

"Ah, Kaito. Jadi, seperti itukah salam perjumpaan kita setelah lama terpisah, hm?"

"Gak ada yang namanya salam perjumpaan. Dari dulu, kau memang tidak pernah peduli padaku, 'kan? Silakan keluar sekarang juga karena aku—dan Meiko bakal sibuk siang ini."

"Meiko?" Akaito terlihat mengangkat sebelah alisnya. Dia menoleh pada Meiko yang berdiri di depannya. "Ini Meiko yang itu?"

"Yang itu?" Meiko mengulangi ucapan Akaito. Dia penasaran apa yang membuat Akaito menjadi seperti itu hanya dengan mendengar namanya.

Awalnya Akaito hanya diam. Dia bergiliran memperhatikan Kaito, dan Meiko. Lalu dia menggeleng pelan dan menghela napas. Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Heh, ini akan menjadi sangat menarik."

"Apaan sih, Kak? Jangan sok keren deh."

Akaito mengibas-ibaskan tangannya. Benar apa kata Kaito barusan, Akaito sok keren. "Kaito, kapan kau tidak sibuk?"

"Kenapa memangnya?" tanya Kaito.

"Aku ke sini karena ada yang ingin kubicarakan denganmu... ini pesan dari Mama."

Kaito pun tercenung. Kalau sudah menyangkut orang tua, berarti ini adalah urusan yang genting. "Sungguh?"

"Hei, aku tidak bohong!"

"Mungkin besok sore aku senggang... kalau tidak ada tugas dadakan dari kampus."

"Sip. Kita bicara besok sore, tempatnya akan kuberitahu nanti. Dan tanpa harus kau usir, aku memang akan pergi setelah memberitahukan ini padamu."

"Kenapa Ibu tidak bicara langsung saja padaku? Dan kenapa kau harus repot-repot datang ke sini hanya untuk bilang itu?"

"Dia terlalu sibuk dengan urusannya, kau tahu? Dan apakah salah kalau aku ingin sekalian datang melihat keadaan adikku tersayang?" Akaito menyeringai jahil. Dan Kaito tiba-tiba eneg mendengarnya.

Sedangkan itu, Meiko hanya diam memperhatikan bagaimana kakak-beradik itu berbincang dengan serius—kecuali untuk yang terakhir tadi. Dan entah kenapa, masalah serius yang sedang dibicarakan oleh Akaito itu sepertinya bukan masalah yang sepele. Ini mungkin menyangkut sesuatu yang Meiko takutkan selama ini.

Atau hanya dia yang terlalu berpikiran negatif?

"Baiklah. Aku pergi dulu." Dengan wajah sumringah, Akaito berdiri dari sofa. Dan berjalan menuju pintu. "Sampai nanti, Kaito. Oh, dan juga Meiko-san. Aku senang dengan pembicaraan kita tadi, meskipun aku masih ingin berbincang denganmu lebih lama lagi—karena bagaimanapun juga, kau adalah adik iparku. Seharusnya begitu sih."

"A-apa maksudmu—!"

"Sampai nanti!"

Tidak membiarkan Meiko menyelesaikan kalimat protesnya, Akaito langsung keluar dari apartemen, dan pergi dari sana. Kedua manusia itu masih membatu di tempat sepergian Akaito.

"—karena bagaimanapun juga, kau adalah adik iparku. Seharusnya begitu sih."

Apa maksudnya bilang begitu? Kaito bertanya-tanya di dalam hati. Ucapan Akaito itu mungkin hanya iseng karena dia menganggap Meiko pacarnya. Tapi kenapa rasanya jadi berbeda setelah diinterogasi oleh Yuuma kemarin? Kenapa Kaito jadi bingung dengan dirinya sendiri?

"... oi, Bakaito. Apa kau tahu apa yang dia maksud dengan 'Meiko yang itu'?" Meiko langsung melabrak Kaito dengan pertanyaan. Kaito sempat melirik, dan mungkin memang Meiko terlihat salah tingkah barusan?

"Entahlah. Mungkin dia cuma ingin mendramatisir keadaan," jawab Kaito tak acuh. "Aku penasaran masalah apa yang akan diceritakan oleh Akaito nanti."

Dan seolah disadarkan oleh sesuatu, Kaito pun segera memeriksa jam tangannya. Ah, bentar lagi kelas paginya dimulai. "Oh, sebentar lagi mulai. Aku pergi dulu, Mei-chan. Dah."


.

.


Malam harinya.

"Meiko-san!"

"Hum?" Meiko menoleh ketika namanya dipanggil. Di antara deretan rak supermarket, dia melihat seseorang yang sedang menatap lurus padanya. "Siapa?"

Orang itu menggaruk belakang kepalanya. Tampak salah tingkah karena dia kira Meiko mengenalnya. "Ini aku, Len, teman Kaito-senpai..."

"Oh! Pantas rasanya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya." Meiko tersenyum ramah. "Mencari apa, Len-kun?"

"Aku menemani kakakku sih. Tuh." Len menunjuk Rin yang sedang sibuk mencari sesuatu di rak yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Aku lagi berhemat sih."

"Ohh." Meiko cuma manggut-manggut. Lalu dia mencari lagi apa yang tadi dia cari. "Aku sekalian mencari sake sih."

"Mana ada supermarket menjual sake, Meiko-san." Len sweatdrop. Dia bingung, apakah Meiko sedang bercanda atau justru memang serius.

Meiko mendadak budeg. Len memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Kaito-senpai mana, Meiko-san?"

Meiko pun mengerutkan dahi sebelum mengalihkan tatapannya lagi pada cowok berambut kuning itu. Apa yang sedang dipikirkan cowok ini? "Mana kutahu."

Dan cewek itu terkejut ketika Len malah tiba-tiba nyengir.

"Hei, aku mau tanya sesuatu, Meiko-san."

"Nanti aja. Setelah aku selesai belanja."

"Sekarang aja ya! Sebelum nee-chan menyeretku lagi ke supermarket lain..."

Hening sebentar.

Karena Meiko tidak kunjung merespon, Len melanjutkan perkataannya. "Dia lagi mengejar barang diskon sih."

Meiko masih tidak merespon. Len pun manyun karena beneran dikacangi.

Sementara itu, Meiko masih tetap fokus memilih barang. "Hei, Len-kun. Aku mau minta pendapatmu. Kira-kira, aku harus membeli minyak goreng yang mana?"

Meiko menunjuk dua rak minyak goreng yang ada di hadapannya saat perhatian Len terfokus sepenuhnya padanya. "Yang ini, harganya murah, tapi kualitasnya kurang. Sedangkan yang itu, harganya mahal selangit, tapi kualitasnya bagus."

"Jelaslah yang itu, Meiko-san."

"Tapi Kaito lebih suka yang ini."

Meiko tiba-tiba terdiam ketika dia sadar apa yang baru saja dia pikirkan. "M-maksudku bukan itu..."

"Hmm, Meiko-saaannn..." Len kembali nyengir, kali ini lebih lebar daripada yang tadi. "Aku langsung tanya aja deh, Meiko-san suka sama Kaito-senpai?"


.

.


"AKHIRNYA YA TUHAAAAAN!"

Keesokan harinya.

Kaito teriak-teriak di depan gedung fakultasnya. Mengundang berbagai macam pandangan dari orang-orang di sekitarnya.

"Oi, jangan teriak-teriak gaje gitu. Risih gua jadinya," desis Gakupo jengkel.

"Biasalah, Gakupo-senpai. Orang baru selesai skripsinya," ucap Len. Berusaha membela Kaito yang masih keasyikan selebrasi di depan mereka.

"Oh, jadi itu penyebab kenapa dia tiba-tiba jadi orang gila seperti itu." Dengan penuh kesadaran, Yuuma mendekati Kaito. "Oi, orgil. Bangun. Sebentar lagi hujan."

"Siapa yang orgil?" Kaito langsung bangun dan memelototi Yuuma karena tersinggung.

"Kau."

Yuuma langsung kabur ketika Kaito sudah siap-siap melempar tas ranselnya ke cowok jangkung itu.

"Huh, gak tau orang lagi senang apa...," dumel Kaito kembali ke tempat di mana Gakupo dan Len masih berdiri sambil komat-kamit, bukan temen gua.

"Senpai mau pulang sekarang? Gak mau traktiran nih?" goda Len.

Pemuda berambut biru itu pun tertawa. Aura bunga-bunga bertebaran di sekitarnya, bikin siapapun yang lewat langsung mabuk karena gak nahann.

Apaan sih.

"Hahaha, maaf nih. Mungkin gak bisa hari ini. Aku harus ke kota Minato dulu."

"Halah, bilang aja gak ada duit."

Mumpung lagi senang, Kaito pura-pura gak mendengar karena enggan mood-nya hancur cuma gara-gara Gakupo.

"Minato? Ngapain?" Len memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Kakakku mau ketemuan di sana. Yah, meskipun aku males banget sih. 'Kan jadinya harus naik kereta tiga kali—keluar duit juga tiga kali."

Len manggut-manggut. Gakupo sama sekali tidak merespon dan hanya menatap Kaito dalam diam.

"Kaito, apa kau mau cepat-cepat wisuda?"

"Huh? Ah, iya." Kaito menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Dia salah tingkah. "Sedih sih, kita bakal berpisah secepat ini."

"Kenapa?"

"Karena aku..." Kaito membuang wajah, lalu menghela napas. "Diminta ibuku untuk secepatnya wisuda. Yah, beliau pernah bilang begitu pas liburan semester 7 kemarin."

"Oh, permintaan orang tua toh... Yah, gak bisa diganggu-gugat sih. Kalo emang udah ada jalannya."

"?" Kaito memasang wajah bingung karena dia tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan Gakupo.

"Trus Meiko-san bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?" Kaito membalikkan pertanyaan Gakupo barusan.

"'Kan dia tinggal bersamamu. Kalau kau pergi, lalu dia bagaimana?"

"Yah, berarti dia aja yang tinggal sendirian di sana."

Tanpa diduga, Gakupo mengerang frustasi atas kepolosan cowok gak peka itu.

"Kenapa sih?" Kaito semakin bingung melihat cowok berambut ungu itu bereaksi demikian. Len juga tidak jauh berbeda dari Gakupo.

"Kaito-senpai, maksud Gakupo-senpai, hubunganmu dengan Meiko-san bagaimana jadinya, kalau kau pergi?"

"Hah?"

"Pertama-tama dulu, kalian udah pacaran gak sih?"

Alih-alih menjawab, Kaito justru memasang wajah kaget. Dia sendiri bingung mau menjawab apa.

"Kaito-senpai kaya'nya udah pacaran nih, sampai gak bisa menjawab...," gumam Len memperhatikan raut wajah Kaito yang abstrak.

"Orang kaya' gini? Udah pacaran?" Gakupo menunjuk Kaito, lalu dia menarik kantong matanya; mengejek.

"K-kami gak pacaran kok."

"Gak pacaran tapi sama-sama suka?"

Kaito dan Gakupo pun menoleh dengan kaget pada cowok berambut kuning itu.

"Len, apa maksudmu itu?" Tanya Kaito.

"Sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu..." Gakupo menyipitkan matanya, sok selidik.

"Kemarin aku bertemu dengan Meiko-san di supermarket dekat stasiun, trus saat aku tanya, dia mengaku suka sama Kaito-senpai." Len memasang ekspresi nyengir ala meme* karena tiba-tiba teringat dengan jawaban yang Meiko berikan semalam.


.

.


"K-kenapa kau bilang begitu?" Meiko menyahuti pertanyaan Len tanpa menatap cowok itu.

"Bilang iya atau tidak aja, Meiko-san!"

"Kau ini cowok apa cewek sih? Kok kepo banget?"

"Aku ini cowok kok, aku cuma pengen kepo aja!"

"A-aku gak mau jawab!"

"Fuu... kalau begitu, aku menganggapnya sebagai 'iya'!"

"Jangan sembarangan begitu! HEI!"


.

.


Seusai Len bercerita, Gakupo memperhatikan Kaito tanpa kata.

Sesaat hening.

"Kaito-senpai gak bereaksi senang atau apa gitu?" Len bingung karena Kaito tidak menunjukkan adanya suatu respon tertentu. Cuma flat.

"A-aku bingung harus bereaksi bagaimana..."

"Kau sendiri suka sama dia atau tidak?" Tanya Gakupo mulai gregetan. "Tenang, kami sudah sepakat gak bakal menahanmu lagi seperti yang pernah terjadi di Bab 3 kemarin kok. Soalnya author udah mulai capek sih. Mau cepet-cepet ditamatin aja."

Kaito menunduk dengan mengerutkan dahinya. Dia sendiri bingung. "A-aku ditanya seperti itu juga oleh Yuuma."

"Kazeno juga? Tumben dia mau mengkhawatirkan orang lain."

"Jadi, kau suka Meiko-senpai?"

Gakupo dan Len pun terdiam sembari menatap Kaito dalam-dalam, seolah sedang menunggu vonis dari hakim agung.

"Aku—"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mengejutkan mereka.

"Oh, ponselku berdering." Kaito merogoh saku celananya. Dan menjawab panggilan teleponnya. "Halo?"

"Hei, Kaito? Kau sudah pulang? Aku sudah di taman nih."

"Apa katamu—tunggu, ini jam berapa sih? Katanya jam 3 sore nanti?"

"Aku ganti jam. Aku tahu kau saat ini sedang nganggur dan diinterogasi oleh teman-temanmu, jadi lebih baik kau langsung saja datang ke sini."

"Sialan. Kau pasti memasang kamera pengintai padaku jadi bisa tahu apa saja yang sedang kulakukan."

"Pokoknya, GPL. Setengah jam udah nyampek."

Lalu dengan sangat seenaknya, Akaito memutus sambungan. Kaito pun menggigit ponselnya saking gregetnya.


.

.


Kaito sebenarnya tidak yakin dengan alamat yang diberikan oleh Akaito. Karena dia tidak pernah datang ke daerah ini, jadi Kaito pikir dia bakal tersesat. Meskipun Akaito sudah memberitahukan alamat lengkapnya, Kaito tetap saja bingung pada akhirnya.

"Kenapa harus di sana sih?"

"Aku lagi di Minato—dan jadwalku hari ini padat. Aku harus pulang besok, jadi tidak ada waktu lagi."

"Halah, alasan."

Akaito tidak langsung menjawab. Kaito menduga pasti Akaito diam-diam sedang merutukinya. "Coba aja cari dulu. Pasti dapat kok!"

Lalu seperti yang sudah sangat sering terjadi, sambungan telepon terputus seenaknya. Kaito rasanya ingin menginjak handphone-nya ini.

"Punya kakak kok kampret gini."

Setelah sampai di kota Minato, ternyata taman yang Akaito maksud adalah taman kota yang memang terkenal dan gampang dicari karena dekat dengan Stasiun Shinagawa. Akaito terlihat sedang duduk di sebuah bangku taman... dengan seorang cewek.

Watdefak.

"Kamu mau ke Kyuushu lagi ya? Jadi sepi dong..."

"Tapi, 'kan, kita masih bisa telepon-teleponan..."

Kaito hanya diam cengo di belakang bangku yang mereka duduki.

"Iya sih, tapi 'kaaaaaann..."

"Ehem." Jengkel karena dikacangin dari tadi, akhirnya Kaito berdehem untuk menarik perhatian. Membuat kedua orang yang sibuk berduaan itu jadi kaget.

"Eh, Kaito..." Akaito menoleh sekilas pada Kaito, lalu nyengir. "Kenapa? Iri ya?"

"Siapa juga yang iri?!" Kaito ingin sekali membakar orang ini. "Kau yang memintaku datang ke sini!"

"Oh, iya juga ya," ucap Akaito tanpa dosa. Kaito mengurut dada—berusaha sabar. Sementara itu, pandangan Akaito beralih pada si cewek. "Nanti aku telepon aja ya."

Kaito pun membuang muka, berusaha untuk tidak menonton adegan yang akan dikutuk oleh seluruh jones yang ada di dunia ini. Apa? Lebay? Oke, salahkan Kaito gara-gara kelamaan jadi jones.

"Kenapa 'hah-huh' gitu sih? Mau juga?" Sindir Akaito setelah cewek tadi pergi. "Cari pacar dong."

"Apaan sih?" Sebagai seorang jones sejati, Kaito tersinggung karena ucapan Akaito itu.

"Oh! Aku baru ingat! Kau 'kan sudah punya calonnya..." Akaito melirik pada Kaito dengan jahil.

Kaito mengangkat sebelah alisnya. "Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan Meiko-san." Cengira Akaito semakin lebar. Dan dia pun tertawa mendapati reaksi Kaito yang salah tingkah. "Seharusnya sih..."

"K-kenapa malah jadi Mei-chan!"

"Hum? Tuh, kau sampai memanggilnya dengan –chan."

Iris biru laut Kaito mulai bergerak kanan-kiri dengan gelisah, lalu dia memutuskan untuk mengalihkan topik. "Sudahlah, jadi untuk apa kau memanggilku ke sini?"

Kalau ternyata pembicaraan rahasia yang Akaito sebutkan itu tidak berguna, dia bersumpah akan mencongkel mata kakaknya itu! Di sini juga!

"Oh, benar juga." Akaito menggeser pantatnya, memberi ruang pada bangku taman itu. "Duduk dulu."

Kaito pun duduk di sebelah Akaito.

"Sudah seperti yang kubilang kemarin, ini ada hubungannya dengan Mama."

"Ada apa? Ibu tidak tiba-tiba lupa di mana menyimpan ponselnya, 'kan?"

"... aku serius, Kaito."

"Baiklah, baiklah. Trus apa?"

"Katanya Mama mau menjodohkan kau dengan anak sahabat Mama di Kyuushu."


.

.


PRANG!

"Yuuma-kun! Kenapa figuranya dijatuhin?! ELO TAU 'KAN, GIMANA GUA BIKINNYA?!"

"Ah, maaf. Gak sengaja kulepas," ucap Yuuma dengan wajah tidak bersalah. Di depannya sudah tergeletak jasad figura yang hancur remuk seperti hati pemiliknya, Hakumei Mizki, tetangganya. "Yang kaya' gitu 'kan, gampang aja bikinnya."

"Gampang ngomongnya!" Mizki berkacak pinggang. "Itu tugas kesenianku, tahu! Pokoknya ganti!"

"Gak mau."

"Yang jatuhin siapa?!"

"Aku."

"Berarti kau yang harus ganti, 'kan?!"

"Tapi aku gak mau menggantinya."

Mizki pun meng-kamehameha Yuuma. Lalu, the end.

Ya enggaklah.


.

.


"Wah, tiba-tiba aja hujan."

Kyo baru saja keluar dari gedung fakultasnya saat dia melihat parkiran mobil yang ada di samping gedung mendadak menjadi basah.

"Yuu-kun. Aku boleh minjam jaketnya gak?"

"Uhm. Boleh." Yuu yang kebetulan keluar gedung bareng Kyo, melepas jaket kulit miliknya. "Memangnya kenapa? Takut bajunya basah?"

"Aku takut rambutku basah. Sudah keren gini, gaya rambutnya." Kyo menerima jaket itu dan langsung merentangkannya di atas kepala. "Sudah ya. Aku duluan, Yuu-kun. Besok aku kembalikan."

"... oh, oke." Yuu sweatdrop. Dia baru ingat, Kyo selalu mementingkan penampilannya. Tidak peduli panas atau dingin cuacanya.

Tapi dia sempat heran, sebelum meloncat keluar dari teras gedung yang teduh, Yuu melihat Kyo mengambil telepon genggamnya. "Astaga, Kyo-san. Sempat-sempatnya selfie."

"Sip! Gini cakep!" Setelah menambah caption pada fotonya, dia pun mengunggahnya pada sebuah media sosial... ya, Yuu melihat semua itu... "Dadah, Yuu-kun!"

Cowok sedeng itu pun pergi meninggalkan Yuu.


.

.


"APAAAAA?!"

Meiko melongo dengan tangan yang menggenggam koran pagi itu.

"SIAL! AKU LUPA KALAU DEADLINE TUGASNYA HARI INI!"


.

.


Kaito masih menganga seusai ketiga adegan tidak jelas di atas. Ya, gak penting, memang. Anggap saja yang tadi itu hanya sponsor (?).

"Aku tahu kau pasti sangat syok... dan sedih. Kaito."

"..."

"Tapi tenang saja, Kaito. Aku yakin, cepat atau lambat, kau akan mencintai calon tunanganmu ini!" Akaito berucap ngaco sambil menepuk-nepuk pundak Kaito, mencoba membesarkan hati adik tersayangnya itu. "Lebih-lebih lagi kalo ternyata dia cantik!"

Kaito tidak menghiraukan hiburan garing Akaito tersebut. Pikirannya langsung kosong. "Kau serius?"

Akaito merogoh sebuah kertas dari sakunya setelah mendengar ketidakpercayaan Kaito. "Nih, lihat sendiri!"

Kaito menyambut kertas tersebut. "Hari gini masih pakai kertas? Kaya' surat wasiat aja."

"Hush! Gak boleh ngomong gitu!"

Kaito melihat sekilas pada apa yang tertera di dalam kertas itu. Tulisannya begitu indah... ya, ini memang tulisan ibunya. Gak mungkin tulisan Akaito tiba-tiba bisa berubah seindah ini hanya dalam waktu dua tahun. Kemudian dia pun membacanya.

"Untuk Kaito-kun yang sangat Ibu sayang dan banggakan.

"Maaf Ibu gak bisa menyampaikan ini langsung padamu. Ponsel Ibu kemarin kecemplung ke got, jadi cuma bisa menuliskan surat ini dan meminta Akaito-kun mengirimkannya.

"Ibu tahu ini terkesan seperti pemaksaan. Ibu punya sahabat dekat, dan dia pernah membiayai seluruh pengobatan ayahmu. Minggu lalu, dia memperkenalkan putrinya yang masih bujang kepada Ibu, dan berharap bahwa kami bisa berbesan. Ibu gak bisa menolaknya karena Ibu teringat dengan jasanya dulu saat ayahmu masih hidup—meskipun dia juga gak bilang Ibu harus mau menerimanya.

"Ibu gak bakal memaksa kamu langsung menerimanya. Ibu cuma mau kamu pulang setelah skripsimu selesai, supaya kalian bisa berkenalan di acara ulang tahunnya yang ke-22 di November nanti. Ibu sudahi dulu surat ini. Wassalam."

Kaito melihat tanda panah yang mengarah ke bawah dan banyak di bagian bawah isi surat itu, panjaaaaang banget sampai ke belakang kertas segala. Di sana, terdapat sebuah tulisan yang mungkin sengaja dikecilkan.

"P.S : Beliin Ibu ponsel baru ya."

Kaito pun merobek kertas itu berkeping-keping, lalu memakannya dengan beringas. Kebetulan dia lagi lapar juga.

Ini maksud ibunya apaan sih? Gak tau apa, keuangan Kaito lagi gak enak banget tahun ini!

"Oi, oi. Kaito. Sabar dong."

Mereka pun terdiam. Sementara itu, Akaito memilih untuk memperhatikan pemandangan di atas kepala mereka. Kejinggaan telah mewarnai cakrawala. Terdengar suara burung walet yang berbondong-bondong menuju sarang mereka dari suatu sudut langit, berbarengan dengan suara kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya yang berada di sisi lain taman. Hari sudah sore. Sore yang tenang.

"Kenapa ini semua tiba-tiba sekali?" Akaito mendengar Kaito bergumam pelan, kepala cowok itu tertunduk. Mumpung suasana sedang damai dan melankolis begini, kegalauan Kaito jadi makin kentara aja.

"Sudahlah. Terima saja, Kaito."

"Apanya? Ibu minta ponsel baru itu?"

"Bukan, Bodoh. Masalah perjodohan itulah." Akaito menepuk pundak Kaito lagi. Dia tidak tega juga melihat Kaito bersedih hati seperti ini. "Kau sudah selesai dengan skripsimu, bukan? Berarti cuma tinggal sidang?"

Kaito mengangguk pelan. "Apa kau kenal siapa putrinya?"

"Aku gak tau ya. Mama merahasiakannya dariku, entah apa maksudnya."

Karena sedang sedih, Kaito tidak menangkap adanya keganjilan dalam suara Akaito.

"Inilah kenyataan, Kaito. Kadang dunia gak adil. Saat kita merasa sudah nyaman dengan keadaan saat ini, tiba-tiba kita sudah dihadapkan pada situasi yang gak menyenangkan dan gak pernah kita duga selama ini. Dan kita malah dipaksa untuk memilih sesuatu yang akan sangat berpengaruh pada masa depan kita." Akaito memperhatikan sepatu sneaker-nya yang disenggol perlahan oleh Kaito. Mereka sering melakukannya dulu saat masih kanak-kanak. "Yah, aku gak pantas menasehatimu seperti ini. Aku gak pernah berada di posisimu, jadi aku gak paham bagaimana perasaanmu."

Akaito mengangkat kepala ketika merasa lehernya agak pegal. Dia sempat menangkap ekspresi geli yang tergambar di wajah milik para pejalan kaki yang melewati mereka. Apalagi ketika melihat kaki mereka yang saling bersentuhan.

Akaito tidak peduli apa yang orang bilang tentang mereka. Adiknya sedang bersedih, dan dia tidak tega melukai perasaannya. Dulu saat mereka masih bermain bersama, mereka sering duduk bersantai di bangku taman. Kaito juga sering duduk di sampingnya dan memainkan kaki Akaito dengan kakinya. Cowok itu biasa melakukannya ketika sedih. Mungkin itu bisa membantunya mengatasi kegalauannya.

Akaito pun tertawa dalam hati jika mengingatnya.

"Jangan sedih ya? Kalau kamu gak mau, kamu bisa oper ke aku kok. Masalah Mama, gampang aja. Hahaha..."

Tanpa mempedulikan candaan garing Akaito, Kaito mendadak rasanya mau nangis. Tumben banget kakaknya bisa perhatian begini.

Kaito menghela napas.

Lalu mereka menghabiskan sore hari itu dengan makan bareng di restoran terdekat—dan demi menghibur hati Kaito yang galau, Akaito memutuskan untuk mentraktir kentang goreng buat dia.

"Trus, ponsel buat Ibu itu gimana? Aku gak punya duit masalahnya..."

"Kita patungan aja, bagaimana?"

Kaito pun mulai keliatan mewek. "Kak, lu lagi kesambet ya? Kok baik banget hari ini..."

Akaito pun masam-masam. "Eksklusif cuma buat hari ini loh. Jadi, nikmati aja, oke?"


.

.


to be continued.


.

.


*nyengir ala meme : Saya gak inget lagi apa nama ekspresinya. Sering muncul di berbagai gambar meme, terutama yang isinya "kamvret". /apa


A/N : (Ada curhatan saya mengenai kenapa mendadak saya hilang setelah apdet chapter terakhir di bio saya. Kalo berkenan, silakan dibaca. /eh)

Buat semua readers, terutama MiyuTanuki dan aia masanina, maaf saya kelamaan apdetnya. Semoga kalian masih ingat dengan jalan ceritanya. '-'

Special thanks buat kawan sejawat saya yang sudah bersedia berdiskusi tentang "bagaimana cara mengakhiri WDYS dengan indah dan bahagia" bersama saya. Love you, my girl!

Terima kasih juga untuk readers yang sudah mau membaca! Dan selamat hari lebaran! Mohon maaf, kalo saya banyak berbuat salah selama pengerjaan WDYS yang teramat lelet ini. /bow


.

.


18072016. WDYS10. YV