HALOOOO ! akhirnya masa hiatusku berakhir, selama hiatus diriku membuat 2 chapter hehehehehe (ga ada kerjaan di rumah) 2 chapter kedepan akan membahas masa lalu Ichigo yang benci sendirian, tapi kali ini hanya 1 chapter dulu. So baca saja oke !
DISCLAIMER : Bleach milik Tite Kubo, aku hanya meminjam.
Chapter 10 : " Fake News "
Semua terdiam dan menatap Ichigo heran, mengapa dia begitu enteng mengatakannya. Padahal ini semua menentukan nasibnya.
"Kau beneran bakalan di keluarkan ?" tanya Toushirou bersaha meyakin 'kan.
"Ini beneran, aku sudah tidak peduli lagi. Dengan begini aku 'kan jadi bebas" Ichigo tersenyum miris.
"Kau ini tolol atau apa sih ?! mana ada orang yang dikeluarkan sesenang itu ?!" Toushirou semakin kesal dan berusaha menahan diri akan sikap Ichigo yang menganggap ini semua hal yang sepele.
"Sudahlah tinggalkan aku sendiri, aku ingin sendirian sekarang" sewot Ichigo sambil memalingkan wajahnya. Toushirou sudah tidak kuat, dia sudah siap memukul Ichigo, namun Hinamori mencegahnya. Hinamori menyuruh Toushirou untuk tenang.
"CIH ! kau sudah kelewatan Ichigo. Jika itu mau mu, silakan saja, aku sudah tidak peduli" Toushirou pun pergi. Ichigo tidak merespon, Hinamori yang diam saja hanya bisa melihat cemas. 'Ini semua salahku, aku kurang hati-hati saat pulang kemarin. Jika aku lebih hati-hati maka Ichigo tidak akan seperti ini' batin Hinamori.
"Ini semua bukan salahmu" tiba-tiba Ichigo bicara.
"Tapi 'kan, kau berusaha menolongku, namun akhirnya jadi begini. Pasti ada yang menjebakmu" bela Hinamori. Akhirnya Ichigo pun berbalik dan melihat Hinamori yang sedang menangis berkaca-kaca.
"Sudahku bilangkan, ini semua bukan salahmu. Jika ucapanmu benar, aku sudah tidak peduli. Lagipula aku sudah tidak nyaman juga koq disini. Jadi..." BRUGH Hinamori langsung melesat memeluk Ichigo. Ichigo yang tidak siap tidak bisa menahan Hinamori dan mereka pun jatuh.
"Hei HEI ! kenapa kau ini ?!" terdengar suara isak tangis dari Hinamori. Ichigo semakin binggung dan tambah panik. 'WOI WOI bagaimana jika ada yang lihat makin rumit masalahku' batin Ichigo.
"HUAAA ! Kurosaki-kun jangan pergi ! kami bakalan kesepian nanti" Hinamori semakin menjadi. Ichigo yang panik berusaha menenangkan Hinamori.
CKLEK terdengar suara pintu yang terbuka, Ichigo kaget dan spontan membawa Hinamori menjauh. Mereka bersembunyi di balik pipa pembuagan yang terdekat. 'Siapa yang datang, jam pelajaran dimulai sebentar lagi ? dan yang penting kenapa ada pipa disini ?!' batin Ichigo yang baru sadar bahwa di atap sekolah ada pipa pembuangan.
"Akhirnya kita berhasil mengusir si rambut orange itu" kata seseorang yang bersuara laki-laki.
"Untung kita melihat dia kemarin sore" jawab lawan bicaranya, suaranya lebih cempreng namun Ichigo yakin kalau dia masih laki-laki.
"Namun menurut kabar, dia bakalan keluar nanti. Lebih tepatnya 1 minggu lagi"
'Kenapa dia bisa tau ? padahal sekolah masih merahasiakannya' Ichigo semakin serius mendengar pembicaraan mereka berdua. "Kurosaki-kun...ada ap—" Ichigo menutup mulut Hinamori dengan cepat.
"HUUUUSHH ! jangan kencang-kencang !"
"Tapi aku masih belum puas, apa yang dia perbuat kepadaku dulu masih membekas hingga sekarang"
"AH aku tau itu, kau mau melakukannya lagi ?" tawar temannya yang bersuara cempreng itu.
"Tentu saja" jawabnya antusias.
"Klo begitu ayo kita pikirkan" suara mereka semakin mengecil dan BLAAM suara bantingan pintu terdengar keras. Ichigo sedikit lega dan mengatur nafasnya. Apa yang dipikirkan Hinamori terhadap Ichigo ternyata benar, kejadian kemarin adalah jebakan untuk Ichigo supaya keluar dari sekolah ini.
"Benarkan kataku, klo ada yang ngejebakmu kemarin. Kau sih ga percaya" Hinamori tersenyum puas.
"Iya deh, kau benar kali ini. Kau lebih baik kelas sana, aku mau sendirian sekarang. Benar-benar sendirian. Kau ga boleh terlibat, biar aku saja yang menselidikinya" Hinamori yang tidak terima, tiba-tiba duduk di samping Ichigo sambil cemberut. "Ngeyel nih anak, sudah sana pergi !" Ichigo mendorong Hinamori, namun Hinamori tidak mau beranjak dari tempat ia duduk.
"Aku akan terus menemanimu sampai pulang klo perlu"
"Baiklah terserah kau saja, klo nilaimu turun jangan salahkan aku" Ichigo pasrah dan berbaring sambil melipat tangannya di belakang kepalanya.
"Aku tidak akan menyalahkanmu koq. Lihat !" Hinamori mengambil Handphonenya dan mengetik sesuatu. Beberapa menit kemudian handphonenya pun berdering.
"Apa yang kau lakukan ?" tanya Ichigo binggung.
"Aku meminta izin kepada guru, bahwa aku mendadak sakit. Dan harus ke UKS"
"Sejak kapan kau jadi pandai berbohong begini ?"
"Asalkan demi sahabatku, apa pun akan aku lakukan" Kata Hinamori sambil tersenyum manis. Ichigo pun memerah dan memalingkan wajahnya.
"Baiklah klo begitu, aku mau tidur dulu"
"Apa kita bakalan aman disini ?" tanya Hinamori yang ikut berbaring di sebelah Ichigo.
"Kita terhalang oleh pipa ini" Ichigo menunjuk pipa yang ada di dekat kepalanya.
"Pipa apa ini ? sejak kapan sekolah punya pipa sebesar ini ?" Hinamori bertanya-tanya, namun tidak ada yang menjawabnya, dia pun melihat Ichigo yang diam saja. Ternyata Ichigo sudah tertidur pulas. Hinamori tertawa geli melihat wajah polos Ichigo. Hinamori pun menyusul Ichigo tidur disebelahnya.
45 minutes later...
Langit sudah menunjukan bahwa sebentar lagi menjelang sore. Mereka berdua masih berada di atap sekolah, kali ini Ichigo sedang menaruh beberapa mekananan ringan di dekatnya. Makanan tersebut terdiri dari roti, nasi kepal, dan minuman dus kecil.
"Hari sudah menjelang sore, aku dan dia sudah melewati 1 jam pelajaran" kata Ichigo sambil memperhatikan Hinamori yang masih tertidur. "Lama banget dia tidurnya, sudah 20 menit semenjak aku bangun tidak bergerak sama sekali"
"Engh...nggg" tiba-tiba Hinamori bergerak sedikit-sedikit, Ichigo yang kaget hanya bisa diam. 'Gawat dia bangun, tadinya ku pikir bakalan sampai jam pulang dia tertidur, jika begitu 'kan lebih aman. Bisa gawat klo dia keluar saat jam pelajaran masih berlanjut. Tadi saja aku sembunyi-sembunyi' batin Ichigo yang panik tak karuan.
"Kurosaki-kun...kau masih hidup...?" Hinamori yang masih setengah tidur itu pun bertanya.
"Apa-apaan pertanyaanmu itu. Tentu saja aku masih hidup" cetus Ichigo kesal.
"Maaf klo gitu. Tapi ini apa ?" Hinamori menggaruk-garuk kepalanya dan binggung melihat makanan berserakan.
"Ini makanan, apa kau buta ? kita belum makan semenjak istirahat 'kan" jelas Ichigo sambil menawarkan roti kepada Hinamori.
"Ah,...maka—sih" Hinamori mengambil roti tawaran Ichigo perlahan.
"Kau mau begini terus ? sampai kapan ?" tanya Ichigo langsung. Hinamori yang kaget kelabakan untuk menjawab.
"Eh...anuuu...sampai..." Hinamori tampak binggung dan berpikir dengan serius.
"Dasar kau ini, kau menghilang 5 menit saja sudah membuat seseorang khawatir" jelas Ichigo.
"HAH siapa ?"
"Ya ampun masih ga sadar juga. Si mesum berambut perak itu. Dia sangat khawatir denganmu, kau lihat dia nelpon aku 15 kali. Gila banget tuh orang" Ichigo menunjukan Handphonenya yang tertera nama Toushirou sebanyak 15 baris.
"Ah yang benar saja, dia mana mungkin khawatir padaku" Hinamori yang tersipu malu melahap rotinya sekaligus sangkin malunya.
"Wahahahaha... ternyata kau beneran suka sama Toushirou ya" goda Ichigo.
"Ap-apa maksudmu ? aku ga su—suka koq sama dia" wajah Hinamori sangat merah sekarang dan menatap kesal ke arah Ichigo. Ichigo masih tertawa melihat sikap Hinamori yang malu-malu.
"Jangan ngeyel dong ! kau cantik, mana mungkin ada lelaki yang tidak suka denganmu"
"Gombal..."
"Kau tau. Aku sebenarnya iri kepada kau maupun Toushirou" kata Ichigo lemas namun masih terseyum lemah melihat Hinamori.
"Kau iri ? karena apa ?" tanya Hinamori sambil menyedot minuman rasa jeruk.
"Yaaaa... bisa dibilang aku iri akan kehidupan kalian. Mudah mendapatkan teman itu yang utama. Dari dulu aku selalu sendiri, walaupun punya teman sekalipun, mereka pasti cepat melupakanku. Karena aku sering sendiri, timbul pernyataan-peryataan yang bodoh. Seperti yang terjadi sekarang"
"Itu karena wajahmu menyeramkan" Hinamori terkekeh. Ichigo ikut terkekeh dan geli mendengar pendapatnya.
"Hahahaha...mungkin kau benar. Wajahku yang seram ini faktor utamanya. Oleh karena itu aku sangat bahagia saat kau mengucapkan kata 'sahabat' kepadaku. Thanks Hinamori" kata Ichigo.
"Hihihihi..., aku lucu saat berterima kasih padaku. Seperti bukan kau saja" goda Hinamori sambil memukul pelan pundak Ichigo. "Bagaimana klo kau ke apartementku nanti, kita makan malam bareng. Mau 'kan ?" tawar Hinamori.
"Kau mau menyeretku ke masalah yang lebih rumit lagi ?"
"Oh ayolah, jika tak mau aku yang ke apartementmu"
"Sama aja Hinamori, lagipula kau kan sebelahan denganku. Masa kau lupa"
"Hahahahahaha maaf klo begitu"
"Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaan pertama. Mau sampai kapan kau mau disini ?" tanya Ichigo kembali.
"Sampai kau pergi dari sini" Hinamori kembali melahap nasi kepal keduanya.
"Baiklah klo begitu" Ichigo pun mengambil roti dan nasi kepal bagiannya. Mereka terlihat asik bercengkrama, saling tertawa, bahkan saling berebut roti yang tersisa satu. Dan akhirnya roti itu jatuh kebawah dan menipa salah seorang guru. Guru itu tampak kebinggungan, karena tak tahu asal roti tersebut. Dia menganggap roti tersebut merupakan berkah dari Tuhan dan memakannya. Ichigo dan Hinamori yang melihatnya dari atas tertawa-tawa geli melihat ekpresi dari guru tersebut.
-After School-
Dentingan bel tanda pulang sekolah bergema keseleruh penjuru sekolah. Banyak siswa berlarian menuju rumah mereka masing-masing. Bagi para siswa perempuan, mereka berkumpul dengan teman-temannya dan mengobrol atau lebih tepatnya bergosip dahulu sebelum pulang. Bagi yang mengikuti klub olahraga, mereka menjalani latihan terlebih dahulu.
Ichigo dan Hinamori masih berada di atap, mereka berdua sedang menonton para siswa sedang berlatih sepak bola. Hinamori banyak menanyakan mengenai olahraga tersebut. Yang membuat Ichigo jengkel. Dan mengajak Hinamori pulang.
Di gerbang sekolah, Toushirou sudah menunggu mereka berdua. Toushirou tak henti-hentinya memarahi Ichigo dan Hinamori. Karena terlalu serius akan nasehatnya, Toushirou tersandung batu kecil dan terjatuh dengan posisi memalukan. Hinamori masih berusaha menahan tawa dan membantu Toushirou bangun. Namun tidak bagi Ichigo yang sudah tertawa lepas dari tadi. Toushirou yang malu masih tetap berwajah cool. Yang membuat Ichigo mau muntah. Tahu akan hal itu Toushirou memukul perut Ichigo dan membuatnya jatuh merangkak. Selama perjalanan pulang mereka bercanda tawa, saling bercerita tentang hal konyol dan menjahili seseorang.
-Evening, Ichigo's Apartement-
Ichgo sedang menonton anime kesukaannya yaitu Bleach, sambil mengemil semangkok pop corn yang dia buat.
"Hei ! baru kali ini aku sadar. Tokoh utamanya mirip sekali denganku"
TING,TONG terdengar suara bel pintu. Ichigo langsung menuju pintu Apartementnya. Saat dia buka pintu yang pertama yang dia lihat adalah sebuah keranjang berisi makanan berat. Orang yang membawakannya tertutupi oleh keranjang yang besar itu. Tak lama, dia menurunkan keranjangnya. Dia seorang perempuan bertubuh kecil, dengan rambut yang dicepol. Dia mengenakan celemek dengan noda-noda dimana-mana.
"TADAAA, ini dia makanan buat makan malam kita" kata perempuan itu riang.
"Hinamori ? kau ngapain sih repot-repot harus membuatkan makanan. Aku sudah makan koq" kata Ichigo sambil mengambil keranjang tadi. "Apa bisa elit sedikit ? keranjang ?"
"Habis repotkan klo bawa piring satu-satu. Makannya aku masukan keranjang saja. Lagipula di plastikin koq, jadi ga akan kotor" Hinamori langsung memasuki Apartement Ichigo tanpa permisi.
"Hei ! mana sopan santunmu ?" Ichigo pun ikut masuk dan menaruh keranjang di meja makan. Dia langsung mengambil beberapa piring dan mangkok. "Mana Toushirou ? kau ga ngajak dia ?"
"Dia sibuk akan foto-foto maksiatnya" jawaban singkat dan menusuk hati. Ichigo hanya tertawa kecil mengingat Hinamori juga pernah menjadi salah satu koleksinya.
"Apa kau membuatnya sendiri ? kakakmu mana ?" tanya Ichigo sambil menuangkan makanan kuah kedalam mangkok.
"Nanao-nee-chan sedang sibuk akan pekerjaannya. Kau tau 'kan dia itu pengacaraan" jawabnya enteng.
"Oh ya aku baru ingat... Dan bisa kah kau membantuku ?" BLETAK ! sebuah sendok menghantam bagian belakang kepala Hinamori.
"Aduuuuhhh... Kurosaki-kun kenapa kau melempar sendok padaku ?" sambil mengusap-ngusap kepalanya. Ichigo pun melipat kedua tangannya didepan dadanya dan menghebuskan nafas pelan.
"Karena kau diam saja dari tadi. Meskipun kau yang masak, tapi bisa kah bantu aku sedikit" kata Ichigo sambil menunjukan tumpukan plastik berserakan di lantai. "Dan... berapa makanan yang kau buat ?" meja makan sudah hampir penuh dengan puluhan piring dengan berisikan makanan yang Hinamori bawa.
"Ga banyak koq, meja makanmu saja yang terlalu kecil" sewot Hinamori sambil menuju ke meja makan dan memungut sampah-sampah yang berada di bawah meja.
"Ya terserah, cepat bereskan kita makan"
a few minutes later...
"Makananmu enak juga" puji Ichigo sambil membersihkan sela-sela giginya.
"Masa sih ? klo kau bilang begitu. Makasih atas pujiannya" balas Hinamori sambil mengambil piring-piring kotor.
"Kau bisa menjadi istri yang baik bagi Toushirou nanti..." PRAAANGG ! suara pecahan kaca terdengar keras. Ichigo yang kaget langsung menghampiri Hinamori."Hei ada apa ? kau memecahkan piringku. Dan piring itu 'kan mahal dan..." BLETAK ! Hinamori memukul Ichigo dengan sendok.
"Sudahku bilangkan, dia mana mungkin suka padaku. Dan apa maksudmu dengan 'istri' ? masih terlalu jauh" teriak Hinamori dan memukul-mukul kembali Ichigo dengan sendok.
"ADUH ! ADUH ! maaf maaf klo gitu. Tapi piring mahalku..." Ichigo menatap sedih piring yang pecah itu.
"Wajah seram nangis sama pecahan piring. Aneh" maki Hinamori. "Dan lebih penting. Bagaimana kau menganggapi orang yang menjebakmu ?"
"Aku harus mencarinya sendirian, mana bisa melibatkanmu. Lagi pula dari suara yang tadi sepertinya aku pernah mendengarnya entah dimana" jelas Ichigo sambil menyapu pecahan piring tadi.
"Kenapa aku tidak dilibatkan ? aku 'kan sahabatmu. Aku juga mau bantu" pinta Hinamori.
"Walaupun kau sahabatku, aku ga mau kau terlibat dan nanti akan berakibat fatal bagimu"
"Seperti ?" tanya Hinamori heran.
"Kau ini ga peka ya. Aku takut kau bernasib sama denganku, kau bakal dijauhi atau dikucilkan oleh siswa lain"
"Aku tidak takut. 'kan ada kau dan si perak itu" kata Hinamori lantang. 'Sejak kapan dia memanggil Toushirou dengan si perak ? hahahahaha... dia masih marah akan soal tadi' batin Ichigo.
"Jika kau dihina ? atau dikabarin yang enggak-enggak. Kau mau apa ?" tanya Ichigo semakin dalam. Hinamori hanya diam.
"Aku masih percaya, klo sahabat sejati tidak akan meninggalku sendirian" jawab Hinamori serius. Ichigo yang melihatnya semakin khawatir apa yang dia takutkan bakalan terjadi.
"HAHAHAHAHAHA..., kau memang Hinamori yang aku kenal. Keras kepala dan polos. Itu sih terserah kau mau ikut atau tidak. Resiko tanggung sendiri" Ichigo tertawa lepas dan Hinamori kebingungan melihat reaksi Ichigo. "Hinamori..., kau lebih baik pulang sudah jam segini. Besok kau harus sekolah" kata Ichigo masih terkekeh. Dan Hinamori yang malu menginjak kaki Ichigo dan pergi meninggalkannya.
"Kurosaki-kun jahat ! tadinya aku mau menginap di sini. Tapi aku membuat moodku jelek terus. Aku pulang" Hinamori pun semakin cemberut dan membuat Ichigo semakin geli melihatnya. Dia pun menghampir dan mengantarnya sampai pintu depan.
"Klo begitu sampai ketemu besok"
"Aku berharap kau tidak datang" ketus Hinamori sambil memalingkan wajahnya.
"Maaf deh, nanti aku belikan sesuatu deh" Ichigo merasa ada yang mengikuti dan sesekali melihat kilat cahaya. Dia pun mencari sumber cahaya tersebut, saat dia melihat kearah jalanan, tampak seseorang sedang berlari keluar area Apartement. 'Gawat ! besok Hinamori akan dapat masalah' batin Ichigo. Lamunannya terhenti oleh tepukan pelan dari Hinamori.
"Kenapa kau ini, tampak binggung dan kepanikan ?" tanya Hinamori.
"Hinamori..., siap-siaplah besok. Apa yang aku khawatirkan tadi bakalan terjadi"
next day...
Sekumpulan siswa telah berkumpul didepan mading sekolah, mereka tampak berbisik-bisik. Tak lama setelah itu seorang berambut orange pun datang menghampiri sekumpulan siswa tadi. Siswa yang menyadari pun kaget dan menghindar. Siswa yang lain pun mengikutinya. Ichigo pun yang terheran-heran mendekati mading yang mereka ributkan.
"Kau sudah keterlaluan Orange" kata siswa yang paling dekat dengan Ichigo.
"Apa maksudmu ?" tanya Ichigo yang semakin heran karena siswaa tadi menatap hina kepadanya.
"Apa kau buta ? baca saja berita mengenai sikap bodohmu itu !" dia semakin hina menatap Ichigo. Ichigo yang tidak tau apa-apa langsung melihat berita yang ada di mading.
HEADLINE SEKOLAH HARI INI
"SI BERANDAL BERAMBUT ORANGE BERULAH LAGI"
Kemarin malam tepatnya pukul 22.54. Seorang siswa tidak sengaja melihat lelaki bernama Ichigo Kurosaki keluar bersama salah satu siswi berinisial 'H-M'. Menurut siswa dengan inisial 'K-S' pukul 19.00 saat sedang melewati restorant kecil, dia melihat sebuah Apartement besar dan melihat seorang perempuan yang di kenal dan perempuan itu adalah 'H-M'.'H-M' terlihat memasuki sebuah Apartement yang ternyata dimiliki oleh Ichigo Kurosaki. Karena penasaran, 'K-S' mendekati Apartement tersebut. Dia mendegar suara kegaduhan, dan beberapa teriak kecil. Saat beberapa jam kemudian 'K-S' bersembunyi dan melihat mereka berdua keluar dengan wajah yang terlihat kelelahan. 'K-S' pun memfotonya sebagai barang bukti.
Jika kalian perhatikan berita dia atas, apa pantas seorang pelajar telebih lagi masih Junior High School tinggal bersama berdua di Apartement. Mereka berdua merupakan contoh yang tidak baik bagi kita sesesama pelajar.
Ichigo gemetaran dan berkeringat dingin. BUAGH Ichigo pun memukul mading dengan keras sehingga terlihat beberapa retakan. Dia pun menngambil kertas itu dan merobeknya. Pikiran Ichigo sudah hilang yang dia tau hanya mencari orang yang membuat sahabatnya Momo Hinamori terlibat.
'Siapa yang berani melakukanya ? perkataanku kemarin tidak serius. Kenapa harus terjadi ?' batin Ichigo.
"Karenamu Hinamori menjadi sasaran, dan dia telah dimaki-maki oleh teman sekelasnya tadi pagi. Entah kemana dia sekarang"
"Asal kalian tau saja. Berita ini sebuah kebohongan besar" Ichigo pun pergi sambil berlari kesana kemari.
NAH Bagaimana ? mungkin garing sih, tapi yaaa karena ga ada ide yang muncul hanya ini, akhir kata : mohon saran dan kritikannya, daaaaahhh...
