Lama tak bertemu minnaa... :) maaf kelamaan update.. beberapa bulan terakhir Ren lagi berhadapan dgn yg namanya : "My Life Suck" *sigh* bikin Ren ketemu ama WB.. maaf banget baru bisa update... dan kayaknya ini kepanjangan deh... yasudahlah... have fun minnaa :)


Balasan review :

Angel Muaffi

#oh ya! :) makasih udah mampir :)

Guest

#Kyuubi itu... bukan monster kok dia siluman #eh?

Tenang... Fuga bukan pedo kok. :)

kinana

#Iya lama... WB menjerat jari Ren (?) gomeennn.. :( tapi makasih udah mampir :)

nauchi

#Iyaa... emang aneh ya kalo Fuga jatoh cintrong? -_-

Makasih untuk reviewnya ya.. :)

Yuzuru

#Hahaha.. namanya juga Uchiha.. #dibakar.. yoshh.. makasih untuk reviewnya :)

Amach cuka'tomat-jeruk

#Iyaa.. akhirnya.. maaff,, ini updatenya juga kelamaan *sigh* makasih untuk mereview :)

Ayuni Yukinojo

Aa.. makasihhh... maaf emang kelamaan sihhh.. sekali lagi makasih udah mampir yaa :)

Dee chan - tik

#maaf kelamaan WB nihh... iya ini akhirnya lanjut.. :) makasih untuk reviewnya :)

Icha Clalu Bhgia

#Salam kenal :) maaf.. Ren kena WB *nangis* jadi harus membangkitkan kepingan-kepingan dari hasrat menulis yang ngilang *halah!* makasih untuk reviewnya ya :)

hanazawa kay

#Iyaa.. makasih untuk reviewnya... maaf... kelamaan :)

Yuuki No Hime

#Makasihhh :* yosh ini lanjut... :)

ila hunter

#Yosh... ganbatte.. ini lanjut kok.. akhirnya.. makasih reviewnya :)

Setsuko Hinata

#salam kenal :) iya sih.. Ren juga rada geli kalo dengar cerita adegan M-rate Live pula.. beda kalo baca #Eh?

hahaha.. hidup mu menarik yaa.. makasih untuk review n ceritanya ya.. :)

tohoMAX

#hahaha... becanda kok.. ngeri ahh kalo papa Fuga jadi pedo.. -_- makasih untuk semua reviewmu ya tohoMAX-san :)

Yun Ran Livianda

#Kissuu back... makasihhh Yun-san :* maaf gak bisa cepat... WB menghadang. Ugh.. sorry. Hahaha klo udah ketemu bagi" cerita ya ;) dan makasih untuk reviewnya :)

gdtop

#sama yg bikin juga pusing -_- hahaha.. makasih udah mampir :)

Pita si OtakuFujo

#Iyaaa lanjuutt... :) makasih untuk mampir :)

Yuki

#Woah.. keluarga yang ramai... Ren Cuma dua bersaudara dan doyan banget bertengkar.. hahaha sayangnya kedua kakek (Fuga-Mina) cinta mati ama istrinya.. jadi di sini tidak ada pair FugaMina hehe.. Tsundere itu: menggambarkan perubahan sikap seseorang yang awalnya dingin dan bahkan kasar terhadap orang lain sebelum perlahan-lahan menunjukkan sisi hangat dirinya pada orang lain. Dan terimakasih untuk semua reviewmu Yuki-san :)

Calico Neko

#Aaa.. gomen neee... :( Ren kena WB.. maaf banget... Demi cintanya Sasuke tidak akan menyerah! hohoho makasih untuk reviewnya :)

Yamaguchi Akane

#Aaa... makasih banyak reviewnya... bikin Ren tambah semangat... maaf ya kelamaan :(

TheBrownEyes'129

#Hahaha... iya tapi dalam arti lain kok... yosh! Makasih reviewnyaa :)

Wookie

#Gomeeennn... kelamaan update... :( salahkan WB.. Ugh!
ahh soal gambar Ren juga pernah denger emang gak boleh.. (untung Cuma bisa gambar gunung, rumah, ama jalanan) #dilempar
tabah yaa... *pukpuk*

Makasih banyak reviewnya :)

Aki Ame

#yepp dan akhirnya ini lanjut juga.. maaf kelamaan :( tapi makasih untuk reviewnya :)


Naruto © Masashi Kishimoto

Allergy or Love written by RenJeeSun

Rated: M (for Theme)

Genre: Romance, Hurt/Comfort.

Pairing: SasuNaru.

warning: AU, Yaoi, BL, OOC (sangat), OC, typo bertebaran, bahasa kasar.

Well, if you Don't like, don't read!

::A::C::SN::J::S::

.

::A::C::SN::J::S::

.

"Aku akan memberitahumu. Sebenarnya ini lucu," kata Kushina. "karena Fugaku jatuh cinta pada anak kita."

Cuaca di luar masih cerah, waktu beranjak semakin siang, namun Minato yakin telinganya bermasalah. Sebenarnya antara cuaca dan telinga itu tidak ada hubungannya. Apa otaknya mulai bermasalah? Kalau yang satu itu Minato tidak yakin. Dia jenius. Tidak mungkin otaknya bermasalah. Jadi pendengarannya benar-benar bermasalah? Hemm... sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan? Otak yang dia banggakan itu pun tidak mengerti. Oke pikirannya semakin tidak jelas. Ia melantur, itu yang ia mengerti.

Besok ia akan menemui dokter pribadinya. Atau mungkin ini hanya masalah penuaan. Iya, itulah yang sekarang ini ingin diyakini Minato. Ia lebih memilih mengakui masa penuaannya dibandingkan mengakui perkataan istrinya barusan. Meyakinkan diri bahwa ia tidak mendengar istrinya mengatakan bahwa mantan rival merangkap sahabatnya sejak sekolah dasar ini jatuh... Minato bahkan tidak sanggup mengulang kembali dua kata itu. Ia merinding.

Tidak mungkin pria tua dihadapannya ini adalah penyuka daun muda. Itu kan istilahnya?

"Sepertinya telingaku mengalami masalah. Bisa kau ulangi apa yang kau katakan tadi, Sayang?"

Kushina tersenyum pada suaminya, "Kau mendengarnya, Minato."

Otak Minato berhenti bekerja.

"Kushina," ucap Mikoto halus, menahan tawa melihat wajah Minato yang berubah pucat, "kau membuat suamimu stres."

Kushina tersenyum miring pada Mikoto, ia melirik suaminya dari ekor matanya. "Dia hanya syok."

"Itu karena pemilihan katamu yang terlalu ekstrem," Fugaku akhirnya kembali bersuara.

Kushina beralih menatap pria yang selalu suka menggoda suaminya itu, alis Kushina terangkat, "Tapi yang kukatakan itu benar, lagipula kau juga senang melihatnya syok begitu."

"Tentu saja aku senang." Fugaku tidak mau repot-repot menyangkal.

Tiba-tiba Minato berdiri, raut wajahnya campur aduk. Seperti mual dan ingin muntah. Minato tidak mau menatap Fugaku, ia langsung menunjuk pintu utama.

"Fugaku, kau bisa pergi dari rumahku. Sekarang."

Melihat sikap suaminya, Kushina meringis, Mikoto mendengus menahan tawa, dan Fugaku mengambil cangkir di meja dan kemudian menyesap kopinya yang telah mendingin dengan tenang. Sama sekali tidak berniat memenuhi perintah tuan rumah.

"Otak suamimu konslet," ucap Fugaku kemudian di tujukan pada Kushina yang berusaha menenangkan Minato yang telah mengeluarkan aura membunuh disekitarnya. Minato mendelik pada Fugaku yang masih bisa bersikap tenang setelah apa yang baru saja didengarnya.

"KAU JATUH CINTA PADA ANAKKU!" raung Minato, napasnya terengah, ia tidak percaya akhirnya ia mengucapkan kata itu. "Menurutmu bagaimana aku harus bersikap!" Ia kebingungan, dan sedetik kemudian raut wajah Minato memelas, "Aku hanya melakukan ini sekali... Aku mohon Fugaku demi persahabatan kita, lupakan perasaanmu itu, Ne? Aku tidak sanggup jika harus melihat anakku hidup bersama kakek tua sepertimu."

Pelipis Fugaku berkedut, mempertimbangakan untuk memukul kepala direktur Namikaze di hadapannya. Apa dirinya tidak sadar bahwa dia juga kakek-kakek, heh? Lalu memangnya siapa juga yang berniat hidup bersama bocah ingusan? Otak kakek pirang di hadapannya ini memang konslet kalau tidak pasti terbakar. Fugaku mendengus, lebih memilih tidak mengungkapkan pikirannya daripada menghadapi seorang kakek pirang yang sedang panik. Baginya itu mempercepat penuaan.

Lalu Minato menoleh pada istrinya, "Dan kau istriku, bagaimana bisa kau merahasiakannya dariku, bagaimana bisa kau masih bersikap tenang seperti sekarang?"

Kushina menyentuh lembut tangan suaminya yang berkeringat, "Minato-kun," tersenyum miring, "kau benar-benar percaya?"

Kening Minato mengernyit, berusaha memahami kalimat istrinya di tengah kebingungan yang ia alami. Beberapa detik kemudian tatapannya kosong. Ia dibodohi.

"Kepalanya berasap," komentar Fugaku melihat keterdiaman Minato.

"Apa tidak ada komentar berguna yang bisa kau ucapkan, Huh!?" sentak Minato.

Fugaku memutar bola matanya malas.

"Kushi-chan, kau tega sekali berbohong padaku," Minato merajuk.

Kushina mengangkat bahu, "Aku tidak berbohong padamu. "

Minato ingin protes, namun Mikoto langsung memotong. "Kushina benar-benar tidak berbohong, Minato," kata Mikoto, meyakinkan.

"Lalu kau sebut ini apa?" gerutu Minato, masih tidak terima.

Mikoto menggelengkan kepala pelan, "Sebaiknya kau tenangkan dirimu. Dan aku akan menjelaskannya padamu," melihat Minato melakukan apa yang dikatakannya, Mikoto tersenyum tipis, "yang dikatakan Kushina itu benar, suamiku benar-benar jatuh cinta pada anakmu, itu istilah yang kami gunakan selama ini. Tapi tidak dalam konteks romantis. Paham?"

Minato tak berkomentar, ia hanya diam menanti penjelasan detail dari Mikoto.

"Suamiku hanya terlalu menyayangi anak-anakmu Minato. Keceriaan mereka, kepolosannya, hal-hal yang sayangnya itu semua tidak ada pada diri anak-anak kami," jelas Mikoto, "dan itu semua karena keketatan tradisi dikeluarga kami yang membentuk kepribadian anak-anak kami menjadi lebih keras. Bahkan kau pun tahu karena tradisi itu kami harus rela mengorbankan kebahagian salah satu dari mereka. Dan kami tidak ingin melakukan hal yang sama kepada anak-anakmu."

Minato mendengus, menurutnya ini konyol. Tatapannya menghujam pasangan di hadapannya. "Kita semua bukan penakut yang tunduk pada aturan keluarga!" seru Minato tiba-tiba, "Apa yang kau katakan bahkan tidak bisa disebut sebagai alasan yang pantas menghancurkan kebahagian anak-anak kita!"

"Apa kau belum mengerti juga!?" bentak Fugaku, raut wajahnya mengeras.

Kedua kepala keluarga itu kembali saling menatap dengan ekspresi kemarahan yang sangat jelas untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

"Ini semua tidak semudah itu! Buka matamu Minato! Dan lihat siapa kami! Siapa yang kau inginkan menjadi bagian dari kebahagian anak-anakmu!"

"Mereka anakmu—"

"Itulah yang kumaksud! Mereka anakku! Anak dari seorang pria yang telah mengacaukan keluarganya demi keegoisan pribadi!"

"Ap... apa?"

Fugaku menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. Sikap tenang Uchiha ia tanggalkan. Ini membuatnya terlalu sakit kepala. Mengabaikan Minato yang menatap tak percaya padanya.

Ini pertama kalinya Minato melihat Fugaku hilang kendali, tentu saja membuatnya terkejut. Dan pria yang ia anggap selama ini tak punya hati itu bisa merasakan rasa bersalah seperti sekarang... terlebih mengakui dosanya? Wow... Tiran yang satu ini memang luar biasa, pikir Minato. Mencatat baik-baik keadaan ini, berharap ia bisa menggunakannya di masa depan.

"Mereka terlalu mirip denganku Minato. Anak-anakku mungkin bisa membahagiakan anak-anakmu. Tapi hal sebaliknya juga bisa terjadi, keegoisan anak-anakku bisa menghancurkan kebahagian yang kau harapkan itu." Fugaku menelan ludah paksa, "Dan aku akan benar-benar membenci diriku sendiri jika hal itu terjadi." Ia menggeleng, "Tidak itu tidak boleh terjadi. Mereka terlalu berharga."

Keheningan lama terjadi. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Satu hal yang pasti, apa yang dikatakan Fugaku itu benar.

"Apa kau tidak memercayai anak-anakmu, Fugaku?" tanya Minato kemudian.

Fugaku terdiam sejenak, kemudian ia menegakkan tubuhnya, menatap Minato lekat-lekat. Minato tercenung ketika melihat kegetiran yang tertera jelas dalam onyx yang memantulkan bayangan dirinya.

Fugaku tertawa kecil, tetapi bukan tawa yang menyenangkan, lebih untuk mengejek dirinya sendiri, "Perlu kau tahu, selama ini aku sendiri tidak bisa memaafkan perbuatanku pada Mikoto tiga puluh tahun yang lalu. Dan sekarang..." Fugaku mengambil napas dalam, sepertinya memang sudah saatnya ia mengatakan kebenaran, "dan sekarang kau memintaku memercayai anak yang telah melakukan pelecahan seksual pada anak dibawah umur? Sepuluh tahun lalu itulah yang telah dilakukan Itachi pada Kurama." Fugaku menatap kedua orang di depannya bergantian memastikan mereka mendengar kenyataan itu. Tetapi yang ada malah dirinya sendirilah yang terkejut.

Apa-apaan ekspresi itu?

Demi Tuhan! Fugaku benar-benar kehilangan kata-kata setelah kalimat terakhirnya barusan. Tentu saja. Bagaimana tidak jika setelah mengungkapkan fakta yang ia pendam selama sepuluh tahun ternyata ia sampai pada kenyataan lainnya. Kedua orang di depannya ini memang berniat mengumpankan anaknya sendiri ke kandang singa. Ekspresi yang pasangan Namikaze tunjukkan telah lebih dari cukup untuk membuat Fugaku mengerti semua ini.

"Kalian gila," kata Fugaku akhirnya, nyaris frustasi, ia menekan pangkal hidungnya dengan dua jarinya. "Selama ini kalian sudah mengetahuinya, tapi tetap melakukan semua ini?"

Namikaze Kushina mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan, kilau humor dari matanya telah sirna, walaupun sikapnya sangat tenang untuk seorang ibu yang baru saja mendengar anaknya sendiri telah menjadi korban pelecehan seksual. "Kami memang sudah mengetahui itu. Itu salah satu hal yang membuat kami menerima tawaran Itachi, " ujarnya.

Kali ini ruangan tersebut diliputi suasana yang semakin berat. Tidak ada yang membuka suara beberapa saat kemudian, hingga suara Fugaku kembali memecah keheningan.

"Well, saat ini kalian berhasil membuatku bingung," ujar Fugaku, "Aku tidak melihat hal baik dari keputusan itu. Menerima tawaran Itachi sama saja dengan menggoreskan luka baru diatas luka lama."

"Itu semua belum pasti," sahut Minato.

Fugaku menyipitkan mata pada mantan rivalnya itu, "Oh, tentu kalian tidak keberatan menjelaskannya padaku."

Minato menegakkan tubuhnya, mengabaikan nada sinis dari Fugaku yang seperti ingin menguliti dirinya hanya dengan tatapannya. "Baik atau buruknya keputusan itu kita tidak tahu. Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya? Bagaimana jika Itachi-lah satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka lama yang tidak pernah mengering itu?"

"Sejujurnya kami hanya bertaruh di sini," Kushina menyela, sebelum sempat Fugaku kembali memprotes.

"Dengan mempertaruhkan anak kalian?" tukas Mikoto, raut wajahnya tidak menyetujui.

"Perkiraan kebersamaan mereka saat ini apakah menjadi baik atau buruk kedepannya masing-masing imbang," kata Kushina menyampaikan pengamatannya selama ini.

Mikoto meringis, "Aku rasa itu tetap tidak sepadan."

"Mungkin," jawab Minato, ia menunduk, kemudian menyisir rambutnya dengan gerakan frustasi menggunakan jemarinya, "Tapi yang kami tahu kedua anak itu perlu diselamatkan. "

"Sasuke dan Naruto?"

Minato kembali mengunci tatapannya pada Fugaku yang bertanya, "Kedua anak itu lebih baik dari kakak-kakak mereka, untuk yang satu itu kalian tidak perlu khawatir. Kedua bungsu itu punya cara sendiri untuk menentukan hasil akhir yang kita inginkan. Masalah yang sebenarnya adalah pada Kyuubi dan Itachi."

"Yang benar saja! Baik-baik saja kau bilang? Naruto tidak tahu apa yang dihadapinya. Anak pemberontak macam Sasuke akan merusaknya begitu ada kesempatan," papar Fugaku, ekspresinya mengeras, "Dan perlu kalian tahu, sudah terlambat untuk menyelematkan Itachi. Moralnya sudah benar-benar rusak. Yang seharusnya kalian lakukan adalah melindungi anak kalian darinya."

"Uh-oh," Minato meringis, dengan kebenaran ucapan Fugaku. Ia tidak akan menyangkal hal itu, ia sendiri tahu konsekuensi dari semua yang direncanakannya. Tak lama kemudian ia malah terkekeh dan akhirnya tertawa melihat Fugaku yang menatap dirinya seolah ia memiliki dua kepala. Dan tatapan itu tidak jauh berbeda dengan tatapan yang diberikan kedua wanita yang berada di ruangan yang sama. Hingga akhirnya tawa Minato berhenti dan digantikan dengan senyum kecil.

"Ini menyedihkan, iya kan?" kata Minato, akhirnya mengungkapkan kegetiran yang sejak lama ia rasakan. "Kita seperti menghancurkan anak masing-masing dan malah melindungi anak orang lain. Menurutmu apa yang akan dipikirkan anak-anak kita jika mendengar semua ini?"

Fugaku mendengus, "Kalau begitu hentikan semua omong kosong ini, Brengsek."

"Kau pikir aku tidak mau!?" ujar Minato, jelas sekali terdengar nada keputusasaan darinya, emosinya benar-benar terpancing. Tutup mulutmu Minato... jika tidak kau akan menyakiti mereka. Kau harus diam. Tapi perdebatan batin itu tidak lama karena Minato sendiri tahu dengan tidak mengatakan apapun ini semua tidak akan menjadi lebih baik dan kata-kata itu terlontar begitu saja, "Jika aku bisa aku sudah membunuh anakmu sejak lama."

Awalnya kedua Uchiha itu tertegun mendengar kejujuran itu. Kemudian Fugaku tersenyum kaku, "Bagus, akhirnya kau mengatakan sesuatu layaknya seorang ayah baginya," sindir Fugaku tajam.

Tapi kali ini Minato hanya tersenyum kecil menanggapinya. "Bukankah kau sama saja? Sejak tadi yang kudengar hanyalah kau yang berusaha semakin menjelek-jelekkan anakmu sendiri."

Fugaku mendengus, "Itulah kenyataannya, aku tidak akan berbohong demi keselamatan Naruto dan Kyuubi."

"Kau terlalu meremehkan kedua bocah yang selalu kau anggap suci itu, kau tahu. Mereka tidak akan semudah itu rela dihancurkan tanpa perlawanan. Mereka bukan lagi bocah yang tidak mengerti apa-apa."

Fugaku memutar bola matanya, "Setidaknya kau merawat mereka dengan baik."

"Dan kau menelantarkan anak-anakmu," tukas Minato ringan yang langsung mendapat pelototan tajam dari Fugaku.

"Tapi pertaruhan ini tidak ada artinya jika mereka tidak bisa mengatasinya. Kita bisa kehilangan ikatan yang kita miliki saat ini, risikonya terlalu besar," Mikoto menyela sebelum kedua pria itu berusaha saling mematahkan leher satu sama lain.

"Kami juga mengerti itu, Mikoto-chan," tukas Minato datar.

"Lalu kenapa—"

"Kami tidak bisa," kata Kushina memotong perkataan Mikoto, "Sejujurnya aku benci mengakui ini, tapi Itachi harapan kami satu-satunya untuk menyembuhkan Kurama."

"Menyembuhkan?" Mikoto terkesiap saat menerima pemahaman baru. Tentu saja, bagaimana ia tidak memperkirakan hal ini, kedua orang dihadapannya ini tidak akan begitu keras kepala jika tidak ada alasan yang kuat di balik keputusan penuh risiko semacam ini. "Apa yang terjadi padanya? Demi Tuhan Kushina! Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan!?"

Keheningan lama terjadi, kedua Namikaze itu kali ini memilih untuk bungkam. Hingga akhirnya seorang pelayan menghampiri mereka dan mengabarkan bahwa waktu makan siang telah tiba dan telah dihidangkan.

"Yang perlu kalian lakukan saat ini adalah percaya pada mereka," kata Minato setelah kebungkamannya yang lama. "Kami akan menceritakan semuanya pada kalian, tapi tidak sekarang. Pembicaraan ini sudah cukup membuatku lelah. Mungkin besok kita akan membicarakannya lagi—" Minato menatap kedua Uchiha itu dengan pandangan ragu "—kalian tidak mungkin kembali ke Suna hari ini juga, iya kan?" tanyanya yang mendapat anggukan langsung dari Mikoto.

Kekhawatiran itu terbayang jelas di wajah Fugaku, "Kau tahu, Minato. Semua ini seperti mengharapkan keajaiban yang tidak akan pernah datang."

"Mungkin ini sedikit bisa menghapus rasa cemasmu... Bagaimana jika aku mengatakan Kyuubi masih mencintai Itachi?" Lalu Minato meringis saat melihat ekspresi seperti apa yang diperlihatkan sahabatnya itu. "Oh, kau tidak perlu menjawabnya." Minato mengutuk Uchiha dan pikiran-pikiran negatif mereka.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Memalukan.

Memalukan!

Ya Tuhan... apa-apaan tadi malam itu?

Naruto saat ini masih membenamkan diri dalam selimut tebalnya disaat matahari telah meninggi di luar sana. Ia tidak benar-benar masih tidur, ia hanya ingin mengubur dirinya dalam-dalam saat ini juga. Rasa malu membuatnya hanya ingin mengurung diri di kamar sepanjang hari. Bahkan ia langsung mengusir pelayan yang telah mengantar sarapan untuknya. Ia juga tidak mengizinkan siapa pun memasuki kamarnya termasuk Sasori yang tadi juga ingin mengecek keadaannya. Naruto tidak pernah merasa semalu ini seumur hidupnya. Ia tidak pernah tahu jika rasa lelah digabung dengan ketakutan bisa sangat mengerikan.

Bagaimana mungkin ia bisa jatuh tertidur seperti tadi malam?

Lebih tepatnya mengapa ia bisa jatuh tertidur—menangis—dalam pelukan bajingan itu?

Naruto sendiri masih tidak percaya ia melakukan itu. Ia sendiri tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke kamarnya. Apa itu artinya Sasuke menggendongnya?

Ya Tuhan, bunuh saja aku.

Saat Naruto memikirkan cara tercepat untuk mengakhiri hidupnya, tiba-tiba ia mendengar suara-suara berisik dari arah halaman belakang. Naruto menyingkap selimutnya, merasa penasaran ia menurunkan kakinya dari ranjang dengan masih membungkus tubuhnya dengan selimut, seperti kepompong, ia mendekat pada jendela dan melihat ke bawah.

Alisnya terangkat begitu melihat Uchiha Itachi berada di tepi danau dengan keadaan setengah telanjang di pagi hari yang cerah ini dan sedang berteriak—ia mendengar suara kakaknya dari kamar sebelah—berbincang? Dengan Kyuubi? Kapan Kyuubi datang? Dan seingatnya sewaktu makan malam tadi ia tidak melihat luka di pelipis Itachi. Apa yang sudah ia lewatkan?

Dan Apa ia baru saja mendengar pria itu menggoda Kyuubi?

Ini kejadian langka. Tidak ada seorang pun yang Naruto kenal berani bersikap seperti itu pada kakaknya. Yah, untuk yang satu ini pengecualian—orangtuanya tidak masuk hitungan. Walaupun ia tidak bisa melihat ekspresi Kyuubi yang berada di kamar sebelah, hal ini semakin membuatnya terheran-heran ketika kakaknya itu merespon dengan sangat tidakKyuubisekali. Maksudnya... well, ia jarang mendengar Kyuubi menyinggung seseorang secara fisik jika bukan karena ia kehabisan kata-kata.

Wait...

Kyuubi kehabisan kata-kata? Melawan bajingan yang menggodanya? Yang benar saja! Ini lebih dari pengecualian.

Naruto mengernyit dalam. Omong-omong Naruto tidak tahu jika Kyuubi akrab dengan Itachi.

Sejak kapan?

Beberapa saat kemudian Naruto tidak lagi mendengar adanya dua orang saling berteriak—berbincang. Merasa penasaran Naruto kembali melihat ke bawah dan ia melihat... Sasuke! Refleks ia kembali menyembunyikan tubuhnya di bawah jendela. Daripada memikirkan orang lain, saat ini lebih baik ia mencari cara bagaimana mengatasi rasa malunya.

Tapi bagaimana...? Lalu sudut bibir Naruto tertarik lebar, ia tertawa sendiri. Ia berdiri, melemparkan selimut yang sejak tadi membungkus tubuhnya ke sembarang arah. Memperlihatkan tubuhnya yang masih mengenakan piyama. Naruto kembali terdiam.

Sejak kapan ia pakai piyama?

Refleks ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menyadari satu hal lagi yang memalukan. Walaupun sejujurnya ia tidak terlalu ingat apa yang terjadi hingga ia bisa sampai di tempat tidurnya. Yang memastikan bahwa Sasuke-lah yang mengganti yukatanya dengan piyama. Dalam hati Naruto hanya berharap Sasuke tidak melakukan lebih dari sekedar menggantikannya piyama. Naruto merinding hanya dengan membayangkan apa yang mungkin dilakukan Sasuke semalam.

Lalu ia menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak ada yang terjadi. Naruto yakin itu atau setidaknya berusaha. Lalu ia kembali ke rencana semula. Ia sudah menemukan cara untuk mengatasi bajingan itu. Kemudian ia menuju sebuah meja dan mengambil selembar kertas untuk kemudian menulis sesuatu di atasnya. Tepat setelah ia selesai menulis dan melipat rapi kertas itu pintu kamarnya terbuka.

"Cepat kemasi barang-barangmu, kita akan pulang satu jam lagi." Itulah kalimat pertama yang terlontar dari kakaknya ketika menginjak kamarnya untuk pertama kali.

Untuk beberapa detik Naruto hanya menatap kakaknya itu dengan pandangan heran. Lalu, "Aku tidak bisa," kata Naruto cepat, mengabaikan tatapan tajam dari Kyuubi, ia menuju tempat tidurnya dan menyelipkan kertas itu di bawah bantal tidurnya tanpa diketahui Kyuubi.

"Apa maksudmu 'tidak bisa'? Apa aku salah mengira bahwa kau tidak menyukai mereka?" Kyuubi bersandar pada meja yang menghadap Naruto, melipat tangan di depan dada.

"Tidak kau benar, aku memang tidak menyukai mereka. Tapi jika pulang sekarang itu tidak ada gunanya, toh mereka nantinya juga bisa menyusul, yang artinya di sini dengan di rumah tidak ada bedanya dan kau juga tahu jika bajingan itu sudah menentukan aku sebagai targetnya."

"Dia tidak akan bisa melakukan apapun padamu."

"Bagaimana bisa kau seyakin itu? Tunggu sebentar... apa sekarang kau sedang dalam mode pahlawan untukku?" Naruto menyeringai.

"Dalam mimpimu!" ketus Kyuubi, ia mengalihkan pandangannya dari Naruto. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Itu saja."

Naruto memutar bola matanya. Tidak berharap mendengar jawaban jujur dari kakaknya itu, "Ya, ya. Terserah. Tapi aku tidak bisa pulang sekarang." Kemudian Naruto mengangkat alisnya, "Oh ya, sejak kapan kau datang?"

Ekspresi Kyuubi melunak, ia kembali menatap Naruto, "Tadi malam."

"Untuk apa?"

"Menjemputmu, tentu saja. Kau pikir apa?"

Naruto mengalihkan pandangannya dari Kyuubi, "Menemui pengagummu, misalnya."

Kening Kyuubi mengerut dalam, ia tidak mengerti apa yang sedang diocehkan adiknya kali ini.

Naruto melirik Kyuubi yang diam saja. "Aku sampai kagum padanya. Ya ampun! Dia berani sekali merayumu," kata Naruto, yang tidak menyia-nyiakan kesempatan mengoda kakaknya itu, yang masih ditanggapi Kyuubi dengan tatapan tidak mengerti kemana arah pembicaraan Naruto. Lalu Naruto memerhatikan penampilan Kyuubi, rambutnya yang setengah kering dibiarkan berantakan begitu saja, Kyuubi menggunakan kaos merah maron berbentuk v-neck dengan celana jins longgar. Naruto menyeringai, "Kalau dilihat-lihat hari ini kau memang terlihat seksi."

Untuk sesaat Kyuubi membeku. Lalu ia membuka mulutnya, ia berusaha terdengar biasa saat menanyakan, "Kau mendengarnya?"

"Terakhir kali aku memeriksa telingaku, aku yakin pendengaranku baik-baik saja. Dan kamarmu tepat di sebelah kamarku, kau ingat? Bagaimana bisa aku tidak mendengar teriakan-teriakan itu?" jawab Naruto acuh, ia tidak mengerti kenapa kakaknya itu menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. "Hei Kyuu, coba ceritakan padaku, sebenarnya kau punya hubungan apa dengannya? Kalian terlihat akrab."

Kyuubi menunduk, ia menurunkan tangannya, beralih mencengkram tepian meja, "Aku akan memberitahumu satu hal. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan Uchiha Itachi sepuluh tahun lalu." Nada suara Kyuubi merendah, berbahaya, "Hingga sekarang dia adalah satu-satunya orang yang sangat ingin kuhancurkan sampai berkeping-keping," ia kembali mengangkat kepala.

Sungguh saat ini rasanya Naruto ingin lari, berlari sejauh mungkin dari pria di hadapannya. Naruto menelan ludah paksa, saat ini Kyuubi sangat menakutkan, ekspresinya seperti iblis pencabut nyawa.

"Jika kau tidak ingin menjadi kesalahan yang sama untukku karena mempunyai adik seperti mu," Kyuubi berbicara dengan rahang terkatup rapat, sehingga terdengar seperti desisian, namun masih dapat terdengar sangat jelas, "jangan pernah mengungkit hal ini lagi di depanku, mengerti Naruto-chan?"

'-Chan'.

Tambahan sufix di belakang namanya sudah cukup membuat Naruto menelan ludah, ia berkeringat dingin, lalu mengangguk cepat-cepat dan mulai menanamkan dalam otaknya jika percakapan mengenai Uchiha Itachi dalam kamus Kyuubi benar-benar terlarang. Titik.

Kyuubi tersenyum, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan, dan berkata dengan nada yang sudah kembali normal, lalu ia mengulurkan tangan mengusap kepala Naruto. "Bagus, adik pintar." Sayangnya senyum yang membuat kakaknya terlihat luar biasa tampan itu tidak membuat Naruto terkesan, sebaliknya malah membuat Naruto merinding dan dengan takut menjauhkan diri dari jangkauan tangan hangat Kyuubi.

"Jadi ayo kita kembali pada pembicaraan awal kita," senyum di wajah Kyuubi sirna, berganti dengan raut wajah serius. "Berikan alasan yang bagus kenapa aku harus menurutimu."

Naruto berkata dengan hati-hati, "Aku harus melakukan sesuatu."

"Melakukan apa?"

"Aku harus memaksa bajingan-teme itu mundur."

Kyuubi memerhatikan adiknya lekat, "Jika kau sudah bisa berkata seperti itu, aku rasa kau sudah memiliki rencana. Apa itu benar?"

Naruto tidak bisa menahan senyum lebarnya, ia mengangguk dengan semangat. Benar-benar yakin jika rencananya akan berhasil. "Tentu saja!"

Kyuubi hanya memutar bola matanya melihat kobaran semangat pada mata adiknya itu, "Baiklah, aku akan memberimu waktu sampai besok lusa. Jika sampai saat itu kau belum bisa membuatnya mundur, aku tetap akan membawamu pulang, walau aku harus menyeretmu."

"Lusa? Aku pikir tidak akan selama itu—Hei! Jangan sentuh itu!" Naruto buru-buru menghampiri Kyuubi yang sedang mengamati sebuah botol kecil berwarna hitam. Lalu merampasnya dengan kasar. "Jangan sembarangan menyentuh barang orang lain!"

Kyuubi mengernyit, ia tanpa sengaja menyenggol botol itu yang memang berada di atas meja, "Apa itu? Benda itu terlihat mencurigakan."

Naruto tersentak, "Huh? Eh, i-ini hanya barang titipan Neji, hanya sebuah parfum saja."

Mata Kyuubi menyipit curiga, lalu ia merebut parfume itu dari Naruto, "Jika ini berkaitan dengan Hyuuga yang satu itu aku tidak percaya jika ini hanya sebuah parfum."

"Ta-tapi itu memang parfum!" sungut Naruto ia tidak suka disebut pembohong. "Coba saja periksa."

Awalnya Kyuubi terlihat ragu, ia memerhatikan botol itu sejenak, lalu membuka tutupnya yang berwarna gold dan sedikit menghirup aroma parfume itu. Wanginya tidak biasa, tercium aroma manis yang unik, namun tidak terkesan feminim yang menguar dari botol itu, dan Kyuubi langsung menyukai wanginya. Ia tanpa ragu langsung meneteskan sedikit isinya di telapak tangan dan mengusapnya, kemudian ia mengoleskan parfum itu pada lehernya dan menutup kembali botolnya lalu menyodorkan kembali botol itu pada Naruto.

Alis Kyuubi terangkat sebelah, "Kenapa kau memelototiku seperti itu?"

Naruto nyaris tak bisa berkata-kata, "Ka-kau memakainya..."

Kyuubi berdecak, "Aku hanya memakainya sedikit. Kau ini pelit sekali."

"Bukan itu!"

Kyuubi melambaikan tangan di depan wajah Naruto, "Sudahlah, jika nanti Hyuuga itu protes karena aku memakainya sedikit, suruh dia minta ganti rugi padaku." Lalu Kyuubi beranjak pergi dari kamar Naruto.

Meninggalkan Naruto dalam kebingungan. Iya, itu memang parfume, tapi parfum yang dipesan khusus oleh Neji dan sehabis pulang kuliah kemarin parfum itu dititipkan sementara pada Naruto. Rencananya Naruto akan mengembalikan parfum itu hari ini. Tapi akibat ulah Deidara ia harus menundanya. Dan tadi kakaknya itu mencobanya. Naruto tidak benar-benar yakin bagaimana reaksi dari parfum itu, yang jelas Neji sudah melarang siapa pun mencobanya jika tidak mau terkena efek parfum itu. Akhirnya Naruto mengangkat bahu pasrah.

.

::A::C::SN::J::S::

.

"Dia itu benar-benar Iblis! Kau lihat kan semalam ia nyaris membunuhku."

"Kau sendiri kan yang memulainya," Sasori hanya menggelengkan kepala melihat Deidara yang sejak tadi terus mengeluh. Saat ini mereka sedang berada di ruang santai. Deidara sedang berbaring di sofa panjang dengan lengan kiri yang di perban. Luka akibat tertusuk pecahan keramik semalam. Sedangkan lebam di pipi kirinya pun juga telah di beri plester.

Deidara memberengut, "Aku akui itu. Tapi tetap saja..."

"Aku ingat bagaimana kau memprovokasi Kyuubi semalam." Sasori memotong, memberikan senyum tipis, "yang membuatku bingung untuk apa kau melakukannya?"

"Dia itu menakutkan jika sedang marah, iya kan?" Deidara menyengir, "Tapi biarpun begitu aku juga punya pride sebagai laki-laki, kau tahu. Setidaknya aku tidak mau terlihat takut di depannya."

Untuk sejenak Sasori yang sedang duduk di sofa yang berlawanan arah hanya diam. Ia menatap Deidara lekat.

Deidara mengangkat alisnya, "Mengapa kau menatapku seperti itu, Senpai?"

"Kau tahu, jika denganmu aku tidak bisa membedakan mana yang disebut dengan keberanian dan mana yang kebodohan," komentar Sasori kemudian.

Ekspresi Deidara berubah masam mendengarnya, "Senpai, kau itu sangat pintar menghibur orang yang sedang sakit."

Sasori tersenyum, "Terimakasih."

"Itu bukan pujian!"

Sasori malah tertawa.

Dan Deidara tidak melepaskan pandangan sedetik pun dari dari wajah Sasori yang sedang tertawa lepas itu, yang menularkan senyum di wajahnya. Baginya saat ini Sasori terlihat dua kali lipat lebih tampan. Deidara tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Betapa bahagianya dia bisa bersantai berasama pria yang ia kagumi. Untuk beberapa bulan lalu Deidara bahkan tidak pernah bermimpi bisa berada sedekat ini dengan Sasori, seorang mahasiswa jenius di angkatannya. Tapi lihatlah sekarang, di peternakan yang indah ini ia bisa mengobrol dan bercanda dengannya. Ya Tuhan... ia sendiri masih tidak percaya ini. Sekarang ia bisa berada sedekat ini dengan orang yang dicintainya.

"Aku suka melihat senpai tertawa." Komentar itu terlontar begitu saja dari mulut Deidara tanpa sempat diproses otaknya terlebih dulu dan langsung disesalinya, ia merutuk dalam hati. Deidara merubah posisinya menjadi duduk dengan canggung, "Eum... itu... maksudku—"

"Aku mengerti maksudmu," potong Sasori, ekspresinya mendadak berubah datar.

"A-Ah, benarkah?" Deidara tertawa canggung. Walaupun jantungnya nyaris copot. Selama beberapa saat Deidara terdiam. Ia tahu ini merupakan sebuah kesempatan baginya. Tapi ia tidak bisa mengusir rasa takut yang selama ini menghantuinya karena perasaanya sendiri. Bagaimana jika Sasori menolaknya? Deidara kemudian menarik napas dalam. "Ugh! Baiklah, karena senpai berkata seperti itu. Aku tidak akan sungkan lagi..." Deidara meremas bagian ujung kemejanya dan menarik napas dalam sekali lagi, memantapkan hati ia berkata, "Sudah sejak lama aku menyukaimu, Sasori-Senpai."

Namun Sasori hanya diam.

Deidara semakin salah tingkah.

"Kau tahu tidak apa pendapat seluruh orang di kampus tentang dirimu?" tanya Sasori kemudian memecah keheningan.

Perubahan arah pembicaraan ini membuat Deidara bingung, "Apa?"

"Sang penakluk."

"Huh?"

Sasori kemudian menatap Deidara lekat, tatapan yang sulit diartikan. "Sang Penakluk," ulang Sasori, "kau tidak perlu pura-pura tidak mengerti seperti itu. Aku yakin kau tidak buta dengan sekelilingmu dan kau pasti tahu pendapat apa yang diberikan oleh semua orang di kampus tentang dirimu. Kau—Deidara hanya seorang pria yang hanya bertekad menaklukan pasangannnya dan kemudian meninggalkannya ketika kau sudah bosan."

Deidara terkesiap mendengar semua itu, "Senpai—"

"Jadi katakan, apa ini juga salah satu petualanganmu? Katakan padaku, berapa lama kau akan 'menyimpan'ku jika aku menerima pengakuanmu itu? Mungkin aku bisa mempertimbangkannya. Menurut yang aku dengar teknik yang kau miliki lumayan mengesankan, bahkan kata mereka kau bisa membuat mereka memohon lebih. Dan aku pikir tidak ada salahnya mencoba."

Ya ampun, rasanya Deidara lebih memilih menenggelamkan diri ke danau saat ini juga. Deidara pikir Sasori tidak akan tahu hal itu. Selain karena mereka yang berbeda jurusan dan gedung kelas mereka yang sangat jauh jaraknya. Tetapi siapa sangka dia bisa sangat terkenal, huh? Dengan sekuat tenaga Deidara berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Tidak. Dia tidak akan menangis di depan Sasori. Di depan orang yang ia pikir berbeda dari orang-orang disekitarnya yang hanya suka bergosip. Merasa miris dalam hati karena ia begitu bodoh percaya dengan sikap lembut yang selalu Sasori berikan padanya. Ia menunduk dalam, tidak menginginkan Sasori melihat ekspresinya saat ini.

"Kau tahu, sebenarnya itu salah satu alasanku menerima tawaranmu kemari. Aku penasaran bagaimana cara 'Sang Penakluk' dalam berburu mangsa. Kurasa ini akan jadi liburan yang menarik. Dan aktingmu barusan sungguh mengesankan, Deidara-kun. Aku sekarang mengerti bagaimana mereka semua bisa tunduk padamu. Bahkan aku nyaris saja percaya dengan aktingmu barusan. Mungkin kau bisa mempertimbangkan untuk mengikuti audisi pencari bakat."

Deidara mengepalkan tangan dengan erat. Kata-kata Sasori bagaikan anak panah yang terus menggempurnya. Pria inikah yang ia kagumi? Bahkan ia cintai? Oh, kau sungguh buta Deidara.

Membulatkan tekat bahwa ia tidak akan hancur hanya karena memiliki perasaan pada orang yang bahkan tidak pantas mendapatkan hatinya. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyakitinya dengan mudah tanpa mendapatkan balasan setimpal. Jika itu yang Sasori pikirkan tentang dirinya, maka biarkan. Dan ia tidak akan sungkan lagi. Ia akan membuat Sasori benar-benar bertekuk lutut dihadapannya. Ia akan membuat Sasori memohon.

Lalu Deidara berdiri, mengabaikan rasa nyeri pada luka di tubuhnya akibat pergerakan itu. Ia berjalan mendekati Sasori yang hanya menatap semua pergerakannya dalam diam. Dan tanpa Sasori duga tiba-tiba ia merasakan sengatan panas pada pipi kirinya akibat tamparan tak terduga dari Deidara.

Sasori menatap marah Deidara, "Apa-apaan kau!"

Deidara bergeming, lalu sudut bibirnya tertarik. "Itu karena kau membuang-buang waktuku senpai," ujar Deidara tanpa emosi, "jika kau sudah tahu seperti apa diriku sebenarnya, kenapa tidak kau katakan saja dari awal? Jadi aku tidak perlu repot-repot mempermalukan diriku seperti ini."

Lalu Deidara memerhatikan pipi Sasori yang terdapat cap kemerahan hasil dari telapak kananya. Deidara mengulurkan tangan mengusap pipi kiri Sasori membuatnya sedikit berjengit. Kemudian Deidara mengalihkan pandangannya pada manik hazel yang menyorot penasaran padanya.

"Nah senpai, menurutmu apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi rasa sakitmu?"

Tanpa bisa ditahan Sasori menyeringai, dengan tiba-tiba ia menarik tangan Deidara membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh tepat di pangkuan Sasori yang langsung sigap mendekap erat pinggang Deidara.

"Karena kau sudah menawarkannya... menurutku kau bisa menggunakan mulutmu."

Deidara nyaris tersedak dengan keinginan Sasori. Oh, Deidara sangat mengerti jika yang Sasori maksud bukanlah rasa sakit pada pipinya, melainkan pada benda menonjol di balik celana kain yang Sasori kenakan dan Deidara dapat merasakan benda itu menekan paha dalamnya. Deidara tidak bisa mencegah rona merah menghiasi pipinya. Rasa panik langsung menghampirinya. Sial! Walaupun ia tahu bahwa ialah yang memancing Sasori tapi tetap saja ia belum siap. Berbeda dengan semua rumor yang beredar tentangnya selama ini, Deidara sama sekali amatir tentang segala hal yang berhubungan dengan Sex. Demi apa! V-Card miliknya belum pernah terjamah siapapun!

Melihat Deidara yang seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri Sasori tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membungkam bibir Deidara dengan miliknya. Terkejut Deidara hanya bisa membelalakan mata. Ia sudah tidak dapat lagi menghindar.

Sasori kemudian melepas tautan bibir mereka. Lalu memandang Deidara dengan penuh ketertarikan. "Bagaimana kalau kita mencari tempat yang lebih nyaman?" dan memberikan satu kecupan lagi pada bibir yang terlihat membengkak di hadapannya sebelum menuntun Deidara menuju lantai atas di mana kamarnya berada.

.

.

.

"Aku pikir kau lebih tahu apa itu yang dinamakan privasi."

Kyuubi tersentak kaget, ia menegakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang. Ia melihat Itachi yang telah berpakaian lengkap, dengan sebuah kemeja berwarna biru gelap dan celana panjang hitam. Rambut sebahunya yang masih basah dibiarkan tergerai begitu saja.

"Uchiha, apa yang kau lakukan di sini?"

Itachi menatap Kyuubi bingung, "Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau mengintip seperti itu?"

Kyuubi tidak menjawab, walaupun sebenarnya ia tidak sengaja melewati lorong ini dan malah menemukan sepupunya yang sedang menyatakan cinta dengan cara sedikit ekstrem. Baginya ini kejadian langka jadi dia memilih untuk mengamatiwell kata itu terdengar lebih bagus daripada mengintip...

Dengan tiba-tiba ia malah menarik Itachi untuk bersembunyi di antara pilar yang berada di lorong manor yang menuju ke ruang santai. Menyembunyikan tubuh mereka dari penglihatan kedua laki-laki yang berada di ruang santai.

Pikiran Itachi campur aduk ketika Kyuubi menarik bagian depan pakaiannya untuk semakin merapat padanya, menarik masuk ke dalam bayangan. Situasi seperti sungguh tak terduga, tadi Itachi memang akan berkuda dengan Sasuke ia mengurungkan niatnya, dan lihat betapa tepatnya keputusan itu ketika sekarang Kyuubi berada begitu dekat dengannya, terhimpit di antara dirinya dan tembok di belakangnya. Jarak bibir Itachi hanya sepersekian senti dari pipi Kyuubi.

Lalu Itachi menyadari tubuh Kyuubi yang gemetar... karena takut ketahuan mengintip? Tidak, Itachi segera menyadari bahwa Kyuubi sedang tertawa tanpa suara.

Itachi tersenyum bingung pada Kyuubi. "Kenapa kau tertawa?"

Kyuubi masih terkekeh pelan, "Apa kau tidak lihat mereka? Ya ampun lucu sekali."

Mungkin karena aroma yang tercium dari tubuh Kyuubi membuat Itachi tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak mengerti apa yang di maksud Kyuubi. Tapi bagi Itachi saat ini itu semua tidak penting. Itachi menemukan sumber aroma dari tubuh Kyuubi, ia menunduk di dekat leher Kyuubi.

Tanpa sadar satu tangan Itachi menyentuh pinggul Kyuubi yang ramping, menekannya dengan lembut namun pasti untuk semakin merapat padanya. Kyuubi begitu sempurna dalam jangkauannya. Rasa gelisah menjalari tubuh Itachi, membangkitkan gairah panas di pembuluh daranya yang berdenyut-denyut. Tubuh Kyuubi menjadi kaku ketika merasakan bibir Itachi pada lehernya.

"Apa yang kau lakukan?" bisiknya.

Pertanyaan yang sama juga sedang Itachi tanyakan pada dirinya sendiri. Tetapi Itachi sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Yang jelas Itachi ingin merobek penghalang yang Kyuubi kenakan saat ini. Ia hanya ingin menyentuh kulit Kyuubi, di tempat-tempat paling rahasia di tubuh Kyuubi. Ingin membawa Kyuubi ke dalam kenikmatan yang dulu pernah mereka lalui bersama. Pikiran itu membuat Itachi mengerang.

Ya Tuhan... ia benar-benar akan gila jika tidak melakukan sesuatu. Lalu ia beralih pada wajah Kyuubi. Itachi menarik sedikit kepalanya ke belakang, membasahi bibirnya dengan lidah dan melihat ekspresi kemarahan dari Kyuubi. "Maafkan aku," desahnya walaupun tidak terlihat benar-benar menyesal, ia berusaha menahan gejolak panas dalam dirinya, mempertahankan akal sehatnya, "ini karena aroma itu." Suara Itachi terdengar berat—serak, nadanya terdengar kasar.

"Aroma?" Kyuubi terlihat benar-benar bingung, "Maksudmu parfum-ku?"

Perhatian Itachi teralih pada bibir Kyuubi... bibir Kyuubi yang penuh dan lembut. Aroma Kyuubi menyerbu hidung Itachi, membuat tubuhnya mengejang. Ia merasakan luapan gairah yang lebih besar, membuat jantungnya berdegup kencang. Ini benar-benar gila. Itachi tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, tidak seorang pun yang pernah menjadi kekasih—sesaatnya—dapat menimbulkan reaksi seperti ini padanya, bahkan saat sepuluh tahun lalu ia masih bersama Kyuubi. Usaha untuk tidak menggerayangi tubuh Kyuubi membuat tangannya gemetar. Itachi memejamkan mata, hanya untuk menemukan dirinya yang menyerukkan kepalanya pada leher Kyuubi dengan dahaga.

Kyuubi mendorong tubuh Itachi sedikit, berbisik dengan tajam di telinga Itachi, "Keparat, apa yang kau lakukan?"

Itachi menggeleng pasrah, "Maaf..." ujarnya, ia sudah di ambang batas, "Ya Tuhan Kyuu sekali saja—" Bibirnya langsung membungkan bibir Kyuubi dengan rakus. Seolah hidupnya bergantung pada hal itu.

Kyuubi tidak pernah menyangka ia akan berada dalam situasi seperti ini bersama dengan Itachi setelah sepuluh tahun lamanya. Dan bukan ini juga rencananya. Itu tadi hanya gerakan refleks saat ia menarik Itachi untuk bersembunyi bersamanya. Dan siapa yang akan menduga bahwa Itachi akan memanfaatkan hal itu. Ini semua karena parfume sialan itu!

Kyuubi menggeliat liar, mencoba meloloskan diri, namun Itachi semakin merangkulnya erat. Tekanan bibir Itachi pada bibirnya semakin meningkat, membuka mulutnya. Ciuman itu begitu dalam, keras dan tanpa ampun. Ciuman yang sangat dikenal Kyuubi. Hanya Itachi Uchiha yang bisa mencium seperti ini, seolah ingin merampas haknya untuk bernapas. Sapuan-sapuan lidah Itachi menggetarkannya tanpa ia inginkan, membangkitkan hasrat terpendam dalam dirinya. Ciumannya menyedot seluruh kekuatannya sampai Kyuubi bersandar pada Itachi. Itachi langsung memanfaatkan kelemahannya, ia semakin merapatkan tubuh Kyuubi padanya hingga Kyuubi bisa merasakan tekanan keras pada pahanya. Paha Itachi mendesak dengan kuat kaki Kyuubi agar membuka.

Ujung lidah Itachi bermain-main di mulut Kyuubi yang hangat dan lembut. menyusuri tepian gigi Kyuubi dengan kelembapan yang halus. Kedekatan itu menyentak Kyuubi, ia tahu ke mana semua ini akan berakhir dan Kyuubi tidak ingin itu terjadi.

Kyuubi bergerak mundur, namun Itachi mengikutinya, kedua tangan pria itu menahan kepalanya. Kyuubi menarik lidahnya ke belakang saat lidah Itachi menyentuh, menyerbu, membujuk dan memuaskannya sampai erangan tertahan terdengar dari tenggorokan Kyuubi dan ia mendorong Itachi dengan panik.

Ciuman mereka terputus. Kyuubi berusaha mengatur napasnya. Sadar bahwa Deidara masih berada tidak jauh dari mereka, ia melihat ke arah ruang santai. Deidara sudah tidak berada di sana, Kyuubi rasa ia pergi melalui jalan yang berseberangan dengan lorong ini. Kyuubi merasa lega karena kedua orang itu telah pergi, ia tidak mau ditemukan berdua dengan Itachi—terlebih dengan keadaan seperti ini. Jantungnya berdebar kencang saat meraskan bibir Itachi menyapu lekuk lehernya yang sensitif, meninggalkan jejak-jejak panas sepanjang kulit lehernya.

"Lepaskan aku, tolol!" Kyuubi mendorong Itachi sekuat tenaga. Sekujur tubuhnya seolah tersengat dengan kedekatan yang begitu intim bahkan setelah mereka terpisah.

Ketika mereka bertatapan, Kyuubi melihat kabut gairah itu masih membayangi mata gelap Itachi. Ekspresi senang di wajah Itachi berbanding terbalik dengan kemarahan yang dirasakan Kyuubi. "Apa kau sudah gila! Di mana otakmu! Kau Bajingan tidak bermoral! Beraninya kau—Kau tersenyum?" geram Kyuubi, "Apanya yang lucu?"

"Aku sedang berpikir, jika sekarang aku melakukan sex denganmu sama seperti sepersepuluh menyenangkannya dengan bertengkar denganmu, maka aku akan menjadi pria yang sangat bahagia."

Kyuubi tercengang, lalu meringis jijik, "Kau sakit!"

Itachi mengangkat bahu, "Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu."

"Apa sebenarnya maumu, Uchiha?"

Itachi menyeringai, ia kembali mendekat pada Kyuubi lalu menempatkan tangan kanannya pada dinding di samping kepala Kyuubi. Mengunci tatapannya pada ruby di hadapannya.

"Kau tahu apa yang kuinginkan."

"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan!" bentak Kyuubi mendorong Itachi menjauh, "Dan jangan pernah kau mendekatiku lagi! Atau aku akan membunuhmu!"

Kyuubi begitu marah hingga ia hanya bisa pergi dari tempat itu. Kedekatannya dengan Itachi begitu mempengaruhinya saat ini dan pergi dari tempat itu secepatnya adalah keputusan paling bijaksana dan mengabaikan tatapan Itachi yang mengikutinya.

Sepertinya Itachi tidak memasukkan ancaman Kyuubi ke dalam hati, terbukti ketika senyum bahagia masih saja melekat di bibirnya. Sepertinya tidak ada ancaman apapun yang bisa menghancurkan kebahagiaan Itachi saat ini. Terutama ketika ia sudah kembali menemukan tujuan hidupnya. Dan saat ini Itachi tidak berniat melepaskannya begitu saja.

"Kau tidak mengejarnya?"

Itachi berbalik, sedikit menengadah melihat pada asal suara, seorang pemuda pirang sedang bertopang dagu pada beranda di atasnya. "Sejak kapan kau ada di sana Naruto-kun?"

Naruto mendengus ketika mendengar panggilan akrab dari pria yang habis bercumbu dengan kakaknya itu, "Dari keparat, aku rasa," jawab Naruto santai, yang ternyata telah menyaksikan seluruhnya.

Ia tidak ambil pusing dengan kejadian tidak senonoh barusan. Bisa dikatakan ia sudah terbiasa. Orangtuanya bahkan pernah memperlihatkan hal yang lebih dari yang dilakukan Itachi barusan. Tentu saja itu karena ia tidak sengaja melihat. Terlebih orangtuanya tidak punya rasa malu sedikitpun untuk mengumbar kemesraan di seluruh penjuru rumah. Dan itu...'Eww' melihat orang tuamu melakukan adegan M-Rate? Itu sungguh luar biasa membuat mual. Naruto bahkan sering mengomel di rumah karena itu. Oh, dan itu salah satu alasan Kyuubi tinggal di apartemen yang sekarang. Meninggalkan adik tercintanya menderita sendirian. Sungguh kakak yang baik.

Naruto kemudian menyipitkan mata penuh selidik, "Aku tidak percaya kau berhasil merayunya. Katakan padaku siapa kau sebenarnya?"

Itachi mengangkat bahu singkat, "Bukankah kalian semua menganggapku seorang bajingan? Jadi tidak mungkin aku menjadi lebih baik dari itu, iya kan?"

Naruto menyeringai, ia mulai mengerti mengapa pria itu populer, ia punya selera humor yang bagus, "Kau benar, tapi jika 'bajingan yang mengincar rubah pemarah' aku baru mengetahuinya sekarang. Aku harap kau mau berbagi sedikit cerita denganku tentang hal itu. Kyuubi bahkan tidak mau menyinggung tentangmu sedikit pun."

"Kalau begitu aku juga tidak."

"Kalian sama-sama menyebalkan," gerutu Naruto, menyerah. Ia menghela diri dari pagar beranda dan kemudian beranjak turun melalui tangga.

"Kau mau kemana Naruto-kun?" tanya Itachi seraya menghampiri Naruto yang telah berada di undakan tangga terakhir. Ia hanya merasa heran karena melihat Naruto yang menuju ke arah kamar di lantai satu yang di tempati tidak lain oleh Sasuke.

Naruto berhenti. Lalu menatap sebuah kertas yang dilipat rapi di tangannya. Surat yang akan ia berikan pada Sasuke. "Tidak ada hubungannya denganmu, Itachi-san." Dan kembali melangkahkan kakinya.

"Tentu saja tidak, tapi sepertinya kertas itu ada hubungannya dengan Sasuke, benar kan?" kata Itachi ringan kembali membuat langkah Naruto berhenti, "Ah, dan kau bisa memanggilku dengan Itachi saja."

Naruto berbalik menatap Itachi dengan pandangan terganggu. "Jika benar ini ada hubungan dengan adikmu, lalu apa urusannya denganmu?" sengit Naruto tiba-tiba. Tidak suka dengan Itachi yang terlalu banyak bertanya. Ia hanya ingin segera menyelesaikan urusannya. Uchiha itu memang menyebalkan.

"Oh, tentu saja semua hal yang berkaitan dengannya adalah urusanku. Seperti yang kau katakan barusan. Dia Adikku."

Wajah Naruto berubah masam dengan sindiran Itachi, sedikit rona tipis menghiasi pipi Naruto.

"Mungkin aku perlu memberitahumu satu hal," kata Itachi, menarik perhatian Naruto, "Alasan satu-satunya Sasuke kembali ke kota ini adalah karena dirimu."

Naruto mengernyit dalam, "Kenapa?" tanyanya, ia meremas kuat surat ditangannya, "Apa yang sebenarnya sudah aku perbuat padanya!? Kenapa dia begitu menginginkanku? Meskipun aku tidak mengenalnya!"

Itachi tersenyum, "Kau hanya melupakannya, bukan berarti kau tidak pernah mengenalnya. Dan yang bisa menjawab semua pertanyaan itu bukan aku. Kau bisa bertanya langsung padanya... atau mungkin kau bisa menanyakannya pada dirimu sendiri." Jeda sesaat Itachi bisa merasakan tubuh Naruto yang menegang dan melanjutkan, "Jadi aku harap kali ini kau bisa bersikap sedikit lunak padanya. Karena salah satu hal yang kubenci adalah ketika ada seseorang yang dengan sengaja mencoba menyakitinya."

"Kau mengancamku?" tanya Naruto sedikit tak percaya.

Kening Itachi mengernyit, "Begitukah kedengarannya?"

Namun ketika Naruto ingin mengatakan sesuatu Itachi mengibaskan tangannya, "Mungkin aku memang mengancammu." Itachi mengangkat bahu. "Mungkin karena kau tidak menyadarinya... tapi kaulah satu-satunya orang dengan kemungkinan paling besar yang dapat menyakitinya dengan mudah."

"Kau pasti bercanda..." gumam Naruto, merasa pria dihadapannya mulai tidak waras, "Dia itu bajingan berpengalaman, kelicikannya bahkan setara dengan ular. Jika aku memiliki kekuatan seperti yang kau bilang, sudah sejak awal aku menyingkirkannya dariku."

Itachi meringis, ia bergumam sangat kecil hingga Naruto tidak dapat mendengarnya. "Kau hanya belum mengetahui caranya."

"Kau bilang apa?"

"Tidak. Tidak ada," Itachi tersenyum kecil berusaha meyakinkan,"tapi mungkin kau bisa memikirkan apa yang kukatakan barusan; Aku tidak pernah suka jika ada seseorang yang menyakiti adikku, hal itu juga berlaku untuk dirimu. Dan jika saat itu tiba aku tidak akan mungkin tinggal diam."

Naruto mendengus, mengejek, "Kau menilaiku terlalu tinggi, Uchiha-san."

Itachi tertawa, "Benar juga, terdengar tidak masuk akal, iya kan? Kalau begitu bagaimana jika aku memberi satu saran yang masuk akal kali ini?"

Naruto hanya memberikan tatapan bosan padanya.

"Jangan melawannya. Percayalah padaku."

"Percaya? Pada Bajingan sepertimu?" sungut Naruto tak percaya.

"Kali ini bukan bajingan. Tapi pada seorang pria yang jatuh cinta."

"Kau gila."

"Terimakasih telah mengingatkan," gerutu Itachi karena merasa dia memang sudah gila. "Omong-omong, apa kau masih keberatan memberitahuku surat apa yang ada ditanganmu itu, Naruto-kun?"

Naruto hanya memutar bola matanya. Lalu ia mengangkat surat di tangannya di depan wajah Itachi sehingga ia dapat membaca tulisan yang tertera di sana dengan sangat jelas.

SURAT TANTANGAN.

.

::A::C::SN::J::S::

.

Peternakan ini sungguh mengaggumkan. Sasuke sama sekali belum merasa puas untuk menjelahinya walaupun ini sudah ketiga kalinya ia mengitarinya sambil berkuda. Saat ini ia sedang memasuki hutan melalui jalan yang ia ingat betul arahnya. Rute ini menuju kuil tua tempat semalam ia menemukan Naruto. Kuil yang dulu sering kali menjadi tempat pelariannya jika diabaikan oleh kakaknya yang sibuk bermain bersama Kyuubi atau ketika ia dimarahi ayahnya, saat mereka berlibur di peternakan Paman Minato ini. Kuil itu hanya berjarak sekitar seratus meter dari manor. Sasuke selalu menyempatkan diri ke kuil itu ketika datang kemari. Bagi Sasuke kuil itu merupakan tempat yang memiliki kenangan tersendiri untuknya. Karena di tempat itulah ia menemukan cinta sejatinya. Klise, huh?

Sasuke telah sampai di depan kuil tersebut. Ia mengikat kudanya di sebatang pohon maple. lalu berjalan mendekati bangunan tua itu. Beberapa kayu bahkan telah terlihat lapuk. Jelas sekali selama ini kuil kecil tersebut telah ditinggalkan. Tapi Sasuke tidak peduli, ia hanya ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan manis yang mungkin tidak akan pernah diingat oleh seseorang.

Saat itu Sasuke ingat betul, ia tengah berlari tanpa arah hingga akhirnya sampai di kuil ini setelah sebelumnya dimarahi oleh ayahnya karena tidak bisa menaiki kuda dengan benar. Itu adalah pertama kalinya ia berlibur di peternakan paman Minato ini. Dan sebulan setelah ia mengenal keluarga Namikaze. Selama sebulan itu Sasuke memang tidak terlalu bisa akrab dengan keluarga yang selalu ramai itu. Terlebih ia sangat tidak menyukai sifat dari sulung Namikaze. Bisa dikatakan Sasuke merupakan anak yang penyendiri saat itu.

Setelah beberapa lama menyendiri di kuil itu tak lama seseorang datang menghampirinya. Seorang anak kecil yang ia tahu sebagai salah satu anggota keluarga Namikaze. Tapi Sasuke tidak pernah sekalipun berbicara padanya.

"Ah! Aku menemukanmu!" seru suara cempreng tiba-tiba, membuat Sasuke kecil yang saat itu sedang menunduk sambil memeluk lututnya di lantai kuil mengangkat kepala. Seorang anak kecil berambut pirang dengan bangga sedang menunjuknya, ekspresinya seperti telah menemukan harta karun yang telah lama ia cari. "Sudah aku duga kamu pasti disini! Semua orang mencarimu! Ne, ne, kenapa kamu tadi kabur? Semua orang mencemaskanmu."

Sasuke menggeser tubuhnya menjauh saat anak kecil itu mendekat dan mengambil tempat di sampingnya. Ia sama sekali tidak mau membalas tatapan dari bola mata biru yang penuh rasa ingin tahu itu. Entah kenapa membuatnya Sasuke kecil merasa tidak nyaman. Sejujurnya saat itu Sasuke merasa aneh karena biasanya orang lainlah yang akan merasa tidak nyaman jika berada di dekatnya. Tapi anak kecil satu ini berbeda. Ia sama sekali tidak peduli dengan sikap dingin yang Sasuke tunjukan padanya.

"Urusai!" Sasuke berusaha mengabaikan Naruto kecil sepenuhnya.

Naruto kecil seolah tidak mendengar nada terganggu dari Sasuke, dan ia kembali berceloteh. "Ano ne... Bibi Mikoto mencemaskanmu loh, Bibi terus saja berteriak memanggil namamu, terus Ayahku menyuruh semua orang di peternakan mencarimu. Terus karena aku lihat kamu berlari ke sini jadi aku mengikutimu, aku sempat terjatuh beberapa kali waktu aku berlari mengejarmu loh. Nih, lihat sampai berdarah." Naruto dengan bangga menunjukkan luka di sikunya.

"Aku tidak menyuruhmu mencariku," ketus Sasuke. "Pergi sana."

Mendengar nada tidak bersabat dari tetangga barunya Naruto cemberut. Ia berdiri dan menunjuk Sasuke dengan kesal. "Kamu itu tidak sopan sekali sih! Aku kan sudah bicara baik-baik padamu! Kalau kamu seperti itu terus tidak akan ada yang suka padamu tahu!"

Sasuke melirik Naruto melalui sudut matanya, "Aku tidak peduli jika mereka tidak menyukaiku... Ayahku memang tidak menyukaiku..." Lirih Sasuke di akhir kalimat, yang ternyata masih dapat didengar Naruto.

Entah kenapa setelah itu Naruto tidak mengatakan apapun, Sasuke yang penasaran akhirnya melihat ke arah Naruto seketika itu juga Sasuke terbelalak lebar ketika melihat bocah pirang itu menangis.

"O-oi..." Sasuke tidak tahu harus berkata apa terlebih ketika tubuh kecil yang sedikit berisi di hadapnya tiba-tiba menerjangnya dan membuat kepala Sasuke terhantam lantai. Ketika ingin protes dengan tindakannya Sasuke hanya bisa membeku ketika Naruto memeluknya dengan sangat erat.

"K-kalau begitu aku akan menjadi orang pertama yang menyukaimu," kata Naruto, ia terisak tapi berusaha menekan tangisnya untuk meyakinkan ucapannya. "Aku akan menyukaimu! Iya! Aku suka Sasuke!"

Sasuke tidak terlalu yakin apa yang terjadi selanjutnya yang jelas saat itu ia hanya membalas dekapan hangat tubuh mungil itu dengan sama eratnya dan entah mengapa Sasuke kecil malah ikut menangis sampai akhirnya Itachi menemukan mereka.

Mengingat itu Sasuke tersenyum tipis. Seingat Sasuke itulah terakhir kalinya ia menangis. Hanya Naruto yang benar-benar bisa menyentuh hatinya. Mungkin itulah yang membuatnya terlalu keras kepala untuk melepaskan pemuda hilang ingatan itu.

Saat ini Sasuke sudah kembali ke manor. Dan langsung menuju ke kamarnya, sedikit merasa heran karena suasana manor yang terlihat sepi. Padahal sebentar lagi adalah waktunya makan siang. Sasuke hanya mengangkat bahu dan menuju kamarnya untuk berganti pakaian ketika pandangannya menagkap sesuatu yang nyaris terinjak di lantai. Sebuah surat yang sepertinya di selipkan di bawah celah pintu.

Sasuke mengambilnya dan mengernyit ketika membaca tulisan di depannya. Siapa yang masih menulis surat tantangan di zaman sekarang ini? Bodoh sekali. Apa dia tidak tahu yang namanya handphone atau e-mail? Jawabannya langsung ia ketahui ketika membuka surat tersebut. Dan ia menyeringai.

Uh-oh. Tentu saja manusia pirang kesayangannnya. Benar-benar tidak pernah membuatnya bosan.

[Aku tunggu kau sehabis makan siang di halaman belakang. Kita akan menyelesaikan semua masalah kita dengan cara laki-laki. Kalau kau tidak menerimanya aku minta kau jangan pernah menggangguku lagi. Selamanya. ]

[Salam N.]

"Kau kira aku akan melepaskanmu semudah itu?" gumam Sasuke, lalu melemparkan surat itu di ranjangnya. Dan melangkah menuju kamar mandi.

Beberapa saat kemudian Sasuke keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Sasuke tidak tahu harus berkata seperti apa ketika tiba di ruang makan. Semua sudah berada di sana, tapi atsmosfer di sekitarnya tidak bisa dikatakan baik atau buruk. Sepertinya semua orang yang berada di meja makan sedang berada di alam pikirannya masing-masing. Namun karena tidak mau di pusingkan dengan masalah orang lain Sasuke mengambil tempat di antara kakaknya dan Sasori yang memang hanya tempat itu yang tersisa. Meja makan ini berbentuk persegi panjang dengan enam kursi yang ada. Di paling ujung sebelah kanan di tempati oleh Kyuubi dan berlawanan dengan itu Itachi-lah yang menempati, sedangkan Deidara duduk tepat di hadapan Sasori bersama Naruto di sampingnya.

"Ah, Sasuke akhirnya kau datang. Bagaimana acara berkudamu?"tanya Itachi, entah kenapa sedang dalam mood terbaiknya. Ia mulai mengisi piringnya dengan makanan yang ada.

Sasuke mengerling pada Itachi, "Menyenangkan," jawab Sasuke, tidak berniat menjelaskan lebih jauh.

"Apa kau menemukan sesuatu yang menarik?"

Sasuke menungkan air ke dalam gelasnya. "Hn. Hanya mengunjungi kuil kecil yang ada di belakang." Lalu meminummnya.

Itachi mengangguk kecil. Ia memang tahu jika kuil itu merupakan salah satu tempat favorite Sasuke jika berkunjung ke peternakan ini. Ia tidak akan heran jika tujuan satu-satunya Sasuke berkuda adalah tempat itu. "Kuil itu sepertinya sudah terlalu tua, jika kau ke sana lagi sebaiknya lebih berhati-hati. Kayu-kayu yang menopang kuil itu sudah cukup lapuk sepertinya."

"Hn."

"Kalian terlihat cukup akrab dengan tempat ini. Aku pikir kalian baru tiba di sini sekitar seminggu yang lalu," ujar Sasori memberikan tatapan penasaran pada kedua Uchiha.

"Ah, dulu kami memang sering kemari," jawab Itachi dengan senyum ramahnya.

"Begitukah? Jadi kalian teman akrab sejak lama ya?" kata Sasori yang di tunjukkan pada kedua keluarga itu.

"Iya."

"Tidak!"

Semua terdiam menatap Kyuubi yang tiba-tiba menaikkan suaranya.

"Are? Kau kenapa Kyuubi-kun? Apa makanannya tidak sesuai seleramu?" Itachi menatap Kyuubi dengan ekspresi terhibur. Jelas sekali mengabaikan fakta penolakkan Kyuubi barusan.

Kyuubi memicingkan mata pada Itachi yang berada di seberang meja. Ia sangat tahu saat ini Itachi sedang menguji kesabarannya.

"Makanannya baik-baik saja," kata Kyuubi berusaha mengontrol emosinya. "Sasori sebaiknya kau jangan menanyakan hal yang tidak perlu di saat sedang makan."

Sasori mengernyit mendengar teguran itu, sejujurnya ia tidak suka jika ada yang mengaturnya atas apa yang ia lakukan. Namun ia memilih tidak berkata apa-apa lagi.

Tapi sepertinya peringatan itu tidak beralaku pada Itachi yang malah menyeringai. "Tapi kita semua dulu memang sangat akrab, iya kan Deidara-kun?"

Deidara berjengit saat mendapat pertanyaan mendadak itu. Dalam hati mengutuk Itachi yang tiba-tiba menyeretnya dalam percakapan. Ia melirik Kyuubi sekilas yang hanya menunduk menatap makanan di piringnya.

Dengan ragu Deidara mengangguk, "I-iya, sepertinya begitu." Dan langung memasukkan makanan kedalam mulutnya sebanyak mungkin. Mengesankan agar tidak ada yang bertanya padanya lagi. Dan nyaris tersedak ketika pandangannya bertemu dengan Sasori yang menatapnya dengan ekspresi terhibur. Mengingatkannya pada kegiatan mereka pada beberapa waktu sebelumnya.

Naruto yang berada di sampingnya hanya mengernyitkan kening tidak mengerti dengan semua yang terjadi di hadapanya.

Kyuubi mendadak bangkit dari kursinya dan pergi.

"Kau mau kemana Kyuubi-kun, kau belum menyentuh makananmu, loh!" Itachi berseru lantang yang dengan mudah diabaikan Kyuubi yang langsung menuju kamarnya di lantai atas. "Hem... sepertinya aku kelewatan, ya?" gumamnya pada diri sendiri.

Sasuke memutar bola matanya, "Idiot." dan meneruskan menghabiskan makanannya.

Setelah itu makan siang di lewati dengan keheningan. Dan yang dipikirkan oleh Sasuke adalah kejuatan apa yang akan Naruto berikan padanya.

Seusai makan siang Naruto dan Sasuke memilih untuk tinggal lebih lama sementara yang lain berpencar dengan urusan masing-masing. Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara sampai akhirnya Naruto berdiri dan menyuruh Sasuke mengikutinya hingga mereka tiba di halaman belakang manor.

"Jadi apa maksudmu dengan ini?" Sasuke mengacungkan surat yang ia bawa dengan gerakan tidak sabar.

"Kukira kau akan kabur," dengus Naruto yang mengambil jarak cukup jauh dari Sasuke. Seusai makan siang tadi Sasuke memenuhi isi surat yang Naruto berikan padanya dan kini mereka telah berada di halaman belakang.

Sasuke memicingkan mata, "Terus saja berharap, Dobe."

Naruto mengepalkan tangannya erat, memberikan tatapan membunuh pada Sasuke yang tidak terpengaruh sama sekali. Naruto mendecih sebal.

"Aku ingin melakukan ONE-on-ONE denganmu. Jika aku menang kau harus berhenti menggangguku."

Sasuke terdiam sesaat, memikirkan konsekuensinya dan kemudian menaikkan alisnya, "Lalu apa keuntungannya untukku?"

Selama beberapa saat Naruto hanya diam, berdebat dengan pikirannya sendiri. Lalu ia mengalihkan pandangannya dari Sasuke, "A-aku bersedia untuk k-kencan denganmu."

Apa hari masih siang? Langit bersinar cerah? Bunga-bunga bermekaran? Dia tidak berkhayal kan? Ia tidak salah dengarkan? Apa ini jawaban dari semua doa-doanya selama ini? Sasuke harus menahan diri agar tidak menyengir seperti orang bodoh. Ya Tuhan... makhluk satu ini benar-benar bisa membuatnya seperti berada dilautan kapuk. Seperti berada di antara ribuan awan. Terdengar bodoh? Masa bodoh. Apa pun itu saat ini hati Sasuke merasa riang gembira. Walaupun yang dia lakukan hanya menatap Naruto lekat dan membuat yang di tatap bergerak tak nyaman.

"Berhenti menatapku seperti itu," Naruto merasakan pipinya yang semakin memanas. Tatapan Sasuke seperti baru saja mendapatkan hadiah natal yang paling dinantikannya.

Sasuke benar-benar harus menahan cengirannya kali ini dan hanya tersenyum tipis, yang lebih tepat disebut seringaian layaknya serigala mendapatkan mangsanya.

"Deal."

"Huh?"

"Aku terima tantanganmu."

"Ugh, o-oke." Kenapa ia merasa seperti sedang menggali kuburnya sendiri?

"Tapi aku tidak akan menanggung jika kau menangis nantinya."

Naruto mendengus, "Kaulah yang akan menangis, Teme." Naruto tidak akan membiarkan ini berjalan dengan mudah. Ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan kebebesannya.

Kedua pihak langsung mengambil tempat dan bersiap dengan memasang kuda-kuda. Ekspresi keduanya mengatakan determinasi untuk tidak mau kalah. Naruto langsung memulai serangan pertamanya. Melayangkan tinjunya dengan ancang-ancang mantap menuju wajah Sasuke yang langsung ditangkis menggunakan lengannya.

Naruto menyipit kesal, dan melangkah mundur hanya untuk kembali bersiap memberikan serangan. Sasuke menyeringai.

Naruto bisa merasakan aliran darahnya bergejolak. Adrenalinya terpacu. Laki-laki dihadapannya ini kuat. Ia menarik napas dalam dan tersenyum. Awal yang baik, karena dengan konsentrasi penuh seperti ini ia yakin allerginya tidak akan kambuh.

Ini akan menjadi hari yang panjang.

Sedangkan tidak jauh dari kedua pemuda yang sedang beradu jotos itu Itachi dengan nyaman bersandar pada tembok, di tangannya terdapat sebuah apel merah yang telah di makan sedikit. Pandangannya tidak lepas dari kedua orang yang sedang melakukan adu kekuatan di halaman belakang yang cukup luas. Menurut pengamatan Itachi sejauh ini sepertinya tidak ada satu pun yang akan menyerah.

"Menurutmu siapa yang akan menang, Itachi-san?"

Itachi menoleh pada pria di sampingnya. Dan bergumam singkat, tidak berniat menjawab pertanyaan yang Sasori berikan padanya, ia hanya meneruskan memakan apel di tangannya. Sepertinya ia bukan penonton satu-satunya, berani bertaruh Itachi yakin Kyuubi atau Deidara pasti sedang menonton juga di suatu tempat.

"Sepertinya Naruto lebih unggul," ujar Sasori, yang melihat Naruto dengan cepat memberikan pukulan jab pada perut Sasuke dan membuatnya tersungkur. Sejauh ini hanya Naruto-lah gencar melakukan serangan.

"It's pointless," gumam Itachi. Tanpa sadar ia tersenyum kecil, melihat keadaan Sasuke yang benar-benar berantakan. Sejujurnya Itachi tidak peduli dengan hasil akhir dari pertarungan itu. "Pertarungan ini sia-sia, entah siapa pun yang menang nantinya. Sasuke benar-benar bodoh karena menyetujuinya. Hasilnya sudah sangat jelas."

Sasori menoleh pada Itachi, ia mengedipkan matanya, tidak mengerti dengan komentar Itachi barusan. Apa maskudnya?

Sasori tidak memikirkannya lebih lama, karena sesuatu menarik perhatiannya tiba-tiba, ketika ia melihat ke arah dua pemuda yang sedang bergelut di tanah. Kali ini Sasuke berhasil menjatuhkan Naruto dan menguncinya di tanah. Kedua lengan Naruto berada di punggunya dan di tahan oleh Sasuke dengan posisi Naruto tengkurap di tanah. Sasuke nyaris menumpukkan seluruh beban tubuhnya pada punggung Naruto. Ia hanya menyisakan sedikit jarak agar bisa berbisik pada telinga Naruto.

"Menyerahlah, Naruto."

"Fuck you!" tanpa Sasuke duga Naruto menggunakan kepalanya untuk menghantam dagu Sasuke dan langsung melepaskannya.

Sasuke terhuyung kebelakang, merasakan cairan kental mengalir dari bibirnya yang terkoyak oleh giginya sendiri akibat tindakan Naruto barusan. Ia meludahkan darah itu lalu berdiri. Sasuke menatap tajam pada Naruto yang terengah di dihapannya.

"Gerekan yang salah," gumam Sasuke dan langsung melancarkan serangan pada Naruto. Cepat dan mematikan. Sasuke memberikan pukulan cepat wajah Naruto lalu beralih pada perutnya, diakhir dengan Naruto yang terhempas ke tanah.

Sasuke mendekati Naruto yang merintih sakit pada perutnya. Beberapa saat ia hanya menatap tubuh tan itu. "Aku menyerah," kata Sasuke tiba-tiba.

Naruto terhenyak.

"Kau menang, Dobe."

"A-apa?"

"Telingamu baik-baik saja kan?" tanya Sasuke kali ini terdengar benar-benar khawatir.

Naruto bangkit dan langsung mencengkram baju bagian depan Sasuke, menarik wajah tubuh Sasuke mendekat padanya. "Kau jangan bercanda Brengsek! Ini bukan saatnya berglagak keren, Sialan!"

Wajah Sasuke tidak menampakkan ekspresi apa pun, "Aku tidak bercanda. Well, aku memang keren."

Nada penuh kesombongan itu membuat darah Naruto mendidih. Naruto melepaskan cengkramannya pada baju Sasuke dengan kasar, sedikit membuat Sasuke terhuyung mundur.

Naruto menatap tajam pada Sasuke yang masih setia dengan ekspresi stoic-nya. Ia menuding dada Sasuke dengan telunjuknya, "Kalau begitu kau jangan pernah mendekatiku lagi."

Melihat Sasuke yang tidak akan mengatakan apa pun Naruto memilih berbalik pergi sambil menghentakan kakinya kesal. Ia tahu seharusnya ia merasa senang karena berhasil membuat bajingan itu menyerah. Tapi sesuatu dalam dirinya malah membuatnya merasa tidak tenang, ia merasa panik. Lalu tiba-tiba ia mengingat percakapannya dengan Itachi pagi tadi. Raut wajah Naruto yang sejak tadi sudah kesal kini berubah masam. Naruto berhenti berjalan, namun ia tidak berbalik untuk menatap Sasuke.

"Kenapa?" ujar Naruto cukup nyaring untuk di dengar Sasuke yang telah berjarak cukup jauh darinya.

Pertanyaan itu ambigu, tapi Sasuke mengerti apa yang dimaksud Naruto. Namun entah kenapa Sasuke belum berniat untuk membuka mulut.

Naruto menelan ludah, ia mengepalkan tangannya. Bertanya sekali lagi, "Kenapa harus aku?" lalu ia berbalik, "Jawab aku, Teme!"

Sasuke memejamkan mata sesaat, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan kemudian menghembuskan napas lelah, terlihat frustasi. Ia kemudian menatap Naruto, dan meringis melihat keadaan pemuda pujaannya itu. Di wajahnya terdapat beberapa memar hasil dari pertarungan mereka barusan, dan Sasuke yakin hal itu tidak jauh berbeda pada tubuhnya.

Katakan ia pengecut ketika menyerah pada pemuda di hadapannya. Sungguh, ia tidak peduli. Sejujurnya sejak awal ia memang tidak menyukai usul Naruto untuk melakukan One-on-One, namun Sasuke tahu jika ia tidak menerima tantangan itu Naruto akan tetap memaksanya sampai ia menerimanya.

Lagi pula sejak awal ia memang sudah tahu hasil akhirnya. Ia tidak akan pernah tahan melihat seseorang menyakiti Naruto, terlebih dirinya sendiri dan lagi Sasuke harus mengeluarkan seluruh keuatannya agar tidak menurunkan harga diri Naruto karena merasa diremehkan. Untuk itulah ia lebih memilih menyerah—semenarik apa pun hadiah yang ditawarkan—karena Naruto jelas tidak akan menyerah, bahkan jika terluka parah sekalipun. Dan Demi apa pun! Sasuke sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menyakitinya. Ia akan membunuh dirinya terlebih dulu bahkan sebelum ia berpikir untuk menyakiti Naruto dengan cara apa pun!

Damn! Tidak bisakah dirinya terdengar lebih menyedihkan dari ini?

Dan sekarang Naruto meminta semua penjelasan yang sudah sangat jelas jawabannya itu? Sasuke sekali lagi mengela napas dan menatap Naruto lekat-lekat.

"Bukankah semua ini sudah jelas? Aku menyukaimu. Tidak ada alasan lain yang pantas selain itu. Aku jatuh cinta padamu sejak sepuluh tahun lalu... Dan aku kembali jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu di ruang kelas saat itu, bahkan setelah sepuluh tahun aku tidak pernah melihatmu. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Aku mencintaimu Naruto. Dan kau tahu itu... Kau selalu tahu."

Naruto terhenyak di tempat. Ia berkedip beberapa kali, berusaha memproses apa yang baru saja di dengarnya, ketika sesuatu di kepalanya mulai memahami semuanya Naruto tidak bisa menghentikan darah yang mengalir cepat ke wajahnya. Naruto membuka mulutnya untuk sedetik kemudian kembali menutupnya. Ia tidak sadar saat dirinya melangkah mundur, dan sekali lagi membuka mulut hanya untuk berteriak.

"AKU MEMBENCIMU, TEME!"

Dan secara absurd berlari menuju hutan belakang dan dengan cepat menghilang dari pandangan.

Sasuke masih mematung di tempat melihat reaksi Naruto barusan. Hingga Itachi menghampirinya dan menepuk pelan pundaknya.

"Sebaiknya kau mengejarnya." Saran Itachi yang hanya di tanggapi tatapan bingung adiknya. "Dia bisa tersesat."

Sasuke mengernyit sesaat dan kemudian mengikuti saran kakaknya itu. Berlari mengikuti arah Naruto menghilang barusan.

"Aku tidak pernah menduga jika Sasuke akan memilih menyerah."

Itachi melihat ke arah Sasori yang berdiri tidak jauh darinya. Pemuda kalem tersebut terlihat tidak senang dengan hasil pertarungan tadi.

Ekspresi Itachi berubah datar saat menatapnya, "Apa yang kau harapkan, Sasori-san? Pertumpahan darah?"

Sasori mengangkat bahu. "Jadi ini maksud komentarmu tadi? Karena kau tahu adikmu tidak akan tahan melukai Naruto. Dan Naruto terlalu keras kepala untuk menyerah... well, aku pikir Bajingan sepertinya tidak akan peduli pada hal seperti itu. Bajingan sepertinya menyerah? That so... lame, you know."

Sesuatu berkilat pada mata Itachi, "Kau tahu, Sasori-san. Bagaimana jika kau mencoba untuk mencintai seseorang terlebih dulu sebelum menghina adikku?"

Sasori menegang ketika mendengar nada ancaman dari suara Itachi. Sepertinya ia tidak sadar telah membangkitkan jiwa protective pada diri Itachi.

Sasori berkedip sekali, dan malah menampakan ekspresi terhibur untuk kemudian berkata, "Maaf jika kata-kataku membuatmu tersinggung. Tapi sungguh, menarik sekali saat mendengar seseorang berpredikat bajingan seperti kalian berbicara tentang cinta." Lalu mengangguk sopan untuk berpamit diri meninggalkan Itachi.

Pandangan Itachi beralih pada sosok yang memerhatikannya sejak tadi, ia menengadah melihat ke arah jendela di lantai dua di mana sosok Kyuubi terlihat sedang berdiri.

Love, huh?

Sudut bibir Itachi tertarik. Yang di katakan Sasori benar. Munafik sekali mendengar seorang bajingan seperti dirinya berbicara mengenai cinta. Tapi...

Tidak ada larangan yang mengatakan bajingan tidak boleh jatuh cinta bukan?


.

.::To Be Countinue::

.