Pada akhirnya, Hujan dan Badai yang menerpa kehidupan Alisa dan Umi kini telah berhenti. Umi pada akhirnya berhasil memenangkan hati Alisa dan ketakutan masa lalunya namun apakah mereka berdua akan menemukan silau pelangi di ujung sana?
Bagian terakhir dari cerita "Dear My Teacher", start!.
.
Time 8: Future is Endless Time
.
Kedua insan berbeda umur itu telah meninggalkan Rainbow Cafe setelah menyelesaikan pembayaran uang tagihan yang lagi-lagi dilakukan oleh Umi. Alisa bersikeras untuk melarang senseinya melakukan itu namun dia tetap melunasinya dengan senyuman panjang kepadanya.
Sementara itu sang pegawai Cafe terus menerus tersenyum penuh arti saat memandangi mereka apalagi ketika mengingat suara erangan dari balik kamar sang pelanggan. Bahkan ketika mereka hendak meninggalkan Rainbow Cafe, salah satu bodyguard itu masih sempat memanggil nama Alisa sambil mengacungkan jari jempol kepadanya. Alisa hanya bisa menundukkan kepala merespon "pujian" tersebut.
Sekitar 10 menit mereka tiba di depan rumah Alisa setelah memesan Taxi. Tidak banyak kata terucap pada saat mereka berada di perjalanan selain tangan Alisa yang terus memegang tangan Umi sambil menyenderkan kepalanya ke pundaknya.
"Jadi, sensei mau masuk?" ajak Alisa kepada Umi setelah tiba di depan rumahnya.
"Umm... Boleh, kah?" tanya Umi ragu-ragu.
"Hihihi, Sensei, kamu itu tidak berubah yah?! Persis seperti dulu ketika kamu pertama kali baru datang ke sini." Alisa tertawa terkikih-kikih saat membuka pagarnya.
"Ahh iya, pakaian itu... Aku juga masih belum mengembalikan pakaian itu yah?!" teriak Umi terkejut mendadak setelah mengingat kejadian masa lampau tersebut. "Ahh, maaf... Aku benar-benar lupa!"
"Tidak apa-apa,kok. Itu buat sensei saja, deh!." jawab Alisa sambil tersenyum tanpa beban.
"Heh, gak bisa gitu, dong?!... Itu kan pakaian kakakmu!"
"Tenang saja, seluruh pakaian di ruang tamu itu cuma pakaian cadangan saja, kok. Yang berarti kakakku tidak terlalu suka memakainya. Aku yakin dia pasti tidak akan pernah ingat pernah membeli baju itu kalau aku perlihatkan kepadanya ulang." kata Alisa yakin namun perkataannya semakin kelam dan pelan ketika dia memiringkan posisi kepalanya ke samping.
"Anak itu, dia lebih royal untuk membeli baju yang terlihat bagus daripada memakainya sendiri."
"Kamu ngomong apa, Alisa? Tapi, aku tetap akan mengembalikannya besok. Tidak sopan mengambil baju milik orang lain dengan maksud memilikinya itu sih namanya mencuri."
"Lagipula..."
Kata-kata Umi terputus ketika menyadari bahwa Kakak Alisa yang sedari tadi mereka bicarakan itu adalah kakak yang sama yang telah dia ceritakan beberapa jam yang lalu. Alisa lalu buru-buru menyela perkataannya.
"Ahh, yang jelas kamu suka, kan?! Lagipula pakaian itu cocok buat kamu kok!" kata Alisa dengan meyakinkannya ulang.
" Tenang saja, nanti aku yang akan bilang ke kakak kalau pakaian sudah aku sumbangin ke anak yatim."
"Heh, itu sih namanya berbohong! L-Lagipula, siapa yang anak yatim?! A-Ayahku masih hidup, tahu?!"
"Hahaha..."
Kedua orang itu terus tertawa di depan pintu seolah tanpa beban dan Alisa kini telah berada di depan pintunya untuk mengeluarkan kunci rumah di dalam tasnya. Namun pada saat dia hendak membuka pintu...
*cklik*
Ada suara yang keluar dari celah anak kunci pintu tersebut. Alisa merasa aneh dengan keadaan tersebut dan berusaha memutar ganggang pintu rumahnya sekali lagi untuk meyakinkannya. Saat itu dia baru menyadari bahwa pintu rumahnya memang tidak terkunci.
"Hehh... Kenapa pintunya tidak terkunci? Kok Aneh?!" gumam Alisa pelan.
Suara deritan kunci itu terdengar cukup keras sehingga apabila ada maling yang berusaha membobol rumah tersebut tentu akan lebih cepat ketahuan. Mungkin pintu itu memang kurang pelumas atau memang waktunya diganti tapi tidak ada orang yang bisa melakukan itu di dalam rumahnya. Namun yang lebih mengejutkan bagi dia bukan itu saja, melainkan...
"S.. Siapa itu?!"
Alisa dari balik pintu itu mendengar suara seorang wanita dari dalam rumahnya sedang memanggil sang tamu yang ada di balik luar pintu dengan suara berat seperti habis menangis. Alisa heran apakah dia salah nomer rumah? Tapi dia yakin bahwa ini adalah rumahnya! Jadi siapa kamu?!
Belum sempat Alisa membuka pintu, tiba-tiba pintu itu telah terbuka dan terlihat tangan seorang wanita sedang terulur keluar dari dalam pintu tersebut.
*cklik..*
"A-ALISA!"
Sosok wanita berambut pirang itu tampak lusuh setelah habis menangis panjang. Isak tangisnya masih belum berhenti bahkan semakin menjadi-jadi saat melihat Alisa di depan matanya sedang berdiri terpaku dengan pupil mata melebar bak melihat hantu di depan matanya.
"O.. Onee-chan?!" seru Alisa terkejut saat melihat kakak perempuannya telah berdiri di depan matanya.
"Kau itu habis dari mana saja, Bakayaro?! Sejak kapan kamu meninggalkan rumah ini?! Apakah aku mengajarkanmu untuk kelayapan keluar rumah sendirian?! Huh?!"
"G-Gomen, nee-chan."
"Dasar adik nakal, Kamu itu bikin khawatir nee-chan saja!" Bentak Eli sambil memeluk erat Alisa.
"Maafkan aku, nee-chan, A-Aku cuma tidak menyangka kakak pulang hari ini." kata Alisa berkelit memalingkan muka.
"Heh, Memangnya kalau kakak tidak ada di rumah artinya kamu boleh seenaknya pergi dari rumah dan bolos sekolah, gitu?! Huh?!" tanya sang kakak marah sambil menjewer kuping adik perempuannya satu-satunya itu.
"Aduh..! Ampun, kak... Maaf! Maaf!"
"Ya sudahlah, ayo masuk.."
"Oh iya, kak. Aku belum memperkenalkan guruku yah?" kata Alisa sambil mengulurkan tangannya ke belakang namun dia merasa aneh ketika tapak tangannya hanya menggapai angin kosong. Kejadian tersebut juga diperkuat dengan pernyataan kakaknya.
"Guru? Yang mana?" tanya Eli sambil melongok ke arah belakang Alisa.
"Eeeeh?!... S-Sensei, kamu dimana?!"
Alisa panik dan berusaha melongok ke kiri dan kanan rumahnya namun tidak menemukan siapapun. Saat itu ketika Alisa masih berusaha mencari gurunya di sekitar rumahnya, Eli sambil menarik nafas panjang memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Umm, Alisa, A... Apakah, Apakah itu adalah Sonoda-sensei?" tanya Eli ragu.
"Ehh... I-iya."
"U-mi..." gumam Eli pelan.
Sementara itu, Di Perempatan Jalan Raya.
"Itu dia! Aku yakin itu dia!" gumam Umi di dalam benak kepalanya tanpa henti, dadanya terasa sesak saat mengingat percakapan sebelumnya meski demikian dia masih terus berlari di jalan trotoar melewati para pejalan kaki disana.
"Aku masih hafal dengan suaranya di telepon! Aku..."
"Aku tidak mau menemui dia...!"
Sang gurupun menghilang di dalam keramaian hiruk pikuk Tokyo yang luas hingga dia sampai di rumahnya dengan berlari.
Keesokan Harinya, Di Ruang UKS Sekolah
Umi masih terasa suntuk karena tidak berhasil tidur akibat memikirkan kejadian sebelumnya di rumah muridnya namun hari inipun dia tidak mungkin menghindarinya. Karena itulah dia berusaha yang terbaik agar bisa melayani pekerjaannya tanpa gagal, termasuk berhadapan dengan muridnya yang sebentar lagi akan memasuki ruangannya.
"Pagi, Sonoda-sensei." Seru sang murid
"Oh, pagi... Alisa-chan." jawab Umi sambil tersenyum lirih.
"Bagaimana kabarmu? Sudah baikan? Jadi kamu sudah memutuskan untuk masuk sekolah lagi yah?, Syukurlah." tanyanya tanpa mengharapkan jawaban balasan namun sang murid hanya mengangguk kepala saja.
"Umm... Sebetulnya Sonoda-sensei, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Kamu tidak berkeberatan kan?" pinta Alisa dengan suara pelan.
Tiba-tiba jantung Umi berdetak kencang setelah mendengarkan pertanyaan Alisa tersebut, dia sudah bisa membayangkan siapa sosok yang disebutkan oleh Alisa tersebut. Tentu saja orang itu, siapa lagi?.
"Maaf, Kakakku memaksa untuk datang ke sekolah ini hanya untuk menemuimu saja. Tenang, dia kesini hanya untuk mengucapakan rasa terima kasih, kok..." kata Alisa malu-malu.
Selesai dia berbicara, belum sempat Alisa mengundang tamu tersebut untuk masuk, tiba-tiba orang itu segera memasuki pintu. Keadaan itu tentu membuat orang di dalam ruangan itu menjadi canggung, baik Alisa maupun Umi masih belum siap mengharapkan itu.
"Ehh... Onee-chan?!"
"Ehh...?!"
Umi dan Alisa terkejut panik namun sang tamu, kakak Alisa itu hanya tersenyum saat memandangi wajah mereka berdua.
"Ahh... Sudah kuduga ternyata Sonoda-sensei yang dimaksud oleh Alisa itu memang benar-benar kamu, yah?." ujar Eli sambil tersenyum manis.
"Selamat pagi, Umi-chan?"
"E-E-Eli-senpai..!" seru Umi terkejut dengan terpatah-patah.
"Senpai?!" kata Alisa bingung.
"Ahahaha... mungkin kamu tidak tahu yah, Alisa? Kakakmu ini dulu adalah mantan alumni dari sekolah ini juga, kamu lupa yah?" ujar Eli santai sambil menepuk bahu Alisa.
"Dan Umi ini adalah adik kelasku." sambung Eli sambil menatap Umi. "Aku tidak menyangka bahwa kamu akan menjadi guru di sekolah ini."
"Sudah tujuh tahun berlalu yah Umi?"
"Yah, tujuh tahun... Bagaimana kabarmu Eli-senpai? Apakah kamu sudah memiliki anak?" tanya Umi sambil menundukkan kepala pelan.
"Yah, seorang bayi perempuan yang cantik.. Saat ini dia berumur 2 tahun."
"Umm... Selamat yah.." kata Umi sungkan dan angguk kepala
"Ummm..."
Mendadak suasana menjadi hening dan penuh canggung diantara mereka berdua. Sesuatu telah terjadi, Alisa tahu itu apalagi setelah melihat reaksi Umi yang tidak wajar saat melihat kakaknya, namun Alisa yang mendapati keadaan itu juga menjadi bingung dan dia berusaha membuat keributan yang dapat memecahkan hawa dingin ini.
"Ahh, kenapa kalian berdiri di depan pintu seperti ini?!"
"Ayo, duduklah kalian berdua. Biar aku yang menyediakan kopi." desak Alisa mempersilahkan kakaknya dan gurunya untuk duduk terlebih dahulu.
"A-Alisa.. Kamu tidak perlu repot-repot." kata Eli yang keberatan dengan tingkah Alisa.
"Tidak apa-apa kakak! Kakak pasti punya banyak cerita yang ingin disampaikan kepada sensei, yah kan, Umi?!" tanya Alisa balik kepada Umi di belakangnya namun Umi tidak memberikan respon jawaban selain menundukkan kepalanya saja.
"Umi?" tanya Alisa khawatir.
"Hei Alisa, kamu tidak boleh menyebut nama gurumu dengan nama depannya begitu saja, itu tidak sopan!" tegur Eli.
"Sudahlah Eli-senpai..." sela Umi.
"...Dan kamu Umi, kamu janganlah memanggil aku dengan sebutan Senpai... Kita ini bukan anak sekolahan lagi, status kamu dan aku itu sudah setara sekarang, ngerti?!."
"M-Maafkan aku.. Aku hanya masih belum terbiasa menyebutmu dengan nama panggilan biasa, karena... bagiku kamu adalah tetap kakak kelasku yang aku sayangi." Kata Umi pelan. Eli yang mendengarkan itu hanya bisa diam kaku.
"Umi..." gumamnya tersipu malu.
"Jadi, Umi-chan, apakah kamu sudah mempunyai suami?" tanya Eli mencoba membuka topik obrolan baru.
"B-Belum..."
"Heh, kenapa begitu?! Aku tidak percaya kalau tidak ada pria yang tidak mau sama kamu di dunia ini, kamu itu cantik Umi... Apa perlu aku yang carikan?" seru Eli keheranan sembari memegang punggung tangannya.
"Ehh... Ndak usah!, I-Itu..." katanya gugup dengan pipi memerah.
Itu bukanlah topik yang ingin dibicarakan oleh Umi bahkan pada saat bersama dengan Kotori. Kedua orang dewasa itu bertingkah bak anak kecil yang baru membuat kesalahan dan sulit untuk saling memaafkan. Begitu aneh hingga membuat Alisa yang sedari tadi sibuk menyiapkan kopi menjadi jijik untuk melihat kelakuan mereka
"Cih, Onee-chan, Baka...!" teriak Alisa yang kesal dengan ulah kakaknya
"Alisa?!"
"Kamu sampai sekarang masih belum sadar yah?"
"Umi tidak mau punya pacar karena dia masih cintanya sama kamu!"
"Ehhh..." Kini giliran Eli yang berteriak kaget."EHHH?!"
Sementara itu Umi yang mendengar perkataaan Alisa tidak berusaha membantahnya bahkan semakin tersipu malu, dia hanya bisa duduk terdiam sambil memegang kalung liontin tua yang dia kenakan di lehernya. Liontin kecil yang dia dapatkan dari loker sepatu SMA-nya pada 7 tahun yang lalu.
"U-Umi?! Apakah itu benar?!" tanya Eli gusar.
Umi tetap diam namun kepalannya mengangguk pelan.
"UMI! AKU KAN SUDAH BILANG... LUPAKAN AKU!" bentak Eli sambil kedua tangannya memegang pundak Umi.
"Kamu ini kenapa keras kepala gini, sih?!"
"Lepaskan, m-mana mungkin aku bisa melupakan cinta pertamaku begitu saja?!" jawab Umi menampik tangan Eli sambil berurai air mata. "S-Sakit."
"Ahh, M.. Maaf...!" kata Eli panik sambil mundur menjauhi Umi dan menuju jendela yang telah terbuka.
"Umm..."
"Maafkan aku, Umi-chan."
"Sebenarnya, Aku... Aku sebenarnya juga menyukaimu." kata Eli dengan kepala tertunduk di balik jendela itu.
Waktu itu seolah ada Bis sedang membunyikan klakson begitu keras untuk mengusir kucing yang berada di tengah jalan, mereka berdua menjadi terkejut dengan perkataan Eli, terutama untuk pertama kalinya dia mendengar pengakuan dari kakak kelasnya tersebut.
"Tujuh tahun yang lalu."
"Waktu itu aku benar-benar sangat senang mendengar pernyataan cintamu, aku sangat bahagia... Aku bahkan hampir tidak mampu harus berkata seperti apa untuk menjawab itu. Tapi.."
"Pada saat itu juga aku telah dijodohkan dengan seorang lelaki di Rusia dan keluarga kami telah memutuskan bahwa aku akan segera bertunangan dengan dia setelah lulus dari SMA. Oleh karena itu aku tidak mau memberikan harapan palsu kepadamu. Karena itulah aku langsung menolakmu." ujar Eli penuh rasa menyesal.
"Kalau begitu, tolong maafkan aku yang sudah mencampakkan cintamu."
"Sebelumnya, aku pikir itu adalah cara yang tepat untuk tidak melukai perasaanmu namun nyatanya itu malah membuatmu semakin terluka dan menutup hatimu bagi orang lain hingga saat ini. Aku ini memang bodoh yah!" Kata Eli sambil berurai air mata.
"Kasihan kamu Umi, selama tujuh tahun ini kamu harus merasakan sakit hati karena perkataan bodohku yang telah melukai hatimu."
"T-Tidak! E.. Eli-senpai, tolong jangan pernah menyebut dirimu itu bodoh!" bela Umi.
"Akulah yang bodoh. Diriku sendiri yang memilih untuk terus menyimpan perasaan ini meskipun aku tahu bahwa kamu tidak akan pernah menjadi milikku, tapi..."
"Aku tidak pernah menyesalkan itu. Aku senang sudah menghargai perasaan ini hingga sekarang." kata Umi menguatkan hatinya sembari tersenyum penuh kehangatan kepadanya.
"Jadi, tolong jangan menangis lagi yah..."
"Umi-chan?!"
"Karena itulah, aku juga tidak mau hal sama yang telah terjadi padaku juga dialami oleh kamu, Alisa. Jadi..." kini Umi berbalik memalingkan mukanya kepada Alisa untuk bersiap menceramahinya.
"Heh... Apa-apaan ini?!" seru Alisa dengan nada tinggi.
"Umi-chan... Aku kan sudah pernah bilang aku tidak akan berbuat tindakkan bodoh seperti senpai-mu itu ( walaupun fakta bahwa senpai-mu itu ternyata adalah kakakku sendiri, sih!). Aku akan membuatmu untuk mengakui perasaan cintaku ini tidak peduli dengan cara apapun!." teriak Alisa keras di hadapan mereka berdua. Dia menjadi tersipu memerah saat mengatakan itu tapi bukan hanya dia saja bahkan Kakaknya dan sang guru juga tidak kalah memerah saat mendengarkan perkataan itu.
"Karena aku benar-benar mencintaimu!".
"A-Alisa?!" sapa Eli kaget.
"Ya Onee-chan, aku menyukai Sonoda-sensei... Aku akan menikahinya!"
"APAAA?!" sontak Eli dan Umi terkejut.
"Bercanda... :p"
Gadis itu menjelirkan lidahnya kedepan bak kucing yang sedang memanggil tamu dengan pangkal tangan kanannya menyetuh dahinya. Untuk seseaat kedua gadis dewasa itu menghela nafas berat sebagai dampak mengeluarkan unek-unek emosi mereka. Namun itu hanya berlaku sesaat karena...
"Umm... Umi, apakah kamu juga mencintai Alisa?" kini gilran Eli yang bertanya serius.
Umi yang mendengar itu cuma bisa duduk tidak bergeming dari kursinya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya namun setelah berbagai kejadian yang telah dia alami saat ini tentu saja sangat sulit untuk menyangkal perasaannya apalagi saat ini dia sedang berhadapan dengan satu-satunya orang dimana dia sama sekali tidak bisa berbohong. Waktu itu dia sama sekali tidak dapat mengelak lagi dan satu-satunya respon yang bisa dia berikan adalah menganggukkan kepalanya pelan.
Eli sekali lagi menghela nafas berat yang dia sendiri tidak tahu untuk mengapa melakukannya.
"Yah, mungkin ini adalah hukum karma bagiku..."
"Karena aku menolak cintamu, maka adikkulah yang beralih mencintaimu. Apakah ini takdir atau kutukan bagi keluarga Ayase?!" kata Eli sambil tersenyum.
"Lagipula, dulu aku kan pernah bilang: Kalau itu Umi, pasti bisa merasakan itu suatu hari nanti." Tuturnya menatap arah jendela UKS sambil tersenyum cerah.
"Ehh, kata-kata itu? Jangan-jangan?!" tanya Umi dengan mata terbelalak. Perkataan nostalgia yang dia kenang itu seharusnya terucap dari mulut sang guru UKS kala itu namun...
"Uhmmm..." Eli hanya tersenyum manis kepadanya.
"Baiklah, Kalau begitu mulai saat ini aku serahkan adikku ini kepadamu yah, Umi-chan."
"Ehh, B... Baik!" jawab Umi gugup.
"Kalau begitu aku pulang dulu sekarang.." ujar Eli yang sudah berdiri meninggalkan kursinya.
"Tunggu sebentar!" ujar Umi tiba-tiba menghentikan langkah Eli.
"Waktu itu aku belum sempat mengucapkan ini kepadamu..."
"Selamat yah untuk pernikahan dan kelahiran anakmu, Eli-san." kata Umi sambil tersenyum lebar.
"Eli-san, Yah?!" gumam Eli dalam hatinya.
"Maaf, aku tidak bisa memberikan apa-apa sebagai hadiah untukmu. Umm..."
"Tidak, kamu sudah tidak perlu memberikan apa-apa lagi sekarang. Melihatmu yang saat ini itu saja sudah cukup bagiku..." kata Eli sambil tertawa senang.
"Terima kasih Umi-chan, kamu memang sudah dewasa sekarang. Selamat tinggal..."
Eli lalu menutup pintu UKS dan pergi meninggalkan kedua orang itu sendirian disana. Namun itu sama sekali belum berakhir, tubuh Umi tiba-tiba bergetar begitu keras hingga kakinya tidak tahan untuk terus menyangga tubuhnya agar tetap berdiri tegak.
"Selamat tinggal... Cinta pertamaku." jawab Umi dengan suara gemetar disusul air mata yang mengalir di pipinya.
Alisa mendekati Umi dan memeluk tubuh gurunya yang tersungkur dilantai sambil ikut menangis bersamanya.
"Tidak apa-apa, Sensei... Keluarkan saja semua itu, Itu sudah bukan apa-apa sekarang... Biarkan waktu yang menghapus rasa sedihmu itu."
.
Karena mulai sekarang akulah yang akan terus bersamamu untuk menghiburmu setiap saat, baik di saat senang maupun sedih.
.
Chapter 8: End
