Hari sabtu. Adinda bersyukur ia bekerja keras untuk mengumpulkan tanda tangan, biarpun masih belum mencapai empat puluh. Tetapi mengenai hal tersebut Adinda tak lagi ambil pusing, karena saat ini ia masih merasa luar biasa kecewa. Ia tak mau bereaksi berlebihan terhadap "kebohongan" Mei dan Elizaveta terhadap dirinya sebab ia tak mau menarik lebih banyak perhatian lagi terhadap dirinya. Namun Adinda juga berterima kasih terhadap Elizaveta dan Mei karena telah berbincang mengenai masalah Timur dan Barat yang memberikan petunjuk besar kepadanya.

Namun Adinda merasa agak canggung saat berpapasan dengan Mei, Emma, dan Lili karena mereka berada di kelas yang sama. Tidak ketiganya menyapa Adinda, biarpun Adinda sempat berkata Selamat pagi kepada Lili. Dan itu membuat Adinda jengkel. Merekalah yang berbohong dan berpura-pura pada Adinda, namun justru malah mereka yang menjauhi Adinda, menatap Adinda seolah ia adalah makhluk paling menjijikan yang mereka pernah lihat. Ia tak pernah melakukan apa-apa pada mereka untuk mendapatkan perlakuan seperti itu.

"Aiyah, mau sampai kapan kamu mau melamun aru? Dengar tidak?"

Yao melambaikan tangannya persis di depan wajah Adinda sebelum memukul bahu Adinda keras-keras.

"Maaf senior. Kurang tidur beberapa hari ini."

Yao hanya terdiam. Ia tahu apa yang terjadi malam itu, pertengkaran antara Elizaveta dan Mei tak berakhir baik. Rumor mulai tersebar dan situasi mulai terasa aneh diantara para murid. Hubungan murid-murid kelompok Olahraga dan Kesenian pun mulai kembali panas, biarpun tak ada pertengkaran berarti. Namun pertengkaran antara dua gadis tersebut membuat kelompok guru pendisiplin pun entah kenapa bergerak agak aneh keesokannya. Tom pun kali ini terlihat agak lebih serius, ia berkeliling lebih sering, bahkan akan mendekati atau bertanya ke sekelompok murid yang ia pikir memiliki perdebatan panas.

"Yang dilakukan Mei itu salah aru," kata Yao, "jangan perdulikan anak itu. Kamu tetap bagian dari kelompok Olahraga biarpun kamu tak bisa apa-apa aru."

Adinda menaikkan satu alisnya. "Yang benar? Apakah senior lupa motif asli dari senior saat memintaku masuk kelompok Olahraga?" Namun Adinda tak berniat membuka mulutnya dan menyimpan pendapat itu untuk dirinya sendiri.

Yao pun kembali berbicara mengenai peraturan dasar kelompok Olahraga, Adinda menyimak dengan penuh konsentrasi.

Pagi ini sebelum berolahraga pagi, Yao menelpon Adinda mengatakan kalau Adinda diterima di kelompok dan mengharuskan kehadiran Adinda di bangunan pertama kelompok Olahraga, ruang kantor utama kelompok Olahraga untuk bertemu dengan guru yang menjadi kepala penanggung jawab kelompok Olahraga—Wang Gang Li, paman dari Yao dan Mei—dan Yao sendiri. Bangunan kelompok Olahraga cenderung sepi saat hari Sabtu sebab kebanyakan murid berada di lapangan Indoor maupun Outdoor karena hari ini adalah hari latihan yang wajib. Adinda juga diberitahu kalau jika ia tak hadir dua hari berturut-turut pada hari Sabtu, maka ia akan dikeluarkan dari cabang kelompok, jika dilakukan sekali lagi di cabang kelompok lain, maka ia akan dikeluarkan dari kelompok Olahraga tanpa pemberitahuan dan tak diperbolehkan lagi masuk.

Selain diajarkan tentang peraturan-peraturan dasar, Yao mengajak Adinda untuk melihat-lihat bangunan pertama hingga ketiga milik kelompok Olahraga. Lalu mengawasi Adinda saat ia berkenalan dengan anggota kelompok Atlet Lari yang totalnya dua puluh termasuk dia sendiri. Namun kali ini Adinda lebih was-was dan sangat perhatian terhadap gerak-gerik, tata bicara, dan ekspresi dari tiap atlet, tak ingin masalah antaranya dengan Mei dan Elizaveta terulang lagi. Dan ada satu murid yang terlihat agak menjauhinya.

"Adinda Putri Pertiwi."

"Wang Jia Long." Jawabnya, tampak tak nyaman.

"Salam kenal." Senyuman dan keramahan Adinda hanya dibalas dengan anggukan cepat, sebelum Wang Jia Long akhirnya pergi menjauh dengan canggung.

"Abaikan Xiao Jia, ia tak pandai dengan orang baru aru." Kata Yao akhirnya berbicara. Ia bahkan tak terganggu untuk mengganti pakaian olahraganya yang ia kenakan sedari pagi yang berwarna merah tua dengan garis putih. "Ketua yang baru siapa?"

Seorang gadis datang mendekati Yao. Gadis itu tingginya melebihi Adinda, berkulit putih bersih dengan rambut sehitam arang yang panjang dan diikat satu. Ia cenderung lebih ramping dengan lekukan seorang wanita yang terlihat natural jika dibandingkan dengan Adinda dimana ototnya lah yang membentuk lekukan tersebut. Namun satu hal yang signifikan dari tampang si gadis, wajahnya mirip dengan Yao, seolah ia sepupunya atau saudaranya. Dan pertanyaan tersebut langsung terjawab beberapa detik setelahnya.

Setelah bercakap-cakap sebentar, Yao memperkenalkan gadis tersebut. "Adinda, ini Wang Lien Chung, sepupuku aru."

"Terima kasih sudah mau bergabung dengan kelompok kami. Kemampuan berlarimu akan aku ukur dan analisis dilapangan lari maraton nanti, persiapkan dirimu."

"Baik senior Lien."

Lien menurunkan kedua alisnya sambil menggeleng-geleng. "Oh tidak, tidak. Panggil saja Lien. Tak perlu pakai senior, aku tak suka jika jarak usia kita dipertegas."

Namun setelah mengatakan hal tersebut, Lien melirik Yao dengan jahil sebelum berjalan kearah wakil ketua kelompok Atlet Lari. Yao hanya menunjukan ekspresi jengkel sembari mengibas kuncirnya dengan tangan, dan dengan tiba-tiba, tanpa pemberitahuan atau tanpa tanda apa-apa menarik kuncir milik Adinda dan berbisik.

"Aduh—!"

"Acuhkan Xiao Mei." Ia pun melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan Adinda yang dibuat kebingungan. Adinda melepas kuncirnya untuk ia perbaiki sementara itu mencari-cari dimana Mei berada dan mendapatinya berada di balik pilar besar, sedang mengintip, melihat Adinda dengan sinis sebelum akhirnya pergi dengan teman-temannya. Adinda merasakan sedikit nyeri dalam hatinya. Bukan kemarahan, hanya rasa sedih, bukan kepada dirinya sendiri, namun kepada Mei, entah kenapa ia merasa bahwa Mei juga akan mengkhianati teman-temannya jika perlu, biarpun Adinda tak yakin kapan giliran mereka akan terjadi.

Namun saat Adinda terus memperhatikan Mei, ia tak menyadari ada orang lain yang telah memperhatikannya.


Pikiran Adinda masih terus terganggu dengan masalah yang Mei dan Elizaveta ungkit. Ia ingin mencari tahu lebih jauh, dan ia tak sabar untuk melakukannya. Namun rencananya bakal tertunda karena akan ada sesi latihan khusus bagi murid baru kelompok Atlet Lari di luar kompleks minggu depan. Biarpun ia agak senang bisa melihat-lihat kompleks sambil berlatih karena di hari pertama ia tak sempat melakukannya.

"Tiga belas detik koma dua puluh lima. Melebihi rekor Jia. Menakjubkan Adinda!" Manajer kelompok Atlet Lari, Eugene Vasilis Kastaros, berseru di pinggir lapangan.

Eugene lebih dikenal oleh orang banyak bukan sebagai manajer Atlet Lari, melainkan teman baik dari Heracles Karpusi. Heracles atlet Lempar Lembing yang sangat digandrungi murid-murid perempuan, yang juga terkenal dikalangan lelaki sebagai MVP sejati karena prestasinya meraih MVP dalam kompetisi olahraga antar sekolah empat kali berturut-turut, dan mungkin akan meraih MVP kelimanya dikompetisi yang akan datang. Heracles maupun Eugene telah memasuki tahun ketiga mereka, biarpun seharusnya senior kelas tiga tak lagi diwajibkan memiliki absensi penuh dalam kegiatan kelompok, keduanya tetap menjalankan tugas mereka dengan maksimal, apa lagi Heracles yang memperketat sesi latihannya menjelang kompetisi.

Adinda melap keringat di keningnya. Cuaca hari itu luar biasa panas, biarpun ia mengenakan pakaian pelari sekali pun. Ia hanya berharap semoga tubuhnya dapat cepat beradaptasi dalam perubahan cuaca yang sangat ekstrem tersebut. Ia menoleh kearah Jia yang langsung memalingkan wajahnya, wajahnya mengeras, tampaknya sangat terganggu dengan fakta bahwa rekornya telah dibalap.

"Baguslah. Jika kondisimu, stamina, dan kecepatanmu terus meningkat, kamu bisa maju ke kompetisi nanti." Lien berkomentar sembari terus mengawasi murid lainnya yang sedang dites. "Xiao Jia, Adinda, Rachel, Adam, kalian berempat akan melakukan latihan tiga kali seminggu, belum termasuk hari sabtu. Jangan lupa untuk terus latihan tiap hari jika kalian ingin maju ke kompetisi nanti."

Keempatnya menjawab "ya" dengan serentak dan kembali melanjutkan latihan mereka. Namun rangkulan dari tangan yang besar seputih salju di bahu Adinda membuat Adinda nyaris melompat.

"Senior Ivan?"

"Lien tak sembarangan berbicara mengenai kompetisi. Kami akan menunggumu di lapangan perlombaan." Ia menyunggingkan senyuman bersahabat, namun ia tak melepaskan rangkulannya, pandangannya sedang terfokus pada sesuatu, hingga akhirnya ia berbisik. "Ada yang tertarik denganmu."

Ivan melirik kearah Jia yang menatap tajam tangan Ivan di bahu Adinda, dan setelah mengetahui kedua orang yang ia perhatikan juga memperhatikannya, Jia memalingkan wajahnya dan meninggalkan lapangan, memasuki ruang penyimpanan peralatan olahraga. Jika Adinda hanya mengerutkan dahinya dengan bingung, Ivan justru memperlebar senyumannya dan bergumam.

"Interesnyy."


Character and nation:

Emma van Aalsburg and Thomas van Aalsburg: Belgium, Male! Belgium.

Alison Kirkland and Alice Kirkland: Female!Wales, Female!England.

Scott Kirkland and Redmond Kirkland: Scotland, Northern Ireland.

Bogomil Daskalov: Bulgaria.

Wang Jia Long and Wang Lien Chung: Hongkong, Vietnam.

Interesnyy: Interesting. -Russian.

Xiao: Little. Tambahan dalam sebuah panggilan bagi orang yang sudah dekat. Juga digunakan sebagai nama dengan arti yang bermacam-macam.