"Kau yang mengaku?"

"Aku tidak sengaja mengatakan bahwa aku sudah punya pacar di depan teman sekelasku. Mereka bertanya siapa dan aku sedang memikirkanmu, jadi aku bilang saja begitu."

"Sial."

Memikirkan Dejun?

Lucu, di antara semua orang yang Hendery bisa pikirkan, kenapa harus dirinya.

Dejun tak habis pikir bagaimana seorang siswa paling populer di sekolah membuat rumor tentang dirinya sendiri. Kemudian menyeret orang lain tanpa diketahui. Sialnya, orang lain itu adalah dirinya. Memang ada untungnya karena namanya menjadi lebih dikenal bukan sebagai ketua organisasi kesiswaan —melainkan sebagai lelaki beruntung yang mendapatkan Hendery. Si Xiao sangat tidak menyukai sebutan itu.

Sekarang apa lagi?

Apakah dengan Hendery mengatakan pada khalayak jika yang dikatakannya tadi pagi adalah kebohongan, mereka akan percaya? Dejun rasa tidak semudah itu karena rumor sudah menyebar ke seluruh lapisan sekolah. Oh, bahkan guru kesenian mereka sempat menggoda si Xiao di sekolah tadi. Rasa malu yang ditanggung Dejun benar-benar banyak. Dia tak bisa menjawab gurunya dan hanya menahan amarahnya —ingin meninju siapapun yang membuat rumor.

Oh dan kebetulan, dalangnya sedang duduk santai menyesap kopi.

"Apa yang bisa kau lakukan?"

"Membuat rumor menjadi kenyataan."

"Apa?"

Dejun mengerjapkan matanya sedikit kebingungan ketika mendengar jawaban Hendery. Kepalanya sedikit dimiringkan karena ia tidak paham perkataan itu. Si model itu sendiri melengkungkan kurvanya kemudian menatap si Xiao tepat di netranya. Pria Macau itu tertawa kecil —menertawakan ketidaktahuan pria di hadapannya mungkin. Dan itu membuat Dejun gondok.

"Minum kopimu dulu."

Hendery mendorong gelas kopi yang belum tersentuh ke hadapan Dejun. Si Xiao menatap pria itu kemudian menatap kopinya. Ia dengan ragu mengambilnya kemudian menghabiskan minuman pahit itu dalam sekali tegak. Lidahnya sedikit kepanasan tetapi masa bodoh. Dia segera melempar sorot kesal kepada si model. Ia pun segera bertanya, "Puas?"

Hendery tertawa, "Baiklah, jadi apa maumu sekarang?"

Dejun menghela napas, "Menghilangkan gossip itu tentu saja."

"Kau berikan caranya, aku akan mencoba."

Oh, ya, Hendery berbuat tapi kenapa harus Dejun yang berpikir cara bertanggungjawab? Ia melempar tatapan tajam kepada si model. Sungguh, pria di hadapannya itu seperti tidak ada perasaan bersama dan masih menyesap kopi yang sedari tadi tidak habis-habisnya. Si Xiao mulai berpikir jika anak itu tidak ada hati nuraninya —atau mungkin tidak ada otak— karena terlalu santai menyikapi semua ini.

Dejun kalang kabut dan panik sendiri tiba-tiba namanya menjadi buah bibir.

Dalangnya malah santai.

Tidak bisa dibiarkan.

"Berhenti meminum kopimu! Tatap aku!"

Dejun menepuk meja sebentar. Mencoba menarik perhatian dari si penyebab masalah. Nada bicaranya juga agak dia tinggikan sehingga kalimatnya barusan terdengar seperti kalimat perintah tegas. Ia mulai lelah, kawan-kawan. Masalah ini tidak akan bisa selesai jika hanya dirinya sendiri yang berinisiatif menyelesaikannya. Dan syukurnya, tepukan meja itu membuat Hendery agak tersentak dan memperhatikan dirinya.

"Tidak perlu sampai menepuk meja begitu keras, Xiaojun. Kau cemburu hanya karena kopi?"

Dejun terdiam.

Bukan itu maksudnya! Pria asal Guangdong itu ingin menepuk jidatnya sendiri. Di saat-saat seperti ini, masih sempat-sempatnya Hendery menggoda Dejun hingga pria itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia terjebak antara perasaan malu digoda atau ingin marah karena digoda. Tapi apapun perasaannya, wajahnya sudah terlanjur memerah dan si Wong sudah menyadarinya.

"Oh, tidak, Xiaojun-ku memerah."

Dejun mengernyit, "Milikmu?"

"Ya, milikku."

Sungguh, menyebalkan sekali si Hendery ini.

Muak melihat wajah tampan si Wong yang tersenyum tidak jelas terus menerus, Dejun memilih menatap Yangyang di meja kasir saja. Ia memberi tatapan meminta tolong tapi pria Jerman itu hanya tersenyum —kemudian mencuekinya. Tatapan Dejun beralih ke Mark yang juga sedang ada di kasir. Ia memberi kode meminta tolong yang sama tetapi pria Kanada itu tidak mengerti dan berakhir mengabaikannya.

Tidak ada yang mau menolong Dejun dari iblis penggoda di hadapannya!

"Aku sudah memperhatikanmu, tapi kenapa kau justru tidak memperhatikanku?"

Dejun tersenyum puas karena Hendery juga merasa kesal. Sekarang gilirannya menggoda pria itu. Ia membuat ekspresi semenyebalkan mungkin dengan memajukan bibirnya kemudian menggerutu, "Itulah rasanya tadi ketika aku ingin berbicara tapi kau malah sibuk meminum kopimu."

"Sudah kubilang, jangan cemburu pada kopi. Hatiku sudah milikmu."

Hendery sepertinya tidak pernah menyerah jika berhubungan dengan Dejun! Dalam hati si pria manis, tipe pria seperti si model pastinya seorang playboy. Lihat seberapa mudahnya pria itu memberikan kedipan mata menjijikkan itu. Pastinya, kedipan itu sudah ia berikan ke puluhan korbannya di luar sana. Si Xiao tidak akan jatuh semudah itu —malu iya, tapi hatinya tidak terlalu tersentuh.

Hati Hendery milik Dejun?

"Tapi hatiku bukan milikmu."

"Tunggu saja, akan segera menjadi milik Guanheng."

Hendery terdengar begitu optimis.

"Guanheng?" ulang Dejun dengan nada ragu.

"Namaku."

Oh, itu nama aslinya?

Dejun berdehem sebentar, "Jadi, Guanheng, bagaimana menyelesaikan rumor ini? Aku meninggalkan pekerjaanku bukan untuk digoda olehmu. Berikan penyelesaian sekarang atau aku akan membencimu seumur hidupku."

Itu ancaman. Si Xiao sampai menunjuk-nunjuk dada Hendery. Nada bicaranya juga dibuat seseram mungkin. Ia mencoba sebisa mungkin mengtimidasi si model. Supaya, mau tak mau, pria itu harus bertanggung jawab atas mulutnya yang mengaku-ngaku. Triknya berhasil karena si Hendery tampak berekspresi agak kaku —tampak tidak berani macam-macam.

"Biarkan aku berpikir."

Dejun memberikannya waktu.

Hendery memasang pose berpikir Kemudian beberapa menit setelahnya, pria itu memasang wajah berbinar seolah sudah mendapat pencerahan. Dejun langsung menegakkan badannya dari sandaran kursi dan menatap pria di hadapannya dengan ekspektasi tinggi. Ia siap mendengar ide dan penyelesaiannya. Semoga pria itu mengatakan sesuatu yang berbobot yang bisa menyelamatkan reputasinya di sekolah.

"Jadi—"

Ucapannya terputus. Dejun tidak sabaran, "Jadi?"

"Kau menjadi pacarku saja, sungguhan."

Dejun bergerak dengan tidak nyaman di kasurnya. Kepalanya masih pusing ketika ia membuka matanya. Matanya bergerak dan menyadari dirinya sudah ada di kamarnya kemudian menemukan sosok pria berkemah putih yang membelakanginya —orang itu sedang mengobrak-abrik lemarinya. Si Xiao menggaruk tengkuknya kemudian menyipitkan matanya untuk meneliti siapa orang itu. Buram.

Tunggu, bagaimana dia berakhir di kamarnya?

Oh, ya, dia pingsan karena mendengar ucapan Hendery.

Ucapan yang tak perlu diingat.

Tapi siapa yang membawanya?

Apakah itu Yangyang? Kebetulan pria Jerman itu juga tinggal di lantai yang sama dengannya, tetangganya juga —selain Hendery. Dan anak itu juga pernah beberapa kali bermain ke apartemennya dan tahu seluk beluk rumahnya. Jadi, kemungkinan besar si Liu itulah yang membawanya kemari meski mereka sedang bertengkar. Mark tidak mungkin juga mempercayakan dirinya ke Hendery kan?

"Jam berapa ini?" tanya Dejun.

"Jam delapan."

Yangyang masih tidak menoleh dan sibuk melakukan sesuatu. Sepertinya membantu mengemas lemarinya. Anak itu tumben sekali amat rajin dan baik hati! Suaranya juga agak aneh tapi Dejun tidak terlalu peduli, ia justru mengoceh, "Oh, astaga. Aku sangat lapar dan belum makan malam."

Dejun menegakkan badannya. Pria itu terduduk di tepi kasur kemudian meregangkan otot tubuhnya yang kaku karena terlalu lama berbaring. Ia menguap, masih mengantuk dan kelelahan. Ia mengayunkan kakinya kemudian tersenyum kecil. Oh ya, ayahnya baru mengirim uang dan dirinya bisa makan di restoran mewah malam ini.

Ah, dia ingin ke restoran Italia.

Masih sempat kan dia mandi sebentar? Sebab pakaian sekolah yang ia pakai masih melekat dan bagi Dejun itu sangat menjijikan. Ia sangat-sangat butuh air hangat untuk menenangkan kepalanya dari rumor tentang dirinya tadi pagi. Kemudian juga kepalanya yang sangat pusing memikirkan Hendery dan segala ucapannya di cafe tadi siang.

Ia menapakkan kakinya ke lantai.

Sebelum itu, ia mengecek ponselnya lalu mengernyit.

Tunggu, kenapa tertulis AM?

Dejun segera panik dan berlari ke arah jendela kemudian membukanya. Sinar matahari menyilaukan matanya. Oh, sial, sudah pagi. Ia menatap Yangyang dan akhirnya pria itu menoleh. Tapi yang didapati si Xiao bukan adik kelasnya melainkan—

"Maksudku, delapan pagi. Kau sudah tidur seharian, Putri Tidur."

Hendery sialan.

TBC.