Chapter 10


"Ka-kakak? Apa maksudnya?"

"Akashi Eru." sambung sang kapten dengan nada peringatannya yang dingin dan mencekam, namun tidak disadari atau mungkin hanya dihiraukan oleh orang yang disebutkan namanya itu— yang tidak lain adalah adik kecilnya yang memiliki surai merah seperti dirinya, bernama Akashi Eru.

Mendengar keributan yang terjadi di depan kamar keempat remaja bersurai pelangi tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari peradabannya masing-masing. Sekedar melihat-lihat saja. Paling tidak, rasa penasaran mereka bisa teratasi untuk sementara waktu.

"Akashicchi, ada apa ini? Kenapa di sini sangat berisik?" tanya si blonde dengan penuh antusias— yang lebih tepatnya 'penasaran' — tanpa memikirkan bagaimana suasana atau situasi saat itu.

Seijuurou, Eru, Kuroko dan Momoi, keempatnya menoleh ke arah datangnya suara, namun dengan cepat, mereka berempat kembali melihat satu sama lain. Mereka terlalu sibuk dengan pernyataan Eru— lebih tepatnya 'perdebatan antara kakak-beradik' dari keluarga Akashi ini— sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang ingin menjawab pertanyaan dari Kise, tidak ada yang ingin menjelaskan alasannya. Bisa dibilang, saat ini Kise hanya diabaikan begitu saja.

"Tapi Elu benal 'kan, O-niichan!" ujar Eru, coba untuk membela dirinya.

Namun tetap saja, sang kakak juga tidak ingin mengalah. "Akashi Eru. Sudah cukup. Henti—"

"Apa Seijuulou-niichan benal-benal sudah lupa? Atau o-niichan memang tidak tahu? Atau o-niichan hanya mencoba untuk melupakan semuanya dan mengawalinya kembali? Apakah o-niichan membohongi dili sendili, belanggapan kalau Tetsuya-niichan sudah tia—?!"

"HENTIKAN, ERU!" bentak Seijuurou. Ia sangat tidak tahan mendengar celotehan yang dilontarkan oleh adik perempuannya itu.

Semua orang yang ada di sana benar-benar dibuat terkejut olehnya, oleh teriakannya itu. Suasana yang tadinya tenang-tenang saja, kini sudah mulai memasuki zona berbahaya— setidaknya, hal itulah yang mereka pikirkan saat ini.

'Hentikan! Eru! Kau tidak mengerti..' batinnya sambil menutup erat kedua iris heterochrome-nya itu, seraya mengepalkan tangan kanannya sekuat tenaga, berusaha untuk tidak mengeluarkan amarahnya. Namun terlambat. Ia lalu menatap kembali sosok Eru— yang saat ini mulai berlinang air mata. Eru sangat terkejut dengan bentakan dari remaja beriris heterochrome itu, yang sama sekali belum pernah ia dengar sebelumnya. Karena jujur saja, Seijuurou sama sekali belum pernah membentak Eru seperti ini.

"O-niichan.." ujarnya sambil mulai mundur selangkah. "O-niichan, sampai kapan o-niichan akan belhenti membohongi dili sendili? Elu benci o-niichan!" sambungnya dengan suara bergetar, yang kemudian membalikkan tubuh mungilnya dan mulai berlari meninggalkan wajah-wajah yang menatapnya dengan tampang terkejut dan penuh keheranan. Kuroko berusaha untuk menahan gadis kecil itu, namun gagal. Anak itu masih lebih cepat daripada Kuroko sendiri.

"Eru..-chan..." gumam Kuroko.

"Biarkan dia, Tetsuya. Untuk saat ini, biarkan dia mendinginkan kepalanya. Dia perlu itu." ujar Seijuurou seraya memijit batang hidungnya. Ia lalu mendesah.

"Akashi-kun—"

"Aku akan mengantarmu sekarang. Begitu pula denganmu, Satsuki." sela Seijuurou cepat.

"Tapi, Akashi—"

"Aku tahu kalian semua sangat kebingungan saat ini. Tapi aku belum ingin menjelaskannya sekarang. Lebih baik kalian mengatur barang-barang kalian dan beristirahat terlebih dahulu. Nanti baru 'ku jelaskan." jelasnya, dan tanpa basa-basi lagi, ia mulai berjalan menjauhi mereka.

Yang lainnya hanya bisa saling memandang saja. Sadar bahwa sang kapten sudah berjalan mendekati tangga, Kuroko dan Momoi dengan segera bergegas mengikuti remaja bersurai merah tersebut.


'O-niichan payah! Elu benci o-niichan!' adalah hal yang berulang kali diucapkan oleh gadis kecil bersurai merah. Ia terus-menerus mengucapkan kalimat yang sama sambil ia berlari menuruni tangga rumahnya, tidak peduli apakah nantinya ia bisa terjatuh karena tidak berhati-hati atau tidak. Menjauh dari kakak tercintanya adalah tujuan utamanya saat ini.

Setelah sampai di lantai dasar, ia masih saja berlari menelusuri rumahnya. Sebisa mungkin ia berlari dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya ia tiba di pintu masuk rumahnya yang masih saja dijaga oleh pelayan setia keluarga 'Akashi', yaitu Eiji. Mendengar celotehan yang dikeluarkan dari mulut kecil Eru, serta melihat air mata yang terus-menerus mengalir membasahi pipinya yang lembut itu, sontak Eiji terkejut mendapati Eru dalam keadaan seperti itu. Baru kali ini ia mendapati anak bungsu dari Yutaka-Keiko sedang mengoceh seperti itu. Ditambah lagi, penyebabnya ialah Seijuurou, kakak yang paling ia sayangi.

"N-nona, apa yang terjadi? Kenapa anda menangis seperti itu?" tanyanya. Namun Eru hanya menggelengkan kepalanya.

"Paman, tolong buka pintunya." pintanya.

"Ini sudah hampir malam, nona. Hari sudah mulai gelap."

"Elu tidak peduli!"

"Tapi—"

"Kumohon! Elu tidak akan kemana-mana kok!"

Melihat keseriusan yang terpancar dari mata sembab Eru, akhirnya Eiji mendesah. Ia lalu membukakan pintu tersebut. Pintu yang saat mulai terbuka, gadis kecil itu langsung berlari keluar dan langsung membelok ke arah kanan, tanpa memperhatikan kalau ternyata sang ibu sudah berada tak jauh dari depan pintu.

"Ara~, ada apa ini? Kenapa peri kecilku berlari seperti itu?" tanya Keiko saat ia mulai menginjakkan kakinya dalam rumah tersebut.

"Ah, selamat malam, Nyonya." sapanya sambil menundukkan kepala.

"Kenapa Eru-chan berlari seperti itu, Eiji-san?"

"Aku juga tidak tahu, nyonya. Tapi sepertinya, nona Eru sedang bertengkar dengan tuan muda." jelasnya sambil mencoba untuk mengambil mantel bulu yang dipegang oleh Keiko. Namun tetap saja tidak berhasil. Keiko malah semakin mempererat genggamannya, seraya tersenyum lalu mengucapkan kalimat 'Tidak perlu', yang membuat pria itu mendesah untuk kesekian kalinya.

"Hmm, Eru-chan bertengkar dengan Sei-kun? Aneh. Mereka 'kan tidak pernah bertengkar seperti itu." ucapnya dengan pose sedang berpikir.

"Ah, biarlah. Sekali-sekali bertengkar seperti itu juga tidak masalah. Oh ya! Apa teman-teman Sei-kun sudah tiba? Mereka ada di mana? Duuhh,, mereka pasti belum makan!" sambungnya cepat, membuat Eiji hanya tertawa pelan melihat tingkah nyonya-nya ini.

"Mereka sudah tiba sejak tadi, bersama-sama dengan tuan muda. Mungkin mereka sedang berada di kamar masing-masing. Ah ya, bukankah anda bilang bahwa anda akan pulang jam 7 malam? Sekarang 'kan masih jam setengah 7?"

"Anda benar. Tapi itu tidak masalah, Eiji-san. Presentasi hari ini dibatalkan karena beberapa dari mereka tidak bisa hadir dikarenakan ada urusan mendadak. Sebenarnya aku benci sekali kalau jadwalku jadi berantakan seperti ini. Tapi ada untungnya juga, sih. Jadinya aku bisa pulang cepat." Jelasnya, diikuti dengan anggukan mengerti dari lawan bicara.

"Kalau begitu, aku naik dulu, Eiji-san. Aku tidak sabar melihat mereka!" ujarnya lagi, lalu bergegas pergi menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Sesudah keduanya mengantar sang manager ke kamar Eru— kamar yang mulai saat ini sampai pada hari yang ditetapkan akan menjadi kamarnya juga—, serta Seijuurou yang sudah menunjukkan yang mana saja yang dapat digunakan oleh Momoi, mereka lalu memasuki kamar si remaja heterochrome itu.

'Rapi', 'Bersih' atau bahkan 'Tidak berantakan sama sekali' memang merupakan kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan keadaan dalam kamar sang kaptennya yang satu ini. Buku-buku tidak ada yang tercecer. Semuanya tersusun rapi dalam rak buku dan juga pada meja belajarnya. Pakaian tak ada satu pun yang ditaruh di sembarang tempat. Sampah kertas, plastik atau bungkusan apa pun, tidak ada yang berserakan dalam ruangan ini. Bisa dibilang kalau ruangan ini aman terkendali. Padahal, pada umumnya kamar anak laki-laki itu tidak seperti ini. Pasti ada saja yang berantakan.

Dinding berlapis cat berwarna krem muda, motif seprai dan selimut yang simple dan berwarna coklat, serta warna rak buku, meja belajar dan lemari yang berwarna sepadan, menjadikan kamar tersebut memiliki nuansa yang nyaman. Dilengkapi dengan sofa yang empuk dan berwarna putih, serta meja berwarna hitam juga menambah suasana dalam kamar sang kapten. Gaya kamarnya yang casual itu benar-benar cocok dengan kepribadian seorang Akashi Seijuurou.

"Kau suka?" tanya Seijuurou yang membuat si kepala baby blue itu tersadar dari lamunannya dan dengan segera, berbalik ke arah sumber suara, seraya menganggukan kepalanya pelan.

"Sangat sederhana namun menenangkan. Aku suka. Benar-benar mirip dengan sifat Akashi-kun."

"Oh ya?"

Kedua iris aquamarine-nya mulai memperhatikan sekeliling kamar tersebut. Kamar yang memiliki sebuah kamar mandi, 2 tempat tidur yang empuk— sama seperti yang terdapat pada setiap kamar yang ada— yang disertai dengan dua lemari kecil pada sisi kanannya, yang masing-masing diatasnya terdapat sebuah lampu tidur yang simple. Juga memiliki 2 buah kursi serta meja belajar yang saling berdempetan satu sama lain. Yang satu memiliki berbagai macam buku dan alat tulis yang tersusun rapi, sedangkan yang satunya lagi tidak terdapat apapun di atasnya. Alias kosong dan tidak digunakan— Tunggu! Dua?!

Kuroko mengernyitkan dahinya. "Akashi-kun, kenapa kau memiliki dua meja belajar? Akashi-kun hanya memerlukan satu 'kan?" tanyanya bingung, sambil memperhatikan Seijuurou yang tadinya sibuk mengatur barang-barang tamunya, kini, secara mendadak menghentikan aktivitasnya, yang kemudian duduk di atas spring bed-nya yang empuk.

Seijuurou, untuk kesekian kalinya di hari itu, mendesah lagi.

"Itu bukan milikku. Benda itu milik adikku."

"Adiknya Akashi-kun? Eru..-chan..?" tanya dengan hati-hati.

"Tidak, bukan dia.." jawabnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"..Tapi adikku yang hilang sejak kami masih kecil, yang entah pergi kemana, yang meskipun sudah bersusah payah aku cari namun sama sekali tidak dapat kutemukan, di mana pun itu. Dia adik yang hebat dan paling 'ku sayangi."

"Namun sayangnya, sampai saat ini, aku masih tidak tahu di mana ia berada. Kedua orang tuaku, bahkan polisi sekali pun, tidak tahu keberadaannya itu. Mereka bilang.. kalau adikku itu sudah.."

Ia mendesah pelan— namun dengan penuh rasa kesal— melanjutkan penjelasannya.

".. sudah tiada lagi.. Padahal, dulu aku berjanji akan selalu melindunginya, namun aku gagal. Seandainya saat itu aku lebih bisa diandalkan. Seandainya saja, saat itu aku bisa melindunginya. Mungkin.. Mungkin jadinya tidak.. seperti itu..." lanjutnya lagi, sambil tersenyum kecut, seraya mempererat genggaman pada selimutnya itu.

"Nee, Tetsuya. Aku kakak yang payah, bukan?"

"Akashi-kun jangan berpikiran seperti itu. Bagiku, itu tidak masalah, Akashi-kun. Karena Akashi-kun sudah melakukan yang terbaik yang Akashi-kun bisa lakukan. Aku yakin, dia pasti akan senang melihat kakaknya yang sudah bersusah payah mencoba untuk menolongnya. Akashi-kun kakak yang hebat." ujar remaja beriris aquamarine itu sambil duduk memposisikan dirinya dia atas tempat tidur yang satunya lagi.

"Dia pasti akan kecewa melihatku. Melihatku yang hanya membuang waktu dengan percuma hanya untuk menyesali perbuatanku yang dulu. Semakin aku berusaha melupakannya, semakin besar rasa bersalahku padanya, Tetsuya. Dan itu menyakitkan. Aku—"

"Apa karena itu, Akashi-kun memakai topeng seperti ini? Apa hanya karena itu, sampai-sampai Akashi-kun tidak bisa menunjukkan perasaan Akashi-kun yang sebenarnya? Apa karena itu, sehingga Akashi-kun tidak bisa melangkah maju?" potong Kuroko. Membuat lawan bicaranya menjadi tertegun mendengar pertanyaan— yang lebih tepat disebut dengan 'pernyataan'— yang dilontarkan dari seorang Kuroko Tetsuya. Pada umumnya, Seijuurou pasti akan menghukum orang-orang yang memotong pembicaraannya. Namun kali ini tidak. Ia masih terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan juga perkataan yang dilontarkan oleh remaja beriris aquamarine itu.

"Kau tahu, Akashi-kun? Masa lalu itu ada, bukan untuk menjadi penghalang agar kita tidak bisa melangkah maju dan hanya menyesali perbuatan yang telah terjadi. Tapi sebaliknya, masa lalu itu ada untuk memperbaiki diri kita, untuk saat ini, untuk semua yang berada di hadapan kita, serta di hari yang akan datang. Bisa dibilang, untuk menjadi lebih baik lagi. Sebenarnya, Akashi-kun bisa membayar kesalahan Akashi-kun lewat Eru-chan. Kalau Akashi-kun dulunya tidak bisa melindungi anak itu, Akashi-kun bisa menjadikan Eru-chan sebagai penggantinya. Saat ini, Eru-chan 'lah yang jelas-jelas ada di sisi Akashi-kun, dan bukan adik Akashi-kun yang sudah tiada. Akashi-kun bisa membuktikan kalau sebenarnya Akashi-kun mampu melindungi adik Akashi-kun dengan cara melindungi Eru-chan. Aku yakin, anak itu tidak akan kecewa melihat Akashi-kun." jelas Kuroko panjang lebar. Bukan seperti yang biasa ia lakukan, tapi ia rasa, hal ini perlu ia ucapkan saat ini, membuat Seijuurou— sekali lagi— tertegun mendengar nasehat dari si phantom player ini.

"Ternyata kau bisa juga, mengucapkan hal-hal seperti itu, Tetsuya. Aku benar-benar tak menyangka." ujarnya dengan tampang datar, membuat remaja bersurai baby blue itu menjadi salah tingkah.

"Tapi, untuk yang tadi itu, terima kasih."

"Hng?"

"Kau tahu, aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Kuroko Tetsuya. Kau benar-benar mirip dengannya. Dan yang membuatku lebih bingung lagi ialah namamu dan tampangmu yang sama persis dengannya. Hanya saja, 'Kuroko' itu sama sekali tidak 'kuketahui."

"Jadi karena itu, Eiji-san memanggilku seperti itu saat ia melihatku, dan Eru-chan beranggapan kalau aku ini... kakaknya?"

"Ya. Lucu, bukan? Pada awalnya, aku juga beranggapan hal yang sama." balasnya jujur.

'Dan aku berharap hal itu memang benar adanya. Aku berharap, kau memang adikku yang hilang itu, Tetsuya..'

"Maafkan aku, Akashi-kun."

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kuroko, ia lalu menoleh ke arah remaja bersurai baby blue itu, sambil ia mengernyitkan dahinya— bingung. "Kenapa kau meminta maaf seperti itu?"

"Karena aku membuat Akashi-kun dan keluarga Akashi-kun menjadi sedih karena mengingat soal—"

Seijuurou tertawa pelan, lalu kembali memperhatikan Kuroko.

"Kau tidak salah, Tetsuya. Sama sekali tidak. Tapi... sejak kapan kau mulai ke-pede-an seperti ini?" tanya Seijuurou antusias, membuat Kuroko kembali bersalah-tingkah-ria.

"Bu-bukan begitu, Akashi-kun."

"Sudahlah. Lebih baik kau atur barang-barangmu terlebih dahulu selagi aku mandi. Setelahnya, baru kau lagi yang masuk." ujar Seijuurou sambil bergegas mengambil pakaian gantinya, dibalas dengan anggukan singkat dari remaja beriris aquamarine itu.

"Hai.."

.

.

**Setting Skip**

.

.

"AKASHICCHI! Tidak bisakah kau membiarkanku sekamar dengan Kurokocchi? Hidupku menderita kalau dengan Aominecchi-ssu!" rengek Kise sambil menunjuk remaja berkulit tan, yang berada di belakangnya. Namun yang menjawabnya bukanlah remaja beriris heterochrome itu, melainkan disambut hangat dengan protes dari remaja bersurai navy blue. Sedangkan orang yang dijadikan sebagai tempat curhat (baca : Akashi Seijuurou), hanya mengabaikannya saja.

"AKASHICCHII~~!"

"KAU BERISIK SEKALI, KISE! KALAU KAU SAYANG HIDUPMU, LEBIH BAIK KAU DIAM!"

"JUSTRU KARENA AKU SAYANG HIDUPKU, MAKANYA AKU TIDAK INGIN SEKAMAR DENGANMU, AOMINECCHI!"

Midorima mendesah. "Dasar anak-anak.." gerutunya dalam hati.

"Mine-chin, Kise-chin, kalian berdua sama-sama berisiknya. Nanti Aka-chin marah, loh." Ujar si bayi raksasa itu, menasehati kedua 'anak buah' Akashi. Setidaknya, kalau mereka masih sayang akan hidupnya, diam akan menjadi pilihan yang tepat.

"Dan kalian tahu benar, bukan? Kalau aku marah?"

'Beralaskan salju..'

'Bibir seksi seorang modelku akan hilang begitu saja..'

Mereka lalu memandang satu sama lain.

'Sama saja dengan 'PENDERITAAN'!' batin mereka kompak, yang kemudian kembali terdiam dan tidak mengoceh apa pun.

Merasa bahwa keduanya sudah mengerti akan maksud sang kapten, Akashi kemudian melanjutkan perjalanannya mengantar anggota Kiseki no Sedai ke ruang makan untuk makan bersama.

"Bagus."

"Lagipula, Ryouta. Tadi Tetsuya sudah menolak untuk sekamar denganmu, bukan? Apa itu tidak cukup?" lanjutnya lagi.

"Bu-bukan begitu, Akashicchi. Aku hanya tidak ingin sekamar dengan Aominecchi-ssu! Aominecchi pasti akan sangat mengerikan kalau di malam hari. Apalagi, kulit Aominecchi sangat hitam pe—!"

"HEI!"

"Cukup sampai di situ, Ryouta, Daiki. Kalian benar-benar berisik."

"Ah ya, Akashi-kun. Tetsu-kun ada di mana?" tanya sang manager tiba-tiba, mencari pujaan hatinya yang entah ada di mana saat ini.

"Dia sementara mengganti pakaiannya. Setelah itu, baru dia berkumpul untuk makan malam dengan kita. Lagipula aku sudah memperlihatkan ruang makan padanya, jadi kau tidak perlu khawatir dan mencarinya seperti itu, Satsuki." Jelasnya sambil memimpin mereka masuk dalam ruang makan.

Midorima, Murasakibara, Momoi dan terutama Kise serta Aomine, sangat tercengang melihat ruangan yang kurang lebih 2 kali lipat luasnya dari kamar mereka masing-masing. Ruang makan yang di dalamnya terdapat sebuah meja yang sangat panjang yang disertai dengan kursi-kursi empuk yang mengelilingi meja tersebut. Piring, gelas, sendok-garpu ataupun pisau yang nantinya akan digunakan untuk mengiris daging, serbet, bahkan candle stick juga sudah tersusun rapi di atas meja yang panjang itu. Belum lagi, di bagian kiri dari ruangan tersebut, terdapat sebuah meja bar yang tiga kali lipat panjangnya daripada bar yang ada dalam limousinenya yang berwarna hitam pekat.

"Oke. Biar 'ku luruskan hal ini." Ujar Aomine yang kemudian mengambil nafas dalam-dalam.

"Ini semua hanyalah mimpi. Kita pasti terlalu gugup untuk menginjakkan kaki di rumah Akashi pada esok harinya, sampai-sampai kita semua malah bermimpi bahwa ini adalah rumah Akahi, dan ruangan ini adalah ruang makan. Iya 'kan?" tanya Aomine, dibalas dengan anggukan setuju dari keempatnya.

"Dan pada saat kita bangun, masing-masing dari kita berada di kamar, di rumah kita masing-masing. Begitu 'kan?" dan sekali lagi, keempatnya hanya bisa mengangguk setuju.

Akashi, yang ternyata sudah duduk di tempat favoritnya, hanya bisa memandang iba pada kelima anak buahnya itu. Baru kali ini, dia melihat wajah-wajah dungu yang terpampang jelas dari kelimanya itu. Karena kelima orang itu lebih memilih untuk beranjak keluar dari ruangan tersebut, mau atau tidak, Akashi harus bersuara dan menyuruh mereka untuk duduk serta. Namun, belum sempat remaja heterochrome itu berbicara, ibu dari sang kapten, Keiko, kini muncul sambil membawa berbagai macam makanan, yang dibantu oleh dua orang pelayannya.

"AH! Kalian pasti teman-temannya Seijuurou!" seru Keiko yang langsung membuat kelimanya tidak jadi keluar dari ruang makan, melainkan berbalik dan menyapa ibu dari kapten mereka dengan sopan.

'Tepat waktu, Kaa-san.' batin Akashi, sedikit kagum dengan kemunculan ibunya.

"H-Hai.. Na-namaku Momoi Satsuki. Senang berkenalan dengan anda,.. err.. Akashi-san." Ujar Momoi ragu.

"Tiidak! Jangan memanggilku dengan sebutan itu. 'Bibi' akan jadi lebih baik." Tegasnya.

"Ha-hai.."

"Kamu anak yang manis, Satsuki-chan." Puji wanita bersurai merah itu, yang membuatgadis bersurai pink itu tersipu malu.

"Terima kasih.."

Keiko lalu menatap si blonde yang sejak tadi memperhatikannya berbicara pada sang manager.

"A-Aku Kise Ryouta-ssu! Senang berkenalan dengan bibi!" ucap si blonde itu dengan gugup.

"Kamu ini anak yang periang 'kan?"

"Eh?"

"Dari raut wajahmu dan matamu sudah memancarkan hal itu, anak muda." Ujar Keiko sambil tersenyum, kemudian menatap anak berambut hijau berkacamata, pecinta oha-asa.

"Midorima Shintarou." Ujar Midorima seraya menundukkan kepalanya.

"Kamu pasti anak yang pintar." Balas Keiko sambil memperhatikan dengan seksama remaja berkepala lumut itu.

"Tapi aku belum bisa menyaingi anak anda." Jawabnya jujur.

"Tentu saja, Shintarou." Sahut Akashi dari tempat duduknya.

"Tapi tinggimu tidak bisa menyaingi Shintarou-kun, Sei-kun." goda Keiko pada anak sulungnya itu. Sedangkan orang yang dimaksud hanya bisa pura-pura tidak mendengar pernyataan ibunya tadi.

"Nah, selanjutnya?" tanya Keiko yang memperhatikan remaja berkulit tan itu.

"Namaku Aomine Daiki, bibi."

"Dan aku Murasakibara Atsushi. Senang berjumpa dengan anda." Sambung si bayi raksasa.

"Hm.."

Keiko mulai menghitung jumlah mereka satu-per-satu. Berulang kali, namun hasilnya tetap sama. Hanya ada lima orang.

"Ah, Sei-kun. Mana temanmu yang satunya lagi? Kamu bilang ada enam, bukan?" tanya wanita bersurai merah itu penasaran.

"Ya, dan aku rasa, dia seharusnya berada di depan pintu saat ini juga."

"Eh? Di ma—!"

Seorang remaja bersurai biru muda itu mulai melangkahkan kakinya masuk dalam ruang makan, tempat yang lainnya berada. Melihat kedatangannya, sontak, Keiko membelalakkan matanya karena sedikit terkejut, melihat tampang anak beriris aquamarine ini.

"Senang berjumpa dengan anda. Namaku Kuroko Tetsuya."


(Yo minna! Kembali lagi dengan saya, Author yang gak jelas ini. -_-
Pengennya sih nge-update minggu lalu, tapi sayang.y, selama tour tidak boleh bawa peralatan elektronik *menyedihkan* =_=
Tapi sekarang,, Seicchin muncul kembali~ *Horeee! #Abaikan

Terima kasih banyak untuk para pembaca, yang udah rela meng-klik tombol(?) follow/favorite, yang udah mau mengisi kolom review,, ataupunn yan ghanya menjadi silent reader..
Dukungan dari kalian membuatku lebih semangat lagi untuk mengupdate.. :'D

Hontou ni, arigatou~!

P.S :: Buat yang nanya soal apa yang menyebabkan si Tetsuya jdi lupa soal keluarganya, dan bagaimana sampai ia menjadi Kuroko Tetsuya itu akan saya bahas nantinya.. :D
*Alias sekarang belum saatnya.. ehehe..)

Yossh! RnR please? :)