Abolition Flame
Canvas Ranger, Here I Come!
Act.10
Silau...cahaya matahari pagi mulai menerpa mataku yang mulai kubuka pelan. Aku masih terbaring di sebuah ranjang yang masih utuh di dalam ruangan yang masih tersisa dari gereja tempat tinggalku. Aku melirik ke samping kiriku, kulihat Hans, Gary dan juga Helena tertidur di samping kiriku. Kemudian kualihkan pandanganku ke arah kanan, aku melihat Johan, Will dan juga Billy tidur di samping kananku sambil memegangi tangan kananku.
Aku merasa tenang saat melihat wajah polos mereka yang tertidur pulas dengan lugunya, aku pun tersenyum sambil kembali mengarahkan pandanganku ke depan, menatap langit-langit ruangan itu.
"kau sudah bangun Ben?" ucap seseorang kepadaku, Yuuki tepatnya.
"ah, ya begitulah... hmm..." jawabku.
"Kak Ben sudah bangun? Bagaimana keadaanmu kak?" tanya Ixano kepadaku yang masih berbaring di ranjang.
"a, ya... keadaanku sudah lumayan enakan koq. Bagaimana denganmu? Lalu bagaimana keadaan saudara kembarmu?" jawabku.
"ah, kami baik-baik saja koq. Hehe..." jawabnya lagi.
Aku mencoba untuk bangun dan duduk, pelan sekali aku bergerak, karena aku takut membangunkan anak-anak yang sedang tertidur pulas di sekelilingku. Aku sangat menyayangi mereka, aku sudah menganggap mereka seperti adik kandungku sendiri. Aku langsung melihat ke depan, ke arah sofa di depan ranjangku. Kulihat Rokoz sedang duduk sambil meminum sesuatu. Lengan kanannya diperban, akibat luka dari serangan pedang Kurata semalam. Di sampingnya duduk Ixora dan juga orang berambut panjang itu.
"a, selamat pagi Ben..." Rokoz menyapaku.
"selamat pagi juga..." jawabku singkat.
Kering... tenggorokanku kering. Aku pun berusaha untuk bangun, namun ku pelankan gerakanku sepelan mungkin agar tidak membuat anak-anak terbangun. Aku pun kemudian bergerak pelan menuju sebuah meja yang ada di depanku dan Rokoz. Aku kemudian mengambil sebotol air minum dan menghabiskan sebotol penuh demi menghilangkan dahagaku yang sudah tak tertahankan. Kemudian aku berjalan menuju meja sudut yang ada dipinggir ranjang, ku buka laci meja tersebut dan mengambil sebungkus rokok yang isinya hanya tinggal 4-5 batang lagi dan langsung menyulutnya dengan pematik api kesayangku yang bermotif warna bendera Jerman.
"Kau perokok ya?" tanya si orang berambut panjang itu.
"a, iya. Memangnya kenapa?" jawabku sekenanya.
"tidak apa-apa... hanya saja aku tahu dari Rokoz kalau rokok itu kurang baik bagi kesehatan. Sebaiknya kau berhenti merokok, apalagi disini banyak anak-anak" jawabnya panjang.
"hmm... mereka semua sudah mengerti dengan kebiasaanku ini, dan aku sudah melarang keras mereka untuk mengikutiku. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan..." sanggahku.
"begitu ya... ya kalau begitu sih terserah kamu. Oh iya, perkenalkan aku Shura, anggota Canvas Ranger dari divisi 4 Hero"
"a, aku Benzi, cukup panggil saja itu atau Ben"
Hmm... jadi dia bernama Shura ya. Orangnya cukup ramah, dan sepertinya dia agak pendiam juga. Setelah berbicara dengan Shura, aku berjalan menuju jendala ruangan ini, dan membukanya, sudah pasti agar asap rokok ku tidak berkumpul didalam ruangan. Aku melihat Ixora dan Ixano yang sepertinya sudah kembali sehat, segar dan bugar tengah bermain dengan ceria di halaman belakang gereja yang memang seperti taman yang cocok untuk dijadikan tempat bermain. Lucu sekali mereka, tidak kalah seperti anak-anak yang aku rawat disini lucunya.
"a, Ben. Bisa kita bicara sebentar?" Rokoz mendekatiku dan mengajakku untuk ikut berkumpul dengan yang lain di dalam.
"hmm... memangnya ada apa? Apa penting?" tanyaku heran.
"begini Ben, sebenarnya tujuan kami semua datang kemari adalah untuk mengajakmu bergabung dengan Canvas Ranger bersama kami" jawab Rokoz.
"Ya. Kami dari divisi 4 Hero benar-benar berharap kau mau untuk bergabung dengan kami" Shura menambahkan.
"maaf... sebelumnya aku benar-benar tidak mengerti. Apa sebenarnya Canvas Ranger itu?" aku bertanya karena bingung.
"Begini, Canvas Ranger adalah sebuah organisasi rahasia yang dibuat untuk mencegah para pihak Villain untuk menyebarkan [Art-block] di dunia ini. Dan itu adalah tugas kami para Heroes" jawab pria dengan kertas Lecek diwajahnya.
"Benar. Namun, karena kami memiliki kekurangan anggota, maka kami masih kesulitan dalam mengatasi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh pihak villain, seperti Kurata, Ashtray dan De Mitt dari divisi 4 Villain kemarin" tambah Rokoz.
"hmm... lalu apa maksudnya [Art-block] itu?" aku masih kebingungan.
"[Art-block] adalah sebuah virus atau wabah yang sering di sebarkan oleh para villain kepada orang-orang yang memiliki jiwa seni, ide, dan kreatifitas yang cemerlang. Wabah ini mengakibatkan mereka kehilangan inspirasi dalam menciptakan sesuatu yang baru dan juga semangat untuk kembali berkarya" jelas Shura.
"namun, wabah [Art-block] sekarang jauh lebih berbahaya. Beberapa villain menyebarkan [Art-block] yang juga dapat menyebabkan para korbannya berubah menjadi makhluk aneh, seperti monster" tambah Rokoz.
"hmm... hal ini tidak bisa dibiarkan! Aku benar-benar tidak bisa diam saja jika masalah sepertin ini terus berlanjut!" jawabku tegas.
"jadi apa keputusanmu Ben?" tanya Yuuki.
"aku akan bergabung dengan kalian! Aku tidak akan biarkan dunia ini suram dan hancur akibat [Art-block] dari para Villain itu! Tapi..." jawabku tegas, namun berujung dengan suatu keraguan.
"Tapi kenapa? Katakanlah..." tanya Rokoz penasaran.
"a, aku tidak bisa meninggalkan anak-anak ini begitu saja. Aku sudah menyayangi mereka seperti halnya mereka adalah adik-adik kandungku sendiri..." jawabku dengan nada penuh keraguan.
Ya, aku memang ragu dalam mengambil keputusan ini. Karena aku tidak bisa membiarkan anak-anak ini tinggal disini sendirian tanpa aku, tanpa ada yang menjaga dan merawat. Aku benar-benar bingung harus bagaimana, saat aku melihat ke arah anak-anak itu yang masih tertidur pulas.
"hmm... begini ben. Apa aku boleh menyarankan sesuatu padamu?" ucap Yuuki.
"a, apa itu?" tanyaku.
"begini, bagaimana kalau anak-anak itu kau titipkan di panti asuhan yang ada di bawah naungan PBB. Karena pasti mereka akan dirawat dengan baik disana, bagaimana?" Yuuki menawarkan sebuah saran padaku.
"hmm... betul juga. Aku yakin mereka tidak akan apa-apa bila berada disana, dan kau juga bisa sekali-kali mengunjungi mereka jika kau sedang tidak dalam tugas dari Canvas-Ranger" tambah Rokoz.
"begitu ya... baiklah aku akan berbicara dulu dengan anak-anak kalau begitu. Terima kasih atas saranmu Yuuki" jawabku menyetujui saran Yuuki, dan kemudian membangunkan anak-anak.
Aku pun kemudian menjelaskan semuanya kepada mereka bahwa aku akan ikut bergabung dengan Rokoz dan yang lainnya, Rokoz pun ikut menjelaskan semuanya. Awalnya mereka ada yang tidak setuju untuk dititipkan ke panti asuhan, namun akhirnya mereka mau juga untuk tinggal di panti asuhan, karena aku pasti akan datang untuk menemui mereka setiap kali aku ada waktu luang. Dan akhirnya, sore hari pun tiba. Waktu dimana aku akan berangkat bersama-sama dengan para anggota Canvas Ranger dan berpisah dengan anak-anak yang sangat aku sayangi itu.
"Hans, kakak harus pergi sekarang. Kamu sebagai yang tertua harus bisa menjaga yang lain dengan baik, ya?" ucapku kepada Hans, si anak yang tertua.
"i,iya kak. Aku janji akan menjaga mereka...hu,huu..." jawabnya di akhiri isak tangis.
"tenanglah Hans, kau tidak perlu menangis. Kakak yakin semua akan berjalan baik-baik saja disana, kakak janji akan selalu datang mengunjungi kalian dan membawa hadiah untuk kalian" aku memeluk Hans berusaha untuk membuatnya tenang.
"kakaaaakkk...." anak-anak lain datang berlarian dan mereka langsung memelukku, mereka semua datang dengan tangis tak ingin kehilanganku.
"kalian..." akupun kemudian memeluk erat mereka semua dan kemudian melepaskan pelukan mereka semua dengan halus karena sudah waktuku untuk pergi sekarang.
"tenanglah, aku akan menjaga mereka dengan baik. Semoga kau dapat bertugas dengan baik disana Ben" ucap Yuuki.
"baiklah, terima kasih banyak Yuuki. Anak-anak, kakak pergi. Jaga diri kalian baik-baik dan ingat jangan nakal ya?" jawabku.
Aku pun akhirnya pergi bersama dengan para anggota Canvas Ranger divisi 4 sedangkan anak-anak itu dibawa Yuuki untuk pergi ke Panti Asuhan yang dia janjikan. Kepergian ku ini terasa sangat berat, namun aku harus pergi. Aku harus bergabung dengan Canvas Ranger dan mencegah [Art-block] menguasai dunia, aku yakin anak-anak akan baik-baik saja disana. Aku harus berterima kasih kepada Rokoz dan yang lainnya karena telah datang dan membantuku juga mengajakku untuk bergabung dengan Canvas Ranger. Aku akan berusaha semampuku untuk melenyapkan [Art-block] itu! Ya, aku akan melenyapkan para penyebar [Art-block] itu dan membuat dunia ini damai!
Canvas Ranger, aku datang!
Act.10 End
