Kazoku by Shara Sherenia

Disclaimer: NAOTO ITU PUNYA SOUJI!!! ...Eh, maksud saya...P4 itu punya Atlus...dan Akira dan OC lainnya itu punya Silvermoon Arisato...cerita ini punya saya!!

A/N: Ide dari shiroganerinkun lagi nih~ Hehehe...brilian banget...tapi kenapa ide dari dia dan ryuamakusa4eva bisa pas banget sama ide ku yah? Apakah kita sehati?? *lebay* Hehehe...chap 11 nanti ada sedikit surprise dariku dan silvermoon arisato...hehehehe...yang penting sekarang, enjoy reading! Oh ya, jangan lupa bawa cemilan kalo baca, soalnya panjang! *sok eksis*


Chapter 10: Nostalgic

Hari ini hari Minggu. Keluarga Seta memutuskan untuk kerja bakti membersihkan rumah, terutama gudang dan loteng yang tidak pernah dikunjungi selama lebih dari setahun itu. Kunjungan pertama adalah loteng, di mana Naoto nyaris menembakan pistolnya ketika Akira menemukan dua tikus besar seukuran anak kucing sedang kencan di sana, yang segera di usir Souji keluar dengan 'sadis'. Tapi toh mereka bisa melakukan tugas membersihkan loteng itu dengan cukup tenang.

Setelah cukup membersihkannya dan menata ulang barang yang di simpan di sana, mereka beralih ke gudang yang terletak di belakang rumah. Kembali hampir terjadi pertumpahan darah, di mana kini korban hampir berjumlah lima orang yang terdiri dari bapak dan ibu tikus dan ketiga anaknya. Jantung Naoto mencelos, melihat makhluk itu berkeliaran di sekitar rumahnya. Souji sampai geleng-geleng dan membuat catatan mental untuk menyewa pembasmi hama dan serangga untuk mengusir hewan-hewan pengganggu itu. Akira? Bocah itu hanya tertawa senang ketika melihat ada dua ekor kucing kembar tapi tak mirip lewat dan keluarga kucing itu repot kabur dari cengkeraman mereka.

Souji mengangkuti barang-barang di dalam keluar dari gudang, supaya Naoto bisa menyapu isinya. Akira bertugas membersihkan atau melap debu-debu yang ada. Tak sengaja matanya tertuju pada sebuah album foto usang di mana terdapat label bertuliskan 'High School'. Penasaran, bocah itu mulai membuka halamannya satu persatu.

Ada banyak foto di sana. Foto ketika Souji masuk SMU, kemudian saat upacara penerimaan, saat event sekolah, dan banyak lagi. Kemudian ada juga foto ketika ia bersama teman-temannya dari Yasogami High. Tapi pandangannya terhenti ketika melihat foto 7 orang itu—Souji, Yosuke, Chie, Yukiko, Kanji, Teddie, dan Rise—bersama seorang pemuda yang parasnya agak mirip dengannya itu.

"Papa, ini foto siapa?" tanya Akira setengah berteriak, menunjuk ke wajah pemuda tak dikenal itu.

Souji, yang baru saja selesai mengangkut sebuah lukisan kuno, berjalan menghampiri putranya untuk melihat apa yang dia tanyakan. Pria itu terkekeh geli ketika melihatnya. "Masa' tidak kenal?"

"Umm..." Akira mengamati wajah itu. Memang familiar. "Oh! Minato-ojisan yah?"

Ayahnya menggeleng pelan. "Masa' Minato lebih pendek daripada Papa?"

Baru sejenak si bocah berpikir lagi, Naoto berjalan keluar dari gudang, heran melihat kedua lelaki di keluarga itu menghentikan pekerjaan mereka dan malah asyik duduk di sekitar teras, memandangi sebuah album foto. Penasaran, ia menghampiri mereka berdua. "Kalian lihat apa sih?" tanyanya.

Akira mendongak untuk melihat ibunya, dan seketika saja jawabannya muncul di benaknya. "Mama!" serunya tiba-tiba, membuat Naoto mengernyit heran dan membuat Souji tertawa.

"Huh?" adalah reaksi sang detektif wanita sementara "Tepat sekali!" adalah jawaban si jaksa.

"Hee...masa' sih ini Mama?" bocah itu membandingkan wajah ibunya di foto dengan wajah beliau sekarang. "Ng...nggak terlalu mirip kok!"

Naoto akhirnya mengerti apa yang ia bicarakan. Memang penampilannya sudah agak berubah dibanding ketika ia masih SMU dulu. Dulu dia jagonya berpenampilan seperti laki-laki. Bahkan, ketika ia masih muda itulah julukan Tantei Ouji berasal. Karena ia bekerja sebagai detektif dan penampilannya yang menyerupai laki-laki, banyak gadis-gadis yang malah jatuh cinta padanya, membuatnya geli sendiri mengingat masa-masa itu. Sekarang, dia sudah lebih sering memakai rok panjang selutut atau jeans feminim, dan rambutnya juga dibiarkan panjang sedikit.

"Iya, memang beda, ya?" Souji ikut membandingkan, membuatnya menerima satu cubitan kesal dari istrinya.

"Kenapa Mama malah mirip Minato-ojisan begini?" Akira bertanya, penasaran.

"Mama kan dari dulu sudah jadi detektif," Naoto duduk di sebelah putranya. "Supaya Mama tidak diremehkan yang lainnya, dan juga supaya memudahkan pekerjaan Mama, Mama lebih sering mengenakan pakaian cowok."

"Oh...tapi aneh. Mama nggak terlihat seperti cewek begini tapi kenapa Papa bisa jatuh cinta sama Mama?"

Souji tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai memukuli tanah berumput di bawah kakinya. Naoto mendelik ke arahnya, meski tidak dipedulikan. Akira masih mengernyit bingung, heran dengan tindakan kedua orang tuanya. Akhirnya tawa Souji berhenti ketika Naoto mengeluarkan revolver dari balik lipatan jeans-nya.

"Kamu mau dengar cerita ketika Papa ketemu Mama dulu?" si pria berambut abu-abu itu menawarkan, yang langsung disahut oleh anggukan antusias putra tunggalnya. "Hmm...baiklah. Jadi begini ceritanya..."


Flashback

20 tahun lalu, Yasoinaba, Yasogami High School.

Terdengar derap langkah kaki di sepanjang koridor lantai 2. Suara itu menuju ke arah ruang kelas 2-2. Dan dalam sekejap saja pintu itu digeser, dan seorang pemuda berambut cokelat kemerahan yang agak berantakan masuk, sedikit terengah meski wajahnya tampak girang.

"Kenapa kau, Yosuke?" tanya Chie, mengernyit memandang temannya itu.

"Berita baru! Sudah dengar belum!?" tanya Yosuke, duduk di sebelah Yukiko. "Ada anak baru, lagi!"

"Lagi?" Souji, yang duduk di sebelah Chie, mengernyit heran. "Setelah aku dan Rise masih ada lagi? Banyak sekali ya..."

"Yeah, benar sekali. Kudengar dia pindah ke sini bukan hanya karena kakak laki-lakinya yang bekerja sebagai guru itu dimutasi ke sini, tapi karena dia itu detektif dan dia mau membantu kasus pembunuhan yang sedang dikerjakan pamanmu itu, Souji!"

Souji melipat tangannya. Ia merasa penasaran. "Detektif?"

"Oh, aku tahu. Dia pasti si Tantei Ouji yang ramai dibicarakan anak-anak cewek itu kan?" tebak Yukiko.

Yosuke mengangguk. "Yeah...sepertinya begitu. Kalau tidak salah namanya...err...Shirogane Naoto, ya?"

"Oh, dia," pemuda berambut abu-abut itu mengangguk mengerti. Dia memang pernah dengar dari Ryotaro kalau akan ada detektif remaja yang ikut membantu penyelidikan mereka. "Hmm...aku ingin lihat. Kau tahu dia kelas berapa?"

"Huh? Err...kalau tidak salah, kelas 1-1."

"Oke, kalau begitu kita ke sana."

Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk turun ke lantai 1, di mana ruang kelas anak kelas 1 berada. Setibanya di sana, mereka melihat kerumunan siswa di depan pintu kelas 1-1. Di sana juga ada Rise dan Kanji yang berdiri dengan tampang tertekuk di koridor. Mereka berdua melambai ke arah para seniornya ketika menyadari kehadiran keempat anak kelas 2 itu di sana.

"Uh...apa mereka ingin melihat si anak baru itu?" tanya Chie terkesiap.

Kanji mengangguk. "Ya...terutama para gadis itu...ukh, aku jadi mual melihat mereka menatap si anak baru itu dan memuji-muji betapa cakepnya dia."

"Hoo...cemburu nih? Takut Rise di ambil dia?" goda Yosuke, yang langsung kena bogem mentah dari pasangan mantan artis idola dan preman itu.

"Aku penasaran...seperti apa sih dia?" Souji berusah berjinjit untuk melihat ke dalam, tapi mustahil. Bahkan di dalam kelas sepertinya si Tantei Ouji itu dikerumuni anak-anak.

"Yah...dia Cuma cowok pendek dengan muka bishonen yang kaku. Tapi nggak secakep Senpai kok!" kata Rise melempar senyum manis ke arah Senpai kesayangannya itu, yang langsung bikin Kanji agak sirik.

"Eh, eh! Sepertinya dia mau keluar tuh!" ujar Yukiko.

Dan benar saja. Kerumunan itu langsung membuka jalan untuk seorang pemuda dengan postur tubuh kurus pendek. Ia memakai topi, menyembunyikan wajahnya sedikit. Tapi dia memang memakai seragam cowok, meski menurut Souji ada yang aneh dengan anak itu.

"Lihat kan? Dia itu


sombong banget! Heran deh kenapa anak-anak yang lain suka memandanginya begitu," Rise cemberut. Ia merasa sedikit iri popularitasnya berkurang karena kehadiran anak baru itu, meski sebenarnya dia tidak terlalu mempersalahkannya.

"Sudahlah...kurasa itu wajar. Maksudku...seorang detektif harus tetap berkepala dingin dan tidak mengurusi hal remeh temeh seperti fans atau semacamnya..." tukas Souji bijak.

End of Flashback.


"Hee...jadi dulu Mama nyuekin Papa, begitu?" tanya Akira, menginterupsi.

Naoto mengangguk. "Waktu itu...aku tidak menganggap Papa-mu ini lebih dari sekedar senior dan juga keponakan seorang kolega yang kutemui dalam kasus saat itu. Aku tidak punya perasaan apa-apa padanya."

"Hn...terus, terus...bagaimana Mama bisa jatuh cinta pada Papa?"

Souji tertawa sambil membelai lembut rambut putranya itu. "Sabar...Papa lanjutin ya?"


Flashback

Souji dan Naoto cukup sering bertemu, karena selain mereka satu sekolah, mereka juga kadang bertemu ketika Ryotaro mengajak keponakannya itu ke tempat kejadian, berharap pemuda itu bisa membantunya. Saat itu, mereka masih teman biasa, tidak terlalu sering berbincang.

"Jadi, Naoto itu adik Anda?"

Minato, yang saat itu bekerja sebagai guru olahraga sekaligus pelatih klub basket di Yasogami High, mengangguk pelan. Ia dan Souji baru saja mengobrol sedikit selepas latihan usai. Rupanya obrolan mereka lumayan nyambung, karena keduanya pintar mencari topik dan juga memiliki sedikit kemiripan satu sama lain. Akhirnya percakapan mereka itu menyambung ke hubungan Minato dan Naoto.

"Ya...sebenarnya, Naoto mendapat permintaan membantu kasus di sini. Karena aku tidak rela membiarkannya tinggal hanya berdua dengan kakek kami, aku minta dimutasi ke sini. Kebetulan juga guru olahraga kalian sedang minta cuti karena kecelakaan, kan?" Minato menjelaskan.

"Hoo...pasti repot, punya adik detektif terkenal seperti dia," Souji jadi teringat hubungan Nanako dengan Ryotaro, yang memang terlihat agak sulit. "Ah tapi...kenapa dia memakai nama Shirogane? Padahal nama keluarga Anda 'kan Arisato..."

Pria berambut biru gelap itu tertawa. "Yah...jadi begini. Waktu kecil, keluarga kami tertimpa kecelakaan yang dipicu oleh balas dendam penjahat yang pernah ditangani orang tua kami. Ayah dan Ibu kami meninggal seketika—hanya aku dan Naoto yang selamat. Ketika kami pindah ke panti asuhan, akhirnya ada yang mengadopsi kami. Namun Naoto, yang mewarisi jiwa keadilan orang tua kami, bertekad ingin menjadi detektif dan akhirnya memakai nama Shirogane Naoto tiap bertugas."

"Oh...begitu..."

"Oniisan."

Kedua orang itu menoleh ke arah pintu menuju gedung olahraga yang terbuka. Di situ berdiri dengan angkuh Naoto, dengan ekspresi bosan dan menunggu. "Aku sudah mau pulang."

"Oh ya...tentu," Minato berdiri dan membawa tas olahraga serta handuknya. "Well, aku akan mengunci pintunya. Naoto, tolong bantu bawakan handuk dan botol minum ini...Ah ya, kau juga sebaiknya pulang, Souji."

"Baik," sahut Naoto dan Souji sambil mengangguk patuh.

Souji menyelempangkan tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar. Naoto beranjak dari ambang pintu dan menghampiri kakaknya, ketika ia tiba-tiba saja terpeleset oleh suatu genangan tak terlihat. Minato terkesiap. Ia ingin menangkapnya tapi refleksnya dikalahkan oleh Souji, yang dengan sigap menangkap tubuh mungil itu.

"...Tidak apa-apa?" tanya Souji, entah kenapa tiba-tiba terlihat kaku dan gugup.

"Err...ya," Naoto mengangguk. Ia berdiri lagi dan melanjutkan berjalan menuju kakaknya untuk mengambil handuk dan botol minumannya.

Souji, yang masih agak terkesiap, buru-buru berlari keluar gedung olahraga. Melihat hal ini, Naoto mengernyit dan menoleh ke arah Minato, yang menjawab tatapan keheranan itu dengan mengangkat bahu. Pemuda berambut abu-abu itu merasa wajahnya memerah sementara ia mempercepat jalannya menuju kediaman Dojima. Sambil berjalan cepat, ia berpikir ragu.

Dia...cewek...?

End of Flashback


"Huh? Bagaimana caranya Papa tahu kalau Mama cewek dengan bersentuhan sedikit saja begitu?" Akira heran.

Souji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kan tidak mungkin bilang kalau sebenarnya waktu itu tanpa sengaja ia merasakan tonjolan kecil di dada Naoto. Bisa-bisa dia merusak otak polos anaknya sekaligus menerima tamparan dari istrinya. Akhirnya ia Cuma bisa menggeleng dan meneruskan ceritanya.


Flashback

Hari-hari berlalu. Entah kenapa, Souji malah jadi sering memikirkan tentang Naoto dan fakta bahwa dia seorang cewek. Tidak ada yang menyadarinya, karena Naoto memang bertingkah layaknya seorang cowok. Suaranya, gaya bicaranya, dandanannya...semua seperti remaja lelaki normal. Apa itu pengaruh tinggal dengan kakak semata wayangnya itu?

Suatu saat, ketika waktu pulang sekolah tiba, tanpa sengaja Souji bertemu Naoto, yang berdiri mematung di depan loker sepatunya. Ragu, ia menyentuh bahu gadis itu, membuatnya sedikit terkejut.

"Err...hai," sapanya kaku. "Sedang apa?"

"Ah tidak...hanya saja...aku menemukan ini di loker sepatuku," jelas Naoto, menunjukkan secarik surat beramplop pink lengkap dengan stiker hati dan nama penulisnya. "Dari seorang cewek yang aku tidak pernah bicara dengannya."

Souji terkekeh geli, membuat detektif muda itu mengernyit heran. "Apanya yang lucu?"

"Err...apa mereka tidak tahu kalau kau perempuan?"

Naoto tersentak kaget. Darimana dia tahu kalau dirinya itu perempuan? Ah, pasti Minato-niisan yang memberitahunya, pikir Naoto simpel. "Ya...aku tidak pernah bilang siapa-siapa, meski pada dasarnya tidak ada seorangpun yang menanyakan hal itu."

"Lalu...apa mau kau tolak?"

"Tentu saja. Aku ini perempuan, mana mungkin aku mau berpacaran dengan dia. Lagipula," gadis itu meremas amplop itu ke dalam saku celana seragamnya, "aku tidak tertarik pacaran sekarang. Bukan karena aku mengikuti pikiran kolot orang tua bahwa umur segini belum pantas pacaran—yah, sebenarnya aku setuju juga sih—tapi karena aku tidak butuh hal yang membuang-buang waktu seperti itu saat ini."

Souji terdiam. Dalam hatinya, ia merasa sedikit kecewa mendengar penjelasan Naoto itu. Tapi melihat gadis itu sudah mengganti sepatunya dan sekarang akan berjalan keluar gedung sekolah, ia mengikutinya dengan pertanyaan basi: "Kau pulang sendirian?"

"Ya. Oniisan sedang ada rapat guru dan aku di suruh pulang cepat. Lagipula, aku ingin segera ke kantor polisi untuk mendengar perkembangan kasus saat ini."

"Kalau begitu, aku antar."

Kalimat itu membuat Naoto berhenti dan terdiam. Ia berbalik dan memberi tatapan aneh pada Souji. "Kenapa repot-repot?"

"Err...tidak, tidak repot sama sekali. Hanya kurang kerjaan," pemuda itu memberi alasan. "Lagipula, kalau sampai ada surat cinta, siapa tahu ada stalker, 'kan? Untuk jaga-jaga saja."

"Tidak usah. Aku bisa jaga diri sendiri. Oniisan mengajariku sedikit hal tentang aikido."

"Tidak apa. Aku juga ingin ke kantor polisi untuk menemui Ryotaro-ojisan."

Naoto menghela napas. "Well...kalau begitu, ya sudah."

Gadis itu berbalik dan kembali berjalan. Souji mengikuti di sebelahnya dengan sedikit tersenyum. Entah kenapa, ia merasa senang bisa berjalan berdua bersamanya. Entah kenapa. Baru saja mereka akan keluar dari pekarangan sekolah, seorang pemuda dengan wajah aneh dan mengenakan seragam sekolah lain menghentikan mereka. Souji mengenalinya sebagai Kubo Mitsuo, murid sekolah lain yang pernah sekali mencoba menggoda Yukiko dulu.

"Kau...Shirogane Naoto?" tanyanya.

Naoto, meski merasa aneh dan langsung tidak suka dengan gaya bicara orang itu, mengagguk perlahan. "Ya. Siapa kau?"

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang aku ingin tahu, apa hubunganmu dengan Risechi?"

Souji menepuk jidat. Ya ampun. Sekarang dia malah mengincar Rise. Apa dia belum tahu hubungan Rise dengan Kanji? Tapi Naoto, yang memang tidak tahu apa-apa, dengan tenang menjawab, "Kami hanya teman seangkatan. Itu saja."

"Benar begitu? Aku dengar kau cukup dekat dengannya..."

"Ya, karena kami seumuran, seangkatan dan kami sering berpapasan di koridor. Itu saja."

"Huh! Aku tidak percaya! Sebaiknya kau jangan macam-macam, atau kau akan berhadapan denganku!"

Naoto baru akan membalas ucapannya ketika Souji berdiri menutupinya, membuat Mitsuo sedikit kaget karena ia mengenali wajahnya. "K-kau...anak baru yang seenaknya merebut Yuki dariku!" tudingnya.

"Well, dan kau anak tidak jelas yang suka marah-marah seenaknya dan tiba-tiba saja mengajak kencan Yukiko tanpa tahu malu," ledek Souji. "Sebaiknya kau berhenti. Kau akan membuat malu dirimu sendiri kalau kau terus menggoda Yukiko, atau sekarang Rise."

Mitsuo langsung ciut. Ia berlari menjauhi keduanya. Souji menghela napas panjang. Naoto menatapnya penasaran. "Apa dia sering membuat masalah dengan murid sekolah kita?" tanyanya ingin tahu.

"Well...tidak juga. Hanya saja...dia itu suka menggodai para siswi yang cantik, seperti Yukiko atau Rise," jelas Souji. "Hmf...aku jadi tidak yakin bisa meninggalkanmu sendirian. Sebaiknya, kalau kau tidak pulang bersama Minato-sensei, kau memintaku mengantarkanmu pulang."

Naoto sontak kaget. Ada sedikit rona merah di pipinya, tapi tidak terlalu kentara untuk membuat Souji menyadari perubahan itu. "Apa...tidak merepotkanmu?" tanya gadis itu, ragu menerima tawaran baik seniornya.

"Tentu tidak. Aku punya cukup banyak waktu luang kok."

"Well...kalau begitu, terima kasih," sang detektif remaja tersenyum kecil. Tapi bagi Souji, senyum itu berharga, karena itu senyum langka yang mungkin hanya dia seorang—selain Minato, tentunya—yang pernah melihatnya.

End of Flashback


"Hmm...terus, terus?" Akira makin penasaran.

Souji menggeleng. "Papa capek...sudah ya? Nanti malam saja lagi ceritanya."

"Nggak mau...sekarang!" pinta bocah itu setengah memaksa.

Naoto tertawa kecil. Ia beranjak masuk ke dalam rumah, membuat kedua lelaki itu sedikit heran. "Biar Papa nggak capek Mama mau buatin teh saja, sekalian istrihatan bersih-bersihnya," jelas wanita itu.

"Yay! Mama baik deh! Ayo Pa, cerita lagiii..."

"Hh...ya sudah...tenang dulu, biar Papa bisa lanjutkan ceritanya..." sahut Souji pasrah.


Flashback

Sejak insiden itu, hubungan Souji dan Naoto menjadi sangat dekat. Pembicaraan keduanya nyambung, selain karena mereka sama-sama mengerti tentang kriminalitas, kadang-kadang keduanya saling curhat tentang masalah masing-masing. Mereka juga cukup sering jalan bareng, meski tidak ada urusan yang penting, membuat Yosuke dan yang lainnya yakin bahwa teman baiknya itu benar-benar kepincut dengan detektif remaja itu.

Minato, yang sering menemukan keduanya sedang kencan (atau 'Cuma jalan bareng', seperti yang disanggah oleh keduanya), Cuma bisa diam anteng. Pasalnya, pemuda itu mengingatkan tentang dirinya. Jenius, dibuktikan dengan menempati rangking pertama seluruh kelas dalam tiap ujian sekolah; populer, terbukti dengan banyaknya jumlah gadis-gadis yang berusaha mendapatkan perhatiannya, bahkan untuk sekedar ngobrol ringan di koridor; olahragawan, menurut pengawasannya sebagai guru olahraga, dia cukup ahli dalam segala bidang olahraga; dan juga pandai bicara,karena dia satu-satunya orang yang nyambung berbicara dengannya dan adiknya. Bahkan tak jarang Naoto menyebut-nyebut bahwa Souji mengingatkan dia tentang kakak semata wayangnya itu.

Namun satu hal yang mengganjal baginya, yaitu kenyataan bahwa tiap kali ia bertanya pada mereka: "Kalian pacaran?", maka keduanya dengan kompak menjawab: "Bu-bukan!", komplit dengan wajah bersemu merah dan diikuti gelagat salah tingkah. Biasanya Minato akan tertawa melihatnya, tapi lama kelamaan dia bosan juga menggodai mereka seperti itu. Apalagi, kasus pembunuhan itu sudah hampir selesai, yang berarti sebentar lagi mereka bisa pindah dari daerah pedesaan ini. Sebagai kakak yang baik dan sayang adik, dia tidak tega seandainya cinta Naoto tidak pernah bersambut hanya karena keduanya malu-malu kucing untuk menyatakannya.

Tapi mereka berdua tidak tahu menahu soal kekhawatiran Minato. Mereka malah asyik menjalankan hari-hari seperti biasanya.

"Ah...lama menunggu?" tanya Naoto. Ia baru saja menyelesaikan tugas piket kelasnya, padahal hari ini ia sudah janji pergi bersama Souji.

Namun seperti biasanya, pemuda berambut abu-abut itu tersenyum ramah dan menggeleng. "Tidak apa," ia berdiri dan berjalan keluar, diikuti juniornya itu.

"Aku penasaran sekali ketika Senpai bilang Senpai menemukan seekor rubah di kuil kota ini. Aku belum pernah lihat langsung, sih..."

"Ya...dia cukup lucu kok, jinak sekali, malah. Kau pasti suka—habis semuanya juga suka."

Naoto mengangguk. Mereka berdua berjalan keluar pekarangan sekolah, ketika mereka melihat seseorang tak dikenal yang mengenakan pakaian serba hitam berdiri bersandar di pagar depan sekolah. Sementara Souji bertanya-tanya dalam hati siapa orang aneh itu, gadis di sampingnya sontak kaget.

"Kei-kun!" panggilnya.

Orang yang dipanggil Kei itu menoleh dan tersenyum sedikit sebelum berhenti menyender karena melihat Naoto dan Souji menghampirinya. Detektif muda itu tersenyum bersemangat. "Kapan datang? Kenapa tidak bilang Oniisan untuk menjemput?" tanyanya senang.

"Baru saja, dan aku tidak tahu nomor telepon Minato-san, dan aku takut mengganggumu kalau aku menelpon ke nomormu," sahut Kei tenang. Mata hitamnya tertuju pada Souji, yang memberinya tatapan bingung sekaligus iri. "...Temanmu?"

"Ah...iya. Kei-kun, ini Seta Souji, seniorku di sini. Senpai, ini Kuzunoha Kei, kolegaku," Naoto memperkenalkan keduanya.

"Seta Souji."

"Kuzunoha Kei."

Ketiganya terdiam. Hening. Tidak terjadi apa-apa. Souji masih memandangi Kei, yang cuek dan malah melirik Naoto, yang bingung kenapa mereka malah saling diam begini. Akhirnya dengan terpaksa, gadis itu mendongak menatap 'kolega'nya dan bertanya,

"Uh...tentang masalah yang kau katakan waktu tu..."

"Oh iya. Ahem, sebenarnya aku lebih memilih kita bicara berdua saja, karena masalah ini benar-benar penting dan aku tidak mau melibatkan orang awam..." jelas Kei, melirik Souji yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Benar juga," Naoto berbalik menghadap seniornya. "Senpai, maaf aku tiba-tiba membatalkan janji melihat rubah bersama Senpai, tapi aku harus mendiskusikan hal ini dengan Kei-kun..."

"Ya, tidak apa...masih ada besok, kan?" Souji nyengir terpaksa.

Naoto mengangguk. Setelah pamit, ia dan Kei berjalan berdua ke suatu tempat. Yang jelas mereka terlihat serius membicarakan hal itu, apapun masalah yang mereka maksud. Souji menghela napas kesal dan berjalan keluar area sekolah, tapi bukan pulang ke rumahnya. Ia harus menenangkan dirinya, ia tidak boleh cemburu. Di saat seperti itu, tempat yang ia tuju tak lain dan tak bukan adalah Samegawa Riverbank. Dia biasa ke sana untuk memancing, sekedar menghabiskan waktu dan menghilangkan kepenatan.

Baru saja ia berjalan menuruni tangga menuju tepi sungai itu, ia melihat kakek-kakek temannya memancing sedang berbicara dengan...Minato. Sepertinya beliau mengajari guru olahraga itu cara memancing. Souji menghampiri mereka, dan si kakek menyapanya, membuat pria muda itu menyadari kehadiran murid kesayangannya itu.

"Bisa mancing juga, Sensei?" tanya Souji, meminjam salah satu alat memancing milik sang kakek.

"Yah...lumayan. Percaya atau tidak, aku bisa melakukan apa saja kalau diajari caranya," sahut Minato bangga, melemparkan kail pancingnya ke dalam sungai. "Tapi kenapa kau ke sini? Kupikir kau janji dengan Naoto mau menunjukkan rubah yang kau temukan di Tatsuhime Shrine itu?"

Pemuda itu mendengus kesal. "Tidak jadi. Dia ketemu dengan koleganya itu...Kuzunoha Kei."

"Oh...Kei? Yah, dia memang sudah janji mau ke sini, tapi tidak bilang kapan. Jadi dia sudah datang toh..."

"Sensei...apa benar dia hanya kolega Naoto?"

"Benar. Memang kenapa?"

"Tidak, hanya saja...Naoto terlihat senang ketika bertemu dengannya. Jadi aku pikir...mereka itu..."

Minato menoleh. Ia tersenyum usil melihat ekspresi kecemburuan di wajah pemuda itu. Sebuah ide licik langsung terlintas di otaknya. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui seberapa besar rasa suka Souji kepada adiknya itu. Tapi ia tidak boleh ketahuan. Maka dengan santai dan terus memancing, ia memulai rencananya.

"Yah...tapi seandainya mereka berdua saling suka pun aku tidak keberatan."

Komentar itu membuat Souji terkejut dan spontan menoleh memandang wajah serius tapi santai pelatihnya. Minato melanjutkan, masih dengan tenangnya, "Kei itu anak yang baik. Dia juga ahli beladiri, cerdas dan memiliki wibawa. Kurasa dia bisa melindungi Naoto dan bekerja sama dengan baik, jadi tidak masalah. Oh ya. Kami akan pindah dari Inaba."

Souji mendelik kaget. Pindah? Secepat ini? Tapi mereka baru di sini selama setengah tahun! "Sensei serius? Maksudku, memang kasus itu sudah hampir selesai, tapi 'kan kalian baru setengah tahun di sini..." pemuda itu mencoba mencari alasan.

"Ya. Karena itulah Kei datang ke sini," sahut Minato sambil menarik kail pancingnya, dan ternyata ikan buruannya lolos dari jebakannya. "Karena Naoto cerita bahwa sebentar lagi kasus ini selesai, Kei berencana meminta bantuannya menyelesaikan sebuah kasus yang ditanganinya di Kyoto. Kasus itu sudah ada semenjak beberapa tahun silam, dan meski sudah ditangani oleh Kei, belum selesai juga masalahnya. Naoto sendiri tak yakin berapa lama yang dia butuhkan untuk menyelesaikan kasus itu."

"...Kapan kalian pindah?"

"Hmm...acara kenaikan kelasnya lusa, 'kan? Yah, setelah acaranya selesai kami akan langsung berangkat ke Kyoto."

Souji langsung melemparkan tongkat pancingnya ke tanah dan berlari keluar dari area Samegawa Riverbank. Minato tertawa terkekeh, sementara kakek-kakek di sana bingung melihat tingkah laku anak muda itu.

Souji menghabiskan sepanjang sore itu mencari Naoto. Di Shopping District, di Junes...tak tampak sedikitpun sosok gadis berambut kebiruan itu. Ia lelah, tapi ia harus menemuinya. Ia harus mengatakannya. Bahwa ia tidak ingin gadis itu pergi dari Inaba. Bahwa ia tidak ingin merelakannya untuk Kei. Bahwa ia menyukainya...

Perhentian terakhir Souji adalah Tatsuhime Shrine. Ia merasa tidak mungkin Naoto ada di sana. Namun dugaanya salah. Masih ada orang di sana. Dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah gadis yang ia cari-cari sedari tadi. Ia berdiri diam, tak bergeming memandang kuil kecil di hadapannya. Sang detektif remaja baru menyadari kehadiran seniornya itu ketika mendengar deru nafas terengah-engah.

"Senpai!" Naoto menghampiri pemuda itu, khawatir. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan melap keringat yang mengucur di wajah lelaki itu. "Kenapa sampai keringatan sebanyak ini? Senpai habis lari marathon atau apa sih?"

Souji merasa lega bahwa ia menemukan gadis itu. Dia masih ada di Inaba, berdiri di hadapannya, peduli padanya. Tapi ketika pikiran bahwa ia akan pergi karena kasus yang diceritakan Minato, ia tak tahan lagi. Ia langsung merengkuh gadis itu dalam pelukannya, seolah tak akan melepaskannya. Naoto terkejut dengan reaksi yang tiba-tiba itu. Ia bisa mendengarkan desah nafas terengah-engah pemuda itu, dan tubuhnya sedikit bergetar ketika mengucapkan kalimat berikutnya.

"Jangan pergi...jangan tinggalkan aku!"

"S-Senpai? ...Senpai bicara apa sih?"

"Kubilang, aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku ingin kau terus bersamaku, di sini. Jangan...jangan pernah mencoba meninggalkanku, Naoto..."

"Ke-kenapa memangnya?"

"Karena aku suka padamu..."

Naoto tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Wajahnya memerah dengan kecepatan yang luar biasa. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia juga memiliki perasaan yang sama kepada pemuda itu. Luapan perasaan menguasai dirinya. Ia membalas memeluk pemuda yang dicintainya itu dan menjatuhkan kepalanya ke dadanya, menangis terharu tanpa suara.

"Aku juga, Senpai...aku juga suka pada Senpai..."

"Sungguh?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu kau tak akan meninggalkanku, 'kan?"

"Tidak akan."

Souji melepaskan pelukannya. Ia meraih wajah Naoto, memandang ekspresi senang, terharu, sekaligus bingung itu. Hening lama saat keduanya hanya berdiri di sana, saling bertatapan, sampai akhirnya si pemuda memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke gadis itu. Semua tahu apa yang akan ia lakukan.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, Minato yang ternyata sudah membuntuti Souji, berdiri bersembunyi di balik semak-semak, mengamati adegan tersebut. Ia nyengir lebar, bangga bahwa usahanya berhasil. Yang dia tak sadari, sesosok makhluk berpakaian hitam-hitam menghampirinya dan bertanya dengan heran,

"Sedang apa kau, Minato?"

Mendengar hal itu, pasangan baru tadi langsung berhenti dan menoleh, menemukan sang guru olahraga bersembunyi di dekat semak-semak dan di sebelahnya berdiri dengan wajah kebingungan adalah Kuzunoha Kei. Minato geleng-geleng kepala sedih.

"Kei...timingmu jelek sekali untuk bertanya seperti itu," gerutunya.

"Hm? Apa yang terjadi?" Kei makin heran.

"Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita pergi dan tidak mengganggu keduanya," lanjut Minato sambil meraih lengan Kei dan menyeretnya keluar dari area kuil.

"Tunggu sebentar!" Naoto berseru, membuat kedua lelaki itu berhenti di tempat dan menoleh. "Kei-kun...sepertinya aku tidak bisa ikut ke acara pertemuan keluarga hari Minggu besok. Aku masih mau tinggal di sini."

Mendengar hal itu, Souji hanya bisa melongo. "Hah?"

Kei menggaruk belakang lehernya. "Hmm...sudah kuduga. Tapi aku tidak tahu kalau Hikawa-sama marah. Ah tapi..." pria itu menoleh ke arah Minato dan tersenyum kecil, "Bagaimana kalau kau saja yang ikut, Minato? Karena kau anak tertua dan sebagainya, setidaknya kau bisa mewakili keluarga Shirogane dalam pertemuan keluarga itu."

"Entahlah. Aku tidak suka dengan acara seperti itu," sahut pria bertampang dingin itu.

"Sebentar, sebentar," lelaki termuda di kelompok itu menyela, "Bukankah Kuzunoha-san di sini untuk meminta Naoto membantunya dalam kasus yang ditanganinya di Kyoto?"

"Hah?" Naoto dan Kei mengernyit heran hampir bersamaan.

"Memang aku sedang menangani kasus, tapi aku bisa menyelesaikannya sendiri kok," jelas Kei. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Siapa yang bilang begitu?"

Souji menunjuk ke arah Minato, yang wajahnya pucat pasi karena ketahuan. Pria itu baru akan ambil langkah seribu ketika Naoto menahan lengannya agar tidak pergi. Sang kakak berbalik untuk menunjukkan cengiran tak bersalahnya, ketika si adik mendelik marah padanya.

"Oniisan! Jadi Oniisan sudah membuat Senpai salah paham dan membuatnya bicara seperti itu ya?!"

"Uh...ya, ya, aku mengaku aku melakukannya. Tapi itu 'kan demi kalian berdua juga!" Minato memberi alasan, menghindari tatapan marah adiknya. "Kalau aku tidak bilang seperti itu, tidak mungkin Souji menyatakan cintanya padamu 'kan? Ini kesempatan yang bagus!"

Pasangan baru itu spontan bersemu merah. Kei baru sadar apa yang terjadi tadi, dan agak menyesal karena sudah merusak momen indah tadi. Minato menggelengkan kepalanya dan menarik saudara jauhnya itu keluar dari area kuil seperti rencana awal, membiarkan adiknya memiliki waktu bersama kekasihnya yang pertama sekali lagi.

Hening lama. Keduanya berdiri diam, hanya ditonton oleh Kitsune yang sudah menyelesaikan melahap daging yang tadi Naoto beli di Souzai Daigaku. Keduanya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semuanya terasa sangat kaku, apalagi setelah mereka tahu bahwa pernyataan cinta itu terjadi dikarenakan sebuah salah paham kecil. Lelah berada di keheningan ini, Souji mendekati Naoto yang tetap terdiam kaku di tempatnya tadi dan memeluknya dari belakang, membuat gadis itu sedikit terkejut dan wajahnya kembali memerah.

"Naoto...aku tidak bohong tentang tadi. Aku...aku ingin terus bersamamu."

Naoto benar-benar bahagia mendengar kalimat itu. Ia menyentuh lengan yang merangkulnya dan tersenyum sambil menyahut, "Aku juga...aku juga tidak bohong mengatakan aku tidak akan meninggalkan Senpai."

"Ssst," Souji memutar Naoto agar menghadapnya. Ia menyentuh bibir gadis itu dengan jari telunjuknya, mengisyaratkan agar dia diam sejenak. "Jangan panggil 'senpai' lagi. Panggil saja Souji."

Naoto mengangguk. "Souji...kun."

Pemuda itu tersenyum senang mendengar namanya di panggil dengan suara itu. Hening sekali lagi, sampai akhirnya keduanya melanjutkan adegan yang sempat terpotong karena gangguan Kei dan Minato. Setelah itu, mereka menghabiskan waktu bersama, menceritakan tentang kecemburuan Souji, dan hubungan keluarga Naoto dengan keluarga Kei. Kedekatan itu membuat hubungan yang tak terpatahkan, hingga saat ini...

End of Flashback


Akira tersenyum senang. Ia mendengarkan cerita ayahnya sampai akhir, dengan ditemani secangkir teh susu kesukaanya. Souji menghela napas panjang setelah akhirnya menyelesaikan cerita tentang masa lalunya. Naoto menggeleng kepala, senang sekaligus malu putranya mendengarkan cerita ketika ia dan suaminya masih muda.

"Hmmm...keren! Ternyata seperti itu toh," bocah berambut biru itu tersenyum. "Akira juga kalau sudah besar pengin punya cerita seperti itu, ah."

"Hush, kamu ini masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti itu," hardik sang jaksa, mencubit sebelah pipi Akira dengan gemas.

"Biar...banyak kok anak cewek di sekolah Akira yang ngefans sama Akira."

Souji dan Naoto tertawa mendengar ucapan putra mereka. Setelah menghabiskan minuman mereka, mereka mulai bekerja lagi membersihkan gudang. Akira, seperti tadi, membersihkan debu-debu di barang lama milik mereka, sementara Naoto dan Souji yang mengeluarkan barang-barang dari gudang. Setelah semua barang keluar, Naoto berhenti sejenak untuk mengambil lap, berniat membantu anak itu membersihkan, ketika suaminya menahannya sebentar.

"Ap—"

Kalimatnya terhenti seraya satu kecupan manis mendarat di bibirnya. Kejadian itu terjadi hanya beberapa detik, sehingga Akira tidak menyadarinya sama sekali. Yang ia tahu, ketika ia menoleh, ia menemukan ibunya dengan wajah memerah.

"Huh? Mama kok wajahnya merah? Demam yah?"

"Uh...tidak, tidak apa..."

"Heheh. Ayo lanjutkan bersih-bersihnya..."


A/n: Holy crap! 15 halaman! WTF(what the fun!) Ga nyangka ceritanya bisa ngalir begini...ck ck ck...all thanks to ryuamakusa4eva and shiroganerinkun for their creative idea! Oh ya, juga untuk silvermoon arisato yang sudah merestui masalah itu...hehehehehe. Well, we're almost run out of ideas. Any suggestions?