Chapter 10: Click
Link Preview:
watch?v=vFTmlB5b6Sw
Special Thanks to:
[Cicifu][Asmaul][Arifahohse][Babybyun][JunaOh][heegi][misslah][Seravin509][wenjun][keripikbalado][Ramyoon][OSH46][KaiNieris][chanbaek00][OhHeeRa][Akaindhe]
Cerita ini punya Krisgi ya Chingu~ No Copast or Plagiat yang diganti nama. Kalau ada yang repost tanpa izin bantu lapor ya Chingu
Cast:
Oh Sehun as Park Sehun
Xi Luhan as Kim Luhan
Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Paek Chanyeol as Park Chanyeol
Kim Yerim as Park Yeri
And others (Find Yourself)
.
Main Pairing:
Hunhan
Chanbaek
.
Genre: .
Rating:
T
Sinopsis:
"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"
-Park Sehun-
"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"
-Park Yeri-
"Kau terlihat bahagia saat di cafe, apa tidak bisa tertawa seperti itu disini?"
-Kim Luhan-
Happy Reading
Flashback 1
Seorang direktur berjalan terburu- Buru berjalan ke ruangannya. Setelah selesai meeting, Sekretarisnya mengabarkan hal yang tidak ia duga. Dengan segera ia membuka pintu. Disana duduk seorang namja yang tak kalah tampan sedang menyeruput kopinya. Namja itu segera berdiri ketika melihat sang pemilik masuk.
"Brengsek!"
"Ya begitulah,"
Namja itu menggedikkan bahunya. Kris langsung mendekati namja itu dan mencengkram erat kerahnya.
"Kau! Brengsek! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada mereka,HA?!"
Namja itu tersenyum miris. Dengan kasar tangannya melepas tangan Kris yang mencengkram kerahnya.
"Kau tahu? Kita tidak terlalu dekat sehingga membuatmu kecewa seperti ini," ucap Namja itu santai.
"PARK CHANYEOL! "
"Lebih baik kita duduk dulu, kau tahu dimana-mana ada telinga. Pada saat itu, tempat inilah yang kupikirkan, tempat untukku bisa menjalankan rencanaku,"
Kris terdiam menatap Chanyeol. Namja itu membenarkan bentuk kerahnya dan kembali duduk. Kris ikut duduk di depannya. Melihat sekelilingnya. Tempat ini, kantornya tidak ada CCTV dan kedap suara. Ia dan Chanyeol juga bukan teman dekat yang akan masuk dalam pengawasan ketua Grup Horald yang sangat mematikan itu.
Sebenarnya sudah lama Kris mencari keberadaan Chanyeol dan berusaha bertemu namja itu. Bukan karena dendam atas perlakuannya pada Baekhyun, tapi penemuan yang ia temukan. Ia dan Jongin sepakat untuk mencari tahu alasan sebenarnya Chanyeol meninggalkan Baekhyun walaupun hasilnya nihil. Mereka sangat rapat, namun pada hari itu, Kyungsoo berlari ke kantor Jongin disaat ada Kris dengan air matanya. Mendapat berita mengejutkan bahwa Chanyeol mendatangi tempat kerja Minseok. Dan dengan segala ancaman bertubi-tubi, akhirnya Kyungsoo tahu mengapa Chanyeol disana dan alasan Chanyeol meninggalkan Baekhyun. Tentu Kris dan Jongin juga sangat marah mendengar itu. Sangat kesal, terutama Jongin yang merasa tidak dianggap sahabat. Sejak saat itu mereka berusaha menembus tempat pewaris Grup Horald itu, tapi hal ini sangat susah. Akhirnya Chanyeol malah datang sendiri pada Kris.
"Jujur , siapa saja yang tahu? Apa Baekhyun tahu?"
Chanyeol menggeleng sambil tersenyum miris.
"Apa kau pikir jika Baekhyun tahu, aku sekarang bisa disini?" Tanya Chanyeol.
"Benar. Kalian sama saja, mungkin dia akan menahanmu..."
"Dan menangis setiap hari?" Putus Chanyeol.
Ya inilah yang Chanyeol pikirkan. Jika ia memberitahu Baekhyun, apakah Baekhyunnya akan setuju? Ia yakin Baekhyunnya akan menahannya dan memilih menjalaninya. Membuat Chanyeol menjadi parasit, dan membuat Baekhyun menangis setiap hari? Tidak. Chanyeol memang terpaksa. Terpaksa menyakiti hati Baekhyun agar wanita itu kuat. Agar wanita itu...tidak akan menangis karena terlalu disakiti, jadi wanita itu bisa bertahan demi anak mereka.
'BRAK!'
Karena kaget pintu dibuka tiba-tiba, kedua namja itu langsung berdiri. Seorang berjas rapi masuk ke ruangan dengan terburu-buru mengarahkan kakinya kearah Chanyeol.
'BUGH'
Tanpa basa basi orang itu langsung memukul Chanyeol dengan sangat keras, sehingga kursi dibelakang Chanyeol ikut tergeser karena terkena Chanyeol. Kris segera memegangi namja tadi agar tidak menghabisi Chanyeol.
"KAU BRENGSEK !"
Ucap namja itu. Matanya menyala dan wajahnya merah karena marah. Masih berusaha melepaskan diri dari Kris, namja itu menatap tajam ke Chanyeol yang sedang mengelap darah yang keluar dari bibirnya.
"Jongin..."
Mendengar suara itu, Namja itu—jongin menghentikan acara memberontaknya. Badannya mulai melemas. Ia menundukkan kepalanya. Dirasa aman, Kris mulai melepaskan Jongin. Chanyeol menatap Kris meminta penjelasan, tapi Kris hanya menggedikkan bahu.
"Kurasa dia harus tahu, setelah aku mendengar dari sekretarisku kau kesini. Aku langsung memanggilnya," Jelas Kris.
Chanyeol menatap sahabatnya yang menunduk di depannya. Ia banngkit berdiri walaupun badannya masih sangat sakit. Di dekatinya sahabat yang sudah 15 tahun lebih bersamanya itu. Dijulurkan tangannya menepuk pundak Jongin. Bisa ia ketahui sahabatnya ini sedang menangis.
"Maafkan aku..."
"Kau brengsek... hiks. Aku sahabatmu, kenapa kau tidak memberitahuku? Aku selalu tahu... kau tidak sebrengsek itu... hiks..."
Chanyeol merenggangkan tangannya merangkul Jongin. Berusaha menenangkan temannya ini. Ia tahu ini salahnya, tapi bagaimana lagi? Jongin masuk ke dalam daftar ' orang yang diawasi ' . Ia tak mau rencananya gagal.
Setelah semuanya kembali tenang, akhirnya mereka bisa duduk santai. Sedikit ejekan untuk Jongin karena menangis tadi menjadi mencair suasana. Setelah diselango hening yang cukup lama, Kris menghentikan acara minum kopinya.
"Lalu, sebenarnya apa maksudmu kesini?" Tanya Kris.
"Aku ingin minta tolong padamu... di tempat semacam tempat ini, tapi jangan disini... aku ingin bertemu Baekhyun. "
-ooo-
Flashback 2
Di dalam Emperal Air, seorang pramugari tiba-tiba di sekap saat hendak pergi ke ruang pilot. Baekhyun terbelalak melihat orang yang sedang membekap mulutnya. Mantan suaminya. Park Chanyeol. Orang yang sangat ia benci dan sangat ia cintai di waktu bersamaan.
"Baek... aku terpaksa melakukan ini, tapi aku mohon. Dengarkan aku..."
"Aku sangat sangaaat mencintaimu. Tak ada yang bisa menggantikanmu dulu maupun sekarang. Perpisahan bukanlah yang kuinginkan tapi aku terpaksa. Aku ingin bicara denganmu, tapi... kau harus berjanji mendengarkan aku,"
Baekhyun merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Wanita itu mengangguk perlahan. Jujur, sebenci apapun ia pada seorang Park Chanyeol, hatinya tetap tidak berbohong bahwa ia masih sangat mencintai namja idiot itu. Apalagi mendengar pengakuan Chanyeol barusan, perasaannya mulai menggila lagi. Persaan senang, kaget, bahagia, marah dan sejenisnya mendengar Chanyeol masih mencintainya.
Chanyeol melepaskan tangannya dari mulut Baekhyun. Ia menggerakkan tubuhnya untuk duduk di lantai ruangan kecil penghubung kelas VIP dengan ruangan pilot itu. Kepalanya mendongak melihat Baekhyun dengan senyum tipisnya. Namja itu menepuk lantai di depannya.
"Duduklah, Baek,"
Baekhyun menunduk melihat Chanyeol yang duduk berhadapan. Mendengar itu, Baekhyun memposisikan dirinya duduk di depan Chanyeol. Sudah lama... sejak hari itu. Lebih dari satu tahun yang lalu di pengadilan mereka dipertemukan untuk dipisahkan, sekarang duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Tidak ada selaan. Kumohon dengarkan aku dari awal hingga akhir. Jangan memutus sebelum aku selesai,"
Baekhyun mengangguk pelan. Rasa penasaran semakin mengelilinginya. Rasa takut akan sesuatu yang belum ia ketahui. Tapi melihat ekspresi Chanyeol yang serius, perasaan khawatir mendominasi suasana hatinya.
"Pertama aku minta maaf, aku meninggalkanmu, Sehun, juga Yeri. Aku sangat mencintai kalian, kalian adalah Sumber kebahagiaanku, benar bukan? Kau juga tahu itu..."
"Dan aku akan menjelaskan kenapa aku seperti ini,"
Kekhawatiran Baekhyun semakin menjadi-jadi. Chanyeol mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya dan memberikan amplop itu kearah Baekhyun. Seperti nostalgia, dimana Chanyeol memberinya amplop surat perceraian, Baekhyun trauma membuka sebuah amplop.
"Bacalah..."
Chanyeol memaksa Baekhyun untuk menerimanya. Dibukanya dengan ragu-ragu amplop putih itu. Sedikit demi sedikit ia paham. Perasaannya sekarang sangat sakit. Ia tahu sekarang kenapa Kris menambah awak pesawat di penerbangan kali ini, karena tahu Baekhyun pasti tidak akan bekerja kali ini. Karena Baekhyun akan menangis dan tidak bisa konsentrasi kerja.
"Chan...hiks... kenapa..."
Chanyeol menyeka air mata wanita malaikatnya itu. Menatap sendu wanita yang selalu menemani hidupnya dan mencintainya itu. Satu-satunya wanita yang bisa menjadikannya seorang suami dan seorang Ayah. Wanita yang mengajarkannya membuat kebahagiaan yang sangat berharga.
"Itulah alasanku, "
-ooo-
NORMAL POV
"Dia pasti kelelahan,"
Semua orang diruangan langsung mengelus dadanya lega. Beberapa waktu yang lalu, Ibu Luhan langsung menelepon Dokter Kim setelah mendengar teriakan Sehun. Yeri yang juga sedang bernostalgia langsung terlonjak mendatangi kakak dan senior nya itu. Luhan yang baru saja menghibur Sehun tiba-tiba pingsan tanpa ada tanda-tanda.
Hanya selang berapa menit, Dokter Kim datang. Hal ini karena Dokter Kim sedang mampir ke rumah Kris yang tidak jauh dari sana, dan dengan alasan itu pula, Wendy dan Tao ikut datang. Wendy dengan alasan sepupunya yang tiba-tiba pingsan dan Tao dengan alasan tidak mau ditinggal.
Tao sempat kaget melihat rumah Luhan pada awalnya. Tapi melihat Sehun dan Yeri di dalam membuatnya lebih kaget. Tapi Tao diam karena rumah sedang dalam kepanikan.
"Kalian boleh pulang, maaf membuat kalian khawatir," ucap Ibu Luhan.
Ayah Luhan, Kim Junmyoon juga ada disana setelah istrinya menelpon kalau Luhan pingsan.
Mereka hampir pamit pulang ketika Luhan bangun dan menahan tangan Sehun. Dengan susah payah, gadis itu mencoba membuka mata dan bicara.
"Sehun..."
Sehun mengalihkan pandangannya menatap Luhan. Gadis itu terlihat begitu tersiksa. Matanya sangat sayu dan terlihat susah untuk dibuka. Ia juga merasakan tangan Luhan sangat lemas memegang tangannya.
"Jangan pergi..."
Suara yang sangat lirih, tapi masih bisa terdengar semua karena ruangan yang sangat sepi. Semua orang itu tentu saja kaget mendengar permintaan Luhan, tapi tidak dengan Sehun. Namja tanpa ekspresi ini mengarahkan dirinya berlutut di samping kasur Luhan. Tangan Luhan yang memegangnya tadi ia balik genggam dan mengelusnya lembut. sedangkan tangan satunya ia letakkan di kepala Luhan sambil mengelus surai halus gadis itu.
"Aku tidak akan pergi, aku disini,"
Hening. Seluruh ruangan hening. Bisa mereka lihat bibir Luhan sedikit tersenyum. Luhan mengeratkan tangannya di genggaman Sehun. Ia merasakan sebuah kedamaian yang membuatnya nyaman. Perlahan ia menutup matanya karena lelah. Nafasnya mulai teratur seirama dengan elusan tangan Sehun di rambutnya.
"Yeri,"
Semua orang terlonjak kaget ketika tiba-tiba Sehun bersuara.
"Eo?"
"Tolong katakan pada eomma, aku akan pulang terlambat,"
"E..eo? Eoh, arraseo,"
"Aku juga akan disini!"
Tiba-tiba Tao bersuara dengan sedikit keras. Membuat Sehun bisa merasakan pergerakan tidak nyaman Luhan.
"Tao, disini ada orang yang sedang sakit, pelankan suaramu," ucap Dokter Kim.
"Benar Tao-ah. Kita bicara diluar ya, disini sedang ada yang sakit," bujuk Wendy.
"Tidak mau! Aku mau disini! "
"Eonnie, jangan egois" tambah Yeri.
Tao semakin kesal. Dia hanya ingin tinggal disini menemani Sehun yang terpaksa menemani Luhan karena Luhan sedang sakit, tapi malah dihalangi dan dikatai egois pula.
"Park Yeri, dengarkan! Aku tidak egois. Aku hanya ingin disini dan aku akan tetap disini! Titik! Ja..."
"Tao!"
Semua terkejut mendengar suara Sehun yang akhirnya bicara. Namja itu dengan tatapan datarnya mengalihkan wajahnya ke Tao. Tao tidak suka melihat itu. Namja itu terbiasa tersenyum saat melihatnya, kini sangat dingin dan itu menyesakkan.
"Kau mengganggu Luhan, dia tidak nyaman. Pulanglah,"
Ucap Sehun langsung mengalihkan tatapannya lagi ke Luhan. Mengelus rambut gadis itu untuk menenangkannya.
Tao tidak suka. Gadis itu tidak suka melihat Sehun terlalu baik pada gadis lain. Sehun terbiasa bersikap dingin pada semua orang kecuali ia, Yeri, dan Wendy. Juga sopan terhadap orang yng lebih tua. Tapi kini Sehun berlutut, CATAT! berlutut di tempat tidur samping Luhan, dengan tangan kiri menggenggam Luhan dan tangan kanan mengelus rambut Luhan. Dan bahkan menatap dingin dirinya.
Tao langsung lari keluar tanpa mengindahkan tatapan yang lain. Wendy membungkukkan badannya dan keluar mengejar Tao.
"Pulangnya jika eonnie sudah sembuh, jangan sampai malaikat mimpi buruk mendatanginya,"
Sehun terdiam beberapa saat sebelum mengangguk. Yeripun ikut pamit pulang dan meninggalkan ruangan itu.
"Sehun-ah, mungkin kau terlalu kasar pada Tao," ucap Dokter Kim.
Sehun terdiam sampai akhirnya namja itu menghela nafas. Tanpa berpaling kearah Dokter Kim, dan tetap menatap Luhan yang masih tidur.
"Sudah saatnya, aku tidak bisa berada disisinya selamanya, bukan?"
Orangtua Luhan daritadi hanya diam saja karena merasa pembicaraan sedari tadi sangat rumit, tapi Dokter Kim mengerti. Ia tahu maksud Sehun. Dan memang benar Sehun tidak mungkin terus membela dan memanjakan Tao seperti dulu. Kelak mereka akan menemukan jalan masing-masing... dengan orang pilihan masing-masing.
"Sehun, jaga Luhan, ne,"
Sehun hanya mengangguk pelan. Matanya masih enggan beralih dari wajah Luhan yang terlihat damai. Dokter Kim segera pamit meninggalkan ruangan.
Ayah Luhan memberikan kursi pada Sehun sehingga lututnya tidak sakit. Mereka menawari Sehun makanan, tapi namja itu tidak mau. Dan karena paksaan, akhirnya Sehun mau menerima susu.
Waktu sudah semakin malam, membuat orangtua Luhan khawatir. Gadis itu masih belum bangun. Bukan apa-apa, hanya saja kasihan Sehun. Genggaman Luhan sangat erat. Saat Sehun menggerakan tangannya untuk minum susu saja, Luhan langsung mengeratkan tangannya dengan wajah tidak tenang.
"Apa kalian dekat?" Tanya Ibu Luhan.
Sehun yang sudah mulai menggantuk itu perlahan mengalihkan pandangannya, membuat Ibu dan Ayah Luhan sangat iba. Anak itu pasti kelelahan.
"Kami teman sebangku," jawab namja itu singkat.
Ibu Luhan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Karena untuk menahan kantuknya saja, pasti Sehun butuh konsentrasi.
Tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel. Sehun menggerakkan tangannya dan kembali Luhan melakukan hal yang sama, tapi Sehun tetap mengangkat telpon setelah meminta izin dari orang tua Luhan. Masih dengan tangan digenggam. Setelah selesai telpon, orang tua Luhan dikejutkan oleh ekspresi Sehun yang sangat datar, dimana wajah kantuknya tadi?
"Eomonim, Aboenim..."
"Waktu kita sakit, kita akan merasa tidak nyaman, jadi jika kepala kita dielus kita bisa mendapat kenyamanan. Saat sakit kita merasa tidak tenang, tapi jika tangan kita digenggam kita akan merasa aman..."
Sehun mengesakan tangannya mengelus dan menggenggam sesuai dengan ucapannya. Seperti memberikan contoh.
"Luhan pasti juga begitu. Saya harus pulang karena eomma saya khawatir,"
Sehun bisa merasakan tangan Luhan kembali mengerat seakan tahu jika Sehun harus pergi. Dan orang tua Luhan harus terpaku di tempat saat melihat Sehun bergerak mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Luhan dan berbisik.
"Kau akan baik-baik saja,"
Perlahan Sehun menjauhkan wajahnya. Tangan Luhan kini bisa ia lepas dengan tenang. Mungkin Luhan sudah rela Sehun pergi. Sehun menatap orang tua Luhan yang masih terpaku dengan wajah poker face nya dan pamit pulang.
"Tolong jaga Luhan,"
.ooo.
Yeri masih duduk diam di dalam cafe sambil mengeluarkan bukunya. Sekarang sudah pukul 9 malam, tapi orang itu belum juga pulang. Malahan dia terus duduk di depan Yeri sambil mengamatinya membuatnya risih. Ia belum bisa pulang karena Baekhyun memintanya menunggu kakaknya sekalian.
Flashback
Yeri langsung pergi ke cafe setelah keluar dari rumah Luhan. Ia membiarkan Wendy yang menenangkan Tao karena entah kenapa Yeri sangat lelah. Mungkin ia perlu bertemu ibunya yang cantik untuk refreshing.
Dengan wajah ceria ia mulai masuk ke dalam cafe yang lumayan rame. Biasanya ia akan duduk di dekat pintu kecil keluar masuk dapur-cafe. Tempat itu sangat tertutup dan berada di pinggir, tempat khusus jika Yeri atau Sehun mau belajar di cafe, tapi tempat duduk itu sudah di tempati. Tunggu! Itu Ibunya!
Baekhyun terlihat tersenyum manis dengan eyesmile nya bicara dengan orang di depannya. Pasti ibu ada tamu. Dengan langkah semangat dan senyum di wajahnya, ia beranjak dari tempatnya mendekati Baekhyun.
"Eomma!"
Ucapnya sambil cekikikan. Baekhyun sangat kaget melihat putrinya namun akhirnya tersenyum. Baekhyun menarik tangan Yeri untuk duduk di sampingnya. Dan akhirnya ia bisa melihat tamu Ibunya.
"Yeri..."
Yeri terdiam. Senyum di wajahnya seketika menghilang. Tatapannya berubah menjadi tajam kembali. Baekhyun yang melihat itu langsung menggenggam tangan Yeri di bawah meja. Berusaha menenangkan gadis itu. Yeri agak terkesikap ketika Ibunya menggenggam tangannya. Ia palingkan wajahnya melihat Baekhyun yang terlibat khawatir. Benar! Disini ada Ibunya, ia tidak boleh membuat Ibunya Sedih, jadi Yeri kembali tersenyum.
"Yeri, dimana Sehun? Kenapa sendirian?" Tanya Baekhyun.
"Ah, Oppa tadi menemani temannya sakit, katanya mungkin pulang telat,"
Baekhyun mengangguk mengerti.
"Kamu besok ada lomba kan? Belajarlah disini. Ibu akan ke dapur sebentar,"
Sebenarnya Yeri enggan. Tapi melihat senyum Ibunya ia akhirnya mengalah. Akhirnya ia mengeluarkan buku dengan tatapan dari Chanyeol.
Flashback end
"Yeri, appa dengar kau peringkat pertama saat masuk SMA?"
Tak ada jawaban dari Yeri, Chanyeol terus berusaha tersenyum melihat Yeri yang mengabaikannya dan terus memilih bukunya.
"Yeri sangat pintar, ne? Appa bahkan tidak menyangka kau sudah SMA, kau terlalu manis dengan seragam itu,"
Chanyeol tidak menyerah, dan itu membuat Yeri muak. Ia tidak bisa konsentrasi dam hatinya terus bergejolak melihat Chanyeol. Ia mengangkat kepalanya masih dengan tatapan tajamnya. Melihat appanya sedang tersenyum kearahnya membuat darah Yeri semakin mendidih.
"Anda mau tahu kenapa?"
Ucap Yeri setengah berbisik. Agar Ibunya tidak mendengar, tapi Chanyeol sangat kaget mendengar Yeri memanggilnya dengan anda. Padahal Chanyeol terbiasa mendengar suara cempreng yang imut milik Yeri saat memanggilnya appa.
"Karena anda tidak tahu apapun, tentang saya,"
Nada suara Yeri benar-benar sangat sinis. Chanyeol sadar ini salahnya. Merubah malaikatnya menjadi sangat tajam saat di dekatnya. Merubah gadis kecil yang biasanya tetawa manja menjadi sinis.
Chanyeol menghela nafasnya. Ia memang sangat kecewa. Ia tahu bahkan sangat tahu. Saat beberapa hari yang lalu Baekhyun memintanya untuk menunggu. Ia tahu, sulit untuk anaknya untuk memaafkannya. Mungkin anak-anak nya akan memaafkannya jika ia mengatakan sesungguh nya, tapi Chanyeol tidak sanggup. Biarlah nanti mereka tahu.
"Kau tahu Yeri? Saat bersama Ibumu tadi kau terlihat seperti dulu, sangat manis dan lucu. Tapi entah kenapa di dekat appa, kau jadi sangat dingin seperti sekarang,"
Yeri menghentikan gerakan pensilnya. Kembali ia menaikkan kepalanya kearah Chanyeol yang masih tersenyum kearahnya. Yeri menggeram dalam hati, entah kenapa katanya? Apa dia tidak sadar kesalahannya?
Tatapan Yeri semakin tajam membuat Chanyeol kaget, namun hanya sebentar karena langsung tersenyum. Beginilah tatapan mata keluarga Park, tajam dan mematikan. Karena Yeri adalah anaknya. Ia jadi tidak heran saat Jongin cerita tatapan mematikan putrinya, karena ya anak itu adalah Park Yeri.
"Aku memang terlihat idiot tertawa dan bertingkah sok imut seperti katamu, tapi aku melakukan ini hanya untuk Ibuku jadi jangan salah paham"
Chanyeol terdiam. Yeri pasti benar-benar membencinya. Saat ia hendak membuka mulutnya, terdengar suara langkah kaki mendekat. Kedua orang itu menoleh melihat Sehun dengan seragamnya. Seperti Yeri, Sehun kaget melihat Chanyeol duduk disana, apalagi berhadapan dengan Yeri.
"Ah, Sehun, kau sudah datang,"
Tiba-tiba Baekhyun mengelus pundak putranya. Merasakan ketegangan diantara mereka bertiga. Padahal dulu anak-anak mereka lebih memilih bermain dengan Chanyeol daripada Baekhyun, tapi sekarang sangat ketara permusuhan mereka.
"Apa yang dia lakukan disini eomma?" Tanya Sehun sambil menunjuk Chanyeol dengan dagunya.
"Sehun! Kau tidak boleh bicara seperti itu pada ayahmu!"
Sehun terdiam. Sudah lama ia menganggap tidak mempunyai Ayah. Banyak perasaan campur aduk ketika melihat pria yang telah menyakiti orang-orang yang ia sayangi.
"Sudahlah, Baek. Sini Sehun, duduklah,"
Baekhyun menatap Sehun tajam yang membuat namja tinggi itu mendengus dan duduk di sebelah Yeri. Baekhyun juga bergerak duduk di sebelah Chanyeol. Saat duduk, Sehun bisa merasakan tangan Yeri menggenggam tangannya. Jadi Sehun balas menggenggamnya.
"Jadi, darimana kau sampai larut begini?" Tanya Chanyeol.
"Sesukaku,"
"Park Sehun, sopanlah! Apa Eomma salah mengajarimu tentang etika?"
Sehun terdiam mendengar ucapan Ibunya. Ia sedih, bukan bagitu maksudnya. Ia hanya malas melihat orang yang telah menyakiti keluarga nya. Lagipula bagaimana orang itu bisa disini dan Ibunya membelanya seperti itu?
"Aku habis dari rumah temanku. Dia sakit dan aku menjaganya sebentar, " jawab Sehun enggan.
"Siapa?" Chanyeol mengernyitkan dahinya.
"Kim Luhan," jawab Sehun singkat.
"Apa dia Kim Luhan yang eomma kenal? Anak adik paman Kris?" Tanya Baekhyun.
Sehun mengangguk mengiyakan. Begitu juga Baekhyun yang mengerti. Sebenarnya wajah Baekhyun seperti orang sedang berpikir, tapi saya ia berusaha membuang jauh-jauh pikirannya dan kembali ke keadaannya sekarang.
"Jadi, kau di rumah lama kita? Bukankah adik Kris yang menyewa rumah itu?"
Chanyeol bertanya pada Baekhyun dan diiyakan. Sedangkan Sehun dan Yeri terkejut. Bagaimana orang ini tahu tentang rumah mereka yang disewakan apalagi ke orang tua Luhan? Dan juga kata 'rumah kita' sangat menganggu baik Yeri maupun Sehun.
"Kalian kesana karena rindu dengan rumah itu? Apa kalian ingin appa memintanya lagi. Appa sudah punya banyak uang sekarang," ucap Chanyeol .
Walaupun dengan nada bercanda diakhir kalimatnya, itu membuat Sehun menajamkan tatapannya.
"Apa kau ingin kembali kembali ke keluarga kami?" Tanya Sehun.
"Sehun, sopanlah, "
"Tak apa, Baek. Appa akan menjawab iya atas pertanyaanmu. Appa ingin membangun keluarga lagi dengan kalian. Menciptakan kebahagiaan. Kita tinggal di rumah itu dan bersenang-senang lagi seperti dulu," jawab Chanyeol.
Sehun bisa merasakan tangan Yeri gemetar di genggamannya. Walau wajah Yeri tetap terlihat datar. Bagitupun Sehun. Berpikir bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan santainya setelah apa yang orang itu lakukan.
"Rumah itu dan bahagia?" Tanya Sehun.
"Kami pergi dari rumah itu karena kau meninggalkan kami, tapi aku berjanji. Aku janji akan mendapatkan rumah itu kembali dan menjaga apa yang sudah kau tinggal. Dan kumohon tak usah kembali"
"PARK SEHUN!"
Baekhyun benar-benar tidak tahan dengan kelakuan Sehun. kelakuan anak
Laki-laki nya itu benar-benar menunjukkan bahwa namja itu sangat membenci appanya.
"Katakan pada eomma! Apa eomma salah mengajarimu soal etika? Apa eomma tidak becus mengajarimu sopan santun? "
Sehun menatap Ibunya yang kini berdiri menatapnya dengan mata yang menyala. Dan saat ini ia sadar. Alasan Yeri menahan diri sejak tadi. Seharusnya Sehun lebih bisa menahan diri dan tidak terbawa emosi. Ia merasa sangat gagal. Membuat Ibunya sangat kecewa padanya.
Chanyeol berdiri dan mengusap punggung Baekhyun berusaha menenangkan mantan istrinya itu. Ia memang kecewa karena Sehun yang terlalu kasar, tapi ia sedih mengetahui setinggi itulah rasa marah Sehun padanya.
"Sudahlah, Baek. Kau akan membuat keriputmu semakin menyebar,"
"Bersiap-siaplah, appa akan membawa kalian pulang,"
.ooo.
Setelah memastikan Baekhyun mengunci rumahnya, Chanyeol segera melangkah ke kamar yang tidak jauh dari pintu itu. Namja tiang itu menekan bel dan terlihat seorang wanita membuka pintu sambil membawa pisau.
"Ayolah, Soo. Aku tidak membuat keributan,"
Kyungsoo melihat tangannya dan baru menyadari bahwa ia masih memegang pisau.
"Aku sedang Membuat makan malam, masuklah,"
Kyungsoo menepikan badannya membuat space untuk Chanyeol masuk. Namja itu masuk dan melihat Jongin yang sedang duduk dengan kacamata menghiasi wajahnya.
"Dulu aku pernah disambut dengan sepatu melayang karena Yeri, tapi aku tidak menyangka akan disambut dengan pisau,"
Jongin mengalihkan pandangannya mSenyadari siapa tamu yang datang. membuat smirk diwajahnya.
"Hampir setiap hari, jadi sudah biasa,"
"Kalian masih membahasnya,"
Ucap Kyungsoo dengan pisau ditangannya. Penekanan suaranya membuat Chanyeol diam dan memilih menyeret kursi duduk di depan Jongin. Kyungsoo kembali berkutat di dapur. Tadinya Chanyeol mau bertanya kenapa makan malah semalam ini, tapi ia masih ingin hidup lebih lama.
"Dimana putrimu?" Tanya Chanyeol.
"Dia tidur di rumah Kris. Bersama Wendy,"
Chanyeol mengangguk mengerti.
"Kau habis bertemu anak-anak mu?"
Anggukan Chanyeol membuat Jongin melebarkan matanya, bagitu juga dengan Kyungsoo yang kembali keluar dengan pisaunya. Jongin segera memberi isyarat untuk Kyungsoo kembali ke dapur karena jika terus begitu akan ada nyawa yang melayang.
"Lalu?"
"Ya... seperti dugaanku. Mereka masih marah. Bahkan aku mulai percaya dengan tatapan tajam Yeri,"
Ucap Chanyeol dengan sedikit kekehan. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah. Chanyeol segera berdiri dan berlari ke kamar mandi diikuti Jongin yang khawatir.
"Appa?"
.ooo.
.
.
.
TBC
SESI JAWAB REVIEW:
Oh Hee Ra ( Guest)
R: Seruuuuu cepetan di next... jangan kelamaan...
A: Sabar ya Chingu, kemarin Kriagi habis berdoa jadinya lebih lama dari biasanya. Hehehe, gomawo atas dukungannya.
Ramyoon
R : kejawab yeaaaayluhan sakit sepertinya. habis ada dokter minseok yg datang ke rumah._. terus yg ketemu yeri itu kakeknya mereka alias papanya chanyeol._. duh kakek ini banyak kali maunya, dulu anaknya sekarang cucunya.
mami baekyun nelponan sama jongin ternyata hohoho. itu jongin sama chanyeol masih keep and touch ya. ditunggu next chapternya yaaa. oia, kalau soal jumlah chapter mau 10 atau 15 gak masalah kok kak, selama konfliknya terurai dan selesai satu per satu. semangat ya kaaak!
A: Iya, Luhan memang sakit, sedih ya? Iya sebel juga sama appa nya Chanyeol, menyebalkan. Sebenarnya Baekhyun telponan sama Chanyeol, gitu Chingu. Dan ya Cha na nyeol sama Jongin masih keep in touch yang pasti udah dibahas di chapter ini awal mulanya. Iya Krisgi memutuskan untuk 15 Chapter karena Krisgi mau mengurai masalahnya satu persatu, nggak mai dibikin end gitu aja, jadi nanti kalau seandainya di ffn nggak ada update, Chingu bisa baca di Wattpad ne. Gomawo karena udah jadi langganan review terus dan juga semangatnya. Neomu gomawoyo
Asmaul
R : Sehun yeri mau ketemu sama chanyeol? Gimana nanti reaksinya? Jd yg ngobrol sama baekhyun ditelfon itu si chanyeol, berarti itu sudah terencana ya?
Ditunggu chingu next chapnya...
A: reaksinya sudah terjawab disini kan? Hehehe, iya yang ngobrol sama mamih itu papih (diberi tahu sama Chingu tere kalau di Indo pada manggil Baekhyun mamih dan Chanyeol papih). Pastinya dong udah direncanakan, sebenarnya kan sayang banget sama keluarganya. Atas dukungannya gomawo, senang banget di review sama Chingu terus dan ditunggu karyanya. Kalau nanti di ffn nggak update sampai seminggu, langsung cek di wattpad aja ya Chingu, gomawoyo
Arifahohse
R: next n fast update ...
A: gomawo udah review, senang deh kalau Chingu mau Kasih kesan dan pesannya juga buat Krisgi. Sekali lagi gomawo sudah nge review ne
Akaindhe
R: next...
lulu sakit ya?
A: iya, Luhan sakit, doakan cepat sembuh ne, makasih dukungannya.
Wenjun
R: eumm aku mau kasih saran nih itu yang pas abis sehun teriak "LUHAN" kan yang ngomong beda orang lagi, nah itu tolong dikasih pembatas kaya
.
.
.
gitu bisa ga? hehe aku agak bingung soalnya. gitu aja
fighting!
A: Sebenarnya Krisgi udah Kasih garis panjang yang udah disediakan di ffn, mungkin enggak sengaja kehapus, mianhae Chingu, nanti Krisgi akan lebih teliti lagi, gomawo Chingu. Terima Kasih udah mendukung Krisgi terus dengan Reviewnya dan dukungannya.
Pesan Krisgi
Hi, Chingu~ gimana kabarnya. Disini Krisgi sangat baik -baik saja, hehe. Gimana ceritanya? Puaskah? Atau masih ada yang kurang? semoga kalian suka.
.
Oiya, maaf ya updatenya sampai semingguan, karena Krisgi harus berdoa seperti yang Krisgi bilang di kolom review sebelumnya. Semoga Chapter ini bisa membayar rasa penasaran kalian, hehe
.
Oiya seperti kata Krisgi kemarin, akhirnya Krisgi memutuskan untuk menyelesaikan sesuai rencana yaitu sekitar 15 Chapter, dan itu karena tanggapan yang Bagus dari Chingu deul yang ada di wattpad. Sebenarnya juga ada yang mendukung lewat ffn, hanya aja nggak membuatku semangat. Memang kalau udah dibuat, kenapa nggak di share sekalian? Memang gitu, tapi kalau di ffn kan harus diedit dulu dan itu lebih lama daripada di wattpad yang langsung publish, jadi kalau dukungan di ffn kurang dari dukungan di Wattpad, jujur Krisgi jadi nggak semangat. Jadi Chapter ini memang Krisgi Publish juga di ffn, tapi next chapter mungkin saja hanya di Wattpad.
Next Schedule:
Preview: 19 Juli 2016 at 3pm
Fanfiction: 20 Juli 2016 at 8pm
Jadi kalau seandainya di schedule diatas Krisgi belum update chapter berikutnya, Chingu langsung lihat di Wattpad aja, karena itu artinya Krisgi udah nggak semangat nge publish di ffn. Jadi Krisgi harap kalian lebih mau mendukung, nggak hanya mem favorit, tapi tinggalkan review, itu yang terpenting bagi Krisgi.
.
Sekian Chapter kali ini, semoga para reader-nim suka. Segala bentuk masukan akan Krisgi terima dengan baik. Gomawoyo
.
Jangan lupa Reviewnya ya~ jangan jadi silent reader please biar aku tahu pendapat kalian tentang karyaku. Gomawoyo.
Untuk yang mau ngecheck preview sebelum Fanfictionnya update, bisa lihat di sns ku pudichakris atau channel youtube aku Krisgi Pudicha
Sekian dulu ya, see you on Next Chapter.
