A/N : Ada tiga hal yang bikin gue gak bisa update cepet. Satu, tugas gue makin numpuk. Entah ngisi logbook, buat denah, bikin presentasi utilitas bangunan, dan kroni-kroninya. Dua, mengajar piano itu ternyata penuh cucuran darah dan keringat (lebay), sampe bikin capek parah. Tiga, MODEM INTERNET GUE NGAMBEK!!!! TT^TT HUUUUEEEE... KAKAKKU YANG SUKA NEMENIN GUE NONTON YUGIOH DI HARI MINGGU DAN NGASIH JULUKAN ALAY BUAT YAMI, ANTERIN BENERIIIIIINNNN!!! MASA' LO TEGA GUE MESTI KE PELANGI SEORANG DIRI?? TT^TT
Yah. Saya lebay. Gue tau itu. Dan you know what? (NGGAAAKKK!!) modem gw langsung waras lagi begitu GANTI SLOT! GoMe (Goblok Memang) sekali...
Disclaimer : Punya Kazuki Takahashi, sementara denah apartemen yang gue buat kertasnya lebih besar 15-20 cm dari yang lainnya. Kampreto…
Warning : … Untuk sementara, dikosongin dulu aja, deh, warningnya. Males gue ngisi warning.
In the South Land, there's a city way down on the river. Where the women are very pretty and all the men deliver. They got music, it's always playing. Start in the day time go all through the night. And when you hear the music playing, hear what I'm saying and make it feel alright. Grab somebody, come on down! Bring your paintbrush, we're painting the town. There's some sweetness going around. Dreams do come true in New Orleans! (Down In New Orleans – OST The Princess and The Frog)
Katsuya meluncur turun dari punggung Red Eyes Black Dragon dengan perasaan gembira. Ia telah berhasil mengendalikan kekuatannya sedikit demi sedikit berkat bimbingan dari naganya tersebut. Selain itu, tempat latihan yang ditunjukkan oleh Red Eyes tidak seburuk yang Katsuya perkirakan. Memang, lembah tempat mereka berlatih sangat terpencil. Bayangkan, jarak pemukiman terdekat saja harus ditempuh sepanjang seratus kilometer dengan berjalan kaki. Selain itu, area sekitar tempat latihan mereka adalah padang pasir yang gersang. Beruntung tempat latihan mereka memiliki sebuah oase yang cukup besar. Sebuah danau kecil sanggup mencukupi kehausan Katsuya ditengah-tengah latihan dan beberapa pohon kurma cukup membantu menghilangkan lapar disela-sela latihan.
Red Eyes Black Dragon mengibas-ngibaskan sayapnya yang luar biasa besar dari serpihan pasir. Kebetulan mereka berdua sempat terjebak badai pasir saat perjalanan pulang. Beruntung sang naga bersisik hitam itu sempat mendarat dan mengamankan majikannya dari badai. Kalau tidak, mungkin mereka berdua akan terbawa arus badai dan tersesat entah kemana.
Katsuya memandang sang naga bermata merah itu sambil tersenyum kecil. Ia betul-betul berterimakasih atas segala upaya dan jerih payah Red Eyes untuk melatihnya. Selain itu sikap menyenangkan Red Eyes saat mengajarinya membuat sang pangeran Domino cepat menyerap pelajaran yang ia terima. Sang naga pun sempat menceritakan kisah masa lalunya saat bertarung bersama dengan leluhur Katsuya, membuat pemuda berambut pirang itu semakin terhibur.
"Hari sudah semakin larut. Lebih baik Anda segera kembali ke kamar Anda." kata Red Eyes lembut. Mata merahnya memancarkan kehangatan yang seolah-olah tersenyum kepada Katsuya.
Katsuya menghela napas singkat. "Aku tahu. Selamat malam, Red Eyes. Tidur yang nyenyak, ya."
Red Eyes Black Dragon mengangguk pelan lalu berkata, "Begitu pula denganmu, Tuan. Tidurlah yang nyenyak. Esok hari, pelajaran yang baru akan dimulai."
"Aku sudah tidak sabar! Selamat malam, Red Eyes!!" seru sang pemuda berambut pirang. Ia pun berlari meninggalkan naganya di tengah-tengah taman istana, kembali menuju peraduannya yang nyaman dan hangat.
Katsuya berjalan dengan ringan dan riang gembira menuju kamarnya. Ia betul-betul senang dengan latihan yang ia dapatkan dari Red Eyes. Dibandingkan dengan duduk seharian membaca buku-buku dan teks kuno berlembar-lembar, Katsuya jelas memilih latihan bersama Red Eyes. Belum lagi, cara Red Eyes membimbingnya membuat Katsuya sangat nyaman dan betah berjam-jam menjalani pelatihan. Bandingkan dengan Seth yang kelewat galak dan tidak sabaran. Mana tahan Katsuya kalau harus sepanjang hari diajari oleh orang macam itu.
Mengingat Seth membuat Katsuya teringat akan kejadian tadi siang. Tepatnya sebelum Bakura dan Marik mengganggu sesi belajarnya. Tanpa sadar, Katsuya menaikkan tangannya dan menyentuh kedua bibirnya dengan lembut. Tadi siang, Seth hampir saja menciumnya. Bibir mereka begitu dekat dan pasti akan bertemu apabila Bakura dan Marik tidak datang untuk mengintervensi mereka.
Mengingat kejadian tersebut berhasil membuat wajah Katsuya merona merah. Harus ia akui, Seth adalah seorang laki-laki yang sangat tampan dan gagah. Ditambah dengan pakaian pendetanya, laki-laki bermata biru itu tampak begitu agung dan mempesona. Berada sedekat itu dengan laki-laki seperti itu jelas membuat jantung Katsuya berdebar lebih cepat dan wajah memanas.
"Sial. Kenapa aku bisa teringat kejadian itu lagi? Sudah untung aku bisa melupakannya saat latihan tadi…" gerutu Katsuya sambil mengacak-acak rambut pirangnya. Wajahnya masih tetap merebakkan rona merah yang semakin lama semakin nyata.
Akhirnya, sampai juga Katsuya di depan pintu kamarnya. Ia menghela napas panjang penuh kelegaan. Sebentar lagi ia bisa beristirahat dengan tenang sebelum menyambut esok pagi. Tangannya yang sedikit lemas mulai mendorong daun pintu dengan perlahan. Saat pintu terbuka lebar, matanya membelalak lebar melihat siapa yang ada di dalam kamarnya.
"... Seth?" gumam Katsuya tidak percaya. Apa yang pendeta itu lakukan di kamarnya?
Ya. Seth, sang Pendeta Tertinggi sekaligus mentor Katsuya sedang berbaring di atas tempat tidur Katsuya sambil membaca buku. Mata birunya teralihkan dari tulisan-tulisan ke arah pintu saat mendengar derit pintu terbuka. "Ah. Kau sudah sampai rupanya. Aku sampai bosan menunggu." kata Seth. Sedikit malas-malasan, ia meletakkan buku yang sedaritadi ia baca dan mengubah posisi berbaringnya ke posisi duduk. Kedua mata birunya menatap tajam ke arah Katsuya yang masih terpaku di ambang pintu.
"A... Apa yang kau lakukan di kamarku?!" seru Katsuya histeris.
"Aku menunggumu seharian, tahu!" balas Seth ketus. Kedua tangannya ia lipat di depan dada sementara matanya menatap tajam ke arah Katsuya. "Kau tahu sudah berapa banyak waktu yang kau buang percuma saat kau lari bersama nagamu itu, hah?! Waktu-waktu itu bisa kau gunakan untuk menghapalkan tata cara pemumian dan upacara-upacara yang lainnya!"
"Aku harus pergi, Seth." kata Katsuya, berusaha memberikan pembelaan. "Red Eyes melatihku untuk bisa mengandalikan kekuatanku. Katanya, kekuatanku terlalu besar dan bisa membahayakan diriku sendiri kalau aku tidak belajar mengendalikannya."
"Kau bisa mengatakan itu padaku dan aku akan mengajarimu bagaimana cara mengendalikannya dengan suka hati!"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian! Dalam situasi ini, kau yang salah. Pergi begitu saja tanpa pamit?! Kau pikir aku tidak khawatir, hah?! Sepanjang hari aku terus diam di kamar ini dengan perasaan tak karuan. Aku khawatir kalian berdua tersesat. Aku khawatir ada orang jahat di tempat kalian latihan. Aku khawatir kekuatanmu itu malah berbalik menyerangmu. Aku khawatir!" seru Seth frustrasi. Napasnya tersengal-sengal setelah berhasil mengungkapkan betapa khawatirnya ia pada pemuda bermata cokelat madu itu.
Katsuya sendiri tampak begitu terpana mendengar perkataan Seth. Sebegitu khawatirnya sang pendeta sampai ia frustrasi seperti itu…
"Ma… Maaf…" gumam Katsuya pelan sambil menundukkan kepalanya, malu. "Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji."
Seth menghela napas panjang. Iapun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju tempat Katsuya berdiri. "Sudahlah. Yang penting, kau kembali dengan selamat. Lain kali, kalau kau mau pergi latihan bersama nagamu, beritahu aku. Tanggung jawab untuk menjagamu ada padaku." bisik Seth pelan. Terdengar sedikit nada kelelahan dalam suaranya. Hal itu membuat Katsuya semakin merasa bersalah saja.
"Seth, maaf…"
Seth hanya tersenyum simpul sambil menepuk-nepuk rambut pirang Katsuya. "Sudahlah. Besok, kita akan melanjutkan pelajarannya. Selamat malam." Dan sang pendetapun berjalan meninggalkan kamar Katsuya.
Katsuya hanya bisa menatap punggung sang pendeta hingga menghilang dari pandangan. Kehangatan tangan Seth masih terasa di ubun-ubunnya, tepat dimana Seth baru saja menyentuhnya. Belum lagi aroma tubuhnya yang begitu khas juga tak kunjung hilang dari indera penciuman Katsuya. Kembali, wajah sang pangeran Domino memerah. Kali ini, ia menyadari sesuatu hal yang sangat ingin ia sangkal.
"Masa' aku jatuh cinta… pada Seth?"
"A… Atem…"
"Hmm…"
"Atem… hentikan!"
"Berhenti? Mulai saja belum, Yugi."
"Tapi, kan…"
"Sudahlah, Yugi. Coba untuk sedikit lebih rileks dan jangan banyak bergerak."
"Tapi..."
"Sudahlah. Kau mau ini cepat selesai, kan?"
"I... Iya, sih..."
"Yasudah. Tenang sedikit, Yugi. Aku mau mulai."
"Oke... AAUUUWWW!! ATEM!!! SAKIIITT!!"
"YUGI!! Tenang sedikit, dong! Kalau kau tidak bergerak terlalu banyak, pasti tidak akan sesakit ini!"
"Mudah bagimu untuk bicara. Yang jadi korban, kan, aku..."
"Sudahlah. Kau mau aku melanjutkannya, tidak? Tanggung."
"Yasudah. Tapi, usahakan untuk tepat sasaran, ya. Tadi sedikit meleset, tahu."
"Oke, oke... Geezz... Kau ini banyak permintaan sekali, sih."
"Jangan banyak omong, Atem. Lebih baik kau mulai saja supaya cepat sele... AAAAUUUUWW!!! ATEM, SAKIT!!"
"Kalian berdua ini aneh sekali. Masa' pakaian yang masih dikenakan kalian jahit? Mana jahitannya asal begitu. Menjahit memang urusan seorang perempuan yang tidak bisa diserahkan begitu saja pada laki-laki." desah seseorang dari arah pintu.
"Mai?" gumam Yugi dan Atem di saat yang bersamaan.
Di ambang pintu kamar Pharaoh telah berdiri seorang perempuan cantik berambut pirang panjang. Kedua mata ungunya mempertegas senyuman yang saat itu tersungging di bibirnya yang merah. "Lebih baik kau berikan padaku pakaian yang mau kau jahit itu, Atem." kata Mai enteng sambil berjalan memasuki kamar.
Dengan berat hati, Atem menyerahkan jarum dan benang kepada Mai, sementara Yugi melepaskan pakaiannya. "Yah, mungkin ada baiknya kau kemari, Mai. Sedetik saja kau tidak datang, tubuhku pasti sudah bolong-bolong terkena tusukan jarum Atem..."
"Hei!"
Mai hanya tertawa melihat tingkah Pharaoh dan kekasihnya itu. Tangannya dengan terampil menjahit sebuah lubang yang cukup besar. "Kau sendiri juga aneh, Yugi. Kenapa kau tidak melepas pakaianmu kalau tidak mau tertusuk?"
"Soalnya… nanti Atem tergoda untuk melanjutkan 'kegiatan' kami semalam." sahut Yugi malu-malu. Rona merah mulai terlihat di wajahnya yang imut. "Tapi, berhubung ada kau disini, tidak mungkin Atem mau menyerangku. Hehe."
"Paling tidak aku masih bisa memelukmu." kata sang Pharaoh yang kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang kembarannya. Kecupan lembut ia daratkan ke pundak Yugi, membuat pria mungil itu bergidik.
Senyum kecil menghiasi bibir sang penari sementara tangannya masih sibuk menjahit pakaian. Tingkah laku keduanya selalu bisa membuat Mai tersenyum.
"Oiya, Mai. Bagaimana dengan persiapan pesta upacara penobatan dua bulan lagi?" tanya Atem, penasaran. Ia telah memberikan wewenang penuh kepada Mai untuk mengatur segala kebutuhan upacara. Menurut sang Pharaoh, Mai sudah cukup berpengalaman dalam menangani pesta-pesta kenegaraan. Selain itu, kasihan kalau Seth terus yang harus terbebani masalah pesta. Ia sudah cukup stres saat kedapatan mengawasi festival kemarin.
"Tentu." sahut Mai seraya memutuskan benang dan menyimpulkannya. Ia menyerahkan kembali pakaian yang sudah ia jahit rapi kepada Yugi. "Semuanya sudah siap. Penari, pemusik, dan akrobat yang kau minta seperti biasanya sudah kukumpulkan untuk acara penobatan Jou. Bahkan, para pendeta dan petinggi negara juga sudah kukabari."
"Baguslah. Pastikan kalau persiapannya berjalan dengan lancar, ya." kata Atem, sedikit khawatir. Bagaimanapun juga, ia merasa ada sedikit perasaan gundah dalam hatinya. Apa penyebabnya, ia sendiri juga belum tahu. "Semoga semuanya bisa berjalan sesuai dengan rencana…" gumam Atem.
Sudah hampir satu bulan sejak Jou menerima tawaran menjadi pendeta menggantikan Pegasus. Sudah satu bulan pula sejak ia memulai pelatihannya bersama Red Eyes. Dan sudah hampir satu bulan pula perasaannya pada Seth semakin sulit ditebak. Katsuya mengakui kalau Seth adalah seseorang yang sangat mempersona. Ia karsimatik, tampan, dan berkuasa. Namun, ada sisi lain dari pendeta itu yang membuat Katsuya tidak tahan sedetikpun berada di dekatnya. Pertama, Seth memiliki temperamen yang sulit dikendalikan, sama persis seperti naganya. Hal ini membuat Katsuya harus bersiap-siap kena amuk Seth, entah apa penyebabnya.
Kedua, Seth terlalu tegas dan tidak mau kompromi dalam mengajar. Bila ia ingin materi itu selesai hari itu juga, maka tanpa segan-segan sang pendeta berambut cokelat itu akan memaksa Katsuya menekuni materi tersebut. Kalau perlu, ia ikat Katsuya di kursi semalaman suntuk sampai ia hapal luar kepala hingga titik-komanya.
Ketiga, hal yang paling tidak dapat Katsuya tolerir adalah kebiasaan Seth memanggilnya dengan sebutan rendah. Contohnya, anjing.
"Hei. Anjing kampung. Kau dengar aku tidak?!"
Katsuya memandang Seth dengan geram. Giginya berderak tanda bahaya. "Sudah berkali-kali kukatakan kalau aku bukan anjing, pendeta brengsek!"
"Tetap saja sikapmu seperti anjing liar yang butuh pelatihan dari orang terpelajar." balas Seth tak kalah sengitnya. Sebuah cibiran membentuk di bibirnya.
"Kauu...!!"
Belum sempat Katsuya bergerak maju untuk meninju Seth, Blue Eyes White Dragon yang ikut menemani sang majikan mendarat tepat di depan Seth. Taringnya yang panjang ia pamerkan untuk menakuti Katsuya, sementara sayapnya yang putih bersih terantang melindungi Tuannya.
"Sudahlah, kalian berdua." Terdengar suara berat milik Red Eyes. Sang naga hitam itu mendarat tepat di samping Katsuya. Mata merahnya menatap penuh peringatan ke arah Blue Eyes yang sepertinya sudah siap untuk meremukkan Katsuya menggunakan kakinya yang luar bisa besar. Sang naga betina itu hanya mendengus kesal saat mendapati tatapan tersebut dari kekasihnya. "Kita datang ke sini untuk melatih Tuanku, bukan untuk bertengkar! Kenapa setiap kali kita sampai kalian selalu bertengkar, hah?!"
Seth hanya mendengus kesal seperti naganya saat mendengar teguran dari Red Eyes. "Baiklah, baiklah. Hari ini apa yang mau kau latih?"
"Sebetulnya, hari ini aku ingin kalian berdua untuk berduel." sahut Red Eyes.
"Eh?" Demikian respon dari Seth maupun Katsuya. Kedua menatap Red Eyes dengan tatapan tidak percaya sementara Blue Eyes tampak begitu tertarik dengan latihan kali ini. Sudah sangat lama ia menantikan duel antara Seth dan Katsuya. Tak sabar ia untuk melihat Tuannya menghabisi pemuda lemah berambut pirang itu. Membayangkan kekalahan sang Pangeran Domino membuatnya hampir tertawa seperti maniak. Beruntung ia bisa mengendalikan dirinya sebelum tawanya betul-betul lepas.
"Tunggu. Kenapa aku harus berduel melawan dia?" tanya Katsuya, panik. Jujur, ia sedikit ketakutan. Ia tidak mau melawan Seth karena khawatir kekuatannya lepas di luar kendali dan malah membunuh Seth. Mana mau ia pulang ke istana sambil menyeret jenasah pendeta sekaligus sepupu sang Pharaoh? Bisa-bisa ia dihukum pancung sore itu. Selain itu, ia tidak mau melukai orang yang sangat berarti baginya.
"Tenang saja. Selama ada kami berdua," Red Eyes mengedikkan kepalanya ke arah Blue Eyes. "Kau tidak akan melukai siapapun. Sudah satu bulan kau belajar untuk mengendalikan kekuatanmu dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mempelajari bagaimana memanfaatkannya untuk melindungi dirimu."
"Tapi…"
Red Eyes merundukkan kepalanya hingga sejajar dengan Tuannya. Dengan lembut, sang naga bersisik hitam itu berbisik, "Ini untuk kebaikanmu sendiri, Tuanku. Dengan latihan duel seperti ini, kau akan terbiasa mengontrol tenagamu dan mengalahkan musuhmu. Ini akan sangat berguna saat kita kembali ke Domino dan menyelamatkan Tuan Putri."
Mendengar perkataan Katsuya membuat pangeran berambut pirang itu teringat akan saudarinya di Domino. Kembali rasa bersalah menyelimutinya. Kenapa ia harus meninggalkannya seorang diri di Domino, sementara ia sendiri mendapatkan kenyamanan dan perlindungan di Mesir? Ia betul-betul merasa bersalah telah melupakan penderitaan yang dialami adiknya di Domino.
"Baiklah. Ayo kita berduel."
Suara ketukan terdengar pelan dari sebuah pintu kayu yang besar. Suaranya menggema di ruangan batu yang cukup besar, namun kosong tersebut. Hanya ada sebuah tempat tidur, lemari pakaian, dan sebuah meja lengkap dengan satu kursi. Sang penghuni kamar tersebut mendongakkan kepalanya dari buku yang ia baca. Dengan tergesa, ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Sebuah slot kecil ia buka untuk melihat siapa gerangan yang berada di luar kamarnya.
"Tuan Putri." sapa seorang laki-laki dengan rambut menyerupai sirip hiu tampak melalui slot tersebut. "Aku membawakan Anda makan siang."
Shizuka, Tuan Putri yang dimaksud oleh Honda, mengangguk pelan. Gadis berambut cokelat panjang itu mundur untuk memberi ruang bagi Honda membuka pintu tersebut. Tak lama kemudian, suara kunci yang terbuka terdengar dari arah pintu dan berikutnya pintupun terbuka. Di ambang pintu, pelayan bernama Honda berdiri sambil membawa sebuah nampan penuh dengan makan siang bagi Putri Domino tersebut.
"Bagaimana keadaan anda, Putri?" tanya Honda sopan. Ia berjalan masuk dan meletakkan nampan penuh makanan tersebut di atas meja. Iapun mempersilakan Shizuka duduk untuk menyantap makan siangnya.
"Seperti biasa." balas Shizuka diiringi senyum lemah. Diambilnya sendok dan garpu dari nampan dan mulai makan. "Bosan sekali dikurung terus seperti ini."
Sejak Keith menguasai istana Domino, Shizuka telah dipindahkan ke kamar yang lebih kecil di puncak menara. Ia tak diizinkan untuk keluar dari kamar sama sekali. Untuk meyakinkan agar sang Putri tidak kabur, rantai besi tampak membelenggu pergelangan kaki kirinya dan ditambatkan ke pasak yang terletak tepat di tengah-tengah ruangan. Rantai tersebut memberikan Shizuka bisa bergerak bebas ke seluruh ruangan, namun tak dapat melangkah lebih jauh lagi keluar kamar.
"Tumben kau yang datang kemari, Honda. Biasanya anak buah Keith bernama Rex yang kemari. Ada apa?" tanya Shizuka, masih melanjutkan makan siangnya.
"Sebenarnya, aku mempunyai berita mengenai... kakak Anda."
"Kakak? Maksudmu Katsuya?" ulang Shizuka tidak percaya. Makan siangnya ia hiraukan untuk sementara waktu dan mengalihkan seluruh perhatiannya kepada berita yang akan diungkapkan oleh Honda. "Apa yang terjadi? Apa ia tertangkap? Kalau ia tertangkap, pastilah Keith sudah membesar-besarkannya didepanku! Apa yang terjadi?"
"Sepertinya Keith sudah mengetahui kemana Pangeran kabur, Tuan Putri." sahut Honda. "Ia berhasil menemukan lorong rahasia yang dilewati Pangeran. Bahkan, mereka juga sudah mengetahui kemana Pangeran kabur."
"Kemana?"
"Menurut kabar yang saya dapat, Pangeran kabur ke Mesir. Sekarang, Keith dan beberapa prajurit kepercayaannya sedang mempersiapkan perjalanan mereka ke Mesir untuk menangkap Pangeran."
"Astaga…" gumam Shizuka. Ia tidak percaya kalau Keith dan anak buahnya bisa menemukan tempat persembunyian secepat itu. Padahal, sudah sebulan ini ia hidup tenang dengan meyakini bahwa kakaknya berada di tempat yang aman dari Keith dan pasukannya. "Katsuya… Semoga kau tidak apa-apa…"
TBC
A/N : Capcus. Gih, bales emailnya. Gue mo ngorok lagi. Zzzzzzz…
Yami : … Author gak bener…
= Messiah Hikari =
Atem : Ha ha ha HAmpir lucu… SABAR DARI HONG KONG?! (Hong Kong : Kenapa, sih, orang-orang di Indonesia suka manggil-manggil gue? Emang, gue keren! Masalah lo?!) Gue udah tekanan batin di cerita lo yang 'Save My Darkness Heart', 'A Little Piece of Heaven', 'My Housemate is Like a Hell', sama berikutnya 'Paparazzi'! Gak cukup gue tersiksa di keempat fic itu? Hueee…
Marik : Kok gue geli, ya, ngeliat Atem nangis bombay kayak gini...
Yugi : Duh, Messiah, maafin pacar saya yang seenak jidat curcol di reply review, ya. Hehe. Gantinya, biar saya aja yang bales reviewnya. Kita juga seneng kalo pembaca seneng, lho. Hehehe. Dan iya. Jou kasian harus ngapalin cara buat mumi. Masih untung baru teori, ntar prakteknya gak tau, deh.
Jou : (shock) Hah? Ada prakteknya??
Yugi : Ya ada, lah. Menurut lo? Lanjut lagi ke review…
Rafael : APAAN TUH!!? SEENAK JIDAT BIKIN JULUKAN BUAT GUE!! DANGDUT HOLIC DARI HONG KONG!! (Hong Kong : (frustrasi tingkat tinggi) DUUUHH!!! Panggil nama orang lain, dong!! Dari America, kek. Dari England, kek. Dari Prussia, kek!! Jangan dari gue muluuuu!! Salah gue apa, sih??! (dan Hong Kong pun menjadi OOC))
Yugi : Soalnya lo hobi ngemeng bahasa dangdut, sih. Hehhee. Eh? Suka nyiksa saya juga?? Hueee… Jangan, dong. Kan saya imuut… (pasang muka paling imut)
Bakura : (siap-siap mau nampol Messiah)
Malik : Woi!! Gila lo! Ngapain lo mau nampol reviewer?! Ntar dia ngambek gak mau nge-review cerita ini, lho!!
Bakura : Lagian dia berisik, sih. Terus, dia juga minta ditampol di ending reviewnya.
Malik : …
= Sora Tsubameki =
Jou : Berhubung Sora nge-request gue buat bales review, jadi… Here I am!! Oiya. (celingukan) Seth mana, ya? Dia, kan, harus bales review bareng gue.
Mokuba : Kakak lagi sembunyi. Dia malu kalo harus ketemu kamu, Jou.
Jou : Oya? Aneh, beud tu orang… Ah, anyway, sambil nunggu Seth, kita mulai aja bales reviewnya. Wah, babbling kita dibilang kreatif? Woohoo!! Emang yang gaje-gaje tu asik! Aduh, apa deh gue… Huaaa!! Sora sampe merinding bacanya? Hii… Ada apaan tuh di sebelah Sora sampe merinding gitu?
Mokuba : AC-nya kekencengan kali.
Seth : (nongol) Sorry. Tadi gue ada urusan sebentar. Oiya. Kata author, "Makasih buat pujiannya, Sora." Gitu. Dan masalah request… (blush)
Jou : Ahahah!! Kita masih belom sampe ke tahap itu, Sora! Tapi, mungkin suatu saat nanti kita bakal nyampe ke situ. Iya, gak, Seth? (ngedeketin muka ke Seth)
Seth : (blush parah, nosebleed sesungai Nil, akhirnya pingsan di tempat)
Jou : Haih… Gimana gue mau bales review kalo partner gue pingsan terus, ya…?
= Vi ChaN91312 =
Ryou : Yeah!! Bener banget! Akhirnya update!! Author!! Gimana presentasi kemaren?
Zzzzzz…
Ryou : Hoo… Masih asik ngorok rupanya… Iya!! Aku juga gak suka cara pemumian! Yuuukkhh!! Euuuww banget. Gue paling gak kuat liat darah, lah.
Malik : Lo lupa, ya, kalo author kita itu maniak darah? Darah orang aja dia bilang enak...
Ryou : (pucet)
Bakura, Marik : KITA BERHASIL LIAT SETH NYARIS NYIPOK JOU!! AHAHAHAH!!
Bakura : Salahin Atem yang merintahin kita buat ganggu mereka berdua. Lagian, kita ogah banget kalo sampe kalah taruhan. Iya, gak?
Marik : Betul! Dan… (ngebaca review, kaget) Seth suka nari India?! Ahahahah!!
Seth : (nampol Marik pake millennium rod)
Marik : … Auch…
= Uchiha 'Haruhi' Gaje =
Jou : Hiyaaa!! Gue semangat!! Doakan saya, ya! Saya pasti bisa! Ah! Ini, sih gampang!!
Malik : … Itu 'Benteng Takeshi', bukan, sih?
Jou : Iya. Hehehe.
Seth : (blush waktu baca comment adegan NYARIS kiss)
BEWD : SIAPA YANG NGAMBEK!!? (ngamuk gaje)
REBD : (geleng-geleng) Haihh… Derita punya pacar dengan kondisi mentalitas labil kayak gini, nih.
BEWD labil?! Wah!! Welcome to the club, BEWD! Silakan bergabung di interior! Kita semua labil, akut, dan autis semua!! Ahahahah!! Zzzzz…
Varon : Author yang aneh… Yep! Sebentar lagi, gue bakal eksis kembali!! Muahahahah!!
Amelda : Gue juga, dong! Bwahahahah!!!
Marik : Sarap lo berdua…
Yugi : Hadooohh!! Emang gue bisa hamil??! Gak bisa!! Gue cowok! C. O. W. O. K!! Gak mungkin cowok bisa hamil, kan?
Jou : Di dunia Harry Potter mungkin.
Yugi : Iye. Soalnya mereka bisa pake ramuan entah-apa buat bikin cowok hamil.
Atem : Tinggal pake sihir aja, kok, Yugi sayang. Ya? Ya? Ya? Ya?
Yugi : NGGAK!!
= kuzu there =
Seth : (kembali ber-blushing-ria pas baca comment kiss)
Mokuba : Duh. Kakak gue kenapa bisa nge-blush cuma ngebaca review, ya? Gimana nanti kalo mereka mau make out? Mati kali, ya, kakak gue gara-gara kekurangan darah. Iya, nih!! Aku juga kesel!! Bakura sama Marik nyebelin!! (nendang Bakura sama Marik. Ditendang balik) Auch…
Atem : Hmm… Kalo Keith udah mau mulai nyerang, gue mesti bikin pertahanan. Gue mesti pake Tall-nut sama Wall-nut, nih!
Bakura : … Lo baru main 'Plants VS Zombies', ya?
Atem : Iya. Ahahahaha!!
Mokuba : Yaaahh… Seth pasti ngijinin, kok! Ayo kita nge-date!! Ayo!! Muah, muah!!
= Dika the WINGed Kuriboh =
Seth : Duh. Adek gue kok ganjen gitu, ya? Salah didik sebelah mana gue??
Atem : Halah. Ini kenapa tiba-tiba Naruto disebut?? Emang kita satu dunia, ya, sama Naruto dkk??
Marik : Anggep aja iya. Oiya, Seth tadinya mau nyipok Jou, tapi keburu kegep sama kita! Ahahah!! Makan tu kiss!! Nyahahah!!
Bakura : Eits! Gak bisa nabok! Gak bisa nabok! Ahahah! Lo nabok kita pake tangan, kita nabok elo pake pedang!
Yugi : Sadis…
Bakura : Bodo!
BEWD : KENAPA SEMUA ORANG GAK SUKA SAMA GUE??!! (nyembur-nyemburin api)
REBD : Duh… Kisara, kalem dikit, dong. Kamu mau image naga cool dan keren ilang gara-gara lepas kendali?
BEWD : (langsung kalem)
Mokuba : Iya, nih, Dika. Masa' aku yang super duper imut, banyak fansnya, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong ini gak dimasukin di cerita ini. Mana cuma disebut doang, pula! Di Ever Ever After juga cuma disebut, tapi gak nongol. Authornya ada dendam sama aku, ya? Nyebelin!!
Seth : Soalnya, Author kasian sama otakmu yang belom terkontaminasi yaoi, shonen ai, rated M, dkk. Ntar klo masuk cerita buatan author, otak polosmu itu bisa ternodai.
Mokuba : Hooo…
= Shena BlitzRyuseiran =
Marik, Bakura : (tepar kena tendangan dari Shena)
Mai : Mati lo!! Ahahahah!!!
Marik : Jahaat… Kenapa kita ditendang, sih?
Bakura : Iya. Padahal kita cuma motong adegan nyaris kissing Seth sama Jou. Dirasa banget, deh, yang baca…
Amelda : Soalnya langka katanya Seth mau maju duluan. Keajaiban dunia ke seratus!
Varon : Lha? Kalo keseratus, yang sebelom seratus apaan??
Amelda : Dari satu sampe sembilan puluh sembilan itu adalah… Gue!! (narsis mode : ON!)
Varon, Rafael : (beriringan mukul Amelda sampe Pluto)
Seth : Iya. Gue juga sedih pas Jou langsung lupa sama adegan itu. Hiks… TT^TT
Atem : Jiah. Dia mewek…
= Shinrei Azuranica =
Bakura : Weheeeii!! Iya, dong heboh! Ada gue!! (ditampol pake panci sama Hungary) WOI!! Daritadi kita bales review kenapa digangguin mulu sama orang-orang Hetalia, sih?!
Karena gue lagi suka Hetalia. Ini aja lagunya pas bales review lagi 'Marukaite Chikyuu'. Sekarang lagi Marukaite Chikyuu versinya Chibitalia. Hehhe.
Bakura : Dasar… Gak ada lagu yang lebih mutu, apa?!
Ada, sih. Lagunya Gluck, Scarlatti, Beethoven, Mozart, Debussy, Ravel, Haydn, Gershwin, dkk. Tapi gue males nyetel lagu mereka. Selalu bikin gue keinget sama piano gue yang belom gue sentuh gara-gara DENAH KANCRUT satu ini…
Marik : Kok author malah curcol gini, ya... Ah, anyway gue mau nerusin bales reviewnya. Jadi…
Pegasus : HIIIAAAAATTT!! SAYA KEMBALI!! OHOHOHOHO!!
Bakura, Marik : PERGI LO, KUTU!! (nendang Pegasus ke luar frame)
Ryou : … Kalian berdua parah banget…
Marik : Lagian, Pegasus maen nongol gitu! Gak jelas. Terus, reviewernya juga gak mau kalo reviewnya dibales Pegasus. Mending kita tending aja, kan!
Bakura : Betul, betul!! Eh, iya. Jou dibawa kemana sama REBD, ya? Gue juga gak tau. Woi! Lo bawa Jou kemana, sih?
REBD : Kenapa?
Bakura : Pengen tau aja. Si Seth khawatir nyariin anjingnya. Kasian kalo sampe kesasar. Hehhee.
REBD : Halah. Khawatiran amat, sih. Tenang, gue balikin utuh, kok!
Seth : Awas lo! Anjing gue sampe kenapa-napa, elo taruhannya!!
Malik : Eh, Seth. Shinrei minta elo mundur dari jabatan pendeta, nih. Katanya, otak mesum lo itu gak cocok jadi pendeta.
Seth : Eh, dibandingin sama Pegasus yang mau ngerape Jou, gue jauuuuhhhh lebih mending, kali!
= michiyo momoka =
Ryou : Tenang, Michiyo! Ternyata masuk, kok, ke email author. Emang waktu itu FFN lagi nge-lack aja. Hehehe. Dasar, FFN. Keseringan revisi, nih.
Yugi : Wahahaha!! Ternyata bukan cuma saudara Shinrei aja yang beranggapan Seth itu MESUM!! Muahahahah!!
Ryou : … Yugi, lo OOC, deh…
Yugi : Iya, dong!! Abis OOC, ntar kita jadi OOT! Terus, lama kelamaan otak bisa berubah jadi OON! Ahahahahahahahahhaaha!!
Ryou : ... Atem, gue serem sama pacar lo. Kayaknya otak dia korslet, deh.
Atem : Udah, biarin aja. Ntar juga normal lagi.
Keith : Muahahahah!!! Aku akan datang! Siap atau gak siap, hadapilah gue! MUAHAHAHAHA… OHOK!! (disumpel maket sama author yang stress dengerin ketawanya Keith)
Jou : Makan tu maket! Ahahah!!
= Din-chan =
Otogi : Wuah!! Reviewer baru! Selamat datang di fic gaje nan gak jelas ini, ya!
Honda : Bukannya gaje sama gak jelas itu satu artinya, ya??
Otogi : Bodo. Author kita juga dulu suka jalan-jalan di fandom Naruto. Tapi, sejak bertaburan fic-fic yang aneh-aneh dan… Ehm. Sorry. Asal buat, author jadi males maen-maen kesana lagi.
Bakura : Apalagi sejak ItachixKakashi-nya berkurang.
Marik : Dan NetherlandsxIndonesia semakin berjaya di fandom Hetalia.
Seth : Fandom Yugioh juga makin rame dengan puppyshipping, bikin author memalingkan wajahnya dari fandom Harry Potter yang makin jarang SBRLnya.
… Lo semua kenapa malah jadi ember, ngebocorin pairing-pairing favorit gue, sih??
Yugi : Oiya! Masih ada yang kelupaan! Death Note mulai ditinggal gara-gara humor sama parodinya mulai jarang! Ayo!! Yang buat fanfic DN, diperbanyak lagi humor sama parodinya!!
Jou : Yug, mending kita bales review aja, deh. Ini bisa makin panjang si review reply kalo kayak gini.
Yugi : Oh, iya. Hehe. Wah, bagus, dong kalo jadi cinta sama pairing di Yugioh! Jayalah terus Yugioh! Yeah!! Dan masalah taruhan, para yami lagi berusaha sebisa mungkin buat menang. Buktinya, udah ada dua kali mereka jadi nyamuk Seth sama Jou. Nyebelin kalian semua!!
Atem : Resikonya taruhan sama kita tu begitu. Iya, gak, Bakura? Marik?
Bakura, Marik : (angguk-angguk)
Ryou : Buat pairing BakuraxRyou, namanya Tendershipping. Kalo MarikxMalik, namanya Bronzeshipping.
Malik : Kalo mau keterangan lebih lanjut tentang daftar shipping-shipping di Yugioh, add aja FB author. Dia pernah bikin note tentang nama-nama pairing di Yugioh, kok. Search aja namanya Elita. Gambarnya orang lagi hormat di samping piano.
Jou : Kalo gak punya FB?
Ryou : Twitter aja. Namanya kuuruukiddo.
Honda : Kalo gak ada Twitter?
Atem : FS masih berjaya, mungkin. Tampilannya sekarang sama kayak FB.
Jou : Ah, gak gaje, kok. Masih lebih gaje author ini. Makasih buat reviewnya! Jangan lupa baca dan review lagi, ya. Hehehe.
= MoonZheng =
Bakura : Tumben ni orang review telat.
Ryou : Katanya hapenya ngambek, gak mau dipake buat review. Oiya, masalah mumi kenapa harus dikeluarin organnya… Meneketenge! Lagian, kalo didiemin aja di dalem badan, ntar jadi busuk, lagi! Masalah kenapa harus kiri, kita juga gak tau. Tanya sodara Thiea aja, deh. Kan dia calon dokter. Hehhe.
Marik : Yah, kok jawabannya ngaco gitu, sih... Masalah gak ada Pharaoh, itu gara-gara Pharaoh terakhir kita, Atem, adalah gay. Jadi, dia gak bisa menurunkan anak. Gituu...
Atem : Yugiii!! Punya anak, yuuuk!! Kamu mau keturunan Pharaoh berakhir?? Ayo, doooonng!!
Yugi : Gak mau!! Huh!!
Jou : Iya, nih. Gimana gak bete?! Tiap hari gue dibentak-bentak mulu! Ih! Mungkin kalo kita udah jadian, sikapnya bisa berubah, amin. Masalah Kisara yang jadi OOC… Gak tau juga saya. Hehhe. Di chapter ini malah kerasa lebih OOC lagi. Mungkin author ter-influence fic lain dimana BEWD digambarkan seekor naga yang garang, ganas, lebih gahar dari REBD biarpun cewek? Hehehe.
= Green Opalus =
Yugi : Weheeeii!! Ada Green Opalus review!! Asooy!! Selamat datang di fic ancur author kita ini, ya. Hehhee.
Malik : Yugi, nanti author marah kalo ficnya dibilang ancur.
Yugi : Ah, bodo. Wokeh! Sekarang waktunya bales review!! Nyahahah!! REBD dan BEWD kayak anjing?? Aaaawww… Pasti mereka berdua lucu banget kalo jadi anjing. Mauuu!! Atem, kita pelihara anjing aja daripada pelihara anak!
Atem : Buset… Pacar gue beneran eror, nih, otaknya…
REBD : Gue punya nama, kok. Cuma author masih belom mau mempublikasikan nama gue aja. Sekian.
Seth : Sok famous bener naga lo, Jou. Ngomong-ngomong hetero pair, kayaknya author mau mempublikasikan pair baru. Maunya Shizuka dipasangin sama seseorang, tapi masih dilemma antara Honda atau Otogi. Mau request? Asal jangan sama saya aja. Saya udah punya calon.
Atem : Iya, nih. author dendam kesumat sama gue. Uhuhuhu… Masalah chapter 9 yang pendek, otak author juga lagi pendek waktu itu. (disambit author pake penggaris rottring) Eh, jaga tu penggaris! Rusak aja, nangis garuk-garuk aspal! Kata author, side pair siap untuk diperbanyak!
Ryou : Nah! Semuanya udah kita bales, nih! Sekarang, ayo pulang! Mau ngorok. Ngeliat authornya tidur pules, gue jadi pengen…
Bakura : Sambil gue kelonin gimana? (senyum najong)
Ryou : Gak mau! Huh!! (buang muka. Langsung pergi bareng para uke ninggalin para seme dibelakang)
OIYA!! Gue kemaren senin presentasi gambar buat apresiasi seni. Untung gambar gue menggambarkan adegan yaoi secara implisit, dan bukan eksplisit kayak dua orang temen gue. Bisa ngeles, deh. Ahahahah!!! Zzzzz…
