Dengung baling-baling pesawat berderu halus saat ketiga remaja, Sasuke, Sakura dan Sai, memasuki telescopic gangway, lorong berupa belalai gajah untuk naik pesawat. Kakak dari Sasuke membelikan tiket tujuan Suna dengan kelas bisnis. Ini pertama kalinya bagi gadis berhelaian merah jambu untuk duduk di kursi barisan pertama, biasanya ia dan orangtuanya hanya membeli tiket promo yang mendapatkan tempat duduk paling belakang. Sai mempersilahkan Sakura untuk masuk terlebih dahulu agar gadis itu dapat melihat pemandangan diluar jendela. Namun gadis itu menggeleng pelan.
"Kau saja yang duduk didekat jendela Sai…" ucap Sakura.
"Kenapa? Kau takut melihat kebawah? Takut ketinggian?" kekasihnya, Uchiha Sasuke, bertanya posesif.
"Tidak. Hanya saja sepertinya aku akan sering pergi ke lavatory untuk buang air kecil. Aku minum banyak teh manis tadi. Hehehe…" Sakura tertawa gugup. Agak memalukan sebenarnya mengatakan bahwa kau akan pergi ke toilet seperti itu dihadapan para lelaki. Tetapi mau bagaimana lagi.
Akhirnya Sasuke duduk ditengah-tengah. Sementara Sakura sudah menyandarkan kepalanya dengan nyaman di tempat duduk dekat lorong. Seat belt belum lagi terpasang namun mata Sakura sudah hampir terpejam. Dia merasakan tangan hangat Sasuke berada didepan perutnya. Rupanya bungsu Uchiha itu mengeratkan sabuk pengaman milik Sakura. Sasuke mendaratkan kecupan ringan di dahi kekasihnya dan kembali duduk dengan tenang. Sai yang melihat adegan itu langsung menyambar earphone dan sleep mask didalam saku celananya. Setidaknya selama penerbangan, Sai tidak ingin mendengarkan serta melihat adegan yang membuatnya ingin mengambil parasut dan terjun dari burung besi ini.
Dan pesawat pun take off.
.
.
.
Disclaimer
Naruto milik Masashi Kishimoto
DLDR
Minatory Scholarship
Epilog
.
.
.
Haruno Sakura baru kembali dari lavatory yang hanya berjarak kurang dari tiga meter dari tempat duduknya. Ini sudah kedua kalinya ia buang air kecil. Kekasihnya sedang membaca majalah yang disediakan pihak Airlines meliriknya saat sang gadis duduk.
"Beser huh?"
"Diamlah baka! Sudah kukatakan sebelumnya aku terlalu banyak meminum teh manis!" Sakura memukul lengan Sasuke gemas.
"Aduh! Tenagamu itu benar-benar ya Sakura…" ringisnya, "padahal sebelum take off kau tertidur dengan manis!" Sasuke meletakkan majalah yang tadi ia baca dipangkuannya. Kini tangannya mencengkram pipi Sakura hingga bibir gadis itu maju dan terbuka. Sasuke mendekatkan wajahnya.
"Sekarang kau seperti bebek buruk rupa…" ejeknya. Mata Sakura mendelik. Tidak terima kakasihnya sendiri mengatainya jelek seperti unggas. Sasuke terkikik melihat reaksi Sakura yang baginya sangat lucu.
"Tapi, aku terpesona oleh si bebek ini…" ucapnya dengan suara parau menahan hasrat ingin menciumi seluruh wajah putri tunggal Haruno itu. Dahinya sudah menyatu dengan dahi Sakura. Zamrud hijau dikedua mata Sakura mulai tertutup kelopak matanya.
"Ehm… Anu… Makan…" seorang pramugari yang membawa nampan dan temannya yang mendorong troli besi dengan berbagai minuman diatasnya, keduanya bersemu merah.
Sakura mendorong Sasuke. Ia sangat malu. Wajahnya tidak kalah merah dengan kedua cabin crew yang memergokinya sedang bemesraan dengan Sasuke. Dengan kikuk Sakura memandang kedepan. Kening gadis itu berkerut, ia tidak dapat menemukan meja lipat kecil yang biasanya ada didepan saat menaiki pesawat. Dengan perlahan ia mengamati Sasuke. Remaja pria itu mengeluarkan meja lipat yang tengah dicarinya dari balik sandaran lengan. Kemudian Sasuke membangunkan Sai yang sedari tadi benar-benar terlelap tanpa ada suara sedikitpun.
Pramugari yang memegang nampan mengeluarkan meja milik Sakura dengan sebelumnya mengucapkan kata permisi. Dengan anggun ia meletakkan nampan berisikan farfalle marinara dengan irisan daging, salad buah, brownies dan air mineral. Mata Sasuke berbinar melihat pasta berbentu dasi kupu-kupu yang disiram dengan saos tomat tersebut. Sai yang baru mengucak mata dan menguap beberapa kali terlihat enggan melihat apa yang telah dihidangkan.
"Bisakah kalian menyajikan snack terlebih dahulu? Kuharap sesuatu yang manis" ucap Sai kepada kedua pramugari itu.
"Ah, snack dipenerbangan kali ini ada coklat bar, roti manis dengan isi selai strawberry dan mixed nuts. Apa anda mau saya ambilkan?" ujar pramugari dengan rambut pendek. Sai mengangguk.
"Nona mau minum apa?" pramugari dengan rambut hitam digelung rapih bertanya pada Sakura.
"Sari Apel dengan es, terimakasih," ucap Sakura sambil tersenyum manis.
"Apa ada jus tomat?" tanya Sasuke.
"Hanya ada yang kaleng tuan,"
"Tidak apa-apa. Tolong itu saja terimakasih," Sasuke menerima kaleng jus tomat dan melirik kearah kekasihnya yang sedang memakan salad buah dengan lahap.
"Ehem… Sakura…" entah mengapa Sasuke merasa harus membicarakan ini juga, pada akhirnya.
Sakura mengalihkan pandangannya kearah pemuda raven disampingnya, "Ya? Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan Sasu?", tanya gadis merah muda tersebut.
"Aaa. Aku, ingin meminta maaf," ujar Sasuke pelan.
"Untuk?"
"Semuanya. Untuk kakak sepupumu, untuk yang telah Itachi lakukan, untuk diriku yang malah seenaknya menjauh dan sekarang datang kembali kepadamu," mata Sasuke memanas, ini bukan seperti dirinya, ia benar-benar merasa sangat emosional hari ini.
"Ku dengar Tsunade, maksudku dokter Senju, tidak jadi menuntut Itachi atas pemberian obat yang belum berizin itu atas desakkan darimu. Aku, sangat berterimakasih. Keluargaku, sangat berterimakasih, Sakura,"
Tangan Sakura menggantung di udara. Garpu yang sudah berisikan pasta ia letakkan lagi. Gadis itu menarik napas dan menahannya cukup lama. Lalu menghembuskannya pelan lewat mulut mungilnya.
"Sama-sama," jawabnya pendek setelah jeda yang cukup panjang.
"Aku mengerti jika kamu masih merasa, entahlah, sedih, kecewa atau bahkan marah serta kesal, aku hanya ingin mulai saat ini, apapun yang kau rencanakan, apapun yang kau rasakan atau pikirkan Sakura, berbagilah kepadaku,"
Sasuke meremas tangan kiri Sakura dengan erat. Mencoba menyalurkan perasaannya dengan genggaman yang semakin lama kian melilit jari jemari mereka.
"Aku mencegah dokter Tsunade bukan karena hubungan kita atau perlakuan keluarga Uchiha yang telah berbaik hati kepadaku. Tolong kalian ingat itu," Sasuke terkejut. Nada suara Sakura tiba-tiba berubah dingin. Angin dari air conditioner diatas kepala mereka membelai rambut pendek Sakura.
Gadis keluarga Haruno itu memejamkan matanya. Menyembunyikan iris hijau cantik miliknya dibawah bulu mata lentik yang menakjubkan.
"Kak Sasori-lah yang menginginkan semua ini. Dia yang sedari dulu sangat menyukai seni boneka, ingin mati dengan racun doll's eyes yang tumbuh di tanah milik Uchiha," gumam Sakura, "jadi Itachi hanyalah teman yang membantu keinginan Sasori."
Sasuke melepaskan tangannya dari tangan Sakura. "Tetap saja. Itu sebuah nyawa, nyawa manusia. Harusnya sebagai teman yang baik Itachi berusaha agar Sasori lebih menghargainya," ucap Sasuke.
"Kau tidak mengerti Sasuke. Kesakitan yang dialami Kak Sasori itu tidak main-main. Baginya lebih baik mati daripada harus menderita seperti itu," tanpa Sakura sadari suaranya meninggi.
Sasuke membelalak tak percaya. Semudah itukah kekasihnya menilai sebuah jiwa. Tidak tahan lalu mati saja.
"Jika itu yang telah terjadi pada Sasori bukan berarti keputusannya itu adalah suatu hal yang benar!" suara Sasuke tetap tenang, tidak terpancing nada suara gadis disampingnya.
"Menghilangkan nyawa manusia itu kejahatan, Sakura, meskipun itu adalah nyawa diri sendiri," bungsu Uchiha menuangkan jus tomat ke gelas dan meminumnya sampai habis, pembicaraan ini membuatnya sangat haus.
"Kejahatan karena menghilangkan nyawa yang telah Tuhan berikan. Dia tidak berhak mencabut apa yang telah Tuhan beri. Kejahatan karena melenyapkan seseorang yang berharga bagi orang yang mencintainya. Meninggalkan luka bagi orang yang ditinggalkan.
Tidak ada alasan yang tepat untuk membunuh Sakura. Tidak pernah ada. Bahkan untuk membunuh diri sendiri. Jika sakit dan penderitaan dunia membuatmu ingin bunuh diri. Apa kau yakin bahwa setelah itu semua akan tenang dan bahagia? Sekarang coba kau tanyakan pada dirimu sendiri. Apa hanya sebatas itu semangat untuk hidup manusia? Berapa nilai jiwa bagimu Sakura?
Apa yang telah terjadi pada Sasori kita ikhlaskan. Tetapi jangan sampai kau jadi berpikir bahwa menghilangkan nyawa ketika kau merasa tidak ada jalan lagi adalah sesuatu yang dapat dibenarkan. Aku hanya ingin kau mengerti, nyawamu, keberadaanmu, tidak hanya berhubungan dengan dirimu sendiri. Tetapi juga orang lain, orang-orang yang menyayangimu."
Sakura terdiam. Memikirkan lagi apa yang telah disampaikan panjang lebar oleh kekasihnya. Jika saja ini bukan sesuatu yang serius pasti dia telah tertawa. Menertawakan Sasuke yang tidak biasanya berbicara panjang lebar seperti itu.
Sasuke tampak menikmati makanannya dalam diam. Sedangkan Sai yang dari tadi hanya menjadi pendengar tidak berminat menyela. Sai merasa bukan pada posisi berhak ikut andil dalam pembicaraan tentang kematian Sasori.
"Aku mungkin hanya tiga hari berada di Suna. Setelah itu aku sendiri harus mempersiapkan kuliahku," ujar Sasuke.
"Hn," Sakura mengangguk.
"Setelah kita sampai nanti. Apa aku boleh berziarah ke makam Sasori?"
Haruno Sakura mengerjapkan matanya. Dia sungguh merasa beruntung memiliki Sasuke. Walau terlihat dingin, Sasuke sangat baik dan benar-benar mempedulikannya.
"Tentu!" ujar Sakura tersenyum.
"Maaf jika aku menyela," Sai memasang senyum bengkok, "sebelum itu lebih baik kita pikirkan dimana Sasuke akan menginap bukan? Dia tiba-tiba loncat dan terbang bersama kita bahkan tidak membawa satu pun baju".
Sasuke baru tersadar tentang fakta tersebut. Dia benar-benar tidak mempersiapkan perjalanan ini sebelumnya. Apa mungkin dia menginap di rumah keluarga Haruno saja? Tidak, tidak. Dia belum sanggup untuk menginap di rumah calon mertuanya. Eh?
"Begini. Akan kuberikan ide karena wajahmu terlihat mengerut menyeramkan," ujar Sai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita akan langsung ke kampus dan meletakkan barang-barangku serta Sakura di asrama. Kemudian ziarah dan makan malam dengan keluarga Haruno. Malam ini kau, Sasuke, bisa menginap di kamar asramaku atau guest house kampus. Bagaimana?"
Ide Sai tampak masuk akal. Sasuke dan Sakura mengangguk serempak.
"Ya!"
.
.
.
.
.
Mereka sendiri tidak mengerti mengapa malah menjadi seperti ini. Tetesan keringat membasahi lantai. Panasnya ruangan kamar asrama semakin menguar akibat pergumulan panas dua insan berbeda gender itu. Mungkin karena terbawa suasana yang sedang mendung disertai hujan rintik-rintik. Hujan di daerah Suna yang jarang terjadi menambah kesan romantis.
Mungkin karena mahasiswa yang bercumbu mesra yang mereka lihat di lorong ujung asrama. Atau bahkan mungkin karena hormon sialan. Hasrat yang tidak dapat lagi mereka tahan. Silahkan salahkan saja kesempatan yang ada sehingga mereka dapat menikmati dan mereguk rasa dari fisik masing-masing.
"Ahn…" sebuah desahan lolos dari gadis, well wanita, didepannya. Dorongan kekasih yang memasukinya dari belakang tepat mengenai titik puncak kenikmatannya.
Tangan laki-laki dengan marga Uchiha meremas panggul indah wanita itu keras. Dengan sekali hentakkan ia menarik dan menghempaskan tubuh kekasihnya kedepan dan belakang. Siluet tubuh sintal sang wanita tergambar oleh sisa-sisa sinar matahari yang tidak terhalang awan hujan.
Kamar seluas lima kali enam meter yang akan diisi oleh tiga orang mahasiswa tingkat pertama tidak dapat meredam bunyi yang dihasilkan oleh pasangan kekasih yang sedang bermadu kasih tersebut. Lenguhan demi lenguhan terdengar dari perempuan berambut panjang. Kekasihnya melepaskan pelukkan mereka dan menghadapkan sang wanita kearahnya.
Mata hitam jelaganya terlihat sayu. Kabut hasrat terlihat jelas pada kedua onyx khas Uchiha. Kekasihnya membuang muka. Terlalu malu melihat batang keras di selangkangan lelaki didepannya.
"Tatap aku sayang…" ujar lelaki itu dengan suara serak yang seksi.
"Aku… Malu…" rona merah diwajah wanita itu semakin membuat kekasihnya ingin memasukinya lagi demi melihat ekspresi wajah cantik wanita itu lagi.
Sang Uchiha menarik wanitanya kedalam dekapannya. "Kau manis sekali, kau tau?" dikecupnya pucuk kepala wanita tersebut mesra.
"Kemari…" wanita itu lagi-lagi ditarik. Kali ini menuju himpitan dua buah lemari. Disana terdapat cermin besar dengan tinggi satu setengah meter.
"Lihat dirimu di cemin itu, okay?"
Wanita itu sudah tidak memakai bra namun masih menggunakan blus tanpa lengan berwarna putih yang memamerkan puncak payudaranya yang menegang. Rambutnya yang kini sudah acak-acakan akibat aksi panas mereka tadi menambah kesan sensual. Bibir merah mudanya terbuka, bengkak akibat ciuman penuh gairah. Rok jeans mini sudah terlepas sejak awal mereka melakukan penyatuan tubuh. Cairan lengket terlihat jelas mengalir dari selangkangan menuju paha bagian dalam yang putih mulus.
"Kau lihat… Bagaimana bisa aku menahan diri dari kekasihku yang begitu menggoda sepertimu hah?"
Laki-laki itu menjilat daun telinga kanan kekasihnya dari belakang. Kedua tangan lelaki itu sibuk meremas kedua gunung kembar di dada wanita tersebut. Kemaluannya berdenyut hebat. Dia tidak menyangka melihat bayangan dirinya sedang dicumbu seperti itu didepan cermin bisa menaikkan libidonya berkali-kali lipat.
Wanita itu menaikkan pinggulnya. Menggesekkan bokong sintalnya tepat di selangkangan kekasihnya yang menggeram keenakan.
"Sss… Aku tidak tahan. Akan ku sodok vagina sempit-mu itu lagi sayang. Bersiaplah!"
Dan dengan sekali hentakan ia menyatukan tubuh mereka lagi. Payudara kekasihnya berguncang indah saat dirinya memompa penisnya yang ereksi sempurna kedalam lorong kenikmatan itu kencang.
"Aah… Aah… Aah…" wanitanya menumpukan tangan diatas cermin. Menundukkan tubuhnya membuat akses gerakkan in out nya lebih mudah.
"Jangan tutup matamu. Lihatlah keindahan yang aku lihat padamu…" bisik lelaki tersebut sambil meletakkan satu tangannya didepan vagina kekasihnya. Tonjolan berbentuk seperti kacang dicubitnya pelan.
"Aaaahhnnn… Ja…jangan… Aaaaahhh…. Aku tidak tahan… Ge…li…" wanitanya menggelinjang, mungkin sebentar lagi semburan orgasme akan keluar dari liang peranakannya.
"Ah… Ah… Sayang… Lebi…hh… Ce…pat…"
"Lebih… Keras… Aaaaahhhnnn…."
"Kita keluarkan bersama. Sebentar lagi aku akan sampai," Uchiha itu mempercepat gerakkannya. Dan dalam hitungan detik erangan kepuasan keluar dari keduanya.
"Aaaaahhhhhhhhhhhh…"
.
.
.
.
.
"FUCK!" Sai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dari pintu kamar asramanya.
Pantat polos tanpa satu helai benang pun sedang mendekap wanita, yang dia sangat yakin mereka tadi sedang melakukan hubungan seksual, menghadap cermin diantara lemari dikamarnya.
"Ada apa Sai? Kyaaa…" Sakura menutup matanya. Tidak menyangka apa yang akan dia lihat saat pertama kali masuk ke kamar asrama mahasiwa adalah tubuh setengah telanjang dua orang berdeda jenis kelamin.
"Kenapa Sakura?" Sasuke yang baru saja datang karena harus membeli minuman di vending machine depan asrama heran melihat kekasihnya berlari keluar dari kamar Sai.
"Ada… Ada orang aneh berbuat mesum Sasuke…" ucap Sakura yang lebih seperti gumaman, tidak terdengar oleh kekasih tampannya.
"Hah?" Sasuke semakin heran melihat Sai menutup pintu kamar dan menyeret kopernya marah.
"Sebenarnya ada apa?" Sasuke mendekap tangannya didepan dada, tapi tidak ada jawaban dari kedua orang yang memejamkan mata dihadapannya.
Kriieett.
Sasuke yang tidak sabaran membuka kamar yang harusnya dihuni Sai selama dia berkuliah di Universitas tersebut.
"SIALAN!" Sasuke mengumpat dengan teriakan yang memekakkan telinga.
Sekarang dia melihat kakak satu-satunya, Uchiha Itachi, sedang memakai celana dalam dengan tergesa. Sedangkan orang yang dia akui akan menjadi kakak iparnya berusaha mengaitkan bra dengan gugup. Semakin gugup, semakin wanita itu sulit untuk mempertemukan pengait bra-nya.
"APA YANG KAU PIKIRKAN HAH ITACHI? INI ASRAMA SHIMURA SAI FOR GOD SAKE!" Sasuke tidak bisa menahan emosinya. Dia membanting pintu dengan sebelumnya berteriak kembali,
"BERPAKAIANLAH DALAM LIMA MENIT! ATAU KAU BENAR-BENAR AKAN MENDAPAT MASALAH UCHIHA ITACHI! KAU PUN SAMA UCHIHA IZUMI!"
"He? Itu tadi Kak Itachi?" Sakura yang tidak melihat dengan jelas siapa orang setengah telanjang tadi memiringkan kepalanya. Nada suara Sakura menyiratkan bahwa dia sangat amat terkejut.
"Yap," Sai tersenyum palsu, "Sebaiknya kita ke bagian administrasi asrama. Aku akan minta pindah kekamar yang lain. Aku yakin tidak akan bisa tidur dikamar itu tanpa dibayangi pantat sialan milik Itachi".
"Sedang apa dia dan Izumi di Suna? Aku pikir mereka ada di Konoha…" ujar adik dari Uchiha Itachi heran.
"Kalau itu sih tentu saja karena dia harus mengurus segala keperluan dan kelengkapan administrasi dari Sakura. Sudah beberapa hari dia berada di Suna, kupikir kau tahu…" balas Sai.
"Kak Itachi sudah berjanji akan menunggu di Universitas Suna. Tidak kusangka dia menunggu di asrama dan malah…" Sakura tidak dapat meneruskan kata-katanya, pipinya bersemu merah semerah tomat kesukaan Sasuke sekarang.
"Terbawa suasana hujan Suna yang mistis ini sepertinya…" Sai meringis.
"Tidak pantas… Sangat tidak pantas…" Sasuke menggeram.
Kemudian mereka bertiga berjalan dalam diam. Ketiganya mengutuk kedua Uchiha yang ada didalam kamar tersebut.
.
.
.
.
.
"Aku minta maaf. Aku dan Izumi tidak bermaksud…"
"Berhentilah berbicara Itachi. Kami semua berusaha melupakan pemandangan traumatis yang kami lihat tadi. Jadi diamlah dan menyetir dengan benar!" Sasuke benar-benar menahan amarahnya kepada si sulung.
Mereka dalam perjalanan menuju pemakaman keluarga Haruno. Izumi yang merasa kehilangan harga diri terhadap tiga remaja itu sedari tadi hanya diam dan menatap jendela mobil. Sai duduk dikursi penumpang sebelah pengemudi. Sasuke menolak duduk diamping kakaknya karena menurutnya itu akan membuat dirinya semakin murka. Sedangkan Izumi bahkan tidak mau menatap dan berbicara pada kekasihnya itu sekarang.
"Anu, bisakah kita mampir dulu di toko bunga? Aku ingin membawakan bunga lili yang disukai Kak Sasori," ujar Sakura.
Sakura meletakkan sebuket bunga lili berwarna putih diatas makam Sasori. Semua orang menundukkan kepala. Berdoa semoga Sasori lebih tenang dialam sana. Sai memejamkan matanya, berjanji akan menghargai hidup lebih baik lagi, rupanya kata-kata Sasuke di pesawat benar-benar mempengaruhinya. Izumi meminta maaf atas kesalahan kekasihnya. Sasuke meminta maaf atas nama kakaknya. Itachi yang tidak bisa berhenti mengatakan maafkan aku dalam hati dan menangis.
Sedangkan Sakura tersenyum.
Walau ia tidak setuju dengan keputusan kakak sepupunya yang mengakhiri hidupnya begitu saja. Apapun alasan yang dimiliki Sasori untuk melakukan hal itu. Namun ia kini telah merelakan kepergian Sasori. Kakak yang ia hormati itu tidak pernah memakai obat-obatan terlarang seperti yang dituduhkan kepadanya. Kakak yang ia sayangi itu bahkan sampai akhir hayatnya tetap menyayanginya. Dan itu sudah cukup baginya. Ya, semoga kau sekarang bahagia di alam sana kak, gumamnya.
Manik hijau Sakura memandang orang-orang disekelilingnya. Orang-orang yang begitu perhatian dan menyayanginya. Meski tidak memiliki hubungan darah dengannya. Bagaimanapun juga mereka bertemu, semua karena, Kak Sasori. Senyum Sakura berubah. Bibirnya membentuk kata, T-E-R-I-M-A-K-A-S-I-H.
.
.
.
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
.
.
Author's Note
Huah… Akhirnya workshop tiga minggu berturut-turut telah selesai. Capek sekali. Huhuhuhu. Terimakasih sudah membaca karyaku ya. Maaf kalau jelek. Mohon maklumi karya pertama saya ini (membungkuk dalam-dalam).
Lemonnya dinikmati seadanya ya. Sungguh aku sendiri sangat tidak pede dengan apa yang ku tulis. Gomen jika mengecewakan.
Aku akan berusaha lebih baik lagi nanti (entah kapan).
Makasih semuanya…
