Apa Yang Tersembunyi?

By Vylenzh

Naruto © Masashi Kishimoto | Riddle milik penulisnya

.-.-.-.-.

A/N: Cek chapter sebelumnya. Terimakasih ^_^

Warning! AU, OOC, Death Chara, Typo(s), Plot Twist, etc

Genre: Horror & Mystery

[Jawaban di chapter sebelumnya: Boruto dijual, kalau uangnya habis. 'Aku' alias Himawari yang dijual. Tapi ada versi lain, Boruto dibunuh untuk dijual organnya. Yah, yang mana aja tetap ngeri sih.]

Notes: Untuk chapter ini bisa dibilang bukan riddle, anggap saja perayaan 10 chapter fanfic ini. Dan dari versi aslinya cerita ini sudah aku ubah sedikit (atau banyak?) agar tidak terlalu janggal. Aku harap yang sudah atau belum membacanya masih bisa menikmati chapter ke-10 fanfik ini.

.-.-.-.-.

Chapter 10: The Nail

(Penulis asli: Anonymous, Digubah oleh: Vylenzh)

.-.-.-.-.

Apakah kau pernah dinyanyikan lagu nina bobo oleh Ibumu sebelum tidur? Lagu seperti apa yang Ibumu nyanyikan? Apakah sama seperti yang selalu Ibuku nyanyikan ini?

"Waktunya untuk tidur, The Nail sudah dekat.

Tapi anak penurut tak perlu takut.

Tutup mata kirimu, lalu yang kanan.

Saatnya ucapkan selamat malam."

Katakanlah, kau pernah. Karena teman-temanku tak pernah mengetahui lagu tersebut. Padahal selama 9 tahun hidupku, aku pikir itu lagu pengantar tidur biasa yang dinyanyikan oleh seluruh Ibu di dunia ini. Apa mungkin Ibu hanya mengarang saja?

Aku tak tahu dan Ibu tak pernah menjelaskan arti lagu tersebut. Jujur, aku ingin mengetahuinya. Siapa itu The Nail? Kenapa harus menutup mata kirimu baru yang kanan? Apa adakah bedanya jika dibalik? Aku bertanya-tanya.

"Apa yang sedang kaupikirkan, Naruto?" Teman sekelasku, Sakura bertanya.

Aku menggeleng sekilas. "Tidak ada."

"Benarkah?" Sakura menatapku selidik. "Kukira itu tidak benar, wajahmu tidak mengatakan demikian."

Aku tertawa canggung. "Baiklah, aku sedang memikirkan lagu pengantar tidur yang Ibu nyanyikan setiap malam."

"Ah, yang The Nail itu? Kau sudah tau artinya?" Sakura menatapku antusias. Memang dia salah satu yang mengetahui akan lagu pengantar tidur itu.

Aku mendengus sesaat. "Kalau sudah tau, aku tidak mungkin memikirkannya Sakura-chan."

"Oh," balasnya kecewa.

"Kupikir sebaiknya kau bertanya kepada Ibumu, Naruto. Bukankah kau penasaran dengan arti lagu tersebut?" lanjutnya.

Aku memikirkan perkataan Sakura. Ya, mungkin aku harus bertanya kepada Ibu nanti malam. Mungkin, tapi.

.-.-.-.-.

Malamnya, jam 9 setelah aku menyelesaikan PR, rasa kantuk menyerangku. Niat awal ingin menanyakan lagu pengantar tidur itu aku urungkan. Aku tak lagi bisa menunda rasa kantukku ini. Selain itu Ibu belum pulang kerja, walaupun aku yakin setelah aku akan terlelap, Ibu akan datang ke kamarku seperti biasa menyanyikan lagu tersebut.

Setelah mematikan lampu, aku segera masuk ke balik selimut hangatku ini dan menutup kedua mataku. Oke, aku memang mengantuk. Sangat. Tapi dinyanyikan oleh Ibu setiap malamnya membuatku kecanduan. Aku pikir, di umurku yang ke-9 ini aku masih bergantung dengan nyanyian Ibu setiap malam.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara langkah mendekat dan memasuki kamarku. Aku segera membuka mataku kembali. Akhirnya Ibu datang dan akan menyanyikan lagu itu. Ibu pun mulai menyanyikannya di samping ranjangku, aku tak bisa melihatnya karena gelapnya kamarku. Setelah itu Ibu menyanyikannya, masih lagu yang sama. Aku pun mengikuti apa yang terdapat di lirik lagu tersebut. Aku menutup mata kiriku lalu yang kanan. Setelah keduanya terpejam aku mencoba untuk tertidur.

Namun, pikiranku sepertinya menentangku. Aku memikirkan kembali arti lagu tersebut dan mengandaikan apabila aku tak mematuhi apa yang ada di lirik lagu tersebut. Yang berarti bagaimana bila aku membaliknya.

Aku bersumpah, tak mengharapkan sesuatu terjadi. Ini hanya sebuah bentuk pemberontakan sekaligus rasa penasaran dari seorang anak berumur 9 tahun. Namun, tetap saja aku tak berani melakukannya di hadapan Ibu. Jadi, setelah memastikan Ibu tak lagi berada di kamar aku membuka kedua mataku kembali. Dan kali ini aku menutup mata kananku dulu lalu...

Oh Tuhan, aku telah melihat sesuatu!

Dadaku berdegup kencang. Seseorang berada di sana, di tengah cahaya remang-remang yang masuk melewati jendela kamarku. Sekilas aku melihat sesosok lelaki berdiri di pojok ruanganku. Ia berdiri di sana, menghadap ke dinding.

Aku pun lekas menutup mata kiriku. Aku gemetaran dan merinding ketakutan. Aku bertanya-tanya siapa sosok itu. Bagaimana dia ada di kamarku. Aku takut.

Aku mencoba menenangkan diriku. Mungkin itu hanya ilusi. Atau mungkin hanya siluet bayangan yang dihasilkan dari cahaya bulan dan ketakutanku. Ya, mungkin itu. Jadi, aku pikir ketika aku membuka kedua mataku lagi aku tidak melihatnya.

Syukurlah...

Kupikir sosok itu tidak nyata karena aku tidak melihatnya lagi. Aku tertawa dalam hati menyadari ketololanku. Tidak mungkin kan ada orang bisa masuk ke kamarmu begitu saja?

Iya kan?

Namun, pikiranku seperti melaju kencang dalam kepalaku. Aku tak yakin aku telah melihat sesuatu tadi namun itu tampak nyata. Sangat nyata bagi indera penglihatanku. Aku ingin mengatakan kepada diriku bahwa itu tidak nyata dan hanya imajinasi. Tapi bagaimana jika sesuatu itu memang nyata dan ada di sana. Sesuatu yang mungkin hanya bisa dilihat dengan mata kananku yang tertutup. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini. Mungkinkah dia selalu berada di kamarku? Setiap malam? Jika begitu, mungkin saja dia tidak berbahaya kan? Dia tidak bermaksud menyakitiku kan?

Tapi, bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika malam ini ia ingin menyakitiku?

Aku takut jika aku melihatnya lagi. Tapi aku penasaran jadi aku menutup mata kananku kembali. Dia tak lagi berada di pojok ruangan. Kini ia berada tepat di samping ranjangku. Dan dari sedikit cahaya yang menyinari kamarku, aku melihat bahwa ia sedang memegang pisau yang diarahkan tepat di atas dadaku.

Saat ia menurunkan pisau itu, aku segera berguling jatuh ke lantai. Aku mendengar bunyi selimut sobek ketika pisau itu menembus dan mencabiknya. Kedua mataku kini membuka seluruhnya namun aku masih tetap bisa melihatnya. Ia menoleh ke arahku dan aku memutuskan berlari mencari Ibuku.

Ia kemudian berjalan ke arahku, langkahnya pendek namun berdebam menakutkan ketika aku mulai berlari menuju pintu kamarku yang tertutup di tengah gelapnya kamarku. Aku menoleh dan melihatnya. Kini lebih jelas dari sebelumnya.

Awalnya aku pikir dia lelaki, ternyata aku salah. Bukan berarti dia perempuan, aku tak yakin karena wajahnya tak bisa dibedakan dia lelaki atau perempan. Mungkin dia keduanya atau bukan keduanya. Aku tak memikirkannya lagi karena nyawaku sekarang yang paling penting. Aku harus segera keluar dari kamarku dan mencari Ibu.

Namun ada 3 hal yang kuingat dari sosok mengerikan itu.

Matanya hanya satu yang terbuka lebar berwarna kemerahan. Tidak, matanya tidak terpusat di tengah seperti makhluk-makhluk dongeng di buku cerita yang pernah kubaca. Matanya masih berada di tempat normal, di sebelah kiri selayaknya manusia biasa. Namun di tempat dimana seharusnya mata kanan berada tidak ada apapun di sana. Tak ada lubang atau apapun. Hanya kulit yang halus, seolah tak pernah ada apapun di sana.

Tidak hanya itu. Yang mengerikan lainnya adalah mulutnya. Ia tersenyum, membuka mulutnya lebar. Namun di antara kedua bibirnya, seperti tak ada apapun. Tak ada gigi maupun rongga mulut. Yang kulihat seperti lempengan keramik yang rata dengan garis-garis yang menyerupai gigi dilukis di atasnya.

Belum lagi kukunya. Ya, benar kukunya. Itu menjijikkan dan mengerikan. Awalnya yang kupikir adalah pisau ternyata adalah kukunya. Hanya ada satu dan itu berada di jari tengahnya di tangan kanan. Jari-jari lainnya tampak normal. Namun, jari tengahnya membesar dengan ukuran yang menjijikkan. Kuku itu terlihat tajam dan melengkung seperti pisau mencuat di ujung jari tersebut.

Akhirnya aku berhasil mencapai kenop pintu kamarku. Sayangnya pintu itu sepertinya macet. Makhluk itu terus mendekatiku sambil meringis bengis. Pisau, ah bukan tapi kukunya terarah kepadaku.

Aku nyaris berteriak saat itu, belum lagi kukunya yang hampir menghujam ke dadaku lagi bilamana aku tidak berhasil membuka pintu.

Ketika pintu itu terbuka aku langsung berlari sekuat-kuatnya. Pada akhirnya tangisan yang awalnya kutahan keluar juga. Aku menangis menjerit-jerit menuju kamar Ibuku. Aku tidak menoleh ke belakang lagi. Aku ketakutan!

Sesampainya di kamar Ibu aku langsung membuka pintu kamar tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku melompat ke atas tempat tidur yang langsung membangunkan Ibu dari tidurnya.

"Ada apa sayang?" Ibu menoleh kepadaku yang langsung menerjang memeluknya.

"Aku melihatnya!" ujarku terisak di dalam dekapan Ibu. "Aku melihat The Nail!"

"The Nail?" Ibu bertanya keheranan.

Aku memeluk Ibu lebih erat. "The Nail dari lagu itu! Aku melihatnya ketika aku menutup mataku, Ibu."

"Lagu apa, Naruto? Ibu tak mengerti maksudmu," ujar Ibu seraya melepas pelukanku dan menatapku.

Aku menatap Ibu dengan wajah yang basah dengan air mata. "Lagu nina bobo yang selalu Ibu nyanyikan setiap malam di kamarku sebelum tidur. Lagu itu."

Wajah Ibuku langsung tampak merasa bersalah.

"Naruto sayang, maafkan Ibu, Nak. Ibu tahu Ibu salah selalu pulang larut malam sehingga agak mengabaikanmu. Namun, Ibu tak pernah menyanyikan lagu nina bobo untukmu. Tiap kali Ibu mau masuk ke kamarmu untuk mengucapkan selamat malam, kau selalu sudah tertidur. Ibu tak pernah masuk ke kamarmu, sayang. Maafkan Ibu."

-end-

Hai semua. Kupikir ini chapter terpanjang ya?

Well, aku tidak menyangka fanfiction ini bertahan hingga 10 chapter ketika niat awalku mungkin hanya beberapa chapter saja. Niat memang tak pernah selalu sesuai rencana, benar? Untuk seluruhnya yang menemani fanfiction ini, aku ucapkan terimakasih. Eh tenang, ini bukan perpisahan kok. Cuma ucapan terimakasih setulus-tulusnya.

Untuk reviewer chapter kemarin: slamet(titik)b(titik)raharjo(titik)9 (Yep, begitulah), Syalala Lala (Mungkin saja.), Berlian Cahyadi (Hebat, rinci sekali. Dan tentu tepat sekali.), Akemi Miharu (Iya, tepat.), Kiria-Akai11 (Sale dimana-mana. Haha...), UzumakiDesy (Yep, jahat ya :( kasian mereka.), Zaa-chan (Update lagi!), Ly Melia (Makasih, udah lanjut nih.), Guest (Iya, keterlaluan memang.), Aya Yunokawa (Update lagi dan benar sekali tebakanmu.), Jeseey (Dua-duanya bisa jadi. Dan selamat datang.), tanpopo-popo (Udah dilanjut nih...), otorie (Apapun itu tetap mengerikan bukan?), Zangetsu-kun (Betul dan selamat datang pendatang baru.) & sabaku(titik)husnul (Yep, tepat sekali.).

Review again?