Heartbeat
EXO Fiction
Characters: Chanyeol, Jongin (Kai), Jongdae, Luhan, Kim Minseok (Xiumin), Kris, with BTS
Pairing: ChanKai, KrisKai
Warning: BL, Typo
Rated: T-M
Boomiee92
Hai ini chapter sepuluh selamat membaca, maaf atas segala kesalahan terutama typo. Saya ngebut update sebelum puas. Happy reading all….
Previous
"Berdua, di rumah SeokJin, dua orang dewasa." Kris mengangkat alis kanannya. "Menurutmu akan terjadi apa?" Kris tak menunggu reaksi Jongin, memutar tubuhnya ia melangkah keluar.
Jongin melangkah mundur tanpa sadar, ia membutuhkan tempat untuk bersandar. Kakinya terasa lemas. Dia percaya dengan Chanyeol dan dia sudah menyerahkan semuanya pada Chanyeol namun di sisi lain keraguan mulai muncul. Apakah Chanyeol mengkhianatinya? Dan kenapa Kris mengetahui semua itu? Seharusnya Jongin mempertanyakan darimana Kris mendapatkan berita itu namun pikirannya terlalu berkabut tentang pengkhianatan Chanyeol padanya.
Punggung Jongin menabrak dinding di belakangnya dan saat itu ia biarkan kedua kakinya menyerah. Jatuh terduduk. Kedua matanya terasa panas dengan cepat. "Chanyeol hyung…," memanggil nama yang terkasih dengan suara bergetar bercampur keraguan menyelinap cepat di dalam hatinya.
BAB SEPULUH
"Kim SeokJin." Kris melempar tatapan meremehkan. "Apa yang membawa tikus sepertimu masuk ke kandang singa?" SeokJin tak membalas. "Apa cintamu pada Chanyeol begitu besar?"
"Aku ingin mengambil Jongin darimu."
"Ah!" Kris tersentak tentu dengan nada main-main, ia lantas mendudukan dirinya ke atas kursi mahal berwarna putih di depan perapian, menatap SeokJin merendahkan. "Apa kau tidak merasa sayang jika Jongin kembali? Itu artinya kau tidak bisa tidur dengan Chanyeol sesuka hatimu."
"Kau bersedia untuk menyerahkan Jongin secara baik-baik atau aku akan mengambilnya secara paksa?"
Kris tersenyum miring. "Coba saja kalau kau bisa Kim SeokJin. Apa kau tidak melihat pengawalku?"
"Aku melihatnya. Aku melihat mereka semua."
"Dan kau tidak membawa sekompi pasukan, apa itu bukan bunuh diri."
"Aku membawa pasukan tenang saja jika kau mencemaskan keselamatanku Kris Wu."
"Bangsat!" Kris berdiri dari duduknya menatap SeokJin murka. "Habisi dia." Perintah Kris pada kelima pengawal yang sejak tadi berdiri di sisi kanan dan sisi kiri tubuhnya.
"SeokJin tersenyum, ia menekan alat komunikasi yang terpasang di telinga kanannya. White Witch, lakukan pembersihan sekarang."
Kelima pengawal Kris maju bersamaan, mengeluarkan pistol mereka SeokJin berlari cepat untuk menghindar, bersembunyi di balik salah satu tiang besar penyangga bangunan. Kris tertawa terbahak, kemenangan di depan mata, ia kembali duduk dan suara tembakan merdu mulai menggema di seluruh ruangan.
.
.
.
Taehyung dan Jungkook berada di atas cabang pohon sikamor raksasa di depan halaman rumah mewah Kris mereka naik setelah melumpuhkan lima penjaga. "Kenapa pasukan elit penambak jarak jauh seperti kita harus memanjat pohon dengan banyak semut, astga." Gerutu Taehyung.
"Hmmm." Jungkook hanya menggumam malas.
"Kenapa kau santai sekali?! Tidak takut jika semut itu masuk ke celana dalammu Jeon Jungkook?!"
"Tidak. Tutup mulutmu Tae lakukan saja tugasmu."
"Panggil namaku dengan sopan bocah sial! Ingatkan padaku untuk menaikkan pajak pada SeokJin hyung, untuk pekerjaan merepotkan seperti ini dia hanya membelikan aku sebuah burger kurang ajar sekali." Taehyung masih meneruskan gerutuannya.
"Hmmm." Untuk kedua kalinya Jungkook menggumam malas.
"Aku ingin Pizza, demi boneka singaku yang imut."
"White Witch, lakukan pembersihan sekarang."
"Siap Kapten. Tae lindungi pasukan Yoongi hyung aku akan menembak penjaga di dalam rumah yang bersiap menyerang SeokJin hyung."
"Siap Jungkook. Tanpa panggilan sopan lagi akan aku tembak bokongmu."
Jungkook hanya tersenyum miring menanggapi Taehyung iapun mulai membidik lima orang yang mengeluarkan pistol dan bersiap menyerang SeokJin, lima orang yang sudah dia intai sejak setengah jam yang lalu. Memicingkan mata kanannya, amunisi sudah terisi penuh. Pelatuk di tarik dengan sasaran pistol-pistol di tangan para penjaga. "1, 2, 3, 4, 5. Selesai." Ucap Jungkook.
"Kau hebat Kookie," puji Taehyung. "Yoongi hyung berbelok ke kanan, sepuluh penjaga di sana dengan pistol. Aku akan membantu dari atas." Ucap Taehyung pada Yoongi lewat alat komunikasi mereka.
Yoongi berdiri memimpin pasukannya, mereka sedang bersembunyi di balik dinding menunggu arahan dari tim pengintai. Alat komunikasi berdengung pelan. "Masuk." Perintah Yoongi.
"Yoongi hyung berbelok ke kanan, sepuluh penjaga di sana dengan pistol. Aku akan membantu dari atas."
"Siap Tae." Yoongi menaikkan tangan kanannya memberi isyarat pada pasukan di belakangnya untuk bersiaga. Letusan pistol terdengar. "Hoseok, Namjoon bergerak cepat ke kiri!" Perintah Yoongi. Sementara dirinya berlari cepat menyongsong suara letusan pistol. "Jimin lindungi aku!"
"Siap!"
Kesepuluh penjaga yang bingung dengan suara pistol mengeluarkan senjata mereka, namun kalah cepat dari penembak misterius yang menembaki senjata mereka entah dari arah mana. Keterkejutan mereka belum selesai saat keempat orang dengan masker hitam bersenjata lengkap menyergap. "Buat pingsan!" Yoongi memberi perintah.
Dari atas pohon Sikamor Taehyung tersenyum melihat kehebatan pasukan yang Yoongi pimpin. "Sepuluh down." Lapor Taehyung pada rekan kerja di samping kirinya.
"Lima down." Sambung Jungkook dengan seringai kelinci menyebalkannya.
"Yoongi hyung kalian bisa masuk, kami akan tinggal dan mengawasi dari sini." Taehyung memberikan laporan terbaru kepada Yoongi.
Yoongi menatap ketiga anggota pasukan yang dia pimpin. "Kita masuk anak-anak, tetap waspada, ingat untuk melumpuhkan bukan menghabisi, jika keadaan berbahaya terpaksa tembak di tulang kering. Mengerti?"
"Siap!"
Taehyung mengamati barisan semut sedangkan Jungkook masih mengawasi keadaan sekitar dengan tekun, namun sesekali ia menggumamkan lagu favoritnya. Keduanya mulai bosan. "Taehyung….," gumam Jungkook.
"Aku tembak bokongmu bocah sial!" Ancam Taehyung.
"Kau melihat orang lain di dalam rumah?"
"Tidak."
"Awasi pintu gerbang mungkin bantuan datang."
"Bantuan siapa?! Ini operasi rahasia untuk mendapat bonus makan Pizza!"
"Bantuan untuk Kris dasar alien bodoh." Dengus Jungkook.
"Ah aku pikir…., sudahlah aku awasi pintu gerbang kau awasi keadaan di dalam rumah."
"Aku sudah melakukannya sejak tadi." Jungkook memutar bola matanya dengan malas sebelum memfokuskan perhatiannya pada operasi penyelamatan ini.
Tinggi tubuh Kris memang terpaut jauh dari SeokJin namun bukan masalah besar bagi SeokJin jika dia harus menghadapi Kris seorang diri masalahnya adalah pengawal Kris. Jika dirinya terlalu lama menghadapi para pengawal Kris tidak menutup kemungkinan jika Kris akan membawa Jongin pergi.
"Kau tahu SeokJin, tindakanmu ini melanggar hukum apa kau tahu resikonya?"
"Aku tidak memakai seragam dinas. Kurasa untuk hal melanggar hukum kau lebih berpengalaman dibandingkan aku." SeokJin tersenyum diakhir kalimat membuat Kris mengeluarkan geraman murkanya.
"Aku benar-benar ingin mematahkan lehermu Kim SeokJin." Kris maju berniat untuk menyerang SeokJin namun keempat orang yang menerobos masuk dengan senjata lengkap membuatnya terpaku, ia melihat bagaimana para penjaga di rumahnya dibuat tak berdaya.
"Jungkook cari posisi Jongin." SeokJin memberi perintah hanya selang beberapa detik jawaban dari Jungkook dia terima.
"Lantai dua dari tangga ke kanan pintu cat cokelat muda, terlihat seperti kamar tidur yang besar."
"Terimakasih." SeokJin menatap Kris datar. "Aku ambil Jongin, Namjoon ikut aku sisanya berjaga di sini."
"Siap!"
SeokJin berlari menuju tangga di belakang tubuhnya Kim Namjoon mengikuti dengan kewaspadaan penuh. "Jungkook atau Taehyung, salah satu dari kalian siapkan mobil di depan pintu."
"Siap!"
.
.
.
Suara letusan nyaring di bawah dan yang jelas bukan berasal dari letusan kembang api membuat Jongin ketakutan, berulang kali ia menghampiri pintu dan jendela untuk mendapai semua pintu dan jendela terkunci. Maka di sinilah dia berakhir duduk di bawah meja mahogany berukuran sedang berharap untuk mendapatkan perlindungan dari kayu keras itu. Perlindungan dari apapun termasuk peluru-peluru tajam yang mungkin akan menyapanya tanpa permisi.
"Ah!" Jongin berteriak panik mendengar letusan senjata api yang terdengar begitu nyaring. Ia tenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut kakinya sambil menutup kedua telinganya.
BRAKK! Pintu kamar didobrak, suara langkah kaki mendekat. Tubuh Jongin mulai gemetaran ia berharap tubuhnya bisa menghilang sekarang dan tak terlihat oleh siapapun. "Hei." Ucapan lembut itu menarik perhatian Jongin namun ia belum memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya. "Hei, aku akan membawamu pulang ke keluargamu." Setelah kalimat itu diucapkan barulah Jongin berani mengangkat kepalanya.
"Be—benarkah?" Suara Jongin bergetar, laki-laki di hadapannya tersenyum ramah membuat Jongin tanpa sadar ikut tersenyum ia merasa aman sekarang.
"Ayo." SeokJin mengulurkan tangan kanannya, Jongin menggenggam tangan SeokJin.
"Kau bisa berjalan?" SeokJin tahu jika Jongin memiliki masalah dengan jantungnya, Chanyeol yang memberitahu semua tentang Jongin.
"Ya." Jawab Jongin singkat.
Kedua mata SeokJin menyipit memperhatikan wajah pucat Jongin. "Sayangnya aku tidak percaya, ayo naik ke punggungku." SeokJin melepas jaket abu-abu yang ia kenakan kemudian memakaikan jaket itu pada tubuh Jongin. "Kita pergi sekarang sebelum bantuan untuk Kris datang."
Menutupi kepalanya dengan jaket pinjaman dari orang asing yang menyelamatkannya, Jongin pada akhirnya menurut untuk menaiki punggung SeokJin tanpa tahu jika orang asing yang menyelamatkannya adalah seseorang yang menghancurkan hatinya. "Kita pergi sekarang!" SeokJin memberi perintah.
"Siap!"
Jongin memejamkan kedua matanya ia tidak ingin melihat semua ini. Ia tidak ingin melihat Kris, ia hanya ingin pulang kembali ke keluarganya. Meski Kris sudah memperlakukannya dengan sangat baik tempat ini bukanlah tempat dimana seharusnya dia berada.
"Jongin kau tidak ingin mengucapkan perpisahan denganku?!" Suara Kris yang terluka membuat Jongin hampir luluh dan menoleh kepada Kris, namun ia menguatkan diri untuk tidak luluh dengan bujukan Kris.
Jongin membuka matanya ketika merasakan tubuhnya sudah tidak lagi berada di dalam gendongan penolongnya. Ia berada di dalam sebuah van dengan tiga orang laki-laki berpakaian serba hitam, memegang senjata laras panjang, dan bertopeng, duduk mengelilinginya. "Jangan takut, mereka tidak akan melukaimu. Dua di depan Suga dan Jimin. Sisanya…., kalian perkenalkan diri dengan sopan." Perintah mutlak SeokJin.
Jongin tersentak, saat topeng-topeng itu dibuka ketiga wajah laki-laki muda menyapanya, mereka tersenyum lebar dan Jongin yakin mereka pasti memiliki umur yang hampir sama dengannya atau bahkan lebih muda dari dirinya. "Aku Namjoon." Seorang laki-laki tersenyum dengan dua lesung pipit dalam menghiasi wajahnya.
"Aku Taehyung."
"Jungkook."
"Paki sabuk pengaman kita akan meluncur dalam kecepatan tinggi." Peringat Taehyung. Jongin kembali merasa gugup dan membiarkan Taehyung memakaikannya sabuk pengaman. "Jangan takut, Suga hyung sangat berpengalaman kita akan aman." Taehyung tersenyum diakhir kalimat.
"Kecelakaan yang terjadi hanya satu kali kami menabrak pagar pembatas jembatan."
"Jungkook kurasa itu tidak perlu disampaikan." Taehyung tersenyum canggung kepada Jongin. "Jangan dengarkan Jung…,"
"Aku hanya membeberkan fakta." Potong Jungkook. "Tenanglah Jongin, kita tidak akan mati."
"Jungkook, Jongin lebih tua panggil dengan sopan." Peringat SeokJin.
"Kami tidak kenal dekat." Jungkook membalas dengan nada malas.
"Maafkan dia. Jungkook selalu begitu bahkan dengan semua orang di sini."
"Aku memanggilmu dengan sopan, SeokJin hyung!" Protes Jungkook.
SeokJin, SeokJin, SeokJin. Tubuh Jongin seketika menegang. Saat tangan SeokJin menyentuh punggung tangan kirinya Jongin ingin sekali menyentak tangan itu dan mendorong tubuh SeokJin menjauh. "Sebentar lagi kita sampai, bersabarlah sedikit." Ucap SeokJin. Jongin memilih diam rasanya sangat berbeda, rasa aman saat pertama kali melihat laki-laki yang menyelamatkannya tiba-tiba berubah menjadi amarah dan kebencian setelah dirinya mengetahui siapa nama si penolong itu.
Selama perjalanan yang cukup jauh, melewati jalan tanah tak dikenal dan dalam kecepatan tinggi yang seharusnya membuat Jongin takut, sebaliknya Jongin tak merasakan apapun kecuali perasaan menekan di dadanya yang setiap detik semakin tak tertahankan. Van akhirnya berhenti di halaman luas sebuah vila yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi.
"Ayo keluar sekarang." SeokJin melangkah turun lebih dulu, diikuti Jongin dan sisa orang memilih untuk tetap berada di dalam van.
"Rumah lain Chanyeol." Ucap SeokJin tanpa perlu ditanya oleh Jongin. "Keluargamu ada di sini untuk sementara waktu demi keamanan kalian."
"Kenapa kau tidur dengan Chanyeol?"
Semua orang terdiam untuk beberapa saat, pertanyaan tentang urusan pribadi pemimpin pasukan membuat semua orang tiba-tiba canggung. "Kurasa kami akan membereskan sisa pekerjaan SeokJin hyung." Ucap Suga.
"Ya. Tunggu aku di dekat pohon Birch aku segera menyusul." SeokJin menjawab sambil menatap Jongin. "Masuklah semua orang sudah menunggumu."
"Jawab pertanyaanku, jangan mengelak."
"Maaf. Aku tidak memiliki jawaban yang lebih baik dari kata maaf, jadi aku minta maaf."
"Apa itu cukup?" Jongin menatap SeokJin dengan kedua mata yang mulai sembab, ia tidak ingin terlihat lemah tapi sekarang ia merasa sedang dipermainkan. Ya, semua orang sedang mempermainkannya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Apa aku terlihat begitu mudah dimatamu dan Chanyeol?"
"Semua terjadi begitu saja Jongin, percayalah kami tidak merencanakan itu semua." SeokJin menyentuh lengan kanan Jongin. "Masuklah." Ucapnya berusaha membujuk Jongin dan mengkahiri perdebatan melelahkan ini.
Jongin menepis tangan SeokJin dari lengan kanannya. "Kau ingin mengatakan padaku untuk melupakan semuanya, bertemu dengan Chanyeol seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara kalian?"
SeokJin memijit pelan batang hidungnya, percakapan ini membuatnya frustasi. "Maafkan aku sungguh itu semua terjadi di luar kendali kami. Selanjutnya kau selesaikan sendiri dengan Chanyeol."
"Apa kau melihatku sangat lemah?"
"Tidak, bukan seperti itu Jongin." SeokJin ingin menjelaskan lebih lengkap namun ia merasa semuanya sia-sia. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku. Dan meski maaf tidak akan mengubah apapun maafkan aku." SeokJin lantas memutar tubuhnya memunggungi Jongin dan berlari menuju van untuk bergabung dengan teman-temannya.
"Apa kau mencintai Chanyeol?"
"Tidak." Jawab SeokJin singkat tanpa menatap Jongin. Dadanya bergemuruh ia tahu cinta untuk Chanyeol itu masih ada, namun, di dunianya cinta hanyalah penghalang. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya secara tragis akibat pekerjaan berbahayanya. Menjadi sendiri adalah pilihan terbaik. "Aku tidak mencintai Chanyeol, maafkan aku. Tugasku sudah selesai, aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu dan juga dari Chanyeol. Tolong sampaikan padanya."
Kedua telapak tangan Jongin mengepal kuat, menatap punggung SeokJin yang menjauh. Ia ingin sekali menghentikan langkah kaki itu, ia ingin mengatakan banyak hal kepada SeokJin yang sebagian besar adalah kemarahan. Namun, dirinya terpaku di tempat, selalu, dan selalu menjadi seseorang yang tak berdaya. Jongin membenci dirinya yang lemah seperti ini.
"Jongin!" Sebuah teriakan nyaring menarik perhatian Jongin, ia tersenyum melihat ayah, ibu, nenek, dan kakak laki-lakinya tergesa berlari menyongsong kedatangannya. Tanpa sadar Jonginpun ikut berlari, ia benar-benar merindukan keluarganya.
"Ibu." Ucap Jongin tertahan, ibunya adalah orang pertama yang ia pilih untuk dipeluk.
"Jongin kau baik-baik saja?! Jongin, putraku." Ucap nyonya Kim disela isak tangis.
"Ya, aku baik-baik saja Ibu. Maafkan aku karena aku keluarga kita menjadi seperti sekarang."
"Tidak, itu bukan salahmu jangan menyalahkan dirimu Jongin. Ibu sangat senang kau kembali dengan selamat." Jongin hanya mengangguk pelan kemudian ia beralih memeluk ayah, nenek, dan terakhir kakak laki-lakinya.
Jongin melangkah mundur menghindari pelukan Chanyeol. Menatap tepat pada kedua bola mata Chanyeol. "Kenapa kau tidur dengan SeokJin?" Chanyeol terkejut namun tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Jongin tersenyum perih. "Aku sudah bertemu langsung dengan SeokJin. Dia laki-laki menawan dan terlihat hebat, pasti sangat berbeda denganku. Aku mengerti jika kau tertarik pada SeokJin. Aku juga berpikir apa perasaanku padamu adalah cinta."
"Jongin aku…,"
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku Chanyeol hyung." Ucap Jongin memotong kalimat Chanyeol. Jongin mempererat genggaman tangan kanannya pada telapak tangan Minseok. Menatap sang kakak kemudian tersenyum lembut. "Aku lelah sekali, rasanya aku bisa tidur seharian penuh."
"Ya." Minseok menjawab canggung ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali ikut melangkah pergi saat Jongin menariknya pergi.
Dada Chanyeol terasa sesak, ia membuat kesalahan. Ia sadar akan hal itu dan darimana Jongin mengetahui semuanya kini tak penting lagi. Kepercayaan Jongin sudah menghilang, dan Chanyeol hanya bisa tersenyum perih. Ia menunggu Jongin sangat lama dan karena satu kesalahan semuanya hancur.
TBC
Terimakasih untuk semua pembaca yang sudah menunggu cerita ini, yang mengikuti cerita ini, maaf karena update terlambat yah…. Ide saya untuk cerita ini sedang mengalami krisis. Terimakasih reviewnya fyhunssi, Guest, Oh Kins, Siangel kai, chan nyeol, Kiki2231, Guest, Lelakimkaaaaaa, Ovieee, kaila, kim, yousee, cute, SparkyuELF137, Park Rinhyun Uchiha, Kim Jongin Kai, jongiebottom, KaiNieris, ulfah cuittybeams, geash, hunexohan, Kim762, jjong86, YooKey1314, vivikim406, Parkchan1027, firstkai94, ID28. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
