©Anggara Dobby

[Warning!] Bahasa Campuran —Alay teenlit kekinian gak baku—BoysLove alias Humu, DLDR, typo(s), Absurd.

Indonesia!AU

Saya menganut aliran keras 'Tidak Suka Tidak Usah Baca!'

.

.

Chapter 10 : Sakit

.

.

.

.

.

.

.

Sehun terdiam di duduknya dengan segelas kopi hitam yang masih mengepul di tangannya. Tadinya dia ingin menyesap satu-dua batang rokok sebagai temannya, tapi dia urungkan, bisa gawat kalau Pembina tau dia berani merokok di sini. Sehun memang perokok aktif, sehari bisa sampai dua bungkus, tapi akhir-akhir ini dia sudah mengurangi kebiasaan tidak sehatnya itu. Apalagi semenjak Luhan tidak sengaja memergokinya tengah merokok—anak itu tidak mau bertemu dengannya beberapa hari, maka dari itu Sehun kapok merokok di sembarang tempat.

Ini sudah nyaris jam satu pagi, tapi dia masih tetap terjaga dengan seribu pikiran di otaknya. Ciuman yang dia berikan pada Luhan beberapa jam yang lalu masih sangat membekas, mungkin tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun. Itu pertama kalinya dia mencium seorang lelaki, adik kelasnya pula. Sehun merasa bersalah.., sedikit.

Lebih banyak senangnya.

Haha.

Luhan memang tidak marah, sih. Anak itu hanya diam, bahkan ketika dia balik ke tenda, dia hanya berlari meninggalkan Sehun tanpa pamit. Sehun jadi merasa ketar-ketir sendiri. Anak itu kenapa? Apa dia terganggu karena ciumannya? Tapi tadi Luhan sempat memeluknya sekilas.

Ah, tauk ah. Sehun tidak bisa menebak jalan pikiran bocah itu.

"Kenapa sih, bro?" Chanyeol tiba-tiba datang dengan segelas kopi di tangannya juga, dia mengambil alih tempat kosong di samping Sehun untuk diduduki. "Ngelamun mulu. Kesambet setan sini tau rasa lo!"

Sehun tidak menanggapi candaan receh temannya itu, dia malah bertanya dengan nada mengambang, "Salah gak sih kalo gue suka sama Luhan?"

"TUH 'KAN LO NAKSIR LUHAN JUGA!" —Chanyeol malah teriak antusias, gak sadar tempat. Mereka ini lagi ada di dalam hutan, cukup jauh dari tenda anak-anak, nanti kalau ada 'penghuni' hutan yang keganggu karena suara bagongnya itu gimana?

"Berisik, anjing." Iya, memang seperti inilah mulut Sehun aslinya.

Chanyeol ketawa, entah bagian mana yang lucu, selera humornya memang anjlok. "Gue kira lo cuma niat goda-godain Luhan doang, ternyata beneran naksir. Ya gak apa-apa, sih. Gak kaget lagi gue kalau yang lo taksirin itu bocah macem Luhan."

Sehun nengok ke arah Chanyeol dengan satu alis terangkat. "Gimana maksudnya?"

"Gini ya.., Sehun, bukannya gue berlebihan atau gimana, tapi hampir cowok lurus di sekolah kita itu belok karena Luhan. Gue gak ngerti kenapa mereka segampang itu belok cuma karena bocah lempeng macem Luhan yang bahkan gak ada aura menggodanya sama sekali.., tapi makin lama gue makin paham. Luhan itu anaknya baik, manis, lucu, polos.. pantes anak-anak di sekolah jadi homo karena tuh anak. Dan sekarang lo juga yang gue kenal lurus selurus-lurusnya orang lurus jadi bengkok."

"Salah gak, sih?" tanya Sehun, pelan. Ini pertama kalinya dia naksir cowok, jadi Sehun agak ragu sama perasaannya, terkadang. Mungkin dia cuma suka sama Luhan sebatas kakak ke adiknya, tapi di sisi lain, dia gak suka liat Luhan dipandangin sama orang lain. Gak wajar 'kan perasaan kayak gitu kalau cuma sebatas kakak-adek?

"Dalam konteks apa nih?" balas Chanyeol. "Kalau dalam konteks agama ya jelas salah, tapi kalau sebagai manusia biasa yaa gak salah juga.., 'kan bukan lo yang mau dapet perasaan ini. kata orang, cinta itu anugerah, datangnya dari Tuhan. Kalo lo dikasih perasaan kayak gini, berarti lo dipercaya sama Tuhan buat ngasih cinta lo ke orang itu. tapi kalo orang yang lo cintai itu sejenis sama lo.., ya itu ujian, bukan anugerah. Tinggal lo pilih mau jalan yang mana, mau lanjutin perasaan lo yang kata orang 'gak normal' ini atau berhenti dari sekarang."

Ini yang Sehun suka dari Chanyeol. Dia itu walau suka guyon, suka gak jelas, tapi di waktu tertentu dia bisa jadi tempat curhat yang paling pas. Sehun selalu nganggap Chanyeol sebagai kakaknya kalau lagi di timing-timing begini.

"…kalo lo gimana, Chan?"

"Gue?" Chanyeol ketawa sebentar, "Lanjutin dulu, lah. Gue gak bisa ninggalin Baekhyun, udah terlanjur sayang."

Terus si Ketua OSIS itu menyesap kopinya, sebelum bilang, "Kalo saran gue sih, agak sesat nih tapi, lo jalanin aja dulu sama Luhan. Lo sayang dia 'kan? Gak ada salahnya lo perjuangin dia. Anaknya baik ini, gak neko-neko, gak bikin lo terjerumus ke dalem dosa … kecuali kalo lo mendadak nafsu sama dia dan ngelakuin yang oh yes oh no, itu baru dosa."

"Si goblok." Sehun mukul kepalanya Chanyeol sekilas sambil ketawa.

"Udah jam satu," kata Chanyeol sambil ngelirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Kuy briefing! Ntar Bang Kris ngomel-ngomel kalo kita telat."

Sehun menghabiskan segelas kopinya lalu menepuk-nepuk celananya untuk membersihkan rumput yang menempel sebelum berdiri. "Yuk,"

"Udah, jangan overthingking, bro. Kalo jodoh gak bakal kemana kok, nanti juga ketemu di pelaminan. Entah sebagai pendampingnya atau sebagai tamu undangannya." kata Chanyeol sambil berjalan merangkul Sehun.

"Sialan lo! Hahaha. Btw, thanks, gue dapet pencerahan nih tengah malem."

"Yo'i! gak usah sungkan sama gue mah."

.

.

.

.

.

.

Luhan masih mengantuk. Demi apapun, matanya masih minta hak-nya. Tapi dia memaksakan diri untuk membuka matanya kalau tidak mau mati di sini. Iya…, mati. Siapa yang tidak kaget jika sedang tertidur tiba-tiba dibangunkan dengan cara yang ekstrem? Kakak-kakak kelasnya, dengan tidak berprikemanusiaan, teriak-teriak di depan tenda mereka seperti orang yang mau mengajak tawuran. Lalu mereka menyuruh untuk segera siap-siap dalam lima menit dan menuju lapangan untuk berbaris. Habislah Luhan. Mana sepatunya hilang sebelah pula—dia nyaris menangis karena panik, tapi untungnya Junhoe menemukan sepatunya dan bantu memasangkan tali sepatunya buru-buru.

Bahhh, macam Cinderella aja ini.

Dan di sinilah Luhan berada, tepat jam satu malam—pagi sebenarnya, mah—, di tengah lapangan dengan udara dingin yang menusuk. Dia hanya menggunakan kaos hitam berlengan panjang dan celana pramuka, jadi udara dinginnya benar-benar menusuk kulitnya. Atmosfer di sini terasa berbeda. Dingin, menusuk, mencekam.., ugh, ini muka kakak-kakak kelasnya kenapa pada garang gini, sih? perasaan tadi malam masih baik-baik saja semuanya. Luhan heran.

"Baris yang rapi dalam hitungan ketiga. SATU, DUA, TIG—SAYA BILANG YANG RAPI, JANGAN KAYAK BEBEK MAU DIANGON!"

Para peserta keder. Baru bangun, nyawa belum sepenuhnya kumpul, sudah dibentak-bentak disuruh baris pula, ya.., berantakan lah.

"Bangun!" Chanyeol membuka suaranya, sangat dingin. Ketua OSIS sekaligus ketua panitia pelaksana itu berjalan mengelilingi adik-adik kelasnya dengan sebotol besar air mineral di tangannya. Dia mencipratkan air itu ke wajah para peserta yang dilewatinya.

"Enak ngga tidurnya?" tanyanya, masih dengan nada dinginnya.

Semua peserta tidak menjawab.

"Saya tanya, ENAK NGGAK TIDURNYA?!"

Luhan sedikit berjengit kaget. Suara kak Chanyeol serem banget, sumpah.

"WOY! GAK PUNYA KUPING APA GIMANA? JAWAB ITU PERTANYAAN KAK CHANYEOL!" Jessica, salah satu senior yang terkenal judes, ikut-ikutan.

"ENAK, KAK!"

"Buset.., siapa itu yang berani jawab?" gumam Jongin, matanya liar mencari-cari anak yang barusan menjawab dengan lantang.

"Siapa yang barusan jawab?" tanya Chanyeol. Peserta yang lainnya merinding, berdoa semoga saja anak yang menjawab tadi nyawanya masih bisa diselamatkan setelah ini.

Salah satu tangan terangkat, semua mata tertuju ke dia, "S-saya.., kak."

Chanyeol tersenyum remeh. Itu yang menjawab pertanyaannya dia ternyata anak yang se-regu sama Baekhyun, si Kim Jongdae. Chanyeol menandai anak itu menjadi targetnya nanti. Sementara Jongdae meneguk ludahnya susah payah melihat pandangan super mematikan dari kakak kelasnya itu. Mampus ini mah! Jongdae menyesal kelepasan menjawab tadi.

"Enak ya kalian tidur, sementara kakak-kakak kalian harus tetap terjaga buat kalian." desis Jongin, "Kalian pikir dateng ke Cibubur ini buat liburan? Seneng-seneng, iya? Pake bawa gitar segala, bawa tongsis, bawa tripod—WOY BEGO! INI BUKAN LIBURAN!"

Para peserta terdiam semua, tidak ada yang berani bersuara, bahkan mengeluarkan suara napas saja mereka harus hati-hati.

"JANGAN NUNDUK, BERDIRI TEGAP! ANAK PRAMUKA NGGAK ADA YANG LOYO!"

Luhan, salah satu peserta yang menunduk, buru-buru meluruskan kepalanya. Baru dia bisa melihat jejeran seniornya yang saat ini sedang dalam mode macan galak. Ada kak Chanyeol, Jongin, Jessica, Minho, Krystal, Jisoo, Yixing, dan Dongho.., tidak ada Sehun. Ada dua Pembina juga yang sejak tadi hanya terdiam, menyimak, Kak Suho dan Kak Minseok. Luhan bingung, kenapa sih mereka tiba-tiba marah begini? Kurang tidur atau gimana?

"Kalian tau kenapa saya ngumpulin kalian jam segini?" tanya Suho.

"Siap tidak, Kak!" koor semua peserta.

Suho tersenyum kecil, adem banget, pembawaannya yang kalem sukses membuat para peserta yang tadi tegang kini mulai sedikit santai. "Duduk aja,"

Suho ketawa melihat anak-anak didiknya tidak kunjung duduk sesuai perintahnya, malah berekspresi takut. "Gak apa-apa, saya yang nyuruh kalian buat duduk. Gak bakal diapa-apain kok sama kakak-kakak yang di belakang saya," katanya, sambil melirik Chanyeol dkk yang masih memasang wajah sangar di belakangnya.

Akhirnya, seluruh peserta duduk di atas rumput lapangan yang dingin.

"Kalian dikumpulin di sini untuk mencari pos. Sebelumnya kalian udah dikasih tau 'kan bakal nyari pos di jam segini?" mulai Suho, memberi jeda sebentar, lalu melanjutkan, "Ada 6 pos yang tersebar di hutan, kakak-kakak kalian udah stay di sana, tugas kalian adalah mencari pos-pos tersebut dan menjalankan tugas serta materi yang diberikan sama penjaga pos di sana. Kalian hanya diperbolehkan membawa dua senter per-regu. Dan, ada kain merah yang udah diikat di pohon-pohon sama kakak panitia, fungsi kain itu adalah sebagai petunjuk kalo kalian gak boleh melewati area yang ditandai tersebut."

"Kalian harus balik ke sini tepat jam empat pagi. Sebelum subuh. Gak ada yang boleh telat atau ketinggalan." tambah Kak Minseok. "Pinru harus bertanggung jawab sepenuhnya kalo ada anggotanya yang menghilang. Jadi, kalian harus tetap kompak dan saling bahu-membahu selagi mencari pos ini."

"Yixing, kasih tau mereka rute sama clue materi setiap pos-nya." suruh Kak Suho.

Yixing mengangguk lalu mulai menjelaskan rute pos yang dicatat oleh para peserta. "Nanti kalian gak boleh bawa catatan ini pas nyari pos, ya? Kalian harus hafalin jalannya sendiri."

Terdengar suara keluhan dan helaan napas panjang dari semua peserta. Alamat bisa nyasar ini, sih.

"Dan untuk materi di pos itu ada sandi-sandi, keagamaan, sejarah pramuka, PBB dan LKBB, kode kehormatan pramuka dan menfis. Saya gak bakal ngasih tau pos berapa yang ngambil materi mana, kalian harus bisa menebaknya sendiri. Tapi, tenang aja, nanti penjaga pos bakal ngasih clue ke kalian, kok. Oh iya, pastikan kalian udah nguasain semua materi yang tadi saya sebutin, ya! Semoga berhasil adek-adek!"

"Mampus ada menfis!" ucap Hanbin, putus asa.

Luhan yang duduk tepat di belakang Hanbin bertanya bingung, "Emang menfis itu apaan, Bin?"

"Mental Fisik, Han." jawab Hanbin, teman-teman seregunya ikut memandangnya bingung. "Pos kematian. Isinya pasti malaikat pencabut nyawa semua. Mati udah ini kita mah caranya."

Luhan menggaruk pelipisnya, makin bingung, "Malaikat pencabut nyawa beneran? emang ada yang kayak gitu di pramuka?"

Hanbin menepuk jidatnya sendiri, cukup frustrasi. Memang ya, kalau memberi penjelasan pada Luhan itu tidak akan cukup sekali.

"Bukan, maksud aku penjaga di pos itu tuh gak ada bedanya sama iblis-iblis di neraka. Menfis artinya Mental Fisik.., otomatis di pos itu mental sama fisik kita bener-bener diuji. Pos ini yang paling ditakutin dalam sejarah kemping-kempingan, karena kejamnya bukan main, minimal tamparan aja mah kita bakal dapetin. Gak ada bedanya pokoknya pos ini sama latihan militer!"

Luhan dan teman-teman seregunya yang mendengar penjelasan pinru mereka itu menahan napas. Serius? semengerikan itu? entah kenapa Luhan rasanya ingin pulang saja…

.

.

.

.

.

Pukul 02:30 WIB, Hanbin CS sudah menyelesaikan pos ke-lima mereka, sekarang mereka menuju pos enam yang letaknya paling jauh dan ujung. Regu mereka yang paling cepat menyelesaikan materi-materi pos, karena memang sebelumnya Hanbin menggeber anak buahnya untuk menguasai materi. Dan untungnya juga, di regu mereka ada Baekhyun yang Jongdae yang pandai mengambil hati penjaga pos agar mereka tidak lama-lama ditahan di pos tersebut. Iya, kadang penjaga pos itu suka iseng. Suka menahan mereka lama-lama dan memberi hukuman yang aneh-aneh.

Tadi aja Hanbin dan Daehyun sempat disuruh mengajak ngobrol pohon bambu di pos dua. Mustahil banget si pohon bisa jawab, yang ada penghuninya nanti yang ngejawab. Dan begonya, Hanbin malah marah-marah karena si pohon gak jawab pertanyaannya.

"Eh lo budeg, ya? Gue tanya, lo punya pacar nggak? Jawab! Jangan diem aja, sok cantik lo anjay!"

Dan Hanbin sukses mempermalukan teman-teman se-regunya di depan kakak kelas mereka.

Sebelum mereka menuju pos enam, mereka harus mencari kacu mereka dulu yang tadi sudah diberikan ke para panitia setelah api unggun. Kacu itu sudah disembunyikan di sepanjang hutan yang spot-nya terlihat sangat angker dan mistis. Jurit malam—siapa sih yang gak kenal kegiatan ini? Kegiatan yang paling dihindari ketika kemah pramuka. Buat anak yang bermental tempe, jurit malam adalah momok yang paling menakutkan buat mereka.

"Kalian harus cari kacu kalian di sekitar sini sampe ketemu dan pastiin lilin yang kalian pake itu tetep nyala. Jangan ngelewatin pohon yang udah kita pasangin kain merah, ngerti?" ujar Yuri, salah satu penjaga pos lima.

"Siap mengerti, Kak!" regu Garuda dua menjawab kompak.

"Setelah kacu kalian ketemu, langsung dipake! Dan kalian lanjut nyari pos enam. Pos terakhir. Oke? Good luck, semuanya!" lalu Yuri dan satu teman yang tadi mendampinginya kembali ke pos lima, meninggalkan regu Hanbin yang berdiam diri dengan lilin-lilin menyala di tangan mereka masing-masing.

"Takut..," rengek Baekhyun sambil mengapit lengan Daehyun. Gak mau pisah itu anak sejak tadi, mumpung tidak ada Chanyeol, katanya. "Daehyun bareng aku aja ya nyarinya?" diucapkan sambil kedip-kedip macam orang kelilipan pasir satu bak.

Daehyun ngegeleng, "Engga, ah! Kamu penakut, nanti yang ada kamu malah ngerepotin aku." tolaknya.

"Ihhh, kok kamu gitu sih?!" Baekhyun mukul-mukul bahunya Daehyun. Bukan pukul-pukul manja, tapi emang pukul beneran. Daehyun sampai ngeringis-ringis kesakitan dipukul sama Unyil yang satu itu.

Kyungsoo memutar bola matanya malas melihat tingkah Baekhyun. "Kalian berdua kayak orang pacaran," celetuknya.

"Ya 'kan emang! Iyakan, sayang?" Baekhyun berkedip genit pada Daehyun seraya memeluk lelaki itu dari samping.

"E-e-engga. A-apaan, sih!"

Baekhyun tertawa melihat reaksi Daehyun. Kayak biasanya, gugup dan gagap.

"Oke, sekarang kita mencar aja nyari kacunya, ya? Biar cepet." usul Hanbin. "Karena makin kita cepet dari regu lain, makin dapet poin tambahan kita nanti."

Pssttt… guys, Hanbin itu benci kalah. Dia itu terobsesi banget sama yang namanya kemenangan. Makanya, walaupun dia agak sableng jadi pinru, gitu-gitu dia selalu mikirin strategi biar menang. Apalagi sama regunya Jinan—dia harus ngalahin si pendek bermulut pedes itu biar Jinan gak songong lagi sama dia.

"Gak mau ah kalo sendiri!" protes Luhan, yang langsung diangguki Baekhyun. "Nanti kalo aku diculik penghuni hutan ini gimana?"

"Ya ga gimana-gimana. Tinggalin aja,"

"Hanbiiinnnn!"

Hanbin menghindar dari serangan jambakan Luhan secepat kekuatan bulan.

"Sama aku aja, Lu?" tawar Junhoe, yang sejak tadi diam, mengamati area di sekitarnya. Luhan sudah melebarkan senyumannya dengan mata berbinar-binar, siap menempeli Junhoe, tapi Hanbin cepat-cepat menghalangi.

"Nggak. Nggak ada!" kata si Pinru, tegas. "Pokoknya harus sendiri-sendiri nyarinya. Tadi kata Kak Yuri 'kan juga gitu, harus nyari sendiri-sendiri. Karena ini tugas individu, bukan regu."

Luhan sukses merengut. Dia bersumpah bakal ngejambak Hanbin nanti selepas nyari kacu ini.

"Yaudah, jangan ngebuang waktu lagi. Kita nyari dari sekarang. Nanti kalo udah ketemu, kita kumpul di sini lagi, oke? Jangan sampe nyasar lho, ya!" kata Hanbin sambil melirik Luhan, menyindir. Anak buahnya yang satu itu memang hobby nyasar, sih.

"Yel-yel dulu dong. Biar gak tegang, bosque." ujar Jongdae.

Lalu mereka menyatukan tangan mereka bersama dan berseru, "GARUDA DUA.., HA'E HA'E HA'E HA'E ICIKIWIRRRRR!"

Jangan protes sama yel-yel mereka. Itu yang buat si Jongdae, penggemar acara dangdut di Inosiar. Makanya begitu.

Setelah menyemangati satu sama lain, mereka mulai berpencar mencari kacu masing-masing dengan satu lilin yang menjadi penerang. Jongdae yang paling semangat kelihatannya, dia mau ngumpulin banyak kacu, terus dia sembunyiin lagi di tempat yang susah—iseng banget emang. Dia memang bukan penakut, sih, anaknya pemberani. Saking beraninya, dia terobsesi ingin bertemu Mbak Kunti. Katanya, mau dipaku kepalanya si Mbak, biar jadi manusia. 'kan lumayan kalo udah jadi manusia, bisa Jongdae gebet. Kata orang zaman dulu, Mbak Kunti kalo jadi manusia itu wujudnya cantik banget, dan kalo ada yang nikahin dia, pasti orang itu bakal kaya. Hng, macem di film Suzana.

Makanya Jongdae tergiur. Iyain aja lah, ya.

Beda lagi sama Baekhyun yang udah jerit-jerit histeris, padahal baru melangkah dua kali. Alay banget emang anak yang satu ini. Kyungsoo dan Junhoe tipe yang anteng ketika mencari, gak banyak bersuara. Kalau Daehyun mendadak jadi hafidz—surah pendek semuanya dia baca sambil gemeteran, nyaris pipis di celana. Dan Pinru kita, alias Hanbin, yang tadi sok berani dan sok mau cari sendiri sekarang udah teriak-teriak kayak Baekhyun. Lari sana-sini, kakinya gak sengaja nginjek ranting dia teriak 'APAAN ITU APAAN? MATI GUE MATI MATI YA GUSTI!' berisik banget pokoknya.

Sementara Luhan..,

"Bunda, Ayah, maafin Luhan! Luhan udah nakal selama ini, sering makanin bumbu mie instan yang dilarang Bunda, sering ngambil duit gocengan dari duit Bun—AAAAAAAA MAAFIN LUHAN MAAFIN! BESOK LUHAN TOBAT, GAK NAKAL LAGI ALLAHUAKBAR."

…padahal gak ada apa-apa. Cuma gak sengaja kejatuhan ranting doang.

Luhan berlari kecil ketika melihat seutas kain merah-putih yang mengintip dibalik tumpukan dedaunan di bawah pohon besar. Itu pasti kacu! Luhan tersenyum girang, ternyata gak sesulit yang dia bayangkan mencari kacu ini.

"Permisi, permisi, Luhan cuma mau ambil kacu punya Luhan doang. Jangan dimarahin, ya? Maaf kalo Luhan ngeganggu. Janji abis ini Luhan langsung pergi deh—WAAAAA JANGAN GANGGUIN LUHAN DONG! YAILAH RESE AMAT, SIH!"

Kakak-kakak panitia yang nyamar jadi hantu-hantuan, yang masih sembunyi—yang tadi iseng lempar-lempar ranting ke arah Luhan—, cekikikan liat tingkah Luhan yang lucu. Akhirnya, mereka keluar juga buat beraksi. Makin jadi lah Luhan teriak-teriaknya.

"Luhan 'kan itu, ya?"

"Iya, yang gemesin itu. Yang lucu anaknya."

"Kerjain lah, hayu!"

Luhan celingak-celingukan was-was dengan muka pucatnya, "SIAPA ITU YANG BISIK-BISIK?" teriaknya. Luhan kalau lagi takut memang senangnya teriak-teriakan.

Lalu penampakan seonggok kain putih yang diikat-ikat melintas di depan Luhan. Makhluk itu loncat-loncat dengan suara-suara horror yang dibuat-buat. Luhan yang memang penakut dan tidak curiga sama sekali kalau itu adalah kakak kelasnya yang menyamar refleks berteriak kencang.

"WAAAAAAAAAA LONTOOOOOOONG!"

Typo, Luhan sayang.., harusnya pocong.

Luhan berlari kencang seperti seekor kijang yang hendak diburu, dia bahkan menabrak pocong-pocongan itu hingga jatuh. Terdengar umpatan 'ADAW ANYING!' dari si pocong jadi-jadian, tapi Luhan tidak sempat mendengarnya karena dia sudah berlari menjauh.

Sangat jauh malah.., dan melewati kain-kain merah yang terikat di beberapa pohon.

Luhan baru berhenti ketika dia merasa lingkungan di sekitarnya sepi, tidak ada backsound-backsound ala film horror dan suara cekikikan wanita. Luhan tersengal, dia berusaha mengatur napasnya sebaik mungkin. Lilin di tangannya sudah mati sejak dia berlari tadi, dan kini Luhan tidak punya penerangan lagi selain cahaya bulan di atas sana.

"Aku dimana ini?" Luhan bermonolog seraya mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Hanya ada hamparan rumput luas dengan beberapa pohon di sekitarnya, tak jauh dari sana ada sebuah bangunan cukup besar yang kosong dan gelap. Sangat hening.., tidak ada tanda-tanda teman-temannya atau hantu-hantuan yang mengganggunya tadi. Bahkan jeritan Hanbin dan Baekhyun yang tadi sempat dia dengar samar-samar kini tidak ada. Menyisakan sebuah keheningan yang mencekam. Hanya suara jangkrik yang sesekali terdengar.

Luhan meneguk ludahnya susah payah. Fix, ini dia nyasar. Apalagi melihat bangunan di dekatnya, bangunan itu cukup jauh dari tempat kemahnya, setahu Luhan. Itu bangunan yang sempat dia lewati kemarin bersama teman-teman seregunya untuk mencari kayu bakar.

Kata Jongdae, bangunan itu adalah aula yang tidak terpakai, di dalamnya banyak bilik kamar mandi. Jongdae dan Hanbin iseng masuk, tapi baru beberapa langkah, mereka berdua sudah berlari keluar lagi sambil menjerit ketakutan. Katanya, di sana paling banyak 'penghuni'-nya. Banyak peserta kemah dari sekolah lain yang melihat penampakan di sana.

Dan bukan salah Luhan jika dia mulai ketakutan sekarang.

Dia sendirian, tidak ada penerangan, di tempat yang paling dihindari pula.., Luhan rasanya mau nangis. Tapi lelaki manly tidak boleh nangis! Dia anak pramuka! Harus kuat dan tahan banting!

"…Serem banget, sih.."

Luhan berjalan pelan-pelan ketika melewati bangunan tersebut. Dia takut, tapi rasa penasarannya yang tinggi muncul di saat yang tidak tepat seperti sekarang, alhasil matanya terus saja tertuju pada bangunan itu.

"MIAWWWWW!"

Luhan berjengit kaget saat kucing hitam tiba-tiba melintas di depannya dan berlari kencang, masuk ke dalam bangunan tersebut. Jantungnya kian berdegup kencang, bahkan sekarang dia sudah banjir keringat. Ya ampun.., keterlaluan. Luhan belum pernah setakut ini.

Dan penampakan selanjutnya benar-benar klimaksnya. Seorang anak kecil, entah 'seorang' atau 'sesosok', berlarian di sekitar bangunan seraya tertawa riang. Luhan benar-benar melihatnya dengan jelas! Anak itu tidak memakai baju, hanya sebuah popok menutupi bagian bawahnya, rambutnya panjang dan gimbal, lalu wajahnya…, sepucat kertas dengan bola mata hitam pekat. Anak itu berhenti sejenak, membalas pandangan Luhan dengan seringaian, lalu kembali berlari dan menghilang di antara kegelapan.

Luhan tidak berteriak atau bergerak sama sekali.

Dia tidak tahu makhluk apa anak kecil itu, tapi yang jelas eksistensinya memberi dampak yang sangat besar bagi tubuhnya.

Akhirnya, Luhan hanya bisa berjongkok dan menutup wajahnya di antara kedua lututnya yang melemas. Dia menangis. Dia benar-benar takut sekarang.

"H-hei?"

Luhan menegang ketika dia merasakan ada sebuah tangan mendarat di bahunya. Dia tidak berani mengangkat wajahnya. Alhasil, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Pergi sana! Aku gak ganggu kamu, jadi jangan ganggu aku! Hiks!" yah, gak jadi manly deh. Nangis kenceng soalnya dia.

"Luhan?" orang yang menepuk bahunya itu ternyata tahu namanya. "Hei, bangun dulu."

Luhan kayak kenal suaranya…

Dia mendongak, lalu menemukan seorang lelaki berbadan tegap dengan senter di tangannya. Lelaki itu memasang wajah yang khawatir sekali. Luhan seketika merasa lega. Sangat lega, malah.

.

.

.

.

.

"…Kak Kris?"

.

.

.

.

.

.

Luhan tiba di pos enam setelah diantar oleh Kris tadi. Dia melihat teman-temannya sudah berbaris rapi, baru ada regu mereka saja di pos ini. Luhan yang masih belum terlalu sembuh dari ketakutannya itu berjalan perlahan, hendak menghampiri teman se-regunya. Dia merasakan seluruh pasang mata di pos itu tertuju padanya. Dan Luhan berani bersumpah kalau kakak-kakak penjaga pos seperti ingin menelannya hidup-hidup.

Termasuk Sehun..,

Iya, penjaga pos ini sepertinya sengaja dipilih yang orangnya gahar-gahar dan terkenal judes. Ada Chanyeol, Jongin, Dongho, Jessica, Hyunsik, Soyou, Kihyun.., dan selebihnya Luhan tidak terlalu kenal.

Pos ini bahkan jauh lebih menakutkan dari area tempat Luhan nyasar tadi. Serius.

"K-kak, izin masuk barisan?" ujar Luhan, ragu-ragu. Dia hendak balik kanan dan masuk ke dalam barisan, tapi sebuah suara yang sangat dingin dan menusuk membatalkan niatnya.

"Gak boleh!"

Itu Sehun.

Luhan terdiam di tempatnya, berdiri dengan kepala tertunduk. Suara Sehun sangat dingin.., seperti bukan Mas Sehun-nya yang biasa.

"Jangan nunduk! Berdiri tegap!" –suara Chanyeol.

Luhan sontak berdiri tegap. Dia melihat Sehun berjalan menghampirinya dengan wajah yang benar-benar tak bersahabat. Berbeda sekali dari yang semalam, seolah-olah tadi malam Sehun tidak pernah duduk di sampingnya dengan petikan gitar dan… menciumnya. Wajah Luhan memanas tidak tahu malu ketika mengingat ciuman semalam. Waktunya sedang tidak tepat untuk memikirkan hal itu tau!

"Kenapa dateng sendirian?" tanya Sehun, masih dengan nada dinginnya. Bahkan sorot matanya seperti ingin membunuh Luhan.

Luhan meneguk ludahnya susah payah, "I—itu..,"

"Kenapa dateng sendirian?" Kali ini penuh penekanan yang membuat sekujur tubuh Luhan semakin dingin.

"Aku.., aku—"

"JAWAB YANG BENER!"

Luhan berjengit kaget. Ini pertama kalinya dia mendapat bentakan dari Sehun. Mas Sehun. Sefatal apapun kesalahan Luhan kemarin-marin saat pramuka, dia tidak pernah mendapat bentakan sekasar ini dari Sehun.

"Aku nyasar," Luhan menjawab pelan. Tidak berani memandang mata Sehun yang semakin berkilat tajam.

"Bego banget sih, udah gede masih nyasar aja." Salah satu senior perempuan, Soyou, menyeletuk pedas.

"Senior lo udah masang susah payah kain merah di pohon-pohon emang gunanya buat apa kalo bukan buat penanda biar lo gak nyasar? MIKIR TOLOL! PUNYA MATA GAK SIH BUAT LIAT TUH PENANDA?!" Senior lain menyahut tak kalah sengit.

"Kalo lo ilang emang siapa yang susah? KITA! SENIOR LO! JANGAN NYUSAHIN JADI ANAK. DI SINI KITA BUKAN NGURUSIN LO DOANG!"

Luhan kembali menunduk, kali ini lebih dalam. Ini pasti pos MenFis. Untuk Fisik, Luhan cukup kuat. Tapi untuk mental.., Luhan akui dia lemah. Dia gak bisa mendengar bentakan, makian, dan hinaan. Apalagi dalam waktu yang bersamaan kayak gini. Luhan tidak cukup kuat untuk menahannya.

"Maaf, Mas..," Luhan mencicit.

"Kakak, bukan Mas! Saya senior kamu! Jangan sok akrab!" Sehun kembali membentak, membuat Luhan makin ciut. Serius, Luhan rasanya ingin lari aja dari pos ini.

Jangan sok akrab, katanya? Terus kedekatan mereka kemarin-marin itu apa? Luhan tersenyum getir dalam hati.

"I-iya, Ma—Kak."

"Yang tegas dikit, dong! Lemes amat, sih!" salah satu senior perempuan mendorong bahunya cukup kasar, membuat Luhan sedikit limbung, tapi dia berusaha mempertahankan posisi berdiri tegapnya.

"Maaf, Kak!"

"Tau gak apa arti kedisiplinan?" tanya Sehun, dingin.

Luhan menggigit bibir bagian bawahnya, "Tau, Kak." dengan memanggil Sehun dengan sebutan 'Kakak' seperti ini, Luhan semakin merasa jauh dan asing dengan lelaki itu.

"Apa?"

"Mematuhi semua peraturan, datang tepat waktu?" Luhan menjawab ragu-ragu.

"Kamu udah disiplin belum?" kali ini nada bicara Sehun cukup menusuk.

Luhan menggeleng pelan, rasa bersalah kian menyelimuti dirinya.

"Kenapa belum? Di pramuka udah berapa bulan, sih? Bukannya udah diajarin?" tanya Sehun, beruntun. "Kamu udah gede, bukan anak SMP lagi yang harus diperjelas apa makna disiplin itu! Seharusnya kamu udah bisa nerapin sikap disiplin!"

"Saya gak suka ya ada anak pramuka yang gak disiplin, apalagi lelet kayak kamu. Pramuka gak butuh orang yang kayak kamu."

Kalimat terakhir Sehun membuat dada Luhan merasa sesak. Harus berapa lama lagi Luhan di sini? Dia tidak kuat mendengar semua ucapan sengit Sehun. Luhan memang mengaku kalau dia bersalah. Dia datang terlambat, dan tidak dengan teman-teman se-regunya. Tapi entah kenapa, Luhan merasa kesalahannya tidak sebesar itu sampai harus dipojokan seperti ini.

"JANGAN NUNDUK! INI SENIOR KAMU YANG LAGI NGOMONG! HARGAIN DIKIT!"

Luhan kembali berjengit kaget. Dia tidak terbiasa dengan bentakan Sehun. Sampai kapan pun mungkin tidak akan terbiasa. Luhan akhirnya mendongak, membalas pandangan Sehun dengan sendu. Luhan tidak melihat ekspresi bersalah, menyesal, atau kasihan di mata Sehun. Seniornya itu benar-benar memandangnya dengan sengit, seolah-olah Luhan adalah musuh terbesarnya. Rahangnya bahkan mengeras, menandakan betapa kesalnya seniornya itu pada dirinya.

Luhan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak boleh menangis sekarang! pokoknya gak boleh!

"Maaf, Kak." hanya itu yang bisa keluar dari bibir Luhan.

"Pinru, maju ke sini!"

Hanbin yang sejak tadi memandangi Luhan dengan tatapan bersalah sedikit kaget ketika dia dipanggil oleh Sehun. Dia balik kanan, meninggalkan barisan, lalu berdiri tepat di sebelah Luhan yang terlihat menyedihkan itu.

"Ini anak buah kamu?" mulai Sehun seraya menunjuk Luhan.

"Siap iya, Kak!" Hanbin menjawab lugas.

"Kenapa dia bisa dateng sendirian?"

Hanbin terdiam, tidak bisa menjawab.

"KENAPA DIA BISA DATENG SENDIRIAN?! JAWAB, JANGAN DIEM AJA, TOLOL!"

Suasana hutan yang hening semakin terasa mencekam setelah bentakan Sehun terdengar, bahkan bergema. Senior lain juga tampaknya menikmati sekali saat-saat seperti ini. Berbeda dari anak-anak regu Hanbin yang sudah ketar-ketir ketakutan di posisi mereka. Sehun bicara biasa saja udah seram, apalagi bentak-bentak kayak gini. Gemetarlah mereka semua.

"Saya gak tau, Kak.." Hanbin menjawab lemah.

Sehun mendekat, berhadapan dengan Hanbin dengan sorot mata sengit. "Pinru macem apa sih? Goblok banget. Ada anak buahnya nyasar malah gak tau. Ngapain aja? Mojok? Cipokan? Ngewe? IYA?!"

"Siap tidak, Kak!" suara Hanbin mulai gemetar. Luhan melirik anak itu lewat ekor matanya. Dia merasa kasihan dengan cowok yang biasanya bertingkah konyol itu. Ini bukan salah Hanbin.., ini sepenuhnya salah Luhan.

Napas Luhan sedikit memburu, dia marah sekali saat ini dengan Sehun.

"Salah siapa kalo udah kayak gini?"

"Siap, salah saya, Kak!"

Luhan kali ini menengok ke arah Hanbin, dia berbisik 'Bukan salah kamu, Bin!' ketika Hanbin juga tak sengaja menengok ke arahnya. Hanbin hanya tersenyum kecil seraya berkata 'Gak apa-apa.' tanpa suara.

"Siap dihukum kalo gitu, ya?" desis Sehun.

PLAK!

Luhan melotot saat Sehun menampar pipi Hanbin dengan keras. Bukan hanya Luhan, teman-teman se-regunya juga sudah melotot terkejut. Bahkan Pinru Garuda II itu sedikit limbung akibat tamparan Sehun, tapi dia buru-buru berdiri tegap lagi, seolah-olah baru saja tidak terkena tamparan. Hanbin memang anak yang cukup kuat, jadi dia tidak gampang goyah.

Luhan semakin merasa bersalah pada Hanbin. Pasti sakit sekali tamparan yang diberikan Sehun. Suaranya sangat nyaring gitu, kok. Melihatnya saja Luhan sudah ngeri.

"Anak buah kamu juga salah. Tampar dia!" kata Sehun.

Hanbin memandang Sehun dengan kaget, "S-saya, Kak?" tanyanya, gagap.

"Iya. Dia 'kan yang bikin kamu dapet tamparan dari saya? Sebagai Pinru kamu harus tegas, dia juga salah. Tampar dia sekarang." Sehun berujar enteng.

"Gak bisa, Kak." Hanbin menunduk dalam-dalam. Mana bisa dia menampar Luhan? Walaupun Luhan ceroboh, suka protes, dan suka membuatnya kesal, Hanbin tidak tega jika harus melayangkan tamparannya pada teman se-regunya itu.

Pos ini benar-benar menguji mentalnya.

"Kenapa gak bisa? Suka sama dia?"

Hanbin menggeleng cepat. Sedikitnya dia tau jika Luhan dekat dengan senior di depannya ini, bisa mampus dia kalau bilang dia menyukai Luhan.

"Iya? Suka kamu sama dia?" tangan Sehun menunjuk-nunjuk Luhan.

"Siap tidak, Kak!" Hanbin kali menjawab dengan tegas.

"Yaudah tampar sekarang!"

"…maaf, kak. Saya gak bisa..,"

"Pinru gak becus." Sehun berdesis tajam. Membuat Hanbin menunduk.

Luhan merasakan tangannya berkeringat ketika Sehun berdiri di depannya dengan wajah sukar ditebak. Sehun menatapnya lama. Luhan tidak tahu apa arti tatapan itu, yang jelas saat ini dia merasa dadanya semakin sakit. Rasanya sesak sekali. Segala bentakan kasar, hinaan dan makian Sehun mengiang jelas di telinganya. Luhan tahu, Sehun harus professional. Dia itu senior di sini, dan Luhan hanya adik kelasnya.., dia bukan siapa-siapa. Seharusnya perlakuan Sehun ini tidak menyakiti hatinya.

PLAKK!

Luhan memejamkan matanya—membuat air mata yang sejak tadi membendung di pelupuk matanya mengalir begitu saja.

Rasa panas menjalari kulit pipinya, lalu berubah menjadi rasa nyeri dalam detik berikutnya. Luhan bisa mendengar orang-orang di sekitarnya tercekat, bahkan ada yang memekik tidak percaya.

Luhan juga tidak percaya…

Tidak mau percaya kalau Sehun baru saja menamparnya dengan keras. Tamparan yang sama seperti yang Hanbin dapatkan tadi.

Luhan membuka matanya, mendapati Sehun masih berdiri di hadapannya dengan tatapan terluka. Itu baru Mas Sehun-nya. Mas Sehun yang kemarin selalu mau dibuat susah olehnya, Mas Sehun yang selalu mengantarnya pulang, Mas Sehun yang semalam duduk di sampingnya dengan senyuman tulus… Mas Sehun yang menciumnya dan mengatakan kalau dia menyayangi Luhan.

Jadi.., yang semalam itu apa?

Apa Sehun hanya main-main?

Luhan tidak tahu. Sehun sulit ditebak. Kadang dia sedekat nadi, tapi kadang terasa amat jauh untuk dijangkau.

Rasa sakit di wajah Luhan tidak seberapa dengan rasa sakit di dadanya. Luhan belum pernah merasa sesakit ini. Benar-benar nyeri, seperti dicubit dengan keras—atau bahkan lebih dari itu. Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Terlalu kelu lidahnya.

Luhan menunggu-nunggu apa yang dikatakan Sehun selanjutnya, tapi seniornya itu malah memejamkan matanya sesaat —tampak lelah dan frustrasi di saat yang bersamaan— lalu berbalik, meninggalkan Luhan.

"SQUAT JUMP 100 KALI KALIAN SEMUA! PUSH-UP ABIS ITU!"

Luhan merasakan tangannya digenggam, dia menoleh ke samping, mendapati Hanbin yang tersenyum sedih seolah mengatakan 'Gak apa-apa Luhan. Ada aku sama yang lain di sini.'

Bukannya merasa kuat, air mata Luhan justru kian mengalir.

Dia mau pergi dari sini..

—dan tidak mau bertemu lagi dengan Mas Sehun.

.

.

.

Tobecontinued—

.

.

.

a/n :

kesel ngga? wkwk. Setelah gak update ini berabad-abad, tapi sekalinya update malah begini. HAMPURA GAES HAMPURA WKWKWKW. Tadinya mau gue lanjutin, tapi kayaknya lebih greget tbc di sini hahaha /digebuk rame-rame/

Tenang, tenang, nanti gue usahain next chapter secepatnya.

Btw, ini gue flashback banget gila. KANGEN KEMPIIIINGGG BUHUHU. Sebagian dari cerita di atas kejadian nyata. Dan kejadian di jurit malam dan pos enam juga beneran ada, tapi lebih ekstrem dan sadis. Itu mah Luhan gak ada apa-apanya. Gak tega gue nyiksa Luhan wkwk.

Ada yang pernah kemping di cibubur? Tau bangunan kosong yang ditemuin Luhan ngga? itu beneran ada bangunannya lho. gue sama temen-temen pernah nekat masuk, dan emang serem banget tempatnya. Eh pas malemnya, temen-temen pada kesurupan setan situ haha. Yah, flashback lagi deh gue. Udah ah.

BTW LAGIIIII, kok gue suka Hanbin x Luhan yaaa? Kayaknya cocok bapak pinru sama kijang yg suka nyasar ini :D /dicolok sehun/

Udah ah, bacot banget ini.

See you soon ya gaesssss! Buat yg setia nungguin FF ini dan kasih review, fav dan follow, I woof yuuuu pokoknya mah! /cipok cipok/