"Hei..Kau mau membawaku kemana?"
"Dimana rumahmu?"
Chanyeol mendorong Jongin untuk duduk di kursi depan, tepat disamping kursi pengemudi. Jongin menghela nafas mendengar Chanyeol yang terus mengalihkan pertanyaannya. Ia pun juga tidak berbicara lagi, membiarkan Pria itu kesal karena Jongin juga tidak menjawabnya.
"Untuk apa kau tahu?" sengit Jongin dengan nafas terengah. Keningnya terlihat basah oleh keringat dingin.
"Hei! Aku mengkhawatirkan mu da—a! Maksudku...hm ya."
Jongin mendengus geli, membuang pandangannya pada Jendela mobil—Melihat beberapa kios pedagang kaki lima di pinggir Jalan membuat dia teringat bibi penjual buah didekat apartemennya. Jongin ingat dia sudah banyak mencuri dan berhutang disana, mungkin tindakannya itu menyusahkan bibi itu.
Sedangkan Chanyeol harus beberapa kali melirik lelaki disampingnya. Benar juga, wajah Jongin yang hitam itu bahkan lebih pucat daripada kemarin. Bodoh sekali dia baru menyadari hari ini.
"Manager-nim?"
"Hm?"
Jongin menyahut pelan, lalu tersentak oleh tangan besar yang menyetuh keningnya sekilas.
"Tsk, Kau benar-benar.." Jongin menepis tangan Chanyeol, kemudian kembali membuang muka ke jendela.
Chanyeol melihat wajah Jongin dari spion. "Jadi, Rumah mu?"
Pria itu mengulum bibir nya, entah kenapa merasa berdebar menunggu jawaban Jongin. Ey Sebentar—Dia hanya bertanya tempat tinggal Jongin. Itu bukan hal aneh. Lagipula dia tidak mau repot-repot merawat pemuda sakit di rumahnya. Dia terlalu sibuk bersantai, Libur adalah hal langka.
"Aku tinggal di apartemen Taemin. Uh, menumpang." gumam Jongin menggerakkan jarinya mengetuk-ngetuk kaca.
.
.
.
.
"—Chanyeol?"
"Apa?"
"Kepalaku sakit." keluh Jongin.
"—Panas."
Chanyeol memutar bola matanya jengah. Dia tahu Jongin mengeluh hanya untuk menggoda nya. Dasar.
"Apa kau mengeluh untuk memanfaatkan ku?"
Jongin terkekeh tanpa suara, "Aku harus bagaimana? Wajah khawatirmu itu sangat menggemaskan." Ujar Jongin blak-blak an tidak mengetahui dampak dari ucapannya pada pria tinggi di sampingnya.
Chanyeol bukan tipe seseorang yang mudah dirayu. Ucapan Jongin terlalu biasa didengarnya di banyak kesempatan. Tapi entahlah.. Mengetahui jika yang mengucapkannya adalah Jongin—rasanya berbeda.
merasa aneh Chanyeol tidak membalasnya, Jongin menoleh mendapati raut tertegun Chanyeol. Lelaki tan itu menyentuh bahu Chanyeol hingga pria itu beralih padanya. Dia menyeringai tipis.
"Oh, lihatlah wajahmu."
"A-apa?!" Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali pada jalannya cepat. Dia mencoba menghiraukan ejekan Jongin selanjutnya.
"Bukan apa-apa." Jongin menyandarkan kepalanya pada jendela. "Aku hanya baru sadar wajahmu tampan."
"Eysh! Berhenti menggodaku, Kim. Kau sedang sakit!" Jongin tertawa mendengarnya.
"Kenapa kau kesal kupuji? berterima kasih lah."
"Terima kasih!" Ketus Pria bertelinga lebar itu membuat tawa Jongin semakin keras.
"Ini tempat tinggal kalian?"
Chanyeol berdiri terpaku menatap apa yang kini disekitarnya. Jongin berjalan melewati Chanyeol lalu membuka lebar pintu kamar miliknya. Dia berbalik, "Yah tidak sebagus yang biasa kau lihat memang." Jongin menggidikkan bahunya.
"—Tapi setidaknya kami punya tempat untuk tidur, makan, dan hidup. Jadi.. masuk lah."
meninggalkan Chanyeol, Jongin melepas jaket dan tas lalu menggantung kedua benda itu di dekat lemari. Haah. Dia menghela nafas panjang. Rasanya sudah lama dia tidak kemari. Karena bekerja dia jarang pulang. Sejujurnya Jongin sangat merindukan tempat ini.
Omong-omong, beruntung sekali saat mereka datang Taemin sedang di kantor—masih bekerja. Jika tidak, Sahabatnya itu pasti akan berlebihan saat mengetahui dirinya sakit.
"Sebenarnya aku tidak tahu cara merawat orang demam." celetuk Chanyeol tiba-tiba membuat Jongin mendengus menahan senyuman.
"Sudah kuduga. Kau memang bodoh." .
"Hei!"
Jongin merangkak menaiki ranjang kusam tempat sehari-hari dia tidur. Ah, walau tidak seempuk kasur di rumah Chanyeol.. ini masih nyaman. tubuhnya menyelinap dibawah selimut, dan berbaring memejamkan mata sejenak.
"Aku tidak menyuruhmu merawatku. Lebih baik kau pulang. Terima kasih sudah mengantarkan ku." Ujar Jongin melirik Chanyeol yang masih terpaku dari sudut matanya.
Chanyeol tersadar, segera berjalan mendekati Jongin. "Tapi nanti kau sendirian. Kata nunna ku orang sakit harus dirawat."
Jongin langsung bergidik mendengar Chanyeol menyebutkan kata 'nunna' yang bukan lain adalah Yoora. Tapi lelaki tan itu segera mengubah mimik wajahnya.
"Lalu Kau mau disini begitu?"
"Tapi aku tidak tahu cara merawatmu."
What the..
Jongin mengerjap, menatap wajah polos Chanyeol. Dia ingin sekali tertawa tidak menyangka ada pribadi seperti ini dalam diri Chanyeol yang menyebalkan dan kadang sombong. namun dia hanya terkekeh sebentar.
"Pertama, Telepon Taemin." Arah Jongin serta merta memberikan ponselnya. "Dia akan datang lima belas menit. Jadi Dia yang akan mengurusku disini. Kau bisa pulang."
"Tapi—"
Chanyeol menghentikan ucapannya, Tanpa diketahui Jongin pria tinggi itu mengumpat tanpa suara. Akhirnya Chanyeol merampas ponsel Jongin lalu mendial nomor yang sudah tertera di layar.
Sementara Chanyeol menelpon Taemin. Jongin terdiam memperhatikan sosok cemas Chanyeol yang kini berdiri membelakanginya. Bibir tebal itu mengulas senyum penuh arti. Dan tidak menunggu lama untuk matanya menutup perlahan.
"Sudah, kata—Jongin?!"
dan, Jongin pingsan.
Taemin melongo melihat sendiri muka Chanyeol yang sekarang berada dalam apartemennya. dengan pandangan bodoh, ia menatap secara bergantian Jongin yang terbaring di ranjangnya dengan plester penurun demam dikeningnya lalu kembali menatap Chanyeol yang juga terlihat terkejut oleh kedatangannya.
Secara kaku dia menunduk memberi salam, kemudian bergegas mendekati Jongin. Taemin meletakkan punggung tangannya pada leher dan kening Jongin. Chanyeol memperhatikan kedua sahabat itu.
"Apa itu benar demam?"
"Huh?" Taemin menoleh blank. lucu sekali mendengar Bagaimana pertanyaan konyol semacam itu keluar dari Chanyeol. Tapi ini bukan saat nya tertawa. "Ah—Ya. Jongin memang mudah sakit. Dia punya maag ringan. Apa dia makan teratur?"
Chanyeol menggaruk kepalanya, mengingat-ingat apakah Jongin pernah makan dengannya atau tidak. "Uh, Sepertinya aku membuat dia makan tidak tepat waktu." gumam pria itu pada dirinya sendiri, merasa menyesal dan bersalah.
Benar juga. Chanyeol bahkan tidak pernah melihat Jongin makan dirumahnya. tadi pagi juga. berarti Jongin belum makan apa-apa?
Dan sebenarnya tadi dia membelikan Jongin makanan. Tapi Jongin malah memberikannya pada petugas kebersihan wanita di kebun binatang.
Drrt-Drrt
Chanyeol meraba saku, melihat layar ponselnya menyala dan tertera nama sang CEO. segera saja dia berlari kecil keluar ruangan tanpa menghiraukan sahutan Taemin memanggil namanya.
"Ah, ya. Halo?"
Chanyeol mengernyit, "Tv?" dia melirik sekitarnya. Mungkin apa yang dilakukannya tidak sopan tapi terserah.
Dengan cepat dia menyambar remot di sofa dan menyalakan televisi kusam yang tergantung di dinding. Manik Chanyeol setengah membulat menatap layar itu. Terdengar suara lantang dari sebrang telpon, Chanyeol bergumam menyahut.
"Y-ya?"
Dengan raut kosong Chanyeol menekan tombol off. Melempar remot itu kembali ke sofa.
"T-tidak, Changmin hyung. Kau tau kan? Tidak, dengar dulu. Hyung, percaya padaku dia—Ya!"
Chanyeol mengumpat keras membanting ponselnya ke lantai. Dia merasa kesal hingga keubun-ubun. Dia berjalan cepat memasuki kamar Jongin. Dia tanpa sengaja menatap tajam Taemin.
"A-apa?"
"Jika dia sadar. Beritahu dia untuk cepat ke agensi."
seusai berbicara Chanyeol berjalan gusar keluar. Tak memperdulikan beberapa orang yang berwajah terkejut melihatnya sedang berada di sekitar apartemen kumuh. Atau gadis-gadis berseragam yang memekik memanggil namanya. Chanyeol tidak mendengar, tidak perduli.
Yang dia perdulikan sedang dipikirkannya sekarang. Dia berpikir bagaimana bisa kejadian beberapa jam lalu bisa menyebar begitu cepat. Lagipula Paparazzi mana yang sembarangan memotret tanpa tau apa yang—Tidak, mereka memang bekerja seperti itu. Haters, mungkin mereka? Lalu rookie?
Kenapa Hani disebut Rookie? apa gadis itu seorang trainee?
Chanyeol mendengus, Jika itu benar. Changmin akan membunuhnya lalu Jongin.. Chanyeol tidak berharap Jongin akan membantu nya.
argh.. sial.
Di tempat lain, dalam sebuah ruangan luas di lantai teratas. Seorang gadis berambut pendek duduk melipat kakinya angkuh, dia diapit dua orang pria kurus berpakaian serba hitam. sedang tepat dibelakangnya, beberapa gadis lainnya berdiri menatap harap-cemas.
"Bersyukur dia teman ku."
Seorang pria dibalik kursi putar menyudut rokoknya pada pot kecil di atas meja. Dia tertawa oleh perkataan gadis yang bisa dibilang seorang Trainee kesayangan dan paling diandalkan membawa mahkota emas di dunia industri musik pada agensi ini.
"Lihatlah siapa kau sebelumnya, Hani. Kalian akan debut minggu depan. Dan ya.. terima kasih atas kerja kerasmu untuk itu."
Dagu pria itu menunjuk layar televisi yang ramai memberitakan seorang aktor sekaligus model muda—Park Chanyeol. Dalam industri musik, media play dikenal sering menjadi jalan pintas seseorang mencapai popularitas. Tapi tidak—Mereka bahkan belum memulainya.
Ini hanya bumbu kecil untuk memulai debut. dan Kebetulan, Park Chanyeol adalah kumbang yang sedang sial hingga terperangkap jaring mereka.
dan setelah itu, Selesai debut, Mereka akan menciptakan media play. Sebaris rencana telah dipikirkan. Sempurna, Mereka hanya menunggu sang aktris memainkannya.
Hani—Gadis itu bergumam. Sedikit masih tertinggal rasa menyesal dan bersalah nya atas apa yang baru saja dilakukannya pada Chanyeol. Pria itu dulu di masa sekolah memang sudah populer, Walau memang sedikit mengesalkan dan sombong.. Chanyeol adalah pribadi yang baik.
Hani menggeleng menyayangkan tindakan nya sendiri.
"Hei, Apa ini tidak apa?" Gadis lainnya mendekat lalu berbisik ragu pada Hani. Sejujurnya mereka mengikuti rencana pemimpin secara terpaksa. Untuk debut memang harus ada yang dikorbankan.
Hani dengan wajah tak berekspresi mengangguk. "Ya—Kurasa." Lalu menoleh memberi senyum lebarnya pada member paling tua di grub.
"Kita bisa melihatnya nanti." namun senyum itu berubah menjadi senyum miring miris. "Dan aku berdoa semoga Chanyeol tidak membenciku." gumamnya dalam hati.
Chanyeol meneguk ludah menatap pintu kayu ruangan Changmin didepannya. Kini ia hanya berdiri dengan tangan mengepal tergantung di udara. Ia hendak mengetuk tapi urung mendengar sesuatu dari dalam. Dia mendekatkan telinganya ke pintu bersamaan dengan pintu itu terbuka.
Chanyeol terkejut dan hampir saja terjungkal oleh itu. Pria itu mengumpat lalu menatap seseorang yang telah membuka pintu.
"Krystal?"
Dia tidak begitu heran melihat Krystal berada di ruangan Changmin. Kedua nya dekat. Tapi raut muka Krystal selalu saja tidak ramah.
"Ya. Cepat masuk. Dia ingin sekali membunuh mu." Ujar gadis itu datar, lalu menabrak bahu Chanyeol dan menghilang di koridor.
"Wah.."
Bahkan bibir nya sudah terasa kelu mendengar niat Changmin. Chanyeol dengan langkah pelan masuk kedalam, menutup pintu lalu saat berbalik..
"Oh, Kau disini. Duduk dan jelaskan padaku tentang ini."
Changmin sedang berdiri bersandar pada sudut meja kerja nya, menyilangkan tangan menatap Chanyeol dengan pandangan tak beremosi.
"Ah.." Desah Chanyeol malas. Pria itu menurut dan duduk pada sofa di ruangan. "Itu bukan salah ku."
Changmin memutar bola mata, "Bukan salah mu, lalu salah siapa?"
"Tidak tahu. Yang jelas bukan aku."
Chanyeol bersikeras mengatakan jika dirinya bukan pihak yang bersalah. Dia adalah korban. bukankah otak pintar Changmin tahu jika dia selalu berhati-hati. Lagipula dia bertemu Hani setelah—Lama gadis itu menghilang. Reaksi siapapun akan seperti nya jika bertemu teman lama.
"Kalau jawaban mu seperti itu. Karir mu bisa.." Changmin membuat isyarat memotong leher. " Skandal untuk Idol mungkin beresiko lebih tinggi dari aktor. Karena fans seorang aktor lebih dapat mentolerir dan—"
Chanyeol berdiri, memotong ucapan Changmin. "Aku bukan idol. Aku aktor. jadi biarkan saja berita itu."
"Ya!" Chanyeol berjengit, langsung duduk kembali setelah dibentak oleh Changmin.
"Jika kau memiliki skandal dengan seorang idol perempuan, itu memang tidak masalah dan aku juga tidak akan terlalu pusing memikirkannya Park Chanyeol. Tapi.. Gadis itu—"
"Nama nya Hani." Changmin hampir melempar sepatu nya pada tampang polos Chanyeol. Sungguh. apa orang ini tidak memiliki keperdulian akan karir nya?
"Gadis itu seorang trainee dari girlgrub rookie yang akan debut minggu depan. Ini takkan bisa disebut skandal lagi. Perhatian publik gampang sekali terambil, kau tahu?" Chanyeol mengangguk. Ia tidak mengerti arti dari penjelasan ilmiah Changmin. Terserah.
"—Lalu managermu?"
"Jongin sakit. Dia yang mengajak ku ke kebun binatang. Salahkan dia saja. dia yang membawaku kesana. Kau bisa memecatnya atau ap—"
Duak!
"Hyung!"
Changmin mendengus keras. Bahkan ditengah sesaknya suasana Chanyeol masih bisa memanfaatkan keadaan untuk terlepas dari kontrak kerja Jongin. Apa sebegitu benci nya dia memiliki seorang manager yang lebih muda?
Jongin mendesis menggumamkan sejumlah umpatan untuk sakit kepala yang sekarang dirasakannya. Dia bangun dan melihat sekeliling—berasumsi sendiri jika Chanyeol telah pergi. Tangannya meraih ponsel nya dari meja, membuka notifikasi sebuah aplikasi. Bukan social media, Jongin sedang malas.
Dalam beranda aplikasi itu Mata Jongin menyipit melihat sebuah tittle bold di bari paling atas. Dia mengeja nya dengan rasa heran.
"Aktor sekaligus model muda ber—bakat, Park Chanyeol memeluk seorang Rookies."
Jongin men-Scroll layar keatas, melihat tittle lain dengan tag nama Chanyeol.
"Seorang fan melihat Chanyeol memeluk seorang gadis."
Scroll lagi, Jongin terbatuk.
"Skandal Park Chanyeol.."
"tsk.."
Jongin mengetuk sudut ponsel pada kening. mata nya terpejam merasa perih. "Apa yang dia lakukan.. Dasar ceroboh." Lalu beranjak menyambar tas nya hendak pergi.
"Kau mau kemana he?"
Namun belum sempat menyentuh knop, Taemin masuk mendorong tubuh Jongin terjungkal ke ranjang. Jongin meringis merasa tulangnya bergeser.
"Taemin!"
"Kau sakit!"
Jongin memajukan bibirnya, membuang muka menghindari Taemin yang menatapnya dengan mata melotot. apa-apaan itu?
Taemin menghela nafas, mendekati Jongin. Lelaki yang memiliki wajah serupa dengan Jongin itu mengulurkan tangannya. "Kalau mau pergi, Lepas dulu ini." Ucap nya dongkol sambil menarik lepas plester penurun panas di dahi Jongin.
Taemin memperlihatkan plester itu pada Jongin, "Kau takkan percaya jika ini Chanyeol yang melakukannya."
Jongin menatap sahabatnya tidak mengerti. "Melakukan apa?"
Taemin berdecak dengan senyum lebar," Dia menempelkan mu plester ini. Kau baru sadar kan memakainya?" Jongin mengangguk menjawab. Iya ya , Dia tidak merasakannya.
"—Dia juga yang membuat bubur ini. Bahkan sebelum aku datang. Tapi dia langsung pergi." Taemin menyodorkan semangkuk bubur hangat buatan Chanyeol yang baru dipanaskannya. Dia menemukan bubur ini sudah ada dalam panci.
"Sebelum dia pergi. Chanyeol menyuruh mu datang ke agensi setelah kau bangun. Tapi makan dulu. Kau belum makan apapun kan?"
"—Jongin?"
Melihat temannya jadi diam, Taemin menepuk bahu Jongin membuat lelaki tan itu beralih menatapnya. "Apa ada masalah? Aku tau kau yang bodoh ini sakit. Tapi melihat reaksi mu tadi, bukan tentang demam mu kan?"
Jongin tidak menjawab, Dia malah menyodorkan kembali bubur itu pada Taemin. Sama sekali tidak berniat memakannya. Jongin beranjak mendekati pintu, berbalik sebentar saat Taemin memanggil namanya.
"Biar kuantar." Jongin memberi senyum tipis.
"Baiklah."
Ooo
Jongin berjalan perlahan menelusuri lorong kantor. Di jam malam seperti ini rupa nya masih saja ada yang bekerja. Sekarang pukul sembilan lebih dua puluh menit. Dia tidak tahu dia bisa pingsan selama itu.
"Duh.." Jongin meringis, meremas perutnya pelan merasa nyeri di lambung. Kalau tahu begini dia akan memakan bubur yang tadi.
Dari jauh Jongin bisa mendengar keributan dari pengujung lorong. tepat seperti dugaan nya keributan itu berasal dari balik pintu Changmin. Jongin menebak keributan ini sudah dimulai berjam-jam lalu. mengingat Kata Taemin yang Changyeol pergi aaat menerima telpon.
dari berita yang dilihatnya timbul satu pertanyaan besar, Foto itu diambil saat dikebun binatang. Chanyeol sendirian bersama seorang gadis. Berarti saat Chanyeol pergi membelikannya makanan. Jongin bergumam, "Mungkin saja itu sudah direncanakan.."
Jongin menggeser semua kemungkinan-kemungkinan di benaknya dan mulai mengetuk pintu didepannya. Dia tidak boleh berlama-lama karena dibawah Taemin sedang menunggu nya.
Saat melangkah masuk, Jongin langsung menerima dua sorot tajam dari dua orang pria tinggi yang seperti nya adalah sumber keributan tadi. keadaan yang tiba-tiba hening membuat Jongin juga diam tapi tetap melanjutkan langkahnya mendekat pada Chanyeol.
Plak!
"Ya!" Chanyeol memekik memegang kepala bagian belakangnya. Dia melotot tidak percaya Jongin memukul nya dengan wajah tanpa ekspresi. "Apa yang kau lakukan, Kim!?"
Jongin mengangkat alis, "Aku bertanya hal yang sama padamu." Di wajah pucat nya Jongin menyipit menatap Chanyeol tajam.
"Itu Bukan salah ku!"
"Itu jelas foto mu! Akui saja!"
"Ya!"
Jongin memalingkan muka dari bentakan Chanyeol. Tanpa sengaja bertemu tatap dengan petinggi perusahaan sekakigus agensi, Changmin. Jongin sontak langsung membungkuk memberi hormat—meminta maaf atas ketidak sopanannya barusan. Changmin justru tersenyum melihat Jongin, melepas gurat kesal yang tadi nya karena Chanyeol.
"Tidak apa-apa, Kim Jongin. Santai saja. Apa kau sakit? Wajahmu pucat." Jongin menyentuh pipinya, dia mengangguk pelan dengan senyum.
"Ya sepertinya begitu."
Chanyeol mendengus, Dia duduk melipat kakinya di atas sofa. Menunduk menatap lantai dengan sorot kesal. Sudah cukup dia mendengar dirinya dimarahi dua orang yang sama-sama berkulit tan didepannya.
"Ok. Itu salahku. Lalu aku harus apa ha? Presscon besok? Baiklah. Lebih cepat lebih baik."
Changmin berdecak. "Tidak. Kita menunggu agensi rookies itu membuat langkah. Kau itu suka sekali membuang uangku. Presscon itu tidak murah."
"Ash, Hyung!"
Chanyeol mendesah, dengan kesal dia melirik Jongin yang berdiri satu meter di dekatnya. "Kau—" Tunjuk Chanyeol tiba-tiba membuat Jongin mengernyit.
"Mwo?"
"Kau yang urus. Aku tidak mau repot di hari libur ku." Ujar Chanyeol seenaknya mengalihkan pandangan ke arah lain menghindari tatapan membulat Jongin.
"Apa?!" Jongin mendekat, "Apa?!" ulangnya menuntut jawaban Chanyeol.
Chanyeol masih mengalihkan pandangan, dia tidak mau melihat wajah pucat Jongin. Bisa-bisa dia menarik ucapannya. Bisa juga khawatirnya akan kembali lalu— Ash lupakan.
"Tapi ini skandalmu—"
"AKU TIDAK PERDULI!" Jongin mundur selangkah mendengar Bentakan Chanyeol—Kali ini Jongin merasakan rasa marah dalam nada ucapan pria itu. Dia diam menatap terkejut pada Chanyeol.
"..Aku tidak mau tau, Aku mau Kau. Jadi lakukan saja." Chanyeol membuang muka, Menjauhi pandangan Jongin. Pria itu beranjak. "Aku pergi." Lalu menutup pintu dengan debaman keras.
Sementara itu Changmin menggeleng pelan, dia menepuk pundak Jongin—Memberikan senyum tipis sebagai penyemangat.
"Dia hanya terguncang saat mendengarku karir nya bisa terganggu karena skandal kecil ini. mungkin dia panik, jadi biarkan saja."
Jongin mengernyit,"Kecil?"
Changmin mengangguk, pandangannya berubah serius. "Aku mencium adanya perencanaan di balik ini. Kudengar itu foto hari ini, masih baru dan penyebarannya juga cepat—hanya dalam beberapa jam. tapi biasanya, untuk skandal.. paling cepat sebuah berita bisa di publikasi keseluruh media duapuluh empat jam setelah kejadian." Jongin melihat sudut bibir Changmin melengkung membentuk seringai.
"Sebenarnya, sebelum Chanyeol. Beberapa aktor/Aktris dibawah agensi ini sering mendapat berita sampah seperti itu. Jadi.." Jongin tergelak oleh kedipan mata Changmin. "Percayakan padaku."
Jongin mengangguk kaku, Tertawa garing menanggapi Changmin yang rupanya sedang menggodanya.
"Ha-ha.."
ah, benar-benar..
TBC
Note ::
Suka bgt pk kata "Nya", "Memalingkan," "Membuang," "Dengan" I dont know why..
Paling lagi nge sucks pake iya banget. Mood nulis emang lagi tinggi rendah jadi kumohon/? pahami dan mohon pengertiannya.
Uda liat Mv EXID yg baru? Aku kaget liat kak Hani cantik bgt disana. make up nya gimana ya O.O ( xD jelas gk bisa praktek sendiri) Dia cocok bgt pk rambut pendek gitu.
Tapi liat banyak berita dia kek kesan ny dia emang udah jadi image caper. '-' Entah kadang suka Hani tapi kadang gedek liat tingkah laku nya dan ihh Wtf~ Aku cemburu liat Bbaekbek/? deket ama Hanibpada nge emci duh duh ( XD)
