Hai, everyone!
Anne muncul lagi dengan chapter 10 sudah di layar. Oke.. bagaimana dengan cerita selanjutnya? Di chapter ini Anne belum beri ending, ya. Mau di tamatin ternyata kepanjangan. Jadi Anne buat bersambung dulu. Mungkin chapter 11 jadi akhirnya.
LumosAsphodel31 : Wah terima kasih, kebiasan nulis rutin tiap hari. Jadi sering ngerasa nggak betahan kalau cerita belum ditamatin. Cerita keluarga memang jadi bidang aku, mungkin sebentar lagi aku akan coba genre romance. Rencananya, sih, mau coba crossover. Doain semoga jadi. Terima kasih atas supportnya selama ini :)
Kiru Kirua : ihhh cantik kayak Anne.. *jiahh lupakan* Thanks :)
Ninismsafitri : sama, nih, aku juga sibuk kuliah juga.. konsentrasi kebelah. Sampai bener-bener cari waktu buat usahain ngetik ffn. Teddy? Kebetulan banget, aku masukin Teddy di chapter ini. Hehehe.. Scorpius punya hati tuh sama Rose, tapi masih waspada sama Ron :P
Oke deh.. langsung saja, yuk.
Happy reading!
Brukkk!
Meja perpustakaan menjadi tempat satu-satunya kepala Lily bisa disandarkan. Tugas membuat dreamcatchernya telah selesai, dan pengaruh mimpi itu seolah terputus dengan tubuh Lily secara langsung. Ia tertidur.. atau lebih tepatnya pingsan.
"Aku akan membawa Lily ke kamarnya," Harry membopong tubuh Lily keluar dari perpustakaan. Diikuti Al dan Harry muda dibelakangnya. Sekiranya mereka benar-benar dibutuhkan untuk ikut menangani Lily
Astoria mengambil hasil terakhir dreamcatcher yang dibutuhkan. Buatan Lily sangat rapi. Meskipun pada ikatan ketiga bulunya tidak serapi buatan Ginny. Ia menyadari betapa susah payahnya Lily saat mengikatnya tadi.
"So, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ron menatap luas keluar jendela. Tak terasa malam sudah tiba.
Semua orang masih berkumpul di perpustakaan. Di sofa panjang duduk Ginny yang bersandar pada bahu putra tertuanya, James. Ia masih merasa lelah meski tak sehebat saat proses pembuatan.
"Kalau Mom butuh sesuatu, bilang saja, ya," tanya James.
"Terima kasih, James. Mom hanya butuh istirahat sebentar. Draco, apa harus langsung dilakukan sekarang?" Ginny mulai menegakkan posisi duduknya. Dua buah dreamcatcher yang sudah siap kini ada ditangan Astoria.
"Tidak harus. Kalian memiliki waktu hingga 24 jam kedepan sampai kekuatan sihirnya hilang. Pastikan kau dan Lily dalam keadaan sehat saat proses pembukaan portal,"
"Masih harus Mom dan Lily yang melakukannya? Tidak bisa orang lain?" tanya Al terkejut. Ia masih tak habis pikir, proses mengembalikan seseorang dari masa lalu sebegitu rumitnya.
Draco menghela napas berat mulai merasakan kelelahan, "ya, karena sejak awal ibumu dan adikmu yang membuat portalnya, dreamcatcher itu. Otomatis merekalah yang mengendalikannya sampai benar-benar berfungsi, Al," ujar Draco.
"Mungkin bisa dilakukan besok pagi saja. Sekalian menunggu keadaan Lily membaik. Kita semua juga butuh istrirahat sekarang. Kita sudah bekerja sejak pagi," Astoria membantu James mengangkat tubuh Ginny untuk berdiri.
Semua akhirnya setuju. Draco, Astoria, dan Scorpius akhirnya berpamitan untuk pulang dan akan kembali esok untuk melakukan proses pembukaan portal waktu pada kedua dreamcatcher itu.
"Tolong bukakan pintunya, Al," pinta Harry saat tiba di depan kamar Lily.
Namun sejenak mereka terehenti karena panggilan seseorang. "Dad?! Di mana kalian? Sepi sekali—" panggil suara dari arah lantai bawah. Perlahan suara itu semakin dekat diikuti derap langkah pijakan kaki dari tangga.
"Dad? God, Lily kenapa? Kenapa banyak darah di wajahnya?"
"Teddy? Oh hay, Victoire. Ceritanya panjang, kalian se—"
Suara tertahan Teddy dan Victoire membuat Harry cepat-cepat menghentikan penjelasannya. Ada sesuatu yang perlu ia jelaskan secepatnya tentang.. Harry muda di dekatnya.
"Dad? Kau punya anak lain, Harry? Dan siapa wanita itu?" bisik Harry muda di telinga Harry dewasa.
Teddy menutup mulutnya dengan telapak tangan begitu sadar, "aku kira tadi dia Al," katanya.
"Siapa yang memanggilku?" kepala Al tampak menyembul dari balik pintu kamar Lily. "Teddy!" panggil Al senang. Kakak angkatnya datang bersama sepupu Weasleynya.
Harry tampak gelagapan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mungkin kita masuk dulu ke kamar Lily, kasihan dia," Harry dewasa lantas masuk dan membaringkan tubuh putrinya ke atas ranjang. Mereka akhirnya ikut masuk masih dengan rasa syok yang tiba-tiba menyerang.
Teddy dan Victoire berusaha menerka siapa sosok yang memiliki kesamaan wajah dengan Harry sekaligus Al di hadapan mereka, sementara Harry muda tampak mengamati Teddy dari atas ke bawah. Ia tak kenal orang itu.
"Di-dia siapa, Dad? Kenapa mi-mirip sekali denganmu?" Teddy tergagap.
"Oke, begini. Dia memang aku, yang datang dari masa lalu. Tak hanya aku saja, Ted, tapi ada uncle Ron juga. Dia bersama yang lain di perpustakaan. Dan.. ahh, Harry, pasti kau terkejut dengan Teddy. Dia adalah Teddy Lupin—"
"Lupin? Apa dia keluarga Prof. Remus Lupin?"
"Tentu saja, dia putranya. Dan di masa kini, aku adalah ayah baptisnya. Itu tadi alasan mengapa Teddy memanggilku Dad,"
Harry muda masih tak percaya dengan sosok Teddy di hadapannya. Ia tak pernah tahu Remus memiliki seorang putra, "tapi Prof. Lupin tak—"
"Ada beberapa hal yang tak mungkin aku ceritakan tentang apa yang terjadi di masa depan. Kau cukup tahu apa yang sekarang kau lihat saja. Mengerti?" tukas Harry dewasa. Cerita tentang kematian Remus dan segala yang terjadi di masa depan tidak akan Harry dewasa jelaskan secara detail. Ia tak mau masa lalu mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Itu sama saja menyalahi takdir.
Harry muda tampak paham. Kini konsentrasi mereka terpusat kembali pada keadaan Lily.
"Ia masih belum sadar," kata Al. Sebuah tisu basah coba ia usapkan pada wajah Lily untuk menghilangkan noda darah yang sudah mengering.
"Boleh aku lihat Lily, Uncle? Semoga aku bisa membuat ramuan untuk membantunya cepat pulih," pinta Victoire dan Harry dewasa dengan senang hati mempersilakan keponakannya untuk mendekat.
Keluarga Weasley dan Potter tahu benar keahlian Victoire. Generasi baru pertama yang lahir itu memiliki kemampuan seorang Healer. Sejak sekolah di Hogwarts, Victoire sudah pandai dengan pelajaran ramuan, dimana ia menguasai banyak ramuan terutama ramuan penyembuh.
"Mungkin akan aku buatkan ramuan penyembuh luka dalam untuk Lily. Apa Uncle menyimpan bahan-bahan ramuannya?"
"Ya, ada di dapur. Semoga yang kau butuhkan ada di sana, Vic. Terima kasih," ujar Harry.
Selagi Victoire keluar untuk membuatkan ramuan Lily, Teddy dan Harry dewasa kini siap menjaga di dekat Lily. Teddy mengusap rambut merah Lily yang tampak kusut seperti tak di sisir. Meski ia hanyalah anak angkat, Teddy sangat menyayangi anak-anak dari ayah baptisnya itu, terutama pada Lily. Gadis itu sangat dekat dengannya.
"Kasihan Lily, Dad. Sebenanya apa yang terjadi?" tanya Teddy, pelan-pelan Harrypun coba menceritakan apa yang sebenarnay terjadi. Al dan Harry muda hanya sesakli menambahkan dan lebih banyak menjadi pendengar.
Di akhir kisah, Harry berusaha kembali memperhatikan Lily yang tampak menunjukkan gerakkan kecil pada tangannya. "Sayang, kau sadar?"
"Dad.. Teddy?" kata Lily lirih. Ia melihat Teddy tepat ada di sisinya.
"Ya, Lils. Ini aku, kau istirahatlah, Victoire sedang membuatkan ramuan untukmu," bisik Teddy sambil mengusap pipi Lily lembut. Lily akhirnya sadar.
Pintu kamar Lily seolah sedang didorong, muncullah Ginny dan James diikuti Ron di belakangnya. Ginny langsung menghambur ke pelukan Lily saat ia melihat putrinya sudah sadar.
"Mom takut dengan keadaanmu tadi, sayang. Kau tak apa?" tanya Ginny. Ia menangus.
"Tak. Hanya lemas. Kepalaku pusing, Mom," kata Lily.
"Permisi," suara Victoire memecah suasana haru di kamar bernuansa girly itu. Gadis blonde dengan tubuh tinggi semampainya pelan-pelan membuka pintu untuk bisa masuk. Ia membawa segelas cairan berwarna putih yang ia buat di dapur.
Harry membantu Lily untuk duduk, "minumlah, Lils. Ini susu yang sudah aku campur dengan ramuan. Sekalian perutmu bisa terisi sementara dengan susu. Aku yakin kau belum makan, tak pahit, kok," Victoire menyodorkan ramuannya.
"Semua bahan-bahannya ada, Vic?" tanya Harry dewasa.
"Ya, untunglah. Masih cukup untuk satu dosis Lily," jawab Victoire yakin.
Ron menunjukkan kebingungannya saat ia mulai sadar kehadiaran dua orang yang belum pernah ia temui. Sama sekali belum pernah. "Dia—"
"Uncle Ron? Merlin. Kau masih muda sekali, berbeda dengan sekarang," Victoire bak lepas kendali. Cepat-cepat ia menutup mulutnya takut menyinggung.
"Tenang, Ron. Dia anak Bill. Keponakanmu sendiri," bisik Harry muda menenangkan sahabatnya yang mulai panik.
"Ahh di mana Scorpius dan orang tuanya, Mom?" Al mencari sosok sahabatnya yang tak terlihat di kamar Lily.
Ginny lupa belum mengatakannya pada yang lain, "mereka sudah pulang. Katanya, kita melakukannya besok saja. Menurut Draco dan Astoria aku dan Lily harus dalam keadaan sehat tanpa ada gangguan yang lain. Dan mereka menyarankan untuk dilakukan besok pagi saja." tukas Ginny.
"Mereka akan kemari lagi?" tanya Harry dewasa.
Ginny tersenyum. Sedikit kelegaan saat semuanya sudah beres. Meski rasa tak nyaman itu masih ada, karena perjuangan mereka belum selesai.
Nada panggilan dari ponsel seseorang berbunyi. "Ada apa dengan meja ini?" Ron gelagapan saat meja beljar Lily yang ia sandari tiba-tiba terasa bergetar.
"Ponselku?" tanya Lily.
Tangan Ron meraih benda persegi panjang lumayan tipis berlapis karet berwarna pinkdari atas meja Lily. Itu dia sumber getaran yang Ron rasakan di meja Lily. "Hermione?" Ron membaca tulisan yang muncul di layar ponsel itu. "Alat-alat Muggle aneh-aneh," batinnya.
Lily menerima ponsel dari Ron dan ikut melihat siapa yang menelepon. Ya. Hermione memanggil.
Lily men-swap layar ponselnya. "Halo, Aunty—"
"Halo, sayang. Oh God, Akhirnya. KALIAN DI MANA SAJA? Aku hubungi tak ada yang menjawab—"
Hermione seperti sedang kesetanan. Mendengar teriakan Hermione yang luar biasa kencang, Harry tak kuasa untuk merebut ponsel itu dari tangan Lily dan siap berbicara langsung. "Hoyyy! Tenang Mione. Kau hampir membuat Lily pingsan lagi!" teriak Harry tak kalah kesalnya.
"Pingsan? Lagi?" tanya Hermione. Harry cepat-cepat melost speaker panggilan Hermione. Kini seluruh orang yang ada di kamar dapat mendengarnya. "Maaf, Harry. Sejak tadi aku menghubungi ponselmu dan yang lain tapi tak ada jawaban," kata Hermione.
"Ya, ceritanya rumit. Kita baru saja selesai membuat portal dari dreamcatcher yang baru, dan ada beberaa masalah yang membuat kondisi Lily drop," Harry tetap menjelaskan beberapa hal yang sekiranya dapat ia jelaskan sementara pada Hermione tentang perkembangan masalah Harry dan Ron muda.
Suara Hermione seperti sedang sibuk dan ada di tempat ramai, "ow, begitu. Rencananya sebentar lagi aku akan pulang. Aku mendapat pesawat ke London agak awal. Kami sekarang sedang transit di Chicago beberapa jam saja. Mungkin aku akan ke rumahmu esok, Harry,"
"Bukannya kau mau pulang akhir bulan?" tanya Ginny.
"Aku dan Ron sering terbawa pikiran saat tahu ada Harry dan Ron dari masa lalu datang ke rumah kalian. Karena masalah ini bisa terjadi karena salahku juga, kan. Aku tak tenang,"
Rupanya Hermione masih merasa tak enak dengan kejadian ini. Ia seperti harus segera pulang dan melihat sendiri bagaimana masalah yang tercipta karenanya. Bersalah, tentu saja. Mereka sahabatnya sendiri, apalagi Ron kini adalah suaminya. "Maafkan aku," kata Hermione sebelum memeutuskan sambungan teleponnya.
- TBC -
#
Terlalu cepat, ya? Iya soalnya ini memang Anne buat bersambung di sini karena chapter 10-nya terlalu panjang. Mungkin chapter selanjutnya bisa jadi akhir.
So, thanks buat yang sudah membaca dan review. Anne senang banget.
Jangan lupa untuk tunggu chapter 11nya. Dan tentu saja review kalian juga. Mungkin bisa request cerita buat ending atau buat judul baru nanti juga boleh. Anne sayang kalian! ^_^
Thanks,
Anne x
