*Disclaimer*

Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka Harukawa Sango

WARN : BoysLove, ABO, smut, OOC (saya berusaha sebisa mungkin membuat karakter-karakter ini IC tapi ternyata tetap OOC *cry), Typo (always)

.

.


CHAPTER X

"Sudah bangun?" suara itu yang pertama menyambut Dazai ketika terbangun dari mimpi. Perlahan kakaonya menerima cahaya mentari, memfokuskan pandangan pada sosok mungil yang duduk di sofa dengan obeng di tangannya.

"Kau pasti lelah sekali sampai melewatkan sarapan."

Perlahan Dazai bangkit, bersandar pada kepala kayu tempat tidur yang tertumpuk bantal-bantal dari bulu angsa. "Jam berapa ini?"

Sebuah gelas keramik berisikan teh merah sampai ke tangan. Nakahara Chuuya duduk tepat di sebelahnya dengan tatapan jatuh pada menara di tengah labirin, menjawab dengan nada pelan, "Hampir jam sebelas."

"Kenapa tidak membangunkanku?" Dazai meneguk teh hangatnya, ingin tahu namun tidak menunggu sampai Chuuya menjawab. "Oh, aku mengerti."

Kali ini sapphire itu beralih padanya, dengan alis naik yang bingung bertanya, "Mengerti apa?"

Bahunya terangkat kecil, Dazai meletakkan gelas teh di atas sebuah nakas di sebelah tempat tidur. Mengambil ponsel untuk melihat pesan-pesan masuk, "Mungkin kau tidak ingin aku menjadi pengamat makan pagimu dengan bocah itu."

Kalimatnya tidak seperti teh merah dan cahaya pagi yang hangat, melainkan dingin menusuk seperti angin di penghujung musim gugur. Chuuya menatap pria itu dengan pancaran kecewa di mata. Dia pikir Dazai sudah lupa tentang pertengkaran mereka semalam. Dia pikir semua akan berlalu begitu saja setelah hari berganti. Namun kenyataannya, dia terlalu naif. Tidak pernah terjebak dalam hubungan bernama kepedulian membuatnya buta dan tidak tau arah. Chuuya tidak mengerti, tapi dia ingin memperbaiki ini.

"Hei." ucapnya pelan, mendekatkan diri pada Dazai seakan pria itu adalah harimau yang akan mengamuk kalau Chuuya terlalu menekannya. "Aku minta maaf."

"Minta maaf?" Dari balik ponselnya Dazai mengintip, "untuk?"

"Apapun. Apapun yang membuatmu tidak nyaman Dazai."

"Dan apa itu, Chuuya?"

Chuuya terdiam. Setahu Chuuya, Dazai marah karena dirinya begitu dekat dengan Tachihara. Dan setahu Chuuya juga, hal itu bukan salahnya. Karena itu Chuuya tidak bisa menjawab.

Helaan napas terdengar. Dazai menutup mematikan ponselnya kemudian ia taruh kembali ke atas nakas. Perlahan memutar tubuh, berusaha bangkit dari tempat tidur itu.

"Kau bahkan tidak tahu untuk apa kau meminta maaf Chuuya." ucapnya. "Kau tahu? Sebenarnya aku tidak ingin kau meminta maaf. Aku tidak menyalahkanmu Chuuya, karena itu aku tidak butuh permintaan maaf. Semua yang aku inginkan hanyalah agar kau selalu melihatku. Hanya itu."

Kalimatnya begitu sendu, begitu tulus, tanpa ada rasa benci dan marah seperti kemarin malam. Mendengar itu Chuuya sadar kalau dia sama sekali tidak tau apa-apa. Tidak mengerti apa-apa. Dia paham, kesalahannya adalah menyisihkan Dazai ketika pria itu menomor satukannya.

Detik ketika Chuuya ingin mengakui dosanya, Dazai sudah pergi.

Sejujurnya, dalam batin Dazai pun penuh gejolak bimbang. Dia bukan pria yang sering menggunakan hati walau berpuluh kali memainkan perasaan manusia. Tapi kali ini berbeda, perasaan yang ia urus disini adalah miliknya. Miliknya dan milik Nakahara Chuuya yang dianggapnya begitu istimewa.

Terlalu kekanakan, mungkin frasa yang tepat untuk menunjukkan sikapnya kemarin malam. Dazai sadar, betapa bodoh dirinya yang sesuka hati, tanpa menimbang kanan kiri, memvonis Chuuya dalam kalimat yang ia lontarkan malam itu. Dia juga sadar, betapa bodoh dia yang semakin menekan pria berhati lembut itu tadi pagi.

Seharusnya Dazai menjawab dengan , "Tentu. Lupakan saja. Aku juga minta maaf." Namun karena ego dan keserakahannya dia malah memojokkan Chuuya lebih jauh. Seharusnya dia ingat kalau pria itu adalah Nakahara Chuuya. Seharusnya dia menyisihkan ego itu barang sedetik saja untuk melupakan rasa tamaknya. Karena bagaimana pun Nakahara Chuuya bukan miliknya, belum miliknya.

Sekarang bagaimana?

Bisa ia terka betapa sakit hati Chuuya saat mendengar ucapannya tadi. Ia menyesal. Sungguh.

Dazai tidak ingin masalah ini menjadi berkalut-kalut. Apalagi nanti malam adalah festival tahunan dimana ia membuat janji dengan Chuuya.

"Kau mau kemana?" ia bertanya begitu keluar dari kamar mandi dengan keeper dan bertelanjang dada ketika melihat Chuuya sudah memakai coat hitam dan topi.

"Bekerja," jawabnya getir. "Aku mau ke tempat pengungsian."

"Aku ikut."

"Tidak usah. Kau di sini saja, Kakak Tachihara sepertinya ingin bicara banyak padamu."

"Kalau begitu Chuuya tidak usah pergi. Kita kan kesini untuk liburan, kenapa kau bekerja?"

Suara Dazai menuntut hingga Chuuya menghela napas. Ia sama sekali tidak membuat rencana bekerja dan berjanji akan mengikuti seluruh agenda Dazai di liburannya. Tapi untuk kondisi saat ini, Chuuya tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika dekat dengan pria itu. Rasanya lebih baik ia pergi dan menjauh.

"Aku bukan orang yang bisa membuat banyak pilihan sepertimu, Dazai."

Begitu keluar dari kamar itu, Chuuya diselimuti penyesalan. Kenapa dia lari dari Dazai yang sangat ia sukai? Seharusnya dia tahu betapa baik pria itu jika ia menurut dan bilang, "Aku lelah dan ingin istirahat, jadi bangunkan aku saat kau ingin pergi ke festival." Dan mengakhiri pertengkaran ini. Sial.

Ini bukan pertama kali mereka tidak bertatap muka. Tapi semesta tahu, bagaimana sepi perasaan mereka saat ini. Mereka memikirkan perasaan satu sama lain, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.

Dazai menghabiskan setengah harinya dengan berbincang dengan Kakak Tachihara tentang perang yang berkecamuk, dan sedangkan setengah lagi untuk tidur di dalam perpustakaan mansion. Matahari sudah tenggelam ketika ia bangun. Ada tiga buku di bawah sofa tempat ia tidur yang sepertinya telah ia baca dalam waktu singkat.

Tubuh belum sepenuhnya pulih, tapi ia ingat janji dengan Chuuya. Bagaimana pun, ia ingin pergi dengan Chuuya ke festival itu. Katakan Dazai seperti gadis SMA yang dilanda romansa, ia benar-benar merindukan sepasang batu safir yang dimiliki Nakahara Chuuya.

Memikirkan hal buruk yang telah ia lakukan, Dazai berpikir tidak mungkin Chuuya akan mengingat janji festival tahunan ini. Sampai-sampai Dazai tidak mempersiapkan diri ketika kembali ke kamarnya dan melihat Chuuya sudah mengenakan jaket kulit dongker yang mereka beli bersama kemarin.

"Chuuya," Dazai menyebut namanya tanpa suara. Perlahan ia melangkah ke kamar mandi, mencuci wajahnya yang masih penuh peluh kantuk sebelum mengenakan sweater abu-abu dan syal merah.

Mereka tidak bicara selama perjalanan dan itu sungguh menyiksa. Berkali kali Dazai ingin mengucapkan, "Terimakasih sudah menemaniku." dan berkali kali mulut Chuuya terbuka untuk mengucapkan, "Maaf meninggalkan sendiri tadi."

Tapi tidak ada suara yang keluar. Perjalanan mereka sepi walau berjalan beriringan. Hanya langkah kaki yang menjejaki jalanan bersalju dan semilir semilir angin dingin musim gugur yang berhembus.

Festival itu terletak di lapangan dekat pantai. Penuh tenda tenda kecil yang menjual berbagai macam pernak-pernik dan makanan. Sebuah cahaya di hamparan lembah hitam yang penuh pertempuran. Bangunan rubuh masih mengisi sela-sela lahan kosong dan para prajurit menjadi tamu yang begitu bahagia.

Dazai menarik tangan Chuuya, tidak ingin makhluk kecil itu terpisah darinya akibat kerumunan manusia. Kaget, namun Chuuya tidak menolak. Ia senang mengetahui Dazai masih bersamanya.

"Apa yang ingin kau beli Chuuya?" suara Dazai hangat. Seakan membakar semua perseteruan yang ada di kelapa Chuuya. Ia tersenyum begitu lembut tanpa menyisakan perasaan kelam tadi pagi.

Chuuya mengeratkan genggamannya. Ketakutan itu lenyap begitu saja karena senyum pria brunette itu. "Aku menemanimu saja. Belilah yang kau inginkan."

"Kalau begitu, mungkin cemilan? Ada rekomendasi?"

"Gula gula kapas?"

"Ahaha..." mereka berjalan bergandengan dengan Dazai yang memimpin, "memang kalau festival harus ada gula kapas ya. Ah Chuuya, jangan sampai terpisah ya."

Festival itu ramai. Lebih dari ramai yang biasanya. Waktu yang sebentar dan kegirangan massa yang melunjak, belum lagi tambahan para tentara yang ingin bersenang-senang, seluruh jalan dan stand benar-benar padat oleh manusia. Cahaya berkelip lembut dengan alunan musik menyenangkan. Sepertinya benar-benar genjatan senjata.

Dazai berhenti tepat di stand gula kapas yang berada di tengah-tengah kerumunan. Ya ampun, jika dia tidak memegangi Chuuya, mungkin makhluk halus nan mungil itu sudah terikut arus hilir mudik orang banyak.

Dua gula kapas selesai disiapkan, Dazai memberi satu pada Chuuya, memegang satunya dan menyerahkan uang dengan tangan yang tersisa. Oh tidak.

"Dazai!"

Seseorang menubruk mekanik itu hingga terpaksa berjalan mengikuti arus. Kenapa tempat ini padat sekali? Seperti antrean mengungsi saja. Dan bagus, sekarang Dazai benar-benar terpisah dari Nakahara Chuuya.

Rasanya percuma mencari orang setinggi seratus enam puluh senti di tengah tengah prajurit yang tingginya seratus sembilan puluh. Lebih baik, Dazai duduk di sebuah tenda minuman, meneguk kopi susu hangat, dan menunggu festival sedikit sepi.

Mungkin sekitar tiga puluh menit, hingga akhirnya pemuda brunette itu memutuskan beranjak dari persemayamannya. Gula kapas sudah habis dari tadi, ia hanya melangkah mengelilingi jalan-jalan festival mencari sosok berambut sinoper kesukaannya.

Ketemu.. Mungkin.

Siluet di belakang tenda yang menjual patung gipsum mirip dengan yang ia cari. Suaranya hendak memanggil dengan ceria jika saja matanya tidak menyadari sosok yang lain.

"Aku sudah bilang tidak mau melakukan itu lagi!" ah Dazai tahu ini suara Chuuya.

"Chuuya-kun, aku tidak tahu kenapa kau berubah begitu. Padahal dulu kau melakukannya dengan sangat profesional."

Dazai tidak tahu apa yang sedang mereka berdua lakukan. Ia hanya bisa menguping dan bersembunyi di balik pohon seraya menerka-nerka topik apa yang sedang dibicarakan.

"Fyodor, aku sudah kirimi kau surat bukan? Aku tidak bisa kembali ke sana lagi."

"Aku sudah baca, tapi itu bukan masalah bisa atau tidaknya Chuuya-kun. Aku akan lakukan apapun agar kau kembali. Kumohon."

Siluet pria dengan mantel panjang itu begitu dekat dengan Chuuya. Ia menggenggam tangannya dan Dazai bisa menebak mereka bertatapan. Siapa sih dia? Seenaknya saja bersikap begitu pada Chuuya Dazai.

"Aku menunggu jawabamu."

Suara kulit pohon yang berderak memancing perhatian. Itu adalah Dazai, yang refleks merusak sebuah batang pohon oak ketika melihat aksi pria Fyodor mengecup kening Chuuya.

"Dazai?"

Tertangkap basah. Chuuya yang bersama seorang tak Dazai kenal, dan Dazai yang menguping percakapan itu. Mereka saling tertangkap basah.

"Temanmu?" pemuda Fyodor bertanya.

"Um. Ah iya." Chuuya menjawab gugup. Melepas tangan Fyodor yang menggenggamnya.

"Aku mencarimu loh. Ternyata kau berada disini dengan seorang pria. Mantanmu?"

"Ah.. Dia punya selera humor yang lumayan."

"Fyodor! Jangan begitu. Aku akan mengabarimu nanti. Pergi sana."

Hanya Chuuya yang dapat melihat senyum Fyodor saat itu. "Baik-baik. Permisi."

Ketika bayangan Fyodor hilang ditelan gelapnya malam, Chuuya beralih pada Dazai. Pria itu entah sejak kapan sudah kembali berada di jalan. Tanpa berkata apapun.

'Ya ampun. Kesalahan apa lagi ini, sial.' Chuuya menggigit bibirnya, mencari bayangan Dazai di kerumunan orang yang berlalu-lalang.

Malam festival yang penuh pencarian bukan hal yang Chuuya inginkan. Tapi Dazai pasti juga merasakan hal yang sama. Ingin sekali ia jegat pria tinggi itu dan berkata, "tolong dengarkan aku." dan menjelaskan semuanya. Tapi emosi Dazai begitu labil. Mentalnya terlalu kekanakan, dia bukan orang yang akan bersikap tabah dan menerima semua dengan lapang dada. Apalagi menyangkut Nakahara Chuuya, emosinya sependek urat leher.

Chuuya mengikuti intuisinya dan berakhir di tepi pantai dalam mencari pria brunette itu. Tempat dimana daun-daun oak bewarna jingga tak lagi mewarna gulita. Hanya ada angin malam yang berhembus dari laut yang berombak. Walau pendar bintang masih sedia menghias tirai biru gelap, sepi terlalu mencekam membawa dingin musim gugur.

Benar saja. Dazai duduk di pasir yang dingin sambil memandang ke laut gelap yang hanya memantulkan kembali cahaya bintang. Tanpa suara, Chuuya duduk di sebelahnya. Untunglah pria itu tidak menghindar lagi.

"Hei—"

"Kau ingat?." Dazai memotong ucapan Chuuya. "Saat kita bertemu di pesta itu." Dazai menatap hamparan laut. Walau udara dingin yang menyesakkan menyuruhnya pulang, tapi tatapan matanya tetap diam menerawang ke masa lalu. "Kau tau bagaimana brengseknya aku? Saat itu aku hanya ingin pergi ke hotel denganmu, Chuuya. Aku tidak pernah benar-benar menyadari ketika pertama melihatmu, kau akan menjadi sesuatu yang bermakna dunia bagiku. Aku sama sekali tidak menyadarinya, sampai detik ini."

Chuuya menyimak tiap katanya. Jantungnya berpacu dan dadanya hangat. Seperti akan melelehkan sebuah batu es yang ada di manik matanya, bagaimana mungkin Chuuya ingin sekali memeluk pria yang menekuk lututnya itu.

"Apa yang kau lihat dariku Chuuya?" nada bicaranya berubah sendu. "Bagimu, apa aku hanya pengacau yang mengusik? Atau orang yang mengekang kebebasanmu? Aku tidak tahu harus minta maaf yang seperti apa jika kau menganggapku begitu."

"Aku tidak pernah—"

"Benarkah?" Dazai tersenyum getir. "Bukankah kau merasa aku masuk ke hidupmu terlalu dalam? Aku tidak pernah mencampuri urusan orang lain Chuuya, aku tidak mengerti bagaimana bisa kau menarikku tenggelam ke hidupmu seperti ini. Aku seperti terombang ambing di samudra yang tidak aku kenal dan tidak tahu harus apa. Sampai pada akhirnya yang aku lakukan hanya menyakitimu dengan semua kebodohanku."

Apa yang Chuuya pikirkan hingga tubuhnya bergerak memeluk pria itu? Merengkuhnya dalam tubuh kecil yang bahkan tidak bisa menahan angin musim dingin.

"Apa yang kau lakukan? Kau membuatku semakin sulit." tawa Dazai palsu, dipaksakan. Akalnya menolak dekapan Chuuya, namun tubuhnya tidak. Ia semakin menenggelamkan kepalanya di dada pria mungil itu. Ah, ini pasti mimpi.

"Kenapa ini sakit sekali?"

Telinga Chuuya melihat kehampaan yang keluar dari suara Dazai. Pria ini, benar-benar hampa.

"Karena ini kenyataan." Chuuya dengan suara lembut menjawab seraya mengecup pucuk surai kopi itu, menghirup aromanya untuk merasakan Dazai. "Kadang kau harus terluka dan berdarah untuk menyadari bahwa kau hidup dan punya jiwa."

Ah, pria itu bergetar. Tubuhnya bergetar. Apa yang dia takutkan? Apa yang dia khawatirkan? Chuuya ingin tahu. Chuuya ingin mengetahui pria ini lebih dan lebih.

Ia tersenyum, membelai helai-helai coklat yang ada di pipi Dazai, "Aku harap akan datang hari dimana kau jatuh cinta untuk terus hidup, Dazai." Kecupan kembali ia beri sebelum berbisik lembut, "dan ketika hari itu datang, aku harap semua perasaan yang saat ini kau rasakan tetap ada di ingatanku."

Untuk beberapa saat Dazai dibiarkan disana. Dalam pelukan Chuuya yang begitu ia sayangi. "Ayo kita kembali. Udaranya semakin dingin." ia melepas rengkuhannya. Melihat Dazai yang mengusap mata kemudian berdiri seraya membersihkan coatnya yang penuh pasir.

"Hey.." tangan Dazai menjegat pergelangan Chuuya. Memberi senyuman yang entah kenapa begitu Chuuya rindukan. "Cium aku."

"Hah?"

"Ayolah.." perlahan Dazai menarik tubuh itu bersimpuh di depannya. Begitu dekat, dengan wajah Chuuya yang pasrah dan bersemu. "Sekali saja.. Kumohon."

"Bodoh kau. Kita kembali dulu, disini dingin."

"Chuuya.. Kumohon. Bibirku butuh ciumanmu."

Ah sial. Wajahnya yang memelas dengan suara seduktif itu tidak bisa Chuuya tangani dengan baik. Ia tidak berkata apa-apa namun tubuhnya yang bertumpu di lutut perlahan mendekat pada Dazai.

Pria itu tersenyum. Dengan jelas Chuuya melihatnya senyumannya sebelum menutup mata. Dazai menariknya semakin dekat hingga bibir mereka bertemu dalam pertemuan yang begitu dalam. Dazai pikir hanya dalam mimpi ia bisa merasakan bibir Chuuya. Merasakan deru napasnya, wangi tubuhnya, dan rasa aneh yang mengalir padanya. Ia mengeratkan pelukan, memperdalam kecupan.

Chuuya tidak pernah berciuman seumur hidupnya, tidak pernah membayangkan kalau dia akan berciuman. Apa yang harus ia lakukan?

Ketika melepas pagutan itu, Dazai kembali menariknya. Tubuhnya menjadi magnet dan menempel dengan milik Chuuya. "Ahn..." desah lepas disela-sela uluman Dazai pada bibir Chuuya.

Hangat, manis.

Kembali, pagutan terlepas. Wajah Chuuya yang menutup cahaya bulan nampak bersemu merah merona. Dazai kembali menekan bibir itu. Membuat empunya tersentak akibat dorongan, namun ia menerima. Merasakan hangat napas pemuda yang menciumnya dengan lembut. Tangan kekar yang mengunci pinggul dan menyisir helai-helai rambutnya.

Chuuya meremas sweeter Dazai. Berusaha tidak tenggelam sepenuhnya dalam nikmat cumbuan itu. Namun kenyamanannya tidak bisa ditinggalkan. Belaian Dazai begitu membuai, membuatnya merasa aman. Tidak ingin pergi dari rengkuhan itu.

"Hhah.." hembusan napas yang hangat dari mulut memberi kesempatan bagi Dazai untuk menyelipkan lidah. "Hnggh..." Tidak berontak, kini Chuuya membiarkan dirinya terbawa arus kenikmatan.

Aroma manis perlahan dan perlahan menyengat di indra. Memanggil, memabukkan, memancing Dazai memainkan lidahnya semakin panas di rongga mulut Chuuya hingga genggaman pada bahunya semakin mengerat. "Ngghh..." napas yang tersendat melahirkan lenguh. Lenguh yang mengundang si brunette semakin merapatkan tubuh dan mengeratkan pelukan.

Dazai tidak tau. Sarafnya seperti dihentikan secara masal karena keseluruhan bait yang begitu indah. Chuuya yang begitu memesona. Bibirnya yang ranum dan begitu nikmat. Kehangatannya yang memikat. Aroma tubuhnya yang manis dan menjerat.

Dia tau kalau tempat ini bukan tempat yang cocok untuk bercinta dan memadu kasih, setidaknya bukan pada malam berangin seperti ini. Tapi, bagaimana caranya ia meraih kesanggupan untuk melepas pria satu ini? Tidak bisa. Tidak mungkin. Malah kemungkinan untuk menjatuhkan Chuuya di atas pasir pantai lebih kuat daripada mengakhiri ciuman sederhana ini.

"Ha—mphh..."

Tarikan di kerah belakang adalah sinyal merah pertanda bahwa si mekanik mencapai batas napasnya. Maka dengan berat hati Dazai manarik diri. Melihat wajah Chuuya yang tertimpa karena sinar bintang, kini memerah maksimal dengan bibir mengilap dan mata sayu.

Sekali lagi Dazai memajukan diri, tentu ingin melanjutkan ciumannya setelah beberapa tarikan udara yang menggebu itu. Namun sayang, Chuuya menjitak kepalanya sebelum ia sempat melakukan aksinya.

"Dazai, kau gila ya." dengan napas yang tersengal Chuuya berkomentar. "Atau aku saja yang tidak tau kalau ternyata ciuman itu semelalahkan ini?"

Dazai yang tadinya mengigit bibir karena sakit di kepala kini terhentak. Kemudian ia beralih melihat si mungil yang masih dalam kondisi memancing syahwat.

"Chuuya, jangan bilang yang tadi itu ciuman pertamamu?"

"Bukan yang barusan. Tapi yang sebelumnya, iya."

Seperti tersambar petir. Dazai spontan menundukkan kepala, membenamkan kepala di dada kecil Nakahara Chuuya yang menatap bingung dangan wajah masih setia merona. "O-oi! kenapa?" tanyanya panik.

Tentu saja, jawaban itu hanya ada di pikiran Dazai yang tengah berfantasi. Antara menyesal karena menodai satu dari seluruh kesucian Nakahara Chuuya, dan bahagia karena jadi yang pertama mencicipi satu dari seluruh kesucian Nakahara Chuuya. Yah, tentu saja pikiran pemuda itu lebih condong ke opsi kedua. Lagipula, suasana lebih mendukung untuk memikirkan itu. Sedangkan opsi pertama, Dazai akan pikirkan nanti-nanti.

"Oi, Dazai." Suara itu mengalihkan Dazai dari kebahagiaannya.

"Chuuya, cium sekali lagi boleh?"

"Gak."

"Chuuuuyaaaaaa..." ah itu dia sifat manja yang sudah lama tidak Chuuya lihat. Entah kenapa ia rindu walau sangat menyebalkan.

Menghela napas, Chuuya tersenyum lembut. Ditangkupnya pipi pria itu dan menatap kedua manik hazelnya lembut, "Ayo kembali.."

Lingkaran tangan Dazai yang sedari tadi siaga di pinggul Chuuya mengerat. Ia jatuh mendekap, menghirup dalam-dalam aroma omega yang ia rindukan walau tak pernah lepas dari ingatannya.

Bagaimana caranya agar tidak jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama? Dazai ingin tau jawabannya. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak perlu juga. Toh, dia menyukai tiap saat ia jatuh cinta lagi dan lagi pada Nakahara Chuuya.

"Chuuya, kalau aku melakukan hal bodoh dan menyakiti hatimu lagi, kumohon pukul kepalaku sekuat yang kau bisa agar aku tersadar. Oke?"

Kalimat itu begitu serius sampai Chuuya terkekeh mendengarnya. "Kau masokis ya, Dazai?"

"Itu lebih baik daripada diam-diaman dan tidak bicara denganmu. Lebih baik daripada dibenci olehmu. Lebih baik daripada jauh darimu. Pokoknya itu lebih baik." rengkuhannya mengerat. Membungkam tawa Chuuya. Begitu yakin menyatakan kalau ia tidak ingin kehilangan. Karenanya Chuuya membalas dengan melingkarkan tangan pada punggung pemuda itu. Memilih tenggelam dalam hangatnya Dazai Osamu.

To Be Continued


Hai..

Ketemu lagi deh sama cerita ini dan yah, sekali lagi slow update ya. Untuk seterusnya juga mungkin bakal lebih lama karena. i'm starting my fucking practice. Jadi ya, bakal disibukkan dengan hal-hal semacam itu deh..

Btw, agak bahagia gitu akhirnya bisa bikin mereka berdua menyebarkan aura-aura romantis karena sejauh ini aku mikir, 'kok gak keliatan kalo ff ini rate M'.

But, smut coming soon next chapter! Yahoooo~~~~

Dengan begitu, mohon kritik saran karena saya sering stuck belakangan ini XD. Yah, sampai ketemu di chapter selanjutnya dan di cerita-cerita yang lain yaa...

btw, ff ini direpost karena menurutku karakternya lari dari citra awal ngehehe

See You~

Cylva