Judul : Rotten Apple

Author : judalismic

Fandom: BTS

Pairing : Jeon Jungkook/Kim Taehyung (KookV)

Genre : Romance; Drama

Warning: Boys Love, University!AU

NOTE :

Sesuai janji, chappie 10 pasti rilis kalau memang ga ada halangan. Rencana awal yang bakal bikin chappie kali ini Jungkook-centric batal. Haha Jadinya di sini bergantian sentrisnya antara Jungkook dan Taehyung. ;)

Happy reading~!

.


Rotten Apple


.

Jeon Jungkook tidak tahu rasanya jatuh cinta.

Tapi ia tahu benar, bahwa ia sangat, sangat, sangat tidak suka melihat Oh Sehun memeluk Kim Taehyung dengan begitu intimnya seolah saudara tirinya itu memilikinya.

Tidak, tentu saja tidak. Kim Taehyung bukan milik Oh Sehun, juga bukan miliknya. Namun hal itu tak dapat menghentikan gejolak panas yang memuncah dalam diri Jungkook, seolah merobek dadanya dengan besi panas dan mencabik-cabik sekujur tubuhnya yang kini gemetar menahan amarah. Untuk sesaat Jungkook berpikir beginikah rasanya saat gunung volcano hendak memuntahkan lava panasnya yang melelehkan besi dan baja dalam suhu seribu derajat celcius.

"Aku menemukannya duluan. Dan aku menangkapnya. Secara literal." Oh Sehun meletakkan dagunya di ceruk leher Taehyung yang tak terselubungi helaian gaun. Menatap Jungkook dengan pandangan mata yang jauh dari kata inosen. Sekali pandang saja Jungkook tahu benar bahwa saudara tiri sekaligus rival abadinya itu tengah menertawakan kekalahannya.

Ya, Jeon Jungkook telah kalah.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun kehidupannya, Jeon Jungkook telah kalah. Dan ia kalah dari saudara tirinya.

Jungkook baru tersadar bahwa kedua tangannya terkepal dengan erat ketika suara Taehyung yang terdengar ragu menyeruak dalam tensi tegang di antara kedua bersaudara yang kental dengan aura persaingan itu.

"Kurasa aku sudah tidak dalam kondisi pantas untuk dipertontonkan sebagai pasangan dansa siapapun malam ini?" Taehyung berkata penuh keraguan, seolah ia tengah mengucap mantra penuh harap agar kedua saudara ini tidak melibatkannya lebih jauh dan menyeretnya meneruskan drama konyol tentang Venus malam ini. Karena, demi Tuhan, gaunnya sudah berantakan dan kotor, dan jangan tanyakan rambutnya (wig) yang juga sudah tak tertata apik dan anggun.

Dan yang lebih penting lagi, mana mungkin ia dapat terus memerankan Venus ini saat ia telah tahu bahwa identitasnya rupanya tak serahasia dugaannya. Mau ditaruh di mana harga dirinya jika sekarang ia masih—menurutnya—dengan tidak tahu malunya berdansa dengan Jeon Jungkook ataupun Oh Sehun dalam balutan gaun perempuan. Duh. Dan lagi, kakinya yang terkilir sama sekali tak memungkinkannya untuk berjalan dengan benar, apa lagi berdansa! Demi Tuhan.

"Kau punya ide lain?" Dapat Taehyung rasakan hembusan napas hangat Sehun saat pemuda itu berbicara dengan suaranya yang setengah berbisik tepat di samping daun telinga Taehyung.

Jungkook, di sisi lain, bersumpah ia tidak pernah merasa sejengkel ini pada saudara tirinya itu.

Mereka telah sekian lamanya bersaing untuk segala macam hal. Dari mulai akademik, prestasi olahraga, bahkan posisi sebagai kapten klub basket di universitas mereka. Lebih daripada itu, terkadang Sehun menantangnya dengan segala macam ide konyolnya seperti siapa yang akan mendapat cokelat Valentine lebih banyak, atau siapa yang akan menerima pernyataan cinta lebih banyak, siapa yang akan mendapat tawaran berdansa saat mereka datang ke klub malam atau pesta dansa salah satu anggota klub basket mereka, atau juga siapa yang akan lebih banyak membuat hati para gadis patah hati dalam seminggu. Dan Jeon Jungkook bukanlah Jeon Jungkook jika ia menghindar dari sebuah tantangan terbuka. Terlebih, tantangan yang disodorkan di depan hidungnya oleh saudara sedarahnya sendiri.

Dari semua persaingan yang terjadi di antara Jungkook dan Sehun, tak ada satupun yang sungguh-sungguh membuat Jungkook merasa ia begitu ingin memenangkan pertaruhan mereka itu. Tentu, ia ingin selalu menang, karena baginya itu adalah hal yang sudah sewajarnya, sepatutnya, seharusnya, bagi seorang putra keluarga Jeon. Selalu menjadi yang terbaik dan unggul dalam semua hal. Segalanya.

Bukan saja ini adalah kekalahan pertamanya dari Oh Sehun, namun kali ini apa yang dipertaruhkannya adalah hal yang sangat besar. Jungkook tidak tahu lagi yang mana yang paling membuatnya marah. Kekalahannya dari Oh Sehun, wajah memuakkan Oh Sehun yang menertawakannya dari balik soket matanya yang berkilat penuh kemenangan dan dengan sengaja menyentuh apa yang adalah—seharusnya—miliknya, atau melihat Kim Taehyung bergeming seperti orang bodoh dalam dekapan Oh Sehun tanpa perlawanan.

Yang Jungkook tidak tahu, adalah bahwa saat ini Kim Taehyung yang tanpa sadar telah dianggap sebagai kepunyaannya itu tidak tahu harus bereaksi bagaimana menghadapi situasi yang di luar dugaannya ini. Dan jika ini bisa menenangkan hati Jungkook, mungkin ia perlu tahu bahwa Taehyung tengah mati-matian berusaha meloloskan diri dari pelukan Sehun dengan caranya sendiri.

"Aku ingin Jungkook membawaku pulang." Taehyung berkata dengan hati-hati.

Jika sesaat sebelumnya Jungkook merasa seolah setiap inci tubuhnya terbakar api tak nampak, sederet kalimat yang terucap dari mulut Taehyung barusan itu membuatnya merasakan aliran sejuk air yang mendinginkan kepala dan hatinya yang membara.

Sehun menatap Taehyung untuk beberapa saat tanpa menimpali, dan Jungkook berani bersumpah jika saudaranya yang kurang ajar itu berani memajukan wajahnya setengah jengkal saja, Sehun dan Taehyung akan berciuman. Dan Jungkook akan dengan lebih dari senang hati melempar jatuh saudaranya itu dari atap detik itu juga.

Mungkin ia akan meminta Park Jimin mencarikan tempat menguburkan mayat yang tidak mencolok di pekarangan mansion Oh Sehun yang sangat megah ini.

"Kau tidak lupa aku masih marah padamu?" Taehyung mulai lagi, mengerutkan keningnya saat dengan hati-hati memutar lehernya untuk balas menatap Sehun, agar pemuda itu tahu bahwa ia tak akan gentar dengan keputusannya untuk pergi.

Oke, kejadian yang terjadi hanya sepersekian detik ia menantang maut barusan itu mungkin membuat Sehun terkejut bukan main dan melupakan pembicaraannya dengan Taehyung sesaat sebelumnya. Taehyung masih marah dengan persaingan kekanakkan antara Sehun dan Jungkook yang kali ini melibatkan dirinya, tentu saja.

"Jika kau menyebutku kekanakkan, bagaimana dengan Jungkook?" Sehun menunjuk orang yang dimaksud dengan dagunya tanpa melepaskan tatapannya dari Taehyung dalam pelukannya.

"Aku sudah memarahimu. Aku akan memarahinya nanti." Taehyung mengangkat bahu, mendengus kecil dan mengalihkan tatapannya.

Sehun melengkungkan sudut bibirnya, menduselkan kepalanya di celah pundak Taehyung yang lembut dan berkata dengan penuh humor, "Aku tidak bercanda saat aku bilang aku memperlakukan gadisku dengan jauh lebih baik dari yang bisa Jungkook lakukan. Bagaimana jika kaulupakan semua ini dan berkencan denganku saja?"

Taehyung mengernyitkan dahinya tak senang. "Aku bukan perempuan." Demi Tuhan, ini bukan pertama kalinya seseorang mengatakan bahwa ia punya wajah menarik yang dapat membuat para gadis menjadi iri, namun ia sama sekali tidak menyukainya. Ia adalah laki-laki, dan itu adalah fakta yang tak terbantahkan!

Lagipula, apa maksudnya berkencan? Bukankah Oh Sehun berpacaran dengan Luhan seperti pengakuannya?

"Bagaimana aku memperlakukan orang lain bukan urusanmu." Jungkook memotong pembicaraan kedua orang yang tampaknya untuk sekejap melupakan kehadirannya di atap mansion yang berangin dingin itu. "Kau dengar sendiri apa yang dikatakannya. Taehyung ingin pulang denganku. Sekarang bersikaplah seperti seorang gentleman yang tahu kapan saatnya untuk mundur."

Seolah yang terlontar dari mulut Jungkook barusan itu adalah racun mematikan yang dingin dan penuh kebencian, Taehyung berjengit mendengarnya.

Sehun menatap Jungkook untuk beberapa saat, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat naik dan ia berkata santai, "Hanya perasaanku saja, atau aku melihat Jeon Jungkook sedang ketakutan?"

Jungkook menautkan kedua alisnya. "Takut? Aku?"

"Kau seperti seekor kelinci lucu yang ketakutan melihat apa yang kauinginkan diambil oleh orang lain." Sehun tertawa kecil.

Taehyung terkesiap, ia mengerjap dan bohong benar jika ia tak merasakan jantungnya berdegup kencang.

Apa maksud ucapan Oh Sehun barusan itu. Memangnya siapa yang menginginkan siapa?

Taehyung mau tak mau merasakan pipinya memanas.

Terdengar dengusan kencang. Jungkook mendecak dan mengulurkan sebelah tangannya ke arah Taehyung yang masih bergeming dalam dekapan Sehun. "Aku tak punya banyak waktu untuk pembicaraan konyol ini. Kemari, Kim Taehyung. Datang padaku."

Dapat Taehyung rasakan pelukan Sehun di tubuhnya melonggar, dan ia menggunakan kesempatan itu untuk bangkit menarik diri menjauh dari Sehun. Dengan tertatih, ia berjalan menghampiri Jungkook yang berdiri dengan tegap tak jauh dari tempatnya terjerembab di lantai atap bersama Oh Sehun sesaat sebelumnya.

Taehyung meringis saat syaraf di pergelangan kakinya dengan sukses mengirimkan sinyal rasa sakit pada otaknya saat ia memaksakan dirinya menyeret langkah dalam kondisi kaki terkilir itu. Ia hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya, ketika tiba-tiba saja dirasakannya dua lengan yang kuat menahan tubuhnya dari gravitasi yang berusaha menariknya jatuh. Taehyung mengangkat kepalanya, hanya untuk menemukan sepasang obsidian jernih sehitam malam yang menatapnya dalam.

Belum sempat Taehyung menemukan suaranya untuk mengatakan sesuatu—apa pun, yang dapat membuatnya keluar dari situasi memalukan ini, dirasakannya tubuhnya terangkat ke udara, dan tahu-tahu saja ia telah berada dalam gendongan ala putri dalam dekapan kokoh dan hangat Jeon Jungkook.

"Lingkarkan tanganmu di bahuku," ujar Jungkook padanya, seolah hal itu adalah hal yang sangat wajar dan normal bagi mereka berdua.

Taehyung tidak tahu apa yang terjadi dengan kewarasannya, karena detik berikutnya ia melakukan apa yang diperintahkan pemuda bermata obsidian itu tanpa sanggup mengalihkan tatapannya dari dua kolam mata air dalam soket matanya yang mempesona itu.

Suara batuk—yang jelas sekali bohongnya—terdengar memecah keheningan intens antara Jungkook dan Taehyung yang larut dalam sesi saling menatap seolah hanya ada mereka berdua saja makhluk hidup yang bernapas di atas atap.

"Aku akan mengumumkan pada semua tamu undanganku malam ini bahwa aku telah memenangkan Venus, namun karena Venus tidak enak badan maka ia memutuskan untuk pulang lebih awal. Dan Jeon Jungkook yang malu atas kekalahannya juga memutuskan untuk pulang dengan kepala tertunduk membawa piala kekalahan. Cukup adil untuk semua pihak, kurasa?" Sehun bertolak dari tempatnya duduk di lantai, berdiri sembari menepuk-nepuk celananya yang kotor.

Taehyung merasakan dekapan Jungkook yang menggendongnya mengerat. Jika bukan hanya mereka bertiga yang ada di sana, Taehyung rasa ia akan mati karena malu berada dalam kondisi seperti itu di tangan Jungkook.

"Terserah." Jungkook menjawab tak acuh. Namun siapapun tak akan tertipu dengan caranya ingin terlihat tak peduli dengan apa yang akan dikatakan Sehun tentangnya di pestanya ini, karena siapapun dapat merasakan kepahitan dan kemarahan dari cara Jungkook mengatakan kata 'Terserah' barusan yang lebih terdengar seperti sumpah-serapah yang disemburkan dengan pahit.

Sehun tampaknya telah selesai merapikan dirinya, dan ia mengangkat wajah tampannya menatap kedua pasangan yang tampak serasi beberapa meter di hadapannya itu. "Kau beruntung karena aku punya pasangan dansa lain malam ini. Jika tidak, aku tak akan menyerahkan Taehyung padamu apa pun yang dikatakannya," katanya.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. Taehyung sepertinya memahami ucapan Sehun itu, bayangan sosok Luhan terlintas dalam benaknya.

Jungkook tak merespon lagi, berbalik dan mengambil langkah menjauh dari sana bersama Taehyung dalam gendongan kedua lengannya.

.

.

.

.

.


.

Perjalanan menuju pelataran parkir yang seharusnya dapat ditempuh kurang dari lima menit itu terasa begitu lama. Derap langkah Jungkook yang bergema saat hak pantofel hitamnya yang disemir mengkilat memantul menapaki paving block yang mengalasi pelataran parkir kediaman keluarga Oh.

Bohong besar jika Taehyung bilang ia tidak malu bukan kepayang berada dalam gendongan Jungkook seperti saat ini. Sempat ia lihat pandangan beberapa orang petugas sekuriti keluarga Oh Sehun menatap mereka tanpa berkedip saat Jungkook menolak mereka menggendong Taehyung untuknya. Siapapun yang melihat Taehyung saat ini, ia sungguh terlihat seperti seorang tuan putri lemah yang tengah digendong oleh pangerannya yang tampan. Dan ini sungguh, sungguh, sungguh, memalukan.

Jungkook mendudukkan tubuh semampainya yang berbalutkan gaun merepotkan itu pada jok penumpang di samping kursi kemudi dengan hati-hati. Ingin Taehyung memukul teman kencan semalamnya itu dan mengingatkannya bahwa bagaimanapun penampilannya malam ini, Kim Taehyung adalah seorang laki-laki tulen. Dan memperlakukan seorang laki-laki dengan lembut dan penuh kehati-hatian seperti itu adalah kesalahan besar. Uhh.

Fakta berkata lain. Alih-alih melontarkan rangkaian protesnya bertubi-tubi, saat ini Kim Taehyung sibuk mati-matian menahan rona malu yang menjalari wajah, kuping, dan lehernya. Ia sudah cukup terlihat seperti perempuan malam ini, tidak perlu lagi ditambah dengan rona-rona menggelikan khas perempuan, demi Tuhan.

"Eliza dan timnya akan menghapus riasanmu itu setelah kita pastikan pergelangan kakimu mendapat pertolongan pertama." Jungkook berkata saat ia telah menutup pintu mobil di sampingnya dan menyalakan mesin ferrarinya yang kini menderu.

"Mereka menunggu kita?" Taehyung berusaha mengalihkan pikirannya dari apa pun yang membuat semburat merah jambu di wajahnya berhenti bermain-main di sana.

"Tentu saja. Itu sudah tugas mereka," timpal Jungkook.

Taehyung hanya bergumam singkat. Ia tak punya ide untuk melanjutkan dialog ini, dan dapat dibayangkannya Park Jimin menertawakannya entah dari sudut mana di mansion Oh Sehun, karena siapa menyangka seorang Kim Taehyung yang sangat gemar berbicara, ada kalanya merasakan lidahnya kelu dan menolak untuk terlibat konversasi lebih lama dengan seseorang.

Omong-omong soal Park Jimin….

"Ya, Tuhan!" Taehyung berteriak. "Jiminie mungkin sedang kebingungan mencariku!" Sontak ia menoleh cepat pada Jungkook yang duduk di sampingnya.

Jungkook mengangkat bahunya tak acuh. "Dia tidak menjagamu dengan baik seperti yang kukatakan. Biarkan saja."

Taehyung mengernyitkan alisnya. Seketika semua ucapan Luhan pada Jimin yang terjadi di ruang galeri milik keluarga Oh kembali terbersit dalam ingatannya, dan ia kembali merasa jengah.

"Paling tidak, dia memperlakukanku sebagai manusia." Taehyung tak bisa menghentikan dirinya sendiri.

Jungkook mengerutkan keningnya, menatap Taehyung melalui spion tengah yang tergantung di antara kedua kursi mereka. "Apa maksudmu?"

Taehyung mengedikkan bahunya. "Oh, entahlah. Mungkin aku cuma sedikit jengkel setelah tahu bahwa kau dengan teganya menyiapkan agenda lain di belakangku. Bahwa sebetulnya dari awal pun kau tidak mempercayaiku ataupun Jiminie, dan memastikan agar tangan kanan rahasiamu mengawasi gerak-gerik kami." Yang, malah memutarbalikkan semua keadaan ini. Namun Taehyung belum merasa perlu memberitahu Jungkook soal bagian yang itu.

"Luhan?" Jungkook bertanya seolah hal itu sama sekali bukan hal yang salah. Taehyung merutuki dirinya sendiri yang sejenak merasa berhak mendapatkan ucapan permohonan maaf dari seorang Jeon Jungkook.

Jungkook kembali menambahkan, "Dia menawarkan diri untuk mengawasimu. Bahkan ia menelantarkan pasangannya sendiri. Kau ingat Yein? Dia adalah pasangan dansa Luhan malam ini. Tapi ia lebih memilih untuk membantuku mengawasimu agar Sehun tak menemukanmu."

Taehyung ingin terbahak.

Apanya yang mengawasi? Apanya yang membantu?

Yang ada pemuda berwajah mungil itu adalah kekasih rahasia Oh Sehun, rival Jeon Jungkook, yang berarti semua tindakan Luhan berdasarkan kepada hal-hal yang menguntungkan Sehun semata.

Dan sejenak Taehyung berpikir, apa sebetulnya yang ada dalam kepala Luhan. Jika ia memang bermaksud menjebaknya agar membenci Jungkook, bukankah itu artinya merupakan peluang bagi Sehun untuk mendekatinya? Tidakkah Luhan merasa cemburu melihat kekasihnya sendiri berdansa dengan orang lain karena campur tangannya?

Tawa kecil yang menyeruak membuat lamunan Taehyung buyar. Taehyung menoleh heran pada rekan perjalanannya itu.

"Jangan bilang kau cemburu karena aku menerima tawaran Luhan untuk jadi pengawas rahasiaku?" Jungkook menatap Taehyung melalui ekor matanya, bibir merahnya mengulum senyum yang penuh kepuasan dan rasa senang entah karena apa.

Taehyung menepuk keningnya secara imajinatif. bagaimana mungkin ia lupa betapa narsisnya si Anak Emas di sampingnya ini.

"Harus kukatakan kau terlihat lucu saat cemburu, tapi kurasa aku harus protes." Jungkook membuka suaranya lagi. "Kau terlihat begitu menikmati saat Oh Sehun memelukmu di atap mansion tadi."

Taehyung mengerjap.

"Bukankah sudah kukatakan bahwa malam ini kau adalah Venusku? Malam ini kau adalah milikku." Dapat Taehyung rasakan intonasi yang tajam dan penuh ketegasan itu dengan sukses telah membuat seorang Jeon Jungkook dinobatkan sebagai laki-laki paling posesif yang pernah Taehyung temui.

"Aku tidak menikmati apa pun," elak Taehyung. "Dan jika kaupikir aku lupa pada peranku malam ini, perlu kuingatkan pada siapa kakiku ini melangkah di atas atap tadi."

Tahukah Jeon Jungkook bahwa mengucapkan kalimat terakhir barusan itu membuat Taehyung semerah kepiting rebus?

Taehyung merasa dirinya lebih bodoh dari orang bodoh. Kenapa juga ia harus merasa malu saat dengan jelas secara implisit ia mengatakan bahwa hubungan mereka malam ini semata-mata hanya berdasarkan kontrak perjanjian tak tertulis mengenai drama Venus yang dipentaskan oleh Jungkook dan kru designernya.

Jungkook tak menimpali untuk beberapa saat, memusatkan perhatiannya hanya pada jalanan di depan mobil yang mereka tumpangi. Taehyung sudah berpikir bahwa Jungkook kehilangan minat untuk melanjutkan pembicaraan, ketika tiba-tiba saja suara yang renyah dan khas itu kembali terdengar, "Di mansion itu aku melihat Lucifer."

Taehyung mengerjap. Lucifer?

"Aku tidak mengatakannya padamu," terang Jungkook, "sebetulnya Venus bukanlah nama panggilan random yang kupilihkan untukmu."

Taehyung seketika mengingat semua yang dikatakan Luhan dalam ruang galeri itu.

Oh, tentu saja. Venus adalah sosok imajiner yang merupakan manifestasi dari kesempurnaan seorang gadis dalam khayalan. Imajinasi Jungkook mengenai seorang gadis paling cantik sedunia.

Dan Taehyung hanyalah salah satu dari sekian kandidat Jungkook untuk memerankan Venus malam ini.

Jika Luhan tidak menolak Jungkook untuk menjadi Venusnya, maka orang yang duduk di sampingnya saat ini tentulah bukan Taehyung. Dan siapa yang tahu ada berapa banyak Venus-Venusnya yang lain yang akan memainkan babak-babak drama Jungkook berikutnya. Karena seperti yang dikatakan Luhan, tidak harus dirinya. Tidak harus Taehyung yang menjadi Venus.

"Ayahku… adalah ayah Sehun." Jungkook kembali berujar.

Taehyung terbelalak.

Sungguhpun ia telah mendengarnya dari Oh Sehun, namun mendengarnya dari mulut Jeon Jungkook sangat mengejutkannya. Taehyung tak begitu memahami jalan pikiran Sehun, dan ia tak tahu apa yang direncanakan Sehun dengan mengatakan hal itu padanya, namun yang lebih tak diduganya adalah Jungkook sendiri mengakui hal yang sama padanya.

"Mengejutkan, bukan?" Jungkook tidak tahu bahwa yang mengejutkan Taehyung bukanlah fakta yang sudah diketahuinya itu, melainkan karena—entah dengan alasan apa—Jungkook membuka rahasianya sendiri dan berbicara mengenai kehidupannya pada orang lain. "Ayahku meninggalkan ibunya dan menikahi ibuku," lanjut Jungkook.

Taehyung terdiam, menatap pemuda berambut gelap yang terduduk tegap sekaligus bersandar nyaman dengan begitu klasiknya pada jok kemudi ferrarinya yang mewah dan berlapiskan kulit asli.

"Aku tidak terlalu mengingatnya dengan jelas, karena saat itu usiaku bahkan belum membolehkanku masuk sekolah dasar. Tapi bisa kuingat kakekku bercerita mengenai masa lalu ayah dan ibuku. Kakek juga bercerita tentang lukisan yang dibuat oleh ayahku dan hingga saat ini ada di kediaman keluarga Oh."

Taehyung mulai dapat menyatukan kepingan puzzle ini satu demi satu, namun ia membiarkan lawan bicaranya itu melanjutkan kisah apa pun yang ingin dimuntahkannya.

"Lukisan yang sangat hebat, begitu kakekku menyebutnya. Lukisan sangat besar dengan dua sisi kanvas." Jungkook memutar setir di tangannya untuk berbelok saat mobil yang mereka tumpangi mencapai perempatan yang lengang dengan kerlip lampu lalu lintas yang menyala malas.

"Lucifer?" Taehyung menebak pelan.

"Lucifer." Jungkook mengiyakan. "Dan Venus, di sisinya yang lain."

Kali ini Taehyung terbelalak.

"Aku tidak tahu sebesar apa pengaruh kisah yang didongengkan kakekku mengenai Lucifer dan Venus beberapa tahun setelah ia membuatku merasa penasaran ingin melihat lukisan itu. Tapi yang kutahu, aku semakin ingin melihat lukisan itu. Aku ingin melihat cinta seperti apa yang membuat Lucifer yang agung membangkang pada Tuhan. Dan aku ingin lihat, wanita seperti apakah Venus yang merupakan cerminan lain dari Lucifer. Mereka yang disebut bintang fajar, yang memiliki kisah dan legenda yang berbeda, namun merepresentasikan hal yang sama. Cinta."

"Dan kau melihatnya," sela Taehyung saat Jungkook berhenti sejenak dari paparannya.

"Hanya Lucifer," terang Jungkook.

Taehyung mengerutkan keningnya. "Venus ada di baliknya, kan? Lukisan dengan dua sisi kanvas, kaubilang?"

"Lukisan itu ditempelkan pada dinding ruang galeri. Dan aku tidak punya banyak waktu dan tenaga untuk membalik lukisan besar itu," jelas Jungkook. Ia menoleh pada Taehyung, tatapan mata lekat menyekat kedua pupil kecokelatan Taehyung yang terselubungi lensa kontak semerah rubi. "Karena aku ingin menemukanmu lebih dari keinginanku untuk melihat Venus. Karena kau adalah Venusku."

Seolah paru-parunya kehilangan daya untuk menyaring oksigen, seolah jantungnya kehilangan daya untuk memompa darah, Taehyung rasakan sekujur tubuhnya mendingin dan terhenti dari semua jenis pergerakan. Jika menjadi sebuah patung lilin adalah peran yang pernah dimainkannya dalam drama universitasnya bersama Baekhyun adalah sebuah pengalaman, maka hal itu sama sekali tak ada artinya saat ia betul-betul merasakannya seperti saat ini. Taehyung merasa setiap jengkal tubuhnya membeku, mematung menjadi porselen yang dingin dan kaku.

Jungkook berdeham canggung, sepertinya ia sama sekali tidak terbiasa berada dalam situasi seperti ini.

"Jangan cemas, aku tidak akan memaksamu lebih dari ini. Seperti yang kubilang, kau hanya perlu menjadi Venusku untuk malam ini. Kau bebas melakukan apa pun yang kaumau setelah kuantar pulang ke asramamu lagi." Jungkook berujar dengan canggung, mengalihkan pandangannya dari Taehyung.

Taehyung masih membatu.

"Oh, aku tidak bermaksud memperpanjang kesepakatan ini, tadinya kau akan kubebastugaskan setelah kita melangkah keluar dari kediaman Oh Sehun. Tapi siapa sangka kakimu terkilir karena kau akan melompat dari atap gedung itu saat aku memintamu melakukannya. Dan aku tidak sekejam itu untuk melepas tanggung jawab dan meninggalkanmu begitu saja di butik Eliza dan meminta sopirnya mengantarmu pulang." Jungkook berkata cepat.

Taehyung mengerutkan keningnya.

Itu niat awal Jeon Jungkook padanya? Meninggalkannya di butik Eliza setelah Taehyung menyelesaikan perannya malam ini? Demi Tuhan.

"Aku tidak terkilir saat akan melompat," sanggah Taehyung. "Kau tidak perlu merasa bertanggung jawab untuk apa pun." Taehyung melempar pandangannya ke luar jendela di sampingnya.

Ia tak ingin Jungkook melihat kedua pupil matanya bergetar.

Jika Jungkook ingin meninggalkannya, tinggalkan saja ia. Jika bagi Jungkook dirinya sudah tak berarti apa-apa lagi setelah drama mengenai Venus ini selesai, tinggalkan saja ia.

Tidak, Taehyung tidak merasa ingin menangis, demi Tuhan.

Jungkook kembali berdeham, seolah menelan apa pun yang ingin dikatakannya karena harga dirinya menentangnya.

"Kurasa Eliza tidak akan senang melihat gaun indahnya kembali dalam keadaan tidak layak dan jauh dari kata sempurna?" Taehyung berkata lagi. "Aku akan mencucinya di binatu dan mengembalikan gaun ini dengan wig dan aksesorisnya secepatnya. Aku bisa menghapus riasan ini sendiri. Kau tahu, sebagai anggota klub drama aku punya kotak kosmetik dengan isi lebih lengkap dari yang sewajarnya seorang mahasiswi miliki sekalipun." Taehyung berusaha terdengar penuh canda. "Jadi, antar saja aku pulang ke asrama."

Taehyung tidak ingin terlibat dan berhubungan dengan apa atau siapa pun lagi dalam kehidupan Jungkook.

Jungkook mengeratkan genggamannya pada setir di tangannya.

Taehyung menyelipkan jemari lentik dan panjangnya pada rambutnya, mencabut jepit-jepit rambut yang menahan wig chestnut burgundy lembut yang menghiasi kepalanya. "Aku tidak bisa naik taksi dengan penampilan seperti ini. Jadi kuharap memintamu mengantarku pulang tidak merepotkanmu?" ujarnya penuh nada humor yang dipaksakan.

Mobil yang terhenti secara tiba-tiba diiringi bunyi decit ban mobil saat pedal rem diinjak mendadak itu membuat mobil yang mereka tumpangi itu terlonjak, dan jika bukan karena seatbelt yang menahan tubuhnya, dapat dipastikan Taehyung sudah terlempar ke luar jendela depan mobil. Taehyung mengumpat keras, menoleh cepat pada pengemudi yang duduk di sampingnya dan membuka mulutnya, "Apa yang—!"

Semua terjadi begitu cepat.

Tahu-tahu saja tubuh atletis dan tegap itu telah mendekat. Tahu-tahu saja tangan yang kuat itu telah meremas erat lengan atasnya. Tahu-tahu saja bibir yang merah dan lembut itu telah menciumnya dengan kasar.

Taehyung terkejut bukan kepalang.

Jungkook memiringkan kepalanya, mencari angle yang tepat untuk mendapatkan akses lebih mudah mencumbu bibir Taehyung yang dipulas lipstik semerah mawar untuk yang kedua kalinya malam itu. Sebelah tangannya meloloskan diri di antara helaian wig yang membingkai wajah Taehyung, menyentuh lembut lehernya, bertengger di tengkuknya dan memposisikan wajah Taehyung yang dirias secantik mungkin malam itu untuk dapat merasakan ranumnya bibir itu dengan lebih dalam.

Taehyung mendorong kasar tubuh yang terbentuk dari otot-otot sempurna hasil nyata dari olahraga dalam jangka waktu lama dan teratur itu, namun Jeon Jungkook sama sekali tak bergeser dari tempatnya memagut Taehyung. Bahkan Taehyung tak kuasa menolak saat Jungkook menelusupkan lidahnya di antara belahan bibirnya yang kini telah membasah dengan lipstik yang berantakan. Taehyung terkesiap, dan dalam sekejap Jungkook menjelajahi rongga mulutnya.

Dapat Taehyung rasakan bagaimana lidah yang terampil itu menggoda langit-langit mulutnya, memutari lidahnya sendiri, mengajaknya meliuk dan menari bersama di dalam sana. Jungkook mengisap mulutnya dan Taehyung tidak bisa tidak merasakan setiap inci wajahnya menghangat saat terdengar kecipak bunyi basah yang timbul dari cumbuan Jungkook padanya. Taehyung mengerang pelan, mendesah pasrah walau otaknya mati-matian menyuruhnya untuk berhenti.

Logika kembali menyambangi dirinya yang setengah melayang itu, ketika dirasakannya tangan lainnya milik Jungkook yang besar dan hangat mengusap pinggangnya dan menarik tubuh rampingnya mendekat.

"Kau cuma punya dua opsi destinasi untuk dituju," ujar Jungkook dengan napas memburu setelah ia menghentikan pagutannya dan mengambil sedikit jarak dari Taehyung.

Taehyung mengatur napasnya, menatap Jungkook dengan isi kepala yang sama berantakannya dengan lipstik di bibirnya.

"Butik Eliza, atau rumahku."

.

.

.

.

.

.

.

.

~* TBC *~


.

Author's Note:

Wah wah wah. Kookie, bukannya beresin dulu kesalahpahaman ama Taetae malah main nyosor aja. Hayo, gimana ini. XDD

Pertanyaan kecil (tapi penting), seandainya fic ini naik rating ke M untuk chapter depan, kalian setuju nggak? :D

Jangan salahkan author, salahkan dua anak ini yang cute banget makin mesra ga ketulungan di depan publik belakangan ini. Sexual tension di antara mereka ga nahan banggeeetz. XDD

Dannnn akhirnya setting beralih dari mansionnya Sehun. Malam yang panjang banget buat Taetae. X3

Semoga chapter depan JK dan V bisa saling membuka diri dan jujur sama perasaan masing-masing, yaa. :'D

Nantikan terus lanjutannya! ^ ^

.

.

Special Thanks to: (diurutkan berdasarkan urutan review)

HobieHopie, Yuko348, VKookKookV, Nikken969, ayalien, 1, iistaetae, Shin RanRan, Dedee5671, siskap906, seunqwans, outout, V-TaeBaby, Kyubear9597, tryss, Tikha Semuel RyeoLhyun, A.m.s taetae95, purplesya, Icha744, Strawbaekberry, Ndhandun, shiinasany, chann17, Jell-ssi, Ntaetae, TyaWuryWK, Nevinna Lea, salsabila, sxgachim, Linkz account, , shield, maymayun5, utsukushii02, exoinmylove, Fujoshi203, ame jung, GaemGyu92, Ren Afrezya, Dororong, Macchiato Chwang, Iis391, michaelchildhood, fallinkook, WulanDeerKookV, Mrs. EvilGameGyu, ranran, Kazuma B'tomat, sanaa11, Rahma993, 94shidae, etissunaryop, Haru-chan, chryperz0130, jasmore, IdayatikookieV, HilmaKins, akisjunghyun16, Heechul-nim, SheravinaRose, nikitawiin, Hastin99, k, yeahmin, Nagi, kahisairawan, AmaliaSalm, Anunya Bangtan, Yozoa-MKline.

Thanks a bunch, gurls, selalu kasih feedback positif yang bikin aku makin semangat ngefic. :'D Love you all!

(nama-nama yang disebutkan di atas berdasarkan review yang muncul kalau aku filter review di Review Page ke Chapter 9 (sebelumnya)... Mian kalau ternyata ada yang kelewat... Sama sekali nggak disengaja. Mungkin FFN menggembel dan bikin review kalian ga muncul... TT_TT)

Karena minggu ini libur panjang (yay!), semua feedback (login) yang masuk bakal direply secepat mungkin biar nggak keburu numpuk dan ga sempet respon lagi. Buat feedback yang nggak login, bakal direspondi sesi Review Reply setelah 'Special Thanks to' di chappie depan. Sekali lagi, mamacih yaa masih setia sama Rotten Apple dan nyempetin diri buat kirim kesan dan pesan kalian. Semuanya selalu aku baca dengan hepi. ^-^

See ya soon!

.