Addicted

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Halo, Eomma."

"Jonghyun, kau ada dimana?"

Jonghyun meneguk bir ditangannya sebelum menjawab. "Madrid."

"Madrid? Bagaimana bisa kau masih ada di Madrid?

"Tentu saja bisa, Eomma."

"Tadi Tiffany menelponku dan mengatakan Minhyun sudah ada di rumah, bahkan Minhyun sudah masuk kantor."

Jonghyun tidak mengatakan apapun. Hari ini memang dua hari setelah Minhyun dan Seulgi kembali ke Korea tapi Jonghyun memilih menetap di Spanyol untuk sementara waktu.

Tentu dia ingin memberitahu Minhyun segalanya bahwa apa yang dikatakan Seulgi hanyalah kebohongan belaka tapi dia tahu mereka sama-sama sedang emosi biarkan emosi mereka mereda dulu baru Jonghyun akan menjelaskan semuanya.

"Jonghyun, katakan pada Eomma. Ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar? Apa perlu Eomma ke Spanyol sekarang?" kekhawatiran terdengar jelas pada suara Jessica.

"Tidak Eomma, besok aku akan kembali ke Korea."

"Lalu ada apa dengan kalian?"

Cukup lama Jonghyun tidak mengatakan apapun.

"Jonghyun, walaupun Eomma bukan sosok yang melahirkanmu tapi Eomma adalah sosok yang membesarkanmu sejak bayi. Katakan semuanya pada Eomma, Jonghyun."

"Eomma, sepertinya aku tengah menghadapi karmaku."

"Karma?"

"Seorang wanita yang dulu aku campakan membalas dendam padaku. Sepertinya dia berencana membuat Minhyun mencampakkanku."

"Ceritakan pada Eomma semuanya, Jonghyun."

Jonghyun menceritakan semaunya pada sang Ibunda karena bagaimanapun Kim Jonghyun tetaplah seorang pemuda belia yang masih labil dan membutuhkan saran dari sosok yang lebih dewasa darinya.

Di seberang telepon Jessica tampak menghela nafas dalam. "Biar Eomma jelaskan pada Tiffany, kau segeralah kembali dan jelaskan pada Minhyun dengan baik-baik."

"Iya, Eomma."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau tidak akan selingkuh dariku kan?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada Minhyun. Kau tenang saja, Suho. Cintaku hanya untukmu."

"Kalau begitu segeralah kemari, kau memiliki jadwal pemotretan yang padat."

"Cancel semuanya."

"Seulgi."

"Hanya seminggu, Suho. Aku yakin Minhyun akan menceraikan Jonghyun dalam seminggu lagi. Setelah itu aku akan kembali padamu."

"Janji?"

"Janji, My love."

"Seulgi."

Seulgi langsung mematikan ponselnya dan menatap Minhyun. "Minhyun Oppa."

"Maaf membuatmu menunggu lama."

"Tidak apa-apa, Oppa." Seulgi langsung memeluk lengan Minhyun dengan manja. "Ayo ke rumahmu, Oppa. Aku ingin memasak makanan kesukaanmu seperti dulu."

Minhyun mengangguk singkat dan membawa keduanya masuk ke mobil miliknya.

.

.

.

Minhyun menghentikan mobilnya di depan rumah yang ia tinggali dengan Jonghyun. Ia dan Seulgi dengan segera masuk kedalam.

"Dapurnya ada di sebelah kanan." Ucap Minhyun.

Seulgi mengangguk mengerti. "Oppa, kau mandilah dulu. Aku akan langsung membuat makan malam untukmu."

Minhyun mengangguk lalu naik ke lantai atas kamarnya.

Mata Seulgi terus menatap Minhyun sampai pria tampan itu masuk kedalam kamarnya. Setelah merasa aman Seulgi langsung keluar rumah Minhyun dan masuk ke bagasi.

Senyum licik Seulgi terukir ketika matanya melihat motor ducati.

"Pasti ini motor bocah sialan itu. Dari dulu dia memang menyukai motor dan mobil sport. Lagi pula tidak mungkin milik Minhyun." Seulgi bermonolog seorang diri.

Ia lalu menunduk dan merusak rem motor Jonghyun. Seulgi tahu bagaimana cara melakukannya karena ini memang salah satu rencananya dan ia mencari tau bagaimana merusak rem motor.

"Kau melukai hatiku maka aku akan melukaimu."

.

.

.

Jonghyun keluar dari bandara dan menghentikan taxi. Jessica sudah menawarinya untuk menjemput namun Jonghyun tolak.

"Kemana, Tuan?"

Jonghyun menyebutkan alamat rumahnya. Rumah yang ia tinggali dengan Minhyun.

.

.

.

Minhyun turun dari kamarnya dan melihat Seulgi tengah duduk di sofa. "Seulgi, mana makan malamnya?"

"Oppa, duduklah dulu."

Minhyun menurut dan duduk di samping Seulgi.

"Oppa maaf aku tidak jadi membuat makan malam untukmu karena aku terlalu bahagia melihat foto-foto kita yang dulu." Seulgi memperlihatkan layar ponselnya pada Minhyun yang menampilkan foto dirinya dan Minhyun ketika keduanya masih berstatus tunangan.

Minhyun hanya mengangguk-angguk melihat foto-foto mereka. Sebenarnya dia bukan seorang fotogenic hanya saja Seulgi suka memintanya untuk berfoto bersama saat itu.

Seulgi mendekatkan wajah mereka. "Minhyun Oppa~"

"Hm?" Minhyun berniat untuk menatap wajah Seulgi namun ternyata bibirnya menyentuh tepat pada bibir Seulgi.

Mendapatkan kesempatan emas, Seulgi langsung mencium bibir Minhyun lebih keras, bukan hanya ciuman saling menempelkan bibir saja.

Minhyun adalah pria normal. Mendapatkan sesuatu seperti ini tentu saja langsung ia ambil. Kini keduanya berciuman cukup intens.

"Sepertinya kalian sedang bersenang-senang?"

Minhyun langsung mendorong tubuh Seulgi. Ia terkejut bukan main melihat Jonghyun ada didepannya.

"Jadi ini yang kau lakukan di belakangku, Hwang?"

Kemarahan menguasai Minhyun. Ia tahu ia melakukan kesalahan dengan mencium seseorang ketika statusnya sudah menikah namun Minhyun tahu Jonghyun pernah melakukan sesuatu yang lebih gila darinya.

"Fuck you, Kim. Kau pikir aku tidak tau bahwa kau pernah tidur dengan Noonaku?!"

Kini Jonghyun yang terkejut akan ucapan Minhyun.

"Ya aku melihatnya. Aku melihatmu mencium Noonaku dan menariknya ke kamar bahkan aku mendengar desahan kalian."

Kini dua orang yang terikat dalam sumpah pernikahan saling berpandangan cukup lama. Semuanya berkecamuk dalam pikiran mereka dan semua itu bergumul menjadi rasa amarah.

Jonghyun membalikan badannya untuk keluar namun sebelum dia benar-benar keluar Jonghyun menyempatkan diri mengambil kunci motornya yang ada di meja dekat pintu. Ia butuh udara segar dan alcohol dengan teman-temannya adalah pilihan yang menyenangkan.

.

.

.

Jonghyun mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dalam pikirannya hanya ada nama Minhyun, Minhyun dan Minhyun.

Ratusan kali Jonghyun berada dalam suatu hubungan tapi ini pertamakalinya ia merasakan apa itu cemburu, kecewa dan marah pada pasangannya. Semua itu hanya ia rasakan pada satu orang yang bernama Hwang Minhyun.

Jonghyun terlalu fokus pada pikirannya hingga tidak menyadari sebuah truk besar berada didepannya.

"Shit."

Jonghyun mencoba mengerem motornya namun tidak berfungsi sama sekali.

Tittttttt

Jonghyun mencoba memutar motornya namun terlambat. Dengan kecepatan motornya diatas rata-rata dan jalanan yang gelap semuanya seperti kilatan petir yang menyambar dengan cepat.

BRAKKKK

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Minhyun menatap kosong lantai rumah sakit. Disamping kanannya Sujin menggigiti jari-jari kukunya sedangkan disamping kirinya ada Seulgi yang memeluk lengannya.

Didepan Minhyun, Ibunya tengah menenangkan Ibu mertuanya yang menangis. Ayahnya duduk dengan tenang namun Minhyun tahu ada sedikit kekhawatiran disana dan Ayah mertua Minhyun yaitu Kim Jaejoong tampak sedang menelpon seseorang.

"Aku sudah mencoba menelpon Kibum tapi ponselnya sepertinya mati, Father."

Minhyun tahu jika Kibum adalah Paman Jonghyun tapi nada suara Jaejoong seakan mengatakan jika Kibum adalah orang pertama di dunia yang harus tahu kondisi Jonghyun. Apakah hubungan Paman dan Keponakan yang dimiliki Kibum dan Jonghyun begitu erat?

"Saksi mengatakan jika Jonghyun menabrak Truk." Jaejoong berucap dengan guasar. Putra sematawayangnya itu begitu ahli dalam mengendarai motor tidak mungkin Jonghyun begitu lengah. "Iya, Father. Kasus ini sudah di urus polisi dan detektif negera."

"Seulgi lebih baik kau pulang." Ucap Minhyun.

"Aku ingin menemanimu, Oppa."

Minhyun menatap dingin Seulgi. "Seulgi kau tidak memiliki keterkaitan apapun dengan keluargaku. Lebih baik kau pulang."

Seulgi menunduk ketakutan. Sujin yang melihat itu langsung berdiri dan menghampiri Seulgi. "Ayo, Seulgi. Aku antar kau pulang."

"Ne, Sujin-eonnie."

.

.

.

.

.

.

Sooman membuka pintu ruang kerja putra bungsunya dengan kasar. "Kibum, apa ponselmu mati?"

"Sepertinya begitu. Kenapa?" tanya Kibum namun matanya masih terfokus pada komputer.

"Jonghyun kecelakaan."

Tanpa sengaja Kibum menghapus file yang sedang ia kerjakan dan menatap Ayahnya.

"Pergilah ke Korea. Aku sudah menyiapkan pesawat pribadi untukmu." Perintah Sooman.

Kibum langsung berdiri dari duduknya dan berlari keluar. Ekspresi khawatir terlihat jelas pada wajahnya yang stoic.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa yang mereka lakukan didalam, kenapa lama sekali."

Tiffanya memeluk Jessica lebih erat. "Sicca, tenanglah. Ini menyangkut nyawa Jonghyun tidak mungkin mereka melakukannya dengan terburu-buru."

"Hiks, Putraku, Fany."

"Putramu akan baik-baik saja, Sicca. Percayalah. Jonghyun adalah pemuda yang tangguh."

Jaejoong berjongkok didepan Jessica yang memang duduk di kursi tunggu. "Benar kata Tiffany, Jonghyun adalah pemuda yang tangguh, Sayang. Dia akan baik-baik saja."

Ruang UGD langsung terbuka setelah Jaejoong berucap demikian. Beberapa dokter langsung keluar dan membuka masker mereka.

"Orang tua Kim Jonghyun?"

Jaejoong dan Jessica langsung mendekati sang dokter yang tampaknya paling senior diantara dokter lainnya.

"Dokter Lee, bagaimana keadaan putra kami?"

"Tuan dan Nyonya Kim, kami rasa kami harus mengoperasi pasien dengan segera. Kepala pasien mengalami kebocoran dan kami melihat jika jantung Pasien juga terluka bagian dalamnya. Kami meminta ijin kepada anda selaku orangtua pasien untuk melakukan tindakan operasi." Jelas Dokter Lee.

"Aku memberikan ijin."

Seluruh kepala langsung menengok kearah asal suara berasal dan disana Kibum datang dengan tubuh penuh peluh.

Jaejoong langsung menatap sang Dokter. "Kau sudah mendapatkan ijin dari Ayahnya. Lakukan operasi dengan segera."

"Akan kami lakukan." Para Dokter segera memasuki ruang UGD kembali.

Mata Minhyun terbelalak. Ia tidak salah dengarkan tadi Jaejoong mengatakan Ayahnya pada Kibum, padahal sudah jelas Jaejoonglah Ayah Jonghyun.

"Kibum, kau datang sangat cepat." Ucap Jessica sambil memeluk Kibum.

"Aku menyuruh Pilot untuk menerbangkan pesawat dengan cepat."

Jaejoong mengangguk mengerti.

"Sejak kapan Jonghyun masuk ke rumah sakit?"

"Tiga jam yang lalu."

"Apa yang terjadi dengannya?"

"Ada saksi yang mengatakan jika motornya menabrak Truk."

"Kibum duduklah, kau pasti habis lari dari atap rumah sakit kemari kan?" Jessica menebak jika Pesawat pribadi keluarga Kim yang mengantar adik iparnya itu turun di atap rumah sakit.

Jaejoong menatap Nichkhun, Tiffany dan Minhyun. "Nichkhun, Tiffany, Minhyun lebih baik kalian pulang saja. Biar kami yang menunggu disini."

"Aku tidak mau." Tolak Minhyun. "Aku suaminya, aku harus ada disampingnya."

Jaejoong mengangguk mengerti. Ia lalu memandang pasangan suami istri Hwang didepannya.

"Kami akan pulang. Besok pagi kami akan datang lagi." Ucap Nichkhun.

Tiffany sebenarnya ingin menolak namun apa daya ia menuruti ucapan suaminya. "Jika ada kemajuan tolong segera hubungi kami."

"Pasti."

.

.

.

"Kau pasti lelah." Kibum mendudukan dirinya disamping Minhyun. "Tidurlah."

"Ini semua salahku." Bisik Minhyun dengan lirih namun Kibum, Jaejoong dan Jessica bisa mendengarnya.

"Kenapa bisa salahmu, Minhyun?" tanya Jaejoong.

"Sebelum dia kecelakaan, dia datang kerumah dan melihatku berciuman dengan Seulgi. Aku mengatakan kata-kata yang tidak sepantasnya Aku keluarkan." Minhyun tidak memberitahu ketiganya jika Jonghyun pernah meniduri Noonanya.

"Dia lalu pergi dengan keadaan marah. Bahkan sebelum kita bertengkar di rumah, di Madrid kita juga mengalami kesalahpahaman hingga membuatku meninggalkannya sendirian di Madrid."

Kibum menepuk kepala Minhyun. "Semuanya bukan salahmu, Minhyun. Tidak ada yang tahu musibah datang kapan dan dimana."

Minhyun memeluk Kibum, menenggelamkan wajahnya pada dada Kibum. Tangisan yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga. "Maafkan aku. Hiks."

Kibum mengelus punggung Minhyun dengan lembut. Menenangkan sosok mantan pacarnya yang kini menjadi Istri Jonghyun. Darah dagingnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

02 Sep 2018

.

.

konflik yang dibawa seulgi bakal bawa cerita ini ke konflik utamanya, guys #spoiler

buat yg nunggu flashback kihyun sabar yah tapi hubungan mereka bakal terungkap di next chapter. penjelasannya sedikit demi sedikit bakal dibuka kok.

thanks for review kalian di chapter sebelumnya : xixixixixiixixi, TJungN, Guest, Yeashhh, Lalaland, kpop. jjang, Esty, KillerMonsterZ, dwiruhmana, Suzuki Sora, GoodGodNyel, Chika Chiki, Kihyunie, Annishi Kiann Kim, Nurul1707, Guest, hyerin, Kameleea.