Journey; perjalanan.
.
.
allihyun presents
Journey
Daiki/Satsuki Fanfiction
Semacam modified canon. Ficlet. OOC (maybe). Spoiler for those who haven't read manga until chapter 204. Using given name 'cause its sounds cute :3
Kuroko no Basuke ( c ) Tadatoshi Fujimaki
5 cm per second ( c ) Makoto Shinkai & Yukiko Seike
Journey ( c ) allihyun
No profit gained from this fanfiction.
.
.
Dai/Suki : Journey [part 10]
Suara bola dan ring beradu di bawah naungan matahari pukul delapan pagi. Lagi-lagi bola berwarna oranye itu meleset dari sasarannya, sekedar memutar di lingkaran ring kemudian meluncur lagi ke bawah, menimbulkan bunyi berdebum ketika permukaannya yang kasar bergesekan dengan lantai. Ini adalah bola ke-tujuh yang dilontarkan tangan Daiki pagi ini, dan semuanya gagal.
Dengusan kecil keluar dari bibir Daiki. Pemuda itu memicingkan matanya ke arah ring di depannya, seolah-olah memastikan kalau ring di hadapannya tidak bermasalah. Sekali lagi dilontarkannya bola di tangannya ke arah ring dari jarak three point dan kali ini Daiki mencoba mengukur akurasinya dengan memperhitungkan jarak dirinya dengan ring dan perkiraan kekuatan yang harus digunakannya ketika melontarkan bola (sesuatu yang biasanya tidak pernah dipedulikan otak Daiki karena tangan luar biasanya bisa memprediksikan akurasi itu dengan lebih baik, biasanya,sih). Sayangnya, kegagalan Daiki terulang untuk ke-delapan kalinya, bola itu hanya menyentuh ujung ring dan kembali terpantul ke lantai semen di bawahnya.
Kali ini Daiki tidak berniat repot-repot mengambil bola oranye yang kembali menggelinding ke arahnya. Minatnya untuk bermain basket sudah menghilang sebelum Daiki mulai memainkan si Kulit Bundar itu sekalipun. Padahal biasanya basket jadi pelampiasannya ketika penat, atau tidur di atap sekolah bisa jadi solusi yang bagus. Sayangnya alarm Daiki pagi ini tidak menyala (catatan,bahwa alarm hariannya adalah telepon pagi dari Satsuki dan pagi ini tidak ada tanda panggilan dari gadis itu) sehingga hanya pintu gerbang Touo yang tertutup yang didapatkannya ketika sampai di sekolah. Jadilah dia di sini sekarang, di lapangan basket kecil yang ada di sekitar kompleks akademi Touo.
Sejak semalam Satsuki sama sekali tidak menghubunginya atau sekedar mengangkat telepon darinya yang entah sudah berapa belas kali. Ada rasa lelah yang bercokol di hatinya, antara kesal dan juga khawatir (yang Daiki sendiri tidak tahu kenapa dia sendiri harus merasa khawatir?). Ini bukan pertama kalinya Satsuki menghilang setelah sebelumnya bertengkar dengannya, kebanyakan berhubungan dengan basket. Biasanya Satsuki akan menghubungi Kuroko, jadi setidaknya Daiki tahu Satsuki ada bersama orang yang tepat. Tapi kini Satsuki jauh di Iwafune sana, tempat yang tidak cukup ditempuh dengan satu jam perjalanan dengan shinkansen sekalipun. Satsuki sendirian dan di sana ada Ogiwara.
Ogiwara. Cih, nama itu.
Mau tidak mau Daiki kembali mengingat pertemuannya dengan Kuroko tadi malam. Sebuah pertemuan, yang jujur saja, jauh dari apa yang diharapkan Daiki. Pada awalnya Daiki berharap kalau Kuroko dapat kembali menjadi 'jembatan' antara dia dan Satsuki. Tapi reaksi Kuroko sama sekali di luar perkiraannya, dan itu semua hanya karena satu nama, Ogiwara. Hanya karena mendengar satu nama itu air muka mantan rekan basketnya semasa SMP yang biasanya cenderung berekspresi datar itu menunjukkan emosi yang tidak seperti biasanya. Suara Kuroko bahkan sempat bergetar ketika menyebutkan nama Ogiwara. Daiki masih ingat perkataan terakhir Kuroko sebelum temannya itu pulang,"Aomine-kun, tolong sampaikan pada Momoi-san untuk bilang pada Ogiwara-kun kalau aku masih berjuang sampai sekarang, jadi dia juga tidak boleh menyerah."
Begitu saja dan Daiki hanya bisa bertanya pada bayangannya.
"Cih, seperti aku peduli saja!" bisiknya pada dirinya sendiri.
"Kau mulai bicara pada dirimu sendiri karena gagal memasukkan bola ke dalam ring, Aomine? Tenagamu sudah mulai renta ya ternyata, dasar payah!" Terdengar suara arogan yang tidak asing lagi berasal dari arah belakang Daiki. Tidak perlu berpikir lama, suara itu sudah terlalu sering menginvasi gendang telinga Daiki terutama di arena basket, lebih sering lagi ketika mereka latihan.
"Kau cerewet seperti biasanya, Wakamatsu!"
"Aku akan berpura-pura tahu kalau kau lupa menyebut -senpai di belakang namaku, Aho!"
"Hahaha, yang benar saja, kalau begitu aku benar-benar lupa kalau kau kaptenku sekarang."
"Kau—"
"Wakatta, wakatta, wakatta, kau sudah terlalu tua untuk jadi kapten dan terlalu lelah berteriak padaku makanya—"
"MAKANYA SEKARANG AKU INGIN MEMUKULMU!" Wakamatsu berteriak dan Daiki membalasnya dengan lemparan bola basket yang telak mengenai perut Wakamatsu. Tidak sulit untuk menebak apa yang terjadi berikutnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk beradu otot dengan bertanding one-on-one, sepuluh poin pertama dan majalah terbaru dengan cover Mai-chan-nya Daiki yang jadi taruhannya.
Begitulah cara laki-laki berteman, atau setidaknya cara Daiki mengalihkan kekesalannya.
.
.
.
"Kau memang monster sialan, Aomine!" Suara Wakamatsu yang terengah-engah memecah kesunyian sejenak yang melingkupi lapangan basket kecil itu. Peluh menetes dari pelipisnya dan juga ujung-ujung rambutnya yang berwarna pirang keruh. Jas sekolahnya sudah terlempar di samping lapangan beserta dasi yang tadinya menggantung di kerah seragamnya. Hanya berbekalkan selembar kemeja putih yang basah terkena keringat membuat lekuk tubuhnya yang tengah membungkuk dengan tangan menopang pada lututnya terlihat jelas.
Tidak beda jauh dari Daiki yang berdiri tegak di sampingnya. Napas pemuda itu lebih teratur, jas sekolah beserta dasinya juga sudah terlepas dari tubuhnya, senyum kemenangan jelas tersungging di wajahnya. Beda enam skor cukup membuat perasaannya membaik pagi ini.
"Mai-chan, edisi terbaru, atau kuberitahukan pada teman sekelasmu kau menyimpan foto roknya yang sedang tersingkap,"
"Kau sialan!"
"Kau lebih sialan,"
"Kalau ada Momoi di sini dia pasti sudah menyeretmu ke sekolah sampai telingamu putus!"
Kali ini Daiki tidak menjawab. Momoi, Satsuki … sama sekali bukan hal yang ingin dia dengar sekarang. Rasa kesal yang tadinya sudah pergi kembali lagi begitu Wakamatsu menyebutkan nama belakang Satsuki lagi.
"Kau pintar sekali membuatku cepat marah ya!"
"HA? Ada yang salah dengan perkataanku? Oh atau …,"
"Apa?"
"Jangan bilang kau sedang bertengkar dengan Momoi?"
"Cih, cerewet!"
Wakamatsu tertawa demi melihat Daiki yang langsung melempar bolanya kembali ke ring dengan sembarangan (dan kali ini masuk) dan langsung berbalik tanpa mau melihat ke arahnya. Sungguh cara Daiki ketika pemuda itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu.
"Dasar, seperti anak kecil saja!"
"Kaubilang apa?"
"Kau kekanak-kanakan!"
"Tutup mulutmu!"
"Cuma orang kekanak-kanakan yang menyuruh orang lain tutup mulut. Lihat dirimu Aomine, baru ada masalah dengan Momoi saja sudah bolos sekolah,payah!"
"Bukan urusanmu, Wakamatsu, yang kaulihat tidak segampang yang keluar dari mulutmu,"
"Oh ya? Mungkin kau yang memandangnya terlalu rumit, barangkali, sih,"
Daiki kembali diam.
.
.
Siang hari Daiki sudah kembali di kamar kesayangannya, yang berantakan dan dipenuhi dengan tumpukan majalah, seragam beserta beberapa bungkus makanan, sangat laki-laki. Di tangannya masih tergenggam ponselnya yang diputar-putar sembarangan. Di layarnya terpampang nama Satsuki, siap untuk di-dial up. Keraguan dan keengganan masih menyelimuti perasaannya.
Menghubungi duluan, atau menunggu dihubungi.
"Oh ya? Mungkin kau yang memandangnya terlalu rumit, barangkali, sih,"
Perkataan Wakamatsu kembali terngiang di kepalanya, Daiki merasa tertohok. Ada sebagian dari dirinya yang mengakui hal itu. Bagaimanapun, ini bukan pertama kalinya Satsuki marah dan menangis karena dirinya. Mungkin Daiki hanya perlu memberinya waktu, ya, mungkin. Lagipula tidak sepenuhnya gadis itu salah, bukan?
Akhirnya, setelah mempertimbangkan kembali keputusannya Daiki memantapkan diri untuk menghubungi Satsuki. Nada sambung terdengar beberapa saat begitu Daiki menekan tombol dial di ponselnya. Cukup lama sampai akhirnya terdengar bunyi telepon diangkat dari seberang. Hanya saja—
"Moshi moshi,"
—yang terdengar dari sana adalah suara laki-laki asing.
.
.
[part 10, end]
Thanks beraaat buat Lawliet Vert, Aiko Asari, Aoi Yukari dan memoryru yang review di chapter 9. Asli, seneng masih ada yg nungguin, berasa penting sekaligus jahat sih huhu T_T /ditaboks. Makasiiih buat semua support dan feedbacknyaa, kalo mau kasih kritikan juga boleh banget lho, ciyus! Soal panjang cerita karena ini emang sengaja aku bikin ficlet jadi ya per chapter-nya pendek sih www jadi sepanjang apapun bakal tetep kepangkas jadi under 1k huhu, maap yakkk :*
Dan eniweiii,yang kangen aomomo chapter ini ada aomomo tuh walaupun subtle sih penggambarannya h3h3h3
Semoga chapter ini memuaskan yak, aamiin, let me know your opinion guys!
Thanks a lot and see ya soon :*
Story only= 995words
210914, hometown.
allihyun
