Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.
Jejak Bulan di Atas Air
blackpapillon
9. Jeda
.
.
"Gaara."
Suasana istana hari itu begitu cerah, ramai, dan meriah. Wajah-wajah semua orang bahagia dan ceria. Baik keluarga kaisar, para pegawai maupun tamu-tamu yang datang, semua tampak cerah. Namun orang itu nampaknya tidak terpengaruh dengan suasana di sekitarnya. Wajahnya tetap dingin dan kaku, tampak seperti bongkahan es aneh di tengah padang bunga.
Sakura kenal wajah yang sedingin itu; salah satunya Sasuke. Ah, menurutnya Neji juga begitu.
Namun dia… berbeda.
Sakura menyipitkan matanya, diam-diam meneliti figur pria yang sekarang sedang ada di hadapannya, membungkuk hormat dan maju untuk berjabat tangan dengan kaisar. Tanpa sadar matanya mengikuti garis-garis wajah lelaki itu dengan teliti. Rambut merah yang tampak aneh. Wajahnya sebetulnya cukup tampan, tapi lingkaran hitam di matanya membuat lelaki itu tampak berbeda.
Ada banyak keanehan yang ada di dalam diri lelaki itu, namun Sakura tak tahu bagaimana menjelaskannya. Penampilan fisiknya agak berbeda. Jelas. Namun, sepertinya ada rangkaian aura aneh yang membuat gadis itu ingin memerhatikannya…
"…Sakura! Kau harus segera masuk ke washitsu. Upacara minum teh akan segera dimulai!"
Sakura nyaris saja terlonjak. Untung dapat ditahannya. "Hei, kau ini kenapa? Ayo cepat. Segera bersiap-siap, nanti aku yang akan membimbing para tamu ke sana!" kata gadis yang memanggilnya itu—Ino.
"A…apa? O-oh, ya. Baik." Sakura segera tergopoh-gopoh memasuki washitsu itu. Ino memandang Sakura dengan wajah aneh—antara heran dan kaget. Baginya, sikap Sakura tadi terlihat seperti Hinata saja.
Ya sudahlah. Ino angkat bahu, dan pergi ke taman di depan washitsu untuk melaksanakan tugasnya. Menjadi pembimbing tamu di acara ini, tentulah ia akan menjadi pusat perhatian—hei, siapa tahu ada cowok yang menarik perhatiannya. Dan lagi, mereka semua pastinya orang penting. Sudah pasti ia akan ikut menjadi kalangan orang-orang penting juga. Sambil menyelam minum air. Tentu saja tidak pakai acara tenggelam. Heh, tugas semacam ini memang cocok untukku, si cantik-dan-seksi, Yamanaka Ino!
Washitsu tempat pelaksanaan upacara minum teh itu, berbeda dari tempat latihan Sakura yang biasanya. Ruangan itu juga memang sudah berukuran cukup besar, namun demi menyambut tamu, Kaisar mempersiapkan ruangan yang sungguh spektakuler. Ruangan itu bersifat semi-terbuka dengan taman yang mengelilinginya. Bangunan itu terletak di atas kolam yang berisi ikan koi berwarna jingga dan putih cerah. Taman ditanami dengan bunga-bunga musim semi, dihiasi beberapa ornamen batu dan lentera, serta patung-patung cantik berbentuk burung bangau.
Sebelum mengikuti ritual upacara minum teh, para tamu akan dipersilakan menunggu di taman itu. Itulah mengapa di taman itu banyak tersedia bangku-bangku kayu maupun batu. Semua tamu dapat duduk sambil mengobrol, sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh para dayang istana.
"Kusangka kau tidak tertarik dengan acara semacam ini." Kata Shikamaru sambil meminum tehnya.
Sasuke mendelik. Sebetulnya, ia memang tidak tertarik. Bayangkan. Hari ini ia harus memakai pakaian yang agak ganjil—pakaian yang jarang dipakai dalam kesehariannya, karena ia lebih suka pakaian yang praktis. Hari ini ia memakai Montsuki dan Hakama berwarna biru tua dengan lambang keluarga—kamon—di bagian depannya. Ia agak sebal juga karena tatapan orang-orang yang melihat lambang yang terpampang di montsuki-nya. Oke, aku dari keluarga Uchiha yang habis dibantai itu. Ada protes?
Tapi, mengapa hari ini dia pergi, ya? Ia sendiri bahkan sedang tak begitu mengerti apa yang terjadi pada dirinya hari ini. Diliriknya washitsu yang masih sepi.
"Ternyata kau tertarik juga, eh? Kau tak akan menyesal. Rasa pegal yang kau dapatkan sebanding dengan makanan yang nanti akan kita makan—hmmm…" celetuk Naruto di sebelahnya, dengan air liur yang mendadak terbit. "eh, tapi, kira-kira akan jadi selama apa, ya?" tanyanya. "kalau sampai empat jam sih, mungkin malamnya aku akan sibuk mencari koyo penghilang rasa sakit."
"Kau tak usah sibuk mencari-cari, Naruto-kun. Aku punya banyak," Kata Sai—lengkap dengan senyum-tanpa-dosa-nya. "mungkin upacara seperti ini akan memakan waktu lebih dari empat jam. Karena tamu yang datang banyak sekali. Sekalipun memakai asisten, tetap saja akan berjalan lama."
Naruto nyaris pingsan begitu mendengar kata-kata Sai itu.
"Dasar bodoh. Makanya, jangan hanya memikirkan makanan saja," kata Shikamaru. "Ngomong-ngomong, Neji, kau kenapa?" Ia menoleh ke arah Neji, yang sedari tadi diam saja; hanya memandangi tanaman-tanaman di hadapannya.
Neji tersentak dari lamunannya. "Eh? Tidak. Tidak apa-apa."
Shikamaru mengernyitkan kening. Tak biasanya seorang Hyuuga Neji bersikap seperti itu. Yaaah, selama tidak merepotkan, tidak apa-apa, sih.
"Sakura-chan akan jadi pelaksana upacara minum tehnya, kan?" kata Naruto sambil mengamati washitsu yang masih dipersiapkan. "aku juga melihat Ino-chan di sana… tapi aku tidak melihat Hinata-chan—" ups. Naruto seketika menoleh ke arah Neji—takut tiba-tiba bom di kepala orang itu meledak. "—E-eh, Neji, maksudku bukan yang aneh-aneh, lho… "
Neji menatap Naruto dengan pandangan aneh. "Jangan bodoh. Memangnya kau akan melakukan apa?"
Dan dia kembali sibuk dengan 'renungan'nya sendiri.
Giliran Naruto dan yang lainnya menatap lelaki itu dengan pandangan super-aneh. Naruto bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak gatal. "Dia kenapa, sih?" tanya Naruto. Yang lain mengedikkan bahu.
Ah, rupanya tak hanya Sasuke yang terkena virus 'tumben' hari ini, sepertinya Neji juga terkena…
"Selamat siang," terdengar suara wanita menyapa mereka.
Para pemuda itu mendongak. Dan agak tertegun melihat wanita yang memakai iromuji berwarna ungu itu. Wanita itu berambut panjang kecokelatan, panjangnya mencapai punggung dengan sedikit hiasan rambut cantik yang menyemat bagian pinggiran rambutnya.
Sai-lah yang pertama kali mengenali gadis itu. "Eh… Tenten-sama? Selamat siang…"
"Ah, senangnya, ada yang menyapa," ucap Tenten setengah menyindir, "karena kalian diam saja saat kusapa."
"Bukan begitu, tapi..." Naruto garuk-garuk kepala melihat penampilan Tenten siang itu, "aku nyaris tidak bisa mengenalimu, Tenten-chan! Hari ini kau berbeda sekali…" katanya sambil agak nyengir.
"Eh, maksudmu ini?" Tenten memegang rambutnya yang hari itu terurai panjang—hanya sedikit rambut di bagian belakang yang dibuat menjadi cepolan kecil. Memang gaya yang berbeda daripada biasanya, sekaligus membuat gadis itu tampak terlihat anggun. "aku ingin membuat sedikit perubahan hari ini. Ada yang aneh?"
"Heee? Tidak, tidak aneh. Kau terlihat cantik, Tenten-chan!" puji Naruto.
Tenten nyengir mendengarnya. "Terima kasih."
Tenten melihat sekelilingnya. Tampaknya hanya Sai dan Naruto yang menanggapinya—yang lain sedang sibuk dengan urusan sendiri, sepertinya. Sasuke orangnya memang tidak mau diganggu. Apalagi dia tidak begitu menyukai keramaian. Dari tadi, dia Cuma duduk diam dan sesekali bicara dengan Shikamaru. Shikamaru sudah duduk menyandar ke tiang kayu yang ada dan tampak terkantuk-kantuk.
Gadis itu menoleh dan melihat Neji di sudut bangku paling ujung. Tiba-tiba saja gadis itu teringat kejadian beberapa hari yang lalu, dan kini ia jadi merasa sedikit malu juga mengucapkan hal-hal semacam itu—meskipun seperti kata Ino dan sahabat-sahabatnya yang lain, hal itu sebenarnya tidak masalah. Tapi tetap sajarasanya berbeda, bukan?
"Hyu… Hyuuga-san?" hati-hati ia mendekati lelaki yang kelihatannya sedang sibuk sendiri itu.
Neji menghentikan lamunannya dan menoleh ke arah yang memanggilnya, "Ah, Tenten-sama. Selamat siang."
Wajah Tenten memerah. Entah, tapi rasanya ia merasa malu saat lelaki itu masih memanggilnya dengan bahasa dan tata krama sopan. gadis itu tertunduk malu dalam diam, sedangkan Neji yang memang tidak merasakan apa-apa juga diam saja. Namun mata Neji terbelalak saat tiba-tiba saja gadis yang kedudukannya lebih tinggi darinya itu membungkukkan tubuh di hadapannya…
.
"Maafkan aku!"
.
.
Kali ini, Neji benar-benar tersadar dari lamunannya—atau dia berpikir dia sudah mulai tertidur dan sedang bermimpi. Nyaris saja ia mencubit tangannya karena tak percaya, tapi toh dia tidak ketiduran. Berarti ini nyata. Padahal terjadi dalam mimpi saja, hal ini sudah menjadi hal yang menakjubkan. Seorang puteri perdana menteri yang membungkuk meminta maaf padanya, di hadapan orang banyak dalam acara besar kerajaan… bisa-bisa ini jadi berita.
Sejujurnya, pria itu agak jengah juga melihat puluhan pasang mata yang mulai memperhatikan mereka, ingin tahu apa yang terjadi. Tak hanya itu. Shikamaru yang tadi terlihat masih terkantuk-kantuk antara sadar dan tidak, sekarang sudah bangun total dan melihat mereka karena ingin tahu yang terjadi. Sai dan Naruto juga menoleh ke arah mereka—yah, Naruto 'kan orangnya memang selalu ingin tahu. Tapi, bahkan seorang Sasuke yang biasanya cuek dan tampak tak tertarik pada hal apapun kecuali pekerjaan, kali ini tampak ingin tahu apa yang terjadi.
Ya, Neji sendiri juga bingung. Sebetulnya, gadis itu ingin meminta maaf untuk apa? Apa yang membuatnya merasa melakukan kesalahan sehingga harus meminta maaf? Padahal mereka juga jarang bertemu. Pertemuan mereka yang terakhir, seingatnya, adalah saat latihan pagi beberapa hari yang lalu.
"Tunggu, Tenten-sama. Saya mohon, angkat kepala anda," katanya dengan hati-hati. Karena kini rasanya benar-benar canggung. Tapi dalam hati ia juga bernapas lega karena tatapan para tamu tak mengarah kepada mereka lagi. "apa yang membuat anda meminta maaf kepada saya?"
Tenten perlahan mengangkat kepalanya dengan perasaan tak karuan kali ini—sepertinya ia sudah membuat kesalahan baru, menjadikan mereka objek perhatian orang-orang. Dasar Tenten bodoh, umpatnya dalam hati. Untunglah ia masih mampu berkata-kata, "karena aku mungkin sempat membuat anda tersinggung, Hyuuga-san," katanya lirih, "mohon maafkan aku."
Neji mengerutkan kening. Sejenak tampak berpikir. Ditatapnya gadis berkimono ungu itu. Tampak mengingat-ingat sesuatu. Dan beberapa menit kemudian, segaris senyum tipis muncul dari wajahnya—meskipun hanya untuk sekilas saja.
"Maksud anda, saat latihan pagi waktu itu…?"
Tenten mengangguk dalam diam. Sudah tidak membungkukkan badan, tapi masih menundukkan kepala.
Neji menarik napas, mengumpulkan kata-kata yang akan diucapkannya dalam hati. Menurutnya, apa yang dikatakan Tenten waktu itu bukanlah sebuah kesalahan. Meski memang ia sempat agak tersindir saat pertama kali mendengarnya. (Awalnya) kata-kata gadis itu terasa seperti menghujat sikapnya yang menurut pria itu sendiri sudah benar. Bukankah kakak laki-laki harus melindungi adik perempuannya? Begitulah menurutnya. Meskipun Hinata memang bukan adik kandung, tetapi adik sepupu. Dan lagi itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.
Namun, meskipun ia pada awalnya menolak, tapi dalam hati kecilnya ia membenarkan kata-kata gadis itu. Meskipun ia sendiri menolak. Tapi ada bagian kecil dalam hatinya yang membenarkan. Ia saja yang tak mau mengakuinya. Saat ia sadar dari kebodohannya, ia memerhatikan Hinata dengan lebih teliti. Setiap hari juga sudah seperti itu, tapi ia mencoba melihat dengan pandangan yang agak berbeda. Mencoba memandang dari sisi lain.
Mau tak mau kenyataan itu terpampang di kepalanya; bahwa adiknya, Hyuuga Hinata, benar-benar sudah berusia sembilan belas tahun. Belum waktunya mengikuti upacara kedewasaan, sih—masih setahun lagi. Tapi sudah besar. Bukan lagi Hinata yang harus ia awasi kemana-mana. Karena Hinata sekarang juga sepertinya sudah punya orang yang ia sukai… Pria itu juga harus menerima kenyataan pahit, sekarang orang yang selalu diperhatikan gadis itu bukan dia; tapi rekan kerjanya yang bolot-polos-bodoh-dan-tidak peka, Uzumaki Naruto.
"Menurutku, itu bukan kesalahan," gaya bahasa Neji berubah menjadi agak kasual kali ini, "karena yang dikatakan olehmu semua itu benar."
Wajah gadis itu malah berubah menjadi lebih merah lagi—tapi Neji tak memedulikannya, atau tepatnya, tidak menyadari.
"Mungkin akulah yang selama ini berbuat kesalahan," kata Neji. Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya mulai terdengar bijak, "kau benar. Malah aku seharusnya berterima kasih atas kata-katamu itu. Karena kata-katamu, aku jadi mengetahui beberapa hal yang mungkin selama ini pura-pura tak kulihat."
Tenten perlahan mengangkat kepalanya, "…kau tak marah?"
"Eh—" wajah lelaki itu agak berubah, "mungkin, dalam beberapa saat, ya… tapi aku berpikir lagi dan menemukan bahwa hampir seluruh perkataanmu benar. Aku tak bisa marah padamu, tentu saja. Apa yang membuatmu mengira aku tersinggung?"
Wajah gadis itu kembali merah lagi, "karena kupikir kata-kataku kemarin terlalu kasar."
Neji menggeleng, "Kenapa aku harus marah karena kata-kata yang benar?"
Wajah gadis itu kali ini berubah cerah. Tiba-tiba terdengar panggilan dari arah washitsu. Sudah waktunya upacara minum teh dimulai. "Terima kasih banyak, Hyuuga-san," katanya senang sambil membenahi kimononya , "Terima kasih banyak… kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat siang."
Gadis itu berlalu dari hadapan mereka, menghilang ke arah washitsu. Sudah tak ada lagi tamu yang memerhatikan mereka, namun tidak bagi Naruto, Sai, Shikamaru, dan Sasuke—karena sedari tadi mereka memerhatikan percakapan Neji dan Tenten.
"Uwaaaaaah… ternyata bisa ada kejadian seperti itu," komentar Naruto, setengah meledek.
"Neji bisa berkata seperti itu pada wanita…" kata Sai setengah berbisik, "...ini momen penting. Betul, tidak?" tanyanya meminta persetujuan.
Shikamaru menyeringai, "mungkin benar."
Sasuke melirik Neji yang mulai tampak salah tingkah, sekali ini muncul senyum licik dari bibirnya, "boleh juga kau, Hyuuga."
Neji tersenyum masam, dengan ekspresi aneh yang merupakan campuran dari tersinggung, kesal, malu, dan bingung. Cepat-cepat ia membalikkan badan, dan berjalan ke arah washitsu, "Jangan berisik." katanya ketus, "lebih baik sekarang kita pergi. Upacaranya akan segera dimulai."
Teman-temannya saling berpandangan, namun menyiratkan suatu hal yang sama.
Hyuuga Neji sedang merasa malu.
.
To Be Continued
terima kasih sudah membaca.
Blackpapillon
