Law & Order

Chapter Nine; Don't You Want To Be Saved?

A Fanfiction Made by murakami-y

Main Pairing: Vkook/TaeKook; Top! Taehyung x Bottom! Jungkook

Rate: M for some 'dark' material

.

Enjoy~

.

.

Interogasi tak pernah terasa menyenangkan. Kau diberi pertanyaan yang sama lalu kembali ditanya jika memberikan jawaban yang tak memuaskan ditambah dengan sepasang mata tajam terus memperhatikan seluruh milimeter wajah bahkan gerakan kecil tubuhmu. Bahkan hanya dengan satu gerakan yang salah dapat mengundang tatapan curiga atau mengubah pandangan interogator terhadap dirimu. Untungnya seluruh pertanyaan yang ditanyakan oleh pihak berwenang sangat umum, hanya menanyakan sekedar apakah orang yang bersangkutan memiliki musuh atau masalah.

"Terimakasih untuk kerjasama Anda."

Ucapan tersebut pasti telah diulang berapa kali kepada orang yang berbeda—apakah petugas kepolisian tak pernah bosan mengatakannya? Tapi dia tak perlu menanyakannya dan memilih untuk pergi membiarkan petugas tersebut kembali melakukan kegiatannya. Ketika berjalan untuk pulang kembali ke rumahnya berhubung petugas telah memerintahkan untuk semua staff, dosen maupun mahasiswa untuk tak berada dalam lingkungan universitas tiba-tiba sebuah suara berasal dari punggungnya terdengar.

Suara tersebut pernah didengarnya meskipun faktor pubertas telah mengubahnya menjadi berat tetapi ciri khasnya masih terdapat di dalamnya. Saat Seokjin berbalik, firasatnya memang tak pernah salah—wajah itu tetap sama meski telah menjadi jauh dewasa dibandingkan terakhir kali melihatnya sekarang telah menjadi seorang pria. Ditambah balutan dari pakaiannya membuat tubuh dengan proporsi yang sebenarnya cukup kecil menjadi tegap tetapi tetap saja senyuman manis itu tak berubah.

"Jin-hyung."

Cara memanggilnya pun sama saja dan gigi serinya yang dahulu sempat menjadi kompleksnya masih sama—tak berubah. Kedua wajah lelaki itu berseri senang, setelah lama tak bertemu satu sama lain meskipun berada di negara yang sama dan sejujurnya tak sulit untuk bertemu tetapi lelaki yang lebih muda seringkali tak mendapatkan hari libur karena posisi pekerjaannya. Keduanya saling memberikan pelukan hangat seraya mengatakan betapa rindunya mereka. Setelah melepaskan satu sama lain, Seokjin hendak memegang kepala lelaki muda tersebut namun ia berkata, "Tidak disini. Tidak lucu jika bawahanku melihatku dielus oleh orang lain."

"Bagaimana jika kita ke ruanganku?" tawar Seokjin menarik tangannya kembali.

Lelaki muda itu terlihat berpikir sejenak baru mengangguk pelan lalu mengikuti langkah kaki Seokjin menuju ruangan pribadinya. "Kebanyakan dosen pada jurusan lain tak memiliki ruangan pribadi, mengapa hanya Jin-hyung yang memilikinya?" tanya si lelaki muda itu sebelum Seokjin membuka pintu ruangannya.

"Rata-rata dosen memang tak memilikinya tapi banyak profesor pada bidang sains memilikinya karena antara terlalu banyak laporan atau barang untuk eksperimen pribadi." Jawab Seokjin membuka pintu tersebut lalu memasukinya dan mempersilahkan lelaki muda itu untuk masuk ke dalam. Tamu pertama kali tersebut langsung melihat keseluruhan ruangan tersebut, telah cukup terlatih untuk bekerja dengan cepat dan penuh selidik.

Seokjin kembali mendekat untuk melanjutkan kegiatan tertundanya, tangan kanannya menyentuh kepala lelaki muda itu. Kelembutan yang dimilikinya masih sama meski rambutnya tak selebat dahulu berhubung peraturan dalam lingkungannya, sekarang lebih pendek dan poninya jauh lebih pendek. Lelaki muda itu membiarkan Seokjin mengelus kepalanya sejenak sebelum menyelesaikannya dibalas oleh kedua tangan itu membenarkan kembali tata rambutnya. Menggunakan kelima jarinya untuk menariknya ke belakang dan membiarkan helaian rambutnya terjatuh. Mata Seokjin tak luput menyadari sarung tangan putih yang dipakai oleh lelaki muda itu.

"Untuk apa sarung tangan itu, Jimin?" tanya Seokjin, pemuda muda bernama Jimin itu langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakangnya.

Jimin menghela napas mengetahui tindakannya sia-sia karena Seokjin tak akan membiarkannya pergi sebelum mendapatkan jawabannya. "Aku hanya terluka saat menginvestigasi suatu kasus." Ucapnya sambil tetap menyembunyikan kedua tangannya.

Wajah Seokjin langsung terkejut bukan main, menyuarakan keterkejutannya dengan menanyakan apa yang dimaksud dengan luka. Jimin hanya menjawab bahwa itu adalah luka bakar karena tak sengaja terkena api dan bagi lelaki lebih tua itu bukan 'hanya'. Ia langsung menarik paksa tangan kiri Jimin dan membuka paksa sarung tangan tersebut melihat—tangan yang sehat tanpa luka sedikit pun. Tetapi ketika melihat pada jari manisnya terdapat sebuah benda bundar mengapit daging pada jari manisnya.

Jimin menarik tangannya lalu menyembunyikan tangan kirinya dengan tangan kanannya dengan wajahnya memerah sempurna. Matanya berkilat kesal, bibir bawahnya pun digigit untuk menahan rasa malu karena pasti sebentar lagi pria itu mengatakan,

"Kau masih memakai pemberian Taehyung?" Seokjin mengucapkannya seraya berusaha menahan tawanya meskipun ujungnya gagal—sekarang gelak tawa keras terdengar menggema pada ruangan pribadinya.

Rasanya aneh Seokjin dapat tertawa setelah mendapatkan hari yang begitu buruk, masalahnya ia sama sekali tak menduga Jimin masih memakai cincin mainan pemberian Taehyung saat keduanya melakukan tukar kado ketika masih kecil. Dan Taehyung membeli dengan ukuran yang terlalu besar sehingga saat kecil Jimin tak dapat memakainya jadi mungkin baru dapat memakainya ketika menginjak masa remaja. Tetapi melihatnya memakai pada jari manisnya itu sungguh menggemaskan juga lucu.

Dan tangannya jauh dari terluka. Mungkin dia hanya ingin menutupi jari manisnya agar tidak disangka telah memiliki hubungan resmi dengan seseorang ditambah dirinya adalah kepala kepolisian tak akan ada bawahan yang menyuruhnya untuk membuka sarung tangannya. Kemungkinan besar dia memasangnya pada ibu jari tetapi seiring berjalannya waktu jarinya pun semakin membesar sehingga harus memasangnya di jari manisnya.

"Jin-hyung!"

Rengekan tak suka keluar dari belah bibir kepala kepolisian tersebut, andai kala bawahannya melihatnya mereka mungkin tak akan percaya dia adalah orang yang sama. Padahal seharusnya Jimin menggunakan teknik tatapan mata tajamnya bahkan Seokjin akan ketakutan tetapi bukan namanya Jimin jika hanya murni marah kepada orang yang disayanginya. Seorang Park Jimin hanya akan menggunakan tatapan membunuh itu kepada beberapa orang saja dan Taehyung juga Seokjin tak termasuk ke dalamnya.

"Sudahlah!" cetusnya, memakai kembali sarung tangannya dengan keras. "Aku disini bukan untuk ini—"

"Ya, aku tahu. Untuk elusan 'kan?" balas Seokjin masih dengan nada menggodanya.

"Bukan!"

Gelak tawa terdengar lagi. Seokjin sungguh menyukai kecepatan membalas Jimin bagaimana lelaki itu langsung membalas kata-kata konyolnya dengan perkataan seolah mengatakan Seokjin bodoh atau lainnya. Hal itu masih sama persis seperti saat kecil setiap Taehyung mengatakan hal konyol dan Jimin akan meresponnya dengan cepat baik dengan ekspresi ataupun kata-kata. Mungkin itulah sebabnya Jimin seringkali orang paling lelah karena terlalu sering spontan merespon kekonyolan orang di sekitarnya.

Begitu tawa Seokjin mulai menghilang, keduanya kembali ke dalam mode normalnya. Sepertinya Jimin ingin menyampaikan sesuatu dari apa yang didapatkannya dalam investigasi yang dilakukan oleh bawahannya—mungkin seharusnya itu sangat rahasia tetapi mengingat fakta bahwa Seokjin mungkin berhubungan dengan penyebab kematian sang direktur.

Menurut apa yang diceritakan oleh Jimin dalam komputer pribadi milik sang direktur begitu pula dengan smartphone-nya sang direktur melakukan pembicaraan secara maya dengan seseorang. Tidak hanya karena namanya hanya merupakan kumpulan angka dan huruf ketika ahli informatika khusus kepolisian berusaha membuka percakapan tersebut hanya berakhir dengan mengirimkan virus dan membuat sistem pada komputer direktur rusak. Ketika ahli informatika khusus perangkat keras berusaha menemukan apakah mungkin data tersebut masih terdapat di dalam disk tidak ada apapun disana selain laporan yang berhubungan dengan universitas.

Tetapi itu tak mungkin dilakukan tanpa menyentuh perangkat elektronik milik direktur—

"Tidak, sekarang semua dapat dilakukan selama mereka terhubung dengan internet. Hyung mungkin tak mengetahui tetapi bahkan semua smartphone milik mahasiswa disini bisa diretas karena mereka pasti terhubung dengan wi-fi yang sama jika mereka tengah berada di lingkungan universitas."

Benar juga, dia pernah menceritakan bahwa sejak awal koneksi wi-fi tersebut tak pernah aman sejak awal dibuat karena seseorang memantau para pengguna secara tak langsung. Selain mereka yang tak mengetahui cara melindungi diri mereka sendiri hampir mayoritas pengguna dapat dipantau. Oleh karena itu hampir semua yang mengenal-nya lebih memilih menuliskan informasi dalam bentuk tulisan atau menggunakan aplikasi media sosial yang telah dilindungi.

"Ditambah lagi kepemilikan senjata di kita sebenarnya ilegal." Lanjut Jimin sengaja memotongnya karena tahu Seokjin dapat mengetahui sisanya.

Dengan singkat, seseorang memberikan senjata tersebut kepada direktur.

Tanpa investigasi lebih lanjut di kemudian hari, informasi yang didapatkan oleh Jimin hanya itu malah Seokjin terkejut dengan kecepatan kepolisian bekerja. Ia kira kepolisian baru dapat mendapatkan informasi beberapa hari setelah melakukan investigasi pertama mereka, mungkin tim di bawah pimpinan langsung Jimin merupakan tim profesional.

"Apakah kita dapat melihat jam berapa pembicaraan direktur dengan orang tak dikenal itu?" tanya Seokjin.

"Sayang sekali kita tidak bisa. Anehnya, tanggal yang tertera bukanlah tanggal hari ini bahkan pada tahun ini melainkan dengan indikasi dua tahun ke depan. Bagaimanapun kita tak dapat menggunakan deskripsi waktunya sebagai patokan apapun." Jawab Jimin menyilangkan kedua tangannya di dadanya, "Ini pertama kalinya aku melihat kejadian seperti ini."

Jika Jimin saja tak pernah mengalaminya maka Seokjin pun tak akan mengetahui apapun namun entah mengapa penampakan pemuda itu selalu mengganjal dalam pikirannya mungkin hanya dipengaruhi oleh pemuda itu merupakan ahli informasi saat masa dahulunya. Mengingat masa dahulu ingatan mengenai adiknya kembali muncul.

Jimin pasti mengetahui sesuatu—bagaimanapun dia adalah kepala kepolisian belum lagi memiliki banyak koneksi dengan orang lain yang mungkin memiliki informasi dengan hilangnya Taehyung. Karena jika firasat Seokjin benar maka Taehyung telah—

Kepala kepolisian tersebut hanya menjawab pertanyaan Seokjin dengan anggukan pelan, surai cokelat mahoninya bergerak seiring dengan pergerakan kepalanya. Dia memilih untuk tak menyuarakan jawabannya mungkin karena jika menyuarakannya akan kembali mengingat rasa sakit tak dapat menyelamatkan Taehyung meskipun tepat berada di depannya dan semua itu dikarenakan karena posisi pekerjaannya. Tetapi meski itu Jimin sekalipun ia akan menolak menahan Taehyung dengan tangannya sendiri maupun dengan tangan bawahannya sendiri, berarti orang lain-lah yang menangkapnya tetapi menyimpannya di bawah naungan Jimin.

Berarti kemungkinan besar keberadaan Taehyung telah diketahui oleh pemerintah.

Seokjin bukanlah otak yang memikirkan rencana selanjutnya dia harus mendiskusikannya dengan Namjoon atau Suga tetapi sebenarnya ia tidak begitu menyukai Suga karena jika pemuda sipit itu telah menjadi Suga seluruh sifat sampai tata bahasanya pun sangat berbeda dengan Yoongi—arogan dan menganggap tinggi dirinya sendiri. Mungkin akan lebih baik jika mereka membicarakannya dengan Namjoon terlebih dahulu.

"Bisakah kau ikut menemui Namjoon setelah ini?"

.

.

Selama ini dia sama sekali tak mempercayai bahwa sebuah nama panggilan dapat membuat kepribadian seseorang begitu berbeda. Tetapi dia dapat mengakui betapa berbedanya pemuda sipit itu dengan panggilan lainnya—Suga. Meskipun Yoongi memang menakutkan namun masih memiliki aura sebagai senior yang dapat diandalkan tetapi ketika menjadi Suga seluruh aura tersebut menghilang tergantikan oleh seorang manusia yang menatap rendah orang lain dan menganggap dirinya merupakan orang yang jauh lebih baik dalam segala hal. Seluruh sikapnya sangat arogan seperti menyimpan kakinya di atas meja mahal di apartemen Namjoon.

"Hei, Jungkook."

Oh Tuhan—mengapa Kau harus memberikan suara seberat dan sedalam kepada pemuda dengan paras hampir mendekati cantik dengan kulit sepucat salju itu?

Pemuda yang dipanggil hanya berjengit terkejut setelah melamunkan banyak hal lalu berusaha memfokuskan pandangannya terhadap orang yang memanggilnya. Melihat bagaimana pemuda itu sekarang hanya berbaring di sofa dengan kedua kakinya diangkat sebagai pangkuan untuk laptopnya, jari berbalut kulit putih salju tersebut bergerak di atas keyboard—tengah mengetik sesuatu yang tak dapat Jungkook lihat dari tempat duduknya.

"Kau belum sepenuhnya lepas dari universitas. Oleh karena itu, jangan melakukan tindakan bodoh yang membuat pihak universitas menarik kelulusanmu." Ucap Suga, sama sekali tak menatap lawan bicaranya hanya terfokus kepada layar laptopnya.

Entah mengapa meski secara keseluruhan nada bicara Suga sangat datar dan dingin, kata-kata 'tindakan bodoh' terdengar—mengesalkan. Jungkook berpikir itu hanyalah instingnya yang salah tetapi sepertinya itu akan melekat dalam pikirannya untuk beberapa saat.

"Aku mengerti."

Balasnya seadanya karena tak dapat menjawab dengan jawaban lebih dari itu. Jungkook berharap Namjoon segera kembali entah darimana karena hanya berdua dengan Suga itu—sangat canggung bahkan lebih canggung daripada ketika Seokjin pertama kali bertemu dengannya saat Taehyung melakukan gerakan pertamanya. Tidak hanya karena Suga merupakan seseorang yang jauh lebih tua namun juga karena sikapnya sangat jauh dari Seokjin bahkan Namjoon sekalipun. Tetapi sikap Namjoon memang sangat ramah dan hampir seperti seorang ayah membuatnya sedikit nostalgia.

Ingatan wajah ayahnya sebelum meninggalkannya muncul, bagaimana ayahnya dahulu membanggakannya di hadapan para tetangga, mengangkatnya ke atas untuk merasakan sensasi menjadi tinggi di saat dirinya masih sangat kecil. Mengelus kepalanya ketika Jungkook dikerjai karena memiliki paras yang cukup manis sehingga banyak lelaki mengatakan dirinya tak jantan. Teringat jelas nasihat terakhir ayahnya sebelum berakhir meninggalkan keluarganya sendiri,

"Wajahmu memang manis dan tak ada yang dapat dilakukan. Wajahmu bisa manis atau cantik selama apa yang di dalam itu jantan. Jantan dinilai bukan penampilan tetapi kepribadian dan sikap. Jangan membenci wajah manis dari ibumu, Kook."

Ah—jika diingat panggilan yang diberikan Taehyung sama persis dengan ayahnya.

Meskipun telah berjanji untuk tak mengingat ayahnya tetap saja ketika kenangan bahwa ayahnya pernah menjadi seorang ayah membuatnya kembali rindu. Ingin bertemu dan menyampaikan bahwa dirinya telah menjadi putra dengan gelar terbaik dalam skala nasional sesuai dengan apa yang sempat diucapkan oleh ayahnya kepada para tetangganya. Sayang sekali mereka sudah lama tak melakukan komunikasi dan juga tak mungkin mencarinya karena bahkan tak dapat mengingat nama lengkap ayahnya sendiri. Yang Jungkook ingat hanyalah wajahnya.

Beberapa saat kemudian pintu utama terbuka diikuti dengan pemilik apartemen masuk ke dalam beserta dua orang di belakangnya mengikutinya. Tentu saja salah satu dari kedua orang itu telah dikenal oleh Jungkook namun satu lagi belum pernah dilihatnya tetapi entah mengapa hatinya mengatakan bahwa ia pernah melihat wajah itu. Meskipun pakaiannya—kemeja putih dengan dasi hitam dan celana kain hitamnya sangat formal sehingga mungkin seorang pekerja yang dikenal oleh Namjoon.

"Perkenalkan, Jungkook." Ucap Namjoon setelah pemuda manis itu berada di hadapan pemuda tak dikenalnya, "Dia Park Jimin dan dia adalah—teman masa kecil Taehyung."

Pemuda di hadapannya adalah teman masa kecil Taehyung—Chim?

Jika dilihat baik-baik memang pemuda itu sangat mirip dengan anak kecil di bingkai foto Taehyung, hanya saja telah menjadi jauh lebih dewasa namun hampir semua karakteristik uniknya masih tersimpan meskipun tak lagi memiliki pipi berisinya. Jungkook membungkuk sejenak sebagai bentuk sopan santun disertai kalimat bahwa dirinya senang bertemu dengan Jimin.

Begitu Namjoon menunjuk pemuda yang menolak untuk bangun dari kegiatan berbaringnya terlihat jelas kedua mata Jimin menyipit sekilas tetapi kurang dari satu detik kembali memperhatikan Jungkook.

"Mungkin sikapnya seperti itu tapi kita dapat mempercayainya."

Namjoon mungkin mengatakannya setelah menyadari perubahan kilat mata Jimin tapi tetap saja itu tak membuatnya berhenti memperhatikan setiap gerakan kecil yang dilakukan pemuda sipit itu. Seokjin memotong keheningan diantara mereka dengan membawa Namjoon untuk melaporkan apa yang didapatkannya dari kepala kepolisian tersebut membiarkan Jimin dan Jungkook untuk saling mengenal dan bertukar informasi mengenai Taehyung.

Kedua lelaki dengan huruf awal pada nama keduanya dimulai dengan 'J' saling terdiam. Mahasiswa hukum itu masih terlalu canggung untuk menanyakan lebih lanjut mengenai Taehyung kepada Jimin begitu pula dengan sebaliknya. Jari berbalut sarung tangan putih tersebut menggaruk kepala belakangnya berusaha mencari jalan keluar dari lingkarang kecanggungan tersebut.

"Ba—Bagaimana kuliahmu?" tanya Jimin sedikit mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Hanya perlu menunggu wisuda dan beberapa hal administrasi untuk terlepas dari universitas."

Jimin menarik napas panjang sebelum mengeluarkannya, mengatur emosinya untuk tak menjadi canggung dia harus menunjukkan sikap lebih dewasa. Setelah selesai mengatur emosi beserta detak jantungnya ia menawarkan kepada Jungkook untuk berbicara di tempat lain dan pemuda manis itu tentunya menerimanya—meninggalkan Suga yang sekarang tengah tertidur tetapi beberapa kali terbangun dan melanjutkan kegiatan mengetiknya. Sebelum menutup pintu utama tersebut mata Jimin melirik sofa dimana Suga berada dengan tatapan penuh curiga. Dan pemuda sipit itu pun tak akan menghiraukannya.

"Manusia konyol." Desisnya tak suka, melirik pintu utama yang telah tertutup itu.

.

.

Jimin itu kakak yang baik—bagaimana dia bertanya kepada Jungkook kopi jenis apa yang diinginkannya dan mengatakan bahwa meskipun harganya mahal masih membelikannya. Ditambah membelikan kue kecil dari kedai kopi tersebut padahal uangnya sudah terkuras banyak sampai dirinya hanya membeli minuman yang Jungkook tahu harganya jauh lebih murah. Tapi masih memasang wajah normal seperti tak kehilangan uang untuk makannya beberapa hari ke depan. Mereka kembali ke gedung apartemen Namjoon namun sekarang berada di daerah atap dimana kolam renang dan tempat dimana tanaman berada.

"Jadi… Jimin-ssi adalah teman masa kecil Taehyung?" tanya Jungkook, menggenggam gelas kopinya—entah mengapa merasa sedikit tak siap untuk menerima kelanjutan dari pertanyaannya.

Kepala kepolisian itu hanya mengangguk pelan dengan suara 'hn' kecil, rasanya setiap nama Taehyung muncul dalam pembicaraan mereka keduanya selalu kembali merasa canggung. Lama keduanya hanya terdiam, Jimin memutuskan untuk mengambil alih pembicaraan dengan bertanya bagaimanakah Taehyung sekarang dalam artian ketika telah menjadi dewasa berhubung dirinya belum pernah sekalipun bertemu dengannya sejak Taehyung menginjak kembali tanah Korea Selatan. Tetapi melihat pemuda manis itu hanya terdiam—bingung harus menjawab seperti apa karena menurutnya Taehyung tak dapat dideskripsikan oleh kata-kata karena dia terlalu unik diungkapkan dengan huruf.

"Apa dia masih terkadang kala seperti bocah? Seperti merasa bangga setelah memberikan nama panggilan atau lainnya?" tanya Jimin berusaha menemukan beberapa konten sehingga Jungkook hanya perlu menyetujuinya atau tidak.

"Ah—dia seperti itu ternyata sejak kecil." Balas Jungkook entah mengapa wajahnya menjadi dingin dan kesal mengingat betapa menyebalkannya wajah bangga Taehyung ketika memberikan nama panggilan 'Kook'.

"Saat kami masih kecil pun begitu. Aku masih mengingat jelas bagaimana wajah bangganya ketika memberikan panggilan 'Chim' dan itu sangat menyebalkan." Ucap Jimin diikuti dengan tawa setelahnya mengingat wajah bangga dengan hidungnya seolah menjadi panjang meskipun itu hanyalah imajinasinya.

Di satu sisi nama Taehyung membuat keadaan menjadi canggung namun di sisi lain membuat keadaan menjadi hangat. Jimin dan Jungkook dapat berbincang dengan nyaman tanpa merasa canggung selama itu merupakan Taehyung. Meski mereka membicarakan kekonyolan Taehyung bukan mengenai menghilangnya atau lainnya tetapi keduanya tahu akan ada saat mereka harus membicarakannya.

Setelah hampir menertawai banyak hal mengenai Taehyung sendiri keduanya pun mencapai titik untuk membicarakan mengenai bagian pahit darinya. Jimin memulai dengan menanyakan apakah Jungkook mengetahui setidaknya sedikit masa lalu Taehyung ketika berada di Amerika Serikat dan pemuda manis itu hanya mengangguk pelan, tak sengaja mengalihkan pandangannya tapi dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk mengalihkan pandangannya lagi terhadap hal yang berhubungan dengan masa lalu Taehyung.

"Dan kau tetap ingin menolongnya? Meski memang ada sebuah kemungkinan dengan keberadaan Taehyung akan mencapai sebuah kedamaian?" tanya Jimin dengan pertanyaan terakhirnya sebenarnya sedikit menyakiti dadanya.

Jungkook tak terkejut dengan pertanyaan Jimin—semalam dia bersama Namjoon dan Suga telah membicarakan kemungkinan terbesar atas menghilangnya Taehyung dan ketiganya mencapai kesimpulan bahwa orang yang bersangkutan keberadaannya telah diketahui oleh pemerintah dan telah ditangkap lalu menjadikannya sebuah aset negara. Disana sebenarnya Jungkook sedikit putus asa untuk menyelamatkan Taehyung berhubung dia pun tak memiliki kekuatan untuk menentang pemerintah.

"Ya, meskipun aku pun tidak bisa menemukan caranya untuk sekarang." Jawab Jungkook memberikan senyum pecut.

Lelaki lebih tua itu mendengus geli, mengundang tatapan kebingungan dari lelaki lebih muda itu.

"Ternyata kau benar seperti apa yang Jin-hyung ceritakan." Ucapnya, memasang senyum penuh makna. Lelaki itu kemudian bangkit berdiri, mengulurkan tangan kanannya kepada pemuda manis itu dibalas dengan tatapan kebingungan seraya menatap tangan berbalut sarung tangan putih itu.

Obsidian hitam tersebut naik ke atas untuk menatap wajah pemuda di hadapannya—raut ekspresinya putus asa namun juga penuh dengan harapan. Jelas terlihat dia menginginkan balasan positif—tanpa meminta pun Jungkook akan memberikan balasan positif.

"Aku akan membawamu ke tempat dimana Taehyung berada, tapi sebagai gantinya—jadilah penggantiku untuk menyelamatkannya. Dia tak pantas mendapatkan semua ini."

Perkataan tersebut bukan keluar dari seorang kepala kepolisian Seoul, itu murni berasal dari seorang Park Jimin—teman masa kecil Taehyung. Terdengar jelas dari kalimat terakhirnya terdapat getaran kecil dan kedua netranya pun menampakkan ekspresi sedih. Jungkook menerima uluran tangan tersebut lalu ikut bangkit dari duduknya. Kedua tangan saling bersentuh itu bagaikan sebuah kontrak—tetapi tak ada yang mengetahui isi kontraknya.

.

.

Mendengar rencana Jimin tentunya Namjoon terutama Seokjin merasa khawatir bukan main, keduanya memandang khawatir Jungkook yang berdiri di samping Jimin. Mempertanyakan apakah pemuda manis itu akan baik-baik saja berhubung jika Taehyung menolak untuk menerima bantuan mereka Jungkook-lah kandidat utama sebagai pembantu mereka karena hanya dia yang telah mengambil hati Taehyung. Kepala kepolisian itu bisu, memikirkan beban yang akan dibawanya dengan menjalankan rencananya. Sedangkan pemuda manis itu masih ingin mencoba untuk bertemu dengan Taehyung, mungkin saja ia dapat menemukan cara untuk menolongnya hanya dengan bertemu dengannya.

"Waktu kita semakin berkurang dengan kalian mendebatkan hal yang tak perlu." Suara berat Suga muncul dari arah dapur, tangan kanannya menggenggam gelas berisi cairan hitam—kopi.

"Tapi kita tidak dapat mengambil resiko kehilangan Jungkook." Balas Seokjin geram dengan bagaimana Suga mengucapkan kalimatnya.

Nampak pemuda sipit itu menghela napas lelah, melangkahkan tungkainya untuk kembali duduk ke sofa melanjutkan apa yang sempat dihentikannya untuk menyeduh segelas kopi. Ketika semuanya berpikir bahwa pemuda itu tak akan berkata apapun lagi, dugaan mereka ternyata salah.

"Semakin waktu terbuang semakin sulit untuk menyelamatkan Taehyung. Kalian dapat membuang waktu untuk berdebat mengenai keselamatan seseorang dan memperkecil persentase menyelamatkannya." Ujar Suga panjang lebar lalu menutup layar laptopnya dan bangkit berdiri, "Jika kalian tidak menyetujuinya, aku akan mengantarnya."

Tangan Suga menyentuh tangan Jungkook—tepat disana Jimin yang sedari tadi hanya terdiam melepas kasar kedua tangan tersebut. Menarik tangan Jungkook ke dalam genggamannya bagai seorang ibu melindungi tangan puterinya dari benda kotor. Matanya berkilat tak suka, menatap geram pemuda sipit yang hanya membalas tatapan bengis itu dengan pandangan datar. Jelas terlihat Jimin sama sekali tak menyukai Suga dan menunjukkan aura murni membencinya tanpa ingin mendengar alasan mengapa Suga begitu menyebalkan.

Tentunya perlakuan tersebut membuat pemuda manis itu diam dan kebingungan meski dapat melihat aura kebencian yang dipancarkan netra kepala kepolisian itu. Aura kebencian itu sama sekali tak normal untuk dua orang yang baru pertama kali bertemu hari ini—berarti mereka telah bertemu di suatu tempat atau setidaknya mengetahui sesuatu dari satu sama lain. Salahkan Jungkook yang masih memiliki kepekaannya terhadap hal-hal ganjil. Jimin langsung mendekapnya dengan posesif, tak membiarkan aura Suga untuk menyentuh Jungkook.

"Aku yakin Jimin-ssi dapat melindungiku. Maksudku—dia tidak menjadi kepala kepolisian tanpa alasan bukan?" tanya pemuda manis itu—dengan niat untuk menurunkan ketegangan diantara mereka semua.

Tentunya kepala kepolisian tersebut merasa tertegun, mendengar kalimat mengatakan secara tak langsung bahwa pemuda manis itu mempercayai dirinya dapat melindunginya. Namjoon mendengus pelan sebelum berkata bahwa mereka pun harus menerima keputusan Jungkook dan pemuda itulah yang paling mengenal Taehyung untuk saat ini. Raut muka Seokjin langsung memucat—menahan amarah merasa gagal karena gagal sebagai seorang kakak untuk melindungi adiknya dan gagal untuk mengerti adiknya sendiri. Tapi memang benar, Jungkook-lah yang paling mengetahui mengenai Taehyung—dialah alasan Taehyung berada di negara ini.

Jadi Seokjin harus membiarkan orang di luar aliran darahnya untuk menyelamatkannya?

"Jeon Jungkook itu berbeda dengan orang lain."—bukankah Seokjin pernah mengatakannya? Secara logika tak ada siapapun yang ingin menyelamatkan meski itu adalah orang terkasih mereka setelah mengetahui semua rahasia busuk mereka dan Jungkook masih ingin mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan Taehyung. Apa dia terlalu ingin menepati janjinya atau—

Tidak.

Kesepakatan itu hanyalah nilai plus. Semua motifnya melakukan semua ini adalah karena dia sudah terlalu menyayangi Taehyung untuk melepaskannya jika dapat digapai oleh tangannya. Seharusnya Seokjin dapat melihatnya—saat pemuda itu datang kembali ke universitas dalam keadaan setengah sadar itu karena banyaknya rasa shok yang dialaminya, itu telah membuktikannya.

"Tak apa, Joon-ah." Celetuk Seokjin menyentuh pundak kiri Namjoon, menunjukkan raut mukanya yang meski pecut berusaha membuat senyuman lembut, "Joon-ah benar, kaulah yang paling mengetahui mengenai Taehyung diantara kita semua. Maaf aku menahanmu, seharusnya aku tak perlu meragukan kekuatan cintamu." Diikuti dengan kikikan kecil seperti seorang ibu gemas melihat anaknya malu setelah menggoda kekasihnya.

"K-kekuatan cinta?!" ulang Jungkook, nadanya sedikit naik dan pipinya terlihat merona.

Seokjin tak dapat menahan senyum gemasnya—seharusnya dia memang berterimakasih kepada Jungkook karena masih ingin membantu menyelamatkan Taehyung. Setelah mendapatkan izin dari keduanya Jimin dan Jungkook pergi untuk ke tempat dimana Taehyung berada. Sebelum Jimin menyalakan mesin mobilnya dia terdiam sejenak sembari menatap jalanan di depannya, Jungkook belum sempat bertanya ada apa dia telah berkata,

"Terimakasih telah mempercayaiku."

Perkataan itu membutat Jungkook bungkam, apalagi begitu melihat senyuman kecil pada bibir tebal kepala kepolisian itu. Hanya membalas dengan 'sama-sama' dia pun menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya tanpa mengajak berbicara sedikitpun Jungkook yang tengah mempersiapkan emosinya. Entah mengapa dia selalu pergi ketika matahari mulai terbenam dan sejujurnya dia tak begitu menyukai langit malam sekarang karena hanya akan membuatnya teringat malam itu di bianglala dan itu membuat dadanya berdenyut sakit.

.

.

Hanya dengan menggunakan kemeja putihnya Jimin sudah cukup keren apalagi dengan menggunakan jas dipenuhi dengan bermacam-macam emblem sebagai bukti kedudukannya dalam lingkungan kepolisian—itulah yang dipikirkan Jungkook sebelum lelaki itu masuk ke dalam gedung yang cukup kecil dan tak terlihat seperti tempat penahanan yang sebenarnya dipakai oleh kepolisian. Dari dalam mobil dia memperhatikan bagaimana Jimin berbincang dengan bawahannya yang sesekali memberikan lirikan ke mobil tempat dimana Jungkook berada. Setelah memberikan sikap hormat kepada Jimin bawahan itu pun pergi ke dalam bangunan tersebut sementara Jimin menjemput Jungkook dan menyuruhnya untuk mengikutinya ke dalam.

Dugaannya benar—ini bukanlah gedung milik kepolisian secara resmi. Terlihat jelas dari hanya terdapat beberapa meja tetapi banyak polisi membawa senapan dan—panah bius? Andai kala Jimin bukanlah kepala mereka mungkin Jungkook tak akan dibiarkan untuk masuk dan bertemu dengan Taehyung. Jimin membawanya semakin masuk sampai di depan pintu terpencil—hanya terdapat satu pintu tersebut di lorong tersebut.

"Kalian memang tidak akan menggunakan telepon seperti itu tetapi kalian masih akan dibatasi oleh kaca anti peluru. Tapi tenang saja, suara kalian masih dapat terdengar satu sama lain." Jelas Jimin memandang Jungkook meminta anggukan atau apapun sebagai tanda bahwa dia mengerti.

Mendapatkan anggukan baru tangannya memutar kenop pintu tersebut—memang benar terdapat kaca diantara dinding tersebut secara bisu menyatakan bahwa mereka tak boleh saling bersentuhan atau memberikan barang apapun. Begitu dia benar-benar memasuki ruangan tersebut barulah dia dapat melihat dibalik kaca tersebut—Taehyung—memakai kaus putih dan celana hitam seolah itu adalah pakaian yang diberikan oleh pihak kepolisian.

"Tae—hyung…?"

Langkahnya gontai, seluruh tenaganya diserap habis hanya dengan melihat pemuda itu. Katakan Jungkook dramatis tetapi rasanya dia tak melihat Taehyung selama lebih dari sepuluh tahun atau bahkan lebih. Berusaha sekuat tenaga untuk setidaknya mencapai kursi untuk duduk berhadapan langsung dengan pemuda itu. Ketika mendengar suara kaki kursi bergesekan dengan lantai Taehyung mengangkat kepalanya—netra hazel-nya terlihat jelas. Warna yang paling Jungkook sukai sekarang.

Dada Jungkook berdenyut sakit ketika mata tajamnya menangkap wajah lelah Taehyung berubah drastis untuk memberikan senyuman penuh paksaan. Senyaman apapun fasilitas yang diberikan oleh kepolisian tak mungkin dia nyaman tidur di tempat dimana hanya dirinya sendiri di sebuah gedung yang sangat terpencil. Mungkin beberapa bawahan Jimin menjaganya namun mereka bukanlah seseorang yang dapat diajak berbincang dan jika dilihat dari ekspresinya—jelas Taehyung mengerti posisinya sekarang. Tenggorokan Jungkook terasa kering, seluruh bahan pembicaraannya menghilang seketika—tak ingin membawa Taehyung semakin menyadari bahwa dirinya sulit untuk diselamatkan.

"Bagaimana kabarmu?"

Taehyung bertanya lebih duluan sebagai permulaan pembicaraan keduanya. Kedua tangan Jungkook tersembunyi di bawah meja terkepal kuat—tak kuat menahan rasa sakit karena dia tahu lelaki bermata hazel itu memaksakan sebuah senyuman dan dia tak ingin melihatnya. Jungkook bukan datang untuk melihat senyuman pahit itu.

Dia datang untuk mengatakan bahwa dia akan menyelamatkannya.

Dengan cara apa?

Dia tak memiliki kemampuan seperti Suga yang dapat digunakan untuk memberi surat gelap kepada pemerintah. Dia tak seperti Namjoon yang memiliki koneksi dengan hampir semua orang di setiap negara. Dia tak seperti Seokjin yang memiliki kepintaran jauh dibandingkan dirinya. Dia tak seperti Yugyeom yang dapat memprediksikan seluruh tindakanya. Yang Jungkook miliki hanyalah pengetahuan mengenai—hukum.

"Tidak ada yang dapat lari dari hukum."

Tidak—bukan 'hanya'. Hanya dengan itulah dia dapat menyelamatkan Taehyung tanpa menumpahkan setetes darah sedikit pun. Dengan hukum.

"Jung—"

"Hentikan basa-basi ini. Aku datang bukan untuk melakukan perbincangan hangat denganmu. Aku kemari untuk mengatakan bahwa aku akan menyelamatkanmu dan mengeluarkanmu dari tempat ini."

Kursi tersebut terdorong sampai akhirnya terjatuh ke lantai akibat gerakan yang terlalu tiba-tiba itu, semua mata langsung menatapnya bahkan para penjaga yang tengah mengawasi melewati kamera pengawas pun melakukan hal yang sama. Tindakan itu membuat penjaga di daerah Taehyung langsung besiaga untuk mengambil pistol tersimpan di pinggangnya namun Jimin memberi perintah hanya dengan tatapan matanya untuk tak menembakkan peluru. Netra hazel Taehyung terkejut seraya memandang wajah lawan bicaranya.

"Tidakkah—kau ingin kuselamatkan?" tanya Jungkook sedikit serak entah mengapa.

"T-tentu saja aku ingin—"

"Lantas mengapa wajahmu mengatakan 'tidak'?"

Sialan.

Taehyung lupa mengatur otot wajahnya dan sekarang dia tertangkap oleh orang yang paling ingin menyelamatkannya sekarang. Dia membuang wajahnya—tak berani untuk menatap obsidian hitam penuh dengan ketajaman tiada tara itu. Otaknya bekerja berkali lipat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan lawan bicaranya tapi dia tak bisa—semua jawabannya antara terlalu buntu atau sama sekali bukanlah jawaban. Untuk pertama kalinya dia tak dapat membalas perkataan lawan bicaranya sejak dahulu pertemuan mereka selalu dimulai dengan adu mulut.

"Kau ingin atau tidak—aku akan tetap menyelamatkanmu, Tae-hyung."

Meski sibuk menemukan balasan tapi telinganya menangkap panggilan itu. Bukan hanya pikirannya yang menganggapnya tetapi karena memang pada kenyataannya Jungkook memanggilnya seperti itu. Akhirnya Taehyung menggerakkan tubuhnya dan suaranya, meneriakkan nama Jungkook tetapi pemuda manis itu tak mengindahkannya dan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut disusul oleh Jimin.

Sebenarnya dia sedikit merasa bersalah tak mengindahkan panggilan Taehyung tapi dia takut jika dia berbalik dan menatap wajah itu—semua pikiran logisnya akan lenyap dan memilih untuk menyelamatkannya secara membabi buta. Oleh karena itu sebaiknya ia mundur sebelum dikendalikan oleh emosinya.

"Jadi—" ujar Jimin setelah menyusul Jungkook keluar dari ruangan sebelumnya, "Bagaimana rencanamu?"

Dahi Jungkook mengernyit, rencana yang didapatkannya terdengar mudah tetapi untuk mencapainya itu sangat sulit. Tetapi hanya dengan inilah cara legal untuk membebaskan Taehyung dari pegangan pemerintah dan meskipun dia harus mengorbankan tubuhnya dia akan tetap melakukannya.

"Aku akan menjadi pengacara dan Taehyung akan mengajukan pernyataan bahwa pemerintah melanggar hak asasi manusia dengan menggunakannya sebagai aset." Jelas Jungkook berusaha mempersingkatnya agar mudah dimengerti, "Ya. Aku tahu—itu tidak akan mudah terutama jika aku hanya menjadi pengacara negara tidak ada jaminan aku yang akan dipilih oleh hakim sebagai pengacara Taehyung."

Dan sebuah keajaiban jika hakim ingin memilih Jungkook untuk menjadi pengacara untuk masalah di tingkat tinggi seperti itu. Belum lagi dia baru lulus tahun ini dan sama sekali tak memiliki pengalaman bekerja di dunia pengacara—sebuah ketidakmungkinan dia akan dipilih. Meskipun begitu mungkin gelar sebagai mahasiswa terbaik di universitas terbaik akan membawa suatu pengaruh dan memang rencana Jungkook termasuk rencana paling aman tanpa perlu mengkambinghitamkan pemerintah.

Hanya dalam beberapa hari dia dapat menemukan jalan keluarnya—Jeon Jungkook memang berbeda.

.

.

Lelaki itu menghela napas lelah, memakai mantel dan membawa koper sebagai tempat berbagai dokumen di bawah tanggung jawabnya. Hari telah malam—tidak, bahkan ini sudah merupakan waktu tengah malam dan hampir semua orang tengah berada di rumahnya atau setidaknya hanya beberapa yang berada di luar tetapi dia baru dapat pulang setelah menginap di kantornya selama beberapa hari untuk membereskan berbagai macam dokumen.

Ketika menyusuri jalan seseorang muncul di depannya, tangannya telah siap untuk mengambil pisau di balik mantelnya berhubung profesinya seringkali membahayakan nyawanya. Lampu lalu lintas tepat di atas orang itu terkadang menyala dan mati tapi ketika sempat menyala dia dapat melihat wajahnya dan dia langsung mengenalinya. Tangannya melepaskan pisau tersebut—mengenal bahwa orang di depannya tak akan melakukan tindakan berbahaya.

"Apa yang dilakukan mahasiswa hukum terbaik di negara ini di tengah malam seperti ini?" tanya lelaki itu menatap datar orang itu.

Orang itu melangkahkan kakinya maju, "Anda mengenalku? Jika begitu—berkenan menyicipi tubuh mahasiswa hukum terbaik saat ini?"

Lelaki itu menghela napas lalu berkata, "Aku tak membawa banyak uang." Setelah menyelesaikan kalimatnya orang itu—seorang pemuda semakin mendekat masih memasang wajah datar, tak menunjukkan tanda nafsu sedikit pun.

"Bukan uang yang kuinginkan." Ujar pemuda itu.

"Lalu apa?"

"Andai ada kasus dengan nama Kim Taehyung terdapat di dalamnya, aku ingin Anda memilihku sebagai pengacaranya."

Cahaya rembulan yang sempat tersembunyikan oleh awan muncul, menerangi wajah pemuda itu. Lelaki bermantel itu terlihat memikirkannya sejenak sebelum menyetujuinya dengan,

"Deal."

.

.

To Be Continued

Author's Note:

イエエエイイ〜 (Yeeeeyy~) Chapter sembilan akhirnya selesai setelah menemui banyak masalah pribadi uhuhu /curcol/ EAAAA Jiminnya posesif banget ya sama Jungkook, maunya ngejauhin dari Suga sampe ga mau disentuh begitu~ Ini ngetik bagian Jimin ngebeliin kopi jadi pengen punya kakak kaya Jimin, kayaknya hidupku bahagia HAHA~

Chapter depan chapter terakhir lho~ dan double update sama epiloguenya jadi memang disengajain ini lebih pendek dari chapter depan (ini cuman 5k kata) AKHIRNYA MAU SELESAI YA INI FF SEJAK DARI BULAN KAPAN COBA HUHU T^T

MAKASIH YA KALIAN MENDUKUNG FF INI SAMPAI DI TITIK INI~ SARANGHAE~ AISHITERU~ AKU CINTA KALIAN SEMUAAA~~

Oh ya, sekalian saja karena katanya author's note itu tempatnya curhat. Aku punya pesan buat kalian para pembaca tertjintahku :")

Andai kala, aku memang salah tolong beritahu aku. Tolong jangan ragu buat negur aku. Tolong—ini memohon lho aku, janganlah buta terhadap kesalahanku. Jika aku memang salah beritahu aku. Salah bukan selalu merupakan apa yang tertulis di kertas atau bahkan yang engga tertulis di kertas kadang itu berasal dari hati manusia—apalagi di dunia fandom ini bukan? Tidak pernah sekalipun tertulis bahwa kalian harus mematuhi hukum ini atau itu, karena fandom sebenarnya tak memiliki hukum apapun. Jadi pokoknya! Jangan ragu buat ngasih tau aku!

OK~ sudah sampai disana curhatanku~

Mari kita bertemu di chapter selanjutnya~

M.Y