After The Wedding
Genre : Romance & Drama
Rate : T
Ini FF Remake dari novel karangan Kim Ji Oh"After The Wedding". Saya hanya mengedit nama tokoh, dan sedikit mengubah bahasa cerita. Typo dimana-mana.
Pairing : Yewook. Yang lain temukan sendiri. GS
Nb: *) isi surat
Maap jika banyak typo dimana-mana. Saya benar-benar gak ada waktu buat ngedit lagi. Typo itu seni hahaha -_- menciptakan bahasa baru /gak. Thanks yang mau baca dan review.
DLDR
Chapter 9
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat, tetapi keadaan ryeowook masih tetap sama. Ia sudah menaiki kapal menuju pulau jeju. Kapal benar-benar berada di laut lepas dan sepertinya laut menjadi teang ditengah malam seperti ini. Ryeowook sedikit lebih bertenaga dan juga sedikit lebih tenang. Ia meminum sebotol air dengan perlahan karena ia tau perutnya yang kosong akan sakit jika minum cepat-cepat. Ryeowook mengelus-elus perutnya yang masih rata, tapi didalam situ ada seorang anak, anaknya. Anak yang masih sangat kecil, keberadaannya belum dapat dirasakan. Ia harus bersemangat demi anaknya.
"kau mau hidup dengan ibu? Ibu ini seperti orang bodoh, tidak bisa berbuat apa-apa, jadi kau mau melindugi ibukan? Ibu ingin pergi jauh dan tinggal berdua denganmu. Ya? Pergi ketempat yang tidak dapat ditemukan ayah dan nenek, lalu kita hidup berdua dengan harmosis."
Ryeowook terseyum sinis lalu mengambil langkah untuk kembali kekamarnya, mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur. Perjalanan ke pulau jeju memakan waktu 13 jam, sedangkan perjalanan yang baru ditempuh baru dua pertiganya. Selama sisa perjalanan, ryeowook bisa menangis sepuas hati, bisa tidur sepuasnya, bisa berpikir sampai kepalanya pecah. Waktu yang sangat melimpah.
.
.
.
5 bulan kemudian, suhgwipo-si, pulau jeju, rumah petani di pinggir laut yang tenang
"wookie-ah, tolong gambar ini."
"iya, mana... bagus. Keren."
"benar?"
"aki berani bersumpah atas nama anak yang berada di perutku!"
"hyaaa, berarti kau bersungguh-sungguh? Terima kasih. Hehehe."
Ryeowook yang kehamilannya sudah sangat terlihat walau hanya sekilas, sedang berada di galeri temannya bernama sugmin. Ia sedang melihat sketsa yang dibuat temannya.
Lima bulan yang lalu, ryeowook naik kapal feri dari incheon menuju pulau jeju hingga tiba ditempat ini. Yang ia bawa hanya baju yang ia pakai dan sebuah dompet berisi uang yang mskipun tidak seberapa tapi membuat ia tidak khawatir. Ia sedang melarikan diri, tetapi sampai sekarang ryeowook tidak memiliki tenaga memikirkan resiko yang akan dihadapinya. Namun untungnya, semua hal berjalan dengan lancar.
Seperti orang seoul lainnya, ryeowook berjalan-jalan menikmati pemandangan pulau jejung dalam dua hari pertama karena pikirannya kosong, tapi akhirnya ryeowook bisa juga menghilangkan beban pikirannya. Selain itu, ryeowook bersyukur ia bertemu sungmin teman baiknya yang tinggal sendiri di daerah suhgwipo dan untungnya ryeowook menyimpan nomer telpon sungmin.
Sungmin menerima kedatangan ryeowook tanpa mengatakan sepatah katapun. Walaupun sungmin tau ryeowook tidak lulus kuliah dan telah menikah dengan generasi kedua keluarga konglomerat, sungmin tidak bertanya apa-apa. Sejujurnya, sungmin ingin bertanya, tapi ia tau ia tidak berhak karena saat itu ryeowook terlihat kacau. Seakan mengerti keadaan ryeowook yang memang tidak baik, sungmin berusaha menghibur ryeowook yang sedang hamil dan berkelana sendirian.
"nona seoul, ada surat/"
'iyaaa."
Paman pengantar surat selalu mengantarkan kiriman hingga kedalam galeri. Bagi ryeowook yang selalu tinggal di dalam apartmen, hal ini sangat asing, tapi menghangatkan hati. Ada dua orang perempuan yang tinggal dirumah ini. 'nona seoul' adalah sebutan untuk sungmin, sedangkan 'ibu seoul' bagi ryeowook. Paman yang sangat menarik.
"ada satu untuk ibu seoul juga, lho."
"benar?"
Beberapa waktu lalu ryeowook mengirimkan surat untuk suaminya. Ia mengirimkannya memalui teman kakaknya yang seorang pengacara. Sekarang memang sudah saatnya surat balasan dari sang suami datang. Ryeowook mengatur nafas untuk beberapa saat sambil memeluk amplop didadanya yang berdebar kencang.
*apa kabar nona ryeowook?
Tuan kim yesung ternyata lebih keras dari yang saya perkirakan. Katanya ia takkan pernah mau bercerai, karena sekarang kalian akan segera memiliki anak. Katanya,ia takkan pernah mau mengisi dan mengembalikan dokumen yang saya lampirkan disini. Sejujurnya, pengacara-pengacara tuan kim yesung bahkan tidak mau berhadapan dengan saya. Sepertinya masalah ini semakin rumit. Walaupun begitu, saya akan terus maju dan mengabari nona lagi. Saya akan berusaha. Kalau begitu, sampai jumpa.. hati-hati.
NB: Tuan Kim yesung berkata akan menemui anda. Anda tidak bisa menghindar selamanya, nona. Jadi, lebih baik anda bertemu dan berbicara langsung dengannya. Saya telah memberi tau nomor telpon anda
Kabar yang benar-benar diluar dugaan. Sepertinya keterkejutan ryeowook sangat hebat. Ryeowook menangis. Ia menangisa sampai kelelahan. Ia menyadari keberadaan sungmin yang sedang terkejut di belakangnya, tapi ia tidak peduli sampai sungmin berteriak menyuruhnya berhenti menangis dan makan siang.
.
.
"wookie~ katanya kyuhyun mau datang. bawa portofolio dan ide kita."
"baik, aku mengerti."
Empat hari setelah kejadian ryeowook menangis, sungmin berusaha untuk mengajak ryeowook keluar karena tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. kyuhyun hanya sebuah alasan untuk mengajak ryeowook keluar rumah. Kyuhyun adalah seorang pencipta lagu dari seoul yang sedang berkunjung di pulau jeju, mengecek bisnis kafenya. Ia banyak menciptakan lagu ballad dan kyuhyun juga merupakan kekasih sungmin.
Sungmin dan ryeowook menuju kafe kyuhyun didaerah phogu di suhgwipo, dengan mobil kecil sugmin. Cuaca terasa hangat walau saat itu musim dingin. Cocok untuk berjalan-jalan dengan mobil.
"eum.. sungmin-ah. Boleh aku bertanya?"
"tentang apa hm? Yang waktu itu kau kenapa?"
"yang waktu itu? Apa maksudmu?"
Ryeowook berpura-pura tidak memahami pertanyaan sungmin. Ia bertingkah seperti anak kecil, kecemasan terlihat diwajahnya. Ia mencoba menutupinya, tapi malah terlihat lucu dan menggemaskan.
"surat apa waktu itu, wook? Sampai kau menangis separah itu."
"kau pernah dengar kata ini?"
"kata apa?"
"privasi."
"yak! Mau mati?"
Ryeowook tertawa mendengar ancama sungmin. Tanpa disadari, sugmin ikut tertawa. Untuk beberapa saat kedua perempuan itu tertawa tanpa alasan yang jelas.
"hahaha. Cerai, aku minta cerai.."
"hahaha.. apa? Cerai?"
Tiba-tiba suasana menjadi hening.
"benar?"
"tentu saja, memang ada orang yang berbohong tentang perceraian?"
Ryeowook berbicara dengan wajah serius. Sungmin menutup mulutnya rapat-rapat dan memandangi jalanan didepannya. Apa yang harus ryeowook katakan lagi? Ryeowook sadar ia harus bercerita lebih banyak. Karena akhirnya, ia bertemu dengan sungmin yang ia percaya untuk mengetahui se;uruh kehidupan pernikahannya yang enyedihkan dan tragis, tapi ada hal yang tidak dapat ryeowook ceritakan, musibah yang menimpa anak perih baiktamanya? Atau ibu mertua yang selalu mengancamnya? Ryeowook berpikir bahwa lebih baik tidak menceritakan hal yang dapat membuat bingung temannya ini karena sungmin sangat berjasa untukknya dan anaknya.
" kalau kau tidak mau bercerita padaku, tidak apa. Tapi wookie, jangan membicarakan masalah perceraian semudah itu. Kau dan aku, kita tidak boleh berbicara tentang perceraian semudah itu. Kita memang tidak terlalu akrab dulu waktu kuliah dulu, tapi pernikahanmu adalah pernikahan yang paling tidak biasa waktu itu. Pernikahan kalian menggemparkan semua orang. Coba saja kau bercerai. Orang-orang yang selama ini berbicara buruk dibelakangmu akan berteriak senang sambil berbicara lebih buruk lag. Harga dirimu akan jatuh, wook. Kalau sampai berpisah seperti yang mereka perkirakan selama ini, berarti hidupmu sebuah kegagalan besar."
Ryeowook mengerti maksud ucapan sungmin. Ia juga mengerti kekhawatiran sungmin. Ryeowook sebenarnya belum berpikir sejauh itu. Ryeowook sudah banyak berpikir sebelum memutuskan perceraian ini, tapi ia mengakui bahwa ia memang terlalu terburu-buru. Benar yang dikatakan sungmin, kelihatannya ia akan memikirkan hal ini kembali.
"terima kasih sugminie." Sungmin hanya tersenyum ke arah ryeowook.
Sebuah bangunan yang terletak dipingir pantai menarik perhatian ryeowook. Tempat itu adalah kafe tepi pantai, bernama kafe crimson. Kyuhyun langsung muncul dengan senyuman cerah setelah mereka memarkir mobil.
"hai wookie! Hai juga untuk sungmin."
"oh, jadi wookie kau sapa lebih dulu? Lelaku harus menyapa perempuannya lbih dulu."
"sungmin, jujur saja ya, memang kau perempuan?"
"apa?"
"sudah-sudah. Kyuhyun hanya ingin menggodamu, min."
"sungmin tidak mengerti maksudku, wookie. Karena itulah ia memang berarti bukan perermpuan. Hahaha..."
"apa? Kenapa kalian berbicara hal yang tidak menyenangkan untukku dan membuatku terlihat bodoh uhh... dasar. Aku pergi."
"eh eh sungminie. Minieku yang cantik, imut, montok dan seksi, jangn begitu sayang. Dasar, kau harus main kalau sudah datang kesini. Masa kau malah marah sperti anak kecil dan pergi begitu saja sih?"
Pasangan kekasih yang terlihat harmonis. Berdebat seperti anak kecil untuk bertukar sapa. Dan kemudian masuk kedalam cafe. Kyuhyun mempersiapkan abalon biru untuk mereka.
.
.
yesung tiba dipulau jeju. Yesung sempat frustasi karena ryeowook tak kunjung pulang setelah ia bertengkar dengan ibunya yang berakhir sia-sia. Ia mencari kerumah ibu ryeowook tapi tak ada, yesung juga sempat melapor ke polisi akan hilangnya ryeowook, tapi ditelusuri menurut petunjuk mobil ryeowook yang terparkir di bandara ryeowook tidak keluar negeri tanpa diduga ryeowook pergi ke pulau jeju.
Yesung menghembuskan napas panjang seantero mobil yang membawanya menuju suatu tempat istrinya. Yesung kesal, bulan lalu seseorang yang mengaku pengacara istrinya datang mencarinya untuk memproses gugatan cerai istrinya. Benar-benar membuatnya gila. Yesung mengusap wajahnya yang lesu dan kuyu. Suara embusan napas yang penuh keputusasaan.
.
.
Matahari musim dingin yang hanya muncul dalam waktu singkat bergerak menuju garis horizon. Sebentar lagi akan benar-benar terbenam. Sungmin tidak mungkin mengemudi pulang karena mabuk terlalu banyak minum alkohol, sedangkan kyuhyun tidak punya SIM, payah -_- sehingga akhirnya ryeowooklah yang harus menyetir. Ryeowook menyetir sekitar dua puluh menit dijalanan tepi pantai bersama pasangan kyumin, sampai akhirnya galeri sungmin terlihat. Ryeowook memarkir mobil dan bangun dengan susah payah, sementara kyuhyun sibuk mengantar sungmin masuk kegaleri.
Entah kenapa ryeowook merasa sedih. Suara nyanyian sungmin mengalun memenuhi langit malam yang tinggi sebelum akhirnya menghilang. Sekarang hanya suara kyuhyun yang menenangkan sungmin. Ryeowook menyerah, lalu duduk termenung sambil memandangi keributan yang dilakukan sungmin.
"mau kubantu?"
"hah?"
Suara yang tidak asing, tangan yang tidak asil muncul didepan mata ryeowook. Bohong! Itu hanya suara yang ingin didengarnya. Ini nyata! Suaminya telah datang ke pulau jeju. Ryeowook hanya memandangi tangan suaminya, jujur ia kaget entah sekarang ia bahagia atau harus sedih.
"masih mau terus-terusan disitu?" suara suaminya penug kekhawatiran. Sikapnya masih sama, terlihat dari cara yesung meminta ryeowook untuk cepat-cepat memegang tangannya. Yesung masih mengulurkan tangannya dan terus menunggu. Ryeowook bimbang. Antara berpengan pada setir mobil dan terhuyung-huyung atau berpegangan pada tangan yesung. Ryeowook memperlihatkan kondisinya yang menyedihkan dalam pertemuan pertamanya dengan yesung setelah lima bulan berpisah dengan yesung.
"aku.. sangat berat, kalau oppa tidak keberatan."
"tidak usah khawatir. Ayo."
Ryeowook memegang tangan yesung yang dapat menariknya dengan mantap , ia bisa bangun dengan mudah dari duduknya dan langsung terbenam dalam pelukan yesung. Ia senang...
"apa itu?"
"mwo? Ah, itu karena bayo menendang perutku. Anak kita memberi salam."
"bukan karena aku menyakitinya kan?"
"tidak oppa."
Ryeowook tersenyum, tapi suduthatinya terasa sakit. Jika meresa selalu bersma, yesung takkan melewatkan pengalaman mengejutkan seperti ini. Ryeowook meperhatikan ekspresi yesung yang terlihat terkejut dan penuh kekaguman. Ia menyentu wajah yesung dengan tangannya. Kurus, kemana perginya pipi chubby suaminya, wajah tampannya masih tetap sama tapi kenapa ada kantung mata yang begitu menyebalkan.
"apa ibumu yang luar biasa itu tidak menjagamu,oppa? Padahal ia selalu bertingkah seakan bisa menjagamu seribu lebih baik dariku. Benar-benar membuatku kesal. Apa-apaan ini oppa."
"kau tidak perlu menyalahkan siapa-siapa wookie. Ini semua karenamu."
"karena aku? Salahku? Apa salahku? Katakan oppa. Bukankah aku ada disini dan menghilang dari dunia seperti orang yang sudah mati, jauh darimu dan keluargamu."
Suara ryeowook terdengar seperti teriakan histeris. Ia mengepalkan kedua tangannya yang gemetar sambil mundur menjauhi yesung. Yesung pun langsung memegang pundak ryeowook.
"aku tidak bermaksud seperti itu, ryeowook. Maksudku bukan itu..."
"cukup! Kembalilah sekarang oppa. Suasana menyenangkan tidak pernah bertahan lebih dari lima menit setiap kali kita bertemu. Ini bukanlah kehidupan semestinya! Sekarang aku lelah. Aku akan masuk. Oppa hati-hati dijalan."
"kau ingin membalas perbuatan ibu padaku? Dengarkan dulu penjelasannku. Kau malah mendorongku semakin jauh. Kau mau terus menderita sendirian sperti ini? Hentikanlah wookie. Aku juga... menderita sepertimu. Selama ini aku merasa tidak hidup. Selama ini aku juga merasakannya!"
Yesung mencoba mengeluarkan semua yang dirasakannya. Mata istrinya terbelalak memandanginya dengan saksama. Yesung balas memandang ryeowook yang terlihat benar-benar lelah.
"yang penting aku sudah tau keadaanmu yang baik dan sehat, jadi aku akan pergi. Samapai ketemu besok. Masuk dan beristirahatlah." Yesung berkata dengan suara rendah menunjukkan bahwa selama ini juga ia menderita. Yesung berjalan terhuyung-huyung, seperti akan jatuh. Ryeowook semakin sedih melihat itu. Suami yang ia kira akan bersenang-senang karena istrinya yang selalu mengesalkan dan mengganggu tidak ada, suami yang ryeowook kira tidak akan... bukan... tidak bisa berkata seperti itu seumur hidupnya. Berkata bahwa ia juga menderita. Suaminya yang terhuyung-huyung masuk kedalam mobil.
"ke hotel shilla."
"baik."
Yesung duduk dibangku mobil sewaan yang terasa asing dan memandang keluar. Terlihat sosok istrinya yang sedang berdiri diterpa angin malam yang dingin.
.
.
Ryeowook berbaring berselimut sembari menatap langit-langit. Sosok suaminya terbayang di langit-langit yang rendah, yang di cat warna kuning lemon. Ryeowook membalikkan badannya dan menggigit kelingkingnya. Ryeowook kemudian bangun dengan susah payah,lalu duduk sambil mengusap-usap perutnya dengan lembut.
Di lain tempat di kamar vip dengan pemandangan laut. Kamar mewah dengan suhu yang tepat, tidak terlalu panas maupun dingin. Yesung baru saja selesai mandi langsung menuju jendela. Yesung mengusap-usap wajahnya dengan tangan yang memiliki jari-jari mungil.
Terlihat cahaya berwarna biru yang terus berkelip dari dalam ruangan dan memantul dari kaca jendela. Telpon? Handphone yang menyembul keluar kantong mantel yang di lempar yesung ke atas kasur. Dengan langkah gontai yesung mengangkat telpon.
"wookie?"
"ne oppa ini aku."
"ada apa hm? Apa kau sakit?"
"aniyo hiks. Cuma mau menelpon. Iya.. Cuma mau menelpon hiks."
"kenapa menangis wookie? Kau mau aku kesana? Ryeowook, kau mau aku kesana?"
"oppa kan tidak tau jalan, kau mau pergi kemana? Kututup ya, bodoh. Dasar bodoh."
Yesung yang kebingungan hanya bisa memandang handphonenya dengan tatapan kosong. Istri yang tiba-tiba menelpon sambil menangis. Yesung hanya bisa tertawa karena sangat apa dengan ryeowook? Sampai rela mengaktifkan ponselnya yang telah ryeowook matikan beberapa bulan hanya untuk menelpon yesung. Tidak berama lama, yesung turun melalui lift dengan terburu-buru. Ia meminta resepsionis untuk mencarikan mobil. Salah satu petugas hotel mengantarkannya ketempat parkir, lalu membungkukkan badan untuk berpamitan. Yesung merasa khawatir mengeluarkan ponselnya dan menelpon ryeowook meminta petunjuk jalan. Istrinya memandunya tampa ragu-ragu sama sekali. tak sedikitpun ada kekesalan dalam suaranya.
Ryeowook memberikan petunjuk jalan kepada yesung Sedangkan tangannya sibuk memakai mantel sambil melangkah keluar galeri. Angin laut berhembus dari waktu ke waktu. Namun, saat angin tidak berhembus, udara sama sekali tidak terasa dingin. Yesung yang sudah hampir sampai galeri sungmin melihat ryeowook yang keluar dari galeri dan akhirnya berhenti didepan ryeowook, menebarkan debu. Yesung keluar dari mobil dan mendekati ryeowook. Ia mendorong pundak ryeowook dengan halus untuk masuk kerumah. Udara dingin tidak baik untuk ibu hamil.
Ryeowook baru tau saat ia keluar untuk menunggu yesung bahwa kyuhyun belum pulang. Namun, ryeowook malu menjelaskan hal itu kepada suaminya saat mata suaminya melihat sepatu besar kyuhyun yang berdiri disamping sepatu sungmin. Lagipula, kyuhyun dan sungmin sama-sama sudah dewasa. Yesungpun mengangguk dan menggiring ryeowook masuk kedalam mobil. Ryeowook dengan susah payah di bangku mobil, sementara yesung membuka mantelnya dan menyelimuti ryeowook dengan mantel itu. Memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya. Tidak mudah memasangkan sabuk penga,am kepada ibu hamil yang sudah membesar.
Yesung memundurkan mobilnya. Pikiran ryeowook jadi kacau saat mobil bergerak karena perutnya menyulitkannya. Cincin pernikahan yang tersemat dijari istrinya memantulkan cahaya biru saat terkena pancara sinar lampu jalan. Ryeowook masih memakainya, padahal ryeowook meminta cerai.
"hihihi."
"oppa kenapa?"
"cincin..."
"ah, ini...iya. aku tidak kepikiran. Aku akan mengembalikan setelah semuanya diputuskan. Perceraian itu maksudku."
"hal seperti itu tidak akan pernah ada wook. Hari ini kita kembali kehotel dan besook kita pulang ke seoul. Tolong ya wookie... ayo pulang kerumah."
"sepertinya aku menikah dalam usia yang telalu muda oppa."
Ryeowook bukan seorang yang bijaksana maupun pintar, menyalahkan umurnya yang masih muda atas kebodohan yang ia lakukan. Menyalahkan keadaanya yang masih tetap menyesakkan hingga sekarang walau ia telah lebih dewasa.
"lihat aku oppa! Aku sudah menikah tapi aku tidak bisa menjaga ibu mertua dan suamiku sendiri. Walaupun aku sudah berusaha keras, kemampuanku tidak membaik. Mungkin aku harus menunggu seratus tahun lagi. Ibu tidak pernah menyukaiku. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar akan melahirkan anak. Aku mengerti kenapa ibu selalu menertawakanku. Mungkin jika tidak ada ibu kandungku, aku tidak akan bisa membesarkan anak ini sendirian. Mungkin aku akan terus pergi ke banpho setiap hari. Aku tau pasti akan begitu."
"cerewet."
"hah! Oppa pasti tidak mengerti perkataanku kan?"
"ryeowook memang tidak mungkin bisa aku membatumu melahirkan, tapi kita kan bisa membesarkan anak kita bersama. Semua akan lancar-lancar saja jika kita melakukannya bersama. Tentang ibu, aku minta maaf. Aku tidak tau jika bisa bersikap seperti itu padamu, karena ibu yang selama ini kutau adalah sosok yang berpendidikan dan sangat rasional. Dan ibu... sempat dirawat dirumah sakit. Hari itu aku sangat keterlaluan padanya. Aku sudah meminta maaf kepadanya. Aku berkata akan menghapus namaku dari kartu keluarga dan menjadi mengubah margaku dengan marga lamaku sebelum aku diangkat anak oleh ibu. Aku tau aku keterlaluan."
"apa... ibu sudah keluar rumah sakit?"
"iya."
"walaupun begitu kau tetap putranya oppa."
Mobil yang dikendarai yesung melaju kepusat kota, melintasi jalanan tepi laut yang kosong dan hanya diterangi lampu jalan berwarna kuning di pinggir jalan. Terlihat hotel mewah. Sat mereka tiba dipintu masuk hotel, yesung keluar dan berjalan memutari mobil untuk menolong istrinya, lalu membukakan pintu mobil untuk ryeowook. Ia memeluk dan menggendong ryeowook yang tidak bertenaga sama sekali hingga sampai di kamarnya. Ryeowook tertidur lelap dalam gendongan yesung. Ryeowook terlelap dengan dengan masih memegang ujung baju hangat yesung. Yesung menidurkannya di kasur, tapi tangan ryeowook masih memegang baju yesung. Tangan putih istrinya, dengan cincin nikah biru berkilau, diatas baju hangat yang yesung kenakan.
Yesung teringat perkataan ryeowook jika memakai cincin jarinya akan membengkak keesokan paginya. Setelah melihatnya sekarang, sepertinya engsel jari istrinya yang memakai cincin memang benar-benar membengkak. Yesung mengangkat tangan istrinya dengan hati-hati dan menciumnya dan melepaskan cincin dari tangan istrinya. Terlihat bekas merah di tempat cincin itu tadi tersemat.
"ryeowook... aku mencintaimu."
Yesung merebahkan diri disamping istrinya, membuat ryeowook bergerak menyesuaikan posisi tidurnya dan langsung masuk ke pelukan yesung dan akhirnya yesungpun ikut terlelap. Malam biru di pulau jeju yang membahagiakan... bertambah dalam.
Keesokan paginya ryeowook langsung kembali ke seoul. Ryeowook hanya sempat bertemu sebentar dengan sungmin dan kyuhyun di bandara. Mereka tidak sempat melakukan apa-ap kecuali salam perpisahan pendek. Salju turun dengan lebat saat suaminya menggandengnya dengan terburu-buru begitu tiba di seoul.
"oppa... kita ke seong bok dong dulu saja."
"lain kali saja. Semua akan baik-baik saja wookie. Aku akan selalu di sampingmu."
"oppa lebih baik kita pergi sekarang."
Rumah mertua di seong bok dong masih tetap terlihat menakutkan bagi ryeowook. Orang-orang yang bekerja terlihat ketakutan saat ryeowook dan yesung datang. Ryeowook dan yesung melangkah ke kamar ibunya.
"apa ibu tidur?"
"iya pak direktur. Ibu baru saja masuk untuk tidur siang."
Yesung menatap ryeowook dan bertanya.
"mau menunggu?"
"kita tunggu di ruang tamu saja oppa." Saat yesung dan ryeowook membalikkan badan untuk menuju ruang tamu terdengar suara ibu yesung menyuruh mereka berdua masuk. Ryeowook menariik napasnya dalam-dalam. Ryeowook memastikan keberadaan yesung dibelakangnya. Sebelum akhirnya masuk ke kamar.
"apa kabar bu? Apa selama ini sehat-sehat saja?"
"dimatamu aku terlihat baik-baik saja? Bagaimana kalian berdua sebodoh ini? Memutuskan dan meneruskan pernikahan bodoh ini? Dasar anak bodoh."
Ibu yesung melihat sekilas kearah perut ryeowook, lalu mengalihkan tatapan dinginnya kepada yesung. Saat itulah ryeowook baru dapat memberanikan diri untuk menatap ibu yesung. Mengejutkan. Apa benar didepannya ini mertuanya? Ibu yesung yang biasanya terlihat elegan dan sangat lembut berubah sehancur ini. Rambut yang tidak tersisir tergerau tidak beraturan, memakai pakaian tidur yang kusut.
"ibu tidak perlu bersikap seperti itu kepada ryeowook."
Ryeowook menatap yesung mengirimkan sinyal mengatakan bahwa yesung sebaiknya keluar dari kamar. Yesung tidak mau, tapi akhirnya mengalah dan keluar dari kamar. Ibu yesung memancarkan tatapan dingin dan ryeowook tidak bisa berbuat apa-apa.
"anak laki-laki kan? Ah, sepertinya anak perempuan."
"mungkin saja."
Kesunyian yang canggung mulai terasa. Kenyusian berat dan tebal, yang tidak kunjung dipecahkan oleh ibu yesung maupun ryeowook. Ryeowook menggigit bibirnya. Dengan susah payah akhirnya ia bisa berkata pada ibu yesung.
"ada yang ingin aku bicarakan... sesuai dengan keinginan ibu. Aku telah mencoba mengajak yesung oppa bercerai. Aku tau semua masalah terjadi karenaku. Jadi... aku benar-benar merasa bersalah dan terpukul, tapi kami takkan berpisah. Aku sudah mencoba hidup terpisah dari yesung oppa beberapa bulan. Aku merasa menyesal saat bertemu lagi dengannya. Kami tidak bisa hidup dengan orang lain."
"kau sedang menulis novel roman ya?"
"ibu."
Ryeowook bahkan belum mengeluarkan setengah dari isi hatinya, tapi ibu yesung sudah memperlihatkan kemuakan dan kekesalannya. Hati ryeowook terasa sangat-sangat berat, sampai ia merasa mau gila. Hingga akhirnya ia memutuskan keluar dari kamar ibu yesung.
.
.
.
"jadi dokter bilang besok?" tanya sungmin melalui telpon.
"kata dokterku tiga sampai empat hari lagi."
"kau tidak takut?"
"anak ini... mana mungkin aku tidak takut?"
"tapi kau terdengar seperti orang yang tidak takut sama sekali."
Sungmin menelpon ryeowook untuk mengabarkan kabar gembira. Kyuhyun melamarnya. Kenapa setiap ryeowook sedang bertelpon ria selalu ada yang menyelanya sih. Nada sela terus saja berbunyi. Akhirnya ryeowook mengakhiri sambungannya dengan sungmin dan berganti dengan suara yesung yang mengomeli ryeowook. Akhir-akhir ini yesung selalu menelponbeberapa kali dalam sehari walau tidak ada hal penting, membuat perasaan ryeowook sangat senang. Kemungkina melahirkan sendirian bagi ryeowook sangatlah tipis, karena ia sering menelpon ibu kandungnya. Siangnya, ia selalu bersama ahjumma yang bekerja dirumah, malamnya ia akan habiskan waktunya dengan suaminya yang pulang lebih awal.
"nyonya besar seong bok-dong datang."
"kau kan ada dirumah, kenapa tidak membukakan pintu untuk ibu?"
"ibu datang? Maaf tadi ada telpon, aku jadi tidak bisa mengecek keluar. Silahkan disini bu. Mau aku ambilkan minuman dingin atau mau kubuatkan teh?"
"bagaimana caranya kau berbicara cepat tanpa jeda dan tidak bernapas seperti itu... duduklah! Kau membuat ibu pusing."
Ryeowook merasa ragu, tapi akhirnya ia tetap duduk di sberang ibu yesung. Dengan pakaian hamilnya, ia mencoba duduk sambul terhuyung-huyuhng dihadapan ibu yesung. Ibu yesung memandangi ryeowook dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mata yag terlihat berpendidikan.
"duduk yang nyaman saja. Pasti kau tidak nyaman duduk setegak itu. Ibu dengar kau akan melahirkan hari ini atau besok. Aku membawakan rumput laut, sup daging dan sedikit kimchi putih. Makan setelah kau melahirkan dan simpan di kulkas supaya tidak cepat basi."
"terima kasih bu."
Walaupun ryeowook berterimakasih dengan sangat sopan, tapi ibu yesung pura-pura tidak peduli dan berjalan meninggalkan ryeowook ke dapur. Ryeowook tidak sadar tangannya sedang bergetar hebat, dan saat itu pula ibu yesung kembali dari dapur.
"nak, kau kedinginan? Kenapa tanganmu begitu? Kau ada gejala penyakit aneh. Kau memiliki penyakit genetik ya?"
Ryeowook yang baru menyadari keadaannya langsung menyembunyikan tangannya di belakang dingin ibu yesung langsung membuat sekujur tubuhnya kaku.
"tidak, bu. Aku tidak memiliki penyakit seperti itu sama sekali."
Ryeowook menjawab pertanyaan ibu yesung dengan tegas dan datar. Tatapan ibu yesung terlihat mencari-cari kemumgkinan lain, membuat ryeowook hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah. Dan untuk pertama kalinya ibu tidak memaksakan keinginannya. Ini juga pertama kalinya ryeowook mengungkapkan pendapatnya dengan jelas didepan ibu. Ada sebuau hal baru lagi yang terjadi untuk pertama kaliya, perut bawah ryeowook menegang sampai membuat ryeowook tidak bisa bernapas. Ryeowook duduk dalam-dalam di sofam lalu terus mengambil dan mengeluarkan napas denga teratur.
"kau baik-baik saja?"
"aku baik-baik saja. Tapi, ibu pulang sekarang? Aku dan anakku... sepertinya akan mulai sekarang."
"kau tidak menelpon yesung?"
Seperti ini juga pertama kalinya ryeowook meminta sesuatu kepada ibu yesung. suara ibu yesung bergetar dan penuh kekhawatiran. Ibu yesung yang biasanya terlihat seperti wanita elegan tenang sedunia, kini terlihat kebingungan dan tidak tau harus berbuat apa, sedangkan menantunya yang merupakan 'ratu tidak becus' dapat menghadapi kontraksi dengan sangat tenang dan akhirnya ibu yesung mengalah dan menuruti permintaan ryeowook.
.
.
Saat yesung tiba di rumah setelah seharian bekerja, ryeowook sedang berjalan pelan-pelan di atas treadmill. Ryeowook terllihat sangat santai, bahkan sempat melambaikan tangannya ke yesung, sehingga yesung bertingkah seperti biasanya.
"wookie sudah makan malam? Kenapa ahjumma hanya menyiapkan makan malam untukku?" ryeowook hanya tersenyum cerah sambil menggelengkan kepalanya.
"jangan khawatir oppa. Ibu akan datang segera membawa bubur."
"kenapa tiba-tiba ingin makan bubur? Harusnya wookie menelpon oppa sebelum pulang kerja biar oppa belikan. Kau menyuruh ibu kesini hanya karena ingin semangkuk bubur? Hah.. yasudah terserah mau bubur atau nasi, kau harus mengisi perut dulu nanti kau kelaparan." Yesung lama-lama merasa tidak enak kepada ibu mertuanya karena telah banyak membantu.
"tak apa oppa. Sebenarnya, karena lam-lama bertambah parah... aku jadi tidak merasa lapar. Walaupun begitu, ibu bilang ia tidak mau pergi kerumah sakit dengan tangan kosong. Ibu takut aku terlalu lemah dan akhirnya aku menyuruh ibu membawa bubur."
"wookie bicara apa? Apa yang bertambah parah? Tunggu! Rumah sakit? Ibu mertua. Ibu mau kerumah sakit? Wookie sedang kontraksi?"
Seperti petinju yang baru saja K.O, yesung hanya terdiam untuk beberapa saat, dan saat itulah terdengar seseorang membuka pintu gerbang,. Yesung langsung tersadar melihat siapa yang datang. Kakak ryeowook.
"oppa..."
"hei hei hei... ini buburmu adikku yang manis. Ibu ada dimobil. Lalu... kau menyuruhku datang untuk membawakan tasmu, ya?"
"iya~ ada didepan rak yang ada di ruang tamu. Kenapa oppa tidak menyuruh ibu masuk?"
"ibu akan berceloteh ria jika melihat wajahmu, sekarang cepat makan buburmu keburu dingin."
"ne..."
Kakak ryeowook mengambil tas yang dimaksud adiknya, tapi ditahan oleh yesung. Yesung berkata, ia yang akan membawakan tas itu dan menyuruh ibu mertuanya masuk. Kakak ryeowook mengabaikan perintah yesung dan tetap mengambil kedua tas tersebut. Hubungan yesung dan kakak ryeowook memang tidak baik setelah ada sesuatu yang menyangkut pekerjaan mereka. Tak usah dibahas, saya rasa tidak terlalu penting untuk dibahas -_-v mari kembali ke alur cerita. Namun, tiba-tiba kakak ryeowook menjatuhkan kedua tas tersebut.
"benar juga, konyol juga kau menyuruhku kesini. Suamimu kan ada dirumah. Di korea, seorang perempuan kan tidak dianggap sebagai anggota keluarga lagi saat sudah menikah, jadi ini masalahmu sendiri. Aku akan mengajak ibu pulang, jadi semoga berhasil ya."
"apa?"
"kalian! Tolong jangan berisil."
Ryeowook yang sedang menikmati bubur buatan ibunya melayangkan peringatan kepada kedua orang yang sedang bersitegang dengan tegas. Kedua lelaki itu langsung terdiam.
Setelah menghabiskan setengah panci bubur, ryeowook berdiri dari duduknya, membuat kedua lelaki yang berdiri didekatnya segera berlarian kearahnya. Namun, ryeowook hanya menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa waktunya masih belum tiba. Ryeowook menyempatkan diri untuk mandi meskipun ia merasakan sakit yang hebat. kemudian, ia juga sempat menyiapkan asuransi kesehatan dan kartu berobat rumah sakit walaupun harus berjalan tertatih. Bahkan, ia sempat kedapur memastikan bahwa gas sudah dimatikan, ia menatap suaminya dan kakaknya sambil menganggukkan kepala.
.
.
Yesung baru pertama kali mengalami peristiwa seperti ini seumur hidupnya, pikiran yesung menjadi kacau. Ia tersiap dalam sebuah ketakuta. Ketakutan akan kehilangan istrinya maupun anaknya. Tapi untungnya ketakutannya tidak menjadi kenyataan saat dokter menjabat tangannya sambil mengucapkan selamat, ia juga yang memotong tali pusar anaknya. Yesung menangis terharu. Ia takkan melupakan peristiwa ini.
terima kasih yang udah mau baca dan sempatin review. bukannya saya gamau bales review tapi saya gabisa lama -lama di depan laptop ;-; punggung saya bermasalah. sakitnya minta ampun. mati rasa.
sekali lagi terima kasih
-sjmungil-
