Title :Detective Boys
Disclaimer : Kuroko no Basuke itu milik Fujimaki Tadatoshi. Kalau cerita ini baru milik saya
Rate : T
Warning :OOC, OC , adegan berdarah (?), typo, gaje, absurd, dan lain lain
CHAPTER 10
Setelah kejadian peledakan SD Teikou, gedung Teikou sedang mengalami perbaikan. Dan selama perbaikan berlansung, SD Teikou mengadakan menumpang sementara ke sekolah-sekolah terdekat. Tapi untuk hari ini SD Teikou libur. Kesempatan ini diambil oleh Kisedai untuk bermain -namanya juga anak-anak :v Mereka sedang bermain di taman dekat SD Teiko. Saat ini mereka sedang bermain petak umpet. Akashi menjadi penjaganya.
"Kau bodoh dalam mencari tempat sembunyi, ya? Untuk apa kau sembunyi di tempat sampah kalo bokongmu sendiri kelihatan, Ahomine?" Karena sudah ketahuan Aomine keluar dari tempat sampah
"Cih. Kenapa bisa ketahuan?"
"Itu karena Aomine-kun bodoh dalam mencari tempat sembunyi." jawab Kuroko datar
"Apa-apaan kau Tetsu"
"Aku selalu tau, Daiki. Karena itu aku selalu benar" mendengar perkataan Akashi, Aomine hanya menghela napas
"Eh? Aomine-cchi juga sudah ditemukan? Tidak mungkin."
"Kalau Akashi yang menjadi penjaganya, tidak seru-nanodayo. Selesainya cepat."
"Heh… apa itu masalah untuk kalian?"
"Sudahlah. Kita hompimpa lagi."
"HOMPIMPA!" mereka mengatakannya secara serempak
"Hahaha… Aomine-cchi jaga."
"Sial…" umpat Aomine
"Hitung sampai seratus ya Mine-chin~"
"Satu… Dua… Tiga…" Mereka mulai bersembunyi. Akashi belum bersembunyi.
"Empat puluh depalan… Empat puluh sembilan… Enam puluh…" "Lah… hitungan Daiki ngaco. Gawat harus buru-buru sembunyi nih." batin Akahi. Dia menemukan seorang pria yang sedang baca koran. Dan dia memutuskan untuk bersembunyi di pangkuannya.
"SERATUS!" Aomine selesai menghitung. Dan dia pergi dari tempatnya untuk mencari teman-temannya. Akashi yang melihat Aomine dari lubang kecil yang ada dikoran tertawa sendiri meliharnya "hihihi.. dasar Daiki. Ayo cari terus" gumam Akashi. Tiba-tiba Akashi melihat berita dikoran itu. "Kasus pembunuhan dan penculikan anak kecil? Pelakunya belum ditangkap"
"Wah, ngeri ya. Pelakunya belum tertangkap."
Akashi kaget atas kemunculan Kuroko yang tiba-tiba. Untungnya tidak terdengar Aomine "Tetsuya jangan bikin kaget."
"Maafkan aku, Akashi-kun" Kuroko terdiam sebentar. "Pelakunya mengincar anak kecil. Aku jadi khawatir."
"Umurmu kan 15 tahun Tetsuya. Kau tidak akan diincar penjahat kok."
"Aku mengkhawatirkan yang lain, Akashi-kun." "Aku juga tidak peduli dengan diriku" batin Kuroko
"Kau juga harus peduli pada dirimu sendiri juga, Tetsuya."
"Eh? Akashi-kun tau apa yang kupikirkan?"
"Melihat ekspresimu sudah kelihatan"
Kuroko hanya bisa spechless "Akashi-kun ini cenayan, ya?"
"Aku bukan cenayan." jawab Akashi datar
Saat mereka sedang ngobrol, Aomine yang sedang mencari teman-temannya mendengar suara dari bangku taman yang diduduki oleh seorang pria. Tiba-tiba Aomine merebut koran itu dan Akashi ketahuan.
"AH! AKASHI DITEMUKAN!" seru Aomine
"Ternyata ketahuan…"
"Kau emang payah kalau mencari tempat sembunyi." ledek Aomine
"Kau mengatakan sesuatu, Daiki?" tanya Akashi sambil "tersenyum"
"Ah, tidak kok… hahaha" Aomine ketawa canggung saat melihat senyumnya Akashi yang tampak seperti seringai.
"Oi, Akashi. Tadi sepertinya aku mendengar suara Tetsu."
"Tetsuya sudah hilang lagi."
"Hah… kalau main petak umpet Tetsu memang paling susah dicari."
"Kau benar."
Sementara itu, Kuroko yang bersembunyi di balik pohon melihat mereka berbicara. Tapi Akashi yang melihat Kuroko mengintip dari balik pohon tersebut langsung menyuruhnya bersembunyi dengan bahasa isyarat. Dan Kuroko menurutinya.
"Aku harus bersembunyi dimana?" batin Kuroko. Dia melihat Kise yang mau bersembunyi di bagasi mobil yang kebetulan sedang dibuka.
"Kenapa kau bersembunyi disini, Kise-kun?"
"Biar tidak ketahuan Aomine-cchi-ssu."
"Tapi kalau mobilnya jalan bagaimana? Kan ada orang di sana." Tetapi Kise malah menarik Kuroko ikut bersembunyi di bagasi mobil itu.
"Lebih baik Kuroko-cchi bersembunyi disini saja bersamaku."
"Terserahlah." Dan tak lama kemudian mobil itu jalan.
"E-eh. Beneran jalan-ssu."
"Sudah kubilang kan."
"Bagaimana ini-ssu?" Kise mulai menangis. Sementara Kuroko berusaha membuka bagasi itu tapi tidak berhasil
"Sudah dikunci. Sekarang kita menunggu mobil ini berhenti saja." Tidak sengaja Kise menyentuh suatu bungkusan
"Apa ini?" Saat Kise mengeluarkan isinya, mereka berdua kaget dengan isi dari bungkusan itu….
-Sementara di taman-
Saat ini Aomine sedang mencari keberadaan Kise dan Kuroko. Tetapi dia tidak menemukan mereka.
"Sebenarnya mereka bersembunyi dimana sih? Daritadi aku tidak menemukan mereka dimanapun…" Dan akhirnya Aomine kembali ke tempat teman-temannya berada.
"Apa kau menemukan mereka, Aomine?" tanya Midorima.
"Tidak…"
"Apa hawa keberadaan Kuro-chin menular ke Kise-chin?"
"Akashi, apa yang harus kita lakukan?" Akashi nampak berpikir dan mengambil handphonenya dan menghubungi Kuroko.
"Kumohon angkatlah, Tetsuya."
-Di mobil-
"…."
Saat Kise hendak berteriak, Kuroko secara reflek langsung menutup mulut Kise untuk menghindari sang pengemudi mobil mendengar suara teriak Kise. Ternyata isi dari bungkusan itu adalah sebuah kepala anak kecil dengan pisau yang berlumuran darah. Tentu saja Kise yang melihatnya spontan berteriak. Dan Kuroko sendiri berusaha mempertahankan poker face nya meskipun dia sendiri takut sekali. Jantungnya sudah berdetak sangat kencang seakan-akan akan lepas dari tempatnya(?).
"Jangan-jangan anak ini korban penculikan dan pembunuhan yang aku liat beritanya di koran?" batin Kuroko. Entah mengapa hal itu malah mengingatkan dia dengan trauma masa lalunya. Tapi Kuroko berusaha untuk tetap tenang, dan juga berusaha menenangkan Kise yang masih menangis.
"Tenanglah, Kise-kun."
"A…a..a-aku ta..kut..ssu."
"Bagaimana caranya keluar dari sini? Kalau mereka menemukan kita, bisa gawat." batin Kuroko lagi. Tiba-tiba Kuroko merasakan ada getaran di handphone nya. Dan ternyata yang menghubunginya adalah Akashi.
Kuroko memeluk Kise untuk menenangkan Kise "Kise-kun tenanglah. Kalau kamu menangis nanti akan ketahuan." Kuroko bisa merasakan kalau Kise mengangguk dan berusaha untuk tenang.
"Tunggu sebentar ya. Akashi-kun menelepon." Dan sekali lagi Kise mengangguk.
"Mo.. moshi-moshi, Akashi-kun." Tangan Kuroko gemetar dan matanya sesekali melihat kepala anak itu. Dan dia melihatnya langsung ketakutan.
"Tetsuya. Kau sedang dimana? Daritadi Daiki mencari kau dengan Ryouta tetapi tidak ada di sekitar taman. Sebenarnya kalian bersembunyi dimana?" Terdengar suara Akashi yang sedang khawatir.
"Ku..kuroko-cchi biar aku saja yang berbicara dengan Akashi-cchi." Handphone pun sudah berpindahtangan ke Kise "Ha..hallo Akashi-cchi."
"Ryouta, kah? Kalian ada dimana?"
"A..aku pun tidak tahu ini dimana" jawab Kise yang masih bersuara serak.
"Apa kau sedang menangis, Ryouta? Apa yang terjadi? Dimana Tetsuya?"
"Daritadi Kuroko-cchi tidak tenang-ssu. Aku juga tidak tau kenapa. Dia ketakutan saat melihat 'itu' "
Akashi bingung apa maksud dari perkataan Kise "Apa maksudmu?"
"I…itu." Kise ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Jelaskan yang benar, Kise" Suara diseberang sana berganti menjadi suara Aomine.
"Tadi aku menemukan sebuah bungkusan. Lalu saat aku keluarkan isinya ternyata ada…." Kise menelan ludah "Kepala seorang anak dan pisau yang berlumuran darah."
"EEHHHH?!"
"Mungkin traumanya kumat lagi." Ini suara Akashi.
"Aku tidak tau. Tolong kami, Akashi-cchi"
"Tapi bagaimana caranya kami tau dimana lokasi kalian-nanodayo?" -Midorima
"Aku tidak tau-ssu." Terjadi hening sebentar.
"Ah. Tunggu sebentar, Ryouta. Daiki, tolong ambil tas Tetsuya di bangku taman itu." terdengar Akashi sedang memberi perintah ke Aomine.
Tak lama kemudian, Aomine kembali. "Ini tasnya Tetsu, Akashi." Akashi memeriksa tas itu dan menemuka apa yang dia cari. "Ah, ini dia." Dan Akashi menemukan kacamata pelacak milik Kuroko.
"Lalu bagaimana kita mengejar mobil itu, Aka-chin?" -Murasakibara
"Oh, iya. Disamping tas Tetsu aku menemukan ini."
"Apa itu, Aomine-cchi?"
"Sepertinya ini skateboard."
"Kau seperti tidak tau apa itu, Aomine-cchi."
"Berisik kau, Kise."
"Ini memang skateboard, Aomine" -Midorima
"Tapi aku bingung cara menggunakannya." -Aomine
"Kalau kau bisa menggunakan skateboard, kau bisa menggunakan ini." -Akashi
"Sepertinya sedikit berbeda." -Aomine
"Kalau tidak salah skateboard ini memakai mesin- nanodayo." -Midorima
"Kau tau banyak ya, megane."
"Tentu saja, nanodayo."
"Kalian tidak bisa menggunakan skateboard itu." Terdengar suara seseorang yang sejak tadi diam
"Eh? Kok gitu, Kuroko-cchi"
"Kau meremehkanku, Tetsuya?"
"Bukan begitu." Tetsuya menghela napas sejenak. "Pokoknya kami akan baik-baik saja. Kalian pulang saja duluan."
"Gimana kita bisa pulang dengan tenang kalau teman kami sedang dalam bahaya, Tetsu?"
"Kalian sedang bersama pembunuh loh, Kuro-chin."
"Jangan gegabah-nanodayo."
"Lebih baik aku mengembalikan Kise-kun terlebih dahulu." batin Kuroko.
Dan tiba-tiba Kise menghilang dan ternyata muncul di tempat Kisedai yang lain berkumpul. Kuroko melakukan teleportasi terhadap Kise. Dan hanya Kise yang berpindah tempat.
"Huft. Ini lebih baik." gumam Kuroko. Kuroko memutuskan panggilan dari Kisedai.
-Sementara di taman-
"Oi Kise. Kok kau bisa disini?" tanya Aomine bingung
"A-aku juga tidak tau, Aomine-cchi. Tiba-tiba aku sudah ada disini."
"Dimana Kuro-chin?"
"Entahlah-ssu."
"Hah… panggilannya diputus oleh Tetsuya."
"EEHHH!?"
"Lalu bagaimana ini, Akashi?" tanya Midorima
"Aku tidak mengerti dengan anak itu."
"Apa kita pulang saja, ya?" tanya Aomine
"Ayo kita pulang" kata Akashi. Dan Kisedai pun pulang dan membawa tas Kuroko.
-Kembali ke mobil-
"Mereka bukan penculiknya. Dan tadi aku mendengar kalau pelakunya sudah ditangkap. Tapi benda-benda ini untuk apa?"
Mobilnya pun berhenti. "Eh? Berhenti?"
Kuroko pun panik karena dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Kedua orang itu membuka bagasi mobil dan menemukan Kuroko ada disini.
"Eh? Anak kecil." ucap pria yang tinggi
"Kenapa kau dibagasi mobil kami, nak?" tanya pria yang gemuk.
"Maaf saya lancang masuk bagasi mobil paman." ucap Kuroko sambil menunduk sedikit. "Tapi saya sedang bermain petak umpet dengan teman-teman saya. Dan saya bersembunyi disini. Tapi ternyata mobilnya jalan."
"Oh, tidak apa-apa, nak. Lain kali hati-hati." kata pria yang gemuk.
"Apa kau bisa pulang sendiri, nak?" tanya pria yang tinggi
"Iya. Tapi…" Kuroko sedikit ragu untuk menanyakan kepala anak kecil itu. "Maaf. Saya menemukan kepala anak kecil itu buat apa ya?"
"Oh, Itu. Kami ingin tampil drama di suatu sekolah. Dan itu propertinya."
"Hah…" Kuroko pun menghela napas "Syukurlah dugaanku tepat." batin Kuroko
"Apa kami membuatmu takut?"
"Ti-tidak kok…." Kuroko keluar dari bagasi mobil. "Sekali lagi saya minta maaf, paman. Kalau begitu saya pamit pulang." Ucap Kuroko sambil membungkuk.
"Hati hati dijalan ya nak." Dan Kuroko pun pulang.
Kuroko menemukan gang kecil dan menuju kesana. "Lebih baik aku teleport sampai rumah saja." Dan Kuroko pun hilang dan muncul lagi didepan rumahnya.
"Tadaima…"
"Okaeri, Tetsu-kun" ucap Tetsuna dari dapur. "Tetsu-kun lebih baik langsung mandi ya. Makan malam sebentar lagi matang."
"Ha'I"
Kuroko naik ke lantai dua dan menuju kamarnya untuk mandi. Tak lama kemudian Kuroko selesai mandi dan menuju meja makan untuk makan malam.
"TO BE CONTINUE"
KiriShin : Hallo, minna-san. Ogenki desuka? *digebuk Kisedai+reader*
Akashi : Sudah berapa lama kau menelantarkan fanfic abal ini, hah? *aura intimidasi*
KiriShin : Entahlah *jawab santai* *digebuk Kisedai lagi*
Kuroko : Jawabanmu terlalu santai, Shiina-san *datar*
Hontou ni gomennasai, minna-san. Saya benar-benar kehabisan ide untuk chapter ini. Trus kemarin saya nonton anime Saiki Kusou Psi-nan dan jadilah chapter ini :v
Midorima : Dan endingnya absurd sekali
KiriShin : Ya karena bingung mau endingnya gimana jadi ya gitu :v
Aomine : Dasar Author amatir
KiriShin : Biarin
Setelah saya liat di akun punya saya ternyata sudah 6 bulan FF ini gak update :v Sudahlah karena takut author note ini makin absurd mending dihentikan saja.
Reviewnya onegaishimasu, minna-san
Jaa ne
Kirigaya Shiina
