"Jadi kalau boleh eomma tau, sudah berapa lama kalian berpacaran?" Mingyu dan Wonwoo sedang duduk di kursi bersebelahan di ruang makan. Dihadapan keduanya ada Nyonya Jeon yang sedang duduk dengan ekspresi tak terbaca.
Mingyu mencoba menatap calon ibu mertuanya itu dengan sopan.
"Sepuluh hari, eomma." Jungkook yang duduk disebelah ibunya menyahut cepat menjawab pertanyaan sang ibu. Sang kakak melotot kearahnya.
"Sepuluh hari dan sudah hampir melakukan.." Nyonya Jeon berhenti sebentar untuk melirik putra keduanya. "..anak jaman sekarang. Sigh!" Lalu menggelengkan kepalanya.
Nyonya Jeon mengingat pemandangan pertama yang ia lihat saat pertama masuk kekamar putra pertamanya.
"Eum.. Maaf, eomma jika aku menyela. Ada sesuatu yang kebetulan ingin aku tanyakan." Wonwoo menatap ibunya perlahan.
"Baiklah. Anggap eomma tidak melihat kejadian tadi. Apa yang mau kau tanyakan, nak?" Nyonya Jeon mengulum senyum kecil untuk dua pria muda dihadapannya.
Mingyu terdiam. Tidak tau harus membahas apa.
Setelah mendapat ijin ibunya, Wonwoo meletakkan dua benda dihadapan ibunya. Wonwoo perhatikan perubahan ekspresi Nyonya Jeon.
"Bagaimana kau mendapatkan ini?" Nyonya Jeon menutup mulutnya dengan satu tangan. Tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. Dua buah kalung perak dengan permata biru muda.
"Salah satunya milik Mingyu, eomma." Ucapan Wonwoo membuat Ibu Wonwoo menatap Mingyu. Mingyu yang di tatap selekat itu hanya bisa menunduk bingung.
"Kau putra kedua Yoon Jeonghan? Benarkah?" Mingyu mendongak menatap Nyonya Jeon.
"Bagaimana anda tau nama ibuku?"
Nyonya Jeon meraih tangan Mingyu yang terlipat diatas meja makan. Menggenggamnya erat.
"Ya tuhan. Tidak bisa dipercaya aku bisa bertemu denganmu." Nyonya Jeon tersenyum bahagia. Tapi Mingyu, Wonwoo dan Jungkook yang menatapnya hanya mengerutkan dahi.
"Apa hubungan ibu dan ibunya Mingyu juga dengan kalung ini?" Wonwoo penasaran setengah mati. Cuma ibunya lah satu-satunya orang yang bisa menjawab misteri tentang kalung itu.
"Eomma dan Jeonghan adalah sahabat karib. Walaupun Jeonghan sudah menikah dan mempunyai seorang anak, kami tetap bersahabat baik.." Nyonya Jeon mulai menjelaskan. Dia menatap dua buah kalung ditangannya.
"Suatu hari kami dinyatakan hamil disaat yang bersamaan. Jeonghan mengandung putra keduanya. Dan ibu mengandung Wonwoo. Hanya saja kami harus berpisah sebab ayahmu harus pindah ke Busan karena pekerjaannya dan keluarganya disana. Sudah pasti kami tidak akan bisa bertemu lagi karena Jeonghan menjadi sangat sibuk sebagai istri seorang pengusaha.."
Mingyu dan Wonwoo hanya diam mendengarkan kisah sang Ibu.
"Sebagai hadiah perpisahan, kami berdua berlibur ke pulau Nami, dalam keadaan hamil muda. Kami pergi bertamasya dan berlibur menghabiskan waktu selama seminggu. Seperti gadis remaja. Kami sempat pergi ke kuil Budha. Karena kami berdua pernah mendalami ajaran Budha. Kami berdoa dan membuat sebuah jimat untuk janin kami."
Mingyu dan Wonwoo tau maksud jimat itu adalah dua kalung tersebut. Mereka makin penasaran.
"Tapi ini bukanlah jimat. Melainkan kutukan. Kami menyebutnya kutukan perjodohan." Nyonya Jeon tersenyum kecil.
Tapi bagi Wonwoo dan Mingyu itu terdengar menakutkan. Jadi ini semua adalah kutukan?
"'Semoga suatu saat Choi Minki dan Yoon Jeonghan bisa bersatu lagi. Berdiri dibelakang altar pernikahan sebagai orang tua dari kedua mempelai. Bayi-bayi kami, kami menjodohkan kalian agar ikatan persahabatan dan kekeluargaan ini tidak akan pernah terputus' kami berdoa seperti itu sepanjang hari. Membuat sebuah perjanjian tidak tertulis untuk perjodohan kalian berdua" Nyonya Jeon menunduk.
"Lalu kenapa disebut kutukan, Eomonim?" Mingyu bertanya serius.
"Biksu di kuil tersebut memberi tahu jika membuat perjodohan sama dengan mengutuk keduanya. Jodoh adalah ikatan yang suci dan tidak main-main. Tidak bisa dibuat ataupun dihancurkan sesuka hati. Kami membuat perjodohan kalian belum tentu tuhan mengijinkan. Kalaupun diijinkan kalian harus melewati rintangan dan kutukan dari jimat ini."
"Tuhan mengijinkan perjodohan kami eomma" ucap Wonwoo. Wanita cantik bernama Minki itu memandang putranya.
"Apa kalian mendapat kutukan itu?" Wonwoo mengangguk. Ditatapnya sang ibu yang menampilkan gurat cemas.
"Kami mendapatkan kutukan takdir. Kami ditakdirkan bersama. Kami menerimanya. Tapi…" Wonwoo menggantungkan kalimatnya.
"Eommonim, beri tau kami cara mencabut kutukannya?" Mingyu menyambung kalimat Wonwoo dengan keras.
Nyonya Jeon tersenyum. Lalu melirik putra keduanya yang dari tadi diam tapi juga memperhatikan.
"Jungkook-ah. Bisa tolong ambilkan ponsel eomma dalam tas di kamar Wonwoo?" Nyonya Jeon bukannya menjawab pertanyaan Mingyu malah beralih kepada Jungkook.
Jungkook mengangguk lalu pergi ke kamar Wonwoo.
"Cara menghapus kutukan itu adalah malam pertama" ucap Minki cepat setelah dipastikan Jungkook tidak mendengar percakapan mereka.
"Apa?"
"Maksud, eommonim?"
"Malam pertama. Hubungan suami istri" jawab Minki enteng.
Wajah Mingyu dan Wonwoo memerah.
"Eomma jangan bercanda."
"Eomma tidak bercanda, Wonwoo-ya. Inikan kutukan perjodohan. Jadi menjodohkan kalian. Menjadikan satu ikatan. Akan berhenti setelah kalian benar-benar bersatu." Ucap Minki lagi. Minki tersenyum geli melihat reaksi dua pria muda itu.
"Tapi ya harus menikah dulu. Bukan mesum sebelum menikah seperti yang hampir kalian lakukan tadi." Minki menggoda pasangan itu hingga merona malu.
"Eomma!" Wonwoo menunduk malu.
"Aku bersedia menikahi Wonwoo, Eommonim!" Mingyu menatap mantap sang ibu mertua.
"Tapi aku tidak bersedia menikahkan putra ku" Minki bersandar pada kursinya. Melipat kedua tangannya di dada.
"Loh? Kenapa begitu eomma?" Wonwoo melotot bingung.
"Lulus sekolah dulu. Dasar anak jaman sekarang mudah sekali mengucapkan menikah. Ckck.."
"Tapi itu masih lama, eommonim"
"Kan sudah sejauh ini. Kalian memang ditakdirkan bersama. Jadi untuk menjalani kutukan itu sampai waktunya habis dibutuhkan waktu lebih. Itu juga kalau kalian sanggup. Kalau tidak sanggup ya sudah berpisah saja." Ucap sang ibu santai.
"Jangan, eomma! Aku mencintai Mingyu" ucapan Wonwoo seketika mendapat tatapan kaget dari Minki dan Mingyu.
"Akhirnya kau mengakui juga Wonwoo-hyung. Kemarin dia masih tidak mengakuinya, Eomma" Jungkook kembali kemeja makan membawa ponsel sang ibu.
"Aish, bisa diam tidak sih." Wonwoo menunduk. Tidak biasanya dia keceplosan seperti tadi. Pipinya semakin panas.
"Baiklah. Aku akan menikahi Wonwoo setelah lulus sekolah. Karena aku juga mencintai Wonwoo." Ucap Mingyu. Digenggamnya tangan Wonwoo dihadapan sang ibu.
"Kau menyanggupi itu berarti kau juga menyanggupi tidak menyentuh Wonwoo sampai waktunya tiba. Bagaimana?" tanya Minki lagi. Matanya dipertemukan dengan mata Mingyu. Minki senang menatap Mingyu karena terlihat sama seperti milik Jeonghan, sahabatnya. Ia merindukan Jeonghan.
"Ahh.. Itu.." Mingyu menggaruk kepalanya.
"Jaga nafsumu, Kim Mesum Mingyu!" Wonwoo berbisik ditelinga Mingyu agar tak terdengar oleh sang adik.
Mingyu meringis mendegarnya. Mohon bantuan tuhan menahan godaan seksi dari Jeon Wonwoo.
.
.
.
LOVELY STRANGER
Seventeen & EXO Fiction
Kim Mingyu & Jeon Wonwoo
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Kim Noona (Ohnokai92)
.
.
.
5 Bulan kemudian, seminggu setelah kenaikan tingkat. Mingyu dan Wonwoo naik ke tingkat tiga bersama.
.
"…dengan ini saya menyatakan bahwa kalian berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri."
Semua orang dalam gedung megah itu bertepuk tangan riuh. Berbagai macam tamu undangan hadir memenuhi gedung pernikahan dua insan serasi di depan altar.
Satu pasangan yang akan mulai menjalani kehidupan berkeluarga.
Semua undangan tersenyum bahagia.
.
"Kim Mingyu!" Seseorang yang memanggil namanya merangkul lengan kirinya. Sementara di tangan kanannya, Mingyu sudah menggenggam tangan Wonwoo. "Hi, Wonwoo. Kalian serasi sekali. Aku iri. Sungguh." Jisoo menempelkan diri pada Mingyu. Bertingkah manja pada lelaki yang pernah dicintainya itu.
Wonwoo tersenyum menatap Jisoo. Sahabat-sahabat Mingyu datang keacara besar itu. Wonwoo dan Jisoo sudah berteman akrab. Melupakan kejadian lalu yang menyakitkan.
"Makanya cepat cari kekasih, Jisoo. Jangan terus mengharapkanku. Aku tau aku tampan." Ucap Mingyu percaya diri.
"Sialan. Kim Mingyu. Sudahlah. Aku malas dekat-dekat denganmu." Jisoo melepas rangkulannya pada lengan Mingyu lalu beranjak pergi. Menemui teman lainnya.
-Jisoo berjalan dengan riang. Sedikit melompat kecil. Dia berniat menghampiri sang mempelai. Harus melalui sepuluh anak tangga berlapis beludru itu. Tapi kakinya terseok hingga tubuhnya terjatuh menabrak sebuah karangan bunga besar disampingnya.-
Mingyu menunduk sedikit kearah Wonwoo. Berbisik pelan.
"Jisoo akan jatuh di anak tangga kedua"
Wonwoo melepas genggaman tangan Mingyu lalu bergerak cepat menangkap Jisoo yang hampir terjatuh.
"Hati-hati, Jisoo-ya"
"Terima kasih, Jeon Wonwoo. Our Hero" Jisoo tersenyum lega setelah diselamatkan oleh Wonwoo.
Wonwoo berbalik kearah Mingyu yang sedang menatapnya dengan senyuman lalu memberikan acungan ibu jari. Wonwoo memberikan Mingyu pelukan sebelum Mingyu mendapatkan denyutan itu.
"Semuanya berkumpul. Mempelai akan melemparkan karangan bunga. Silahkan tangkap kalau ingin cepat menikah." Seungkwan berbicara dibalik pengeras suara. Ia berperan sebagai pembawa acara di pernikahan malam ini. Semua orang mengakui kemampuannya.
Para undangan yang kebanyakan pasangan muda itu berkumpul dibawah tangga. Terlihat Soonyoung yang menarik Jihoon yang menolak berdiri ditengah kerumunan. Atau Seungkwan yang malah ikutan berkumpul. Berdiri disamping Hansol.
Mempelai yang berdiri di atas tangga menggenggam sebuah rangkaian bunga mawar putih cantik bersamaan. Berdiri membelakangi undangan. Lalu mengayunkan kebelakang. Melemparnya.
"Tangkap ini, Kim Mingyu!"
Hupp
Tangan Mingyu hampa. Dia tidak mendapatkan rangkaian bunga itu.
"Kita belum bisa cepat menikah Wonwoo-ya." Mingyu cemberut.
"Sabar ya, adikku sayang. Kalian pasti menikah." Ucap Jongin, sang mempelai pria yang disambut dengan tawa teman-temannya.
"Berikan itu padaku Lee Seokmin. Kau kan masih belum punya pacar. Jadi tidak mungkin segera menikah" ucap Mingyu melihat Seokmin yang mendapatkan karangan bunga.
"Enak saja." Seokmin mencibir. Lalu berjalan mantap kearah belakang kerumunan. Berlutut didepan seseorang yang pipinya mulai merona. Semua orang bersorak.
"Maukah kau menikah denganku, Hong Jisoo?" Seokmin menyerahkan karangan bunga cantik itu pada Jisoo. Jisoo terdiam sebentar lalu mengangguk malu.
Semua orang bersorak.
"Dengan Jisoo?" Mingyu bertanya kepada Wonwoo. Terkejut dan sangat heran.
"Iya. Kau baru tau? Ya tuhan. Seokmin romantis sekali.." Wonwoo mengepalkan kedua tangannya dibawah dagunya. Tipikal remaja yang heboh saat menonton drama tv.
"Aku juga bisa romantis"
.
.
"Kyungsoo-hyung sangat cantik. Akhirnya mereka menikah juga." Wonwoo bersandar di bahu Mingyu. Mereka baru kembali dari acara pesta pernikahan Jongin dan Kyungsoo di gedung.
Sekarang mereka duduk di taman belakang rumah Mingyu. Menikmati langit malam berdua.
"Kau juga pasti akan secantik itu saat pernikahan kita." Mingyu mencubit lembut hidung Wonwoo.
"Aku menantikan hari itu. Secepatnya. Apa aku sanggup menunggu setahun lagi?" Wonwoo tertunduk lesu.
"Apa kau merasa lelah?" Mingyu beralih mengusap rambut hitam Wonwoo.
"Tentu saja aku lelah. Aku dan kau bisa kapan saja terluka. Orang-orang disekitar kita, orang-orang yang kita sayang bisa saja ikutan terluka karena kutukan kita. Aku takut, Gyu." Wonwoo melingkarkan tangannya pada pinggang Mingyu.
Mingyu membalasnya. Memberikan pelukan erat.
"Aku juga sama takutnya sepertimu. Tapi kumohon. Bertahanlah sedikit lagi. Setahun lagi kita akan menikah dan segera mengakhiri kutukan ini, Wonwoo sayang" Mingyu mengecup lembut puncak kepala Wonwoo.
"Tentu saja aku akan bertahan. Karena aku terlanjur mencintaimu, Kim Mingyu" Wonwoo menatap Mingyu dalam. Melepaskan pelukannya. Lalu mendekatkan wajahnya pada Mingyu.
Wonwoo memulai ciuman lembut itu. Merasakan manisnya cinta diantara keduanya.
"Aku juga mencintaimu, Jeon Wonwoo." Lalu memperdalam ciuman keduanya.
Berpagutan cukup lama. Seperti terbakar nafsu. Wonwoo melepas ciumannya tiba-tiba.
"Hentikan. Nanti kau keterusan lagi." Wonwoo meletakkan tangannya di bibir Mingyu.
"Kau tau aku tidak bisa menahan godaanmu, Jeon Wonwoo. Jadi kenapa duluan menggoda?" Wonwoo memundurkan dirinya sedikit.
"Dasar Mesum! Kau mau mati hm?" Wonwoo melotot tajam.
"Tidak apa. Asal mati bersamamu" Mingyu maju mendekati.
"Aku tidak mau mati. Apalagi dengan pria mesum sepertimu." Wonwoo berdiri hendak meninggalkan Mingyu.
"Berhenti, Jeon Wonwoo! Kau akan celaka" Wonwoo mematung setelah langkahnya yang ketujuh.
"A-apa yang kau lihat?" Wonwoo menoleh kaku kearah Mingyu. Biasanya jika Mingyu berteriak begitu, ia baru saja melihat masa depan.
Dan jika yang dilihat adalah Wonwoo, maka Wonwoo harus menyelamatkan dirinya sendiri. Karena kalau Mingyu yang menyelamatkan, Mingyu akan pingsan. Bisa pingsan selama berhari-hari.
"Aku melihat.." Mingyu berdiri dari duduknya. Berjalan menghampiri Wonwoo. "..kau tidak akan selamat dari…" Mingyu melingkarkan lengannya di pinggang Wonwoo. "..dari ciuman maut Kim Mingyu" Lalu menciumi seluruh wajah Wonwoo.
"Yak! Sialan. Minggir kau, Mingyu mesum!" Wonwoo berontak kuat. Tapi kalah oleh tenaga Mingyu. Mingyu terus menciumi wajah Wonwoo. Okay. Ini cuma akal-akalan Mingyu.
.
Ikatan mereka tidak akan pernah terputus. Takdir menyatukan mereka. Takdir yang membuat mereka bersama.
Orang yang dianggap asing adalah orang yang paling dekat. Orang asing yang masuk dalam kehidupan mereka secara aneh. Tapi mereka bersyukur dan menerima segala takdir dan kesulitannya. Takdir yang tidak bisa dihubungkan dengan logika.
"Kau orang asing yang sangat kucintai"
.
.
.
.
Lovely Stranger END
.
.
.
.
Ini beneran End.
Meanie nikahnya tahun depan. Enaena nya juga tahun depan. Maafkan saya.
Ending nya kurang memuaskan?
Diluar ekspektasi kan?
Ini project ff Chaptered pertama noona. Jadi maklum ajah kalo masih banyak kekurangan. Akan banyak belajar lagi kok.
Q & A! Silahkan tanyakan apa saja yang belum jelas dari fic ini. Nanti Noona akan bikin chap sendiri menjawab semua pertanyaannya.
Salam,
Kim Noona
Fri, 26th August 2016
