God Hate Us
Genre : Adventure,Action,Friendship, Sedikit Romance dan Supernatural.
Disclaimer : Bukan punya saya pastinya
Rating : T
(mungkin M buat jaga-jaga)
Pairing : entar aja kalo inget hehe...
Warning :
Mungkin aneh, Gaje, Typo dimana-mana, Semi-canon, OOC Etc.
Summary : Mereka yang terlahir dari golongan klan iblis lama di Underworld. Mereka hanya sebuah kertas kosong yang membutuhkan seseorang orang untuk menorehkan tinta di kehidupan mereka,...tapi apa daya mereka hanya sebuah korban manipulasi, biarlah kehidupan yang membawa mereka seperti air yang mengalir.
'''''''
'''''''
'''''''
*Disini fisik Himeko berambut merah dikuncir kuda sepunggung dengan sedikit poninya kearah samping sedangkan matanya berwarna biru langit.
*Lalu Hanami sendiri, aku buat hampir mirip dengan Mikoto Uchiha namun matanya berwarna violet.
Sinar matahari sudah enggan menyinari permukaan bumi, terlihat sang senja yang mulai menampakkan diri. Kegiatan para manusia pun sudah mulai menampakkan aktivitas yang mulai berhenti, para ayah atau ibu yang berkerja mulai tergesa-gesa untuk menuju rumah atau peristirahatan mereka masing-masing dan berharap bertemu dengan yang tersayang di rumah. Mata biru menyalang tajam melihat kebiasaan manusia yang setiap hari selalu sama. Mereka keluar untuk bekerja lalu pulang menuju rumah masing-masing dan mereka berbagi canda tawa serta keluh kesah akibat permasalahan hidup, tak jarang pula mereka berbagi tangis dan kesedihan akibat kerasnya hidup yang mereka jalani. Namun apakah itu yang dinamakan sebuah keluarga dimana kau bisa berbagi segalanya dengan orang terdekatmu tanpa takut mereka menghianati atau mencelakakanmu suatau saat nanti.
'manusia! mereka memang aneh'
.
.
"kenapa kami harus mengikuti pertemuan ini Azazel...?" Vali dengan suara bosannya bertanya kepada Azazel.
Azazel yang mendengar Vali bertanya hanya menatap bosan kepadanya, entah kenapa setiap keputusan yang ia ambil, selalu saja salah satu dari mereka menentangnya dan sedikit meragukan. Apa mereka masih tidak mempercayai dirinya sebagai pembimbing mereka. Dan dengan gerakan malas juga Azazel menjawab.
"dengan mengikuti pertemuan ini jalan kita akan lebih muda karena yang akan hadir adalah para pemimpin dari masing-masing fraksi dan tempat pelaksanaan rapat ini ada di Akademi Kuoh..." balas Azazel.
"terserah..kau pemimpinnya.."
.
.
Naruto bersidekap dengan mata yang tak lepas memandang gadis berambut merah yang diikat ponnytail itu, dia terlihat sibuk mengikat tali sepatunya untuk pergi ke sekolah. Himeko yang sedari tadi merasa diperhatikan lama-kelamaan sedikit risih dengan apa yang Naruto lakukan.
"Tou-chan..!" Himeko memanggil Naruto dengan nada cukup keras yang membuat Naruto memutar bola matanya malas. "apa kalian masih ingin bersekolah disana?kalian akan muudah diketahui oleh para Gremory dan Sitri itu, jika kalian adalah iblis juga?"
"apa peduli kami dengan mereka!, lagipula kenapa Tou-chan dan Paman Sasuke tidak masuk sekolah..?" dalam hati Himeko menyeringai dengan apa yang ia lakukan saat ini, karena dirinya saat ini juga memiliki rencana yang lain.
"jangan perdulikan kami..."
"Himeko..Hanami.." Panggil Naruto sambil mendekat kearah mereka berdua.
"Euhm...ada apa Tou-chan/Naruto-sama.." balasa mereka berdua sambil berdiri menghadap Naruto
"dari awal kalian mengaku-ngaku sebagai darah dagang kami, sampai sekarang dan aku masih bertanya-tanya siapa ibu kalian dimasa depan?" tanya Naruto sedikit penasaran. 'biarkan saja untuk kali ini saja aku penasaran siapa ibu mereka. Bagiamanapun mereka tidak akan muncul sediri ke dunia ini tanpa perantara atau mereka adalah anak yang kami adopsi'. pikir Naruto sambil menatap datar.
Mata Himeko dan Hanami sedikit melebar, cepat atau lambat ayah-ayah mereka akan bertanya tentang hal ini. Mereka berdua juga sangat ingin memberitahukan perihal hal ini akan tapi tetap saja hal ini akan menjadi hal yang buruk bagi ikatan tali takdir antara ibu dan ayah mereka, biarkanlah waktu yang akan menjawab.
"untuk masalah itu ra-ha-si-a.." dengan begitu Himeko dan Hanami langsung berlari keluar dan meninggalkan Naruto yang masih dilanda penasaran yang tinggi. Akhirnya Naruto membiarkan hal itu dan masa bodoh dengan ucapan Himeko yang penting dia akan menghentikan masalah yang akan terjadi dimasa depan. Langkah Naruto langsung terhenti saat terbesit sesuatu yang menjanggal dipikirannya, jika Himeko memiliki rambut merah sudah dapat dipastikan itu berasal dari ibu Himkeo sedangkan yang dimiliki Naruto adalah pirang.
"jangan-jangan,..ah sudahlah lupakan.."
.
.
.
Wajah Himeko berseri-seri dan memandangi terus-menerus gantungan kunci berbentuk rubah kecil yang diberikan Naruto. Hanami yang ada disampingnya menatap bosan karena sedari tadi dirinya merasa diacuhkan oleh sudaranya tidak sedarahnya ini.
"Himeko-chan...!" Himeko yang dipanggil keras oleh Hanami hanya memandang bingung.
"jangan acuhkan aku.."
Himeko hanya terkikik geli dengan saudaranya ini, dibalik sifat datar dan kakunya ternyata saudaranya ini memiliki sifat sedikit manja dengan orang sekitarnya.
"haha kau lucu Hanami-chan..."setelah mengucapkan itu Himeko langsung mencubit kedua pipi tembem sudaranya ini dan pergi berlari menjauhinya. Aksi kejar-kejaran dipagi hari itu menjadi penghias kegiatan mereka untuk pergi ke akademi. Hal ini terus berlanjut higga tanpa sadar ada orang didepan mereka yang sedang berjalan juga.
"Himeko-chan...awas..." teriak Hanami.
Brugh...
"Itta-tai.."
"Itta-tai..adu-duh.."
'kenap pagi-pagi ini aku sial sekali...'
Wanita yang ditabrak Hiemeko hanya mampu mengelus bagian tulang ekornya yang terbentur dengan tanah namun berbeda halnya dengan Himeko yang mengelus mukanya. Himeko yang tersadar terlebih dahulu matanya sedikit melebar dengan apa yang dia tabrak.
"ah..maaf Gremory-san..mari kubantu berdiri.."
Rias yang dibantu berdiri oleh Himeko sedikit ada rasa seperti tersentak namun hal itu terjadi untuk sesaat.
'kenapa ini, aku merasakan hal yang aneh dan tidak asing dengan hal ini.'
"Gre-.."
-mory.."
"Gremory-san..."
"ah maaf, aku tidak apa-apa ...err.."
"Himeko...hanya Himeko...Gremory-san.." Himeko tersenyum tulus pada orang yang tadi ia tabrak.
"ahh,..tidak apa-apa Himeko-san..maaf aku masih belum mengenalmu, apalagi kita ini teman satu kelas..." Balas Rias dengan sedikit senyum dipakasakan.
Hanami yang melihat itu merasa sedikit ada yang aneh dengan interaksi mereka berdua, tapi walaupun begitu Hanami tak akan memperdulikan hal itu.
"ehem..."
Sebuah suara mengistrupsi perbinacangan dua mahluk merah itu.
"ah..maaf, sepertinya aku melupakanmu Hanami-chan...Gremory-san perkenalkan dia adalah Hanami.." Ujar Himeko dengan sedikit tertawa canggung saat memeperkenalakn saudara tidak sedarahnya ini.
"Hai..namaku Rias Gremory, salam kenal Hanami-san.." Balas Rias yang merasa de javu saat melihat ekspresi dari Hanami.
"salam kenal juga Gremory-san.." balas Hanami.
"mau berangkat bersama dengan kami..?"
"baiklah sepertinya Akeno sudah berangkat lebih dulu.."
Hal itu berlanjut dengan perbincangan ringan yang terjadi antara ketiga iblis itu, walaupun Rias membalasnya sedikit acuh karena kedua orang ini memiliki hubungan dengan dua orang yang paling ia cari dengan Sona. Namun entah sadar atau tidak Rias melupakan jika mereka juga memiliki aura yang sama dengan dirinya
.
.
.
"apa kita harus kesana,?" tanya Sasuke dengan sedikit nada tidak suka diperkataanya.
"kita tidak bisa untuk tidak menolaknya Sasuke, bagaimanapun ini tugas dari Azazel untuk kita.." balas Naruto dengan nada acuhnya yang bosan dengan pertanyaan ulang dari Sasuke, Naruto merasa ada yang aneh dengan Sasuke karena dirinya tidak biasa dengan sifat Sasuke yang sedikit gusar seperti ini, Naruto merasa kalo Sasuke gugup untuk pergi sekolah.
.
Mereka berdua telah sampai digerbang sekolah yang masih terbuka itu, suasana yang tak pernah berubah dengan kergiatan manusia yang monoton itu. Mereka berdua menghela nafas kasar, bagaimanapun dengan bersekolah ada keseruan tersendiri menurut mereka karena dengan bersekolah mereka akan banyak bertemu dengan manusia-manusia yang konyol, bodoh dan juga mesum.
Sasuke sedikit meradang saat matanya menatap salah satu siswa yang ingin melakukan tindakan tidak senonoh kepada sang ketau Osis, matanya masih menatap intens hal itu tapi ketika hal yang diperkirakan Sasuke akan terjadi dia langsung berlari atau berpindah cepat tanpa sepengetahuan siswa-sisiwi yang sedang berjalan.
"jauhkan tangan kotormu itu.! " kata-kata penuh penekanan terdengar cukup tajam ditelinga siswa yang ingin menyentuh pantat sang ketua Osis, hal itu juga terdengar oleh sang ketua osis yang berjalan didepannya.
'suara itu..'
"apa yang kalian lakukan..!" Sona langsung menatap tajam Sasuke.
Dirinya kini melihat sang sampah yang selama ini dia benci, mahluk yang menjadi daftar mahluk teratas yang ingin dia hilangkan eksistensinya. Walaupun ia tak pernah melihat dia selama hampir satu bulan tapi rasa benci dan muak tak akan pernah hilang dari benak sang ketua Osis.
"tanyakan saja pada orang ini Kaichou.." dengan mengucapkan hal itu, Akhirnya Sasuke langsung beranjak seakan dia tak berani menatap violet itu.
"kheh...jadi pangeran berkuda putih, ne Sasuke.." Naruto berujar dengan nada sedikit mengejek.
"diamlah..aku hanya membantu sekolah ini untuk mendisiplinkan siswanya..." Sasuke masih saja berkilah.
Naruto tak ambil pusing dengan sifat Sasuke yang sedikit Tsundere menurutnya dan dengan tetap berjalan beriringan dengan Sasuke menuju keruang guru untuk bertemu wali kelasnya perihal menghilangnya mereka selama lebih dari sebulan atau malah menanamkan ingatan baru kepada wali kelas mereka. Tidak ada yang tahu.
.
.
Sayup-sayup Sona melihat pintu didepannya bergeser secara perlahan, dia bisa memprediksi jika yang datang adalah quenya. "Sudah kubilang biar tugas ini aku selesaikan sendiri Tsu-.." perkataan Sona terhenti lantaran orang yang dia maksud tidak berada didepannya.
"apa maumu brengsek.." wajah datar dan aura penuh penekanan langsung memenuhi tempat tersebut.
"tidak, ini bukanlah sesuatu yang penting lanjutkanlah pekerjaanmu! Jangan hiraukan aku disini.." balas Sasuke yang langsung mendudukan dirinya si sebuah sofa disampingnya yang tak jauh dari meja Sona.
Sona masih senantiasa menatap datar Sasuke yang dengan lancangnya masuk bahkan duduk diruangannya. Sona masihlah menganggap orang didepannya sangat berbahaya. "apa yang kau inginkan Uchiha! Kau tahu? Kau sangat bodoh untuk seroang musuh yang datang keteritorial musuhmu.." Sona mengapit bulpoinnya dengan kasar.
"musuh..?" beo Sasuke.
Sasuke tahu jika masalah yang terjadi antara dia dengan iblis Sitri didepannya tidak ada yang mengetahui karena harga diri seorang Sona Sitri terlalu tinggi untuk mengadu pada kakaknya atau orang lain tentang permasalahan yang menimpanya, sungguh iblis yang berani dan bodoh diwaktu bersamaan.
"tidak, aku bukanlah musuhmu...buktinya aku disini duduk diruanganmu tanpa ada intimidasi atau aura permusuhan sekalipun.." ujar Sasauke sambil mengeluarkan minuman dingin dari dalam tasnya.
"Ka-kau..." wajah Sona memerah dia tak pernah kalap seperti ini sebelumnya ketika mendapat psywar dari orang lain. Apa sedari tadi aura membunuh dan permusuhan yang ditinjukkan Sona tak berpengaruh sedikitpun kepada Sasuke.
BRAKKKK...
Meja yang sedari tadi ditempati Sona bergetar hebat dengan sebuah gebrakan dari tangan mungil iblis berkacamata itu. Dengan berpinda cepat Sona sudah berdiri didepan Sasuke dan dengan sigap dia mencengkram kerah seragam sang Uchiha.
"apa yang kau inginkan sebernarnya UCHIHA..!"
Sasuke masih diam tak bergerak apa-apa saat kerahnya dicengkram dengan hebatnya. Dia masih diam terpaku dengan memandang wajah Sona dengan ekspresinya yang datar.
"kau lucu jika sedang marah..."
Dia membatu dengan ucapan pemuda didepannya ini yang berada diluar nalarnya. Sona bersumpah dengan apa yang dialaminya saat ini sangat diluar dugaan, apa orang didepannya ini sedang sakit.
Tangan sasauke secara perlahan melepas gengaman tangan Sona dari kerah bajunya. Sona masih belum beranjak dari posisinya.
"terimakasih karena kau tidak memberitahukan permasalahan ini kepada keluarga atau kakakmu, aku menghargai keberanianmu...tenang saja aku bukanlah orang yang dulu, karena aku tidak berniat untuk membunuh mainan lucu sepertimu.." ujar Sasuke ditelinga sang Sitri dan saat itu pula Sasuke langsung menghilang dari sana.
Wajah Sona langsung memerah entah karena apa tapi yang pasti itu semua gara-gara sang Uchia itu.
"BRENGSEK KAU UCHIHA...!"
.
.
.
"belikan aku puding..!"
"tidak.."
"belikan aku takoyaki.."
"tidak.."
"belikan aku ramen.."
"tidak.."
"apa ada kata lain selain, tidak..!" Himeko berteriak frustasi ditelingan Naruto denngan kencanganya.
"mungkin lain kali.." balas Naruto cuek.
Oke, kesabaran Himeko sudah diujung tanduk dan dia sudah terlalu lelah dengan sikap sang Namikaze yang sangat menyebalkan dan sangat cuek. Namun mata Himeko tak sengaja memandang sebuh objek didepannya yang berjalan sendirian.
"Rias-san.."
Tubuh Naruto sedikit menegang saat mendengar Himeko memanggil nama seseorang. Himeko berlari menuju Rias yang berhenti dari langkah kakinya.
"mau makan bersama Rias-san..? aku juga ingin mengenal kita lebih jauh lagi.." Ujar Himeko saat sudah berada didepan Rias.
Rias sedikit tersentak dengan apa yang diucapkan orang didepannya dan entah kenapa dia seperti berat untuk menolak permintaan itu pasalnya saat ini dia sedang buru-buru untuk mengurus sesuatu di ruang klubnya.
"Euhmm..baiklah...lagipulan Akeno sedang sibuk" ujar Rias sedikit tersenyum.
Setelah mendengar persetujuan itu akhirnya Himeko menarik tangan Rias menuju kantin sekolah. Rias yang ditarik seperti itu hanya bisa tersenyum canggung dan mengikutinya.
.
.
Himeko sungguh saat ini ingin sekali dirinya tertawa terpingkal-pingkal dengan hal yang tersaji didepannya. Aura permusuhan dari satu pihak dan aura kecanggungan dari pihak satunya. Sungguh Himeko tidak tahu apa yang pernah terjadi dengan dua orang itu sebelumnya.
"sepertinya kalian sangat mengenal baik sebelumnya.."
"Tidakk..!" Rias berujar cepat dengan tatapan membunuh yang tak pernah dia lepaskan dari pemuda kuning itu.
"ahh baiklah kalau begitu aku akan membelikan pesanan kalian terlebih dahulu.." balasHimeko dengan sedikit canggung juga.
Naruto tak henti-hentinya mengutuk ulah Himeko yang menjebaknya pada situasi yang membuat dirinya tak nyaman, walaupun mereka berada di tempat umum dan Naruto yakin jika Rias tak akan menyerangnya secara frontal disini.
"jadi bagiamana kabarmu saat ini Rias.." Ujar Naruto sedikit mencoba mencairkan suasana.
Namun tak ada respon maupun deheman yang keluar dari sang Gremory dan hal itu menjadi momen yang akan Naruto rutuki karena berani bertanya pada hal yang pasti sudah ia ketahui respon apa yang akan ia dapatkan.
"aku akan membunuhmu..!". Rias berujar dengan gamblangnya dan tak merespon dengan pandangan orang disekitarnya yang menatap mereka aneh.
Naruto yang tahu hal ini akan terjadi Cuma bisa tersenyum canggung.
"pesanan datang.." Himeko langsung memecah situasi yang menegang itu dengan kedatangganya yang tiba-tiba.
"jadi Rias-san, aku dengar kau memiliki klub yang cukup populer di sekolah ini. Kalau boleh tahu klub apa itu..?"
Perbincangan itu berlanjut dengan hikmat bahkan tak lupa dengan canda tawa dari dua orang. Ingat hanya dua orang sedangkan Naruto sendiri tak pernah dianggap ada.
'lebih baik seperti ini saja, daripada aku harus berurusan dengan iblis betina yang frontal itu'
Naruto memandang dua orang berambut merah itu dengan seksama dan tak pernah luput satu pergerakan mereka dari mata Naruto, sebuah pemikiran aneh tiba-tiba muncul dari pikirannya. 'mereka seperti orang kembar saja jika dilihat dari dekat dan bahkan mereka berinteraksi layaknya saudara' pikir Naruto dengan sambil mengaduk-aduk minuman jusnya.
'atau malah jangan-jangan Rias adalah orang dari masa depan dan dia adalah sepupu Himeko. Bisa jadi...atau malah jangan-jangan dia adalah ibu dari hi-'
BRAKK...
"itu tidak mungkin...!" Naruto langsung beridiri dengan menghentak kedua tangannya kemeja.
Himeko memandang datar tingkah aneh Naruto, dan dia bertanya-tanya apa otak Lucifernya mulai gila. Semoga saja.
"kau mulai Gila Namikaze-san...tapi jika itu adalah fakta sebernarnya, maka akan jadi hal yang wajar bagi seorang penipu dan penghianat sepertimu!" Rias menyipitkan matanya dan menatap intens Naruto.
"penghianat.." beo Himeko dengan menatap bingung Rias. Namun mendadak wajahnya mengubar senyum jahil pada mereka berdua.
"jadi sudah sejauh mana hubungan kalian..?"
.
.
Hari ini adalah hari yang akan menjadi salah satu hari yang tidak akan dilupkan oleh para mahluk dari tiga fraksi. Hari dimana sebuah langkah besar yang tidak pernah dilakukan oleh leluhur mereka, langkah yang tak akan pernah ada didalam ideologi leluhur mereka.
"kenapa kami harus ikut Azazel..?" tanya Sasuke dengan nada tak bersemangatnya saat melihat malaikat jatuh nyentrik itu.
Tak ada yang perlu ditakutkan dengan pertemuan itu, hanya sebuah kalimat kata sepakat yang akan hadir diantara ketiga frkasi namun yang harus mereka hadapi tentangan kata sepakat dari beberapa pihak yang mereka khawatirkan. "aku tak perlu menjelaskan hal itu, kurasa kalian sudah memahaminya.."
"baiklah-baiklah kurasa kau menang lagi..."
.
.
Akademi Kuoh malam ini sangat berbeda dengan biasanya, walaupun memang ketika malam hari akademi ini tak pernah ada aktivitas masyarakat maupun murid akan tetapi malam hari ini di daerah Akademi itu begitu tenang tak ada suara aktivitas dari hewan nokturnal seolah mereka mengetahui jika didalam sana terdapat eksistensi lain.
Rias dan Sona yang notabennya sebagai tuan rumah tak tahu perihal apa yang akan diadakan di daerah markas mereka ini, yang mereka tahu hanyalah diminta untuk menyiapkan ruangan yang cukup besar dan nyaman untuk mengadakan sebuah pertemuan penting yang akan sangat berpengaruh pada bangasa iblis ataupun dunian ini.
Sona memandang rivalnya yang saat ini sedang melamun memandang kosong kedepan dan entah kenapa memandang kosong kedepan saat ini menjadi hobi yang sering Rias lakukan. "Rias apa kau tahu pertemuan apa yang akan dilakukan disini..?"
Rias tersenrtak dengan sebuah suara yang menariknya keluar dari dunianya sendiri. "aku tidak tahu tentang hal itu karena Onii-sama tidak memberi tahu pasti tentang acara itu, namun yang pasti kita harus menjaga ketat ruang pertemuan yang akan mereka gunakan..."
.
.
Mata mereka menatap lekat-lekat jam yang berdetak didinding ruang yang tak jauh dari mereka. Sirzech yang senantiasa berbincang dengan Seraffal namun tak jarang dia melihat kearah jam itu. Michael yang masih senantasa dengan senyum ramahnya kepada orang-orang yang ada disitu.
Rias mulai jengah dengan yang dia alaminya karena menunggu acara yang tak kunjung dimulai sedari tadi. namun dalam sesaat dia terkejut setengah mati ketika mendapati pemimpin dari malaikat datang kedalam markasnya ini. Tapi bukan hal itu yang mengganjal pikirannya pasalnya dia bertanya-tanya apa yang kakaknya akan lakukan dengan mengundang pemimpin dari malaikat yang sejatinya adalah musuh dari iblis. "Onii-sama sebenarnya kita sedang menunggu siapa lagi..?".
Sirzech tak menjawab dan memilih memberikan senyum ramah kepada adiknya agar bersabar untuk menunggu. Tak lama kemudian sebuah cahanya yang sangat cepat dan menyialaukan menuju kegedung yang diduduki pemimpin tertinggi iblis dan malaikat itu.
"yo Michael..Sirzech lama tak bertemu.." ujar Azazel sambil berdiri di bibir jendela.
"hah kau ini..apa gunanya pintu jika kau lewat sana.." balas Sirzech sedikit naik pitam dengan tingkah orang tua itu.
"kau terlalu serius Sirzech.."
"jumpa lagi Azazel.."
Sona dan Rias Cuma bisa memijit kepalanya atas tingakah sang pemimpin malaikat jatuh itu yang dengan tidak sopannya datang melalui jendela. Azazel pun turun dengan langkah pelannya menuju meja yang telah disiapkan. "kau tidak membawa pengawal Azazel-teme...". sebuah suara yang muncul dari sang Leviathan mengingatkan Azazel dengan anak-anak brengsek yang bersamanya.
"ah iya kau benar Levi-chan..."
Azazel pun sedikit memijit pelipisnya setelah mendengar hal itu dari sang Leviathan. "walaupun aku membawa mereka sebagai pengawal tapi tetap saja itu tidak akan berpengaruh terhadap keselamatanku, mereka hanya akan menertawakan apaun yang akan terjadi padaku dan rasa hormat mereka tak akan pernah ada untukku.." keluh sang gubernur dan hanya dapat rasa prihatin dan senyum mengejek dari orang-orang yang ada disitu.
"baiklah mari kita mulai pertemuan hari ini..." dengan dimulai pertemuan ini, Azazel mulai menjelaskan tujuan dari pertemuan ini dan hal itu banyak direspon postitf dan antusias oleh orang-orang yang mengikutinya.
.
"sayang sekali pertemuan kali ini harus berhenti cukup sampai disini..!".
Senyap, semua penghuni didalam ruangan itu terdiam dengan terdengarnya suara asing yang memecah konsentrasi dari pertemuan itu. Kini terlihat delapan orang bertudung mengitari pertemuan itu dan sisanya menawan masing-masing dari kelompok Sitri dan Gremory dengan mengalungi mereka dengan sebuah tongkat sihir yang setiap saat dapat melubangi tenggorokan mereka dengan energi yang terpancar diatas tongkatnya kapan saja.
"tembak...". sebuah suara komando dari pemimpin para penyihir itu langsung mendapat respon dan kini area meja yang menjadi tempat para petinggi supra natural berkumpul itu telah dihujani tembakan energi sihir yang sangat besar.
'Onii-sama..'
'Nee-sama..'
'Michael-sama'
Pekikan tertahan keluar dari dua mulut heires Gremory dan Sitri. Mereka tak tahu apakah kedua kakak mereka akan selamt, walaupun mereka adalah iblis yang terkuat tetapi tetap saja jika mereka mengalami serangan dadakan akan berakibat fatal.
"yare-yare...ini sangat berbahaya. Lagipula menyerang orang yang sedang melakukan pertemuan adalah suatu pelecehan." Dengan langakah pelan dua orang bertudung itu berjalan pelan.
"siapa kalian!?". Salah satu pemimpin penyerangan itu bersiaga.
Setelah asap hasil dari tembakan mengurai secara perlahan dan kini terlihatlah sebuah lingkaran api biru yang berkobar hebat dan mengitari tempat para pemimpin dari setiap fraksi. Semua pemberontak terbelak dari apa yang tersaji didepannya, mereka tahu masing-masing dari kekuatan pemimpin fraksi dan mereka juga menyadari jika afinitas kekuatan dari setiap pemimpin fraksi yang hadir tak ada yang memiliki api apalagi api berwarna biru. Jadi sipa yang melakukan hal ini.
Sirzech sedikit membulatkan matanya atas insiden penyerangan yang tiba-tiba terjadi. Dia sudah mengetahuai jika semua yang akan meraka lakukan akan mendapat banyak tentangan dari beberapa kalangan yang menolak. Tapi dia lalu melemparkan pandangan pada setiap pemimpin fraksi tentang kubah api biru yang melindungi mereka, namuan hanya mendapat respon gelengan kepala.
"aku tahu apa yang ada dipikiranmu Sirzech. Tapi semua ini adalah perlindungan yang dilakukan muridku..". semua mata menatap menyelidik dan penasaran kepada Azazel, mereka tidaklah bodoh dengan merasakan intensitas dan panas yang dikeluarkan api biru ini. Pastilah orang yang mengeluarkannya bukan orang sembarangan,
"muridmu..?. tidak mungkin orang kuat seperti mereka ini menjadi murid fallen angel mesum sepetimu Azazel..!?". Seraffal sedikit memandang meremehkan Azazel.
"Hah, aku bukannya bangga dengan kekuatan yang mereka. Tapi menjadi guru dari mereka seperti kutukan bagiku.." Azazel mendesah panjang dan sedikit mengatupkan kedua tangannya ke wajahnya.
"haha sepertinya mereka orang-orang yang menarik Azazel-dono...bisakah kau mengenalkan mereka padaku..?". tanya michael.
Azazel hanya tertawa kecil mendengarnya. "kau pasti menyesal nantinya..".
.
.
Sebuah asap hitam misterius tiba-tiba muncul dibawah kaki seluruh penyihir yang menyerang pertemuan itu dan dengan tiba-tiba mereka tersedot secara paksa kedalam asap hitam itu.
"apa yang kalian lakukan brengsek. Cepat lepaskan kami!"
"ucapkan salam kami pada naga penjaga celah dimensi itu.." salah satu orang bertudung itu berujar.
"ARGHHHH..."
"kau berlebihan.."
"Hn.."
"hah..akhirnya berakhir sudah..."
Api biru dan asap hitam yang melingkupi ruangan pertemuan telah menghilang dan tergantikan dengan helaan nafas panjang.
"kalian lama sekali brengsek..!" Azazel berujar sarkas saat melihat dua muridnya itu.
"Hn..". tanpa membalas perkataan Azazel dua orang bertudung itu memilih berbicara sendiri dan mengacuhkan pernyataan Azazel.
Azazel serasa dadanya ditusuk oleh sebilah pedang yang sangat panjang. Wajah pundung dan hilang wibawa kini menyelimuti diri Azazel.
"HAHAHAHA...memalukan..". sang Leviathan seperti menambah minyak kedalam api dan hal itu sukses menusuk dada Azazel sekali lagi.
'rasanya seperti ingin mati saja'
"apa kami boleh melihat wajah kalian..!?". rahang Sirzech sedikit mengeras karena dirinya sedikit merasa familiar dengan salah satu dari orang bertudung itu.
Suara dingin itu memecah suasana yang tadi sedikit rileks namun sekarang kembali menegang dan semua orang disitu mengerti apa yang Sirzech inginkan.
TBC
Terimakasih sudah mau membaca
