X

[November 10th, 2038]

Yoongi berjalan di pemakaman yang bertaburan salju, ranting pohon mencuat di atas kepalanya, cakrawala melatarbelakangi makam dengan matahari yang bersinar pucat. Yoongi terhenti di depan sebuah makam yang berdiri kokoh, batu hitam itu mengilap di bawah cahaya matahari suram. 'Carl Manfred' terukir ditengah nisan. Yoongi merasakan hatinya kembali diremas, memorinya akan sosok ayah yang tak akan pernah ia miliki lagi.

"I'm lost, Carl", tidak pernah Yoongi berpikir untuk menghancurkan sesuatu yang mereka dirikan dengan susah payah. Jericho sudah berakhir, kapal hancur terbakar bersama dengan ledakkan yang ia picu, angota mereka bersembunyi di sebuah gereja, terluka, putus asa. Yoongi tidak tahu pilihan apa yang harus ia ambil. Tanggung jawab ini terlalu besar, ia ingin menangis dan merawat Carl, tapi ia tahu semuanya belum berakhir. Masa depan android bergantung pada keputusan Yoongi. "Aku tidak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan, Carl. I don't know what to do…", Yoongi meremas jaket putihnya yang panjang mencapai betis.

"I missed you so much", Yoongi berpaling ketika langkah kaki mendekatinya. Jantungnya mencelus ketika retina hitamnya bertemu dengan mata cokelat Leo. Yoongi terdiam beberapa saat, merasakan kemarahan dan dendam. Tapi, ia menyadari semua itu hanyalah emosi karena dia putus asa. Pemerintah telah mengambil tindakan keras, mengeruk semua android untuk dimusnahkan. Dalam beberapa jam, anggota Jericho akan menjadi satu satunya android yang bertahan hidup.

Ia pun berbalik dan berjalan pergi, melangkahi tumpukan salju yang terus berjatuhan dari langit.[]

Yoongi terduduk di altar, mengamati anggota Jericho yang terluka parah, tersebar dengan wajah yang pasrah menerima ajal. Yoongi memejamkan mata, menghampiri pria yang terpisah dari kerumunan, menyandar pada dinding gereja dengan jaket kulit hitam membungkus pundaknya. "Ini semua salahku", Jungkook menyuara ketika Yoongi mendekat. Selama ini, yang ia pikirkan adalah keberhasilan misi, ia tak menyadari sudut pandang kaumnya, para android yang Jungkook berantas demi kesuksesan penyelidikan. Ia tak pernah mengerti…selama ini ia hanya dimanfaatkan untuk membunuh mereka yang seharusnya ia lindungi. Kalau Jungkook berhasil, Cyberlife akan menghanguskannya, mereka telah memberikan perintah yang dijalankan oleh ciptaannya dengan patuh. Setelah itu…selesai sudah, Jungkook hanya sebuah mesin yang sudah mati, tidak dikenang oleh Cyberlife, dan diingat sebagai deviant hunter yang berkhianat bagi para android.

"Aku mengerti jika kau memutuskan untuk tidak mempercayaiku", Yoongi termenung, mengamati pria yang menghela napas panjang. Ia tidak akan menyia nyiakan nyawa satu pun android, ia tidak mungkin membiarkan Jungkook kembali menjadi properti Cyberlife, dibongkar, diperiksa, dan kembali diaktifkan untuk menyelesaikan pekerjaan kotor mereka. "You are one of us now. Kau akan berjuang bersama kami, Jungkook". Jungkook terengah, menahan tangan Yoongi ketika ia hendak berbalik. Belum pernah, sekalipun, seseorang menghargai Jungkook, menyadari keberadannya selain sebagai mesin yang taat. Yoongi memberi Jungkook kesempatan, penebusan karena mengkhianati kaumnya sendiri, ia penyebab Jericho habis tak bersisa, ia penyebab mereka semua kembali terpuruk. Jika Yoongi adalah sebuah harapan, Jungkook baru saja menghancurkan harapan itu.

"Aku akan menyusup ke pusat Cyberlife. Ada ribuan android yang diproduksi disana, mungkin, aku bisa menyadarkan mereka dan menambah jumlah pasukan kita sebelum peperangan dimulai". Yoongi membayangkan pasukan dalam jumlah yang besar, menantang manusia yang akan merasa ketakutan, mereka bertahan ketika baku tembak berlangsung. Tapi, bagaimana dengan Jungkook?

"Jungkook, itu bunuh diri! Mereka akan membunuhmu", Jungkook menggeleng, "They trust me. Kalau ada yang bisa menyusup ke pusat Cyberlife, akulah orangnya". Yoongi mengepalkan tangan, ia kembali mempertaruhkan nyawa seseorang demi kepentingan mereka sendiri. Ia melihat Hoseok yang menunduk di kursi, seperti mengerti apa yang akan terjadi jika Yoongi terus memaksakan kekerasan. Namun, Hoseok tidak akan menghalanginya lagi. Ia akan mengikuti Yoongi apa pun pilihan yang ia ambil, meski ia harus mati di atas lapisan es, berjuang demi kebebasan.

"Kau harus menyelamatkan mereka, Yoongi", Jin meremas tangan Taehyung yang bersandar padanya. "Save our people". Yoongi mengamati dua pria yang berpelukan, ia membuat mereka tinggal di Jericho, ia menjanjikan sebuah keamanan dan perlindungan, namun, ia justru memberi sepasukan polisi yang memberantas mereka layaknya sebuah virus. "Tidak terlambat bagimu untuk menyebrangi perbatasan, Jin. You have to catch the last bus", Yoongi menyerahka tiga paspor yang Jin terima dengan jemari bergetar. Ia teringat Namjoon, jika pria itu masih hidup, mereka bisa bersatu, menjalani kehidupan yang baru, jauh dari manusia.

Mungkin, mereka akan menjadi keluarga kecil yang saling menjaga satu sama lain.

"They need you, Yoongi", Jin melepaskan tangannya yang memeluki Taehyung, jemari itu meremas jaket Yoongi yang menunduk tajam. "Kau adalah harapan kami. Kau harus berjuang demi mereka, k-kalau tidak…", Jin memejamkan mata miris, ia tidak bisa tergabung dalam peperangan. Ia harus menjaga nyawa Taehyung yang tidak mungkin bertahan di medan perang. Ia harus pergi sejauh jauhnya ketika para android berkorban demi kebebasan mereka. "Take care of yourself, Jin…and take care of him", Yoongi menatap Taehyung dalam, menyatukan jemari mereka sebelum ia kembali ke altar, menghadapi para pengikutnya yang terjatuh dalam keputusasaan.

"Humans are rounding our people in camps for extermination", Yoongi menegaskan suaranya, mengepalkan tangan ketika wajah wajah itu mulai menatapnya sendu. "If humans want war, they'll get it". Yoongi sudah mempersiapkan persenjataan, ratusan android yang akan berjuang untuk kebebasan mereka, ribuan lagi jika Jungkook berhasil menyusup 'rumah' penciptanya sendiri. "We have lost…everything!", Yoongi mengertakkan gigi.

"And now we'll risk it all".

Ia akan memimpin mereka ke dunia yang baru. Ia akan menuntun para android untuk menatap mentari di dunia yang aman.

Revolusi akan segera dimulai.[]

Jungkook menurunkan kaca taksi autopilot setelah ia sampai di pusat Cyberlife. Ia melihat gerbang otomatis yang dijaga ketat oleh para penjaga, berwarna kelabu dingin. Tulisan 'CYBERLIFFE' menyala terang seputih salju. "Identitas Anda, Sir?", Jungkook menoleh kepada penjaga yang mendekatinya dengan senjata api tersampir di tangan. Ia memasang wajah kosong, "Jungkook, seri RK, model RK800, serial number #313 248 317. Aku ditunggu di dalam". Penjaga itu pun mengangguk, menurunkan gerbang otomatis ketika taksi autopilot Jungkook berkendara mengarungi jembatan.

Menara Cyberlife tinggi mencapai langit, dengan arsitektur indah yang didominasi batu pualam berwarna hitam. Menara itu berdiri di sebuah lingkaran yang dibangun diatas laut, tersambungkan oleh jembatan yang berawal di gebang otomatis. Jungkook menarik napas panjang, memasuki gedung berhiaskan kaca yang pernah menjadi rumahnya. "I will escort you", dua penjaga mendekati Jungkook, bersiaga di depan dan belakang. "Aku tahu kemana aku harus pergi", Jungkook menjawab singkat, namun penjaga itu bersikeras untuk menjalankan perintah. Sama seperti Jungkook ketika ia masih sebatas mesin, hanya menjalankan perintah tanpa memiliki perasaan.

Ia digiring menuju ruangan lebar dengan pepohonan di lantai dasarnya, tiga android berseragam putih menjaga di tiap sisi, melambangkan perusahaan yang telah menciptakan artificial intelligent tercanggih. Mereka memasuki lift, Jungkook mengatur napas ketika penjaga menekan lantai 31. "Agent 54, level 31", pengenal suara menganalisa suara agent 54 sebelum lift bergerak naik. Jungkook melirik tulisan di samping lift, warehouse berada di level 49. Jungkook memejamkan mata, mekonstruksikan kemungkinan melalui retina robotisnya.

Dari sekian kemungkinan yang ada, hanya satu yang berhasil.

Jungkook pun menubruk penjaga yang tersentak ke dinding, menahan pistol yang dicabut lepas oleh tentara yang lain. Jungkook menendang tentara itu, menggeram ketika pejaga yang lain menangkap tubuhnya dari belakang, remasan pria itu sekeras baja, Jungkook secepat mungkin merebut pistol yang berada di sabuk pria itu. Ia pun berputar, menembak dan meledakkan kepala penjaga yang memuncratkan darah ke dinding lift. Ia mengganti arah pistol, menewaskan tentara yang ambruk ke lantai. Jungkook mengatur napas, melihat dua manusia yang ia tewaskan. Apakah membunuh hanya satu satunya cara yang Jungkook mengerti? Ketika ia menjadi mesin, ketika ia menjadi Deviant, hanya nyawa yang terambil digenggaman tangannya.[]

[November 11th, 2038]

[Situasi meningkat menjadi perang sipil, dengan pasukan bersenjata siaga untuk melumpuhkan para android pemberontak]

[Mereka tampaknya menuju ke camp dimana para android dikumpulkan untuk dihancurkan pada waktu yang sama]

[Tentara sudah mengambil posisi disekitar Hart Camp Plaza. Pihak berwajib siap berkonfrontasi dengan para android pemberontak kapan pun]

Yoongi mencengkeram bendera dengan proyektor berlambang Jericho yang berkibar. Ia berlari di atas tumpukan salju, menuju camp para android yang dikumpulkan untuk pemusnahan. Yoongi melihat tiga tentara yang bersembunyi dibalik barikade, ia melompat tinggi, menembak kepala tentara dengan amarah dan pemberontakkan di atas pengorbanan yang telah ia kerahkan. Yoongi menggeram, menancapkan bendera berlambang Jericho di atas barikade, diikuti pasukan androidnya yang berposisi di belakang Yoongi, menunggu perintah sebelum pertumpahan darah.

"Freedom or death", Yoongi mengangkat tangannya sebagai aba aba.

"Freedom or death", Hoseok menyiapkan senjata api dengan wajah sigap.

"ATTACK!", Yoongi memberikan perintah, berlari bersama pasukan android yang meneriakkan kebebasan. Yoongi berlindung di balik barikade, memerintahkan pasukannya yang siaga untuk covering fire. Para android menembaki musuh, melindungi pemimpin mereka yang berlari maju, menyongsong pasukan manusia dengan peluru ditembakkan. Yoongi meluncurkan dirinya di atas salju, melihat Josh yang tertembak dengan darah mengucur deras. "Cover me!", Yoongi berteriak, pengikutnya menembak tatkala Yoongi menarik Josh ke belakang dinding, menyelamatkan pria yang bernapas sekarat.

"Sudah terlambat untuk menyelamatkanku, Y-Yoongi".

Yoongi menggertakkan gigi, melihat senjata mesin yang menewaskan pasukan android mereka bertubi tubi. Ia memerintahkan empat android untuk mem-back up dari belakang barikade, "Follow me!", Yoongi menyeru, berlari bersama dua android dan menghabisi tentara manusia yang mengendalikan senjata mesin. "FOR FREEDOM!", Yoongi bertempur di sisi Hoseok, pria itu menembak dengan teriakan keras, memperjuangkan hidup mereka melawan pemusnahan.

"FOR JERICHO!", Hoseok menyeru dan berlari, Yoongi berada paling depan, membunuh para tentara yang menembakinya liar.

Camp berada di ujung, dihalangi oleh tanker yang mengarahkan larasnya ke pasukan Yoongi. Yoongi melebarkan bola matanya, berlari secepat kilat untuk menghadang tembakan tank.

"YOONGI!", Hoseok menjerit ketika laras tank menyala terang, menembak Yoongi yang terhempas ke tanah salju. Ledakkan membahana di langit, bersama dengan pemimpin Jericho yang terbaring diatas lapisan es.[]

Jungkook terhenti ketika lift membuka di lantai 49, empat pasukan berseragam telah mengepungnya diluar pintu. Ia mengumpat, menyadari kamera pengawas yang berada di dalam lift. Mereka menodongkan senjata ketika tangan Jungkook terangkat. Namun, tangan itu mengenggam sepucuk pistol alih alih menyerah. Jungkook menembak empat tentara yang mengepungnya dari berbagai sisi, tak menyisakan satu pun manusia ketika darah menghiasi gudang Cyberlife. Jungkook tercenung melihat ribuan android yang berbaris di warehouse. Ia pun mendekati mereka, melepaskan kulit rekayasa ketika ia hendak meretas sistem para android.

"Sangat bagus, Jungkook!", Jungkook tersentak kaget, menoleh ketika android bertipe RK800 menyeret Jimin dengan pistol tertodong. Jungkook membeku di tempat, menatap pria yang memiliki wajah sama dengannya, meskipun senyum itu sangat dingin, sebuah mesin yang masih mementingkan misi dan tidak memiliki empati. "Apa yang kau pilih? Merekrut pasukanmu…atau menyelamatkan seorang teman?", Jungkook menatap mata Jimin yang menggeleng kecil. Ia tak menydari tubuhnya yang kembali bergetar, Jungkook tidak bisa melihat Jimin seperti ini, ia tidak bisa melihat pria itu terluka.

"I was just like you", Jungkook teringat ketika Yoongi tidak mencabut nyawanya. Pria itu menyadarkan Jungkook bahwa misi bukan segalanya, dan sebuah mesin juga bisa memiliki perasaan. Kalau Jungkook tidak memiliki emosi, ia akan mati sebagai mesin yang hanya menaati perintah. Ia tidak ingin seperti itu, menjadi hidup, memilih keputusan untuk dirimu sendiri, melindungi orang yang kau sayangi…Jungkook menatap lurus bola mata Jimin.

It all that matters…

Jungkook menembak android yang balas menarik pelatuknya. Jungkook menggeram, menahan sakit ketika android itu kembali menembak sembari berjalan maju. Jungkook berusaha melawan, menendang lehernya ketika android itu menembak biometris Jungkook hingga terjatuh. Jungkook berlutut di lantai, berteriak ketika peluru kembali melubagi perut dan dadanya.

00:00:59 until shut down

"Kau lihat, Jungkook?", pria itu tertawa dengan suara Jungkook, tersenyum dengan wajahnya. "Perasaan dan emosi hanya akan menghambatmu. Sekarang, kau mengerti harga yang harus kau bayar bagi delusimu untuk bebas", mesin itu menodongkan pistolnya kepada Jungkook yang mengucurkan darah biru. Jungkook menatap Jimin yang tersungkur di seberangnya, tidak bisa menolong akibat luka di kaki.

Jimin merangkak sekuat tenaga, berusaha mencapai Jungkook ketika android itu menyeringai kejam.

"Any last word?".

Jungkook meraih tangan android yang tersentak kaget. Ia pun meretas, memindahkan sistemnya ke dalam tubuh android yang mengerjap tak percaya. Jungkook kembali membuka mata, berada dalam tubuh mesin yang tak terluka sedikit pun, menatap tubuh lamanya yang terkapar dilantai dengan biometris rusak. Jungkook menatap dingin android yang menggeram benci.

"Mission accomplished", Jungkook pun menembak mati mesin yang menatap langit langit warehouse dengan pandangan kosong.[]

[…dan kami menerima laporan yang menyuramkan dari Detroit]

[Ratusan android berbaris di jalanan Detroit sekarang ini]

[Dari yang kami ketahui, android tersebut berasal dari pabrik Cyberlife, dimana mereka memiliki ribuan android tersimpan di dalam warehouse]

Jungkook mengomando barisan android Cyberlife yang mengikutinya ke Hart Plaza. Yoongi terengah, melihat pasukan yang begitu banyak di belakang Jungkook, berbaris mencapai ujung jalan. Yoongi bangkit menahan sakit, ledakkan itu tidak menyerang komponen fatalnya. Ia pun mendekat kepada Jungkook, meremas pundaknya kalut. "Kau menyelamatkan kami semua, Jungkook", Jungkook menggeleng, balas meremas pundak Yoongi ketika ia melihat seorang android yang berlari menyongsong mereka.

Simon berteriak penuh kebencian, ia melihat Josh terbunuh dengan kejam, ratusan android yang lain. "Manusia", Simon berbisik murka, melihat Jimin yang berdiri di samping Jungkook. Simon langsung menubruk letnan polisi yang berteriak keras. "No!", Yoongi tersentak ketika Jungkook mengeluarkan pistolnya. Ia hendak meraih tangan Jungkook ketika pria itu menembak jantung Simon lima kali. Yoongi membeku di tempat, merasakan kemarahan luar biasa melihat darah biru yang mengaliri tubuh Simon.

Setelah semua yang Yoongi lalui, setelah banyak android yang berkorban. Bisa bisanya Jungkook tetap berpihak kepada manusia. Kaumnya sekarat! Mereka menderita, manusia selalu menyiksa dan memperbudak android!...dan Jungkook…ia justru membela manusia yang telah mebekaskan begitu banyak luka bagi mesin! Jungkook mencabut nyawa seorang android tanpa keraguan, demi melindungi seorang manusia.

Jungkook melebarkan bola mata ketika Yoongi menyongsongnya liar. Jungkook pun menubruk Yoongi ke dataran yang beku, mencekiknya ketika Yoongi menendang Jungkook begitu keras, menyebabkan ia terkapar di barikade tentara. Yoongi menggeram, kebencian mendidih di seluruh tubuhnya yang meraih tongkat besi. Ia memukul tangan Jungkook yang hendak menembaknya, membanting pria yang terengah sakit, pistol Jungkook terlempar jauh ke tumpukan salju.

Yoongi mengira, Jungkook terpaksa membunuh karena program dan sistem dalam software-nya. Namun, sekarang, setelah ia bebas…setelah Yoongi memberinya kesempatan untuk berjuang. Ia kembali menewaskan android.

"Jungkook!".

Yoongi menyeret kaki Jungkook yang menendang wajahnya liar. Ia menahan seluruh rasa sakit, terus menyeret android yang mencakari salju di tanah.

"No!", Jimin berteriak ketika Yoongi membanting Jungkook ke atas barikade, menyentakkan besi memukul wajahnya, rahangnya, kepalanya. Jimin menjerit tak keruan, gemetaran ketika darah mengaliri kepala Jungkook dengan logam terkelupas. "Jangan! Jangan‒!", Yoongi mencekik pria yang hendak memukulnya. Yoongi menangkap tangan Jungkook, mematahkannya hingga pria itu berteriak keras.

Yoongi kembali menyentakkan tongkat besinya, keras, dan lebih keras lagi hingga Jungkook tidak bisa melawan.

"Please!", Jimin terjartuh ke tanah ketika Yoongi menancapkan besinya menembus regulator Jungkook. Jungkook tersentak kaget, merasakan seluruh sistemnya berdenging rusak, semua pandangan pria itu berubah merah gelap. "In the end…", Yoongi berujar dingin. "Your cause is always human". Jungkook tidak bisa menggerakkan tubuhnya, ia menoleh miris, menatap Jimin yang berlutut di atas salju. Jungkook ingin melihat matanya yang cokelat hangat, rambut hitamnya…namun, semuanya hanya menyala merah gelap.

Jimin menjerit histeris ketika Yoongi mencabut lepas regulator Jungkook. Ia meremas rambutnya, merasakan sakit yang sama ketika Jihye meninggal di hadapan Jimin. Jimin terisak kencang, memejamkan matanya ketika tubuhnya gemetaran hebat, melihat mayat Jungkook yang tersenyum kepadanya dengan besi menembus jantung. "KILL THEM!", Jimin berteriak kepada pasukan tentara yang siaga di belakangnya.

"KILL THEM ALL!".

Yoongi meremas tangan Hoseok ketika mereka terkepung di sudut dengan lima android yang lain. Pasukan tentara itu mengelilingi mereka, menodongkan senjata ketika remasan tangan Yoongi mengeras di jemari Hoseok. "Freedom or death", Hoseok berucap miris ketika Yoongi memejaman mata. "Freedom or death", peluru pun berterbangan cepat, menembaki android pemberontak yang tumbang di atas perlawanan.

Yoongi terbaring di bawah hujan salju, mengamati mata Hoseok yang berlinangan air mata, mereka saling mengenggam tangan, melihat sistem yang akan mati dalam hitungan detik. "We are…alive", Yoongi berbisik lirih, Hoseok tersenyum dengan air mata yang menetes ke tanah salju. Yoongi pun memejamkan mata, kebebasan mereka tidak dapat direbut malam ini. Namun, manusia akan menyadari perjuangan kaumnya yang hanya menginginkan kebebasan.

Android yang tersisa akan melanjutkan perjuangan Yoongi. Meskipun ia gagal hari ini, bukan berarti semuanya telah berakhir…

This is just the beginning of war…[]