CHAPTER 10

Jongin mendesah lirih dibalik pintu flat yang ditempatinya. Ia tidak ingin dianggap sampah lagi, ia tak berharap orang yang menghinanya memohon maaf padanya. Ia ingin berlari menjauh dari segala bayangan kelam masa lalunya.

Jongin segera mandi dan mendudukan tubuhnya di sofa sembari menonton televise. Ia akan memulai sekolah barunya esok hari. Ia sudah berjanji akan berubah mulai saat ini.

Tok.. tok.. tok..

Suara ketukan pintu memecah lamunan jongin.

"Apa yang kau lakukan disini sehun-ssi?" jongin bertanya melihat sehun dengan pakaian kasualnya berdiri menyandar dinding di depan pintu flatnya.

"Tidak Ada." Jawab Sehun acuh.

"Huh?" Jongin sedikit bingung dengan tigkah manusia dihadapannya ini.

"Lebih baik kau mandi sekarang. Lalu kita pergi." Sehun menghentikan acara berpikir Jongin.

"Hah?" Jongin masih terkejut dengan tingkah tiba-tiba sehun yang mendorongnya menuju ke dalam flat.

"Aku akan menunggu disini. Segeralah mandi." Sehun berucap.

Jongin yang sebenarnya masih blank tidak dapat melakukan hal lain selain mengikuti perintah sehun untuk mandi. 15 menit kemudian ia telah keluar dari kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya. Kini jongin telah berpakaian kasual dengan celana jeans putih pendek, T-shirt berwarna hijau toska dipadu dengan cardigan hitam membungkus tubuhnya.

"Kau tampak manis Jong." Sehun berucap.

"Hmm" Jongin hanya menggumam malas menanggapi sehun yang sering semaunya sendiri.

"Ayo sekarang kita berangkat." Sehun berucap kelewat semangat menarik tangan Jongin dan membawanya keluar.

Saat ini mereka berada dalam mobil sehun. Tak ada percakapan diantara mereka. Sehun yang focus menyetir meski sesekali menengok dan melirik Jongin dengan ekor matanya. sementara Jongin masih bingung dengan tingkah sehun hari ini. Sangat bukan sehun sekalai. Akhirnya perjalanan 30 menit itu hanya dilalui dengan lagu dari tape mbil dan kediaman kedua penghuni mbil tersebut.

"Jja.. Kita sudah sampai. Ayo keluar." Ucapan sehun mengagetkan Jongin yang masih mengarungi dunia fantasinya.

Mereka sampai di Lotte world, suasana masih sepi karena saat mereka sampai bersamaan dengan baru dibukanya pintu loket. Sehun segera menuju ke depan loket setelahnya ia segera menyeret Jongin menuju pintu masuk. Senyum tipis terkembang dibibir sehun saat menggenggam tangan Jongin, moment yang selama ini hanya bisa ia bayangkan menjadi kenyataan. Hatinya menghangat karena jongin tak menolak perlakuannya.

Jongin merasa sangat bingung saat ini, pikirannya masih merangkai kejadian hingga kini ia berdiri di tengah taman bermain.

"Kau ingin naik apa Jong?" Sehun bertanya.

"Ha?" Jongin tersentak,.. menunjukan raut polos yang sangat menggemaskan bagi sehun.

Tangan sehun yang awalnya terdiam kini berpindah menuju pipi Jongin dan mencubitnya. "sering-seringlah berekspresi Jong." Sehun berucap sambil tersenyum.

"Baiklah, hari ini kau harus menurut kepadaku." Ujar sehun seraya menarik tangan Jongin menuju kesana kemari mencoba berbagai wahana yang tersedia di Lotte World hingga kini waktu telah menunjukan saat makan siang. Sehun segera mengajak Jongin duduk di sebuah café yang bernuansa klasik.

" Kau ingin pesan apa Jong?" Sehun bertanya.

"Caramel macchiato hmmm apa aku boleh memesan ayam?" Jongin bertanya ragu.

" 2 Caramel macchiato dan 1 porsi ayam goreng serta 1 porsi chicken marinate sauce." Sehun berucap kepada seorang pelayan yang berdiri disampingnya. Kening pelayan tersebut sedikit mengerut tapi kemudian ia segera bergegas menuju ke dapur setelah sehun menyampaikan pesanannya.

Sehun mengerti dengan ekspresi pelayan tersebut, sungguh menu yang sangat tidak cocok match. Namun sehun tak mau ambil pusing, selama Jongin menginginkannya maka ia akan berusaha memenuhinya seaneh apapun menu tersebut.

"Bukankah kau harus sekolah?' Jongin membuka suara.

"Hmmm" Sehun menjawab dengan menggumam.

"Kenapa kau bisa mengajakku pergi kalau begitu?" Tanya Jongin lagi.

" Membolos." Sehun berucap datar. Ia ingin memancing emosi lawan bicaranya, sungguh melihat Jongin berekspresi adalah hal yang cukup langka. Namun harapannya sirna saat Jongin tidak menanggapi ucapannya.

"Kau tampak kurus." Jongin memecah keheningan diantara mereka, sebenarnya ia hanya risih mengetahui bahwa sehun terus memandanginya sedari tadi.

"Apakah begitu? Kau jadi perhatian padaku ya?" Sehun berujar bahagia.

"Aku tidak tahu, tapi kau memang tampak kurus." Jongin berucap polos, amat sangat polos hingga dapat membuat sehun kembali mendaratkan tangan jahilnya dipipi kanannya.

"Kau semakin imut." Sehun berujar.

"Aku tampan Bodoh" Jongin memaki, biibirnya cemberut namun nampak sangat cute dimata sehun.

Obrolan absurd tersebut terhenti ketika sang pelayan kembali membawakan pesanan mereka. Jongin nampak berbinar cerah melihat ayam goring yang diinginkannya kini ada dihadapannya. Sosoknya yang dingin dan kaku entah menghilang kemana begitu berhadapan dengan ayam goreng lezat dihadapannya.

"Selamat makan." Jongin berujar bak anak kecil. ia benar-benar tidak mengingat bahwa dihadapannya ada sosok sehun yang menatap tidak percaya kepadanya. Kepribadian yang bahkan tidak diketahuinya sama sekali. Jongin adalah anak yang manis dan cute, jauh dari image Jongin selama ini, dingin dan kaku.

Setelah makan siang, sehun kembali mengantarkan Jongin ke flatnya. Tampak didepan flat Yixing berkacak pinggang melihat kedatangan mereka.

"Yak…. Darimana saja kau Jonginie?' Yixing berteriak heboh melihat Jongin yang berjalan menuju ke arahnya.

"Mian Hyung." Jongin menjawab setengah sadar sembari mengucek kedua matanya akibat baru bangun tidur.

"Mian Yixing-ssi aku yang membawa Jongin untuk jalan-jalan." Sehun menimpali.

"Sehun-ssi?" yixing mencoba mengingat.

"Ne,…"

"Panggil saja Yixing Hyung,.. seperti Jongin." Yixing berucap.

" Ah,. Ne."

"Satu lagi,… kau boleh mengajak Jongin jalan-jalan,. Tapi jangan pernah membolos sekolah." Yixing berucap tegas.

"N-e." Sehun berucap. Ia hendak berpamitan,.. namun begitu melihat jongin yang sedang menyandar di bahu yixing dengan mata terpejam tampak kelelahan.

"Aku pamit pulang dulu hyung,… sampai jumpa." Sehun berucap.

"Ne.."

Yixing membawa tubuh jongin yang masih menyandar dibahunya kedalam flat dan menidurkannya di kamar. Setelah itu ia segera menyiapkan beberapa bahan makanan di dapur untuk makan malam. Setelah berkutat sekitar satu setengah jam yixing berhasil membuat beberapa menu makan malam yang cukup menggugah selera.

Tok.. tok.. tok..

Pintu flat diketuk dari luar. Yixing segera menuju ke dapan dan membukakan pintu.

" Suho Hyung…" Yixing terkejut melihat kedatangan suho.

"Kau kenapa Xing?" Suho bertanya karena yixing tampak terkejut.

"Ani… bukankah hyung bilang akan datang satu jam lagi?"

"Ah… pekerjaanku selesai lebih awal"

Mereka terus mengobrol sembari memasuki flat. 'Eh… aku tak melihat Jongin Xing?" suho baru sadar bahwa Jongin sama sekali tidak tampak sejak ia memasuki flat.

"Ia masih tidur hyung, tampaknya kelelahan."

"He?"

"Ia tadi pergi bersama temannya hyung."

Setelahnya hanya ada obrolan ringan diantara mereka. Hingga akhirnya Jongin keluar dari kamarnya dengan penampilan yang lebih segar. Dengan rambut berantakan yang nampak begitu adorable.

"Eh suho hyung,…" Jongin nampak terkeju melihat hyungnya ad disini.

"Anyoeng Jonginie.. ayo kita makan malam." Suho berujar.

Makan malam berlangsung dengan tenang diseleingi beberapa candaan yang senantiasa keluar dari bibir masing-masing individu yang ada dalam flat tersebut. Setelah pukul Sembilan malam yixing dan suho berpamitan pulang. Mereka tidak menginap karena esok hari ada urusan yang menanti.

Jongin sedang bersantai di ruang tengah semabri menonton televise meskipun ia tak focus sama sekali dengan tayangan yang ada di hadapannya. Benaknya menampilkan rangkaian peristiwa tadi pagi ketika ia pergi bersama sehun. Entah mengapa hatinya menghangat meningat moment tersebut.

Tok..tok.. tok…

Suara ketukan mengagetkan lamunan Jongin. Segera ia beranjak dan membuka pintu depan. 'mungkin ada barang suho hyung yang ketinggalan'pikirnya

"Suh- Eh,.. maaf tuan mencari siapa?" Jongin bertanya ketika membuka pintu bukanlah Suho seperti perkiraannya.

"Kim Jongin?" Orang tersebut bertanya.

"Ne.. Tuan Siapa ?" Jongin bertanya dengan sopan.

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kau tahu adalah jauhi putraku,.. ia telah memiliki jodoh dengan orang yang lebih baik dari dirimu. Yang terpenting adalah ia sederajat dengan keluarga kami… jika tidak, kau akan tahu sendiri akibatnya." Ujar orang tersebut dengan melempar sebuah foto. Foto yang amat ia kenal, foto hyungnya- Baekhyun.

"Aku tidak pernah mendekati siapapun tuan." Jongin berucap dingin. Ia sedikit emosi dengan tingkah orang kaya dihadapannya ini.

" Sehun. Oh Sehun jauhi dia. Ia sudah kujodohkan dengan Xi Luhan. Pria yang jauh sekali denganmu derajatnya." Ujar orang tersebut setelahnya ia segera berlalu meninggalkan flat kecil Jongin. Tak menghiraukan Jongin yang mematung di depan pintu flatnya. Tak terasa sebutir airmata menetes dari matanya.

Kemudian ia segera menutup pintu flat dan menenggelamkan dirinya pada selimut. Senyum miris terpatri di wajahnya.

'Bahkan kau tak berhak memiliki teman Kim Jongin. Menyedihkan' desahnya.

.

.

.

.

.

Matahari pagi telah menjelang. Jongin segera bangkit dan menuju kamar mandi. Ia tidak ingin terlambat dihari pertamanya kembali bersekolah. Yixing telah menunggunya didepan flat untuk mengantarkan jongin mengingat ini hari pertamanya masuk sekolah sehingga ia membutuhkan wali. Dengan senang hati yixing menyanggupi untuk mengantar jongin. Urusan yang dikatakannya semalam diabaikannya, toh bisa diundur ungkapnya.

Yixing dan jongin berjalan menuju sekolah barunya yang hanya berjarak lima ratus meter dari flatnya berada.

"Bersikaplah ramah Jong,.. ingat kau Jongin yang baru,.. tidak ada nada dingin apalagi aura angkuh,. Yang ada saat ini adalah Jongin yang ramah dan manis." Yixing berujar sebelum memasuki ruang kepala sekolah.

Sekolah barunya memang bukan sekolah elit namun sekolah ini cukup nyaman dan cukup berprestasi. Jongin dengan mudah dapat membaur dengan teman barunya. Ia benar-benar meninggalkan pribadi jongin sebelumnya. Terlahir menjadi jongin yang ramah dan manis.

Sepulang sekolah ia segera menuju ke café milik suho seperti kesepakatan sebelumnya bahwa ia akan membantu di café sampai pukul tujuh malam.

Inilah hal yang tidak diharapkan jongin ketika menuju café milik suho. Dua namja yang ingin ia hapus selalu menampakkan batang hidungnya seolah tak terjadi apapun diantara mereka. Jongin mengambil langkah cuek dan pura-pura tidak mengenal mereka.

"Kim Jongin… " sebuah suara memanggilnya. Mau tak mau Jongin membalikkan badan meski tak mengucapkan septah katapun.

"Aku Xi Luhan.." Jongin terkejut, ia ingat peristiwa semalam,.. pria dihadapannya memang sangat jauh berbeda dengan dirinya.. tentu saja tuan Oh tidak mengatakan bahwa Xi Luhan lebih baik dari dirinya, karena bagaimanapun Xi Luhan dihadapannya ini tampak begitu menawan dan elegan.

"Ne.." Jongin menjawab datar.

"Dua pria tiang disebelah sana berharap kau mau ikut kami pergi ke—"

" Tidak" belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya Jongin dengan segera memotongnya.

"Tapi – "

" Tidak. Pulanglah, percuma kalian disini." Jongin berusaha untuk tidak terpancing emosi.

"Jangan egois Kim Jongin mereka sudah—"

" Tahu apa kau soal egois ha?" Tanya Jongin dingin.

"Setidaknya ijinkan—"

" Aku sudah bilang tahu apa kau tentang egois tuan Xi yang terhormat? Sejak kapan aku Kim Jongin diperbolehkan untuk memiliki rasa egois?" Jongin bertanya dengan tatapan yang menusuk sarat akan keputusasaan.

Jongin meninggalkan seorang Xi Luhan yang masih memandang terkejut dirinya dan dua pria setinggi tiang yang mematung menatap kepergiannya. Yixing menghampiri ketiga pria yang masih mematung dihadapannya.

" Jangan memaksa kehendak kalian pada Jongin." Yixing berucap menyadarkan kediaman tiga pria yang ada disana.

" Jongin sudah cukup tertekan selama ini. Jika kalian ingin mendekatinya bukan dengan dengan cara menekannya tapi datanglah kepadanya sebagai tiang penyangga bukan beban pemberat." Yixing meninggalkan ketiga orang tersebut dan kembali kedalam ruang staff. Ia melihat Jongin yang menunduk masih dengan seragam sekolahnya.

"Menangislah. Menangis bukanlah sebuah kesalahan. Pria tidak dilarang untuk menangis Jong." Yixing memeluk erat Jongin yang mulai terisak dipundaknya.

TBC

Anyoeng chingu… mianhae ne… lebih dari 2 minggu saya tidak update dikarenakan ada proyek di luar kota sehingga saya tidak bisa mengetik lanjutan ceritanya

Hehehe… semoga masih ada yang menantikan FF abal saya ini

Kamsahamnida