Pierrot

Nacchan Sakura—

Shingeki no Kyojin (c) Isayama Hajime—

Chapitre 9: Hitsuzen

.

.

.

"Even if I lose this feeling,

I'm sure that I will just fall in love with you all over again."

(Syaoran Li – Cardcaptor Sakura)

[Saran lagu untuk membaca chapter ini:

Pierrot – Senka

Saigo no Kajitsu – Maaya Sakamoto

Karena chapter ini sudah dekat dengan sebuah akhir.]

.

.

.

Kita yang sedang mencari, kita adalah sama,

seperti refleksi di dalam kaca.

Yang kita butuhkan untuk berhubungan adalah pertemuan satu dengan yang lain,

Tetapi kita tetap terpisah.

.

.

.

Suasana bahagia itu tergantikan dengan kepedihan yang menyelimuti.

Beberapa saat setelah Rivaille kehilangan kesadarannya—Eren menghubungi Pixis dan memberitahu keadaan. Tak lama sampai Irvin dan beberapa orang dari tim kesehatan Trost Academy untuk datang menjemput mereka di wahana kincir raksasa.

Yang menyambut kedatangan Irvin dan juga Pixis adalah sosok Eren yang menangis—namun raut wajahnya betul-betul membuat hati siapapun teriris. Bola matanya yang membulat dihiasi butiran air mata yang menetes perlahan-lahan, dan Emerald yang biasanya memantulkan cahaya, kini seperti padam dan ditutupi awan kelabu. Wajahnya hampa—kosong—tak ada emosi yang berarti.

Seperti orang yang sudah tak punya arti untuk hidup di dunia ini.

Tidak apa-apa,

Tidak apa-apa.

Aku hanya badut tanpa nama—kau pasti akan melupakan aku setelah sirkus ini berakhir.

Tapi setidaknya, aku akan membuatmu tersenyum untuk terakhir kali.

"Eren!" Mikasa—bersama Hanji dan Petra, ikut menyusul ke lokasi setelah mendengar bahwa Rivaille hilang kesadaran dan Eren berada disana. Mikasa sempat merasakan satu pukulan di dalam hatinya ketika melihat raut wajah Eren yang begitu pilu di mata siapapun.

Itu raut wajah Eren yang ia kenal saat masih menderita dulu.

"Kau tidak apa-apa? Kau bisa berdiri?" Mikasa menghampiri Eren seraya mengulurkan tangannya—Eren menatap telapak tangan itu dengan pandangan yang semu, kemudian ia menerima uluran tangan Mikasa, sebelum akhirnya merasakan telapak tangan itu melingkar di tubuhnya.

"Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja..."

'Daijoubu,

Daijoubu.'

Kata-kata itu rasanya seperti sihir.

"Aku... sudah tahu semuanya, dari Hanji-senpai dan Petra-senpai." Mikasa belum melepaskan dekapan eratnya. "Tidak apa-apa, Eren... Rivaille-senpai adalah orang yang kuat, ia pasti tak akan mengingkari janjinya.."

Tak terdengar.

Telinga Eren tak mendengar apapun.

Mata Eren tak menangkap visi apapun.

Tubuh Eren tak menangkap kehangatan apapun.

'Dimana?

Rivaille.. dimana?'

Hanya pertanyaan itu yang menjadi satu-satunya teman di dalam diri Eren saat ini.

.

.

.

"Corporal, tak usah selalu berpikir bahwa kau adalah orang yang paling kuat.

Manusia itu semuanya memiliki kelemahan."

Tapi meski begitu, aku tak boleh terlihat lemah.

"Kau tak perlu merasa bersalah atas semua nyawa yang telah hilang,

Kau telah melakukan apa yang kau bisa."

Tapi tetap saja—aku gagal melindungi mereka.

"Jadilah dirimu sendiri, perlihatkan wajahmu yang selalu tersembunyi dibalik topeng itu.

Kalau kau ingin menangis, menangislah.

Kalau merasa sakit saat terjatuh, katakan saja.

Aku juga..

Akan ikut menangis bersamamu."

Tidak apa-apa,

Semua baik-baik saja.

Badut yang cengeng ini..

Akan segera menghilang, tak lama lagi.

.

.

.

"Eren?"

"Hey, Mikasa, Eren sudah bangun, nih!"

"Eren, kau tidak apa-apa? Kau tidak merasa pusing? Mau makan kentang atau mau minum dulu?"

"Eren—!"

Eren membuka matanya perlahan.

Tembok dan langit-langit berwarna putih yang mengelilingi menjadi hal pertama yang menyambutnya—dan hal kedua yang ia lihat adalah beberapa teman sekelasnya yang berdiri mengerumuni dirinya, semua terlihat tersenyum ketika Eren membuka mata—terutama Armin dan Mikasa, yang langsung menghampiri Eren lalu memeluk lelaki itu dengan erat.

Apa yang terjadi..?

"Eren! Kau tidak apa-apa? Kenapa tiba-tiba pingsan begitu, sih?! Aku khawatir, tahu!"

Pingsan tiba-tiba? Eren bertanya di dalam hati. Ah, seingatnya, tadi ia bermimpi bahwa ia menaiki kincir raksasa bersama Rivaille—

Oh, jadi... itu semua hanya mimpi buruk, ya?

"Aku tadi—bermimpi buruk." Eren tak menjawab pertanyaan Mikasa. "Ini dimana, ya? Ruang kesehatan sekolah?"

"..Bukan.." Armin menggenggam erat telapak tangan Eren. "Ini... di salah satu ruangan di rumah sakit."

...Rumah sakit?

"..Siapa yang sakit...?"

Hening—tak ada yang menjawab.

"..Itu.."

Armin perlahan membuat satu arah dengan telunjuk jarinya—mata Eren membulat sepenuhnya.

"...Siapa.. yang ada di ruangan itu?"

Semuanya kembali terdiam.

"..Rivaille-senpai."

Eren terdiam sejenak. Tubuhnya kemudian beranjak dari atas kasur secepatnya—pecahan ingatannya sudah utuh kembali.

Bukan mimpi—

Melainkan kenyataan yang tak bisa diubah lagi.

"SENPAI!" Eren melihat dari balik kaca—tubuh Rivaille yang terbaring di atas kasur, dikelilingi tim medis dan juga beberapa alat pendeteksi denyut dan beberapa alat medis lainnya yang tak Eren mengerti—oh, tidak. Eren tidak tega melihat banyaknya alat-alat itu terpasang pada tubuh senior yang ia sayangi—nomor satu di dunia.

Armin menahan kedua lengan Eren—mencegah agar lelaki itu tidak gegabah dan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dimana Rivaille sedang ditangani. Sementara Mikasa berusaha menenangkan Eren yang kini sudah kembali menangis—meminta Eren untuk tidak berteriak di dalam rumah sakit.

"Senpai, buka matamu!"

Eren melihat beberapa tim medis mengerutkan dahi—beberapa menyipitkan mata, dan beberapa menggeleng perlahan.

Putus asa—tak ada harapan.

Semua gerak-gerik mereka sudah memberikan jawaban yang jelas.

"SENPAI, BUKA MATAMU! Jantungmu masih berdenyut—kau masih bisa berusaha! Kau—kau tidak boleh pergi begitu saja!"

"Eren—jangan berteriak, kumohon!"

Jika aku menyamakan detak jantung hati kita,

Akankah aku bisa jatuh di kedalaman yang sama denganmu..?

Alat pendeteksi denyut menunjukkan garis-garis aneh yang menandakan bahwa keadaan tak stabil—beberapa tim medis sedikit panik, namun mereka berhasil menenangkan diri dan mengambil langkah selanjutnya. Dokter mulai mempersiapkan alat kejut jantung—membuat mulut Eren terbuka lebar.

Tidak—tidak, rasanya pasti sakit sekali. Tapi—

"—SENPAI, KUMOHON! KAU HARUS... KAU HARUS MENEPATI JANJIMU!"

Aku selalu, selalu ada di sampingmu,

Tidak peduli seberapa jauh hatimu tersesat.

Dzet! Satu kali kejutan—tak ada perubahan. Garis-garis itu melemah.

"KAU MAU MENGINGKARI JANJIMU UNTUK KEDUA KALINYA, SENPAI?! SETELAH DULU KAU MENINGGALKANKU—SEKARANG KAU MAU PERGI LAGI?!"

"Corporal,

Aku pasti akan mengingat janji ini, meski berapa tahun hidup aku lewati,

Meski berapa kalipun aku terlahir kembali."

Dzet! Dua kali—garis itu sedikit menunjukkan gelombang, namun tak lama—

Garis itu nyaris kembali menjadi lurus.

"AKU—AKU SUDAH LAMA MENUNGGUMU," Eren mengabaikan Mikasa dan Armin yang susah payah menenangkan dirinya—bahkan jika tidak dicegah oleh Sasha, Jean nyaris memukul Eren sampai pingsan agar ia bisa tenang. "BERTAHUN-TAHUN AKU MENUNGGU, DAN INI JAWABAN YANG KAU BERIKAN?!"

Dzet! Tiga kali—masih belum.

"KUMOHON!" Eren berteriak selantang mungkin—suaranya menggema di lorong rumah sakit yang cukup sepi. "Ku..mohon..."

Dzet! Empat kali—

Beeep—

Garis itu kini menjadi lurus seluruhnya.

.

.

.

"Hey."

"Ini... dimana?"

"Levi, kau sudah berusaha keras. Maaf.. sudah membuatmu kesakitan. Sekarang, kau boleh beristirahat, ya..?"

"...Rivaille—?"

"Aku sudah bisa bertemu Eren—itu saja sudah cukup. Mungkin aku butuh ratusan tahun lagi untuk bisa terlahir kembali, tapi di kehidupan yang selanjutnya..

Aku pasti akan menepati janjiku."

"Tunggu—jangan bodoh! Rivaille, kau tidak boleh pergi begitu saja, kau tak memikirkan seperti apa perasaan Eren jika tahu bahwa kau menyerah begitu saja?!"

"Aku tak punya jalan lain, bukan? Tak ada satupun dari kita yang bisa bertahan,"

"Tapi—"

"Kita bukannya menyerah, kita hanya belum mendapatkan kesempatan. Eren pasti akan menunggu—baik diriku ataupun dirimu, ia akan menunggu kita untuk kembali."

"Ia akan selalu menunggu kita untuk kembali."

.

.

.

"Bo..hong.."

Eren terjatuh lemas—kedua bola matanya terbuka lebar, enggan untuk berkedip. Mulutnya masih terbuka—enggan untuk mengatakan apapun. Telinganya masih bisa mendengar suara garis itu—walau enggan untuk menerima bahwa itu adalah sebuah kenyataan.

"Bo..hong."

.

.

.

"Kumohon, pasti bisa! Entah kau ataupun aku—kita masih bisa berusaha!"

"Tapi melihatmu tersiksa seperti itu—aku..."

"Jangan pedulikan aku! Kau—kau hidup untuk menepati janjimu, jadi jangan buang kehidupanmu untuk kedua kalinya secara sia-sia!

Eren selalu dan selalu menunggumu, Eren selalu dan selalu mengharapkan sosokmu.

Bukan aku, bukan Levi—

Tapi Rivaille."

.

.

.

"SENPAI, JANGAN MAIN-MAIN!" Eren menggebrak kaca tebal yang membatasi ruangan—membuat beberapa tim medis terkejut dan menoleh ke arahnya. "KAU—KAU ITU TENTARA TERKUAT UMAT MANUSIA, BUKAN?! KAU TIDAK LEMAH SEPERTI INI!"

"Eren... kumohon.. tenangkan dirimu—"

"RIVAILLE, BUKA MATAMU!"

.

.

.

'RIVAILLE, BUKA MATAMU!'

"...! suara itu—"

"Eren memanggilmu, Rivaille.

Maka dari itu...

Kau harus hidup."

"Tapi—"

"Tubuh ini memang milikku, tapi eksistensi diriku semenjak awal adalah milikmu.

Aku bukan siapa-siapa di dunia ini—aku tak ada dalam daftar eksistensi."

"Hidupmu lebih berharga dari sekedar 'pengganti' belaka, Levi. Tak seharusnya... kau membuang hidupmu begitu saja."

.

.

.

"Armin, Jean—atau siapapun! Tolong bantu aku menahan Eren, dan Christa—tolong ambilkan obat penenang atau apapun!"

"Tch—merepotkan!" Jean juga Reiner dan Berthold kini ikut menahan Eren yang terus meronta seraya berteriak—satu tangan Jean menutup mulut Eren sehingga suara menjerit yang lantang itu sedikit terpendam dan tak jelas. "Eren, jangan lemah seperti ini! Kalau kau sendiri lemah, bagaimana bisa Rivaille-senpai berusaha untuk menjadi kuat?!"

Aku menjadi kuat bukan hanya untuk melindungi dirimu,

...

Aku juga ingin melindungi diriku sendiri.

"Eren..." Armin menatap pilu teman dekatnya yang masih berusaha untuk berteriak—memanggil nama orang yang begitu ia sayangi, meski tak yakin bahwa suaranya akan tersampaikan kepada dia yang dikasihi. Armin menggenggam kembali telapak tangan Eren.

"Kalau kau mengharapkan Rivaille-senpai untuk tetap hidup... ia hanya akan kesakitan."

Eren terdiam seketika.

"Kau mau, melihatnya terus hidup... sambil terus dibebani rasa sakit yang tak ada habisnya?"

"Atau kau lebih memilih ia untuk tertidur selamanya, dan terbebas dari rasa sakit yang membelenggu dirinya?"

.

.

.

"Lakukanlah ini demi diriku—bukan hanya untuk Eren."

"...Levi—"

"Teruslah hidup,

Dan cintai juga lindungi Eren—demi bagianku juga.

Karena aku tak bisa berada di sisinya untuk melindungi,

Dan aku tak punya hati lagi untuk bisa mengetahui apa arti dari rasa 'sayang'."

"Maksudmu... kau memberikan hidupmu,

Kepadaku?"

"...Rivaille, kumohon. Tetaplah berada di sisi Eren—karena itu bukan hanya keinginanmu,

Tapi juga keinginanku."

.

.

.

"Armin benar," Mikasa melanjutkan kata-kata Armin. "Eren—Rivaille senpai menyayangimu. Selama ini—mungkin hanya itu yang membuatnya bertahan hidup."

"Ia hidup dengan berpegangan pada perasaan sayangnya yang terus menopang. Dan kalau kau tak membalas perasaan itu—ia hanya akan semakin tersakiti."

"Eren.. kumohon, terima kenyataan, buka matamu."

Jangan memasang wajah sedih seperti itu,

Aku yang akan menyimpan air matamu.

Tak usah selalu tertawa,

Aku akan menjadi kekuatanmu.

"Belum bisa—belum menyerah, aku tahu Rivaille belum menyerah!"

.

.

.

"...Aku mengerti, Levi."

.

.

.

"Aku tahu dia bukan orang yang lemah—justru itu, dibanding membiarkan rasa sakit membunuhnya, ia pasti akan memilih untuk tetap hidup!"

.

.

.

"Terima kasih.. Rivaille. Selamat tinggal.

Selamat tinggal, Eren.

Meski aku hanyalah orang yang diciptakan untuk menggantikan eksistensi seseorang,

...

Aku mencintaimu sebagai diriku sendiri."

.

.

.

'Tidak apa-apa,

Tidak apa-apa.

Kau tidak perlu berbohong lagi.

Aku akan menangis bersamamu—

...Tidak,

Aku akan membagi senyumku untuk dirimu.

"...Tunggu dulu, teman-teman—"

"Apaan sih, Sasha! Berhenti menarik-narik bajuku, jangan tiba-tiba bilang lapar saat keadaan begini—"
"Bukan, Jean! Semuanya, lihat alat pendeteksi denyut itu—"

Wajah yang dingin dan menutup mata itu mulai memancarkan warnanya.

Satu garis ke atas, satu garis ke bawah—

Kelopak mata yang tertutup itu tiba-tiba bergetar, seolah mengetuk agar terbuka.

Satu garis ke atas, satu garis ke bawah—

Dan iris kelabu itu membuka mata.

'Daijoubu, daijoubu.'

Kata-kata itu seperti sihir yang ajaib.

"...Keajaiban!"

Sang badut yang tak menyangka bahwa ada orang yang peduli padanya—

Perlahan mulai melepaskan topeng yang menutupi wajahnya.

Seluruh tim medis yang berada dalam ruangan terlihat berdiskusi dan dokter meminta mereka mempersiapkan sesuatu yang tak terdengar jelas—yang pasti, satu orang wanita di samping Rivaille terlihat memberikannya beberapa pertanyaan—walau tentu saja, Rivaille masih terlalu lemah untuk bisa merespon tiap pertanyaan itu.

Ini sungguhan, 'kan...?

"Rivaille-senpai..."

Hei aku sangat, sangat ingin tahu,

Apakah artinya untuk mencintai seseorang.

Ketika kau tersenyum,

Dunia bergetar sedikit dan bercahaya,

..Seolah dia hidup kembali dan menarik nafas.

"..Rivaille-senpai...?"

Penglihatan Eren tak mengkhianati—benar, yang ada di hadapannya bukan halusinasi, bukan ilusi—

Kenyataan. Ini semua kenyataan

Kenyataan telah mengulurkan tangannya—memberikan Eren pertolongan.

Rivaille hidup—ia menarik nafas, ia berkedip—

Ia menggerakkan bola matanya menuju kaca jendela.

Kelabu dan Emerald bertemu—dalam garis lurus yang mempertemukan, tanpa penghalang apapun, tersambung tanpa ada apapun yang bisa membuatnya terputus.

Rivaille membuka kecil mulutnya—sakit, sulit. Tapi ia mencoba untuk tersenyum.

'Aku kembali,' itu yang mulutnya katakan—kepada Eren seorang.

'Aku kembali'.

...

Takdir kini berlaku adil.

.

.

.

Untuk sesaat,

Untuk selamanya,

Dari permulaan,

Sampai keujung akhir yang terjauh.

.

.

.

"Corporal!"

"Hmm?"

"Kau percaya pada reinkarnasi?"

.

.

.

Hei aku sangat, sangat ingin tahu,

Apa artinya untuk hidup?

Ketika aku bertanya pertanyaan itu,

Dunia bergetar sedikit dan bercahaya.

Kebenaran yang tertidur di dalamku,

Kini perlahan-lahan dilepaskan.

To be continued

A/N:

Pertama... Minal Aidzin wal Faidzin! Mohon maaf lahir batin, maaf kalau Author selama ini ada salah... (kayanya banyak deh salah lu nach)

Beberapa teks di atas diambil dari translasi bahasa Indonesia lagu 'Saigo no Kajitsu' nya Maaya Sakamoto, 'Pierrot' nya Hatsune Miku, dan 'Synchronicity' nya Makino Yui.

Dan~~ HALO! Updatenya agak lama ya—maaf uhuehue, kemarin2 saya cari akal supaya chapter ini dapet feelsnya... berhasil ga? Berhasil ngga? 8D

Dan—tararam! Saya mengikuti hasil vote (karena JUJUR, saya sendiri masih bingung mau endingnya gimana), yang lebih unggul memilih Happy End. Jadi.. uhuhu, maaf yang yang milih sad-happy end atau sad end ;;w;; author juga sejujurnya ga tega terus2an nyiksa dua tokoh utama ini (sepik doang) jadi author akan akhiri penderitaan mereka secepatnya (halah)

Tapi unsur sad ending terselip loh di chapter ini. Say goodbye to Levi yang kasih kesempatan hidupnya buat Rivaille, dan di chapter ini—Levi atau Rivaille yang kalian kenal di awal cerita,

Rivaille yang pertama kali ketemu Eren di ruangan Dot Pixis,

Sudah pergi untuk selamanya.

(...eaa dramatis amat)

Dan—uhuhu, kalian luaar biasaaaa /o/ (pasang tampang ariel) reader, silent reader, dan para reader yang setia selalu kasih review—bentar lagi kita berpisah nih, sama fanfic ini :') mungkin satu atau dua chapter lagi, fanfic ini akan tamat. (yaaay) tapi saya akan buat sekuelnya.

Saya bener-bener... berterima kasih, berkat fanfic ini, saya bisa ketemu kalian di fandom yang baru aja saya kenal, dan buat kalian yang udah ngikutin dan nemenin author dari pertama fanfic ini ada.. bener-bener terima kasih banyak. Author sayang kalian. Sayang banget. :')

Main voting lagi, yuk? Author mau buat fanfic RivaiEren lagi , tapi ada dua ide! Mau yang mana dulu yang dibikin?

Recon High School host club—menceritakan Eren yang tiba-tiba masuk host club demi bayar hutang, dan harus berhadapan sama pangeran 'ketus' alias ketua host club itu sendiri, Levi—

Atau,

Demon Hunter Pandora—tentang Eren yang melihat ibunya dibunuh oleh Demon, dan setelah ditolong oleh Rivaille—mereka berdua akhirnya jadi duo pembasmi Demon yang tak tertandingi. Dan oh~ perasaan romantis tumbuh di antara demon hunter ini! (latarnya mirip-mirip series supernatural lah, ada yang tau movie ini?)

Dan—Makasih banyak, sekali lagi, makasih banyaaak banget buat:

Yami-chan Kagami, Roya Chan, Android5Family, 1173777778910, JackFrost14, Kyo Kyoya, Zane Zavira, nietta, SedotanHijau, widi orihara, Persephone, Rivaille Jaegar, mager, Megumi Yoora, Kyuushirou, Annpyon, Hasegawa Nanaho, Baka Mamarthy, minami, AnindyaCahya, Iam . Titania-Falls, HanakaiGaze, KurosawaAlice, saerusa, luffy niar, Dira Andriani, kaorukasuga, IsyPerolla, sanaro, SeraphelArchangelaClaudia, Unknownwers, Arisa, ryuusei-gemini, Yuki-Naoki, Lightmaycry, dan Loceng Angin!

Buat reader yang baru sempat review, atau yang masih tetap menjadi silent reader, atau yang baru aja ngikutin fanfic ini, maupun yang ngikutin fanfic ini dari awal—

Terima kasih.

Ga kerasa saya ngetik fanfic ini udah mau sampai tamat, saya ga pernah namatin fanfic dengan cepat sebelumnya (PLS bahkan fanfic multichap yang aku buat aja baru SATU yang diberesin sampai tamat... *nangis*) dan ini berkat kalian.

Owari janakute—hajimari da yo.

Baiklah—udah jam... setengah satu malam disini. Author undur diri , sampai jumpa di chapter depan!

With Love,

Nacchan Sakura.