Chapter Summary

Malam dimana seharusnya Taehyung ikut terluka dengan segudang rasa bersalah di dadanya. Dan saat yang dikhianati dipenuhi dengan keraguan dalam kesendirian, sosok yang telah mengkhianati terlihat begitu tenang.

.

A Vampfiction Inspired by:

Celtic Traditional Myth of 'Leanan Sidhe' and 'Dearg Due'

Unkindness Of Ravens - 'Leanan Sidhe'

Disclaimer: I own nothing except the unrequited-love feelings toward Kim Taehyung… and the story line, and the surprises

Genre: Supernatural, Romance

Starring :

Jeon Jungkook | Kim Taehyung

With: Jung Hoseok | Kim Namjoon | Kim Seokjin | Park Jimin | Min Yoongi

Byun Baekhyun | Kim Jongin | Park Chanyeol | Kim Joonmyeon | Kim Minjae

And Other Supporting Casts

Note!

Human!Taehyung x Vampire!Jungkook

Rated: M

WARNING!

Vampire!Jungkook, Dominant!Jungkook, Dominant!Taehyung.

-They are both dominant in their own ways-

I've warned y'all

.

.

"Leanan Sidhe"

Part X: Blood and Band Aid

Jungkook keluar dari kamarnya, meninggalkan sang kekasih yang tengah terlelap sendirian. Ia berjalan menuju ruang tengah dimana seluruh keluarganya sedang duduk bersama, hal yang biasa mereka lakukan di tengah malam jika tidak ada yang sedang bercinta, atau Jungkook yang berulah, atau sejenisnya.

Jimin berdehem keras sekali begitu adik termudanya mendudukkan diri di karpet, tempat favoritnya. Immortal bersurai jelaga mengacuhkannya, ia malah mengambil remote televisi, lalu memutar video kartun kesukaannya.

"Pantas saja kau digagahi, tontonanmu begitu." gumam Yoongi tiba-tiba begitu pinguin dan teman-temannya mulai bernyanyi di layar TV.

Jungkook mendengus, "Paling tidak aku tidak digagahi oleh yang lebih pendek dariku walau hanya satu sentimeter, apalagi bantet. Itu memalukan."

Vampire Park yang tengah meneguk segelas darah hampir menyemburkan semua yang ada di mulutnya ke wajah pemilik mata sewarna batu bara saking kesalnya. "Bajingan Jeon. Kenapa aku dibawa-bawa?"

"Salahkan Yoongi hyung." elak Jungkook.

"Salahkan desahanmu yang keras sekali."

Ucapan Namjoon sukses membungkam si gigi kelinci. Ingin sekali mengumpat, namun yang diucapkan hyung-nya memang benar.

"Sudah, jangan meggodanya." Seokjin mencoba menengahi walau jujur ia tengah menahan senyumannya karena Jeon Jungkook terdengar liar sekaligus polos saat sedang bercinta, dan Kim Taehyung begitu brengsek ketika menggoda adiknya. "Tapi jujur aku tidak menyangka dia yang menggagahimu, kupikir kau yang… maksudku, lihat postur tubuhnya."

Jungkook mencebik. Ternyata Kim Seokjin sama saja dengan yang lain.

"Pantas saja kau begitu menurut kepadanya, ternyata kau berada dibawahnya."

"Hentikan." protes Jungkook menghadap Hoseok yang tiba-tiba bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.

"Dibalik tubuh kerempengnya, dia bisa mengendalikan si buas Jeon Jungkook."

"Mungkin dia pemain handal."

"Lihat tanda di leher Jungkook."

"Si kerempeng banyak pengalaman?"

"Sex machine?"

"Hyung!" teriak yang paling muda pada akhirnya. Ia membanting remote di tangannya hingga benda itu hancur berkeping. Hal itu sontak membuat kelima kakaknya terbahak, memicu rasa panas tak nyata di pipi pemilik iris malam. Kalau saja panas di tubuhnya masih ada, mungkin pipinya sudah bersemu merah hingga ke telinga.

"Kau sungguh menggemaskan, Jungkookie sayang." ujar Jimin yang langsung menarik kedua pipi Jungkook ke segala arah. Ia tersenyum jahil saat menirukan cara Taehyung memanggil Jeon Jungkook, membuat yang memiliki nama langsung menepis tangan bantet hyung-nya.

Mereka kembali tertawa, menggoda Jungkook dengan memanggilnya menggunakan sebutan yang dipakai Kim Taehyung ketika menggagahinya. Keenam makhluk abadi itu nampak seperti kakak-beradik yang bahagia, apalagi saat Jungkook terlihat ngambek dan berjalan ke kamarnya dengan wajah cemberut. Kelima kakaknya tertawa semakin keras, Min Yoongi termasuk menjadi yang paling parah dengan mengatakan kata lagi berulang kali, mengimitasi dengan sempurna intonasi yang sama saat Taehyung meminta izin untuk menghujam Jungkook lagi. Bersamaan dengan Jungkook yang membuka lebar pintu kamarnya, suara tawa mereka menghilang ditelan malam.

Jungkook membulatkan matanya, segera berlari meninggalkan kamarnya saat mendengar nama kekasihnya disebut oleh entah-siapa. Suara kendaraan roda empat yang berjumlah sekitar tiga mendekat dengan kecepatan yang membuatnya lengsung menajamkan pendengaran.

"Taehyung bekerja dengan sangat baik, biarkan dia istirahat."

Jungkook mengenal suara itu. Byun Baekhyun, pria yang belum lama ini diketahuinya sebagai kakak dari sang kekasih.

"Brengsek." umpat Yoongi sepenuh hati. Ia menarik ponselnya dari saku, menegakkan tubuh dan dengan cepat menilik waktu terbit matahari hari ini, dan ia membanting ponselnya saat itu juga. "Mereka merencanakan ini."

"Sekarang hampir masuk waktu fajar."gumam Jimin yang juga melirik layar ponsel takdirnya. "Berita baik untuk mereka, di musim ini, matahari seolah bergerak lebih lambat di Korea Selatan, the dawn seems longer than usual."

"Dead end." gumam Namjoon yang berlari dari arah belakang. Ia baru saja melihat keadaan dan langsung kembali begitu mendengarkan suara kaki yang mendekat dengan kecepatan yang dimiliki pelari profesional. "Lima orang dari belakang, bau perak dan kayu… mereka membawa senjata."

"Mereka mengepung dari berbagai arah." sahut Seokjin yang juga baru datang entah dari mana. Wajahnya terlihat panik, terlebih saat melihat Jungkook hanya diam dengan tatapan kosong. Ia langsung mendekati yang termuda, mengguncang pundaknya. "Kook?"

Ia tenggelam dalam dunianya, menanyakan kepada diri sendiri tentang kerja baik Taehyung yang barusan didengar.

"Tetap bersama." perintah Hoseok. Ia melirik Jungkook sekilas sebelum melanjutkan lirih. "Lindungi Jungkook."

Mendengar itu, vampire Jeon menoleh cepat, menatap pemilik iris chocolate dengan mata bergetar. "H -hyung…"

"Mereka mengincarmu, aku tidak akan membiarkan kau diambil." gumam Yoongi memasang tampang serius. "Secara teknis kita memang sudah mati, jadi mati dalam artian yang sebenarnya sepertinya tidak jadi masalah."

"Jangan bercanda. Bukan salah satu dari kita yang akan mati, tapi mereka."

"Mereka berheti di depan."

Beberapa detik kemudian, pintu depan mereka didobrak, begitupun dengan pintu belakang. Lebih dari sepuluh orang langsung mengepung Jungkook dan keluarganya di ruang keluarga, seolah mereka sudah mengetahui ruang apa saja yang ada di dalam rumah.

Keenam makhluk immortal mencoba untuk siaga walau tak bisa seperti biasanya karena kini mereka berada di waktu fajar, saat dimana mereka berada di titik terlemahnya. Pergantian malam ke siang hampir memanusiakan keenamnya, dalam arti kiasan.

Dari pintu depan, Jongin, Baekhyun, dan dua orang lainnya masuk. Seorang yang tinggi bersurai coklat tua dengan sebuah pedang di tangannya, juga seorang berkulit tan yang membawa tombak dengan mata di kedua ujungnya berdiri masing-masing di sisi Baekhyun dan Jongin.

"Selamat malam, Tuan Jung." gumam Baekhyun memasang senyumnya. Tangan kanannya mengacungkan pistol yang sudah dipastikan bahwa isinya adalah peluru perak.

Jungkook memicingkan matanya, dan ia sedikit bernafas lega saat mendapati bahwa benda yang dibawa atasan Jimin bukan benda yang sama seperti yang ia lihat di rumah Taehyung.

Setidaknya, pelurunya tidak akan meleleh.

"Apa maumu, Tuan Pemburu? Seingatku, tidak ada pesta di rumahku. Kenapa aku mendapatkan kejutan seperti ini?" Hoseok menatap nyalang satu per satu makhluk rendahan yang dengan lancang mengacungkan senjata ke arahnya.

Dua orang kembali masuk dari pintu depan, keduanya berdiri di samping Jongin, satu yeoja dengan rambut hitam ber-shade abu-abu keunguan dengan wajah dingin, ia mengacungkan belatinya. Satu lagi adalah pemuda bersurai pelangi menggelikan dengan raut wajah tak kalah dinginnya. Di sisi kanan Hoseok ada seorang berwajah mirip dengan pemilik surai pelangi, matanya terlihat lebih bulat dengan raut wajah hangat, ada juga Chanyeol dengan dua pedang yang menggantung di pinggang kirinya, berdampingan dengan seorang gadis yang memiliki warna rambut yang sama sepertinya.

Di arah belakang para makhluk abadi ada pemuda bermata burung hantu yang seolah tak melepaskan fokus dari buruannya, juga seorang lagi dengan sepasang cat eyes besar yang tersenyum miring sambil memainkan pedang pendek di tangan kirinya. Ada juga gadis berambut blonde dicepol degan mata bulat dan pipi tembam dan seorang yeoja lagi bersurai coklat.

Sempurna.

Seluruhnya adalah pemburu bersenjata yang mengelilingi buruannya. Yoongi melirik keluar hanya untuk mendapati beberapa orang yang berjaga sambil mengacungkan senjata api, tembok kedua yang harus mereka tembus jika ingin kabur. Namun saat ia melihat adik termudanya yang hanya menatap kosong ke arah depan, saat itu juga ia sadar, mereka harus bertarung karena Jungkook pasti tidak akan ingin meninggalkan Kim Taehyung.

"Sayang sekali aku harus kehilangan pegawai terbaikku dari persahaan."

"Aku ambil Namjoon."

Baekhyun mengangguk ke arah Jongin, lalu beralih menatap seorang yeoja, "Irene, kau bersama Jongin."

Gadisberwajah dingin dengan rambut abu keunguaan menarik belati, ia melirik Baekhyun sekilas lalu mengangguk.

Yoongi maju tanpa aba-aba. Matanya yang telah menunjukkan sorot sea green menatap lurus ke arah Baekhyun, ia melayangkan tendangannya tanpa suara. Dari samping, Irene menghunuskan belatinya, hal yang sama dilakukan oleh Chanyeol dan pemuda bersenjata tombak.

Namun Jungkook bergerak lebih cepat, ia menendang telak perut Irene, membuatnya terpental kuat. Mungkin kalau si rambut pelangi tidak menangkapnya, ia akan menabrak jendela.

"Thanks, Sehun. Penjahat satu itu benar-benar bajingan yang tak mengenal belas kasihan bahkan untuk seorang perempuan."

Jungkook memutar bola matanya setelah mendengus meremehkan.

Sementara itu Chanyeol menghalau serangan Jimin, dan namja bersurai hitam dengan tombak di tangannya beradu tendangan dengan Seokjin.

"Tao, senjatamu bukan pajangan." gumam sosok tinggi bersurai coklat tua menghunuskan pedangnya yang sukses menggores lengan vampire bersurai cherry red yang sorot matanya berubah violet.

"Mati saja kau, Kris." balas Tao yang langsung memutar batang tombaknya berulang kali, sukses membuat beberapa luka di paha Seokjin. Pada saat yang bersamaan, seorang gadis bersurai coklat melayangkan tendangannya ke punggung lebar sang vampire.

"Nice shoot, Wendy!"

Namjoon yang ingin melindungi takdir-nya terpaksa harus berhadapan dengan Jongin saat ia merasakan panas luar biasa di pundaknya karena sebuah peluru perak menggores kulitnya cukup dalam.

"Xiumin hyung." ucap Jongin datar hampir bersamaan dengan sosok ber-cay eyes bulat yang menusukkan pedang pendeknya ke perut Namjoon. Ada kecewa di sorot matanya, ia sadar kepala penyelidiknya adalah sosok yang licik, namun saat ia mengetahui dirinya selama ini dibohongi, ternyata tetap kesal juga.

Xiumin berusaha memisahkan bagian tubuh si penghisap darah, setidaknya mengirisnya dengan gerakan cepat menggunakan pedangnya, atau mengeluarkan beberapa organnya yang mati, namun Namjoon sudah terlebih dahulu memegang senjata itu, membiarkan telapaknya terluka terkena mata pedangnya, menarik benda terkutuk itu kuat-kuat, lalu membalik serangan dengan menghunuskannya ke arah jantung pemuda bernama Xiumin.

Jongin sudah terlebih dahulu menarik lengan sekutunya, dan dengan kecepatan tak terduga, sebuah peluru menghantam pedang pendek yang dipegagnya hingga terpental.

"Bajingan." umpat sang abadi menunjukkan mata amethyst-nya yang berpendar penuh kemarahan. Mereka benar-benar lemah saat ini, ditambah Jungkook yang seperti orang linglung dan berkali-kali terkena serangan Baekhyun.

Jimin berusaha melindunginya, ia menghalau Chanyeol yang dibantu seorang gadis yang memiliki warna rambut seperti milik sang lawyer. Seorang yang beberapa detik lalu Jimin ketahui sebagai kelemahannya.

Ia menyeringai, melemaskan kepalan tangannya sebelum melayangkannya tepat ke arah pria bersurai merah yang langsung menghindar dan menghunuskan pedangnya mengenai pinggang Jimin. Namun mantan rekan satu perusahaannya itu tetap melayangkan pukulan, mengarah tepat pada wajah gadis di belakang Chanyeol.

"Yeri!" pekik sang lawyer saat mendapati gadis itu ambruk dengan darah di sudut bibirnya.

Ia lengah, dan Hoseok memanfaatkannya dengan menendang ke bawah tengkuk Chanyeol. Pria itu langsung menindih rekan yang dikhawatirkannya

"Keparat." Hoseok tersenyum meremehkan, hanya selama satu detik, karena setelahnya pemuda bermata burung hantu menembakkan peluru peraknya ke arah vampire Jung sehingga ia harus segera menghindar.

"Dasar licik!" pemuda berwajah mirip Sehun membantu Chanyeol bangun.

"Thanks, Lu." gumam pria bersurai merah menahan geraman.

"No worries." balas pemuda itu yang langsung membantu Yeri berdiri. "Kau jangan merepotkan kakakmu, lebih berhati-hatilah."

"Luhan, berhenti ngobrol. Dasar pendek!"

Yang dipanggil Luhan memutar bola matanya. Ia selalu kesal saat Baekhyun yang notabene juga pendek mengatainya. Maka ia melampiaskan kekesalannya dengan menancapkan pasak di tangannya ke kaki Jungkook yang baru saja mendapat tendangan dari Sehun dan Irene secara bersamaan.

Vampire itu mengeram kesakitan, ia mengumpat habis-habisan bahkan meludahkan darah di mulutnya yang sobek tepat ke wajah wanita berwajah dingin yang tadi mendapat serangan pertamanya.

Ia terkekeh meremehkan saat ekspresi datar itu lepas dan digantikan dengan raut jijik sekaligus marah. Sehun bahkan menahan tawa.

Yoongi meremukkan senjata api milik Baekhyun, membuangnya asal sebelum melayangkan tendangan dan pukulan ke wajahnya, dan saat pria itu terjatuh, ia segera menindih dan mencekiknya kuat-kuat dengan sejuta kemarahan terpancar dari sepasang sea green-nya.

Kalau saja Chanyeol tidak datang dan mengoyak lengan, juga pinggang Yoongi, dengan pedangnya, mungkin pemimpin penyerangan malam ini sudah mati.

Baekhyun terbatuk keras begitu ia lepas, namun pria yang membawa pedang kembar tidak bisa berlama-lama memperhatikan Baekhyun karena ia melihat seorang gadis bersurai blonde dicepot mengerang kesakitan saat Hoseok menancapkan taringnnya di lengan gadis itu. Sang immortal pasti sudah menariknya lepas kalau Chanyeol tidak menancapkan pedangnya di perut Hoseok, dan Kyungsoo, pemuda bernata burung hantu, tidak segera menarik si blonde ketika ia melihat celah.

"Joy, kau akan baik-baik saja." gumam Kyungsoo menarik sobek kaosnya, lalu membalut luka si gadis pirang dengan itu. "Mereka benar-benar menyusahkan."

Sejenak ia melirik Jungkook yang sudah berhasil menarik lepas pasak yang tadi menusuk kakinya, dan saat ini tengah menerima tendangan dari Baekhyun sementara Irene menangkis Jimin yang mencoba menyerang Chanyeol.

Sehun yang berhasil menjatuhkan si rebel yang kelihatannya sedang tidak berkonsentrasi.

"Bajingan!" umpatnya, dan saat itu juga, telinganya seolah akan meledak saat mendengar detak jantung seseorang terdengar begitu berbeda.

Seseorang itu terengah, tergesa saat memasuki ruangan yang sudah berubah menjadi arena pertarungan. Gerakan tubuhnya terdengar seperti orang yang tengah bingung.

Jungkook tahu, itu Taehyung-nya.

Mengambil kesempatan, dengan cepat Chanyeol menancapkan pedangnya di masing-masing tangan Jungkook yang berada di atas lantai. Jungkook mengerang saat benda yang terbuat dari perak itu menembus kulitnya, bahkan hingga ke tulangnya sampai-sampai ia tidak bisa menggerakkan tangannya.

"Aarrgghh!"

Jungkook menolehkan kepalanya cepat. Ia melihat Taehyung yang tersungkur di lantai.

Taehyung-nya…

Kekasihnya sedang kesakitan, dan saat itu juga, dunianya berhenti berputar.

Matanya bergetar melihat kekasihnya yang berusaha bangun dan meraihnya. Ia berusaha mengulurkan tangannya, dan itu sukses membuat dirinya sendiri semakin terluka.

Apapun yang Jungkook lakukan, ia bukan menjadi seseorang yang menjadi tumpuan sang kekasih karena pemuda bersurai pirang itu kini berdiri dengan Baekhyun yang menopangnya.

Mereka saling bertatapan. Jungkook memasang wajah datarnya saat Taehyung terlihat begitu akrab dengan sang kakak dan sama sekali tidak mencoba untuk menolongnya.

"Hentikan, hyung. Kau menyakitinya."

Gumaman itu tak berarti apapun. Taehyung diam di tempat, menonton Jeon Jungkook yang dipermalukan habis-habisan dengan berbagai senjata yang teracung padanya, dan Byun Baekhyun yang menatapnya seolah ia adalah jalang yang telah melakukan kesalahan saat melayani seorang pangeran.

Dan sang pangeran, tidak berusaha membebaskannya.

Ia menulikan pendengarannya. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah nama Kim Taehyung yang terus-terusan ia rapalkan dalam hati, berharap agar pemuda yang kini menatapnya dengan sorot berbeda itu segera mendekat dan, paling tidak, memeluknya.

Di mimpimu, Jeon Jungkook!

Jungkook menyerah, keluarganya akan habis kalau begini. Maka ia memohon kepada para hyung-nya agar mereka berhenti berjuang demi dirinya. Ia benar-benar menyerah, terlebih saat mendengar suara Chanyeol tepat di belakang kepalanya.

Kerjamu bagus, Tae.

Begitu katanya.

Jungkook tidak mau percaya. Taehyung menjanjikan banyak hal padanya, dan Jungkook memberikan semua yang ia punya sebagai imbalan. Tubuhnya, jiwanya yang telaah lama mati, bahkan jika Taehyung menginginkan selamanya yang Jungkook punya, akan ia berikan.

Inikah balasannya?

Taehyung berdiri bersama mereka?

Jungkook mengerang kesakitan, bukan karena pedang yang dicabut dari tangannya, namun karena sang kekasih mengkhianatinya.

Aku sangat bangga padamu…

Baekhyun mengucapkannya penuh perasaan.

Jungkook menangis dalam diam. Bahkan sakit pergelangannya yang tertusuk pisau runcing tak setara dengan rasa sakit di hatinya.

Ia menatap lekat sepasang netra milik pemuda bersurai pirang, mencoba mengatakan padanya bahwa ia merasa sakit.

Bahwa ia sangat terluka.

Bahwa ia merasa kecewa…

.

.

.

.

Taehyung menundukkan kepala, menikmati bulir-bulir air dingin yang tepat menghujam kepalanya tanpa hati. Ia memejamkan mata, mencoba mengumpulkan kesadaran setelah seharian tertidur di rumahnya, rumah dimana kedua kakaknya tinggal.

Lima belas menit yang lalu, kakak tengahnya masuk ke kamar, memberitahukan bahwa makan malam bersama para tamu yang telah membantu mereka kemarin akan dimulai. Malam ini juga mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing, tentunya setelah menyelesaikan jamuan dari keluarga Kim.

Namja bersurai pirang menghela nafas berat, ia mematikan shower dan segera keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya dengan keadaan tubuh yang masih basah kuyub.

Malas-malasan ia mengeringkan tubuh dengan handuk, lalu memakai bawahan berwarna hitam. Baru saja akan memakai baju, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.

"Tae, yang lain menunggumu di bawah, ohh! Kau sedang memakai pakaianmu."

Taehyung hanya meliriknya sekilas, ia melempar kemeja biru tuanya, lalu menarik asal sebuah sweater berwarna maroon dari almari kemudian memakainya. Tanpa menjawab, ia melewati yeoja ber-shade ungu di rambut yang dengan tidak sopan masih berdiri di ambang pintu kamarnya, membuka lebar-lebar daun pintunya.

Takdir Jeon Jungkook melangkah dengan tenang tanpa mempedulikan gadis yang mengekorinya.

"Sampai kapan mau mengacuhkanku? Isi perutku hampir keluar saat terkena tendangan makhluk menjijikkan itu dan kau sama sekali tidak mengucapkan terima kasih atas bantuanku menangkapnya? Dia bahkan meludahi wajahku, dasar vampire sialan."

Pemuda bermata dark brown menghentikan langkahnya hanya untuk mendapati senyum memuakkan dari gadis berwajah dingin.

Makhluk menjijikkan.

"Kau ingin mendengar sesuatu yang jujur?" Taehyung balas tersenyum tanpa perasaan. "Bagiku, makhluk menjijikkan itu sangat berharga. Dan sekali lagi kau memanggilnya begitu, kita tidak akan pernah bertemu lagi."

Setelahya, Taehyung kembali berjalan sambil menahan senyumnya saat membayangkan betapa puasnya wajah Jungkook saat berhasil meludahi Irene.

Yang diajak bicara hanya mendengus. Beberapa kali mereka bertemu dalam berbagai kesempatan, dan Kim Taehyung selalu bersikap sama. Ia bahkan mengira Kim muda memiliki sesuatu yang salah pada otaknya sehingga yang bersangkutan bisa bersikap seacuh itu.

"Tae, kau tidak bersama Irene?" tanya Baekhyun begitu adiknya masuk ke ruang makan. Mereka sudah memulai makan malam di sebuah meja persegi panjang berukuran besar yang, seingat Taehyung, hanya mereka gunakan setiap kali kaum mereka berkunjung.

Taehyung menunjuk seseorang yang berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan dagu, lalu segera duduk di samping sang kakak tengah.

Baekhyun menghela nafas berat, adiknya memang selalu bersikap seperti ini saat mereka berkumpul. Entahlah, ia terlihat tidak nyaman atau sejenisnya. "Makan yang banyak."

Pemuda bersurai jerami mengangguk, ia mengambil banyak nasi, lalu berbagai macam lauk, terutama daging. Melihatnya, Joonmyeon hanya menggelengkan kepala sambil menahan senyum makhlum. Taehyung memang tidur seharian, dan mungkin itu membuatnya begitu kelaparan.

Kim muda benar-benar fokus dengan acara makannya, sesekali iris dark brown-nya mengawasi interaksi yang terbaik dari setiap daerah di sekitar tempatnya tinggal, yang berkumpul dalam jamuan makan malam terakhir sebelum pergi. Ia hanya menanggapi dengan anggukan atau gelengan setiap kali ada yang mengajak bicara sampai akhirnya sebuah pertanyaan terlontar.

"Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan di rumah itu, Taehyung? Aku tidak mendengarkan namamu disebut saat Baekhyun menjelaskan rencana." Sehun bertanya dengan nada santai, bahkan terkesan basa-basi karena begitu pertanyaannya terlontar, ia langsung mencomot paha ayam dan memakannya begitu saja.

Hanya diketahui oleh keluarga Taehyung, pemuda yang terikat dengan buruannya menghentikan seluruh aktivitasnya selama hampir tiga detik. Ia lalu menunjukkan cengirannya. "Bagaimana ya, apa aku harus menjawab jujur?"

"Dia hanya penasaran dengan eksekusi dari hasil kerjanya." Joonmyeon menyahut sebelum ada yang menjawab.

Baekhyun menambahi disertai anggukan ringan. "Bagaimanapun Taehyung adalah yang berhasil membajak data badan intelijen dan mengusut identitas sesungguhnya dari korban yang tewas."

Taehyung mengeryitkan dahi.

"Tapi aku sedikit kecewa karena tidak bisa bertarung bersama Taehyung." sahut Joy. Ia menunjukkan senyum penuhnya yang hanya ditanggapi decakan pelan dari Kim termuda.

"Kau benar, Taehyung yang terbaik di daerah ini. Harusnya ia ikut bertarung."

Dan Joonmyeon hanya menanggapi protes dari Kyungsoo dengan tawa renyah saat mengatakan ingin adiknya beristirahat karena ia sedang tidak sehat, dan mengumumkan betapa bandelnya Kim Taehyung karena tidak menuruti perintahnya untuk tidur di rumah dan malah menyusul kakak tengahnya.

Pendusta.

Taehyung memilih mengabaikannya.

Ia kembali mengambil banyak sayur dan daging, memakannya hingga ia merasa ingin muntah. Walau begitu, ia terus menerus makan tanpa mempedulikan rasa mual di perutnya karena kekenyangan.

Setelahnya Taehyung langsung kembali ke kamar usai mengucapkan selamat tinggal kepada bala bantuan yang datang. Pemuda bersurai pirang itu mengecek sesuatu di ponselnya, lalu segera pergi tidur.

Ia tertidur pulas, sangat pulas.

Hingga pukul dua lebih satu menit, alarm ponselnya berbunyi. Ia mengulurkan tangannya, mengambil ponsel dan mematikan alarmnya. Tanpa menunggu seluruh kesadarannya terkumpul, Taehyung berjalan sempoyongan keluar dari kamar.

"Mau kemana?" gumam sebuah suara saat tangan kanan Tae meraih handle pintu belakang di rumahnya. Ia perlahan menoleh, memicingkan mata hanya untuk mendapati sosok pria bersurai madu berdiri sekitar lima meter di belakangnya, mengenakan piyama, melipat tangannya di depan dada.

Yang ditanya memilih mendiamkannya, membuka pintu sedikit, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya.

"Kim Taehyung. Aku bertanya padamu."

"Hyung." gumam Taehyung pada akhirnya, ia kembali menatap kakak tengahnya dengan sorot mata yang begitu sulit diartikan. "Tolong jangan bertanya lagi."

"Kau akan menemuinya." Baekhyun mendakwa. "Tae, kumohon berhenti menemuinya. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi jika ikatanmu semakin kuat dengannya."

"Jangan khawatir. Aku tahu semuanya, tentang ikatan dan sejenisnya."

Yang lebih tua membelalakkan bola matanya, ia berjalan cepat ke arah adiknya dan dengan sekuat tenaga menyentak lengan kirinya. "Katakan sekali lagi."

"Aku tahu tentang ikatan kaum vampire." ulangnya dengan nada tenang. Ia menatap dalam ke sepasang iris sang kakak yang bergetar, seolah meragukan pendengarannya. "Aku tahu sejak dulu, hyung. Dan aku secara sadar mengikat diriku dengan Jungkook."

Jantung Baekhyun seolah berhenti saat itu juga, kepalanya berdenyut sakit dan ia merasa dunianya runtuh. "Taehyung…"

"Maaf, karena aku tidak akan meminta maaf atas semua yang membuatmu kecewa." Taehyung menarik nafas dalam-dalam. "Aku ingin sekali memelukmu, tapi Jungkook sangat tidak menyukai bau orang lain menempel padaku, jadi aku tidak akan melakukannya."

Perlahan, yang lebih muda melepaskan tangan yang mencengkeram lengannya.

"Kenapa kau melakukan ini padaku? Tae, kau berjanji tidak akan membuatku kecewa, kenapa kau -"

"Kau melukainya, hyung. Kau melanggar janjimu terlebih dahulu, dan soal aku yang terikat padanya, itu terjadi sebelum aku menjanjikan apapun, jadi itu tidak dihitung."

Baekhyun menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan dan berusaha mati-matian menormalkan jantungnya yang memacu kelenjar air mata memproduksi cairan berlebih.

"Kuakui aku memang ceroboh, sangat ceroboh hingga ini bisa terjadi. Dan seingatku, kau yang paling memahami itu." Taehyung tersenyum lebar, terasa amat hambar. "Kau memanfaatkannya kan, keteledoranku yang satu itu?"

Yang ditanya tidak menjawab.

"Aku tidak akan mengatakan apapun lagi dan membuatmu semakin merasa bersalah, jadi biarkan aku bertemu dengannya."

Baekhyun menggeleng kuat, entah mengapa ia mulai menangis.

Taehyung melangkah mundur saat kakaknya berjalan mendekat. "Berhenti dan aku tidak akan menanyakan apapun."

Byun Baekhyun kembali menggeleng, matanya menatap lekat sang adik yang terasa kian menjauh. Kalau pegawainya melihat ini, mereka tidak akan mengira CEO yang begitu dihormati terlihat seperti anak kecil yang kehilangan permen, seperti bocah ingusan yang merengek. "Taehyung, kumohon…"

"Alasan terbesarmu menangkapnya adalah…" Taehyung menjeda, dan saat Baekhyun berhenti mendekat, ia melanjutkan. "Bukan karena kejahatan yang dilakukannya, namun karena aku dan dia terikat. Kau mati-matian mengorek kasus lama, padahal dia begitu tenang akhir-akhir ini. Kau ingin memisahkan kami. Aku benar?"

Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya Taehyung memutuskan untuk kembali bicara. "Malam ini, aku hanya ingin bertemu dengannya, kau kembalilah tidur."

Dan ia keluar lalu menutup pintu begitu saja, meninggalkan sang kakak yang menatap kosong daun pintu di hadapannya.

Kim Taehyung berjalan menembus kegelapan dengan hanya mengandalkan cahaya bulan. Bukannya memiliki penglihatan spesial, siapapun yang terbiasa dengan gelap akan dengan mudah melihat, makanya ia memilih mulai berjalan langsung begitu ia membuka mata tanpa menunggu kesadarannya terkumpul.

Ia berjalan melewati semak-semak, melintasi jalan setapak di perbukitan hingga setengah jam kemudian, ia berada di depan pintu sebuah bunker yang terlihat sangat kokoh. Sebuah penjara bagi para pembuat onar. Ia merogoh saku celananya, membuka pintu depan dengan mudah, lalu menutupnya dengan menyisakan celah sekitar lima sentimeter. Taehyung berjalan perlahan dengan menyalakan sebuah obor kecil yang tadinya tergantung di samping pintu masuk.

Menuruni tangga yang terbuat dari batu-batu yang berjajar rapi, Taehyung mencoba mati-matian untuk menetralkan detak jantungnya. Tatapan mata sang kekasih kala itu membuatnya benar-benar merasa payah. Dadanya berdenyut sakit setiap mengingatnya dan Tae tidak suka itu.

Pemuda Kim berhenti di depan sebuah sel yang terlihat kosong, namun ia tahu, penghuninya sedang duduk di sudut ruangan, memperhatikannya dalam-dalam dengan sepasang bola mata obsidian tanpa berkedip. Makhluk teridah tengah mengawasinya dari dalam kegelapan.

Taehyung meletakkan obor di tembok lalu mencoba membuka kunci ruangan dengan jeruji yang terbuat dari perak itu menggunakan beberapa kunci yang dimilikinya. Ia berdecak kesal saat tak ada satupun diantaranya yang bekerja seperti seharusnya.

Idiot.

Taehyung tahu seseorang, kemungkinan besar Baekhyun, telah mengganti kunci ruangan tempat mereka menahan Jungkook.

"Jungkookie, aku tidak bisa membukanya."

Hening menjadi satu-satunya yang mau berkomunikasi dengan makhluk mortal bersurai broken blonde.

"Jungkook, aku datang untukmu."

Lagi-lagi disapa sunyi. Taehyung tersenyum miris.

"Jungkook…"

Benar-benar ironi.

Jungkook marah dan kecewa padanya, Taehyung tahu itu. Tapi sekedar menyumpahinya saja, vampire Jeon seolah tidak mau, seakan-akan Kim Taehyung tidak pernah ada, dan tidak pantas ada untuknya.

"Jungkook, kumohon…" bisiknya lirih, Ia menempelkan dahinya di salah satu jeruji perak yang menjulang dari atas lantai hingga ke langit-langit ruangan. Ia memejamkan mata, mencoba mendengarkan desah nafas kekasihnya, atau detak jantung yang ia tahu tidak ada.

Kedua sudut bibirnya terangkat naik. Suara rendahnya menggema menjadi suara tawa yang menyiratkan luka. Taehyung benar-benar menertawai dirinya sendiri dan kebodohannya.

"Maafkan aku." ucapnya lagi. Sebelah tangannya mengacak surai jerami yang memang berantakan. "Kumohon, maafkan aku… kau harusnya marah padaku, memakiku, meludahiku, memukulku, menyumpahiku, apapun asal jangan mendiamkanku…"

Lututnya terasa lemas. Perlahan tubuhnya merosot hingga ia berlutut di depan jeruji besi yang seolah tak berpenghuni. Tangan Taehyung terulur, jemarinya meremat kuat masing-masing jeruji sejajar yang saling bersebelahan. Ia membenturkan kepalanya beberapa kali ke sebuah jeruji kokoh yang tepat berada di depan wajahnya.

"Jungkookie." gumamnya lagi. "Kumohon jangan menghukumku seperti ini. Rasanya aku tidak pantas untukmu, bahkan eksistensiku saat ini saja, kau tidak mau mengakuinya. Jungkook, sayang…"

Terdengar kekehan lirih dari sudut ruangan di hadapannya, dan Kim Taehyung langsung bungkam. Tersirat luka dari lirih suaranya.

"Jungkook." panggilnya sekali lagi, ia berdiri dan kesunyian menyapanya selama lima menit penuh sebelum langkah kaki terseret menyapa gendang telinganya. Jantung Taehyung serasa dihujam saat sosok kekasihnya mendekat perlahan dan mulai terlihat jelas. Begitu rapuh dan pucat, seolah Jungkook benar-benar sebuah mayat lapuk yang bisa lebur bila disentuh. Kedua tangannya langsung terulur melalui sela jeruji, mencoba meraih sang abadi yang terlanjur dicintainya.

Namun Jungkook tak berpikiran sama. Ia berhenti tepat seujung debu di luar jangkauan Kim Taehyung.

Tak teraih.

"Berhenti menyebut namaku seolah-olah kau mengenalku."

Jungkook terkadang sangat dingin, bersikap sombong dan menganggap dirinya tinggi, tapi tidak seperti ini. Sekarang, seakan ada benteng yang sangat kokoh diantara mereka berdua, dan Kim Taehyung tidak bisa membuatnya roboh.

Ia tersenyum miris.

"Maafkan aku." Taehyung menarik kembali tangannya. "Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini."

Sang abadi mendengus meremehkan. Ia lalu berjalan mendekati jeruji, dan kali ini, kekasihnya tak berani menyentuhnya.

"Katakan, apa aku melukai keluargamu?"

"Tidak." jawab pemuda bersurai pirang singkat. Ia tahu betul penyandang marga Jeon tidak suka jika Taehyung berlama-lama.

"Kenapa kau melukai keluargaku? Kalau memang kau mengincarku, kau bisa memusnahkanku kapan saja, tidak perlu susah-susah berpura-pura seperti itu. Apakah menyenangkan, melakukan semua yang kau mau padaku, lalu membunuhku dengan cara seperti ini? " Jungkook menjeda. "Taehyung… aku mati sejak lebih dari dua ratus tahun yang lalu, dan perlahan hidup saat bertemu denganmu. Kau tahu? Ini terasa konyol saat aku menyadari diriku yang merasakan bagaimana hidup bersamamu hanyalah sesuatu yang semu sebelum kau kembali membunuhku."

Netra sang manusia terasa panas. Ia menggigit bagian dalam bibirnya saat ucapan Jungkook dengan telak menamparnya sekuat tenaga. Ia tidak bisa mengelak, semua jadi seperti ini memang karena kesalahannya.

"Kapan mereka akan memusnahkanku?"

Taehyung menarik nafas dalam-dalam sebelum merogoh sesuatu di saku celananya. "Mereka menunggu keadaanku membaik agar aku bisa bertahan."

Pemilik surai jelaga tahu betul apa maksudnya. Dia akan dimusnahkan, Taehyung akan kesakitan, namun pemuda bersurai jerami akan baik-baik saja sementara dia menjadi abu yang bertebaran saat tertiup angin.

Takdir yang indah.

"Dan kau, juga harus membaik." gumam Taehyung sebelum melakukan sesuatu yang membuat sang immortal membelalakkan matanya.

Pemuda itu mengiris nadi di pergelangan kirinya, bukan sebuah luka yang dalam, namun cukup untuk membuat darahnya keluar perlahan. Taehyung tahu, takdirnya takkan lagi sudi menancapkan taring ke tubuhnya, jadi ini satu-satunya cara yang terpikirkan agar sang kekasih mau makan.

"Kau gila."

"Aku selalu suka saat kau mengatakannya." bisik yang masih bernafas. Ia mengulurkan lengan hingga pergelangannya yang terluka tepat berada di depan bibir kekasihnya. "Kalau kau diam saja, aku bisa mati sia-sia. Kalau kau mau makan, kau bisa membunuhku kalau mau."

Jungkook berpikir sejenak, melewatkan dua tetes darah pemburunya terbuang sia-sia hingga saat bulir darah ketika hampir mengalir jatuh, ia menjulurkan lidahnya. Setelahnya ia menghisap perlahan darah Taehyung dari luka sayat di pergelangan tangan.

Taehyung tersenyum, tanpa ragu mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap puncak kepala sang kekasih.

"Terima kasih." ucapnya sebelum menarik nafas dalam. "Aku tahu kau akan memaafkanku."

Jungkook mendengus.

"Akan, sayang… akan." ucap pemuda Kim mengulum senyum.

Tidak sekarang.

Taehyung sadar betul kekasihnya tak lagi percaya padanya, ia masih sangat murka. Namun semua akan kembali seperti semula.

"Kau yang baik-baik saja bisa menyelamatkan kita berdua. Makanlah yang banyak, mereka tidak akan melakukan apapun padamu sebelum kondisiku stabil. Mau mendengarkanku sebentar?"

Jungkook hanya diam, mengalihkan pandangannya dari iris coklat tua sang takdir dan memilih menikmati darah dari pergelangan yang menyumpal mulutnya.

"Mau mendengarkanku?" Taehyung tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban, jadi ia memutuskan untuk melanjutkan. "Aku sangat mencintaimu, jangan kau ragukan itu. Apapun yang kulakukan, itu semua untukmu. Kalaupun ada kesalahan, aku minta maaf, dan yang sekarang terjadi adalah kesalahan terbesarku. Aku bodoh, dan itu kesalahanku. Aku bukan pembohong, aku hanya tidak mengatakan beberapa hal yang kuanggap tidak perlu. Aku ingin menjagamu, aku ingin menjaga kakakku, dan sepertinya aku harus memilih satu. Kau tahu aku akan memilihmu, jangan ragukan kepercayaanmu padaku.

Jungkook, aku akan membawamu keluar dari sini. Kita berdua akan pulang…"

Hening beberapa saat sebelum akhirnya sang abadi menghentikan kegiatan makan-nya.

Taehyung mengacak gemas rambut kekasihnya. "Aku akan makan banyak agar kau juga bisa makan yang banyak."

Jungkook menepisnya. "Lakukan sesukamu. Kau mungkin membunuhku, mereka juga akan membunuhku. Keduanya sama saja, aku akan berakhir menjadi abu."

Taehyung melebarkan senyumnya, berbagai emosi tersirat di dalamnya.

Bahagia. Taehyung bahagia karena kekasih tercintanya, paling tidak, mau bicara dengannya.

Kecewa. Ia kecewa kepada dirinya sendiri yang tak mampu lagi membuat Jungkook percaya.

Takut. Taehyung takut jika ucapan Jungkook menjadi kenyataan.

Juga berbagai perasaan lain yang berkecamuk di dalam dirinya.

Ia menunduk, hanya untuk mendapati kedua pergelangan Jungkook yang masih mengenakan borgol dengan batang perak tajam yang menembus pergelangannya tepat di bagian tangah. Mendadak dadanya terasa nyeri.

"Sakit?" bisiknya terlampau lirih. Tangannya terulur meraba perlahan benda dingin berlumuran darah itu. Ia sama sekali tidak terlihat kikuk saat membelainya.

Jungkook tidak menjawab. Saking sakitnya, pergelangannya jadi mati rasa.

"Aku akan menghilangkan rasa sakitnya." Taehyung membawa kedua pergelangan kekasihnya ke depan wajahnya sendiri, lalu perlahan mengecupnya lembut.

Kim Taehyung memejamkan matanya saat mendaratkan kecupan-kecupan ringan di pergelangan kekasihnya yang terlihat mengerikan. Bibirnya bergetar, bukan karena darah menjijikkan yang sekarang juga menempel di bibirnya, namun karena rasa tersayat yang tiba-tiba menggerogoti hatinya.

Jungkook terluka, dan Taehyung merasakan sakitnya. Terasa ringan di tubuhnya, namun begitu menggila di batinnya.

"Bagian ini sudah sembuh." gumam Taehyung memasang senyumnya. Matanya memerah, sang abadi tahu itu. Jemarinya bergetar saat menyentuh pipi pemuda bersurai jelaga yang kemarin lusa mendapat sayat cukup dalam. Kini bagian itu kembali mulus seolah tak pernah terluka.

"Dua hari lagi aku akan kembali. Jaga dirimu baik-baik."

Jungkook mengangguk. Ia sempat melirik bibir pemilik manik coklat tua yang belepotan darah karena menciumi pergelangan tangannya.

Ia masih mengawasinya saat Taehyung mengambil obornya dan berjalan menjauh. Setelahnya, makhluk mortal itu melakukan sesuatu yang membuat jantungnya seolah kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

"Aku mencintaimu." gumamnya sebelum melangkah pergi.

Jungkook melihatnya, bagaimana lidah kekasihnya terjulur untuk mengusap darah milik sang abadi yang menempel di bibirnya sendiri, bagaimana Taehyung menarik salah satu ujung bibirnya, dan bagaimana bibir itu bergerak melafalkan kata manis tanpa suara.

.

.

TBC

.

.

Demi apa scene penyerangan yang sengaja dibikin singkat itu dibuat sambil mendengarkan Gunther - Ding Dong Song

Okay, I'm so done with this stupid couple.

Jangan lupa review dan ungkapkan apapun yang kalian rasakan dan pikirkan yaaa.

Oh, kemarin ada yang kirim PM but I can't open it… idk why…

Masih sangat sibuk namun tetap melangkan waktu karena Tiger mencintaimu…

,

,

Akhir kata, review please