zGymnadenia

Dissclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Angst/Romance/Drama/Fantasy/Hurt/Comfort

Main Chara : Sai, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha.

Warning : AU, OOC, Gaje, Garing, Abal, Mary-sue, ngebosenin. Sai diberi marga Uchiha disini. Don't like, don't read.

(A/N) : speechless karena ending yang…

"Blablabla" = bicara

'Blablabla' = membatin

"Blablabla" = iblis/Malaikat bicara.

.

.

Who's the Devil?

.

Dan kemudian, dengan tegas Sasuke menatap lurus-lurus menembus kegelapan, menarik nafas panjang dengan kedua tangan terkepal. Kuat-kuat ia menahan perasaan egois yang selalu ingin menguasai dirinya. Dengan satu anggukan pasti, diiringi sebuah kalimat. "Ya, saya setuju."

Dan tak ada lagi yang bisa Fugaku lakukan, selain melenyapkan Sasuke.

.

Chapter 10 : Chance

.

Langit mendung seakan menyelimuti seluruh kota Tokyo, matahari tersembunyi dibalik kelamnya awan siang ini. Beribu-ribu tetes air seakan berlomba menapaki bumi siang ini, menyapu semua kegersangan yang ada. Pucuk-pucuk daun seakan berbahagia menyambut kesegarannya. Gedung-gedung tua nan kusam pun seakan menyambut penyegaran siang ini. Benar-benar hari yang tenang dan menyejukkan.

Tepat di tengah-tengah gedung besar beribu kesibukan itu pun, sebuah bangunan mungil—tak terlalu mungil juga, ikut merasakan segarnya siang ini. Tetes hujan pun bertengger pada kaca jendela di sebuah apartemen mungil. Di satu jendela bertirai merah jambu, dengan aksen floral sebagai coraknya. Tirai itu terbuka sedikit membiarkan cahaya menembus masuk ke dalam, dan tampaklah kamar seseorang yang bernuansa merah muda.

Seorang gadis duduk di atas ranjang berseprai putih, dengan kaki yang dipeluk oleh kedua tangan putihnya yang berbalut seragam sekolah. Gadis itu hanya diam, matanya menyorot jauh. Tatapan yang sangat lemah, bahkan diragukan adanya kehidupan di sana. Gadis ini hancur.

"Sasuke…"

Bibir pucatnya bergerak, gemetaran mengucap satu nama itu. Bola matanya yang beriris hijau itu berputar lagi, sepasang tangan itu semakin erat memeluk kakinya. Bibirnya bergerak lagi. "Dia meninggalkan aku, lagi…"

Sisa-sisa tangisannya semalam masih terlihat. Bekas air mata yang mengalir itu masih terlihat jelas di pipinya. Sementara kedua kelopak matanya menebal, sembab. Seakan belum puas, matanya berair lagi, hendak menumpahkan cairannya lagi.

Apa Tuhan masih tetap tega melihat salah satu mahluknya tersiksa seperti ini?

Pertanyaan sia-sia. Sakura—gadis berambut merah muda ini, kini beranjak dari duduknya. Kaki jenjangnya menuntun langkahnya keluar dari dalam kamar yang disadari beraroma cherry ini.

Dan pintu kamar pun tertutup, diiringi derap langkah kaki yang menjauh perlahan.

'Tuhan, bolehkah aku menemuinya?'

.

.

.

"Sasuke sudah lenyap."

Senyap. Pemuda itu tak berkutik.

"Tidak akan ada lagi kehidupan bagi Uchiha Sasuke."

Ditatapnya nanar dua bola mata amethyst di hadapannya. Laki-laki paruh baya itu hanya menunduk sementara helai-helai rambut halusnya ikut bergerak menjadi tirai yang menutupi wajahnya, seakan ikut bersedih akan kabar yang ia perdengarkan sendiri.

Pemuda ini masih diam. Mulutnya terkatup dan seakan tak bisa terbuka. Lenyap? Kata itu bahkan tak pernah terlintas dibenaknya. Debar jantungnya memacu, sementara peluh mulai membanjiri tengkuknya. "Lenyap?" ulangnya.

"Ya." Laki-laki paruh baya itu memutar iris amethystnya, menatap lurus ke dalam bola mata obsidian di hadapannya. Mencoba mencari sesuatu di dalamnya. Mencoba merobohkan semua pertahanan dan sekat di dalamnya. "Sasuke sendiri yang memintanya, pada Dewan Iblis..."

Masih tak berkutik, pemuda itu memutar kalimat yang dilontarkan Hiashi—sang Dewan, kepadanya. Ritme suara harpa memenuhi ruangan putih megah yang selalu diterangi cahaya ini. Sang Dewan kini hanya menatap sang Malaikat murni melalui sepasang bola mata amethystnya.

"Hiashi-sama…"

Hiashi masih menatap bola mata obsidian sang Malaikat murni, sosok Malaikat kesayangannya. "Ya, Sai?"

"Kabulkan satu permohonanku."

Detik kalimat itu terucap, suasana berubah menjadi senyap. Alunan harpa menghilang, tergantikan oleh senyap yang menyesap dalam ruangan ini. Hiashi meneguk ludahnya pahit, ia tahu bocah di hadapannya akan melakukan sesuatu. Dan sesuatu itu, pasti tidak akan disukai olehnya. "Apa?"

"Ambil nyawaku."

Bola mata obsidian pemuda itu bergerak-gerak. Seakan masih ragu akan keputusan yang ia ambil. Hiashi terdiam. Matanya masih menatap lekat ke dalam sepasang obsidian di hadapannya. Masih saja sang Dewan berusaha mencari celah dalam bola mata obsidian yang menawan itu. "Untuk?"

Hening. Sang pemuda belum menjawab pertanyaan Hiashi. Matanya bergerak-gerak tak tenang. Ia ragu. Hiashi menunggu dengan sabar. Walau ia tahu, apa yang ia 'tunggu' tidak akan keluar dari mulut si bocah kesayangannya itu.

"Untuk kehidupan Uchiha Sasuke."

Hiashi terbahak. Laki-laki tua itu menertawai ucapan Sai barusan. Suara tawanya menggema ke seluruh penjuru ruangan ini. "Jangan membuatku tertawa..."

Pemuda itu menggeleng keras. Lekat-lekat di tatapnya sepasang iris amethyst di hadapannya. "Aku bersungguh-sungguh, Hiashi-sama."

Hiashi menghela nafas, tawanya terhenti seketika. Mata amethystnya menyorot tegas kembali. "Tidak bisa. Aku tak bisa mengembalikan kematian seseorang. Itu sudah takdirnya, dan tak bisa dirubah."

Sai meneguk pahit ludahnya. Bola matanya berputar liar. Deru nafasnya terdengar di telinga Hiashi. Sai menunduk. "Masih adakah, kehidupan lain untuknya?"

Hiashi tak menjawab. Deru angin menenggelamkan pertanyaan itu beserta jawabannya. Baik Sai maupun Hiashi, keduanya hanya terdiam, hanyut dalam keheningan.

.

.

.

Asap mengepul, luntur oleh hujan yang masih setia membasahi kota Tokyo. Payung-payung memenuhi jalanan di tengah kota, rintik hujan pun semakin deras menyapa kepadatan jalan siang ini, sedang matahari seharusnya tepat berada di atas kepala. Sayang, cahayanya terhalang oleh kelabunya awan pembawa hujan. Gedung-gedung tinggi pencakar langit pun ikut merasakan kesejukan yang di dantangkan sang hujan. Sungguh kota yang sangat besar, dan sibuk.

Satu kepala merah muda yang sudah basah kuyup, terlihat berbeda di tengah lautan payung-payung yang bergerak berbeda arah. Sang gadis berambut merah muda bergerak dengan langkah tenang, seakan hujan tak sedang turun menyapanya. Rambutnya basah, seragam sekolahnya pun juga sama basahnya. Mata emeraldnya menyorot rapuh, atau bahkan hancur.

Kini sang gadis berhenti, berdiri di depan sebuah zebra cross bersama berbelas penyebrang lainnya. Menunggu lampu hijau tanda 'menyebrang'. Matanya yang sehijau batu jadeit itu menyorot kosong. Gadis itu berwajah pias, lebih pias dari dari seekor cicak. Bulir-bulir air hujan jatuh membasahi wajahnya, namun sedikit pun tak ada niat baginya untuk menyekanya.

Manusia masih lalu lalang, berlari menuju tempat teduh terdekat, atau berjalan santai dengan payung yang melindungi mereka dari hujaman air hujan. Di antara mereka berdisi sesosok berkemeja putih dengan celana panjang yang sama putihnya, berdiri di bawah guyuran air hujan. Helai-helai rambutnya yang sehitam jelaga itu basah, matanya yang sekelam batu obsidian itu memandangi punggung sosok gadis di depannya yang seakan tak menyadari keberadaannya. Sang pemuda masih terdiam di belakang sang gadis, ikut menunggu lampu merah yang sedari tadi belum menunjukan lampu hijaunya.

"Aku ingin menemuinya, Tuhan…"

Mata hitam itu terbelalak. Tenggorokannya serasa serak, membuatnya tak nyaman. Sai—pemuda ini, mendengar ucapan lirih dari sosok gadis di hadapannya. Belum sempat Sai mengulurkan tangannya, menyadarkan sang gadis dari kesalahan yang akan ia perbuat, sang gadis sudah berjalan menerobos kerumunan penyebrang, dengan satu tujuan yang menuntunnya.

Menemui Sasuke.

Sai sontak melangkahkan kakinya cepat, buru-buru menerobos kerumunan penyebrang itu, tak perduli akan bermacam-macam makian yang terlontar ke arahnya. Sakura—sang gadis berambut merah muda, berlari lebih cepat, menjejakkan kakinya di aspal hitam yang basah, menyusuri zebra cross putih padahal lampu penyebrangan masih berwarna merah. Degup jantungnya berdenyut keras, detak demi detak ikut berpacu bersama langkahnya. Oh demi Tuhan, jangan sampai ia kehilangan gadis ini. Gadis yang sudah ia sayangi lebih dari pada dirinya sendiri itu. Dalam hati Sai berucap, berdoa agar dapat mengejar sang gadis.

"Sakura!"

Bunyi klakson semakin membuat bising keadaan. Oh demi Tuhan Sai benar-benar tak ingin kehilangan Sakura. Sai mempercepat langkahnya, memijakkan kakinya secepat mungkin menuju gadis yang kini berjarak dua meter di depannya.

Bunyi klakson panjang di sertai kilat lampu dari arah kanan.

Sai semakin mempercepat langkahnya, begitu melihat Sakura berhenti, menoleh perlahan ke arah sosok benda asing yang datang menuju padanya.

BRAK!

.

.

.

"Aku ingin bertemu dengannya, Sai…"

.

.

.

Bunyi dari mesin pendeteksi denyut jantung menjadi satu-satunya irama di ruangan dengan nuansa putih yang diyakini sebagai sebuah kamar di rumah sakit. Kurdin berwarna putih pucat pada jendela terbuka lebar. Matahari menyusup masuk dengan bebasnya, cahayanya dengan jahil menggoda kelopak mata pucat yang sejak beberapa jam lalu enggan terbuka.

Sosok itu terbaring pada ranjang tinggi, di selimuti oleh kain berwarna abu-abu tebal, di ujungnya bertuliskan Konoha Hospital. Sosok itu masih enggan membuka matanya, meski hangatnya cahaya sudah sepenuhnya menyinari kedua kelopak mata itu. Rambut hitam klimis sang pemuda tergerai begitu saja di atas bantal. Pipi pucat itu terbaret oleh sesuatu, menciptakan bekas luka kecil di pipi mulusnya. Ah, sayang sekali, luka itu membuat pipinya tak lagi mulus.

Pintu ruangan yang berada di pojok kanan terbuka perlahan, sosok berambut pirang dengan empat kunciran masuk ke dalam ruangan. Mata hijau mengabsen benda-benda dalam ruangan tersebut secara cepat. Dia menarik nafas, sudah yakin bila ia tidak salah tempat. Maka dijejakkannya lah kaki tersebut menjauh dari daun pintu yang sebelumnya sudah tertutup secara otomatis. Mendekat ke arah bangku di sisi kiri ranjang pasien.

Temari—sosok berkuncir empat ini, kini duduk di kursi tersebut, sedikit menghela nafas ketika tahu pemuda yang ia kunjungi masih belum siuman. Jika ditilik-tilik lagi, mata si gadis pirang sembab dan memerah. Sorot matanya memandang pedih pada sosok gadis yang masih terbaring kaku di depannya. Ada sesuatu yang tengah terjadi sebelumnya.

Pintu kembali terbuka, kini sosok berambut mirip buah nanas dan seorang gadis berambut pirang lainnya masuk ke dalam ruangan, air mata membasahi wajahnya, ia masih terus menangis, membiarkan seragamnya basah oleh rintik air mata. Sang gadis berjalan cepat ke arah Temari, memeluknya erat, mencoba meluapkan rasa sesak yang bergemuruh dalam dadanya saat ini. Rasa sesak yang seakan menghantamnya sejauh sepuluh meter dari tempatnya berdiri.

Temari balas memeluk Ino—si pirang berkuncir tinggi yang memeluknya, mencoba menenangkan gadis beriris biru laut ini. Kemudian di usapnya lembut punggung si gadis pirang berkali-kali, mencoba menghangatkan, memberi kenyamanan pada sang Kouhai. "Sudah, Ino…"

Ino melepaskan pelukannya, matanya dengan cepat beralih menatap pemuda lain yang sedang terbujur kaku di atas ranjang. Sorotannya menunjukan rasa marah, kecewa, sedih, dan berbagai perasaan lain tercampur aduk di dalamnya. Yang jelas, sorot itu menunjukan kepedihan mendalam. Ino kembali beralih ke sisi pemuda berambut mirip buah nanas yang menemaninya tadi.

Tangan itu bergerak.

Shikamaru—sosok pemuda di sebelah Ino, menangkap gerakan kecil dari tangan kiri si gadis berambut merah muda. "Sai bergerak."

Temari buru-buru memfokuskan pandangannya pada Sai—pemuda yang masih terlelap antar hidup dan matinya. Tangan itu kembali membuat pergerakan, dan seulas senyum terlukis dengan jelas di bibir nona berbola mata jadeit ini.

Kelopak itu bergetar, memberi pergerakan lain. Ino membulatkan matanya, sudut bibirnya tanpa sadar tertarik untuk sebuah senyum tipis. Dan kelopak mata pucat itu pun, menampakan keindahan lain. Sepasang iris onyx laksana obsidian itu bergerak, mencoba beradaptasi dengan lingkungan. Secepat mungkin, iris itu kini menyorot kosong pada sosok Temari.

"Sai!"

Temari tanpa sadar menggenggam erat lengan kiri Sai, meluapkan rasa bahagia yang ia dapat. Bola mata Sai bergerak lagi, menatap dua sosok lain yang berada dalam ruangan. Sai berusaha bangkit dari tidurnya, mencoba duduk untuk mendapat kenyamanan lebih. Temari membantunya cepat dengan telaten. Kemudian mata itu kembali menyapu ruangan, ada yang ia sayangkan tak dapat ditemukan.

"Ke…"

Temari spontan langsung menatap langsung bola mata obsidian dari sobat sekelasnya itu. Menunggu kalimat yang tertahan dari upaya sang pemuda untuk berbicara.

"Kemana… Sakura?"

Mata Ino melotot. Detik berikutnya air mata kembali menetes jatuh dari sudut matanya, kembali membasahi pipi yang sudah hampir kering itu. Dengan cepat Shikamaru memeluk Ino, mengelus-elus kepala pirang itu, memberi kenyamanan dan ketenangan pada Ino. Sai menatap Ino dengan tatapan tak mengerti. Kenapa? Ada yang salah dengan ucapannya?

Temari menunduk, poni pirangnya menutupi pandangan Sai untuk menebak mimik muka sang kawan. "Kemana Sakura, Temari?"

Tak ada suara. Ruangan ini hanya diisi dengan ritme bunyi dari mesin pendeteksi denyut jantung.

.

"Sakura... ia tewas di tempat saat kecelakaan itu menimpa kalian."

.

"Ha…"

Temari tersentak, buru-buru ia kembali mendongak untuk menatap Sai. Pemuda itu tertawa, terbahak-bahak. Namun air mata jatuh mengalir dari kedua bola matanya, membentuk anak sungai. "Temari, kau bercanda ya…"

Temari menjulurkan tangannya, meraih bahu tegap pemuda yang sudah pasti sangat terluka ini. Dan detik berikutnya, raungan perih menyayat dari Sai terdengar dari kamar itu.

.

Takdir kah?

.

Apa yang ingin Hiashi-sama lakukan?

.

.

.

.

Terik matahari menyilaukan, menghujam permukaan bumi dengan ganasnya. Namun cahaya hangat itu rupanya diimbangi oleh udara yang berhembus sejuk masuk ke dalam pekarangan luas dengan bunga bermekaran. Bunga warna-warni beraneka ragam berada di situ, menghiasi pekarangan yang kini dijadikan tempat pesta kecil-kecilan upaya menyambut usia seorang gadis kecil yang menginjak lima tahun.

Semerbak wangi teh hijau tercium dari mug keramik coklat yang di genggam salah seorang yang berdiri di tengah pekarangan itu. Sosok berambut merah itu tengah tersenyum lebar, menggunakan kimono biru tua kebanggaannya. Mata hazelnya memancarkan kebahagiaan. Di sisinya berdiri sosok perempuan berambut pirang panjang terurai, dengan bola mata jadeit, mendampingi suaminya menyambut para tamu.

Ya ya, ini adalah pesta ulang tahun seorang gadis kecil Akasuna yang ke lima. Pesta kecil yang cukup meriah. Sementara sang gadis Akasuna berdiri di sebelah kedua orang tuanya. Ia mewarisi bola mata jadeit bersinar milik ibunya, namun untuk rambutnya, tak tahu dari mana ia mewarisi warna merah muda cerah itu. Si gadis menggenggam mug kecil berisi jus jeruk favoritnya. Summer dress cantik berwarna putih gading menyempurnakan hari jadi kelimanya.

Sang ibu—Temari, meraih tangan kecil sang putri, menggenggamnya erat, seakan takut kehilangan. Si putri kecil hanya menatap kedua orang tuanya tak mengerti, namun tak berniat sedikit pun melepaskan genggaman tangan sang ibu.

"Sasori-nii! Temari-nee!"

Baik Temari, maupun Sasori, keduanya menoleh serentak menatap sosok wanita berambut indigo panjang, didampingi oleh sosok pria yang merupakan adik kelas mereka sewaktu di sekolah menengah. Sang ayah yang berambut pirang menghampiri Sasori, bersalaman dengannya, lalu beralih pada Temari. "Wah, Nii-san dan Nee-san akur sekali ya…"

Temari terkikik geli. "Kau juga, dengan Hinata. Akur sekali…"

"Eto…" si wanita muda berambut indigo menunduk, menyembunyikan rona merah muda di pipinya, masih menggaet lengan pemuda kecil di sisinya.

Naruto tersenyum, di tatapnya sebentar gadis mungil di sisi Temari, lalu kemudian ditariknya semacam senyuman untuk hadiah pembuka. "Selamat ulang tahun ya, Sakura…"

Sakura—sang gadis kecil menarik cengiran lebar untuk membalas ucapan itu. "Iya, terima kasih Paman Naruto…"

"Hey Sakura, kali ini seperti janji Paman, Paman sudah membawa teman baru untukmu. Err, lebih tepatnya kakak…" Naruto menoleh ke arah belakang, ke arah sosok pemuda kecil berambut biru tua dengan polo shirt hitam dan celana panjang, berdiri di samping wanita berkimono merah muda lembut dengan rambut indigo yang dikuncir tinggi. Naruto memanggil sang pemuda kecil yang berambut model emo itu dengan isyarat tangannya. "Sini, kenalan dengan Sakura."

Sang pemuda menatap ayahnya dengan tatapan malas, memutar bola mata beriris onyxnya sejenak, lalu berjalan mendekat ke arah dua orang tersebut. Naruto menarik sang pemuda kecil agar semakin mendekat. Sang gadis mungil mengulurkan tangannya. "Aku Sakura…"

Sang pemuda kecil ini menatap Sakura lama, lalu meraih jabatan tangan Sakura. "Uzumaki Sasuke."

"Uzumaki Sasuke?"

Jauh di ujung pekarangan, sosok dengan kimono abu-abu, menatap jauh ke arah sekumpulan keluarga yang tengah bercengkrama dengan hangatnya. Di sebelahnya berdiri sosok gadis berambut pirang yang dikuncir tinggi. Sementara matanya yang beriris safir itu tak henti menatap sang pemuda di sampingnya. Mata onyx sang pemuda menyorot bahagia menatap jabatan tangan antar dua anak kecil yang kira-kira berselisih umur setahun itu. Rambut klimisnya ditiup angin, kemudian dia tersenyum menyeringai. "Babak kedua dimulai, eh?"

.

Jadi, siapakah iblisnya?

.

Owari

.

.

(A/N) :

Mohon maaf akan ending yang nggak jelas ini.

Endingnya saya ambil adegan beberapa tahun mendatang sejak kematian Sakura. Yang terakhir menyeringai itu adalah Sai. Di sisinya ada Ino. Jangan tanya pada saya bagaimana nasib karakter lain, ah mereka berbahagia kok. #ditonjok

Ah ya, terima kasih telah mengikuti "Who's The Devil?" sampai akhir.

Terima kasih banyak atas bimbingan yang telah teteh Ninja-edit berikan selama ini.

Terima kasih sekali pada suami saya tercinta yang bersedia mengingatkan saya untuk update ini secepatnya, LuthRhythm.

Terima kasih untuk Andromeda no Rei, yang selalu menagih updatenya fic ini lewat fb.

Terima kasih banyak untuk semua readers, maaf tak bisa di sebut namanya. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Last, bersediakah memberikan feedback semacam review?

Saya menunggu :3

.

.

.

Sign,

Gymnadenia.