Naruto by 'Masashi Kishimoto' "THE RED HAIR COUPLE" – Clareta Vero

'Akatsuki Chikara Arc'

Disclaimer: Tokoh karakter, tempat, dan property lain milik pencipta asli (kecuali Fushame). Hanya untuk berbagi cerita dan hiburan semata!

Warnings: AU, OC & OOC, Many clarify and dialogue, 'cripsy' crack and kidding, mystery and many skip time! Just two choice, "READ" or "DON'T Read"…

R&R please…?

Chapter10: The Darkness War Will Come!

Perang pun tiba. Terlihat banyak sekali pasukan yang sedang berjaga dan ada juga yang sedang beristirahat di kala malam seperti ini. Naruto terlihat paling tidak tenang, jari telunjuknya terus saja mengetuk-ketuk meja yang berada di depannya. Meja bundar yang cukup besar yang biasa digunakan para kage untuk berkumpul dan membuat strategi. Para kage terlihat termenung bingung dalam lamunan di angin dingin malam ini.

"Tidak usah dipikirkan lagi, Naruto," kata Gaara tiba-tiba yang membuyarkan lamunannya Naruto. Naruto sedikit tersentak.

"Aku sudah mengirim pesan pada mereka. Apakah benar mereka mengkhianati kita?" Tanya Naruto yang terdengar lemas dan lelah. Lelah karena ia telah berperang melawan musuh yang jumlahnya sangat banyak itu. Lebih banyak dibandingkan dengan pasukannya sendiri. Mizukage menatap Naruto dengan senyuman kecil.

"Sudahlah, jika mereka tidak bergabung dalam perang ini, kita pasti juga akan memenangkan perang ini," kata Mizukage.

"Benar, yang terpenting saat ini, kita harus beristirahat untuk berperang esok hari lagi," tambah Raikage.

Tsuchikage juga menambahkan, "Besok pasti akan terdapat lebih banyak edo tensei dari ninja-ninja yang lebih hebat. Dan juga pasti lebih kuat dari yang hari ini,"

"Kita harus memenangkan perang ini," kata Gaara dengan mantap. Semua kage mengangguk tanda setuju dengan perkataan Gaara. Kemudian para kage pun bangkit berdiri dari tempat duduknya dan menuju ruang istirahatnya masing-masing.

Aku harus yakin akan diriku sendiri. Mereka tidak harus datang, mereka juga mantan Akatsuki yang selalu memberikan kesakitan pada dunia ninja ini. Sekali akatsuki akan jadi akatsuki selamanya, batin Naruto yang mulai pasrah jika para mantan Akatsuki itu tidak datang.

DI SISI LAIN…

"Bodoh! Jangan injak jubahku, Deidara Bodoh!" kata Sasori yang kesal karena seseorang yang berjalan di belakangnya telah menginjak jubah birunya. Kalau dahulu saat berada dalam organisasi akatsuki mengenakan jubah berwarna hitam dengan lambang awan merah, berbeda dengan organisasi Yahiko yang terbaru ini yang mengenakan seragam jubah berwarna biru tua polos.

"Maaf! Semak-semak ini menghalangi penglihatanku, hmm…" sahut Deidara sambil menyingkirkan semak belukar yang menutupi matanya itu.

"Mengapa kita melewati hutan kematian seperti ini sih, ketua Yahiko?" kata Hidan yang membawa pedang tiga matanya itu. Sedangkan Kakuzu yang berada di belakangnya mengibas-ibaskan tangannya untuk menyingkirkan sarang laba-laba yang menutupi matanya juga.

Yahiko yang berjalan di barisan paling depan pada rombongan itu hanya menoleh sedikit.

"Kita sedang berperang secara diam-diam. Jangan sampai para kage dan yang lain mengetahui kalau kita juga ikut berperang," sahut Yahiko dengan sedikit menghela napas karena anggota organisasinya itu selalu mengoceh yang tidak habisnya. Ada yang bertengkar, ada yang terus mengeluh, ada juga yang bergerak yang macam-macam. Yang waras hanya Konan, Nagato, Yahiko, dan Itachi sepertinya.

"Tetapi kalau kita melewati hutan seram ini bagaimana kita akan sampai ke medan perang?" kata Hidan yang lagi-lagi terus bertanya sambil mengibaskan pedangnya untuk menyingkirkan semak-semak yang menghalanginya.

"Ini hanya jalan pintas saja. Sebentar lagi kita juga akan sampai di lokasi medan perang," sahut Itachi dengan nada datar dan tenang.

"Oh baguslah," sahut Sasori sedikit tersenyum gembira.

"Memang lokasi medan perangnya dimana, sih?" lagi-lagi Hidan bertanya yang tidak masuk akal. Kakuzu memukul kepalanya lagi dengan cukup keras.

"Dasar lamban, bukankah tadi Yahiko – sama sudah menjelaskannya!" kata Kakuzu kesal.

"Sudahlah, diamkan saja si Hidan itu. Kerjaannya hanya bertanya dan bertanya," kata Nagato yang mulai kesal karena mendengar Hidan yang dari tadi bertanya terus menerus. Akhirnya Hidan diam karena dipukul oleh Kakuzu. Ia hanya sedikit merintih karena menahan rasa sakit itu. Kemudian tiba-tiba Yahiko menghentikan langkah kakinya, ia menatap ke depan dan menyingkirkan semak yang menghalangi pandangannya.

"Kita sudah sampai," kata Konan begitu melihat Yahiko yang sedang mengendap-endap memata-matai yang ada di depannya. Sebuah markas pasukan gabungan shinobi. Terlihat remang-remang karena sudah malam dan hanya diterangi oleh beberapa buah obor. Namun, terdapat beberapa orang yang sedang berjaga di depan markas itu. Terlihat tenang, sepi dan hening. Melihat Yahiko yang sedang berjongkok melihat secara diam-diam ke markas shinobi itu, semua orang yang berada di belakangnya itu, ikut-ikutan mengintip pula.

"Hmm, markas yang hening, un…" kata Deidara sambil mengintip.

Sasori juga ikut-ikutan mengintip ingin tahu, "Benar. Ini sudah tengah malam yang akan menjelang pagi, jadi pasti mereka sedang tidur lelap di tenda itu," katanya sambil menunjuk sebuah tenda besar yang berada sekitar jarak 1 kilometer dari tempat pengintipannya.

"Enak sekali, kita berada di tempat menyeramkan ini sedangkan mereka tidur di tempat yang hangat seperti itu," keluh Hidan sambil melipat tangannya di dada. Yahiko hanya menghela napas keras membuat para anak buahnya itu menoleh kepadanya. Termasuk si tiga orang bawel ditambah si Sasori.

"Kenapa Yahiko? Kau sedang sakit?" Tanya Konan merasa khawatir. Yahiko menoleh sambil tersenyum tipis.

"Tidak, sudah lebih baik. Tadinya aku mengidap penyakit yang berbahaya," aku Yahiko.

"Ya ampun. Kau menyimpan masalah ini sendirian, Yahiko," kata Nagato sedikit terkejut.

"Sudah bukan masalah, muridku sudah menyembuhkan penyakitku dengan obat yang ia buat sendiri," jelas Yahiko dengan tenang.

"Akulah yang mengajarkan cara membuat obat itu padanya," kata Sasori merasa bangga sambil mengelus dadanya, "Ketua, dia bukan hanya muridmu. Tapi muridku pula," lanjut Sasori seraya mengangkat tangannya.

"Ssst! Kecilkan suaramu, nanti mereka mengetahui keberadaan kita," kata Itachi sambil menyumpal mulut Sasori dengan tangannya.

Tak terasa fajar telah datang di medan perang ini lagi.

"Kita akan mulai lagi," kata Naruto begitu berdiri di depan jendela besar bersama ke empat kage yang lainnya.

"Ya, kita harus segera bersiap," sahut Tsuchikage dengan senyumannya. Bergegas, Mizukage pergi untuk menyelidiki keadaan para Daimyo yang telah diamankan di suatu desa. Tsuchikage, Raikage, dan Naruto menuju ke tempat markas pusat untuk mengatur jalannya strategi perang saat ini. Sedangkan Gaara sebagai Kazekage maju ke garis depan karena dia adalah pemimpin pasukan dari sebuah divisi. Dalam perang ini pasukan dibagi menjadi beberapa divisi. Akhirnya perang dimulai lagi, segala kekuatan dikerahkan dengan seluruh tenaga.

PADA DIVISI YANG DIPIMPIN HATAKE KAKASHI…

"Kakashi – sama, dibelakangmu!" kata seseorang dari klan Nara. Kakashi menoleh cepat dan nyaris saja.

"Apa ini? Kapan mereka datang?" Tanya Kakashi sambil membuka mata sebelahnya yang biasa ia tutup.

"Mereka datang begitu saja, ditambah kabut ini menghalangi penglihatan kami," sahut Sai sambil memegang kunai.

"Semuanya tetap waspada! Zabuza selalu menyerang dengan tiba-tiba," peringat Kakashi.

"Ini bahaya, baru memulai sudah dikejutkan oleh musuh yang kuat begini," kata Omoi mengeluh, "Aku masih mengantuk, oahemm!" lanjuntnya sambil menguap.

"Omoi, tetap waspada!" peringat Kakashi lagi begitu melihat Omoi yang bersungut-sungut tidak jelas sambil memegang pedangnya itu. Tiba-tiba, Haku dan Zabuza memanggil edo tensei lain melalui Kuchiyose. Dan keluarlah shinobi masa lalu yang sangat tidak diharapkan.

"Ini buruk Kakashi – sama. Mereka adalah mantan 7 ninja pedang legendaris dari Kirigakure terdahulu, dan mereka adalah yang terkuat," kata seseorang dari Kirigakure kepada Kakashi begitu melihat para edo tensei yang baru saja muncul dipanggil oleh Haku dan juga Zabuza.

BERALIH PADA DIVISI LAIN…

"Ini terlalu banyak!" kata Kiba mengeluh.

"Sudahlah, berhenti mengeluh dan terus hajar monster putih ini," sahut kakaknya Kiba, Inuzuka Hana, yang berada di belakangnya sambil menghajar setiap zetsu putih yang mendekati mereka.

Shino tiba-tiba sudah berada di sebelah Kiba dan membuat Kiba terkejut, "mereka masih sangat banyak," katanya.

"Masih berapa lagi memang?" Tanya Kiba yang terlihat mulai kelelahan.

"Mungkin masih ada lima puluh ribu lagi yang harus kita binasakan," sahut Shino dengan tenang sambil mengendalikan serangga-serangganya.

"Apa? Lima puluh ribu? Mungkin aku baru membunuh seratus zetsu putih ini. Belum ada seribu saja sudah lelah begini, bagaimana dengan lima puluh ribu. Ampun deh!" kata Kiba sambil menyerang zetsu putih dengan kunainya. Sedangkan Akamaru hanya menggonggong tidak jelas.

DIVISI 1…

"Apa-apaan ini? Banyak sekali yang akan menjadi lawan kita," kata Tenten begitu melihat lawannya adalah ribuan zetsu putih dan juga edo tensei dari ninja-ninja yang hebat dari masa lalu. Seperti, Kin-Gin Bersaudara yang memiliki aura seperti Kyuubi, lalu ada pula Asuma, Dan, Hizashi dan yang lainnya. Semuanya adalah shinobi hebat.

"Ini adalah lawan yang sangat membosankan!" kata Darui tidak jelas.

DIVISI 4…

Pada divisi yang dipimpin oleh Gaara ini lawannya adalah edo tensei dari para kage terdahulu.

"A-ayah," kata Gaara begitu melihat sosok ayahnya bersama dengan kage yang lain seperti Raikage ke-3, Mizukage ke-2, Tsuchikage ke-2. Lawan yang rumit.

Sebuah bola besar yang berfungsi sebagai alat Komunikasi, sekaligus radar berada di markas pusat, sekaligus tempat para Kage sekarang.

"Apa? Kebangkitan para kage katamu?" kata Raikage yang terkejut sambil bangkit berdiri karena kesal.

"Kalau begini caranya, punggungku tidak akan menerima ini. Aku akan membantu Kazekage kalau begitu," kata Tsuchikage, si tua O'onoki.

"Hmm, ini sangat merepotkan. Akatsuki sangat menyebalkan, aku juga akan maju ke barisan depan," kata Naruto sambil bangkit berdiri mengikuti O'onoki.

Di lain sisi, pada divisi 5 yang bertarung sengit melawan edo tensei Hanzou si Salamander, Kaguya Kimimaro, dan Chiyo. Semua bertarung sengit. Semua shinobi mengeluarkan jurus rahasia dan andalan mereka.

DI SISI YAHIKO YANG SEDANG MENGINTAI DIAM-DIAM…

"Lagi-lagi kau menginjak jubahku!" kata Sasori kesal memarahi Deidara lagi.

"Sudahlah. Kecilkan suara kalian," kata Konan memperingatkan. Kini mereka sedang berada di balik dedaunan dari semak belukar yang cukup tinggi.

"Yah, payah! Lawan begitu saja tidak bisa!" kata Hidan yang seperti biasanya, menghina orang lain. Ia sedang melihat seorang shinobi dari Suna kalah begitu melawan para kage itu. Benar, mereka sedang berada di divisi empat yang dipimpin oleh Gaara. Herannya, tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaan mereka.

"Diamlah, Hidan! Seperti kau bisa mengalahkan para kage itu," kata Kakuzu mencoba menghentikan Hidan yang dari tadi mengoceh sambil menggerak-gerakkan tangannya dan menyenggol Kakuzu berkali-kali. Itu membuat Kakuzu kesal.

"Menurut informasi dari surat ini, pasukan dibagi menjadi beberapa divisi yang memencar ke segala tempat," jelas Konan sambil membaca surat pemberian Naruto. Yahiko hanya merenung diam. Sedang Nagato yang berada di sebelah kirinya itu terus mengintai keadaan perang dengan mata Rinnegan-nya, tiba-tiba matanya terbuka lebar…

"Apa? U-uzumaki Naruto?" kata Nagato terkejut begitu melihat Naruto dan O'onoki muncul dan berdiri di sebelah Gaara.

Situasi perang menjadi sangat sengit. Banyak korban sudah berjatuhan. Namun edo tensei para kage yang masih memiliki kekuatan besar seperti dahulu, belum terluka sedikit pun.

"Ini payah!" kata Naruto mengeluh.

"Jangan merendahkan shinobimu, Hokage," kata O'onoki mengingatkan.

"Maksudku, akulah yang payah. Aku tidak bisa melawan kage terdahulu ini dengan cepat," keluh Naruto lagi sambil terus melawan kage itu.

Gaara menoleh sebentar, "Sudahlah, kita dapat mengalahkannya dengan pelan-pelan," hiburnya.

"Baiklah, aku akan terus maju!" kata Naruto yang mulai bersemangat lagi. Kemudian ia langsung melompat ke arah Mizukage ke-2. Sedangkan Gaara melawan ayahnya sendiri. Dan O'onoki melawan mantan gurunya sendiri. Semua berusaha dengan keras. Kage vs Kage.

Sulit memang. Ditambah lagi Raikage yang tidak memiliki lawan kage, ia menghabisi pasukan shinobi dengan kekuatan Raiton-nya. Wah, bagaimana ini? Jika begini terus, pasukan gabungan shinobi pasti akan kalah. Ditambah lagi, kini para kage yang melawan kage-kage terdahulu itu sudah mulai kelelahan. Namun, edo tensei dari kazekage ke-4 sudah dapat tersegel. Begitu pula edo tensei dari Mizukage ke-2 dan Tsuchikage ke-2. Sekarang tinggal mengalahkan Raikage ke-3 dengan bersama-sama. Bekerja sama memadukan kekuatan satu sama lain. Tambah sulit, kekuatan Raikage ke-3 ini sangat cepat dan besar. 3 kage yang melawannya terpental berkali-kali. Hingga mereka mengeluarkan kekuatan rahasia mereka.

"Raikage sangat kuat!" kata O'onoki mulai kelelahan.

"Benar, aku sudah sedikit lelah," sahut Gaara yang terlihat sangat acak-acakan. Mulai dari wajah sampai rambut yang terlihat berantakan.

"Chakraku sudah hampir habis," tambah Naruto lagi sambil mengusap dahinya yang terlihat berkeringat.

"Simpan chakramu, Naruto. Aku yang akan menyelesaikannya. Masih banyak lawan yang lebih hebat setelah ini," kata Gaara dengan lembut. Naruto menoleh kepadanya dan menggelengkan kepalanya dengan cukup keras.

"Tidak! Aku akan mengalahkan semua edo tensei sampai nafas terakhirku," kata Naruto dengan keras. Gaara sedikit tercengang mendengarnya. Mendengar itu, ia menjadi tersenyum kecil dan lebih bersemangat. Ia juga menjadi teringat sesuatu. Teringat seorang gadis yang memiliki kekuatan besar dan memiliki tekad yang besar pula untuk melindungi kalung peninggalan keluarganya yang sangat dicintainya.

Namun, kalung itu hancur juga dan itu menyebabkan gadis itu membencinya. Menjauh dan menghindarinya hingga ia tertangkap para bandit dan hampir saja meninggal karena gadis itu ingin menghindarinya. Setelah itu, Gaara tidak pernah bertemu dengan gadis itu. Tidak tahu mengapa, setelah itu ia menjadi sangat bingung. Seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga, kehilangan sesuatu yang sangat ia sayangi.

Oleh karena itu ia menjadi sering melamun. Ia tidak tahu apa yang hilang darinya, terus memikirkan segala hal yang ada di dekatnya. Dan kini ia sudah tahu jawabannya. Yang hilang darinya adalah gadis itu. Segala perbuatan ia lakukan demi bertemu dengan gadis itu. Namun, kini ia manghilang. Lenyap. Binasa begitu saja. Dan sudah 5 tahun rasanya tidak bertemu. Ia berpikir, sia-sia saja mengejar gadis itu lagi. Akhirnya, ia berusaha melupakan gadis itu. Tapi, pada akhirnya ia tetap tidak bisa melupakan gadis itu.

"Gaara!" teriak seseorang yang membuyarkan lamunannya. Ternyata raikage sedang berusaha menyerangnya dari belakang. Untungnya, pasir Gaara sempat untuk menutupi Gaara dari serangan itu. Namun, raikage dapat menembusnya dan membuat Gaara terpental jauh. Temari menghampirinya sambil memperingatinya.

"Jangan melamun terus! Ingat, lawanmu saat ini sangat kuat!" Gaara membuka matanya lebar-lebar karena merasa terkejut. Lagi-lagi ia melamun disaat perang hebat ini. Ia bangkit berdiri. Naruto dan O'onoki terus berusaha untuk menyerang Raikage itu. Namun, kekuatan raikage sangatlah hebat. Segala serangan dapat ia hentikan dengan mudah. Raikage terlihat terhenti dan membungkukkan tubuhnya seperti sedang melakukan kuchiyose.

Oh Tidak! Lagi-lagi edo tensei baru muncul lagi. Dan kali ini adalah…

Yondaime Hokage. Ayah Naruto sendiri. Mata Naruto terbelalak seketika. Hatinya menjadi sangat kesal karena ayahnya juga dikendalikan seperti ini.

"Naruto," sapa ayahnya dengan lembut. Naruto masih terbelalak dan terdiam dengan mengepalkan tangannya sangat kuat. Gaara menatap Naruto dengan perasaan iba. Dan ia menepuk punggung Naruto.

"Jangan lengah," katanya dengan lembut. Naruto menganggukan kepalanya dengan sedikit ragu.

Masalah Raikage saja belum selesai, sekarang sudah muncul lawan baru yang lebih kuat lagi. Menyebalkan. Mau tidak mau, ketiga kage itu harus terus menyerang kedua mantan kage itu dengan sekuat tenaga. Sedangkan mantan kage itu melancarkan serangan dengan terpaksa. Mereka sedang dikendalikan oleh penggunanya yang tak lain adalah Orochimaru dan Kabuto.

Di balik itu semua, kedua orang yang menjadi dalang edo tensei ini cekikikan dengan tidak jelas.

"Pasti kita akan menang," kata Orochimaru sambil tertawa cekikikan.

"Edo tensei adalah jurus yang sangat kuat dan sulit untuk dihentikan," tambah Kabuto dengan tertawa kecil pula.

Kembali ke divisi empat yang memiliki lawan yang sangat kuat. Para kage sudah sangat terhimpit. Kedua kage terdahulu itu terus menyerang dengan kekuatan besar membuat para shinobi yang berada di situ harus terus menguras chakranya.

"Ini gawat,"kata Gaara tiba-tiba. Ia menoleh, melihat ke arah kage terdahulu itu terus menyerang pasukan shinobi dengan mudah. Akhirnya Naruto memutuskan untuk melawan ayahnya sendiri. Kemudian Gaara melawan raikage bekerja sama dengan O'onoki. Pertarungan menjadi sengit tanpa memandang dan memikirkan lawan mereka.

Naruto terus menyerang dengan sekuat tenaga, namun sia-sia. Segala jurusnya terus ditangkis dengan mudah. Naruto sudah terkapar lemas, tubuhnya menjadi terasa lemas dan kaku seketika. Ia terjatuh dan entah mengapa ia tidak dapat bangkit lagi. Begitu pula Gaara yang terlihat sangat lemas dan O'onoki yang terlihat telah kehabisan chakra.

Sedangkan kedua kage terdahulu itu terus saja menyerang dengan tanpa lelahnya. Kemudian dengan terpaksa, Yondaime Hokage melancarkan sebuah serangan besar pada Naruto, begitu pula raikage yang akan menyerang Gaara dan O'onoki.

"Oh, tidak! Aku harus bangkit!" kata Naruto dengan nada yang sangat lemas berusaha bangkit berdiri dan mengusap darah di tepi bibirnya. Namun ia tidak dapat bangkit. Sedangkan ayahnya sudah berlari ke arahnya dengan sebuah rasengan.

"Bagaimana ini? Aku sudah tidak dapat bangkit lagi," kata Gaara yang tak kalah lemas. Ia juga sudah tidak dapat bangkit berdiri lagi. Raikage yang sekitar jarak dua meter darinya sudah siap akan menyerangnya. Begitu pula O'onoki yang juga sudah terkapar lemas.

"Punggungku menjadi sangat sakit, ini gawat," tambah O'onoki sambil memegang punggungnya. Musuh mereka sudah mendekat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya berusaha bangkit berdiri dan segera mendapat perlindungan. Namun mereka terlambat. Sebelum dapat berdiri kage terdahulu itu sudah mendekat dan…

BLAR!

Seseorang menolong. Sekelompok orang. Membantu dan melindungi mereka, dengan menahan para kage itu.

Kelima tubuh Pain muncul disusul dengan anggota mantan Akatsuki itu. Dalam sekejap, mereka dapat menghentikan gerakan para kage terdahulu itu. Naruto, Gaara, dan O'onoki menjadi sangat tercengang. Orang-orang yang mereka anggap pengkhianat akhirnya datang.

Datang pada waktu yang sangat tepat. Di saat mereka sudah tidak berdaya dan kehabisan chakra. Namun, entah mengapa, begitu mereka datang chakra ketiga kage itu kembali lagi. Mereka muncul dengan seragam dan lengkap. Memakai jubah biru tua yang sangat tidak menunjukkan anggota Akatsuki.

"Maaf, karena kami datang terlambat," kata Yahiko mencoba meminta maaf dengan nada dingin. Ketiga kage itu tercengang melihat kedatangan mantan anggota akatsuki itu.

"Ya-ya… Yahiko," kata Naruto dengan tersenyum lebar.

"Cepat segel mereka," perintah Yahiko. Seseorang yang bertugas untuk menyegel segera mengangguk dan menyegel kedua kage terdahulu itu.

"Akhirnya kalian datang," kata O'onoki dengan sedikit senyum kecil.

"Maaf karena kami baru tiba, perjalanan dari markas kami menuju kemari cukup jauh," kata Konan lagi.

"Itu semua bohong," kata Hidan sambil melipat tangannya. Namun setelah itu Kakuzu memukul kepalanya. Lagi- lagi dipukul lagi.

"Hah, tidak apa. Yang terpenting kalian datang," sahut Naruto lagi. Lalu Yahiko mendekati Naruto dan mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Dan yang menghampiri Gaara dan O'onoki adalah Sasori dan Deidara.

"Ternyata kau juga ingin ikut perang, Deidara," kata O'onoki sambil menerima uluran tangan Deidara.

"Aku ingin menyebarkan seniku orang tua, hmm…" sahut Deidara.

"Bukankah kau sudah mati, Sasori?" Tanya Gaara begitu melihat Sasori yang menghampirinya dan mengulurkan tangannya.

"Itu semua ada rahasianya aku dapat hidup kembali seperti ini," sahut Sasori dengan nada datar.

"Rahasia?" Tanya Gaara bingung. Sasori tersenyum kecil.

"Sebenarnya…" sahutnya "Muridku lah yang membangkitkanku lagi. Bukan hanya aku yang ia bengkitkan, tetapi, Deidara, Yahiko, dan yang lain juga ia bangkitkan," jelasnya.

"Muridmu?" Tanya O'noki masih penasaran.

"Ya, muridku yang bernama…" sahutnya namun terpotong oleh peringatan dari Nagato.

"Sasori! Belum saatnya," Sasori menoleh terkejut. Kemudian akhirnya ia hanya tertawa kecil.

"Baiklah," kata Sasori sambil mengangguk.

"Akhirnya masalah selesai," kata Naruto dengan senyum gembira. Yahiko menoleh.

"Tidak semudah itu, justru kita baru mulai," katanya dengan serius dan tegas.

"Apa?" Naruto sedikit terkejut. Dibalik itu…

"Sial! Bagaimana mungkin kage-kage terdahulu ini dapat dikalahkan! Sial!" kata Kabuto kesal.

"Kalau begini terus, kita harus mengeluarkan kartu truf kita," sahut Orochimaru sambil mengeluarkan biji-bijian kecil dari sakunya.

"Oh, benar juga. Untung kita memiliki kartu As ini," kata Kabuto sambil cekikikan tidak jelas.

Sedangkan pada divisi empat semuanya sedang berlari menuju divisi satu untuk memberi bantuan pada divisi tersebut. Kemudian, Mizukage dan Raikage tiba-tiba sudah tiba dan ikut ke barisan depan. Berlari secepatnya, karena menurut informasi yang didapatkan dari tim intel pada divisi 1 yang dipimpin oleh Darui memiliki lawan yang sangat kuat dan sulit. Lawan pada divisi 4 sudah dibereskan. Sekarang tinggal menyelesaikan masalah satu per satu.

Matahari terus bersinar terang di atas kepala mereka. Teriknya matahari membuat kepala mereka bercucuran keringat. Perjalanan mereka terhenti seketika, edo tensei muncul kembali.

Lalu kali ini, lawan mereka adalah…

Gawat! Ini adalah…

MADARA UCHIHA!

"Apa? Bagaimana ini?" Hidan bingung dan mulai mengeluh tidak jelas.

"Ini gawat! Bagaimana ini?" ulang Kakuzu.

"Ini sangat gawat, kita harus bagaimana ini, hmm…" ulang Deidara.

"Bodoh! Sudah perang masih saja mengulang-ulang begini," kata Sasori yang sebenarnya juga bingung begitu melihat sosok Madara. Namun menjadi kesal, karena si tiga orang bawel itu terus mengulang-ulang perkataan yang sama.

"Kalian lari ke divisi 1, bantu divisi itu. Aku, Konan, dan Nagato akan melawanya dengan sekuat tenaga," kata Yahiko tanpa berpikir panjang. Konan dan Nagato sedikit terkejut dengan pemikiran Yahiko itu, tapi ini semua demi dunia shinobi. Mereka harus mengalahkannya.

"Ketua, itu sangat beresiko," kata Itachi merasa khawatir.

"Itu sangat berbahaya," tambah Sasori. Sedangkan tiga orang bawel hanya mengelus kepalanya karena habis dipukul Sasori.

"Kalau begitu. Itachi, kau lakukan rencanamu. Sasori, Deidara, Hidan, dan Kakuzu, kalian berikan bantuan pada divisi 1. Kedudukanku digantikan oleh Sasori untuk sementara. Kalian mengerti?" jelas Yahiko. Mereka semua mengangguk dengan wajah khawatir. Sedangkan para kage merasa kagum dengan keputusan Yahiko itu, terdengar sangat berani dan kuat.

"Kalau begitu, kami para kage akan ikut membantumu melawan Madara," kata raikage dengan mantap. Begitu pula kage yang lain, mengangguk pasti tanpa memedulikan resikonya melawan si Madara.

"Shikamaru, gantikan aku! Pimpinlah divisi 4 ini sementara waktu. Ikuti mantan akatsuki ini menuju divisi 1," kata Gaara seraya menoleh pada Shikamaru. Shikamaru mengangguk dan memberikan aba-aba pada pasukannya untuk segera berlari menuju divisi 1. Mantan akatsuki pun juga ikut menuju divisi 1. Itachi melesat ke lain arah untuk menjalankan rencananya.

Dan inilah pasukan baru kita. Madara vs 5 kage dan Yahiko, Konan, Nagato dari Amegakure.

CHAPTER 10 END!

Next Chapter

"Ketua! Ada edo tensei dirimu," kata Kakuzu dengan sedikit terkejut. Sasori menoleh.

"Hn, itu hanya perbuatan muridku," sahut Sasori.

"Apa?" tanya Deidara bingung.

...

Hidan menghela napas, "Siapapun itu, aku akan mengalahkannya," kata Hidan dengan tersenyum percaya diri.

"Aku juga akan mengalahkannya," tambah Deidara tak mau kalah. Setelah berkata demikian, tiba-tiba terjadi seperti gempa bumi. Tiga orang bawel itu menjadi sangat bingung. Demikian juga Sasori dan juga shinobi yang lain.

"Apa lagi ini?" kata Shikamaru kesal. Kemudian tiba-tiba muncul bijuu 'Shukaku' dari bawah tanah. Shukaku terus meraung dengan keras dan kuat. Ekornya yang kuat terus dikibas-kibaskan ke orang-orang yang ada di depannya.

"Apa? Shukaku?" kata Sasori tercengang.

"Ini bahaya, Shukaku muncul begitu saja dengan serangan langsung luar biasa seperti ini." Kata Shikamaru terlihat bercucuran keringat dingin di dahinya.

...

Terimakasih untuk readers setiaa... ^^