Rasanya membingungkan.

Ia yakin bahwa tubuhnya masih hidup. Ia masih merasa jika hidungnya bernafas. Ia masih merasa kedua kakinya menapak pada tanah. Dan ia masih merasa bahwa jantungnya berdetak hingga kini.

Namun sesuatu terasa seakan mati. Dan sesuatu itu adalah jiwanya.

Tubuhnya ada, namun Ryeowook mencari dimana jiwanya berada. Ia merasa seperti tak bernyawa. Tubuhnya terasa kaku, dan kedua pandangannya kosong. Ia hanya menatap lurus ke depan tanpa sebuah alasan.

Mati. Rasanya seperti mati.

"Ryeowook…"

Bahkan, disaat sebuah tangan kini menggenggam kedua tangannya, Ryeowook masih diam. Ia pun tak menyempatkan kedua matanya menatap dua sorot hitam milik pria yang kini bersimpuh di hadapannya. Berdiri dengan kedua lutut sebagai tumpuan, di hadapannya yang masih duduk di bangku taman hingga saat ini.

"Maafkan aku…"

Genggaman tangan itu mengerat. Ryeowook bisa merasakannya dengan jelas. Tak hanya genggaman, pria itu kini mendekatkan wajahnya. Ryeowook merasakan deru nafas hangat menyapu punggung tangannya, dan bahkan kini rasa basah diterima indra perasanya.

Basah… pria di hadapannya kini menangis.

Wajah manisnya yang kini terlihat pucat seakan sudah tak lagi dapat berekspressi. Ryeowook masih diam, bahkan disaat ia merasa tangan yang menggenggam tangannya bergetar. Kening pria itu menyentuh punggung tangannya, dan beberapa kali ia merasa bibir yang terasa hangat mengecup punggung tangannya.

"Maafkan aku…"

Lagi, Ryeowook mendengar pria di hadapannya ini mengucap kalimat yang sama. Untuk kedua kalinya. Pria itu semakin terisak, dan Ryeowook tak pernah melihat hal ini sebelumnya.

Disaat ia merasa jiwanya mati, tapi ia tahu jika ada satu hal lain yang tak pernah mati dalam dirinya.

Perasaannya.

Ia merasa ada sesuatu yang seakan meremas rongga dadanya. Rasanya sesak, menyakitkan.

"Ryeowook," pria itu mendongkak, saat satu bulir air terjatuh dan membasahi tangan Ryeowook. Pandangannya terlihat sendu saat mendapati Ryeowook yang kini ikut menangis. Ryeowook sudah sering menangis karenanya, hanya saja kali ini berbeda, Ryeowook menangis tanpa sedikitpun ekspresi kesedihan yang tergambar di raut wajahnya.

Ryeowook menangis dengan kedua pandangan kosongnya, sedangkan air terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Sikap diam Ryeowook membuatnya merasa sakit.

"Jangan menangis, aku sudah terlalu sering membuatmu menangis." Ujarnya, masih dengan menggenggam kedua tangan Ryeowook.

Kali ini tubuhnya menegak, dan perlahan ia mendekatkan tubuhnya pada Ryeowook. Hingga akhirnya Ryeowook dapat merasakan sebuah dekapan hangat pada tubuhnya, dan juga sebuah bisikan—

"Aku mencintaimu…"

—dan bibir yang kini mengecup lembut pipinya. Begitu lembut dan dalam.

.

.

.

.

Yours © Choi Rinri

Super Junior © God, SMEnt, and their parents.

Maint Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook

Warning : YAOI, OOC, Typo(s), Adult Fanfic, M-preg, AU, Mild-language.

Don't Like? Don't read!

.

.

[Chapter 9]

Enjoy!

.

.

"Bagaimana keadaannya?"

Seraya melepas kacamata yang membingkai penglihatannya, pria berbalut jas putih di hadapan Eunhyuk dan Sungmin terlihat tersenyum.

"Ia pingsan karena fisiknya yang memang masih belum mendapat kesehatan secara pulih. Saat ini, istirahat dan tanpa penjengukan sementara adalah dua hal yang ia butuhkan."

Eunhyuk dan Sungmin nyaris mengangguk secara bersamaan. Walau cukup dibuat khawatir saat melihat Yesung yang membawa Ryeowook kembali dalam gendongannya, terlebih dengan keadaan tak sadarkan diri, tapi kini keduanya dapat sedikit bernafas lega. Setidaknya, mereka dapat menyimpulkan bahwa Ryeowook dalam keadaan baik-baik saja. Hanya membutuhkan istirahat yang cukup.

"Jangan memulai pembicaraan yang dapat membuatnya tertekan. Selain karena kondisinya yang masih dalam tahap pemulihan, faktor lingkungan rumah sakit yang kurang menyenangkan menjadi dampak tambahan bagi proses pemulihannya." Tutur dokter yang menangani Ryeowook.

"Aku mengerti." Gumam Eunhyuk, dengan kepala yang mengangguk beberapa kali dan kedua mata yang menatap fokus pria di hadapannya tersebut.

"Seseorang yang baru saja mengalami keguguran dapat mengalami stress ringan lebih mudah." Lanjut sang dokter kemudian, sebelum pria dengan senyum wibawanya tersebut memilih untuk pergi dan mengerjakan tugasnya yang lain sebagai dokter di rumah sakit ini.

"Jika sejak awal Ryeowook menuruti aturan dokter untuk tetap berada di kamar, saat ini ia pasti tak akan seperti ini." kata Sungmin dengan helaan nafasnya.

Ia berjalan sedikit tak bersemangat menghampiri Kyuhyun yang setia duduk di kursi tunggu bersama Siwon, Donghae, dan Kibum.

"Ia seperti itu karena sudah terlalu bosan berada di kamar, Hyung." Eunhyuk menjawab keluhan Sungmin seraya mengambil tempat di samping Donghae.

Sungmin mengangguk, cukup mengerti dengan apa yang diucapkan sepupunya tadi.

"Ngomong-ngomong, bolehkan aku dan Siwon Hyung pulang lebih dulu?" tanya Kibum. Siwon disebelahnya mengangguk, dengan menatap orang-orang terdekatnya tersebut secara bergantian.

"Kibum harus kembali ke rumah Yesung Hyung, dan aku harus kembali ke kantor. Saat ini kedua tempat itu tak memiliki kepemimpinan." Siwon menambahkan, sekaligus menjelaskan alasannya dan Kibum yang memutuskan untuk pulang lebih awal.

"Baiklah, jangan lupa untuk datang kemari lagi." Eunhyuk mengingatkan.

"Itu pasti, Hyung."


.


Sejak awal, tujuannya kembali ke Korea bukanlah untuk sesuatu yang menyenangkan. Bukanlah untuk berlibur, ataupun karena urusannya di negeri orang sudah selesai. Hal paling membuatnya pusing yang justru menyeretnya untuk kembali menapak di negeri kelahiran.

Ia tak mengabari Ryeowook, karena selain kepulangannya tak terlalu dapat membuatnya untuk sekedar bersantai atau menghabiskan waktu bersama putranya, Youngwoon memang ingin memberinya kejutan. Sebuah kejutan kecil untuk Ryeowook.

Di dalam rumah besarnya, hanya ada ia dan beberapa penjaga rumah yang menempati. Setelah menaruh semua barang bawaannya, Youngwoon berencana untuk datang ke kafe indoor tempat Ryeowook bekerja. Ia sudah terlalu merindukannya, dan mungkin saja mengobrol dengan ditemani secangkir kopi hangat bersama putranya dapat sedikit mengalihkan penatnya ia dengan tumpukan dokumen yang meminta perhatian.

Kringg!

Nyaringnya sebuah lonceng yang bertengger di atas pintu menjadi pertanda bahwa seseorang berkunjung di kafe ini, dan pengunjung itu adalah Youngwoon. Senyum terlukis dengan indra penciuman yang menghirup aroma kafe yang begitu menenangkan. Ini bukanlah pertama kalinya ia datang ke kafe. Karena itu, cukup banyak pelayan yang menyapanya saat sesampainya ia di dalam, karena mereka sudah mengenalnya. Membuat Youngwoon berpikir jika Ryeowook memiliki teman-teman yang menyenangkan disini.

"Ah, Youngwoon Ahjussi!" seru sang penjaga kasir saat ia melihat siapa pria yang berdiri di hadapannya kini. "lama tidak berjumpa."

Meski Youngwoon sempat dibuat bingung karena biasanya yang berjaga di tempat kasir adalah putranya, tapi akhirnya ia tetap merunduk seraya mengucap kalimat sapaan, "Ya, bagaimana kabarmu, Shindong-ah?" tanyanya.

"Baik, dan kuharap selalu baik." Ujarnya penuh semangat. Kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit dengan kedua ujung bibir yang tertarik. Ia tersenyum senang. "Bagaimana kabar Ahjussi? Dan tentu saja Ryeowook, bagaimana kabarnya? Aku merindukannya!"

Kalimat kedua Shindong menarik perhatian Youngwoon. Kedua alisnya menaut dengan mata yang menyipit.

"Maksudmu?"

Kali ini berganti Shindong yang dibuat bingung. Apa aku berucap dengan pola kalimat yang terlalu sulit untuk dimengerti? Aku kan hanya menanyakan kabar, pikirnya.

"Kabar… bagaimana kabar anda dan Ryeowok?" Shindong bertanya dengan kalimat yang dibuat lebih sederhana.

"Bukan, maksudku, kenapa harus menanyakan kabar Ryeowook? Bukankah kalian satu tempat kerja? Dan dimana dia?" tanya Youngwoon, sedikit terdengar tak sabaran di kalimat akhir.

Lagi-lagi Shindong dibuat tak habis pikir. Dengan perasaan bingung, dan sebelah alis yang terangkat, Shindong menjawab; "Ahjussi, apa anda lupa jika Ryeowook sudah tak bekerja disini?"

Ryeowook… sudah tidak bekerja di kafe?

"Apa?!"


.


Untuk saat ini, Yesung merasa tak memiliki siapapun lagi. Ia merasa hanya hidup sendiri, tanpa arah, dan terbuang. Disaat Donghae, Kyuhyun, Eunhyuk, dan Sungmin duduk di depan ruang inap Ryeowook secara bersama, berbeda dengannya yang hanya termangu sendiri di bangku taman.

Sendirian.

Tanpa teman.

Kepalanya mendongkak, menatap dalam diam awan yang bergerak dengan tenang. Ia merasa tenang hanya dengan memandang awan.

Ia merasa sebuah tepukan pelan di pundak saat ia hampir tebawa angannya. Donghae, tanpa berkata apapun mendudukan tubuhnya di samping Yesung. Selanjutnya ia ikut mendongkak, memandang awan seperti yang dilakukan Yesung. Ingin mencari tahu, daya tarik apa yang dimiliki awan hingga pria di sampingnya itu tahan untuk mendongkak cukup lama.

"Cuaca hari ini sedang bagus," Donghae membuka suara. Diawali dengan basa-basi.

Yesung tak terlalu menyimak. Ia hanya diam, tapi kali ini kedua matanya memejam, merasakan angin semilir di siang ini.

"Tapi sayangnya keadaan kita tak sebagus cuaca, ya?" Donghae menoleh, hanya sesaat, hingga akhirnya ia kembali mengadah dan tertawa pelan.

"Omong kosong."

Donghae kembali tertawa mendengar ucapan Yesung.

"Tujuanku kemari sebenarnya untuk memberitahu sesuatu padamu," ujar Donghae, mengerti Yesung yang tak suka dengan basa-basi. "ada dua kabar yang harus kau ketahui. Antara kabar baik dan buruk, mana yang akan kau pilih terlebih dahulu untuk kuberitahu?"

Kali ini Yesung menoleh, menatap Donghae sesaat.

"Buruk."

Donghae mendengus seraya tertawa, "Jika ada yang baik, kenapa harus memilih yang buruk terlebih dahulu?"

"Katakan apa yang ingin kau katakan." Yesung berucap dengan pelan, namun terkesan tajam dan penuh penekanan.

"Tidak sabaran, benar-benar dirimu." Donghae menggeleng pelan. "Kuawali dengan kabar baik. Ini tentang Kyuhyun, ia baru saja memiliki seorang kekasih. Namanya Lee Sungmin."

Saat itu juga Yesung dibuat bingung. Apa itu yang Donghae sebut sebagai kabar baik? Apa itu penting untuknya? Yesung tak habis pikir.

"Dan yang kedua adalah kabar buruk, masih berhubungan dengan Kyuhyun." Ujar Donghae. "kau harus tahu, jika kekasihnya itu adalah sepupu dari Eunhyuk. Yang artinya, datangnya Sungmin membuatmu kalah pasukan, Jongwoon."

Donghae menyeringai tajam, terlebih saat melihat perubahan raut wajah Yesung,

"Jangan pernah berpikir jika aku dan Eunhyuk berhenti sampai disini. Aku dan Eunhyuk masih akan terus berusaha untuk membawa Ryeowook pergi, jika kau memang tak pernah bisa berubah." Katanya, melipat tangan di dada dan menyandarkan tubuhnya.

Setelahnya tak lagi ada pembicaraan di antara keduanya. Cukup membuat Donghae heran, karena awalnya ia sudah menduga jika Yesung akan langsung menghajarnya. Tapi ternyata tidak, pria bermarga Kim itu masih duduk di sampingnya, tanpa melakukan pergerakan sedikitpun.

"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Ryeowook?" Donghae kembali membuka suara. Menoleh, memperhatikan Yesung yang sama sekali tak menatapnya. "apa tadi kalian sempat bertengkar? Atau justru hubungan kalian membaik? Ayo ceritakan padaku!"

Donghae memasang wajah yang terlihat ceria, bahkan ia sedikit menggeser duduknya lebih mendekat sebagai tanda antusiasnya.

Yesung tahu bahwa Donghae hanya berpura-pura melakukannya. Yesung tahu bahwa Donghae tak semudah itu berubah, pria itu hanya mencoba untuk memancingnya.

"Apa setelah kejadian ini kau akan tetap kasar padanya?"

Benar, kan, dugaannya.

"Apa setelah kejadian ini kau masih tetap memperlakukannya seperti budak?"

Donghae benar-benar berniat menyulut api lagi. Terus bertanya, memberi pertanyaan yang secara tak langsung memojokan Yesung.

Dan Donghae menyukainya.

Ia senang saat melihat perubahan raut wajah Yesung. Senang saat melihat Yesung yang mulai menarik nafas dan mencoba untuk mempertahankan kesabarannya.

"Oh, atau kau masih tetap ingin menyetubuhinya? Melakukannya dengan kasar dan berulang hingga membuatnya hamil, lalu kemudian kau menjatuhkannya dari lantai atas seperti yang akan kau lakukan pada Eunhyuk, dan terakhir ia pun kehilangan calon bayinya lagi karenamu, begitu?"

Donghae tahu jika Yesung mati-matian menahan emosinya. Ucapan Donghae seakan menjadi pembuka bagi perseteruan selanjutnya antara dirinya dengan Yesung.

Berbeda dengan Donghae yang kini menyeringai, Yesung menutup rapat mulutnya dengan wajah yang memerah. Kedua tangan yang mengepal kuat dengan rahang yang mengeras. Mungkin bisa saja Yesung menghajar Donghae saat itu juga, kapanpun ia mau, bahkan tak memandang tempat dimana kini mereka berada.

Hanya saja ada satu hal yang mungkin mulai saat ini dan untuk seterusnya dapat menahan emosinya agar tak membuncah.

Kim Ryeowook.

Ia terus mencoba mengingat namja itu dalam pikirannya. Namja yang bagaikan candu baginya, membuatnya ketergantungan dan overdosis dalam bersamaan. Hanya dengan mengingatnya, Yesung seolah mendapat sesuatu yang dapat menyumpal telinganya untuk tak mendengar ucapan-ucapan Donghae.

Ryeowook…

Bagaimana saat namja itu mencintainya, bersikap manis padanya, bersabar karenanya, dan bahkan menangis karenanya.

"Oh, ada apa?" tanya Donghae saat melihat Yesung yang bangkit dari tempatnya, mengambil posisi berdiri di hadapannya.

Donghae sudah menebak jika pria di hadapannya ini akan memberinya pukulan. Menghajarnya saat itu juga, hingga pemikirannya berubah saat—

'Bruk!'

Yesung menjatuhkan tubuhnya di hadapan Donghae. Tubuh yang berdiri dengan kedua kaki yang bertumpu pada lutut. Kepalanya menunduk, bahkan kedua matanya tak terlihat karena tertutupi oleh anak rambutnya yang memanjang.

Sedangkan Donghae dibuat mematung, terlebih saat ia mendengar Yesung berkata;

"Maafkan aku."


.


Karma, satu kalimat yang cukup sederhana. Banyak orang yang berkata bahwa karma sampai kapanpun akan berlaku. Karma itu ada. Dan selama ini Youngwoon tak sedikitpun percaya akan hal itu. Tapi untuk saat ini, entah mengapa hatinya meragu.

Karma… Youngwoon merasa apa yang menimpanya kini adalah karma. Balasan akan perbuatannya di masa lalu.

Cukup krisis yang dialami perusahaannya, dan kini ditambah dengan keberadaan putranya yang entah dimana. Youngwoon cukup dibuat pusing memikirkannya.

Dalam kukungan kursi kerjanya, Youngwoon merenungkan kembali apa yang sudah diperbuatnya selama bertahun tahun ia hidup. Mati satu tumbu seribu, itulah yang Youngwoon anggap sebagai perumpaan yang pantas untuk masalahnya kini.

Pertemuannya dengan Shindong di kafe membawanya dalam sebuah percakapan cukup panjang. Namja tambun itu menceritakan banyak hal tentang Ryeowook. Apa saja yang dilakukan putranya tersebut, hingga ia tahu jika Ryeowook memiliki seorang kekasih.

"Aku pernah melihatnya, kudengar namanya adalah Yesung. Ia sangat tampan, berpenampilan menawan, dan kurasa Ryeowook beruntung mendapatkannya."— begitulah yang Youngwoon dengar dari mulut Shindong saat ia bertanya bagaimana sosok kekasih putranya tersebut.

Berbekal informasi dari Shindong, ia pun menyuruh orang suruhannya untuk mencari tahu siapa Yesung. Dan kini, di tangannya terdapat sebuah tab yang dapat melancarkan tujuannya. Baru saja ia menerima e-mail, berisikan data lengkap mengenai Yesung.

Dimulai dari nama, umur, status pendidikan terakhir, dimana ia bekerja, hingga bagian yang paling mengejutkannya;

"Kim Hankyung… Kim Heechul…"

Ia menemukan dua nama itu dalam data nama orang tua seorang Kim Jongwoon.

"Sial!"

Umpatan keras yang dilucurkan dari mulutnya membuat emosinya memuncak, bersamaan dengan dibantingnya benda berbentuk persegi panjang itu ke dinding. Membentur dinding hingga membuatnya nyaris hancur.


.


Waktu menunjukan pukul 1 siang, waktu untuk jam jenguk bagi para pasien di rumah sakit. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Eunhyuk dapat kembali masuk ke dalam kamar inap Ryeowook.

"Aku tak menerima penolakan, Wookie." Ucap Eunhyuk saat melihat Ryeowook yang tetap bersikukuh untuk menutup mulut dan menolak satu sendok bubur yang disodorkan Eunhyuk padanya.

Eunhyuk berdecak melihat sikap keras Ryeowook. Ia jadi berpikir jika Yesung memang memberi dampak buruk untuk Ryeowook. Karena sebelum bertemu Yesung, Ryeowook adalah anak yang penurut dan ini baru pertamakalinya namja itu tak menuruti ucapannya. Asumsinya membuat dirinya kesal sendiri, terutama terhadap namja yang pernah membuatnya hampir mati dalam hitungan detik.

Eunyuk kembali membujuk Ryeowook, tapi saat itu juga ia kembali mendapat penolakan. Eunhyuk menghela nafas, kemudian menaruh mangkuk kecil berisi bubur itu di meja.

"Bagaimana dengan apel? Kau mau, khan?" tanya Eunhyuk sambil memperlihatkan buah apel yang dibeli Kyuhyun beberapa menit yang lalu atas usulan Sungmin. "Siap atau tidak, kau harus membuka mulutmu dan memakannya, oke?" diraihnya pisau dan Eunhyuk mengiris apel menjadi bagian yang lebih kecil.

"Aku ingin pulang."

"Oke, kau akan pulang setelah memakan apel ini." Ucap Eunhyuk semaunya, ia tak mengalihkan perhatiannya pada apel yang sedang dikupasnya.

"Aku ingin pulang."

"Iya, kau akan pulang dalam prediksi dua hari lagi. Begitu kata dokter. Nah, sekarang buka mulutmu." Eunhyuk menyodorkan irisan apel, menyuruh Ryeowook membuka mulutnya.

Ryeowook memandang Eunhyuk dengan tatapan sedihnya, dan itu membuat Eunhyuk tertegun.

"Ada apa?" ujar Eunhyuk dengan pelan, sejenak ia melupakan obsesinya untuk membuat Ryeowook membuka mulut dan memakan apel di tangannya tersebut.

"Aku… ingin pulang."

Lagi, Eunhyuk mendengar kalimat yang sama dari mulut Ryeowook. Ia mengerti apa yang Ryeowook rasakan, membuatnya ikut sedih.

"Kau akan pulang, secepatnya," Diusapnya pucuk kepala Ryeowook dengan lembut. Ia tersenyum kecil. "aku memang belum bisa memaafkan kekasihmu, tapi mungkin aku akan memperbolehkanmu tinggal kembali bersamanya. Setidaknya dengan syarat aku diperbolehkan untuk datang menemuimu dan ia harus merubah sikapnya."

Ryeowook terlihat menarik nafas dalam mendengar penjelasan Eunhyuk. Kedua matanya terpejam tenang, sebelum kembali terbuka dan memperlihatkan kedua mata coklat madunya pada Eunhyuk. Menatapnya dan bibir mungilnya yang kini terlihat pucat kembali berkata;

"Aku ingin pulang… aku rindu Appa dan Umma…"

Eunhyuk membulatkan bibirnya dan tubuhnya kini sedikit menjauh dari Ryeowook. "O-oh… aku mengerti sekarang…"


.


"Hasilnya tetap sama, Ryeowook tetap tak ingin makan." Ujar Eunhyuk seraya menutup pintu kamar Ryeowook.

Sungmin di hadapannya terdengar menghela nafas. Awalnya ia yang ingin menyuapi Ryeowook, dan berhubung ia mendapat penolakan, ia berpikir Eunhyuk dapat membuat namja manis itu menurut untuk mengisi perutnya. Tetapi hasilnya tetap sama.

"Saat ini suster sedang membujuknya untuk makan." Kata Eunhyuk selanjutnya.

Sungmin mengangguk mengiyakan, tubuhnya bergeser memberi tempat pada Eunhyuk untuk duduk di sampingnya.

"Apa saja yang kalian bicarakan di dalam?" tanya Sungmin sedikit penasaran.

"Tak banyak, Ryeowook jadi sedikit pendiam." Jawab Eunhyuk, diakhiri dengan sebuah keluhan.

"Itu wajar, saat ini Ryeowook masih dalam tahap penyembuhan. Butuh istirahat. Mungkin itu berpengaruh pada moodnya." Komentar Sungmin

"Hm, mungkin," Eunhyuk mengangguk, "beberapa kali ia berkata ingin pulang."

Sungmin dibuat heran mendengarnya, "Ah, jinjja? Kupikir, setelah kejadian ini ia tak ingin kembali padanya." Ujar Sungmin.

"Aniya, maksud ingin pulang disini bukan kembali ke rumah kekasihnya itu," Sanggah Eunhyuk dengan tangan yang mengibas. "ia ingin kembali ke rumah orang tuanya, ia merindukan mereka, tapi mana mungkin kita menyuruhnya untuk pergi ke Jerman seorang diri."

Mendengar itu, Kyuhyun yang sejak awal hanya diam mendengarkan perbincangan kedua namja itu dibuat menoleh. "Dan sepertinya kalian tak perlu mempersulit diri dengan membawanya ke Jerman." Ujarnya, ujung bibirnya tertarik membentuk seringai kecil.

"Maksudmu?" tanya Eunhyuk sedikit tak mengerti.

"Youngwoon kini berada di Korea." Jelas Kyuhyun, menyandarkan tubuhnya dengan kedua mata yang kini memejam.

Dan kali ini Donghae yang menoleh pada Kyuhyun saat mendengar hal tersebut. "Benarkah?"

Kyuhyun tak bersuara, hanya mengangguk dan mencoba mengistirahatkan pikirannya dengan memejamkan kedua matanya.

Dalam diam Eunhyuk memperhatikan Donghae. Ia bertanya dalam hati, ada apa dengannya?

Yang Eunhyuk pikirkan, sudah seharusnya Donghae senang mendengar kabar ini. Bukankah Donghae adalah orang yang paling ingin membuat Yesung hancur? Membantunya dan membawa Ryeowook pergi.

Tapi yang terlihat… Donghae hanya diam dan ia seperti sedang merenungkan sesuatu.

"Baru hari ini ia kembali ke Korea, dan mungkin saat ini ia berada di rumahnya. Atau mungkin di kantornya, aku tak dapat memastikan." Ucapan Kyuhyun yang tiba-tiba membuat Eunhyuk tersadar dari pemikiran-pemikirannya tentang Donghae.

"Dan ini menguntungkan untuk kalian." Tambah namja muda tersebut.

Entah apa, tapi Eunhyuk sedikit dibuat terkejut dan geli dalam bersamaan dengan ucapan Kyuhyun. Bukankah namja ini bersekongkol dengan Yesung untuk menghancurkan Youngwoon? Tapi kenapa sekarang Kyuhyun memberi banyak informasi tentang Youngwoon disaat ia berkata jika Ryeowook ingin pulang dan bertemu orang tuanya?

"Hey, kupikir saat ini ada yang sedang berkhianat." Ujar Eunhyuk dengan seringai jahilnya.

Kyuhyun yang merasa ucapan itu ditunjukan untuknya pun membuka mata. Ia mendengus, dengan kedua mata yang berputar malas. Sedangkan Sungmin hanya terkekeh pelan melihat reaksi namjanya tersebut.


.


Pintu terbuka diiringi ucapan selamat datang dari para pelayan di rumah tersebut. Kibum tersenyum, dengan kedua tangan yang mendorong pelan kursi roda yang di duduki Ryeowook. Setelah 3 hari menjalani perawatan, Ryeowook sudah di perbolehkan pulang. Kondisinya yang masih terbilang lemah mengharuskan ia duduk di kursi roda dalam beberapa hari, hingga ia merasa mampu untuk berjalan dan melakukan aktifitas layaknya orang sehat.

"Selamat datang kembali, Ryeowookie." Bisik Kibum, sedikit membungkuk dan mengusap pundak Ryeowook.

Ryeowook mengadah, tersenyum kecil dan berkata terima kasih dalam sebuah gumaman pelan yang masih dapat di dengarnya, dan juga Yesung yang berada di sampingnya.

Kepulangan Ryeowook ke rumah ini tak semudah yang diperkirakan. Setelah mendapat izin dokter, mereka harus mendapat izin dari Lee bersaudara yang begitu protective terhadap Ryeowook. Mereka khawatir akan kembali terjadi hal yang tidak-tidak pada Ryeowook, dan mereka berpikir untuk membawanya kembali ke rumah mereka saja.

Kangta sebagai namja tertua diantara mereka sampai harus turun tangan dan berbicara langsung pada Eunhyuk dan Sungmin dalam sebuah diskusi kecil. Entah apa yang dibicarakannya hingga dapat membuat Eunhyuk dan Sungmin mengizinkan Ryeowook untuk kembali ke rumah ini.

Ia cukup senang karena Ryeowook sudah dapat pulang. Semoga kepulangannya menjadi awal bagi akhir dari permasalahan berkepanjangan yang di alami para namja itu. Kibum berharap demikian.

Di belakangnya terlihat Siwon dan Kangta menyusul, dengan seorang pelayan yang menjingjing tas berisi barang-barang milik Ryeowook yang dibawa untuk keperluan selama ia di rawat.

Yesung memperhatikan Ryeowook, kemudian berkata pada Kibum untuk mengganti posisi dalam sebuah bisikan. Kibum mengangguk, dan menggeser tubuhnya agar Yesung dapat berdiri di belakang Ryeowook.

Ryeowook sempat terkejut saat menyadari bahwa yang kini mendorong kursi rodanya adalah Yesung. Tapi ia menutupi rasa keterkejutannya dengan sikap diamnya. Bahkan ia tak berkata apapun saat Yesung membawanya menuju halaman belakang, bukan kamar tidur seperti yang ia harapkan.

"Ryeowook harus istirahat, Hyung," Ujar Siwon saat Kangta menahan tubuhnya untuk tak mengikuti Yesung dan Ryeowook. "ia baru saja keluar dari rumah sakit, sudah seharusnya ia berada di kamar sekarang." Tambahnya.

"Tak apa, berikan mereka waktu berdua," Kangta tersenyum, mencoba membuat Siwon mengerti dengan apa yang ia maksud. "karena mereka membutuhkannya."


.


Halaman luas berhampar rerumputan hijau yang tertata rapi tersaji di hadapannya. Semilir angin dan rindangnya pepohonan besar membuat tempat ini terasa nyaman. Halaman belakang rumah ini sudah sering dikunjungi Ryeowook, hanya saja datang ke tempat ini bersama Yesung adalah hal pertama untuknya.

"Ryeowook,"

Dua tangan menyentuh pundaknya, dengan sebuah usapan lembut setelahnya. Sesaat Ryeowook dibuat terbuai, ia menikmati sentuhan ini. Sentuhan lembut yang jarang sekali ia dapatkan dari pria di belakangnya ini.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Yesung. Dengan seksama lingkaran hitam di matanya bergerak ke bawah, memperhatikan Ryeowook yang kini terlihat memejamkan kedua matanya. Menikmati angin semilir yang menerpa helaian rambutnya.

Ryeowook mengangguk pelan, kedua bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil. Cukup membuat Yesung sedikit merasa senang dengan Ryeowook yang kini kembali tersenyum, sekalipun hanya senyuman tipis yang terlihat samar.

Yesung berjalan, mengambil tempat di hadapan Ryeowook. Ia mengubah posisi, berdiri dengan kedua lutut sebagai tumpuan. Kedua tangannya meraih dua telapak tangan Ryeowook. Menggenggamnya dengan hati-hati, ibu jarinya mengusap punggung tangan Ryeowook dengan lembut.

Pandangannya terarah satu titik ke depan, tepat memandang wajah Ryeowook yang menurutnya sangat manis. Dan Yesung akui jika ia baru menyadari hal itu.

"Kau indah, sangat indah…" suara yang bahkan nyaris tergolong bisikan pun terdengar. Seiring genggaman tangan itu mengerat, Yesung seakan tak bosan kembali memandangi namja di hadapannya tersebut. Ia tersenyum saat melakukannya. Begitu mengagumi ciptaan Tuhan yang baru saja disebutnya indah tersebut.

Sebelah tangannya tak bisa untuk tak terulur menggapai pipi namjanya. Pandangannya menghangat seiring usapan lembut yang ia berikan pada wajah Ryeowook. Ia mengagumi bagaimana manisnya wajah yang kini berada di hadapannya tersebut.

Ryeowook diam memperhatikan segala gesture tubuh yang Yesung berikan untuknya. Bagaimana namja itu mengusap wajahnya, menggenggam erat sebelah tangannya, begitu mengagumi apa yang dimilikinya.

Ryeowook sudah menunggu ini sejak lama.

Ryeowook sudah menunggu ini terlalu lama.

Ryeowook menunggu saat Yesung bersikap lembut padanya. Ryeowook menunggu saat Yesung menganggap keberadaannya. Dan yang terpenting… Ryeowook selalu menunggu Yesung berkata bahwa ia mencintainya.

Ia sudah menunggu sejak lama.

Dan kini Ryeowook mendapatkannya.

Saat apa yang ditunggunya berada di hadapannya, Ryeowook hanya dibuat terdiam. Dadanya bergemuruh, kedua matanya sedari tadi tak bisa lepas untuk tak menatap Yesung. Ia sulit mendeskripsikan apa yang ia rasakan dalam untaian kata.

Ini… terlalu rumit.

Perlahan ia balas mengenggam tangan Yesung. Kedua matanya memerah dan pandangannya memburam. Ia dapat merasa saat Yesung memajukan wajahnya, dan secara refles kedua matanya memejam. Yesung mencium kening Ryeowook dengan lembut, dan Ryeowook membalasnya dalam bentuk genggaman tangannya yang mengerat. Setitik air mata mengalir tepat saat bibir itu menempel pada keningnya. Terasa lembut dan dalam.

"Ryeowook…" suara beratnya membuat Ryeowook membiarkan manik cokelatnya terlihat. Menatap wajah pria yang berjarak sangat dekat dengannya. "berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Hubungan kita, antara kau dan aku. Kita akan memulainya dari awal. Bisakah…?"

Sorot tajam itu kini meredup, terlihat hangat saat bola matanya bertemu pandang. Ryeowook tak menjawab dalam untaian kata, namun sebuah tarikan di tengkuknya, membuat wajahnya kini sangat dekat dan bibir Ryeowook kini menciumnya… ia sudah tahu apa jawaban yang diberikan Ryeowook untuknya.

Ciuman itu terhenti saat Yesung menjauhkan wajahnya. Ia tersenyum melihat Ryeowook yang tersipu dengan wajah yang memerah padam. "Aku akan membahagiakanmu…" dan Yesung kembali memulai ciuman mesranya. Menyapu dua belah bibir merah itu dengan lidahnya, memeluk pinggangnya, dan membiarkan kedua tangan namjanya mengalung indah di lehernya.


.


Pintu mobil audi hitamnya terbuka, menampilkan sosok Donghae dalam balutan jas hitamnya. Kedua matanya terbingkai oleh kacamata hitam, memberi kesan tampan dan menawan pada dirinya yang memang berkharisma. Pandangannya mengedar, memandangi bangunan megah dibalik pagar setinggi tiga meter di hadapannya tersebut.

"Apa kau yakin akan melakukan ini, Kyu?" Donghae melepas kacamata hitamnya, mengaitnya pada saku dibalik jasnya.

Kyuhyun yang melangkah keluar dari kursi kemudi pun menoleh, "Apa ada alasan khusus untuk tidak melakukan ini?" berbeda dengan Donghae, namja itu memakai kacamata hitamnya. Kekasih Lee Sungmin itu terlihat semakin tampan.

Kyuhyun berjalan menghampiri Donghae, menyandarkan tubuhnya pada sisi badan mobilnya. "Katakan apa yang membuamu merasa tak yakin." ucapnya seraya membuka botol mineral yang dibawanya, meminumnya dalam tenggakan.

Donghae mengadah, ia sendiri tak yakin untuk menceritakan hal ini pada Kyuhyun.

"Apa kau percaya jika setiap orang dapat berubah?"

Kyuhyun mengusap ujung bibirnya yang basah, kedua matanya menatap Donghae. "Ya, aku percaya."

"Itulah yang sejak awal membuatku tak yakin."

Keduanya sama-sama terdiam. Larut dalam pemikiran masing-masing.

"Aku berpikir, yang seharusnya kita lakukan adalah membuat Yesung Hyung dan pria bernama Youngwoon itu berdamai, setidaknya bagaimana caranya agar Yesung Hyung dapat memaafkan pria tersebut." Donghae menoleh pada Kyuhyun, sebelum perhatiannya teralih pada botol mineral di tangan Kyuhyun dan kini beralih tangan padanya.

"Aku mengerti," Kyuhyun menyamankan senderan punggungnya, "masih ada kemungkinan jika ia dapat berubah. Tapi kau pun jangan lupa, masih ada pula kemungkinan jika ia tak akan berubah. Dan aku tak ingin ambil pusing soal itu."

Donghae memikirkan baik-baik ucapan Kyuhyun, dan ia berpikir ada benarnya. Mungkin saja saat ini Yesung dapat berkata jika ia akan berubah dan terlihat bersungguh-sungguh, tapi siapa yang tahu jika namja itu akan kembali pada perilaku buruknya?

Tempramental, egois, bahkan dirinya mengkategorikan sebutan psikopat adalah sebutan yang pantas untuk menggambarkan Yesung.

"Kau tahu, Hyung? Saat ini aku baru percaya bahwa cinta dapat merubah segalanya." Kyuhyun mendengus hingga akhirnya tertawa pelan mendengarnya.

Donghae ikut tertawa mendengarnya. "Ya, cinta dapat membuat kita terseret dalam permasalah rumit dan bodoh seperti ini."

"Dan cinta yang dapat membuat kita hingga sampai ke tahap ini. Kita sudah setengah jalan, jadi…" Kyuhyun dan Donghae saling berpandangan, sebelum keduanya sama-sama terlihat tersenyum sinis. "…kita lanjutkan hingga akhir."

Pada akhirnya keduanya pun memutuskan untuk berjalan menghampiri gerbang rumah megah tersebut. Rumah megah milik Youngwoon. Sempat Donghae berpikir, berapa banyak materi milik Hankyung yang dirauk oleh Youngwoon hingga dapat menghasilkan rumah semegah itu?

Donghae berpendapat bahwa Youngwoon benar-benar brengsek, tapi sayangnya kini ia berada di pihak namja tersebut. Menyedihkan sekali.

"Antara cinta dan persahabatan, mana yang akan kau pilih?"

"Tentu saja cinta! Kau pikir, kelak nanti yang akan menjadi pendamping hidupku adalah sahabatku, eh? Bukan cintaku?!"

Jawaban semau Kyuhyun membuat Donghae tertawa. Ternyata mereka memiliki pemikiran yang sama. Tak jauh berbeda.


.


"Sebuah kehormatan bagi kami untuk bisa bertemu denganmu." Ujar Kyuhyun tanpa ada sedikitpun keramahan yang terlihat pada sikapnya. Ia bersandar dengan satainya di dinding ruangan kerja Youngwoon.

"Hentikan pembicaraan tak berguna kalian. Katakan, kalian siapa? Apa urusan kalian denganku?" tanya Youngwoon, melempar pandangan tajamnya pada Donghae dan Kyuhyun secara bergantian.

"Santai sedikit, Youngwoon-ssi." Donghae mengambil tempat di hadapan Youngwoon, bahkan tanpa sebelumnya Youngwoon menyuruh. "kami datang atas dasar sesuatu yang berguna untuk hidupmu."

"Apa maksudmu?"

"Ini tentang karirmu. Ini tentang putramu. Dan yang terpenting… ini tentang hidupmu." Senyum mengejek Kyuhyun perlihatkan saat mengucapkannya. Ia senang saat melihat perubahan raut wajah Youngwoon yang kini menegang.

"Kami hanya ingin memberitahu," Donghae memajukan tubuhnya lebih mendekat pada Youngwoon, mencondong dengan mata yang menyorot tajam. "persiapkan dirimu sebaik mungkin, jika kau tak ingin semua terlambat dan kalah seperti seorang pengecut."

Kyuhyun tertawa remeh mendengar sindiran keras Donghae. Walau keduanya secara tak langsung berada di pihak Youngwoon, pihak yang akan membuat Yesung hancur, sesuai keinginan Eunhyuk dan Sungmin, tapi keduanya tak akan bersikap baik dan beramah tamah pada pria semacam Youngwoon ini. Tak sedikitpun mereka akan melakukannya.

"Datangi alamat ini, dan bersiaplah menerima kejutan setelahnya." Kyuhyun memilih melangkah pergi terlebih dahulu saat Donghae memberi selembar kertas dan mendorongnya dalam satu gesekan di atas meja.

"Kami pamit."

Youngwoon masih memperhatikan keduanya hingga punggung lebar pria-pria tersebut menjauh dan pintu ruangannya yang sempat dibuka akhirnya kembali tertutup.

Youngwoon meraih secarik kertas yang baru saja diberikan Donghae untuknya. Memperhatikannya dengan seksama, dan Youngwoon tahu jika tempat itu masih berada di sekitar Seoul.

Tanpa perlu berpikir keras, ia sudah dapat menebak jika kejutan yang Kyuhyun maksud adalah bertemu dengan Yesung. Bertemu dengan pria yang sudah membawa putranya dengan sesuka hati. Bertemu dengan pria yang pasti memiliki niat untuk membalas perbuatannya di masa lalu.

Dan bertemu Yesung sama artinya ia akan kembali bertemu dengan Hankyung dalam sosok yang berbeda.

Youngwoon menarik laci yang terdapat di meja kerjanya. "Untuk kali ini, biarkan aku kembali menjadi antagonis untuk mempertahankan kebahagiaanku… dan mengusir mereka yang ingin menghancurkanku."

Raut yang sulit diartikan terlihat saat matanya bertemu pandang dengan sebuah pistol yang tergeletak di dalam laci mejanya.


.


"Hubungan mereka membaik," Kibum mengulum senyumnya, "mereka terlihat bahagia," lanjutnya.

Ia memasang baik-baik telinganya saat mendengar Kangta yang mulai berbicara di sambungan teleponnya. Sesekali ia terkekeh pelan mendengar komentar Kangta mengenai hubungan Yesung dan Ryeowook.

Untuk saat ini dan beberapa hari ke depan, Kangta lah yang akan menjabat sebagai pemimpin di kantor menggantikan Yesung. Yesung sendiri yang memintanya, ia terlalu disibukan dengan masalah dan dunianya. Masalahnya adalah hubungannya dengan kekasihnya. Dan dunianya adalah Ryeowook.

Saat ini Kangta disibukan dengan tugas-tugas kantor, Yesung dengan berbaik hati membuatnya harus berkutat dengan file-file membosankan di dalam ruangannya tersebut. Ia tak bisa melihat bagaimana keadaan rumah. Maka dari itu, sembari ia menandatangani beberapa berkas, telinga dan mulutnya berkonsentrasi pada ponsel yang kini diapit oleh telinga kanan dan pundaknya. Ia mencari kabar melalui Kibum.

"Jongwoon Hyung terlihat manis sekali," ujar Kibum yang kini memperhatikan Yesung dan Ryeowook dari balkon kamar Ryeowook. Tubuhnya bertumpu pada pembatas balkon.

Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Ryeowook terlihat tertawa lepas dengan Yesung yang berbicara panjang lebar. Kibum dibuat kagum saat melihat bagaimana majikan sekaligus namja yang sudah dianggapnya sebagai kakak lelakinya tersebut dapat berbicara sepanjang itu. Sebuah kemajuan pesat.

"O-oh, seharusnya kau melihat ini, Hyung." Kibum diam-diam tersenyum dengan wajah yang merona saat melihat di bawah sana Yesung yang mencium Ryeowook, tepat di bibirnya. Ciuman yang terlihat mesra. Bahkan Yesung menarik Ryeowook untuk berdiri dan memeluk pinggangnya begitu possessive.

Dengan jahil, Kibum mengarahkan ponsel pintarnya pada Yesung dan Ryeowook yang masih berciuman tanpa sedikitpun menyadari kehadirannya. Memposisikan ponselnya untuk dapat memotret dua insan tersebut. Ia tersenyum saat melihat hasil jepretannya cukup bagus, dan ia tak sabar untuk memberikan foto tersebut pada Kangta.

Setelah merasa puas, Kibum memutuskan berjalan memasuki kamar Ryeowook dan menutup jendela balkonnya. Tak ingin mengganggu moment manis kedua namja yang masih menghabiskan waktunya di halaman belakang dengan berciuman.

"Cinta masa muda memang menyenangkan,"

.

.

.

.

[TBC]

.

.

.

.

[A/N]

Halo.

Cho Rinri disini.

Oke, ekhem… berapa lama saya ngaret…? Lama banget ya… hehehe… ;_; maafkan saya, teman-teman. Maaf. Saya saat ini sibuk, atau boleh dibilang sok sibuk ;;_;; maaf, maaf… Saya tidak pernah merasa selega ini ketika dapat menyelesaikan satu chapter. Fuhh, meskipun mungkin chapter ini tidak maksimal.

Saya melanjutkan chapter ini kira-kira dimulai dari jam 11 sampai jam 2 malam. Dan tidak sia-sia akhirnya selesai juga ;;

Maaf untuk saat ini saya tidak bisa membalas review satu persatu, disebabkan mata saya yang sudah tidak kuat hehehe. Terimakasih saya ucapkan untuk reviewers, followers, favoriters, siders, dan semua yang selalu setia menunggu kelanjutan Yours hingga sekarang, walaupun updatenya paling ngaret. Terimakasih banyak ;_; *bow*

Dan saya berharap fanfic ini tidak lebih dari 15 chapter, itu target saya untuk readers yang bertanya fanfic ini sampai chapter berapa hehe. Semoga saja X'D

Terimakasih, sampai berjumpa di chapter selanjutnya, dan review please!


Salam hangat,

Choi.