Moving on isn't easy

Summary: Saat Mingyu dan Hoshi terjebak di permainan yang mereka buat sendiri.

"Kukira move on tidak sesulit itu?" – Hoshi, "Kalau kenyataan nya memang sulit bagaimana?" – Mingyu.

Boys Love. B x B. Mingyu x Hoshi. MinSoon. SoonGyu. Moshi. SEVENTEEN. AU. OOC

Semua tokoh di dalam cerita milik Tuhan, Orang tua, Keluarga, Pledis Ent, dan dirinya sendiri.

Jalan cerita milik saya. Mohon maaf apabila terdapat kesamaan. Bukan perbuatan yang disengaja

.

.

.

.

.

.

"Terkadang, menjadi kuat bukanlah ditentukan dari seberapa hebat kita menggenggam, melainkan dari seberapa tabah kita melepaskan." - Fiersa Besari

.

.

.

.

.

Meskipun pembicaraannya dengan Mingyu terakhir kali tidak berjalan dengan baik, tapi Hoshi masih belum menyerah. Ia terus berusaha untuk berbicara dan menemui Mingyu, tak peduli cara seperti apa lagi yang harus ia lakukan. Contohnya saja seperti hari ini, setelah jadwal kuliah dan latihan klub menarinya selesai, Hoshi segera menuju kelas Mingyu. Dengan harapan bahwa mantan kekasihnya itu masih ada disana.

"Hey! Apa kau melihat Mingyu?" Tanya Hoshi pada seseorang yang ia ketahui sebagai teman sekelas Mingyu.

"Dia baru saja pergi dari sini," Pemuda itu menatap Hoshi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, "Coba cari di perpustakaan. Siapa tau dia ada disana."

"Baiklah, domou!"

Setelah mengacungkan ibu jarinya, Hoshi berlari sekuat tenaga untuk menyusul sang mantan kekasih. Begitu sampai di perpustakaan, matanya bergerak gelisah untuk mencari keberadaan Mingyu. Hingga akhirnya menemukan orang yang ia cari sedang duduk menyendiri di salah satu sudut ruangan.

"Aku menyusulmu ke kelas barusan," Ujar Hoshi sembari mengatur napasnya dan duduk tepat di samping Mingyu.

"Untuk apa?" Balas lelaki yang lebih muda.

"Menemuimu."

"Sekarang kita sudah bertemu, kau mau apa?"

"Entahlah," Hoshi mengendikkan bahunya, "Kurasa dengan melihatmu saja sudah cukup bagiku."

Mingyu ikut mengendikkan bahunya acuh, antara jengah dan sudah terbiasa dengan ucapan manis lelaki yang lebih tua. Lalu memilih untuk diam dan kembali fokus pada bacaannya.

Setelah itu, Hoshi hanya duduk dengan tenang sambil terus memandangi mantan kekasihnya yang sedang membaca buku. Sementara Mingyu dari balik bukunya merasa sedikit aneh, karena Hoshi yang biasanya banyak bicara dan juga selalu penuh semangat kini menjadi lebih pendiam.

"Hei Ming," Hoshi akhirnya angkat bicara.

"Hm?" Jawab Mingyu tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran kertas penuh tulisan yang ada di tangannya.

"Let's get back together."

Mingyu terdiam sesaat lalu memandang Hoshi tak percaya, "What are you talking about huh?"

"Kau tau? Aku dan kau. Kita, kembali bersama seperti dulu," Cicit pemuda yang lebih tua.

"Seperti apa? Kontrak lagi? Aku tak mau."

"Kali ini serius."

Pemuda bermarga Kim itu menutup bukunya lalu duduk menghadap Hoshi dan menatap tepat di kedua matanya, "Aku masih ingat dengan jelas siapa yang waktu itu berkata bahwa dirinya tak suka terikat dan tak mau menjalani hubungan serius dulu."

"Itu dulu, Mingyu-san."

"Lalu sekarang bagaimana? Kenapa berubah pikiran?"

Dan tanpa ragu Hoshi menjawab pertanyaan itu, "Cause I love you."

Mingyu tersenyum mengejek, "Simpan kata-kata cintamu, karena aku tidak."

Deg

Hati kecil Mingyu tau apa yang baru saja bibirnya ucapkan itu salah, ia berdusta. Namun pikirannya bersikeras bahwa memang benar seperti itu adanya.

"Jangan berbohong."

Mingyu menghela napas berat. Butuh waktu yang cukup lama bagi pemuda itu untuk memikirkan hal ini, dan ia rasa sekarang adalah saat yang tepat untuk mengakuinya, "Baiklah. Kau sendiri tau bahwa aku mencintaimu, tapi ini tak se-sederhana itu."

"Lalu bagaimana? Jangan membuat semua ini menjadi rumit, Ming."

"Aku tak tau."

Hoshi terdiam sesaat, "Is there someone else?"

Bukan tanpa alasan Hoshi bertanya seperti itu. Karena beberapa hari yang lalu ia melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa Mingyu berpelukan dengan seorang gadis, tak lupa senyum manis yang mengembang di bibir lelaki yang lebih muda. Juga, satu hal yang benar-benar menohok perasaan Hoshi, ia mendengar sang gadis mengucapkan kata cinta.

"Tidak," Mingyu menggelengkan kepalanya, "Ini pasti takkan berhasil."

"Dan kita takkan tau sebelum mencobanya," Melupakan rasa sakit yang baru saja merasuki perasaannya, Hoshi kembali berbicara dan berusaha sebisanya untuk membujuk Mingyu.

"Jangan berpura-pura lupa pada satu minggu itu."

"Tapi itu beda cerita."

"Sudahlah, aku tak ingin membicarakan ini. Jadi, bisa tolong kau pergi dari sini?"

"Tapi kita belum selesai bicara."

"Kumohon," Pertama kali sepanjang hidupnya, Mingyu mengiba pada seseorang. Dengan suara lirih disertai tatapan mata yang menyimpan luka.

"Baiklah," Hoshi berdecih, "Kalau itu yang kau mau. Aku pergi," Dan dengan berat hati meninggalkan Mingyu serta hatinya yang masih digenggam oleh pemuda itu.

.

.

.

.

.

Hari ini tepat dua minggu sejak Hoshi mengajak Mingyu untuk kembali bersama. Namun, tampaknya belum ada kemajuan apapun dari hubungan mereka. Malah terkesan jalan di tempat, atau bahkan mundur dari tempat semula. Karena Hoshi tau kalau Mingyu jelas-jelas menghindarinya, tapi ia tak dapat berbuat banyak atas hal itu.

Seringkali ia melihat Mingyu lebih memilih untuk memutar arah dibandingkan dengan harus berpapasan dengan dirinya. Belum lagi ia mendengar dari beberapa temannya bahwa Mingyu sering mengurungkan niat untuk masuk ke suatu tempat jika di dalamnya ada Hoshi.

Tapi tidak untuk hari ini, Hoshi bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Maka dari itu ia mengejar Mingyu yang sudah berbalik badan, bersiap untuk menghindarinya lagi.

Hoshi menggenggam lengan Mingyu, "Kenapa?"

"Apanya?"

"Aku butuh penjelasan, kau pasti tau maksudnya."

Diam-diam Mingyu menikmati saat lengannya di genggam oleh Hoshi, "Tentang apa? Aku menghindarimu?"

"Iya."

"Kau sendiri tau kenapa."

"Kalau tau aku takkan bertanya," Memang benar Hoshi tau alasannya, tapi ia ingin mendengar itu langsung dari bibir Mingyu.

"Aku mau move on darimu, salah?"

"Salah."

"Sudahlah," Dengan berat hati Mingyu menghempaskan tangan Hoshi, "Anggap kita tak pernah saling mengenal. Aku tak mau kekasihmu cemburu karena kita masih akrab dan aku masih menyukaimu."

"Bagaimana bisa? Kukira kemarin itu kau sudah move on. Kukira ada orang yang cukup bisa membuatmu senang?"

"Semua sudah berlalu, tak perlu membahasnya lagi. Cukup."

"Belum cukup. Kalau kau benar menyukaiku, kenapa kemarin ku ajak kembali kau tidak mau?"

"Sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, hyeong."

Hoshi tau betul bahwa Mingyu memanggilnya dengan sopan jika pemuda itu alam mode marah atau sedang ingin menjaga jarak darinya. Sedikit banyak itu membuat hatinya merasa perih.

"Jawab pertanyaanku."

"Tidak semua pertanyaan perlu dijawab."

"Tapi aku butuh jawaban."

"Waktu itu aku belum yakin," Mingyu menarik napas pelan, "Sudahkan? Selesai."

"Dua minggu tidak cukup untuk meyakinkanmu?"

"Sudah kubilang. Semua sudah selesai. Jangan bertanya lagi," Mingyu terus berusaha mengelak dari pertanyaan Hoshi yang semakin menyudutkan, ini membuatnya berada di posisi yang tidak nyaman.

"Kenapa begitu tiba-tiba?" Hoshi masih belum menyerah, ia menginginkan semua pertanyaannya mendapat jawaban.

"Tujuanmu bertanya seperti itu apa?" Mingyu menyilangkan tangan di depan dadanya, "Kubilang semua sudah selesai."

"Aku hanya ingin memperjelas. Kita putus tidak dalam keadaan yang baik. Pikiran kita sedang kacau."

"Kau sudah ada yang baru. Kau bisa lebih bahagia dengan dia. Jadi tak ada yang perlu dibicarakan lagi, semua selesai."

"Kalau yang kau maksud itu Joshua, berarti kau salah paham. Dia hanya temanku," Kali ini Hoshi tak ingin lagi menghindari masalah, ia ingin memperjelas keadaan dan menghentikan kesalahpahaman dengan Mingyu.

"Tidak peduli dia teman atau siapamu. Yang jelas, kini aku merelakanmu. Semua sudah berlalu."

"Kalau aku belum rela, bagaimana?"

"Jangan tanya aku, karena aku takkan tau jawabannya."

"Aku bertanya hal lainpun tidak akan kau jawab."

"Jangan bertanya padaku. Aku bukan orang yang cukup pandai untuk menjawabnya."

Hoshi tersenyum mengejek, "Bahkan kau tidak cukup pintar untuk mengungkapkan apa yang kau mau."

"Aku tahu. Dan aku sudah melakukannya bukan?"

"Kau belum melakukan apapun dari tadi."

"Aku sudah melakukan satu hal yang begitu sulit, yaitu merelakanmu," Cicit Mingyu.

"Kau bilang apa? Bisa tolong diulang?" Samar-sama Hoshi mendengar apa yang baru saja Mingyu ucapkan, dan ia ingin mantan kekasihnya itu untuk mengulanginya agar ia dapat mendengar dengan lebih jelas.

"Bukan apa-apa."

Sial

Mingyu dan sifatnya yang selalu ingin terlihat kuat keluar lagi. Namun, kali ini Hoshi lebih memilih untuk mengabaikan yang satu itu dan kembali bicara soal urusan mereka yang belum juga menemukan penyelesaian.

"Jangan lari dari masalah, Mingyu-san."

"Aku tidak lari dari masalah," Kali ini Mingyu memberanikan diri untuk maju selangkah, berdiri menghadap Hoshi, dan menunjuk pemuda itu tepat di dadanya, "Kalau kau mau tau, ini caraku menyelesaikan masalah."

.

.

.

4 Desember 2015, 15:30 PM KST

.

.

.

19 tahun bukanlah usia yang terlalu muda bagi Hoshi untuk memutuskan mana yang bisa diperjuangkan dan mana yang tidak. Dan hari ini Hoshi sudah memantapkan hatinya untuk berhenti berusaha membuat Mingyu kembali padanya. Karena Hoshi sadar, terkadang ada beberapa hal yang tak bisa dipaksakan.

Maka dari itu setelah kelasnya berakhir, Hoshi berniat untuk menemui Joshua dan menceritakan segala masalah yang selama ini ia simpan sendiri.

.

.

.

Kakao Talk

To: Joshua Hong

Kau dimana?

.

.

.

Hoshi akan lupa pada fakta bahwa kata basa-basi pernah ada di dalam kamus jika lawan bicaranya adalah Joshua. Dan iapun berharap lelaki yang setahun lebih tua darinya itu tak akan banyak bertanya di saat penting seperti ini.

.

.

.

Kakao Talk

From: Joshua Hong

Di kantin.

Ada apa?

.

.

.

Dibandingkan dengan membalas pesan itu, Hoshi lebih memilih untuk langsung pergi ke kantin. Begitu menjumpai orang yang dicari, Hoshi menceritakan semuanya tanpa ada bagian yang terlewat. Kebetulan pemuda berkebangsaan Amerika itu sedang menikmati cemilannya, jadi ia memperhatikan tanpa banyak memotong cerita orang yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu.

Kini, Joshua sudah mengetahui semuanya dari bibir Hoshi langsung. Mulai dari hubungan yang pernah dijalani oleh Hoshi dengan Mingyu, masalah yang terjadi, dan dirinya yang dikira menjadi kekasih baru pemuda yang bermarga Kwon.

Hoshi menutup cerita panjangnya dengan sebuah helaan napas panjang, "Jadi begitulah, Josh."

"Mingyu-mu itu lucu sekali. Mana mungkin aku jadi kekasihmu. Suka saja tidak," Joshua menggelengkan kepala tak percaya sambil menahan tawanya yang sudah hampir meledak.

"Mingyu-ku ya?" Hoshi menatap pemuda disampingnya lalu tersenyum sendu, "Hahaha aku harap aku bisa mengatakan itu dengan bangga pada semua orang, but he isn't even mine anymore."

Rasa bersalah langsung menyerang Joshua saat ia menyadari perubahan raut wajah Hoshi, "M-maaf. B-bukan begitu maksud ku, Hoshi-san."

Hoshi menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu minta maaf. Memang begitu adanya, kan?" Lalu mengusak rambut Joshua, "Cepat habiskan makananmu, lalu temani aku ke taman."

"Untuk apa kesana?"

"Baca buku."

"Baiklah."

Setelahnya, Joshua buru-buru memasukkan potongan terakhir cheese cake miliknya dan menyusul Hoshi yang sudah berjalan terlebih dulu.

"Hoshi-san! Tunggu aku."

Sementara yang merasa namanya terpanggil, menghentikan langkah dan berbalik badan untuk menunggu seseorang yang berstatus sebagai temannya.

"Buru-buru sekali. Seperti yang dikejar hantu saja."

Hoshi mengendikkan bahunya acuh, "Aku hanya tak ingin membuang waktu."

Joshua mendengus sebal tanpa ada niat untuk membalas ucapan Hoshi. Lalu mereka berdua berjalan beriringan tapi tak saling berbicara ataupun bercanda seperti biasanya.

Sesampainya di taman, Hoshi langsung mendudukan dirinya di rerumputan dan membuka buku yang dibawanya, sedangkan Joshua lebih memilih untuk merebahkan dirinya menghadap ke langit yang kebetulan sedang cerah sore itu.

"Hoshi-san."

"Hm?" Jawab Hoshi tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

"Langitnya indah ya?"

Hoshi tersenyum dan berucap dalam hati, "Akan lebih indah jika ada Mingyu bersamaku."

Lalu keduanya kembali terdiam. Joshua sendiri beberapa kali berganti posisi karena merasa bosan dan diacuhkan Hoshi, kemudian memilih untuk duduk dan menengok kesana kemari dengan harapan akan menemukan seseorang yang bisa diajaknya bicara hingga akhirnya pandangan Joshua berhenti di seseorang yang terlihat begitu familiar.

"Do you love him, Hoshi-san?" Pertanyaan pemuda bermarga Hong itu mengalihkan perhatian Hoshi dari buku di tangannya. Ia menatap Joshua sesaat, lalu mengikuti arah pandang lelaki itu. Yang sayangnya jatuh tepat pada sosok tinggi bersenyum manis yang sudah beberapa hari ini Hoshi rindukan, Mingyu.

Putra sulung keluarga Kim itu sedang duduk di sudut lain taman kampus sambil memegang kamera, sesekali ia tersenyum entah karena apa. Sebuah lekukan yang terbentuk di bibir itu manis, manis sekali. Hoshi akui itu. Dan karena senyum itu jugalah perasaannya menjadi lebih hangat di tengah dinginnya angin pergantian musim.

Kemudian Hoshi tersenyum, masih belum mengalihkan pandangannya. Ada satu hal yang Hoshi yakini, hanya karena ia berhenti berusaha tak berarti ia harus berhenti mencintai Mingyu. Maka dari itu tanpa ragu ia mengatakan, "Of course I do. And I think I'm gonna love him for a really long time."

Tepat saat Hoshi menyelesaikan kalimatnya, Mingyu menolehkan kepala dan membuat mereka berdua bertukar pandang. Lama sekali, tak ada yang berniat untuk memutuskan kontak mata itu. Akhirnya Hoshi tersenyum hingga kelopak matanya membentuk bulat sabit, dan yang tak disangka-sangka adalah Mingyu membalas senyuman itu. Meskipun tipis, tapi masih dapat terlihat dengan jelas oleh pemuda yang lebih tua.

"Hontouni arigatou, Mingyu-san," Ucap Hoshi tanpa suara.

Beruntung, Mingyu dapat membaca gerakan bibir itu, "Ne, cheonmaneyo Soonyoung-ssi."

Kini tinggallah sapaan formal diantara mereka berdua, tak ada lagi panggilan sayang seperti sebelumnya. Karena mungkin memang sudah saatnya untuk kembali menjadi orang asing, sama seperti saat pertama kali mereka berjumpa.

Orang bilang selalu ada makna yang tersembunyi dibalik sebuah senyuman. Begitu juga dengan mereka berdua. Hoshi tersenyum untuk melepaskan Mingyu. Dan Mingyu yang tersenyum karena ia tau keputusannya untuk merelakan Hoshi sudah tepat.

Setelah itu, lelaki yang lebih tua memalingkan wajah, tak ingin terlalu lama memandang orang yang sampai saat ini masih menggenggam hatinya. Hingga tak menyadari bahwa Mingyu belum selesai dengan ucapannya, "And let's not meet again."

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

Foot note

Ne, cheonmaneyo = Iya, sama-sama.

.

.

.

.

.

A/N

.

Akhirnya fiksi ini selesai juga huft~ Maaf updatenya lama TAT Terima kasih buat yang sudah mau membaca dari chapter awal sampai akhir, juga buat yang meninggalkan review. Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kesalahan. Terus, saya punya rencana untuk buat sequelnya, kira-kira reader setuju atau nggak? Kalau misalnya setuju, ada yang mau kasih saran bagusnya gimana? Kalau misalnya ada, saya nggak janji kapan pasti waktu publishnya.

Sama, satu ini. Jujur saya agak kecewa sama review di chapter sebelumnya, karena jumlah viewer sama reviewnya gimana, tapi review meskipun cuma sebaris kalimat itu cukup buat nambah semangat saya buat ngelanjutin cerita ini. Tapi yaudah, udah lewat juga /.\

Oh iya, jangan lupa tonton MV barunya SEVENTEEN – Boom Boom di official Youtube Channelnya mereka. Terus dukung SEVENTEEN juga ya, my co- carat!

Jangan lupa tinggalkan review ^^~ Saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.

Sampai jumpa /o