Galerians, in.
Walaupun sebenarnya hamba masih di tengah periode hiatus, kalau dorongan untuk menulis muncul, tetap musti disalurkan kan?
Hamba umumkan, di chap 10 ini, perkembangan plot adalah sasaran utama. Nggak ada lagi cerita yang berbelit-belit, gak ada lagi kisah yang gak jelas juntrungannya, pokoknya 'Plot Progress' adalah keutamaan. Jadi kalian mungkin akan merasa alur di chap ini agak lebih cepat dari chap-chap sebelumnya.
Juga ada satu perubahan. 'Shichidaime' (The Seventh) yang dipake di 9 chap sebelumnya itu salah, kata yang benar seharusnya adalah 'Nanadaime'. Maafkan hamba atas kesalahan ini.
Anonymous Reviews' Replies:
Sabar-jeagerjeaquies: "Hamba juga sebenarnya udah mikirin itu sejak lama. Tapi hamba ini orangnya gak tegaan, sehingga cinta segitiga (dimana pasti ada satu karakter yang dikecewakan) itu sama sekali bukan keahlian hamba."
Sieg-hart: "Oke, kawan seperjuangan! Mari kita lestarikan pair Narukyuu!"
echa chan: "Pinginnya sih gitu, tapi kuliah itu makan waktu lho…"
Drak knith: "Kalo kelewatan nanti jadi gombal dong…"
Lady Regenbogen: "Haiyaaaaaa…"
AeroBoy: "Kan di profil udah dibilang kalau hamba hiatusnya SANGAT lama? Tapi ini dah balik kok…"
NaMIAkaze-kawaii: "Makasih atas doa dan reviewnya, tolong kasih komentar juga buat chap ini ya?"
Lou: "Ini kan fanfic, jadi tidak semuanya harus berdasarkan konsep yang ada di manga kan?"
Higashikuni: "Penasaran? Baca aja chap ini."
Pein Nggak Mesum: "Sama kayak di atas, silakan baca chap ini."
Micon: "Wah, makasih banyak udah berusaha keras buat review ya, hamba senang sekali."
bacadoang: "Terimakasih banyak atas pujiannya, semoga hamba bisa mempertahankan pendapatmu itu. Review lagi ya?"
D'blackflash of mollucas: "Nikah? Mari kita liat saja dulu…"
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.
Selamat membaca!
~••~
Because I Love Him Too Much
Ketika fajar siap menyingsing, langit mulai mendiskriminasi warna gelapnya untuk membuka ruang demi cahaya. Benang-benang merah mulai muncul di angkasa, datang sebagai pertanda bahwa siraman sinar mentari akan segera menembus selubung yang diciptakan awan dan kegelapan. Memberi kehangatan pada makhluk hidup, serta kesempatan baru untuk merasakan indahnya dunia yang terang benderang.
Namun untuk seorang Naruto Uzumaki, pagi kali ini adalah pagi yang paling dia benci.
Kali ini, alasannya bukanlah karena dia benci bangun pagi, bukan pula karena dia punya ketidaksukaan khusus pada cahaya matahari, tapi karena pagi ini adalah hari di mana dia harus pergi ke Sunagakure, yang tahun ini dipilih sebagai tempat pertemuan para Kage.
Dia bukannya benci bertemu dengan para Kage dari desa lain, hanya saja Naruto selalu mengalami kesulitan mengikuti pembicaraan mereka yang selalu kelewat rumit untuk tingkat kecerdasannya yang, ehem, kurang mencukupi. Yah, walaupun demikian, semua itu hanyalah alasan kecil, sebab yang sebenarnya paling membuat Naruto enggan adalah karena banyaknya agenda yang harus dibahas, kadang pertemuan ini memakan waktu beberapa hari, bahkan bisa mencapai seminggu.
Dan itulah masalahnya, dia hanya tak bisa berpikir bagaimana bisa hidup tanpa Kyuubi walau cuma untuk beberapa hari.
"Oh, ayolah, Naruto…" Kyuubi kembali membujuk si pemuda, yang sejak habis mandi tak mau berhenti membaringkan kepala di paha sang gadis, sembari menyisirkan jarinya di antara rambut pirang keemasan yang agak gondrong itu. "Jangan kekanakan begini dong…"
"…Nggak peduli…" gumam Naruto dengan suara gak jelas, membenamkan wajahnya makin jauh ke dalam hangat dan wanginya paha Kyuubi.
"Tapi kau harus segera pergi kan…?" kata Kyuubi lagi. Walaupun dia sudah sangat tahu tentang kekeraskepalaan Naruto, itu tak mencegahnya dari terus membujuk sang Hokage muda itu. "Siapapun yang akan mendampingimu ke pertemuan itu, kurasa tidak baik membuat mereka menunggu kan?"
"…" Naruto yang semula berbaring menyamping, kini telentang sehingga mereka bertatap muka. Cukup beberapa detik pengamatan sudah memberitahu Kyuubi betapa besarnya keengganan yang diekspresikan oleh dahi Naruto yang berkerut dan alisnya yang bertaut. Naruto berputar lagi, kali ini dengan wajahnya menghadap perut Kyuubi, lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gadis itu. "…Sebentar lagi."
"Naruto~" Kyuubi merengek kecil, sambil berusaha mendorong wajah Naruto yang kini menempel ke perutnya. Padahal dia sudah berusaha menguatkan hatinya, tapi kalau Naruto terus bersikap begini, nanti ujung-ujungnya tekad Kyuubi akan melebur juga.
Sesungguhnya, yang paling tidak menginginkan kepergian Naruto adalah Kyuubi. Cukup berpikir bahwa dia takkan bisa melihat wajah pemuda itu untuk beberapa hari, atau mendengar suaranya, atau merasakan kehangatan sentuhannya, sudah bisa membuat Kyuubi diliputi oleh rasa rindu yang membuat hatinya serasa dicubit-cubit oleh sebentuk tangan yang tak berbelas kasihan.
Tapi Kyuubi juga tahu, dia tak boleh egois. Jabatan Hokage adalah sebuah tanda kepercayaan, dan jika hanya dialah yang bisa membuat sang anggota terakhir klan Uzumaki itu menjaganya, maka Kyuubi akan melakukannya walaupun itu berarti menelan pahitnya kesedihan dan kesepian.
"Naruto, apa yang akan orangtuamu katakan kalau mereka melihatmu begini…?" walaupun mungkin agak kejam, hanya inilah satu-satunya cara untuk menyadarkan Naruto pada kewajibannya. "Mereka akan bilang apa, kalau melihat anak mereka, sang Nanadaime, melalaikan tugasnya?"
Kalimat itu kelihatannya memiliki efek yang diinginkan, karena setelah mendengarnya Naruto langsung bangkit dengan ekspresi yang tak terbaca di wajahnya. Tetapi, apapun yang semula ada di perkiraan Kyuubi, kalimat yang diucapkan Naruto berikutnya sama sekali tidak termasuk di antaranya.
"Nggak tahu ya, kalau aku jadi begini gara-gara kamu?"
"Eh?" Kyuubi nggak ngeh. "Apa maksudmu?"
"Kalau aku nggak ada…" Naruto merangkak mendekat, sampai wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Kyuubi yang kini mulai berubah warna. "Siapa yang bakal menjagamu dari para serigala buas di luar sana?"
"Serigala…?" ketidakpahaman dan darah yang mulai berkumpul di wajahnya membuat ucapan Kyuubi mulai terbata. Ketika dia mengerti apa yang dimaksud oleh ucapan Naruto, senyum geli muncul di bibir merah mudanya. "Naruto, kau masih khawatir soal itu?"
"Gimana aku gak khawatir kalau setengah populasi cowok muda di sini pada ngincer kamu semua!" seru Naruto.
"Hei, kau itu berlebihan, tau."
"Kalau melihat gimana mereka selalu berusaha pedekate tiap ada kesempatan, kurasa sikapku ini wajar-wajar aja deh." Naruto mendengus sambil bersidekap.
"Tapi, mereka cuma minta kenalan kan?"
"Iya, awalnya! Nanti juga pasti minta salaman! Trus cipika-cipiki! Trus pelukan! Trus-"
"Naruto," untuk menghentikan Naruto yang siap mengamuk, Kyuubi hanya perlu meletakkan jari telunjuknya di bibir sang Nanadaime itu. "Kau. Itu. Terlalu. Cemburuan."
"…" nada tajam di suara Kyuubi memang memiliki kekuatan yang menakutkan, buktinya seorang Hokage yang temperamental saja bisa langsung dijinakkan. "… habis aku nggak rela kau disentuh cowok lain."
"Dasar, kau ini benar-benar keturunan ibumu ya…" ucap Kyuubi lembut, menurunkan sedikit nada suaranya sambil mengelus wajah Naruto. "Sifatmu itu benar-benar khas seorang Uzumaki…"
"Apa maksudmu?"
"Kalau kau lupa, dulu aku ini dikurung di tubuh ibumu." kata Kyuubi sambil mengangkat jari telunjuknya. "Dan dari dia, aku tahu kalau semua anggota klan Uzumaki itu selalu posesif dan overprotektif pada pasangan mereka."
"…" Naruto diam sejenak, mencerna kata-kata Kyuubi. Kemudian, secepat lampu yang menyala, sebuah senyum jahil muncul di wajahnya. "Oh, jadi kau ngaku kalau kau itu pasanganku?"
"…Eh…?" Kyuubi tersentak, sebelum wajahnya berubah warna dengan kecepatan yang begitu pesat sampai hanya butuh sekitar 3 detik sampai wajahnya benar-benar merah padam, membuat senyum jahil Naruto makin lebar. "B-baka…! Kau ngomong apa sih!"
"Apaa? Kok aku? Bukannya tadi kau sendiri yang ngomong gitu?"
"Nggak! Aku NGGAK ngomong begitu!" teriak Kyuubi panas, sangkalannya berubah sia-sia karena wajahnya yang bagai apel matang mengungkapkan segalanya. Lalu dia sadar kalau kini Naruto memandanginya dengan aneh. "Apa?"
"Hei," sang pemuda mendadak memotong jarak. "Aku boleh menciummu kan?"
"…Nggak." walaupun hatinya serasa hampir melompat keluar dari tempatnya, Kyuubi berusaha tetap tenang.
"Ayolah," Naruto melangkah lebih dekat.
"Enggak."
"Biarkan aku menciummu."
"ENGGAK!" teriak Kyuubi kesal, sebelum menyadari kalau kini Naruto sudah berada di zona 'berbahaya'. "Stop! Jangan mendekat lagi, duren bego!"
"Kok nggak?" sebelum Kyuubi sempat menyadari, kedua tangan Naruto telah memegangi pinggangnya, menahan gadis itu di tempat sekaligus mencegahnya kabur.
"Pokoknya enggak! Sekali enggak tetap enggak!" biarpun dia sudah berteriak-teriak menolak, wajah Naruto terus mendekat dengan gerakan yang mantap, perlahan namun pasti. Melihat gelagat buruk, Kyuubi cepat-cepat mengangkat tangannya sendiri untuk menahan wajah pemuda itu. "Naruto, aku marah nih!"
Naruto mengurangi kekuatan, menghentikan usahanya mengecup bibir Kyuubi yang sudah membuatnya kecanduan. Lalu, dengan ekspresi bingung di wajahnya, bertanya, "Kok nggak mau sih?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Kyuubi memerah kembali. "H-habisnya…" dia memalingkan wajah, "Kalau kau menciumku, aku bisa berubah pikiran…dan malah bilang 'jangan pergi'…"
Walaupun sebagian besar orang berpikir Naruto adalah seorang idiot, toh dia sebenarnya memiliki daya persepsi dan pemahaman yang tinggi. Buktinya, cukup dengan kata-kata sederhana itu, dia langsung mengerti dilema Kyuubi yang sebenarnya juga tidak mau dia pergi.
"Maafkan aku ya…" kata Naruto lembut sambil menarik Kyuubi ke dalam dekapannya. "Harusnya aku sadar. Ini pasti berat buatmu juga…"
"…Baka…" Kyuubi menyusupkan wajahnya semakin dalam. "Sudah seharusnya begitu…"
~•~
"Ja-jadi…" seperti yang ia duga, berpelukan seperti ini saja sudah membuat tekad Kyuubi yang semula bulat sempurna mulai berubah bentuknya perlahan-lahan. Jika begini terus, maka ujung-ujungnya malah dia yang takkan mau membiarkan Naruto pergi. "Sudah waktunya kau pergi kan…?"
"…" Naruto terlihat ragu, bahkan belum melepaskan pegangannya pada pinggang Kyuubi. Pemuda itu menutup mata, kemudian menghirup napas dalam-dalam untuk menghapus rasa enggan yang bercokol di hatinya, sebelum akhirnya menjawab dengan suara lemah, "…Ya."
Setelah mengambil tasnya yang sempat terlupakan di sudut kamar, Naruto keluar dan berjalan lambat-lambat ke arah pintu depan dengan Kyuubi mengikuti di belakangnya. Gadis itu menggigit bibirnya sambil menunduk dalam-dalam, berulang kali mesti menekan hasrat hati yang membuatnya ingin menjangkau jubah merah tua itu, tak mengetahui kalau dalam hati Naruto juga terbersit sebuah harapan untuk memperlama kebersamaan mereka.
Tapi apalah artinya keinginan Kyuubi dan Naruto di hadapan kodrat alam? Sebesar apapun mereka memohon pada Tuhan, takkan ada yang bisa mengubah sebuah jarak menjadi lebih jauh ataupun waktu menjadi lebih lama. Sebelum mereka mengetahuinya, tiba-tiba saja wujud pintu sudah ada di depan mata.
"Jadi…" ucapan Naruto terdengar ragu, seperti tak tahu harus mengatakan apa. "Itte…kimasu…"
"…Itterashai…" jawab Kyuubi pelan.
"…" Naruto mengambil satu langkah ke arah pintu, namun segera berhenti. Setelah diam beberapa saat, dia berbalik, lalu kembali ke depan Kyuubi. "Hei, setidaknya kasih aku ciuman selamat jalan dong…"
"A-a-apaan sih…!" bentak Kyuubi. "Masih sempat-sempatnya bercanda…! Sudah, cepat pergi sana…!"
"Ah ha ha, memang nggak mungkin ya..." Naruto menggaruk-garuk kepalanya dengan kecewa. "Baiklah, ittekima-"
Tapi sebelum Naruto sempat berbalik untuk kedua kalinya, Kyuubi tiba-tiba melangkah maju dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Naruto. Sebelum pikiran apapun sempat muncul di kepala sang Hokage, gadis berambut merah itu menarik wajahnya sebelum mendaratkan sebuah kecupan singkat namun hangat di pipinya.
"…Kalau kerjaannya sudah selesai, cepat-cepat pulang ya," Kyuubi berbisik pelan sambil mengambil satu langkah mundur, sedangkan Naruto kini membeku total dengan mata terbelalak lebar ke arah Kyuubi. "Jangan bikin aku kangen lama-lama…"
Untuk jenak sedetik, Naruto tetap tertegun, otaknya masih belum bisa mencerna hal apa yang baru saja terjadi padanya. Detik berikutnya, tubuhnya tiba-tiba bergerak sendiri, kakinya melangkah maju dan tangannya terjulur. Kyuubi memekik pelan ketika dua tangan Naruto yang besar meraup pinggangnya, dan suaranya segera terhalang ketika Naruto menundukkan kepalanya dan mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang panas menggelora.
Sesaat, tekad untuk berontak muncul dalam hati Kyuubi, ingin rasanya ia mendorong dada Naruto untuk menghentikan tindakan yang menurutnya hanya memperburuk keadaan. Tapi sebelum keinginannya sempat terlaksana, kehangatan dan rasa bibir Naruto telah menembus pertahanan fisik dan batinnya, sehingga alih-alih mendorong Kyuubi malah mengalungkan tangannya di leher sang Nanadaime tersebut.
"H-hei…" ucap Naruto sambil menaikkan kepalanya kembali, menghentikan ciumannya. "Aku harus segera berangkat kan…?"
"Benar…" walau berkata demikian, tindakan Kyuubi yang malah berjinjit dan menarik kepala Naruto turun kembali dengan pelukannya bertentangan dengan kata-katanya. "Kau harus segera berangka-hmhh…"
Biarpun batinnya berteriak-teriak agar dia berhenti, tubuh Kyuubi sama sekali tak mau mematuhi. Seiring bertambah eratnya dekapan Naruto, tubuhnya berubah semakin panas seakan darahnya baru saja berubah menjadi cairan magma. Saking panasnya, Kyuubi merasa tubuhnya seperti sedang meleleh, kemudian menguap menjadi sesuatu yang melayang di awang-awang.
Tak perlu waktu lama sampai akhirnya Kyuubi merasa seluruh kekuatan tubuhnya seperti hilang begitu saja.
"T-tunggu, Naruto…" Kyuubi berhasil berkata sambil mendorong dada Naruto sebelum pemuda itu menciumnya untuk kesekian kali. "A-aku…kakiku sudah tak kuat berdiri lagi…"
Kyuubi mendongak dengan napas yang terengah-engah, dan menyadari bahwa Naruto sedang memandanginya dengan aneh. Detik berikutnya, sebuah pekikan kecil lepas dari bibir Kyuubi ketika Naruto tiba-tiba menegakkan tubuh tanpa melonggarkan pelukan, lalu mendudukkan gadis itu di atas lemari sepatu yang ada di dekat situ.
"K-Kyuubi…" Naruto mengambil waktu sesaat untuk memandangi Kyuubi, yang membalas tatapannya dengan mata sayu dan wajah merah. Mata Naruto berpindah, terpaku pada leher Kyuubi yang terlihat bergelimang bermandikan keringat. "Kyuubi…"
"Naruto-nmh…" Kyuubi mendesah seksi ketika mulut Naruto bertemu dengan kulit lehernya. Dengan tangan yang nyaris tak bertenaga, gadis itu meraih kepala Naruto dan memeluknya rapat-rapat. "Naruto, j-jangan–h-hiinh–lakukan itu…"
"Sori, tapi itu tak mungkin," Naruto balas berbisik sambil terus menjilati leher Kyuubi. "Ini semua salahmu, karena sudah membuatku kecanduan…"
Pada saat ini, seluruh isi batok kepala Naruto hanya terisi oleh Kyuubi. Semua hal tentang pertemuan para Kage, perjalanan ke Suna, ataupun tentang orang-orang yang menunggunya terlupakan karena dia sudah terlalu sibuk.
Tapi semuanya berakhir, hanya dengan sebuah suara 'klik'.
~•~
"Shikamaru," di depan Gerbang Besar Konoha, seorang Jounin berambut pink menyandarkan punggungnya. Dengan dahi yang penuh urat bermunculan, dia menoleh ke arah temannya yang duduk bersandar di pohon terdekat. "Tolong ingatkan aku lagi berapa lama kita menunggu di sini."
"…" Shikamaru menguap singkat, sebelum menjawab, "Sekitar 1 jam 20 menit…mungkin?"
"Oke. Satu pertanyaan lagi," gadis itu menggaruk kepalanya, nampak semakin kesal. "Kenapa kita nunggu di sini?"
"Em, karena Hokage-sama memberi perintah agar kita menjadi pendampingnya dalam perjalanan ke Suna…?"
"…aku akan ke apartemennya," Sakura mendadak berkata sambil berjalan ke dalam desa. "Aku akan ke sana, dan akan kuhajar dia."
"Hei, santai sedikit kenap-" tapi sebelum Shikamaru selesai bicara, sosok Sakura sudah ada di kejauhan. Pemuda jenius itu berdiri dengan malas-malasan, sebelum berjalan mengikuti sang rekan yang sudah jauh mendahuluinya. "…Dasar, merepotkan saja."
…
"Oi, Naruto! Kau mau membuat kami menunggu sampai kapan si-"
Si orang baru, yang rambut pinknya dihiasi bando dari hitai-ite, langsung berhenti berkata-kata ketika melihat posisi Naruto dan Kyuubi yang…ehem, rada sugestif. Mata mereka bertemu, dan mulut kedua orang itu terbuka secara bersamaan.
"UWAAAA!"
"S-Sakura-chan…!" Naruto tergagap sambil menjauh dari Kyuubi dengan segera, sedangkan sang gadis sendiri kini dengan panik merapikan bajunya yang agak berantakan. "K-kenapa kau ada di sini?"
"…Kenapa aku ada di sini?" Sakura bertanya perlahan-lahan, ekspresi terkejutnya mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh, jauh lebih menakutkan. "Bukankah pertanyaan yang tepat adalah, apa yang sebenarnya kau lakukan?"
"E-em, ini nggak seperti yang kau pikirkan!" seru Naruto panik sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya. "A-aku bisa jelasin kok!"
"Jelaskan apa…?" tanya Sakura pelan, matanya berkilat berbahaya. "Bahwa kau sudah membuat kami menunggu hanya karena sedang mesra-mesraan?" Sakura melanjutkan, sambil mengertakkan buku-buku jarinya. "Sampai lebih dari satu jam?"
Menyadari takdir seperti apa yang menunggunya, Naruto hanya bisa menelan ludah yang kini terasa sekeras menelan batu kali.
"NARUUTOOO!"
…
5 menit kemudian, Shikamaru cuma bisa menggeleng-geleng sambil menghembuskan napas. Deduksinya kali ini kembali terbukti benar, dalam wujud Sakura yang berjalan menghampirinya sambil menyeret Naruto yang…ehem, hancur berantakan.
"Kita pergi," deklarasi Sakura keluar tanpa tedeng aling-aling. "Sekarang."
"Siap," jawab Shikamaru dengan sikap sedikit tegap karena tak mau bernasib sama dengan si kepala duren bego dan wajahnya yang sudah nggak berbentuk lagi, sebelum mengikuti Sakura yang menyeret sang Hokage Ketujuh ke arah gerbang depan.
~•~
3 hari setelah kepergian Naruto, Menara Hokage menjadi sebuah tempat yang lumayan sepi, terutama ketika hari mulai mendekati malam. Bukan karena kehilangan keceriaan sang Hokage, tetapi karena hari ini memang kebanyakan shinobi sedang keluar desa untuk menjalankan misi. Ketika matahari mulai mendekati cakrawala, lorong-lorong yang bermandikan cahaya merah menjadi lengang, dan sangat sedikit orang yang terlihat lalu lalang.
Namun jauh dari tempat tersebut, sebuah bayangan terlihat berkelebat di antara atap-atap rumah. Gerakannya yang lincah dan ringan bagaikan sebuah bulu menandakan betapa tinggi tingkat kemampuannya yang jelas tak mungkin seorang penduduk biasa.
Sosok itu mendarat tepat di depan pintu Menara Hokage, tanpa menimbulkan suara seakan tubuhnya tak berbobot secara alami. Sebuah topeng porselen berbentuk wajah rubah terpasang untuk menutupi wajahnya, topeng tipikal yang meneriakkan identitasnya sebagai anggota Anbu. Setelah satu pandangan ke sekeliling untuk memastikan kalau tak ada orang, sang Anbu kembali berkelebat demi mencapai tujuannya.
Dalam hitungan detik, pria tanpa identitas jelas itu tiba di sebuah ruangan yang gelap, kecuali cahaya dari dua buah jendela yang terletak tinggi dan hampir menyentuh langit-langit. Cahaya merah matahari yang merasuk lewat celah kecil itu, walau minim, adalah penerangan yang cukup untuk menerangi wajah dua orang tua yang sama sekali tak berekspresi.
"…Saya datang menyampaikan hasil pengintaian," suara sang Anbu timbul untuk memecah kesunyian, namun suara itu sama sekali tak menyimpan emosi sampai terasa menakutkan. "Hokage-sama telah melewati perbatasan negara Hi."
"Kau yakin?" sang nenek mengangkat wajahnya yang bermata sipit, suaranya sama-sama kosong dari emosi apapun.
"Ya, Utatane-sama."
"Kalau begitu, ambil ini."
Sang nenek tua mengambil sebuah gulungan kecil yang terbuat dari kertas hitam, kemudian menyodorkannya ke depan. Sang Anbu bangkit dari posisi berlututnya, dan cukup dengan 3 langkah tiba ke hadapan Utatane untuk menerima gulungan sebelum kembali ke posisinya semula.
"Dalam gulungan itu ada nama-nama, dan aku ingin kau menyampaikan pesan pada mereka. Pesannya adalah, "Besok, saat matahari terbenam, kita akan melaksanakan apa yang telah kita sepakati 3 hari lampau"."
"Apa hanya itu?"
"Ya, tapi ingat, kau harus menyampaikan pesan ini langsung pada orang yang dituju. Tak boleh ada perantara dan tak boleh ada orang lain yang tahu. Mengerti?"
"Saya mengerti."
Nenek yang dipanggil Utatane mengedikkan kepalanya sedikit, sebuah gestur kecil yang mengisyaratkan bahwa urusan sang Anbu di ruangan itu telah selesai. Setelah sosok pria bertopeng porselen itu menghilang seperti debu ditiup angin, si kakek yang sejak tadi tidak ambil bagian dalam percakapan akhirnya buka suara.
"Jadi," berbeda dengan si nenek atau sang Anbu, suara si kakek terdengar jauh lebih manusiawi. "Kita benar-benar akan melakukannya?"
"Tentu saja," Utatane Koharu berdiri dari kursinya, dan kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah pintu keluar. "Homura, kau tentu sadar kalau kita harus melakukan ini demi Konoha kan?"
Si kakek yang bernama lengkap Mitokado Homura itu bergerak gelisah di atas kursinya, "T-tentu saja. Tapi-"
"Kalau begitu, kenapa kau berwajah seperti itu?" Utatane bertanya dengan tajam. "Jangan bilang padaku kalau kau berubah pikiran."
"T-tentu saja tidak…!" Homura bangkit dari kursinya sambil tanpa sadar menggebrak meja. "Tapi kita tak perlu berbuat sejauh itu kan? Bukankah masih banyak cara lain?"
"Memang, tapi hanya cara inilah yang pantas bagi orang seperti dia," mendengar itu, Homura segera membuka mulut untuk memberi argumen, tapi Utatane cepat-cepat memotong. "Cukup. Kesepakatan telah dibuat. Tak ada yang bisa kau katakan untuk mengubahnya."
Tanpa perkataan lebih lanjut, Utatane meninggalkan Homura sendirian di ruangan yang disirami sedikit cahaya merah matahari terbenam itu. Tepat beberapa detik setelah sepeninggal si nenek, suara berdebam muncul ketika tinju sang kakek menghantam permukaan meja. "Brengsek…! Kenapa aku merasa seperti ini…?"
Dia malu, bahkan jijik mengakui bahwa tempo beberapa minggu sudah cukup untuk mengubah perasaannya. Setelah melihat bagaimana dia bersikap dan seberapa besar perubahannya, Homura tak bisa menyangkal bahwa kebencian yang semula dia tujukan pada gadis itu telah berubah menjadi sesuatu yang tak bisa dia jelaskan.
Homura kembali duduk terhenyak di kursinya. Satu kalimat terbersit dalam hatinya yang gundah, "…Apa aku sudah melakukan hal yang benar?"
~•~
Setelah memastikan kalau semuanya telah kering, Kyuubi meletakkan pakaian-pakaian yang habis dijemur ke dalam keranjang dan membawanya masuk ke dalam. Ketika ia tiba di ruang tengah, Kyuubi langsung duduk di depan meja dan meletakkan keranjang berisi baju itu di sampingnya.
"Fuh…" Kyuubi mengangkat satu pakaian dan menggelarnya di atas meja untuk mulai dilipat. Walau hembusan napasnya tadi adalah pertanda bahwa dia sedang tidak senang, tangannya yang sudah begitu terbiasa mulai bekerja dengan sendirinya. "Sudah 4 hari…"
Jika ada satu hal yang terus dibawa Kyuubi sejak menjadi siluman rubah sampai sekarang, maka itu adalah sifatnya yang benci menunggu. Dan kini, setelah Naruto pergi meninggalkannya untuk beberapa hari, mulai ada gejala-gejala sifat itu muncul kembali.
Hari pertama, normal-normal saja. Kyuubi bisa melewati harinya tanpa banyak perubahan, walaupun dia tak tahan untuk tidak menoleh ke arah pintu saat matahari terbenam.
Hari kedua, mulai ada perubahan. Selain frekuensi 'menoleh ke pintu' meningkat, ketiadaan Naruto juga membuat kesibukan di rumah berkurang drastis, padahal Kyuubi sangat perlu itu untuk mengalihkan pikirannya dari si Hokage.
Hari ketiga, perubahan menjadi tak terelakkan. Sekeras apapun Kyuubi berusaha menahan, dia tak tahan untuk tidak melirik, bahkan kadang-kadang membuka pintu walaupun tak ada orang yang mengetuk.
Hari keempat, atau hari ini, kegelisahan Kyuubi mencapai puncak. Kyuubi sadar kalau dia sudah masuk "siaga merah". Karena itu, demi mencegah agar dirinya tidak hanya termangu menunggu di depan pintu seperti orang dungu, Kyuubi mengulangi semua tugas rumahan yang seharusnya sudah selesai ia kerjakan. Baju yang sudah dicuci dan piring yang sudah kinclong, dia cuci kembali. Lantai yang sudah bersih disapu lagi, kaca jendela yang bening dilap kembali. Pokoknya, semuanya dikerjakan sekali lagi.
Tapi, tetap saja hal itu tidak berhasil. Dia masih merasa kangen-
"Enggak…!" Kyuubi tiba-tiba berteriak, nggak sadar kalau dia hampir saja merobek baju yang ada di tangannya. "Nggak, nggak, ENGGAK! Aku nggak kangen!"
Kesunyian yang mengikuti selanjutnya semakin menekankan fakta kalau dia hanya sendirian di rumah. Wajah Kyuubi menjadi mendung lagi, menyadari bahwa apapun yang dia ucapkan kali ini, takkan ada yang menyahutnya.
'Karena Naruto tak ada di sini…'
Kalau dia tak ada, Kyuubi tak bisa perang mulut dengan siapapun.
Kalau dia tak ada, Kyuubi tak bisa mengomeli atau diomeli siapapun.
Kalau dia tak ada, Kyuubi akan kesepian.
Kalau Naruto tak ada…Kyuubi tak bisa merasa bahagia…
Lamunan Kyuubi terpecah ketika dia menyadari kalau sekarang dia sedang memegangi jubah berwarna merah tua yang selalu dipakai Naruto. Alih-alih melipatnya, Kyuubi malah mengangkat jubah itu dan membenamkan wajahnya ke sana.
"Naruto…" sang gadis menarik napas dalam-dalam, karena biarpun sudah dicuci berkali-kali, bau khas Naruto tetap melekat di kain itu. Dan dengan perbuatannya itu, Kyuubi sudah tak punya alasan untuk menyangkal lagi. "…Aku kangen…"
Kyuubi ingin melihat wajah Naruto lagi, ingin mendengar suaranya lagi. Ingin menyentuh kehangatannya lagi, ingin menikmati keramahan dan kasih sayangnya lagi. Tetapi walau kerinduan yang terus membubung ini membuat hatinya terasa sakit, satu-satunya yang bisa Kyuubi lakukan untuk menguranginya hanyalah mendekap jubah Naruto erat-erat.
"Naruto…" bisikan Kyuubi teredam oleh kain yang sejak tadi terus diciuminya. "Pulang dong…"
Dan tiba-tiba saja, ketika kerinduan sudah mencapai puncaknya, Kyuubi mendengar ketukan pelan dari pintu depan.
"…Naruto…?" Kyuubi merasa jantungnya baru saja berhenti berdetak. Sakit di dadanya masih terasa, tapi kini karena disebabkan oleh rasa bahagia. "Naruto…!"
Kyuubi bangkit dan segera keluar kamar, saking terburu-burunya sampai tidak sadar kalau jubah merah yang tadi dipegangnya tercecer di lantai sesegeranya setelah ia keluar pintu. Jarak antara ruang tengah dan pintu depan tidaklah jauh, tapi itu tidak mencegah Kyuubi dari berlari untuk mencapai tujuannya.
"Naruto!" Kyuubi membuka pintu dengan sebuah senyum lebar. "Kau pula-"
Ucapan Kyuubi langsung terhenti ketika menyadari kalau yang berdiri di depan pintunya bukanlah sang Nanadaime, melainkan seorang pria berjaket putih dan memakai sebuah topeng porselen berbentuk wajah rubah di wajahnya.
"E…h…?" Kyuubi terperangah sesaat. "S…siapa kau…?"
Pria itu menjawab hanya dengan terus berdiri diam di sana seperti patung, memandangi Kyuubi dengan tatapannya yang dingin dan tak berekspresi.
Kebahagiaan yang tadi mengisi rongga dada Kyuubi lenyap, digantikan oleh ketakutan yang mendera kuat. Gadis itu mengambil satu langkah mundur, ketakutan dalam hatinya memuncak saat melihat pria itu turut mengambil satu langkah. Kyuubi akhirnya sadar apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Ti-tidak…! Jangan mendekat…!"
Kyuubi berbalik dan berniat berlari kembali ke dalam rumah. Tapi sebelum dia sempat melangkah, satu hantaman telak telah menghampiri lehernya. Jubah Hokage yang tercecer di lantai muncul di pandangannya. Tapi sekuat apapun Kyuubi berusaha menggapai, jeda sejenak yang terjadi dalam aliran darah ke otaknya mengakibatkan tubuhnya kehilangan kekuatan, membuat langkahnya terhenti dan kesadarannya mulai menghilang.
'Naru…to…' adalah satu kata terakhir yang terlintas di pikiran Kyuubi sebelum akhirnya kegelapan mengambil alih pandangan dan kesadarannya.
~•~
Ketika dulu dia menerima uluran tangan Naruto, Kyuubi telah bersumpah kalau dia takkan pernah lagi kembali ke kegelapan. Tapi sekarang, ketika Kyuubi memperoleh kesadarannya kembali dan membuka matanya lagi, hanya warna hitamlah yang ada dalam pandangannya. Seakan menunjukkan bahwa sejauh apapun dia berlari kegelapan akan tetap menangkapnya kembali.
Walau tubuhnya terasa sangat lelah dan seberat besi, Kyuubi tetap berusaha bangkit. Gadis itu memandang berkeliling, mencari apapun yang bisa memberinya rasa aman, tetapi hanya dingin lantai batu yang menyengat kulitnya, cahaya remang-remang yang menginvasi matanya, dan sepi suasana yang menyerang telinganya lah yang ia dapatkan.
"Jadi…" napas Kyuubi tercekat ketika sebuah suara menyapa gendang telinganya, karena dia mengenal suara itu. "Inilah sang Kyuubi."
Ketakutan Kyuubi terkonfirmasi ketika belasan obor tiba-tiba menyala di setiap dinding, menampakkan luasnya ruangan dan belasan orang yang mengelilinginya. Walaupun Kyuubi tak mengenal sebagian besar dari orang-orang itu, wajah mereka yang dingin dan kebencian yang mereka pancarkan sama sekali tak menyembunyikan tujuan mereka.
Tapi cahaya tak hanya mengungkapkan hal itu pada Kyuubi. Penerangan yang diberikan oleh obor juga memperlihatkan bahwa kedua pergelangan kaki telah dirantai ke lantai, melenyapkan setiap kemungkinan untuk kabur.
"Kau tahu kenapa kau dibawa ke sini?" masih suara yang sama, dan jantung Kyuubi berhenti berdetak saat menyadari bahwa sang pemilik suara itu adalah si nenek yang dulu menatapnya dengan penuh kebencian Naruto mengungkapkan identitasnya. "Kau tahu kenapa kami, para kepala klan dan tetua desa, berkumpul di tempat ini?"
Seluruh tubuh Kyuubi mati rasa karena ketakutan, tapi setidaknya dia masih mampu menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya kami hanya ingin mengajukan sebuah permintaan saja…" si nenek tersenyum pada Kyuubi, senyum beku yang tak sedikitpun menyimpan keramahan. "Oh, dan kusarankan sebaiknya kau memberi jawaban yang kami inginkan, atau…"
Sang nenek menjentikkan jarinya. Sedetik kemudian, sebuah lingkaran yang dipenuhi huruf-huruf kanji kuno menunjukkan keberadaannya di lantai tempat Kyuubi dirantai dengan cara mengeluarkan cahaya terang. Sebelum Kyuubi bisa mencerna situasi, rasa sakit yang amat sangat telah menyerang setiap inci tubuhnya, membuatnya menjerit sampai setinggi langit. Dan siksaan itu terus berlangsung, sampai si nenek menjentikkan jarinya sekali lagi.
"Bagaimana?" nenek yang hidup dengan nama Utatane Koharu itu bertanya, tersenyum sambil menatap Kyuubi yang terengah-engah kesakitan tanpa sedikitpun belas kasihan. "Dengan ini, kau mengerti apa akibatnya kalau jawabanmu salah kan?"
"…Dengarkan baik-baik," Utatane menunggu sampai napas Kyuubi normal sebelum melayangkan pertanyaannya. "Maukan kau meninggalkan Naruto?"
"E-eh…? A-aku…apa yang-KYAAAHHH!"
"Kukatakan sekali lagi!" Utatane berteriak kencang untuk menandingi jeritan tersiksa Kyuubi. "Maukah kau, Kyuubi no Youko, meninggalkan Naruto, Konohagakure no Hokage?"
"T-tapi kenapa…?" biarpun kesakitan, biarpun menderita, Kyuubi tetap memaksakan suaranya keluar. "Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Kenapa?" Utatane berjalan ke depan. Sebuah pekik sakit keluar dari bibir Kyuubi ketika tangan si nenek berkelebat dan menjambak rambut merahnya. "Kau masih bertanya kenapa?"
"Kau pikir kau ini siapa, hah! Kau ini iblis, makhluk terkutuk yang tak seharusnya lahir ke dunia ini! Dan kau menginginkan kehidupan bersama seorang Hokage? Aku yakin kau pasti hanya ingin memanfaatkannya saja! Ayo mengaku!"
"Ti-tidak…! Aku tak pernah berpikir untuk memanfaatkan Naru-" perkataan Kyuubi tak pernah selesai karena tamparan dahsyat telah menghampiri pipi kanannya. "Ah…!"
"JANGAN BOHONG!" Utatane menggerung murka, tangannya makin kasar menjambak rambut Kyuubi. "Kau kira rubah iblis sepertimu bisa menipuku? Cepat katakan, apa rencanamu sebenarnya!"
"…Tapi…itu yang sebenarnya…" air mata telah mengalir dari mata Kyuubi yang tertutup menahan sakit, seiring dengan aliran darah yang berasal dari sudut bibirnya. "Aku tak merencanakan apa-apa, aku tak pernah memanfaatkan siapa-siapa…"
Kyuubi membuka matanya, lalu menatap Utatane lurus-lurus, sambil berharap dalam hati bahwa perasaannya yang sebenarnya bisa tersampaikan, "Aku…hanya ingin bahagia. Itu saja…"
Sesaat, kejujuran murni dalam bola mata Kyuubi menghadirkan sedikit belas kasihan dalam hatinya. Tapi nenek yang sudah gelap mata itu segera mengusirnya. "Bahagia?" dia menambahkan satu tamparan ke pipi Kyuubi yang lain. "Ingin bahagia, kau bilang?"
"Kau lihat semua orang yang berkumpul di sini?" Utatane melanjutkan sambil mengibaskan tangannya yang bebas ke arah sekeliling. "Mereka adalah orang-orang yang anggota keluarganya telah kau bunuh! Dan inipun belum semuanya!"
"Kau kira sudah berapa banyak orang yang telah kaurenggut kehidupannya? Kau pikir sudah berapa banyak orang yang kaurampas masa depan dan kebahagiaannya?" Utatane mendesis di depan wajah Kyuubi. "Dan kau pikir kau masih berhak merasakan kebahagiaan? Seorang iblis dan pendosa sepertimu?"
"…Aku tahu kalau aku ini seorang pendosa, aku tahu kalau aku sudah melakukan hal-hal tak termaafkan yang tak terhitung jumlahnya. Tapi karena itulah aku ingin menebus semua kesalahanku…!" Kyuubi terisak tertahan, rasa sakit di seluruh tubuhnya membuat suaranya bergetar dan parau. "Karena itu, kumohon…! Kalian bisa melakukan apa saja padaku, asalkan jangan suruh aku meninggalkan Naruto…! Kumohon, biarkan aku tetap bersamanya…!"
"Kenapa aku harus mengabulkan permohonanmu …? Dan sehubungan itu, memangnya kenapa seorang iblis sepertimu menginginkan hal itu…?" tanya Utatane. Tak lama kemudian, ekspresi Utatane berubah, saat dia menyadari jawaban dari pertanyaannya sendiri. "Tunggu, jangan bilang…"
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya…?"
Kyuubi membiarkan kesunyian berlanjut untuk beberapa saat sebelum menjawab, "…Tentu saja…" dia mengabaikan sakit di tubuhnya dan mengangkat wajahnya, "Bagaimana aku bisa tidak mencintainya…? Di antara semua manusia yang pernah kutemui, hanya Naruto sajalah satu-satunya orang yang tidak memandangku sebagai iblis. Dan di atas itu semua, dia memaafkan semua kesalahanku dan bersedia menyayangiku. Itulah… itulah kenapa…"
"Aku mencintainya…!" Kyuubi berteriak, tak sadar kalau Utatane telah melepaskan jambakannya karena terkejut. Saat ini Kyuubi hanya ingin mengungkapkan seluruh perasaannya, perasaan yang bahkan tak pernah dia akui secara terang-terangan pada Naruto sendiri. "Aku mencintai Naruto, lebih dari apapun…! Jatuh cinta padanya adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku, dan selama ada dia, aku tak butuh yang lain! Aku rela diapakan saja, dan melakukan apa saja, asalkan bisa bersamanya!"
Kyuubi diam menunggu reaksi atas ungkapan perasaannya, tapi tak disangka, yang dia dengar malah sebuah tawa.
"Ahahahaha…! Cinta? Seorang iblis sepertimu bisa merasakan cinta?" biarpun habis tertawa, ekspresi Utatane berubah secepat lampu yang menyala. "JANGAN BERCANDA!" di kesempatan ini, mata Utatane yang sipit terbuka. Dan dari matanya bersinar sebuah kebencian yang menggila. "PEMBUNUH SEPERTIMU TAK PUNYA HAK UNTUK MENGUCAPKAN KATA ITU!"
Utatane menjentikkan jarinya sekali lagi, dan untuk kesekian kali ruangan itu dipenuhi oleh jerit kesakitan Kyuubi. Cahaya putih dari lingkaran jutsu itu menerangi setiap orang yang berdiri di sana, dan di tiap bola mata mereka, bersinar sebuah kepuasan karena bisa melihat makhluk yang telah merenggut nyawa sanak saudara dan keluarga mereka menderita.
…
Setelah 1 jam penuh penderitaan, Kyuubi akhirnya dilepaskan dari siksaan. Gadis itu terkapar dengan tubuh gemetaran, napasnya putus-putus dan berat, dan air yang hangat dan asin tanpa henti berlelehan dari matanya. Tapi walaupun tubuhnya remuk redam, entah kenapa hatinya sama sekali dalam kondisi yang berlawanan.
"Bagaimana? Sakit kan? Pedih kan?" suara kejam itu terdengar lagi, seakan-akan hati pemiliknya telah layu dan mati. Dengan kesadarannya yang sudah redup, Kyuubi samar-samar merasakan rambutnya dijambak lagi. "Itulah akibatnya jika kau seenaknya mengungkapkan emosi palsu yang takkan mungkin bisa dimiliki oleh iblis sepertimu."
Palsu?
Mereka bilang kalau perasaannya adalah palsu, lalu kenapa cinta ini justru membuatnya bisa menahan segala siksaan? Andai cinta ini palsu, maka kenapa segala sakit dan derita di tubuhnya bisa tertahankan bahkan terlupakan hanya dengan mengingat Naruto dan senyumnya yang hangat?
"…Aku tak peduli apa pendapatmu," walaupun telah disiksa sedemikian berat, suara Kyuubi malah menjadi makin jelas dan tegas. Gadis itu mengangkat kepalanya lalu membalas tatapan Utatane dengan berani. "Kau boleh berkata-kata sesukamu…! Kau boleh tertawakan aku…! Tapi perasaan ini…cintaku pada Naruto adalah asli, dan takkan ada yang bisa mengubahnya….!"
"K-kurang ajar…!" Utatane balas berteriak sambil menampar Kyuubi. "Beraninya kau bicara selancang itu padaku! Jangan lupa siapa dirimu, iblis!"
Utatane bingung, sungguh bingung. Padahal konon, lingkaran jutsu khusus yang diciptakan oleh Morino Ibiki ini adalah salah satu teknik penyiksaan yang paling ampuh, dan tak pernah gagal sekalipun dalam sejarah panjang sesi interogasi Konoha.
Tapi makhluk ini, si rubah iblis yang telah berubah menjadi gadis dengan fisik rapuh ini, bisa menahan siksaan yang sudah terbukti bisa melumpuhkan Jounin, bahkan sampai satu jam? Apa yang membuatnya bisa bertahan begitu lama? Apa yang membuatnya begitu kuat?
'Mungkinkah…dia benar-benar jujur tentang perasaannya…?' pikir Utatane. Tentu saja, untuk selamat dari teknik penyiksaan selevel ini, perlu kekuatan tekad yang tidak main-main. Dan jika ada sesuatu yang bisa membuat tekad seseorang menjadi tak terhancurkan, itu adalah cinta yang murni.
Utatane tersentak, kaget atas pikiran yang baru saja terlintas di kepalanya. 'Tidak! Aku tak boleh tertipu!' nenek itu menatap Kyuubi sambil berusaha mengembalikan kebencian ke dalam hatinya. 'Jika ada satu emosi yang bisa membuat tekad makhluk terkutuk macam dia jadi sekuat itu, pasti bukan cinta, melainkan dendam!'
Ya, alasan itu lebih bisa diterima. Lagipula sejak awal, Utatane merencanakan penyiksaan ini untuk mengungkap kecurigaannya pada Kyuubi. Bahwa Kyuubi mendekati Naruto semata-mata demi balas dendam.
Masuk akal kan? Kyuubi sudah kehilangan kekuatan, maka jalan untuk balas dendam melalui kekerasan sudah tertutup baginya. Karena itulah, dia mendekati dan berusaha merayu Naruto, karena jalan apa lagi yang lebih baik untuk menghancurkan sebuah desa selain mempengaruhi pemimpinnya?
Dengan membuat Naruto, yang selain merupakan seorang Hokage juga adalah ninja terkuat dalam sejarah Konoha jatuh ke tangannya, maka secara otomatis Kyuubi mendapat kontrol atas Konoha sekaligus senjata paling mematikan. Jika sudah begitu, maka menghancurkan Konoha, bahkan dunia shinobi, akan menjadi semudah membalikkan tangan!
Itulah kenapa Utatane melakukan ini. Dia harus mengungkap muslihat Kyuubi, karena dia tak boleh membiarkan Konoha dan juga Naruto dihancurkan oleh iblis ini!
'Tapi aku tak menyangka dia bisa bertahan sampai sejauh ini…' gumam Utatane dalam hatinya. 'Tak mengapa, aku sudah menyiapkan rencana lain. Dan kali ini, muslihatnya pasti akan kubongkar!'
…
"Berat kuakui, tapi jika kau bisa bertahan sampai begini, kurasa itu berarti perasaanmu pada Naruto memang jujur…" Mendengar itu, Kyuubi hampir tak bisa mempercayai telinganya. Namun sebelum dia sempat memberi respon apapun, Utatane telah melanjutkan. "Tapi sayangnya, kau tetap takkan bisa melanjutkan hidupmu bersama Naruto."
"Andai saja kau setuju meninggalkan Naruto sejak tadi, maka kau setidaknya, rasa sakit yang kau rasakan hanya akan bersifat fisik…" Utatane berbicara pelan-pelan, seakan menunjukkan kalau dia juga sebenarnya tak menginginkan ini. "Karena setelah mendengar ini, aku yakin kau akan meninggalkan Naruto atas keinginanmu sendiri."
Kyuubi hanya bisa diam karena tak begitu mengerti, tapi dia merasakan firasat yang sangat buruk tentang hal ini.
"Kami akan membeberkan identitasmu secara terang-terangan pada seisi desa."
Kyuubi secara alami adalah gadis yang memiliki intelegensi tinggi, karena itulah dia bisa langsung mengerti implikasi macam apa yang disimpan kalimat Utatane tadi.
"Kau tahu apa artinya itu kan?" si nenek melanjutkan dengan sebuah pertanyaan retorikal. "Bayangkan, bagaimana perasaan mereka jika tahu kalau iblis yang telah merampas hidup orang-orang tercinta mereka ternyata hidup di antara mereka? Dan di atas semua itu, apa yang akan terjadi jika mereka tahu bahwa Hokage mereka malah melindungi iblis itu?"
Wajah Kyuubi yang sudah pucat karena penyiksaan sebelumnya, kini benar-benar berubah putih seperti lilin.
"Naruto akan kehilangan kepercayaan mereka, kepercayaan yang telah begitu susah ia dapatkan, dan itu semua adalah salahmu. Karena kau, Naruto akan kembali ke kehidupannya yang dulu, kembali harus merasakan betapa menderitanya menjadi orang buangan yang dibenci dan dimusuhi."
'Hehehe, sedikit lagi…' Utatane tertawa dalam hati. Melihat bagaimana tekad Kyuubi mulai terkikis pelan-pelan benar-benar menciptakan kepuasan tersendiri baginya. 'Tinggal satu desakan lagi.'
"Jadi bagaimana sekarang? Apakah kau akan bersikap egois, dan tetap bersikeras ingin bersama Naruto walaupun itu akan menghancurkan hidupnya?" setelah yakin Kyuubi benar-benar mengerti situasinya, barulah Utatane melayangkan pertanyaannya. "Andai kau benar-benar mencintainya, maka kau tahu apa yang harus kauperbuat kan?"
Utatane menunggu sambil tersenyum dalam hati. Dia sangat yakin akan berhasil mengungkap keburukan Kyuubi. Jika benar gadis itu mendekati Naruto untuk menghancurkan pemuda itu, maka dia pasti memutuskan untuk tetap tinggal bersamanya. Dan saat itu tiba, maka Utatane akhirnya akan bisa-
"…Aku mengerti…" sebuah jawaban sunyi, hampir berupa bisikan, yang keluar dari mulut Kyuubi secara total menghentikan jalan pikiran Utatane. Dia menatap gadis itu dengan mata tak percaya, yang membalas tatapannya dengan mata sayu. Dan dari jendela hati berwarna merah delima yang telah kehilangan sinarnya itu, Utatane bisa melihat jiwa yang hancur berkeping-keping. "Aku…"
"…Aku akan pergi…"
~•~
Sosok itu kembali berkelebat di kegelapan, namun kali ini, sebuah objek terlihat tersandang di bahu kanannya. Gerakannya yang dengan mulus menerabas angin dengan cepat membawanya sampai ke depan sebuah pintu apartemen. Tepat setelah berada di dalam, sosok bertopeng itu segera mencampakkan objek yang ada di bahunya ke lantai, yang ternyata adalah seorang gadis dengan rambut merah yang sangat panjang.
"Kau diberi waktu satu jam untuk bersiap, dan menyelesaikan semua urusan yang tersisa."
Segera setelah sosok bertopeng menghilang, gadis berambut merah yang semula diam itu mulai bergerak, pertanda bahwa roh masih melekat di raganya. Walaupun seluruh tubuhnya telah kehabisan tenaga, gadis yang di masa dulu dijuluki Kyuubi no Youko itu tetap memaksa kakinya untuk berdiri.
Belum berapa langkah berjalan, sesuatu yang lembut terasa di ujung kakinya. Kyuubi menoleh ke bawah, ke arah sebuah jubah panjang berwarna merah tua yang teronggok di lantai, pakaian yang membuatnya mengingat banyak hal, hal-hal yang dulu selalu membuatnya tersenyum dan bahagia, tapi kini membuat matanya panas dan hatinya sakit menderita.
"Naruto…" Kyuubi berlutut, dan menarik jubah itu ke dalam pelukan sebelum membisikkan sebuah nama laki-laki yang menjadi pusat kehidupannya. Warna merah jubah itu berubah makin gelap, karena air mata Kyuubi yang merembes pelan-pelan ke sela-sela seratnya. "Naruto… *hik* Naruto…"
Kyuubi tahu air mata takkan bisa menyembuhkan luka hati, tapi dia butuh media untuk menumpahkan segala sedih dan pedih yang telah ditimpakan padanya. Setiap air mata yang menetes dari matanya adalah ungkapan kerinduan yang takkan terpuaskan, isakannya bercerita tentang impian yang takkan pernah jadi kenyataan.
Tapi sesedih apapun dia, tekadnya sudah bulat. Dia akan melakukan ini, karena dia terlalu mencintai senyum Naruto untuk membiarkan pemuda itu kembali berduka. Dia terlalu mencintai tawa Naruto untuk membiarkan kebahagiaan pemuda itu kembali berubah menjadi derita.
Kyuubi terlalu mencintai Naruto, karena itu biarlah dirinya yang menderita, selama Naruto bisa bahagia.
Karena itulah, setidaknya untuk sekarang, biarlah dia menangis sepuasnya.
Karena setelah ini, yang menunggu hanyalah perpisahan.
To Be Continued
~••~
Jadi, bagaimana pendapat kalian? Tolong jangan sungkan kasih komentar ya, kritik dan saran, flame atau pujian, hamba menerima semuanya…
Galerians, out.
