#NulisRandom2015

(Tanggal 10/Hari kesepuluh)

Age gap, one-sided!KuroAka

.

.

[Melihatmu dalam balutan jas pengantin adalah impianku.]

Gereja dengan arsitektur gotik dihias dengan warna putih. Perlambang suci ada di mana-mana dengan tujuan menyakiti mata, memperkosanya tanpa ampun sebelum meninggalkannya dalam keadaan menyedihkan. Bebungaan yang tidak kuketahui apa saja jenisnya menjadi anak itik yang mengikuti pita-pita perawan. Harum ini terlalu busuk di hidung, menusuk setiap bagian dengan tega.

Fokusku tak tetap. Aku ingin kabur dari tempat ini tetapi hatiku memberontak, memaksa setiap sendiku untuk tidak membuat pergerakan. Hanya membiarkan kelopak mata membuka-tutup, serta hidung kembang-kempis menghirup oksigen dan bau bunga yang menyebalkan.

[Melihatmu tersenyum tulus adalah impianku.]

Mungkin ini rasanya jadi boneka guna-guna. Disiksa sampai habis agar ia yang menjadi target meringis. Dipaku tanpa ampun agar korban merasa perih dan tidak bisa pergi.

Perih menyerang dada. Jantungku seperti diremas pelan-pelan, dengan irama konstan, dan paru-paru yang seperti ditahan salurannya. Aku tercekik—ingin menghantamkan kepala ke tembok terdekat melihat seorang wanita melangkah masuk ke ruangan.

Di saat seperti inilah aku menyesal tidak menjadi seorang polisi. Aku tidak memiliki izin membawa pistol dengan dalih menjaga keamanan. Padahal jika aku punya, sudah kutekan pelatuknya ke arah tertentu agar acara sial ini hancur sehancur-hancurnya.

[Melihatmu mengucapkan "saya bersedia" adalah impianku.]

Aku mulai sinting. Berharap hal yang tak mungkin. Ingin waktu lambat mengalir.

Bibirku komat-kamit dari lokasi persembunyianku—di balik pot bunga besar yang wanginya sudah mengebiri hidungku berulangkali—sambil berharap agar kau menarik kalimatmu.

Hei. Aku di sini. Berkenankah dirimu mengatakan hal itu jika aku melamarmu?

[Melihatmu memakai cincin pernikahan adalah impianku.]

Aku nyaris berteriak kesetanan.

Paku bumi penusuk kakiku akhirnya lepas. Aku sudah tak tahan dengan semua formalitas bangsat ini—bahkan aku sudah tidak peduli untuk menyaring kosakata yang sekiranya baik didengar semua kalangan usia.

Suaraku keluar.

Tanganku bergerak.

Kakiku melangkah.

Mendekat.

Berusaha Menahan.

Agar engkau tidak mencium mempelai wanita itu.

"Maaf, saya keberatan."

[Semua itu adalah impianku jika kau melakukannya bersamaku.]

Mataku terlalu sibuk memotret lekuk tubuhmu untuk melihat sekitar—aku terlena oleh pesona nakal yang kau tebarkan. Tubuhku kejang tak karuan mengetahui atensimu ada padaku.

Aku bahagia.

Akhirnya kau melihat padaku, menoleh padaku, terkejut melihatku.

Tiba-tiba aku jatuh. Bukan karena tersandung atau apa, pengawal yang disediakan oleh ayahmu sudah membekukku.

"Tolong lepaskan saya."

Pria kepanjangan tulang yang menahanku menggeleng.

"Melindungi Aka-chin adalah kewajibanku,"

Tanganku nyeri. Kuncian yang ia bentuk membuatku kesakitan.

"Lepaskan saya—saya bukan orang jahat."

"Ya, ya. Bukan orang jahat tapi penguntit kelas kakap."

Tubuhku diangkat mendadak. Pria berkulit gelap—pengawal lain—meledek sambil menyeret tubuhku.

"Berdasarkan laporan terbaru divisi data pasukan pengawal keluarga Akashi, kau adalah Kuroko Tetsuya—guru yang pernah mengajar di TK bocah Akashi,"

Aku tak bisa membebaskan diri. Tak bisa mengajukan pembelaan atau studi banding. Terlanjur tertangkap basah di hari yang sudah kutetapkan sebagai hari bersejarah untukku dan Akashi-kun.

"Selain homo dan stalker, pedo pula? Jahanam kau, 'Kuroko'."

Pria yang memaksaku ini masih asyik bercicit. Kulihat wajah Akashi-kun menatapku kaget, sebelum dia mengalihkan wajahnya dariku.

Akashi-kun... Mengapa kau bersikap seperti itu?

"Oi, jalan yang benar! Aku bukan ibumu dan tujuan kita adalah penjara bukan rumah—berhenti menatap bocah Akashi dengan wajah menjijikkanmu itu!"

Penghulu yang memimpin upacara masih diam. Akashi-kun tidak memperhatikannya dan malah mencium wanita berambut pink yang dijodohkan dengannya, membuat seisi ruangan kaget sebelum bertepuktangan terlalu keras.

Telingaku langsung tuli.

Kenapa, Akashi-kun?

Apa perjuanganku selama lebih dari 20 tahun ini hanyalah debu di matamu?

Aku tidak mengerti. Apa yang aku harapkan tidak bisa tercapai meski aku telah berusaha. Seperti memakan makanan busuk—membuatku mual dan meneteskan air mata.

Akashi-kun-ku... Sudah resmi menjadi suami orang.

.

.

Balasan Review—

Erry-kun: Hehehe soal itu, tunggu saja beberapa chapter lagi, pertanyaan itu akan terjawab ^^ bc LOLI IS JUSTICE lololol sip sip terima kasih atas reviewnya~