ONE LAST TIME

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.

STOOOP!

SAYA PENGANUT DLDR!

(DON'T LIKE DON'T READ~)

.

.

"Sial, sekarang dia kemana?" Ucap Guren sambil mengatur nafasnya.

Dia dan Shinya masih bermain kejar-kejaran dan sampai saat ini dia belum menemukan Shinya.

"Letkol, anda pasti mencari Nii-san ya?" Shinoa muncul dan berdiri di samping Guren.

"Iya, kau tau dia dimana?" Tanya Guren tanpa menoleh pada Shinoa sedikitpun.

"Aku tau. Dia berada di aula utama." Jawab Shinoa.

"Ah, kalau begitu aku kesana. Terimakasih atas informasinya!" Guren lanjut berlari menuju aula utama.

"Semoga berhasil, Letkol!" Balas Shinoa.

Shinoa menatap punggung sang Letkol yang semakin jauh dengan senyuman yang aneh. Ternyata dia sudah merencanakan sesuatu untuk Guren dan Shinya. Dia pun pergi untuk menjalankan rencananya.

Sementara itu Guren masih dalam perjalanan ke aula utama. Dia cukup heran, kenapa makin kesana malah makin ramai? Dia sempat menduga yang aneh-aneh, apalagi tatapan para prajurit agak aneh padanya. Ada yang memandangnya dengan senyuman, dengan mata yang berbinar-binar dan beberapa juga ada yang mengucapkan 'Semoga berhasil, Letkol!'

"Ah, aku akan membuat Shinya membayar ini semua." Guren sudah sampai di aula utama, tapi di sini gelap, lampu aula tidak dihidupkan, tapi dia tidak peduli karena dia berhasil melihat surai perak milik seseorang yang di kejarnya dari tadi tengah berdiri di tengah aula.

Perlahan tapi pasti Guren mendekat kearah Shinya yang membelakanginya dan Shinya tidak menyadari kedatangan Guren.

"Kena kau!" Ucap Guren sambil memeluk Shinya dari belakang.

"Guren!" Shinya terkejut atas aksi penangkapan Guren terhadap dirinya.

"Kau tidak bisa lari lagi, Shinya." Balas Guren.

"Iya, aku mengerti." Shinya melepaskan pelukan Guren kemudian membalikkan badannya memnghadap Guren.

Guren menaikkan sebelah alisnya sambil tetap menatap sang tambatan hati(asik dahh).

Shinya tersenyum mengejek kemudian bersiap untuk lari lagi, tapi sayang sekali lengannya sudah ditahan Guren dan Guren menariknya kedalam pelukan.

"Kau curang. Kenapa main peluk?" Shinya mencoba melepaskan diri dari pelukan Guren.

"Sudah diam saja, lagipula kau suka kan?" Guren memasang seringaiannya dan berhasil membuat Shinya diam.

Tangan Guren yang tadinya berada di punggung Shinya malah turun dan sekarang melingkar di pinggang Shinya.

"Jadi, boleh aku minta bayaranku, Shinya?" Seringaian itu masih terpasang di wajah Guren.

"Mou~ dasar tidak sabaran." Shinya melingkarkan lengannya ke leher Guren sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kau terlalu manis, Shinya, jadi itu adalah salahmu yang membuatku tidak sabaran." Balas Guren.

Shinya tersenyum geli mendengar ucapan Guren barusan dan entah sejak kapan Guren sudah mendekatkan wajahnya ke Shinya. Di saat jarak mereka akan habis, lampu aula tiba-tiba menyala dan mau tak mau mereka menghentikan kegiatan mereka yang hampir terjadi(?)

"Ha? Kenapa tiba-tiba?" Batin Guren.

Sementara Shinya, dia sudah terkejut duluan melihat para prajurit masuk ke aula utama dan sedang melihat dirinya dan Guren.

"Guren, apa yang kau lakukan sampai mereka mengikutimu?" Tanya Shinya dengan suara pelan.

"Tidak ada." Jawab Guren kalem.

Bisa kita dengar prajurit bersiul saat melihat Shinya dan Guren, ada juga yang menatap mereka dengan mata yang berbinar-binar, tersenyum gaje, ada juga yang berteriak 'Omedetou!'

"Pertama, aku ingin mengucapkan selamat pada Letkol Guren yang berhasil menemukan Mayjen Shinya." Ucap seseorang yang Shinya dan Guren sudah hapal benar itu suara siapa, well, itu suara Shinoa.

Guren dan Shinya langsung kembali ke posisi normal saat Shinoa berhenti bicara.

"Kedua, aku ingin mengucapkan terimakasih pada semua orang yang telah bersedia datang kesini atas permintaanku dan yang ketiga, aku punya kabar baik untuk kalian, Letkol Guren, Mayjen Shinya." Tambah Shinoa.

"Kabar baik?" Tanya Guren dan Shinya bersamaan.

Tepat setelah bertanya, semuanya(-Guren,Shinya,Shinoa) menunduk hormat kearah orang yang baru saja masuk ke aula utama dan saat ini tengah berjalan kearah Guren dan Shinya. Setelah melihat orang tersebut sampai di hadapan Guren dan Shinya, semua orang kembali menegakkan tubuh mereka untuk melihat kejadian selanjutnya.

"A-ayah?" Gumam Shinya yang kemudian menunduk saat melihat sang ayah yang diikuti Shinoa sudah berada di hadapannya.

"Shinya." Panggil sang Ayah.

"Y-ya?" Jawab Shinya sambil kembali menegakkan kepala dan menatap sang Ayah.

"Kau sudah pulih sampai bisa berlari-larian, hm?" Tanya sang Ayah.

"A-ah, i-itu…" Jawab Shinya terbata.

"Kau seharusnya istirahat, bukan berlari-larian seperti tadi." Ucap sang ayah sambil melihat Shinya yang kembali menundukkan kepalanya.

"A-aku mengerti." Balas Shinya.

"Ayah, cepatlah katakan. Jangan basa-basi." Celetuk Shinoa yang dari tadi menunggu perkataan yang seharusnya di katakan sang Ayah.

"Hh, sepertinya aku sudah memberikan hukuman yang terlalu keras padamu, Shinya." Ucap sang Ayah yang masih menatap Shinya.

"Aku minta maaf." Tambahnya.

Seketika itu juga Shinya dan Guren menatap tak percaya pada sang Jendral, Hiragi Tenri.

"Ma-maksud ayah?" Tanya Shinya. Dia masih tidak percaya dengan yang dikatakan Ayahnya tadi.

"Aku minta maaf. Sekali lagi kau bertanya, aku tak akan mengulangnya lagi." Jawab sang Ayah yang agak kesal.

Shinya terkekeh pelan mendengar hal itu. Sungguh tidak bisa di percaya bukan? Tapi kalau boleh jujur, jika Ayah yang sudah mengangkatnya sebagai bagian dari Hiragi itu penuh kasih sayang, Shinya bisa saja balik menyayanginya, tapi kenyataan berkata lain.

"Masih ada yang kurang, Ayah~" Shinoa tersenyum pada sang Kakak.

"Hhh, tentang hubungan kalian. Sepertinya aku memang tidak bisa…" Sang Jendral memasang wajah datarnya.

"A-ayah!" Shinoa menaikkan volume suaranya ketika sang Ayah berkata diluar permintaannya.

"Aku mengerti dan sangat mengerti." Shinya tersenyum, tapi itu adalah senyuman sedih.

Seperti mendapat ikatan batin, para prajurit pun ikut bersedih dan menundukkan kepala mereka. Mereka kecewa.

"Tentang hubungan kalian. Sepertinya aku memang tidak bisa menentangnya." Ulang sang Jendral sambil menambahkan kata-kata tambahan yang membuat keadaan mendadak hening.

"Ha?" Guren menaikkan sebelah alisnya. Dia bingung sekarang.

"Aku tidak bisa menentang hubungan kalian. Jadi, aku lebih memilih agar Shinya bahagia." Jelas Jendral Hiragi Tenri.

"Ba-bagaimana bisa?" Tanya Shinya masih tak percaya.

"Kau harus berterimakasih pada Shinoa yang sudah menasehatiku." Jawab sang Ayah sambil menepuk pelan kepala Shinoa.

Shinya menatap Shinoa dengan tatapan tidak percaya, tapi Shinoa malah membalas tatapannya dengan senyuman.

"Tapi ngomong-ngomong, masa iya kakak iparku, Letkol Guren terus." Ucap Shinoa sambil memasang wajah polos tak berdosa.

"Urusai." Balas Shinya dan Guren bersamaan sambil memberikan deathglare pada Shinoa. Sementara Shinoa hanya tersenyum tak berdosa.

Shinya menghela nafas kemudian menatap Guren. Pada saat yang sama Guren juga menatap Shinya, jadilah mereka bertatapan. Kalau boleh jujur, sebenarnya Shinya ingin melompat dan memeluk Guren saking senangnya, tapi karena dia ingat masih ada sang Ayah, dia jadi mengurungkan niatnya.

"Tidak perlu ditahan. Kau boleh melakukannya." Ucap sang Ayah yang seolah-olah bisa membaca pikiran Shinya.

Tanpa menunggu lagi, Shinya langsung memeluk Guren dan sudah pasti pelukannya dibalas oleh Guren. Sementara itu Hiragi Tenri pergi meninggalkan mereka. Shinoa masih berada di sana, dia dan para prajurit bertepuk tangan setelah pengesahan(?) hubungan Letkol tersayang mereka dengan Mayjen Shinya.

"Berarti keinginanmu sudah terkabul." Guren mengangkat tubuh Shinya sambil tersenyum.

"Keinginan?" Shinya mau tau mau mengalungkan lengannya di leher Guren kemudian menatap prianya.

Para penonton(baca : prajurit) yang melihat Guren dan Shinya ada yang berteriak heboh, tertawa gaje, bersiul-siul, berbinar-binar, ahh terlalu banyak untuk disebutkan.

"Sekarang kau sah menjadi Ichinose Shinya." Guren tersenyum, senyuman yang sangat lembut.

Para penonton heboh dan mulai berteriak.

"Cium! Cium!"
"Ayo, Letkol!"

"Cepat cium Letkol!"

Begitulah teriakan para penonton saat wajah Guren sudah dekat dengan wajah Shinya.

"Kau mendengarnya permintaan mereka kan, Shinya?" Tanya Guren.

"Aku dengar. Terserahmu saja mau menuruti permintaan mereka atau ti—"

Ucapan Shinya langsung di potong Guren dengan sebuah ciuman yang membuat semua penonton makin berterak heboh.

Sementara diantara kerumunan itu, ada seseorang yang broken heart. Dia tersenyum paksa saat melihat adegan di depan sana. Yap! Itu adalah Sayuri.

"Dengan begini sudah bisa dipastikan." Celetuk rekannya yang di ketahui bernama Goshi.

"Mereka akan selalu bersama dan bahagia sepanjang hidup." Tambah rekan Goshi berambut merah panjang yang di ketahui bernama Mito

"Relakan dia bersama pilihannya, Sayuri-chan." Ucap Goshi sambil menepuk kepala Sayuri.

"Bagaimana anda bisa tau?" Sayuri terkejut karena orang di sebelahnya ini mengetahui perasaannya pada tuannya.

"Yah, aku ini orang yang peka. Kelewat peka malahan." Jawab Goshi.

Sayuri hanya tersenyum. Dia akan merelakan tuannya. Dia yakin, kalau tuannya pasti tidak akan salah sudah memilih Mayor Jendral mereka. Jadi sudah dipastikan dia akan mendukung tuannya dan sang Mayor Jendral.

Adegan ciuman Letkol tersayang dan Mayjen mereka sudah selesai. Sekarang digantikan dengan adegan Guren yang bertengkar kecil dengan adik iparnya.

"Ngomong-ngomong Shinoa-chan, kapan kau menasehati Ayah?" Tanya Shinya pada adik satu-satunya.

"Etto~ tadi siang, saat aku bilang akan melaporkan kondisi Nii-san pada Ayah." Jawab Shinoa.

"Kau ini selalu memberikan kejutan ya, Shinoa." Ucap Guren.

"Ahaha~ Shinya-nii yang mengajariku." Balas Shinoa yang sepenuhnya adalah fakta.

-ONE LAST TIME-

Satu minggu sudah berlalu sejak peristiwa itu, tapi selama satu minggu ini Shinya tidak bertemu dengan Guren sama sekali. Terkadang ia mencoba menemui Guren, tapi Guren pasti tidak pernah bisa ditemui, pasti alasannya sibuk lah, laporannya menumpuk lah, dan masih banyak lagi. Belum lagi saat rapat kemarin, Guren sama sekali tidak menyapanya, melihatnya pun tidak, dia memasang ekspresi datarnya seperti biasa dan lebih memilih untuk menatap laporannya. Shinya yang melihat itu hanya menghela nafas dan mencoba bersabar. Tapi ayolah, satu minggu sudah mereka tidak berkomunikasi, siapa yang tahan coba?

"Haaahh, lelahnya~" Ucap Shinya saat keluar dari ruangan Kureto.

Baru kali ini dia merasakan lelah yang teramat sangat, biasanya akan selalu ada Guren yang menemaninya dan menghilangkan rasa lelahnya, tapi sekarang? Dia sendirian, paling juga Shinoa yang menemaninya.

"Araa~ Konbanwa, Mayor Jendral Ichinose Shinya." Sapa Shinoa saat melihat sang Kakak yang baru keluar dari ruangan Letjen, Hiragi Kureto.

"Hh, Konbanwa, Sersan Hiragi Shinoa." Balas Shinya sambil tersenyum tipis.

"Tidak bersama Letkol Guren?" Shinoa mengikuti Shinya yang berjalan menjauh dari ruangan Kureto.

"Kami tidak bertemu selama satu minggu ini." Jawab Shinya sambil melirik Shinoa.

"Yah, Letkol memang orang sibuk." Ucap Shinoa sambil menghela nafas pelan.

Shinya mendengus lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Dia berpikir kenapa Guren menjauhinya, padahal mereka tidak ada bertengkar, malahan mereka akur—sangat akur malahan—.

"Aku mau kembali ke ruanganku, kau masih mau ikut?" Tanya Shinya.

"Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin mendengar curhatan Nii-san kok, kalau begitu aku permisi!" Balas Shinoa yang kemudian pergi dari sana.

Shinya mau kembali ke ruangannya. Dia mau masuk ke kamarnya dan tidur, dia terlalu lelah sekarang. Belum lagi, tadi dia hampir terlibat adu mulut dengan Kakak tersayangnya. Memikirkan itu saja membuat Shinya izin untuk memijat pelipisnya. Dia benar-benar kelelahan sekarang.

"Kenapa disaat seperti ini dia malah tidak ada?" Shinya bertanya pada ruangan kosong. Saat ini dirinya sudah berada di dalam kamarnya dan dia merasa sangat kesepian.

Dia melepas seragamnya lalu menyimpannya di lemari. Rasanya dia tidak memiliki tenaga lagi untuk mengganti kemeja putih dan celana panjang hitamnya ini menjadi piyama. Jadi setelah itu dia lebih memilih untuk langsung berbaring di ranjangnya dan tidur, walaupun hari belum terlalu gelap.

"Menyebalkan." Gumamnya saat meraba sisi yang kosong di sampingnya.

Shinya menghela nafas kasar lalu kemudian memejamkan matanya dan langsung berlayar ke alam mimpi.

-ONE LAST TIME-

"Guren.." Shinya mengigau dalam tidurnya.

Sedetik kemudian dia merasakan sebuah tangan tengah mengelus lembut rambutnya. Tepat setelah elusan di rambutnya berhenti ia membuka matanya dan mencoba memfokuskan pandangannya yang agak kabur.

Shinya terkejut bukan main ketika melihat seseorang yang mengisi sisi disampingnya yang tadinya kosong sambil meluruskan kakinya dan sedang serius membaca buku.

"Guren?! Bagaimana kau bisa disini?" Shinya masih terkejut, oke? Jadi tanpa sadar dia menaikkan volume suaranya.

"Berisik, Shinya. Aku sedang membaca." Balas Guren.

"Jawab, Guren." Shinya tidak terima karena Guren tak menjawab pertanyaannya.

"Hh, tidak boleh? Ya sudah, aku akan kembali ke ruanganku." Guren baru saja akan menurunkan kakinya dari ranjang jika Shinya tidak menahannya.

"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya minta jawabanmu." Shinya mendengus pelan.

"Aku ingin menemanimu." Guren kembali membaca bukunya.

"Hah? Menemani? Jadi selama satu minggu ini kau kemana saja? Sudah meninggalkanku, tidak berkomunikasi denganku, mengacuhkanku, bahkan kau tidak melihatku!" Shinya kesal dan itu sudah pasti.

"Ada alasannya, Shinya." Jelas Guren yang sudah pasti bagi kita semua terdengar seperti bukan penjelasan.

"Kalau begitu jelaskan alasannya, Ichinose Guren." Shinya duduk dan melipat tangan di dada.

"Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aku hanya melaksanakan perintah Kureto sialan itu." Guren tak menoleh sedikitpun pada Shinya.

"Perintah dari Kureto-nii?" Shinya mengangkat sebelah alisnya.

"Hm." Guren hanya menjawab dengan gumaman.

"Setidaknya katakan dari awal." Lirih Shinya.

"Hei, Shinya." Panggil Guren, tapi sayangnya tak di balas.

"Shinya." Panggilnya sekali lagi tapi tetap tak dijawab.

Guren menutup bukunya dan meletakkannya di meja nakas.

"Ichinose Shinya." Kali ini panggilannya berhasil, walaupun Shinya tidak menjawab, tapi dia menoleh padanya.

"Kau kesepian?" Tanya Guren.

Shinya hanya mengangguk pelan.

"Dan kau selalu mencariku?" Tanya Guren lagi dan kali ini Shinya menjawabnya masih dengan anggukan.

"Berarti kau merindukanku?" Kali ini Guren tersenyum tipis.

Shinya yang melihat itu tak tahan dan langsung memeluk Guren.

"Kau itu bodoh atau bagaimana? Sudah tau masih bertanya juga. Mana mungkin aku tahan tidak bertemu denganmu." Agaknya Shinya kesal karena Guren malah menanyakan hal yang seharusnya dia sudah tau jawabannya.

"Aku hanya ingin membuatmu rindu padaku." Guren terkekeh pelan lalu membalas pelukan Shinya.

"Kau ini benar-benar manja, Shinya." Tambahnya.

"Setidaknya aku hanya manja padamu." Shinya melepaskan pelukannya dan menatap pria di hadapannya ini.

"Tapi tunggu dulu, kau ingin membuatku rindu padamu? Jadi itu alasanmu menghilang, huh?" Shinya menatap tajam pada Guren.

"Yah, sebenarnya Kureto juga memberiku beberapa perintah untuk tetap meneliti seraph di laboratorium, tapi saat aku melihat kau begitu kesepian karena kita tidak bertemu aku jadi ingin mengerjaimu juga." Jelas Guren.

"Oh? Selamat, kau berhasil, Tuan Ichinose."

Shinya kesal. Sungguh ia sangat kesal karena alasan sepele Guren. Sempat terlintas di pikirannya untuk balas menjauhi Guren, tapi sepertinya ia tidak sanggup, jadi ia tepis jauh-jauh pemikirannya tadi.

"Selain itu, sudah berapa lama kau di sini?" Tanya Shinya yang mengalihkan pandanganya dari Guren.

"Saat kau mulai tertidur. Sepertinya kau tidak sadar kalau tadi aku mengikutimu." Jawab Guren seadanya.

"Aku terlalu lelah untuk menyadari itu." Balas Shinya.

Guren menaikkan sebelah alisnya. Lelah? Baru kali ini muncul kata lelah dalam kamus Mayor Jendral Hiragi Shinya. Selama ini tidak pernah ada kata lelah yang tercatat dalam kamusnya, dia juga tidak pernah mengeluh tentang lelah, tapi sekarang dia lelah?

"Baru kali ini ada kata lelah dalam kamus seorang Mayjen Shinya. Biasanya kau akan menjahiliku, menggodaku dan masih banyak lagi, tapi kau tak pernah berkata lelah" Celetuk Guren.

"Ya habisnya saat itu aku menghabiskan waktuku denganmu, saat denganmu itu tidak pernah membuatku lelah. Sekarang saja rasa lelahku tadi sudah berkurang karena kau sudah di sini." Jelas Shinya yang masih rada-rada ngambek.

Penjelasan Shinya berhasil membuat rona tipis muncul di pipi Guren, tapi sayangnya Shinya tidak bisa melihatnya karena sekarang Guren sudah memalingkan wajahnya.

"Lebih baik ganti pakaianmu, Shinya." Ucap Guren yang sudah kembali normal.

Shinya tak menjawab dia turun dari ranjangnya dan berjalan ke lemarinya. Bukannya mengganti seluruh pakaiannya, ia hanya mengganti celana panjangnya tanpa mengganti kemeja putih lengan panjangnya.

"Kubilang ganti pakaianmu. Bukan celanamu, Shinya." Guren mendengus saat Shinya sudah selesai mengganti celananya.

Tak ada jawaban, tapi dia memilih kembali naik ke atas ranjang dan duduk di samping Guren.

"Kau masih lelah?" Tanya Guren.

"Tidak." Jawab Shinya singkat tanpa menoleh.

Oke, kali ini Guren kesal karena Shinya tidak mau menoleh padanya.

"Hei, Shinya." Panggil Guren.

Shinya menoleh dan bisa dirasakannya bahwa bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir Guren. Ah, kau pintar Guren. Guren memberikan hisapan kecil pada bibir Shinya. Shinya dengan senang hati membalas ciuman dari Guren.

Shinya merasa sudah lama sekali tidak melakukan ini dengan Guren.

Shinya lupa kapan dia sudah di tindih oleh Guren dan kapan kancing kemejanya sudah terbuka seluruhnya.

"Nghh, Guren.." Shinya mendesahkan nama itu ketika Guren mulai menciumi lehernya.

"Aku menginginkanmu sekarang juga, Shinya." Bisik Guren pada telinga Shinya yang kelewat dekat sambil sesekali menggigitnya.

"Dengan senang hati aku akan jadi hadiahmu." Balas Shinya sambil tersenyum menggoda.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note : Halo semuaaa~ Gimana kabarnya? Chapter kali ini rada-rada panjang ya? Hehehe~ gapapa yaa? Oh iya, kok author tiba-tiba kepengen Krul di pertemukan sama Ashura ya? Pengen gitu ngeliat ekspresi mereka pas ketemu, secara mereka abang adik, jadi author pengen liat _ Satu lagi, mau gak kalo chapter depan author buat GureShin ngelaksanain Pocky challenge atas paksaan Shinoa? Kalo gitu semuanya author tunggu di review yaaa~

Mind to Review~?