Woaah aku shock masa liat akun ffn-ku.
Harusnya ff ini belum update. Harusnya di update buat bulan depan pas ultah ELF. Tapi berhubung kemaren adekku yg aku tugas buat update ff 'My Brother', dia dg sok taunya (tapi aku makasih dia mau update my brother) ikut ngepost ff ini. Jadi tentu aja di note abis TBC ada kalimat yg pasti bikin kalian shock juga.
"Pertama aku mau ngucapin happy 11th anniversary buat para ELFeu"
Berhubung bulan mei ini aku bakal sibuk (aku SUP pertengahan bulan ini –mohon doanya), karena gak bakal sempet nulis, niatnya My Brother jadi ffku yang terakhir ku update, sedangkan Your eyes buat bulan depan. Tapi karena ada insiden ini *apalah ini*, aku gak bisa janjiin update bulan depan juga -_-
.
.
Title : Someone Like Me (Your Eyes)
Genre : Brothership, Family, Hurt
Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum
Rated : Fiction T
Warning : Typo(s), Geje, Bored, Drama, Bad Plot, OOC (Out of Character). Dia *nunjuk Cho Kyuhyun* masih diusahakan milik saya. Don't like it? Don't read it! Mind to RnR?
Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot. Don't copy paste without permission.
.
.
.
10
"Siapa anak itu?"
Manager Han menoleh pada Song Jihye yang tengah menatapnya. Meski selalu bersikap menyebalkan didepan Kibum, tapi Manager Han tahu kalau Jihye juga menyayangi Kibum. Jelas sekali wanita itu khawatir pada Kibum saat tahu Kibum dibawa ke rumah sakit. Bahkan sampai membatalkan rencana perginya untuk sekedar melihat keadaan Kibum, meski Manager Han tahu Song Jihye tahu konsekuensi yang diterimanya jika datang dalam keadaan Kibum sadar. Dia akan diabaikan dan paling parah diusir langsung dari ruang rawat Kibum.
"Teman Kibum?"
"Teman?" alis Song Jihye naik sebelah. Well, dia tahu Kibum. Anak itu tak suka melabeli anak yang mengerubunginya dengan label 'teman'. Jadi dia cukup takjub dengan adanya anak yang dilabeli Kibum sebagai 'temannya'.
"Sepertinya suamiku juga menyukainya"
"Anda berpikir begitu?"
Song Jihye tersenyum miring sebelum berdiri. "Aku tidak tuli, Manager Han. Nama itu sering dipanggil suamiku ketika mengigau" Kyuhyun. Song Jihye tak akan melupakan nama itu. Karena hampir setiap suaminya mengigau, nama itu akan keluar dari mulut suaminya bersamaan dengan nama Kibum dan juga nama mantan istrinya.
Dia terluka tentu saja. Siapa sih yang tidak terluka mendengar nama yang diigaukan suamimu adalah nama mantan istrinya? Tapi mau bagaimana lagi? Saat ditawari menikah dengan Tuan Kim, Song Jihye sudah tau konsekuensinya. Dia hanya pajangan pria itu. Dia hanya wanita yang akan dibawa suaminya ke pesta rekan bisnisnya. Tidak lebih dari itu.
"Kabari aku saat Kibum siuman" katanya sebelum berjalan menjauhi Manager Han.
.
.
Kyuhyun menaikan sebelah alisnya ketika melihat Jonghyun ada didalam kelas, dan mulai menyipitkan matanya ketika mendapati Jaehyun dan Junho. Seketika dia merasa mendapat firasat buruk. Dengan gerakan cepat Kyuhyun masuk kedalam kelas, memeriksa ransel bututnya kemudian menghela nafas lega ketika itu masih utuh.
"Jadi sedang apa kalian disini?" tanyanya sambil memakai ranselnya. Jam pelajaran sudah berakhir 15 menit yang lalu. Harusnya mereka sudah pulang. Dia juga. Tapi berterimakasihlah kepada Tuan Kim dan Kibum yang berhasil membuatnya terjebak di ruang rawat Kibum lebih lama dari perkiraannya.
"Tidak mungkin hanya untuk menjaga ranselku kan?" tanyanya bercanda namun nada yang digunakannya terlalu datar. "Ya Tuhan, aku terlambat" Kyuhyun menerobos Jonghyun dan Junho yang menghalangi jalannya. Ryeowook pasti khawatir karena ponselnya mati dan dia belum berada di cafe sekarang.
"Apa lagi?" Kyuhyun mendelik kesal pada Junho yang menarik tangannya. Dibelakang Junho –didepan kelas, dia melihat Jonghyun dan Jaehyun tengah memperatikannya.
"Aku antar"
"Hah?"
"Ada yang ingin kubicarakan"
Kyuhyun mengeluh keras sebelum mengikuti langkah Junho ke arah mobil Junho. Masa bodo dengan kerutan didahi Jonghyun dan Jaehyun. Dia menyamankan dirinya dikursi samping kemudi –memasang sabuk pengaman, membiarkan Junho mulai fokus dengan kemudinya.
"Jadi ada apa?" Kyuhyun bertanya tanpa menoleh. Ia bahkan mulai mengantuk.
"Soal mejamu" menggantung. Kyuhyun melirik sekilas dengan alis bertaut. "Bukan aku"
Hah? Kyuhyun kini benar-benar menghadapkan tubuhnya ke arah Junho. Kyuhyun yakin ada yang salah dengan Junho. Kepala anak itu pasti terbentur, atau mungkin Jaehyun dan Jonghyun baru saja memukulnya. Ini jenis pembicaraan yang tak pernah Kyuhyun bayangkan akan dia lakukan dengan Junho. Pembicaraan konyol.
"Lalu?" Kyuhyun benar-benar menahan diri untuk tak menggerutu betapa tak masuk akalnya pembicaraan mereka. Ayolah, disampingnya itu Junho! Kalau Ryeowook mungkin dia tak akan merasa seaneh ini.
Junho mendengus mendengar respon dari Kyuhyun. Padahal dia mati-matian menahan malu ketika mengatakannya. Dia cuma tak mau Kyuhyun salah sangka seperti Kibum pagi tadi. Junho bahkan sampai bergidik ngeri ketika dia membayangkan kejadian pagi tadi. Oke, dia berlebihan. Dia hanya mendapat sambutan selamat pagi yang tak biasa dari Kibum. Well, selama ini dia memang tak mau bersinggungan dengan Kibum. Bukan hanya dia sih, semua anak di sekolah juga tak mau bersinggungan dengan Kibum. Hei, Junho masih cukup waras untuk tak melibatkan Kibum dalam setiap permainannya. Dia masih sayang Ayah-Ibunya, dia juga masih sayang perusahaan keluarganya dibangun Ayahnya mati-matian. Karenanya selama ini dia berusaha tak membuat masalah dengan Kibum.
Tapi pagi tadi beda. Entahlah. Seharusnya dia biarkan saja Kibum dengan pemikirannya. Toh sudah biasa dia diancam Kibum –jika dia mengganggu ketentraman putra tunggal keluarga Kim itu. Tapi ketika mata Kibum seolah menuduhnya sebagai dalang dari kotornya bangku disebelah Kibum –dengan coretan penuh kata tak bermoral, dia tentu saja tak bisa tinggal diam.
Oke, maksudnya begini. Jika memang itu dia pelakunya. Maka tak masalah. Lagipula biasanya Kibum hanya memperingatinya –tak sungguh-sungguh membuat perhitungan dengannya. Tapi ketika Junho sadar bangku itu milik anak 'itu', dia merasa perlu menjelaskan.
"Hanya memberitahumu" dengus Junho.
"Kupikir kau mau bercerita sesuatu hal" Junho melirik Kyuhyun, "Seperti alasanmu menyendiri di cafe misalnya" Kyuhyun mencoba mengalihkan pembicaraan. Ini gila. Pembicaraannya dengan Junho jelas bukan jenis pembicaraan yang biasa dia lakukan dengan Junho. Tak ada nada mencela disana. Bahkan rasanya Kyuhyun malah mendengar nada khawatir yang digunakan Junho.
"Kenapa harus bercerita padamu?" dengus Junho tak suka. Sebenarnya kesal karena Kyuhyun mengalihkan pembicaraan. Namun disudut hati Junho, dia bersyukur karena sepertinya Kyuhyun tak berburuk sangka padanya.
"Hanya usul" Kyuhyun menyandarkan tubuhnya kembali. Dia juga tak sungguh-sungguh bersedia mendengar cerita Junho. Buat apa? Dia kan tidak dekat dengan Junho. Terus kalau Junho sudah cerita, dia mau apa? Mau sok jadi 'teman' yang menasehati atau memberi masukan? Mereka tidak dalam kondisi seperti itu. Bahkan sekarang saja Kyuhyun merasa aneh bisa duduk dimobil Junho, disamping Junho yang mengemudi.
"Hari itu ulang tahun kami"
Kyuhyun mengeluh dalam hati. Sialan! Seharusnya Junho tahu kalau kondisi mereka itu sekarang aneh. Mereka bukan dalam hubungan dimana bisa bercerita masalah pribadi.
"Junho" potong Kyuhyun. "Jangan ceritakan apapun" lanjutnya, membuat Junho melirik dengan alis naik sebelah. "Aku bukan orang yang bisa kau percayai" katanya menjawab pertanyaan tak terucap Junho.
"Kau yang menawarkan diri. Kalau kau lupa" Junho menyunggingkan senyum sinis.
"Dan kau percaya?"
Junho menghela nafas, "Mungkin ini terdengar konyol dan tak masuk akal. Tapi dari perlakuanmu padaku malam itu. Aku ingin mempercayaimu" ucapan itu terdengar tulus. Bukan khas seorang Junho. "Meski aku tahu kau benci setengah mati padaku, kau tetap memperlakukanku dengan baik. Bahkan tanpa mendesakku bercerita"
Malam itu Junho harus mengakuinya. Bahwa Kyuhyun berbeda. Dia bukan jenis 'teman' yang hanya memujinya, membenarkan apa yang dia lakukan tanpa memberi pandangannya terhadap apa yang Junho lakukan. Kyuhyun menganggapnya sama seperti Jonghyun dan Jaehyun. Dan mungkin hal itu juga yang membuat Kibum membiarkan Kyuhyun berkeliaran disekitarnya. Kibum menemukan kenyamanan yang Junho rasakan malam itu, ketika Kyuhyun memanggilnya dan menariknya masuk kedalam minimarket untuk mentraktir Junho mie instan. Kenyamanan yang tak Junho temukan pada kedua orang yang dia labeli 'sahabat'.
Mobil Junho berhenti tepat didepan cafe. Kyuhyun cepat melepaskan sabuk pengamannya. Dia tak bisa terjebak lebih lama dengan Junho. Bukan. Bukan karena dia benci Junho. Tapi karena dia mulai merasa nyaman dengan Junho, seperti dia nyaman berada didekat Jaehyun dan Jonghyun. Dia juga mulai penasaran dengan kejadian malam itu. Jadi lebih baik dia segera pergi atau rasa penasarannya malah membuatnya mengorek informasi yang seharusnya tak perlu dia tahu. Kyuhyun harus bisa membatasi dirinya sejauh mana dia ikut campur dengan urusan orang lain.
"Sepertinya kau salah sangka" katanya sambil menghadapkan kembali tubuhnya pada Junho, memerangkap sepasang mata sipit Junho. "Aku hanya kesal. Aku tidak membencimu" katanya sebelum keluar dari mobil Junho. Sebelum menutup pintu, Kyuhyun memaksakan senyum kecil tersungging dibibirnya. "Terimakasih tumpangannya" kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Junho.
.
.
Tuan Kim berdehem, mencoba mengambil atensi Kibum dari buku didepannya. Dan itu berhasil. Kibum menoleh dengan alis bertaut. Namun kalimat yang keluar dari mulut Kibum seketika seperti palu yang memukul kepalanya keras-keras, menyadarkannya bahwa dia sudah terlalu jauh dari Kibum.
"Bukannya harusnya Ayah masih dikantor?"
"Ayah mau bicara Kibum"
Kibum meletakan buku yang tengah dibacanya diatas nakas setelah melipat ujung lembar terakhir yang sudah dibacanya. Dia pusatkan dirinya pada Ayahnya. Setelah kejadian siang tadi –ketika melihat Ayahnya menangis, Kibum merasa dia sudah terlalu jauh melangkah dari Ayahnya. Dan itu tak boleh terjadi. Kibum sudah berjanji pada Ayahnya bahwa dia akan selalu ada disamping Ayahnya, apapun yang terjadi, menjadi penguat bagi Ayahnya. Tapi nampaknya dia terlalu terlena dengan jarak yang dia buat hingga melupakan janjinya.
Kibum tahu arah pembicaraan ini. Ayahnya bersikap tak wajar sejak kembali dari ruangan Dokter Park. Terlihat gelisah. Dan sejak tadi, sebenarnya Kibum menunggu Ayahnya memulai pembicaraan dengannya. Karena bagaimanapun dia itu Kim Kibum, memulai pembicaraan bukanlah dia sekali.
"Soal obat penenang itu. Sudah berapa lama?"
"Maafkan aku, Ayah" Kibum menunduk, merasa bersalah karena melihat betapa terlukanya tatapan Ayahnya padanya. "Akhir-akhir ini aku sudah tak mengkonsumsinya. Kyuhyun bilang aku harus berhenti. Tapi siang tadi aku merasa tertekan" sosok Kibum ini adalah sosok Kibum-nya. Sosok yang begitu manis dan tersentuh.
Tuan Kim mendekat, menepuk pundak Kibum dengan sayang. "Aku penyebabnya ya?"
Kibum menggeleng. "Aku kurang bisa mengontrol diriku" menjadi orang tertutup itu kadang melukai diri sendiri. Jika ada masalah, tak punya kepercayaan bercerita pada orang lain. Kibum merasakannya. Satu-satunya tempatnya bercerita –Ayahnya, entah bagaimana perlahan sulit dia jangkau.
"Ayah tahu, aku tak pernah benar-benar punya seseorang yang bisa kuanggap teman" Tuan Kim mengangguk. Kibum tipe anak yang terlalu hati-hati dalam memulai pertemanan. Kehidupan yang sama seperti dirinya-lah penyebabnya. Terlalu banyak penjilat yang mengelilingi mereka. Hingga membentuk kepribadian Kibum menjadi sulit percaya pada orang lain. "Tapi kali ini, ketika aku bertemu Kyuhyun, aku menginginkan seseorang yang bisa kupanggil teman. Orang yang tidak melihatku sebagai Pewaris Tunggal Kim Group, yang hanya melihatku sebagai Kim Kibumm –seorang siswa biasa" alasan Kibum kurang lebih sama seperti alasannya menyukai berada didekat Kyuhyun. Anak itu berbeda. Tak lantas berusaha terlihat baik hanya karena dia pemilik Kim Group.
"Ada sesuatu yang membuatku tak bisa mengabaikannya meski setiap berada didekatnya, bersentuhan dengannya, jantungku berdetak tak normal. Rasanya sakit. Ada sesuatu yang—sulit kujelaskan mengenai dirinya" pandangan Kibum menerawang, mengingat pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun, sentuhan pertama tangan Kyuhyun padanya yang membuat jantungnya bekerja lebih ekstra, lalu tingkah Kyuhyun yang menentangnya. Tanpa sadar Kibum tersenyum kecil.
Tuan Kim mengangguk setuju, dia juga merasa seperti itu. Dia selalu merasa jantungnya harus bekerja lebih ekstra jika dia berdekatan dengan Kyuhyun. Sensasinya, beliau menyukainya.
"Aku berusaha membangun hubungan yang baik dengannya" lanjut Kibum. "Tapi kemudian Ayah merusaknya" Tuan Kim kembali fokus pada Kibum. Nada yang digunakan Kibum jelas sekali menandakan dia terluka. "Ayah membuatnya menjaga jarak denganku" harusnya Kibum baik-baik saja. Dia tak usah bersikap berlebihan dengan menelan beberapa obat penenang sekaligus. Namun rasa sesak didadanya ketika Kyuhyun seolah membuat jarak dengannya entah mengapa membuatnya frustasi. Dia butuh obat itu.
"Aku menyesal, Yah" ucap Kibum setelah tak mendapati respon Ayahnya. Ia benar-benar menyesal. Dia berlebihan. Dia hampir membunuh dirinya sendiri. Dengan alasan konyol. Ayolah, dia itu Kim Kibum. Seharusnya dia berpikir dengan kepala dingin, bukan malah kembali meminum obat penenang yang mulai dia tinggalkan.
Tuan Kim menepuk puncak kepala Kibum. Putranya yang irit bicara dan tertutup ini baru saja mengungkapkan perasaannya. Betapa senangnya dia. Rasanya seperti jarak yang selama ini tercipta perlahan mulai dikikis. "Tidak apa-apa" ketika Kibum mendongak, anak itu bisa melihat senyum tulus Ayahnya. Wajah datar yang diwariskan kepadanya sejenak hilang, berganti menjadi wajah yang memberikan ketenangan padanya.
"Jangan ulangi. Ayah hampir jantungan saat tau kau dibawa ke rumah sakit" Tuan Kim serius. Kibum itu tipe anak yang jarang sakit. Jadi ketika beliau mendapat kabar bahwa Kibum dilarikan ke rumah sakit, betapa paniknya beliau.
"Tentu saja. Ayah tahu betapa bencinya aku dengan rumah sakit" Kibum menyahut dengan nada datar. Bola matanya berputar dengan ekspresi khas seorang Kim Kibum, membuat Tuan Kim terkekeh. Kim Kibum telah kembali.
.
.
"Ayo pulang bersama, Kyu"
Kyuhyun yang tengah memasukan seragam kedalam lokernya melongok, mendapati Ryeowook tersenyum diambang pintu. Hanya tinggal mereka berdua, seperti biasa. Mengangguk, Kyuhyun buru-buru mengunci lokernya kemudian memakai ranselnya. Dia tersenyum kecil ketika melihat Ryeowook tersenyum padanya.
"Sekolahmu baik-baik saja kan?" Ryeowook bertanya sambil mengunci pintu cafe. Shin ahjusshi tadi menitipkan kunci pada mereka berdua setelah mendapat telepon dan harus menemui temannya.
Kyuhyun tak bisa menyembunyikan senyumnya. Pertanyaan ini terdengar begitu familiar, dan dia rindu. Sejak terakhir kali pulang bersama, Ryeowook tak pernah bertanya hal dasar –namun terdengar perhatian, seperti ini. Jadi tidak salah kan kalau Kyuhyun rindu?
Ryeowook. Sosok ini begitu berarti untuk Kyuhyun. Hanya Ryeowook yang betah diabaikan Kyuhyun. Hanya Ryeowook yang mau menemaninya menyendiri tanpa menanyakan alasannya menyendiri. Dari Ryeowook-la Kyuhyun mendapatkan semua perhatian yang tidak dia dapatkan dari orang tuanya. Ryeowook adalah Ayah, Ibu, sahabat, kakak sekaligus teman untuk Kyuhyun.
"Malah tersenyum begitu. Ayo jalan" tepukan dibahunya membuat Kyuhyun tersentak. Dia terkekeh dan segera mensejajari langkah Ryeowook.
"Ibu menanyakanmu terus" Ryeowook menoleh, "Ngomong-ngomong Ibu sedang praktek resep kue yang baru lho" lanjutnya disambut mata bulat Kyuhyun yang membulat sempurna. Ibu Ryeowook ini punya usaha toko kue kecil. Kyuhyun sering sekali diundang datang untuk mencicipi resep barunya.
Ngomong-ngomong Ibu Ryeowook ini suka sekali dengan Kyuhyun. Pasalnya Kyuhyun selalu memuji kuenya, berbanding terbalik dengan Ryeowook yang selalu komplen –kurang manislah, kurang lembutlah, apalah. Maklum Ryeowook ini juga menuruni keahlian Ibunya membuat kue, tentu dia akan dengan senang hati menilai kue buatan Ibunya sebelum dijadikan menu di toko kue mereka.
"Aku usahakan mampir secepatnya" katanya berapi-api, membuat Ryeowook tersenyum lebar. Kyuhyun yang didepannya ini, Ryeowook menyukainya. Ini sosok yang memerangkap dia dan Ibunya untuk memberikan kasih sayang. Sosok kekanakan yang begitu bersemangat.
"Oh iya, bagaimana temanmu yang itu?" alis Kyuhyun naik sebelah. "Itu, yang tempo hari menyewa cafe kita"
Kyuhyun mengangkat bahunya, "Dia baik-baik saja" katanya. "Jangan tanya apapun lagi padaku" lanjutnya ketika melihat mulut Ryeowook sudah terbuka –hendak bertanya. Kyuhyun tak berhak menceritakan perihal Junho pada Ryeowook. Lagian ia juga tak mau sok tahu dengan mengira-ngira masalah apa yang dialami Junho. Kyuhyun tak mau ikut campur. Seperti biasa.
"Iya iya" Ryeowook merengut sebal. "Sudah sana duluan"
Kyuhyun mengangguk kecil, dia berbelok ke arah yang berlawanan dengan Ryeowook. Namun baru beberapa langkah dia segera berbalik sambil melambaikan tangannya pada Ryeowook. "Sampai jumpa hyung!" katanya yang mampu membuat Ryeowook mengulas senyum kecil.
Satu hal yang membuat Kyuhyun iri pada Ryeowook –dan semua teman-temannya. Mereka punya orang tua yang peduli pada mereka –entah itu Ayah atau Ibu. Ada yang membangunkan mereka ketika mereka kesiangan, ada yang membuatkan bubur ketika mereka sakit, ada yang menanyakan kegiatan disekolah ketika dia pulang ke rumah, ada yang menegur mereka ketika mereka berbuat salah, dan yang terpenting ada tempat mengadu dan bersandar jika mereka merasa bersedih.
Kyuhyun bukan tak mensyukuri kalau dia masih memiliki seseorang yang dia sebut Ibu. Dia sayang Ibunya. Tapi dia tak bisa membohongi dirinya, bahwa didalam sudut hatinya yang terdalam, dia ingin juga mendapat perlakuan seperti teman-temannya yang lain.
Pikiran Kyuhyun kembali melayang. Tadi, saat melihat betapa rapuhnya Tuan Kim ketika melihat Kibum tak berdaya. Dia sadar satu hal. Sekaku-nya Tuan Kim, dia tetap seorang Ayah yang begitu menyayangi putranya. Tuan angkuh itu bahkan meneteskan air mata sambil bergumam maaf pada Kibum –menunjukan betapa rapuhnya pria itu. Dan kemudian sebersit pertanyaan mulai menghantuinya. Apa Ibunya akan berperilaku sama seperti Tuan Kim jika mengetahui Kyuhyun pernah berniat bunuh diri? Pernah overdosis obat penanang?
Ibunya adalah sosok paling tak bisa Kyuhyun pahami. Beliau selalu menatapnya penuh benci, namun suatu hari pernah menatapnya penuh kerinduan. Tatapan datar penuh amarah atau bahkan kadang-kadang tatapan penuh luka. Mungkin, Kyuhyun mengingatkannya pada pria kurang ajar yang membuatnya lahir kedunia ini. Bohong kalau Kyuhyun tak ingin tahu. Dia ingin tahu sekali siapa Ayahnya. Namun terlalu takut dengan jawaban yang akan dia terima dari Ibunya. Kyuhyun takut dia benar-benar bukan anak yang diharapkan lahir.
Pikirannya yang melayang mendadak berkumpul kembali begitu melihat sosok Ibunya berdiri didepan pintu masuk sambil menatapnya. Seulas senyum berkembang dibibir Kyuhyun. Bolehkah dia berharap Ibunya tengah menungguinya pulang? Maka dengan gerakan terburu dia mendekati Ibunya.
"Ibu"
"Siapa yang memberimu kartu nama ini" ucapan Kyuhyun terpotong pertanyaan dingin yang keluar dari mulut Ibunya. Sangat dingin, sampai Kyuhyun merasa seluruh tubuhnya membeku.
"Jawab Kyuhyun!" bentaknya ketika melihat Kyuhyun tak bereaksi. Wanita itu melemparkan kartu nama yang pernah diberikan Kibum padanya –Kyuhyun ingat itu karena tak ada yang memberinya kartu nama selain Kibum. Kyuhyun menunduk, melihat pada kartu nama yang sudah berada ditanah. Hati Kyuhyun rasanya hancur. Bukan, bukan karena kartu nama itu dibuang Ibunya. Tapi ini karena pertama kali Ibunya memanggil namanya. Namun Kyuhyun tak pernah menyangka bahwa panggilan itu disertai dengan bentakan.
Nafas Ibunya memburu. Kyuhyun tak tahu mengapa Ibunya sampai begitu marah hanya karena dia menerima kartu nama pemberian Kibum. Dengan mata yang memerah, Kyuhyun mendongar, menatap wajah sang Ibu, memerangkap manik sang Ibu pada manik matanya. Dan untuk pertama kalinya Kyuhyun melihat Ibunya menangis didepan matanya.
Ke—kenapa bu?
*TBC*
Haloo aku balik lagi ^^
Semoga ada yang kangen yaa hihi
Pertama aku mau ngucapin happy 11th anniversary buat para ELFeu. Ayok dukung comeback Super Junion tahun ini. Ayok setia dukung member SJ dimanapun pilihan mereka. Dan ayok setia nunggu Kyu wamil.
Kedua, aku senang banget Kyu ikut season 4 NJTTW *tebar bunga* aku suka banget interaksinya sama Jaehyun (akhirnya mereka jadi bromance favoritku), aku juga suka gimana Kyu yang sikapnya kadang lebih childish dari Minho, atau gimana para hyung ngejaga Kyu disana.
Ketiga, makasih buat yang nyempetin nulis review (yang gak bisa aku sebutin satu-satu)
Keempat, jangan lupa review chapter ini juga.
Kelima, tebakan beberapa atau mungkin semua dari kalian bener.
Keenam, jangan panggil aku author ya? Hihi
Last, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Annyeong *bow*
