Chapter 10

*The Moment*

"Sasuke-kun!"

Sakura berjalan pelan ke arah Sasuke berdiri, tapi berhenti begitu saja saat mendengar dering ponsel nya berbunyi.

Sasuke-kun is calling...

"Kau sudah melihat ku kan, Sasuke-kun?"

"Hn, tetap disana dan tunggu aku. Biar aku yang berjalan kearah dirimu, Sakura."

'pasti, aku akan menunggu mu, Sasuke-kun.' Ntah sudah keberapa kali Sakura merasakan perasaan ini karena Sasuke, perasaan bahagia, senang, dan nyaman yang selalu dirasakan wanita itu. Walaupun, yang dilakukan Sasuke hanyalah hal-hal kecil seperti sekarang, tapi tetap saja pengaruh nya terasa besar.

Melihat Sasuke berjalan kearah dirinya dengan senyum menawan itu membuatnya tak henti mengagumi suaminya itu. The perfect husband.

Sasuke masih tetap menggandeng tangan istrinya itu, membuka pintu mobil untuk Sakura dan segera berlari kecil untuk mencapai pintu mobil pengemudi. Dia sudah berjanji untuk makan siang bersama dengan Sakura, maka dari itu Sakura memintanya untuk menjemput dirinya di toko buku. Tentu saja dia senang, tidak melihat Sakura membuat dirinya terasa hampa.

"Sasuke-kun tau? Aku menemukan seorang teman di toko buku," ucap Sakura sambil tersenyum kepadanya.

"Benarkah?"

"Ya, dia Hozuki Suigetsu. CEO dari CBA Entertaiment dan manager seorang model."

Ckitttt...

Suara rem yang berdecit itu membuat mobil Sasuke berhenti secara mendadak.

"Sasuke-kun, kau tidak apa-apa?"

Sakura menatap suaminya sambil mengelus pelan tangan Sasuke. Kenapa suaminya ceroboh sekali? Dan untung saja keadaan lalu lintas tidak terlalu ramai, sehingga Kami-sama masih membiarkan dirinya untuk hidup bersama suaminya itu.

"Aku baik-baik saja."

"Apa yang terjadi Sasuke-kun?"

"Ada kucing, Sakura."

Kucing? Sakura langsung membuka pintu mobil nya, dan memang dia melihat seekor anak kucing didepan kap mobil Sasuke.

'hahh... untung dia baik-baik saja.' Sakura mengambilnya dan langsung berjalan kembali masuk ke mobil.

"Kau membawanya?"

"Tentu saja Sasuke-kun, bagaimana bisa aku meninggalkan anak kucing yang manis dan menggemaskan ini. Lihat, dia menyukai elusan tangan ku."

Sakura masih saja mengelus anak kucing itu, dan dia bersyukur Sasuke langsung berhenti. Kalau tidak, dia pasti akan menyalahkan suaminya atas kematian anak kucing manis itu.

Sasuke memandang Sakura. Dari caranya saja, pasti wanita itu sudah menyayangi anak kucing yang di pangkuan nya. 'hah! betapa senangnya dia, karena sudah merasakan kasih sayang dari istri ku. Bahkan, Sakura mengacuhkan ku sekarang.' Pikir Sasuke sambil memandang tajam kucing yang ada di pangkuan Sakura.

"Boleh kah kita merawatnya, Sasuke-kun?"

"Apa?!"

"Ayolah, aku ingin merawatnya Sasuke-kun. Ya, ya?"

Lama-lama, Sasuke jadi kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak bisa menolak permintaan Sakura. Melihat Sakura memohon padanya dengan pandangan itu selalu berhasil membuat nya menyetujui keinginan wanita itu. Pertama, tentang si kembar, dan sekarang? Kucing?! 'bagus Sakura, kau mengeluarkan sihir mu lagi.'

"Hahh..., baiklah."

"Yes! Sasuke-kun memang yang terbaik! Sekarang, saatnya kita makan siang, Sasu-chan," ucapnya bahagia sambil menatap kucing kesayangan nya itu.

"Sasu...chan?"

Sekarang, Sasuke memang tidak habis pikir tentang Sakura. Menamai kucing itu dengan Sasu? Apakah Sakura tidak tau kalau nama itu adalah nama kecilnya? Sasuke semakin menatap tajam kucing itu, berhasil merebut perhatian istrinya dan sekarang apa? Mengambil nama kecilnya juga? Memang-memang menyebalkan.

"Tentu saja, Sasuke-kun. Bukankah nama itu lucu? Seperti dirinya, lucu dan menggemaskan."

"Hahh... terserah padamu Sakura."

Baiklah, baiklah. Asalkan Sakura merasa bahagia, Sasuke pun bahagia. Yang terpenting adalah Sakura-nya sekarang.


Graduation Day

Sakura masih menatap pantulan dirinya dicermin, masih memandang dirinya yang mengenakan gaun pas pada dirinya. Memang, selera ibu mertuanya itu tidak dapat ditandingi. Gaun yang dikenakan Sakura sendiri adalah pilihan Mikoto, dia ingin menantu nya ini tampak lebih bersinar lagi di acara spesial nya. Walaupun Mikoto tidak berbuat banyak untuk merias menantu nya, karena Sakura sendiri sudah memiliki paras seorang bidadari sejak ia lahir. Mengenakan pakaian apapun, Sakura tetap bersinar.

Tidak lama-lama memandang dirinya, Sakura langsung berjalan pelan menuju mobil. Mengingat gaun yang dikenakan nya ini, harus membuat nya hati-hati saat berjalan. Gaun ini penting baginya, karena pemberian ibu mertuanya sendiri.

Sasuke selalu memperhatikan Sakura sejak tadi, ah bukan, bahkan sejak mereka dari rumah tadi. Rasa-rasanya, dia tidak bisa melepaskan Sakura dari pengawasan nya. Apalagi melihat pandangan-pandangan mata srigala liar yang ada disini kepada istrinya itu.

Dan kenapa pula Sakura harus memakai gaun yang terbuka dibelakang seperti itu, itu membuat punggung indah nya terlihat begitu. Dia kesal, bahkan saat mereka bersama, Sakura tidak pernah sekalipun mengenakan pakaian terbuka. Tapi sekarang? Sasuke tau, gaun itu tentu saja bukan pilihan istrinya. Gaya berpakaian Sakura bukan seperti.

'jelas saja, kalau bukan Yamanaka, pasti ibu yang membuat Sakura seperti ini, ck.' Jengkel nya sambil berdecak pelan yang masih memandang Sakura awas.

Sasuke bangkit dari duduk, membuka Tuxedo yang di kenakan nya dan berjalan menghampiri Sakura yang berbicara dengan Yamanaka itu.

"Sasuke-kun?" dia berpaling menatap Sasuke yang berusaha menutupi pundak beserta punggung nya dengan tuxedo yang dikenakan pria itu. Dia tidak kedinginan sama sekali, tapi kenapa Sasuke memakaikan nya?

"Hn, kenakan saja dan jangan dilepas Sakura."

"Tapi-"

"Kenakan saja."

Melihat Sakura mengangguk, Sasuke langsung berjalan menuju meja yang ditempati nya tadi. Tentu saja disana sudah ada para sahabatnya.

"Kau sungguh berlebihan Teme." Cibir Naruto padanya.

Sai mengangguk, "Benar, apa salahnya jika Sakura memakai pakaian seperti itu. Benar ternyata, Uchiha yang sedang jatuh cinta itu berlebihan."

"Hn, Sakura adalah milik ku. Dan aku tidak akan pernah berbagi apa yang menjadi milikku sepeser pun kepada orang lain."

Neji mengangkat alis nya sambil menatap Sasuke.

"Milik mu? Apa benar Sakura itu milik mu sepenuhnya? Aku bertaruh, bahkan sampai sekarang kalian masih belum melakukan ritual sakral kalian itu bukan?" senyum mengejek nya mengembang menatap Sasuke.

Sasuke terdiam menatap Neji dengan tajam. Apa hak nya untuk dapat menilai hubungan nya dengan Sakura. Sejak beberapa hari yang lalu, Sasuke selalu mempunyai firasat buruk pada Neji. Seolah-olah Neji mempunyai maksud dan tujuan lain pada istrinya itu.

"Ritual sakral?! Ja-jadi, yang dikatakan Neji benar Teme? Kalian belum melakukan nya?! Dan Neji!" tunjuk Naruto pada Neji sambil menatap nya jengkel "Kenapa kau harus memakai istilah seperti itu?! Kita tidak hidup dizaman Edo tau!"

Sai tertawa mendengar perkataan Naruto, dan kembali menatap Sasuke lagi yang masih menatap tajam pada Neji. "Melihat dari reaksi mu, ternyata itu benar. Dengar Sasuke, aku pernah membaca, 'jika kau tidak mengikat wanita dengan sesuatu yang sangat berharga, itu membuat dia masih mempunyai alasan untuk meninggalkan mu.' Makanya, kau harus cepat mengikat Sakura dengan 'ritual sakral' itu." Sai mengambil minuman nya, meneguk nya sambil membiarkan Sasuke berpikir.

Dia berharap Sasuke akan cepat mengambil tindakan, jika dia terlambat sedikit saja. Sakura pasti akan menjauh darinya. Ntah kenapa Sai mempunyai pemikiran seperti itu, apalagi diperjelas oleh gerak-gerik Neji yang mencurigakan. Neji terlihat aneh belakangan ini, dia terlihat begitu peduli pada hubungan Sasuke dan Sakura. Terlihat seperti Neji yang bukan biasanya.


"Ternyata, Uchiha itu suami yang perhatian ya? Jidat?" dia menyenggol bahu Sakura. Membuat Sakura mengalihkan pandangan nya dari Sasuke kepada Ino.

Ino menyipitkan matanya menyelidik menatap Sakura, mengakibatkan timbul nya semburat-semburat merah pada pipi nyonya muda Uchiha itu.

"Apa-apaan kau Pig! Jangan mengganggu ku dengan seperti itu!" ucapnya sambil balas memukul bahu Ino pelan.

Ino hanya tertawa menatap Sakura, tindakan Sakura ini seperti remaja labil yang baru saja jatuh cinta. Malu-malu kucing.

"Kau tau? Kalau seperti ini kau terlihat seperti remaja yang baru jatuh cinta Jidat. Ne, kapan kau memberi ku keponakan yang lucu? Kalian sudah melakukan 'itu' bukan?"

Sakura tentu tidak bodoh dengan apa yang dimaksud Ino, tapi saat ini dirinya hanya dapat terdiam. Ntah kenapa pembicaraan ini membuat dirinya bersalah, karena dirinya lah yang membuat penghalang itu pada hubungan nya dengan Sasuke.

Ino sudah menebak pasti begini, Sakura yang terdiam. Dia sudah mengira kalau mereka belum melakukan suatu hal apapun, tapi pikirannya berubah saat melihat kedekatan Sakura dan suaminya itu belakangan ini, mereka benar-benar terlihat sepasang suami istri yang bahagia dan saling mencintai. Tapi nyatanya, itu hanyalah sebuah cover.

"Kami, belum melakukan nya."

Nah, betul bukan? Pemikiran nya tidak salah sama sekali.

"Aku sudah menduga kau akan menjawab seperti itu. Jidat dengar, aku memang belum mempunyai pengalaman tentang pernikahan. Tapi, semua yang ada terjadi disekitar ku. Kakak sepupu ku, baru saja bercerai dari suaminya dengan alasan tidak siap dan tidak mampu. Itu membuat suaminya mencari pelarian lain diluar sana. dan kau tau apa yang terjadi sekarang, dia sangat menyesali perbuatan nya yang selalu menghindari suaminya itu. Dan tentu saja aku tidak mau itu terjadi pada mu," Ino mengambil minuman nya dan menyeruput nya sedikit.

"Menikah bukan hanya mengucapkan janji, tapi harus siap dengan segala kondisi dan keadaannya setelah itu. Jika kau selalu memberi Sasuke penghalang, jangan menyesal kalau Sasuke mencari pengganti mu nanti. Aku berharap kau memikirkan nya, Sakura." Dia menyeruput sekali lagi jus nya, berbicara banyak pada Sakura membuat dirinya haus.

Sakura tersenyum menatap Ino. Memang, kalau tidak ada Ino, mungkin dirinya akan tersesat tak tentu arah nanti. Apa yang Ino katakan memang benar, dan tentu saja dia tidak mau Sasuke mencari pelarian diluar sana. Apalagi, saat ini ada seorang wanita yang selalu mendekati Sasuke.

Bahkan, dia juga sudah berjanji akan menghilangkan pembatas itu dan menjalani pernikahan yang sesungguhnya bersama Sasuke. Jadi tidak ada alasan untuk dirinya menolak Sasuke lagi.

"Kau memang benar Ino, karena aku yang memulai, maka aku juga yang akan mengakhiri pembatas itu. Terima kasih banyak." Dia memeluk Ino, menumpahkan segala rasa terika kasih nya.

'ini semua demi kebahagian mu Jidat, aku hanya tidak mau model itu menghancurkan kebahagian kalian.'


Satu minggu kemudian, Jenewa, Swiss.

President Wilson Hotel

Sejak perkataan Sai, Neji, dan Naruto seminggu yang lalu terus menghantui Sasuke. Walaupun diluar dia terlihat biasa, tapi didalam hatinya Sasuke selalu gelisah. Dan buktinya seperti, karena tak berani membiarkan Sakura tinggal di Jepang sendirian. Dia bahkan membawa istrinya itu ke dalam perjalanan bisnis nya. Sasuke bukan tidak percaya pada Sakura, tapi dia tidak percaya pada srigala yang ada diluar sana.

Apalagi, perjalanan mereka kali ini. Sakura tidak meminta macam-macam lagi. Tidak seperti, kamar terpisah atau tidur di sofa dan sebagainya. Yang artinya, dia akan tidur satu ranjang bersama istrinya itu selama lima hari di Jenewa ini. Bayangkan, bagaimana gila nya Sasuke. Yang tidur disamping nya itu adalah istrinya tapi, dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia hanya takut, jika dia mendekat Sakura akan menolak nya. Sudah dua hari berlalu dan dia masih uring-uringan seperti ini.

"Sasuke-kun tidak apa-apa?"

Gila! Dia benar-benar gila jika Sakura selalu bersikap Innocent seperti ini. dan sengatan listrik yang aneh namun nyaman itu menjalar ke seluruh tubuhnya saat Sakura menyentuh telapak tangan nya.

"Hn."

"Hahh.. sungguh Sasuke-kun, aku sendiri masih bingung apa arti dari ucapan ambigu mu itu. Sudahlah, sebaiknya aku menghabiskan sarapan ku."

Sakura menikmati sarapan nya pagi ini, walaupun pikiran nya masih dipenuhi dengan keanehan Sasuke. Belakangan ini Sasuke selalu terlihat gelisah, walaupun dia menyembungikan nya dengan sehebat mungkin, tentu saja Sakura dapat mengetahui nya. Penyamarannya itu tidak berfungsi jika pada Sakura.

Dan sengatan listrik yang nyaman itu langsung menghilang setelah Sakura menjauhkan tangan nya dari Sasuke. Perasaan nyaman dan hangat itu langsung menghilang secara tiba-tiba.

"Mrs. Uchiha?"

Sasuke mengangkat kepala nya, menatap pria yang memanggil istrinya itu.

"Ya? Aa, Mr. Stanley?" senyum Sakura saat teringat akan pria yang berdiri didepan nya ini.

Pria bernama Theo Stanley itu langsung mengambil tempat duduk ditengah-tengah mereka. Diantara Sasuke dan Sakura.

"Senang bertemu dengan mu lagi, Mrs. Uchiha. Rasanya, perjalanan bisnis ini tidak akan membosankan jika ada dirimu." Dia tersenyum menatap Sakura, bahkan tidak menyadari keberadaan Sasuke disini.

"Benarkah? Jangan berlebihan Mr. Stanley,dan panggil saja aku Sakura." Sakura bersikap Innocent lagi, apa dia tidak menyadari tatapan tajam Sasuke padanya dan laki-laki itu sejak tadi.

Sikap Sakura memang seperti itu, ramah. Tapi, laki-laki ini yang kelewatan. Apakah dia tidak menyadari suami dari wanita yang di hampiri nya ini ada disamping nya? Dasar!

"Tentu saja tidak, apalagi dengan orang cantik seperti dirimu."

Kalau bukan karena Sakura, dia pasti sudah menghabisi pria itu ditempat ini.

Sakura hanya tersenyum kaku. Apa pria ini tidak tau kalau aura disekitar nya sudah berubah menjadi hitam?

"P-perkenalkan Mr. Stanley, ini suami ku. Sasuke Uchiha," ucapnya sambil menggenggam tangan Sasuke. Dan tentu saja Sasuke bersorak girang saat ini.

"Aa, Mr. Uchiha, aku Theo Stanley, salam kenal," dia mengulurkan tangan nya kepada Sasuke untuk berjabat tangan "Dan, maafkan aku, sepertinya aku mengganggu sarapan pagi kalian."

Sasuke mengangguk, "Benar."

Melihat sikap Sasuke padanya membuat pria itu mundur, ntah kenapa tatapan Sasuke rasanya bisa membunuh dirinya.

"Baiklah, selamat pagi dan maaf mengganggu."

Helaan napas keluar begitu saja dari Sasuke, see? Tidak hanya di Jepang, srigala disini pun gencar mendekati istrinya. Dan itu membuat Sasuke berpikir, dia harus bertindak cepat. Apa yang dikatakan teman-teman nya adalah benar. Kalau bukan sekarang, kapan lagi.


Dia menyandar kan punggung lelah nya sambil memejamkan matanya pada Sofa hotel yang nyaman itu, sekarang sudah pukul sepuluh malam. Pasti Sakura sudah tertidur di kamar. Proyek nya dengan perusahaan konstruksi di Swiss membuat nya menjadi begitu sibuk. Dia sendiri bahkan tidak tau apa saja yang dilalui istrinya seharian ini. Apakah pria seperti tadi menghampiri Sakura lagi atau bukan? Jika seperti ini terus, dia bahkan tidak bisa menjaga istrinya.

Lagi, sengatan listrik itu kembali muncul saat Sakura menggenggam tangan nya. Membuka matanya sambil menatap wajah Sakura yang menyejukkan.

"Aku sudah menyiapkan air mandi nya, Sasuke-kun. Sebaiknya, Sasuke-kun langsung berendam dan istirahat."

Dia tersenyum dan mengangguk sambil membelai wajah Sakura lembut.

"Baiklah."

Dia berjalan pelan ke arah bathtub, menenggelamkan tubuhnya pada rendaman air hangat beraroma terapi itu. Sambil berpikir, Sasuke sudah memutuskan nya. Sesuai pemikiran nya, dia akan melakukan ritual sakral itu jika Sakura menyetujui nya. Dia harus berani menghadapi istrinya sendiri. Kalau mereka tidak bergerak lebih lanjut, maka hubungan nya dengan Sakura akan selalu seperti ini. dan, pembatas itu juga tidak akan hilang. Jadi, keputusan nya adalah benar. Hari ini.

Selesai mengeringkan seluruh tubuhnya, Sasuke berjalan pelan menuju kamar. Tentu saja dia gugup, karena ini pertama kalinya dia melakukan hal itu dengan perasaan cinta yang meluap-meluap, disamping Sakura menerima ajakan nya atau tidak.

Dia menatap Sakura yang selalu cantik baginya sedang membaca buku diatas tempat tidur. Dan perasaan kupu-kupu beterbangan didalam perutnya muncul seketika.

Dia mendekati Sakura, duduk disamping istrinya itu sambil mengambil buku yang dibaca Sakura.

"Sasuke-kun?"

"Sudah malam Sakura, jangan membaca buku lagi."

Sakura hanya menatap Sasuke bingung, pasti ada yang aneh dengan Sasuke selama tiga hari ini. Sikap Sasuke itu seperti, ingin mengungkap kan sesuatu tapi ditahan. Sebenarnya, dia ingin sekali bertanya kenapa Sasuke bersikap seperti itu. Dan mungkin sekarang saat nya.

"Katakan saja Sasuke-kun, aku tau kalau Sasuke-kun ingin mengatakan sesuatu."

'hahh... percuma saja aku menyembunyikan nya dari Sakura, tapi? Apakah ini berhasil? Hn, semoga saja.'

Dia menggenggam tangan Sakura, menatap Sakura lembut penuh kepercayaan. Berharap itu berhasil membuat Sakura berkata 'iya'.

"Sakura, kau ingat tentang pembatas itu?"

"Ya, tentu saja."

"Aku ingin kita benar-benar menghilangkan nya. Aku ingin kita melakukan 'itu', ritual sakral."

Dan lagi, tentu saja Sakura tidak bodoh dengan maksud dari perkataan Sasuke. Dia memang menanti kapan hari itu datang padanya, tapi secepat ini? apakah dia sanggup? Tapi, jika dia menolak? Apa yang akan terjadi pada hubungan nya? Dia benar-benar bingung.

"Percaya padaku Sakura, semuanya akan baik-baik saja, pembatas sialan itu akan hilang. Bukankah itu yang kita mau?" genggaman tangan Sakura padanya semakin menguat, berharap dengan itu Sakura akan berkata iya.

Benar, apa yang dikatakan Sasuke memang benar. Lagi pula, apa yang harus ditakutkan olehnya? Pria ini adalah suami-nya, dan sudah kewajiban Sakura memberi hak suaminya. Dan dengan cara ini pula pembatas itu akan hilang. Perasaan mereka juga begitu, walaupun Sakura tidak tau pasti dengan perasaan Sasuke padanya, yang jelas dia merasa perasaan yang mereka miliki sama. Baiklah, ini adalah jalan yang terbaik, pilihan yang terbaik.

"Baiklah, iya Sasuke-kun. Lakukan, bukan kah aku adalah istri mu?" dia tersenyum. Senyum yang paling indah menurut Sasuke.

Mereka tersenyum dengan semakin menipis nya jarak diantara mereka. Itu adalah hari paling bersejarah bagi mereka. Hari yang menjadi momen terpenting di perjalanan hidup Sasuke dan Sakura.

.

.

.

.

.

*TBC*


A/N: Akhirnya up! Happy reading!

Ini sudah lanjut, semoga kalian suka chapter ini ya. Konflik nya sedikit-sedikit mulai muncul, jadi ditunggu terus yaa^^ Oiya, banyak para pembaca yang suka sama karakter Sakura nya untuk itu Arigatou gozaimasu^^ sebenarnya, saya membuat sebuah karakter setiap cerita saya sesuai dengan usia mereka, makanya setiap karakter Sakura yang berada di FF saya terasa berbeda-beda^^

Big thanks to Read and Review, Fav and Foll dan maaf pada typo yang bermunculan.

At last, review again?

Sign, TaySky1998