.

.

Character © Masashi Kishimoto

Accidentally in Love

Story by Icha-Icha Fairy

Part 10

Sweet sunday

enjoy

.


.

Sakura berdiri di bawah hamparan langit biru yang cerah. Kulitnya bercahaya ketika mentari menyinari di atas padang rumput yang menari lembut tertiup angin silir spoi-spoi. Emerald Sakura memandang lurus kedepan, menangkap indahnya ladang bunga Daisy yang berkilau menandingi pesona mahkota merah mudanya.

Kemudian seorang pria datang menghampiri. Sakura menoleh, mendapati Utakata berdiri di sampingnya dengan tatapan lembut. Pria itu bergerak menggenggam tangan Sakura, perlahan dan semakin erat. Utakata tersenyum, menyentuh hati Sakura yang rapuh.

"Sakura..."

Suara Utakata menusuk relung hati, bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. Sakura terus memandang pria itu dan suasana sekejap membisu, tidak dapat mendengar apapun. Sosok Utakata perlahan menjauh seiring rerumputan hijau yang berubah menjadi tumpukan daun muple kering, membentuk hamparan oranye musim gugur. Sakura berlari, kakinya sulit bergerak cepat, nafasnya memburu oksigen saat mengejar sosok Utakata. Jauh, pria itu semakin jauh.

"Uta..!" Sakura mencoba bersuara.

Beberapa selang kemudian suara kuda terdengar, hentakan kakinya menghujam tanah cukup keras. Sakura berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Tampak seorang pria tengah menunggang kuda, sosok itu terlihat kian jelas ketika Sakura mendekat, emerald-nya menyipit menentang sinar matahari saat melihat sepasang onyx kelam menatap tajam ke arahnya.

"Sasuke?"

Pria itu membawa seikat mawar merah, tersenyum samar sambil menyodorkan mawar itu pada Sakura. Sasuke tidak mengucapkan sepatah katapun. Sakura mengulurkan tangan, meraih bunga itu namun tiba-tiba saja seikat mawar di tangan sasuke berubah menjadi pemukul kayu raksasa dan menghantam kepala Sakura.

BUUKKK!

Kepala Sakura menghantam lantai karpet cukup keras, gadis itu tersentak bangun, baru saja ia terguling dari ranjang. Mata Sakura menyipit, menerawang ke setiap sudut ruangan sambil mengusap belakang kepalanya yang pusing. Mengumpulkan nyawa beberapa detik, sampai ia melihat sosok Sasuke tidur lelap di atas ranjang, tepatnya di sampingnya. Sadar bahwa mereka masih berada di dalam kamar hotel yang sama.

Perlahan Sakura bangkit, tangannya menumpu pada ujung ranjang, ia bergerak naik ke atas lalu terbaring di sisi Sasuke, memandang kepolosan wajah pria itu saat terlelap. Mata, hidung, bibir dan rambut Sasuke menjadi kesatuan yang memancarkan pesona indah dari seorang pria berparas tampan. Ada dua pasang onyx tajam di balik kelopak mata yang tertutup itu. Sakura tidak mengharapkan mata itu terbuka, perlahan ia pun menyentuh pipi Sasuke, mengusapnya dengan lembut sampai ujung jarinya berhenti pada bibir tipis yang mengatup rapat. Mata Sakura terpaku, ingin rasanya memiliki bibir itu, bibir lembut yang membuatnya ingin merasakan sekali lagi sensasi melayang bebas, bibir yang bisa membuat dunia berhenti berputar.

Sakura perlahan mendekatkan wajahnya, "hei.., bolehkan aku menciummu?" bisiknya.

Perlahan ia menempelkan bibirnya pada bibir Sasuke, matanya terpejam, merasakan lembutnya kulit bibir mereka saat bersentuhan. Sakura terbuai, merasakan bumi perlahan berhenti berotasi ketika tiba-tiba Sasuke menyambut ciumannya. Terbuai. Tangan Sakura bergerak menyisir di antara rambut pria itu. Bibir mereka saling berpautan lembut, lidah Sasuke menyelinap bersama cengkraman Sakura yang kian menguat. Lidah Sasuke yang kasar dan panjang mengoyak dalam mulutnya. Panas. bibir Sasuke terasa lengket, ini aneh..., Sasuke semakin liar. Sakura pun membuka mata, demi dewi Kaguya..., sosok Sasuke sudah berubah menjadi Gamakichi.

"HAH!"

Sakura terperanjat bangun, nafasnya tersengal-sengal sambil mengedarkan pandangan ke penjuru kamar hotel. Mimpi aneh. Sangat aneh. Sasuke tengah tidur di sofa menghadap ranjang, pria itu masih lengkap mengenakan setelan celana hitam dan kemeja putih, jasnya tergeletak di ujung sofa dan sepatunya ditaruh di sisi kaki meja. Sakura berpikir apa Sasuke yang telah memindahkannya ke ranjang? gadis itu pun menepuk sebelah pipinya dan bunyi 'Pak' serta rasa perih membuktikan bahwa ini bukan mimpi, sudah benar-benar berada di alam sadar.

Butuh beberapa detik dalam kelinglungan untuk mengumpulkan nyawa. Sakura lalu menghampiri Sasuke, ia berjongkok di antara sofa dan meja. Walau bukan mimpi, sensasi memandang wajah Sasuke masih sama. Kepala Sakura menengok ke arah meja di belakang, ia meraih ponselnya dan menghidupkan kembali benda itu, masih tersisa daya 7% sebelum sepenuhnya tewas, terbesit lah di pikiran untuk mencuri satu foto.

CEKREK

Satu wajah malaikat tidur menambah koleksi foto di folder ponsel Sakura, gadis itu tersenyum, sadar betul pada apa yang baru saja ia lakukan, logikanya seakan tersihir ketika melihat sosok pria di hadapannya, moment ini mungkin tidak datang dua kali dan Sakura tidak akan menyia-nyiakannya. Penjelajahan Gadis itu belum berakhir, ia kembali memandang kepolosan wajah Sasuke, mendekatkan wajahnya, memperhatikan bulu mata Sasuke yang lumayan lentik, tanganya tergelitik untuk menyentuh bulu mata itu, Sakura mengusap bulu mata Sasuke dengan jari telunjuknya sambil terkekeh geli, bulu mata yang lembut dan...

"Apa yang kau lakukan?"

BRAK!

Sakura tersentak kebelakang dan punggungnya menatap pinggiran meja cukup keras. Sasuke pun membuka mata.

Shit!

"Aaaah..." Sakura kesakitan. "Shannarooo..." umpatnya dalam rintihan.

"Aku tidak tahu jika kau juga mengagumi bulu mataku." ujar Sasuke, matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu kamar hotel yang cukup terang. Sasuke lalu melihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul empat subuh.

"Kenapa mereka meletakkan meja sialan ini..." Sakura bangkit sambil mengusap punggungnya, gadis itu sedikit menendang meja dengan paha lalu duduk di sofa single di sisi lain.

"Meja ini sudah ditempatnya jauh sebelum kau datang." Sasuke beranjak dari sofa menuju ranjang. "Kau yang mengusik ketenangan meja itu." sambungnya, ia mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Suasana kamar menjadi remang-remang.

"Kau mau tidur lagi?" tanya Sakura.

"Masih jam empat subuh." Sasuke merengkuh bantal lalu tengkurap menyamankan posisi tubuh. Sakura memastikan jam di ponselnya dan benar.., masih jam empat subuh. Semalam ia tidur lebih awal saat menunggu Sasuke, tidak mengherankan jika ia bangun sepagi ini, apalagi dibangunkan oleh mimpi yang aneh. Hii..

"Kau yakin tidur di atas ranjang?" tanya Sakura.

"Kenapa? jika kau keberatan, kau bisa giliran tidur di sofa. Atau tidak..." Sasuke menepuk sisi ranjang. "Kau bisa tidur di sampingku."

Sakura cukup terkejut dengan inisiatif Sasuke, gadis itu masih terpaku di sofa sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan, tetap terjaga atau kembali tidur. Sakura pun memilih berbaring di sofa, matanya memandang langit-langit kamar sejenak lalu menoleh ke arah Sasuke yang tampak nyaman melanjutkan lelapnya. Sakura lalu bangkit, menatap ranjang di hadapannya. Ranjang itu luas, tidak ada salahnya jika ia berbagi dengan Sasuke, tapi Sakura sendiri ragu untuk menuju ke sana. Kenapa ragu? tidur di samping pria setampan itu adalah suatu keberuntungan.

"Kemarilah..." suara Sasuke terdengar dan Sakura pun tersentak kaget. "Jika kau masih mengantuk, tidur saja, jangan memandangiku." sambungnya.

Menimbang dengan singkat, Sakura pun beranjak meninggalkan sofa. Sasuke membuka mata sejenak, melihat Sakura yang berdiri di sisi ranjang dengan wajah ragu-ragu, ia pun menutup mata kembali dan Sakura bergerak naik ke atas ranjang, gadis itu menarik satu bantal untuk menjadikannya sebagai pembatas antara dirinya dan Sasuke.

"Apa yang kau pikirkan?" Sasuke menutup mata kembali setelah sekejap melihat pembatas itu.

"Apa? tentu saja membuat pembatas, untuk berjaga-jaga."

"Berjaga-jaga dari siapa?"

"Wanita harus selalu waspada." nada Sakura tegas.

"Bahkan aku tidak memikirkan hal itu sampai kau menyadarkanku." Sasuke menyeringai tipis. eherm..

"Coba saja, kau bisa kutendang jauh dari ranjang Sasuke-san." Sakura membaringkan diri di sisi Sasuke dengan degup jantung yang sedikit tidak konstan.

"Perkataanmu itu provokatif, hati-hati." ucap Sasuke. Serontak Sakura menoleh, tentu saja pria di sebelahnya ini hanya asal bicara, Sakura bertekad untuk tidak mengendurkan tingkat kewaspadaannya. ya.. walaupun tahu jika ia menantang Sasuke lagi, pria itu bisa saja melakukan hal-hal yang diinginkan. Apa? hal-hal yang diinginkan? kemana arah pikiranmu ini...

"Jika kau berharap akan ada sedikit tantangan lagi dariku, lupakan." Sakura menyulut api. Sasuke langsung bangkit dan bergerak mendekatinya, pria itu mengepung dari atas. Sakura berusaha bersikap santai walau kini jantungnya memacu cepat seperti blender.

"A-apa?" gadis itu gugup. Terjebak oleh kedua onyx kelam sang raja malam.

"Kau pikir harus ada tantangan untuk melakukan sesuatu yang pria inginkan?" tatapan Sasuke intens, jantung Sakura seakan mau rontok.

"Sa-Sasuke-san..., jangan menganggap ini terlalu serius. Lupakan percakapan barusan, ayo kita tidur..." Sakura menepuk-nepuk bahu Sasuke sambil tersenyum kaku, menahan mati-matian grogi saat Sasuke semakin mendekatkan wajahnya. Semakin mendekat dan semakin...

TAK!

"Ah!"

Sasuke menyentil dahi Sakura cukup keras, pria itu lalu bangkit dan terbaring kembali ke posisi semula.

"Apa yang kau lakukan..." Sakura mengusap dahinya yang nyeri. "Dasar..." ia bergumam sambil berbalik membelakangi Sasuke, menyembunyikan rona merah di pipinya, suasana pun menjadi hening. Kenapa Sakura? adakah sedikit penyesalan? coba dilanjutkan...

"Kau pernah berkuda?" suara Sasuke terdengar kembali.

"Bahkan aku belum pernah menunggang kuda sungguhan, ya.. kecuali kuda poni. Itupun saat aku SD." padahal kuda poni juga kuda sungguhan.

"Besok kau ada acara?"

"Kurasa tidak."

"Besok ikut aku, kita akan berkuda jam sepuluh." ucapan Sasuke terdengar seperti perintah daripada mengajak.

"Ta-tapi aku tidak bisa berkuda." Sakura berbalik dan menghadap Sasuke.

"Kau bisa memberi makan kuda." Sasuke bergerak membelakangi Sakura dan mereka seperti sosis bakar, saling membolak-mbalik.

"Aku harus pulang ke apartemen terlebih dahulu, tidak mungkin aku memberi makan kuda dengan memakai gaun." Sakura menanggapi perkataan Sasuke secara serius dan pria itu tersenyum tipis.

"Aa.. kuda-kuda di sana mungkin akan memilih mengunyahmu daripada rumput." godanya.

"Ta-tapi..."

"Pikirkan itu nanti, aku butuh istirahat." potong Sasuke sebelum Sakura kembali menyaut.

Suasana kembali hening. Sasuke mungkin sudah terlelap sementara Sakura memandang punggung pria itu. Tatapannya kosong di dalam remang-remang kesyahduan cahaya lampu tidur. Membayangkan apa? Suasana begini enaknya tidur sambil menghangatkan satu sama lain, benar begitu Sakura? tapi sepertinya gadis itu tidak mendengar bisikan setan karena matanya mulai sayup-sayup.

.


.

Ponsel Sasuke yang berdering di atas meja mengusik pendengaran, pria itu membuka mata dan mendapati sosok Sakura masih lelap dengan posisi meringkuk di dekatnya, sangat dekat, bahkan kaki Sakura seperti orang yang sedang lari estafet, menyilang serta menindih kaki Sasuke, gaunnya terangkat hingga paha, memperlihatkan kedua paha mulus tanpa noda. Sasuke bangkit dan memandang bentuk Sakura sejenak. Kenapa Sasuke... baru pertama kali tidur dengan peri penggoda?

Ia pun menyingkirkan kaki Sakura dan turun dari ranjang, menghampiri ponselnya di atas meja, benda itu sudah berhenti berdering. Nama Itachi keluar pada daftar panggilan tak terjawab. Sasuke lalu menekan tombol sambungan untuk menelpon balik.

"Sasuke." suara Itachi terdengar, pria itu berada di pacuan kuda. Itachi berdiri di samping pagar kayu pembatas area pacuan, mengenakan atasan polo abu-abu, celana jeans dan kaca mata hitam, Itachi adalah pria umur akhir tiga puluhan yang keren. Keren Sekali...

"Yo." sahut Sasuke.

"Jam berapa kau tiba di sini?" tanya Itachi.

"Masih tersisa satu setengah jam." Sasuke memastikan jam tangan, waktu menunjukkan jam setengah sembilan pagi, ternyata mereka tidur nyenyak.

"Baiklah.. kami akan menunggumu, don't mess my son, uncle." Itachi menutup sambungan diiringi suara anak-anak yang tertawa riang.

Sasuke menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu ia kembali ke ranjang dan membangunkan Sakura. Butuh tiga kali tepukan pipi gadis sampai Sakura terbangun dan menggeliat seperti marshmallow. Sasuke memandang pergerakan gadis itu dalam diam. Mata Sakura lalu terbuka dan ia menangkap sosok Sasuke yang tengah memandanginya dengan wajah datar. Sakura langsung bangkit, membenarkan rok gaunnya yang sudah terangkat setinggi paha, hampir mencapai batas maksimal. Pantas saja Sasuke tenang dari tadi... iya kan Sasuke?

"Kita berangkat sekarang." pria itu turun dari ranjang.

"Kemana?" Sakura linglung dengan kondisi rambut setengah berantakan.

"Pacuan kuda." jawab Sasuke,

"Benar-benar kesana? tapi aku harus pulang ke apartemen terlebih dulu." Sakura merangkak ke ujung ranjang sementara Sasuke duduk di sofa dan mulai mengenakan sepatunya.

"Tidak ada waktu pulang ke apartemen dan menunggumu. Bersiap-siaplah disini."

"Aku benar-benar akan memberi makan kuda dengan gaun ini?"

"Mandilah dulu. Kau mengulur waktu."

Tawar menawar selesai. Sakura pun beranjak menuju kamar mandi, sejenak Gadis itu berhenti di depan pintu dan menoleh. "Kau tidak mandi, Sasuke-san?"

"Kamar mandi cuma satu, kau mau kita mandi bersama?" Sasuke sudah mandi tapi mungkin saja ia ingin menggoda Sakura, masih dengan wajah datar tentunya. Sakura pun masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit membanting pintu. Pagi-pagi cari gara-gara saja...

Dua puluh menit menunggu hingga Sakura keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun yang sama. Ia melepas tatanan rambutnya, mengikat dan menyepolnya secara sembarang asal terlihat rapi, tidak perduli. Kondisi yang memberinya pilihan, pilihan untuk tidak memperhatikan penampilannya saat ini.

"Pakai saja sandal hotel." perintah Sasuke ketika melihat Sakura akan mengenakan heels-nya kembali.

"Kau serius? orang-orang akan menatapku aneh mengenakan gaun dipadu dengan sandal hotel."

"Kakimu lecet kan?" Sasuke menunjuk kaki Sakura sambil berkutat dengan ponselnya. Memang benar, luka lecet itu masih terasa perih. Sakura mengamati kakinya sambil membatin ternyata Sasuke cukup perhatian. Percaya diri sekali..., akhirnya gadis itu memutuskan untuk memakai sandal hotel.

.

.

Keduanya meninggalkan kamar. Sasuke berjalan di depan sedangkan Sakura mengikuti pria itu di belakang sambil menjinjing kedua sepatunya. Sebelumnya, Sasuke meminta Sakura untuk meninggalkan bendaitu di kamar hotel tapi Sakura bersikeras membawanya. Heels itu bagus dan tidak mungkin ia menelantarkan peninggalan bersejarah milik Sasori begitu saja.

Mereka keluar dari hotel, menuju deretan toko persis di seberang jalan. Sakura mengikuti Sasuke sambil membatin 'Katanya terburu-buru, kenapa malah pergi ke toko baju segala?' sesampainya di dalam, Sasuke mengatakan pada pelayan toko bahwa ia mencari atasan merk Polo berwarna biru gelap dan satu celana panjang sesuai ukurannya, dengan sigap pelayan itu melayaninya. Sakura sedikit bingung ketika Sasuke menyuruhnya memilih baju dalam kurun waktu sepuluh menit, gadis itu langsung bergerak cepat, ia memilih satu jogger pant berwarna krem dan sweeter polos berwarna pink bertuliskan 'I have nothing to wear'. Tidak butuh waktu sepuluh menit untuk keduanya mengganti baju dan Sakura merasa ia seperti mengikuti camp tentara, Sasuke begitu cepat dan tepat, mengharuskannya menyesuaikan laju pria itu.

"Ikut aku." Sasuke berjalan menuju tempat sepatu olahraga. "Ambil satu sepatu." perintahnya pada Sakura.

"Sasuke-san, aku cukup mengerti kenapa aku membutuhkan ini tapi aku baik-baik saja menggunakan sandal hotel."

"Pilihlah.., kau tidak mungkin memberi makan kuda sambil menggunakan sandal hotel."

Sakura malas berdebat, ia mulai paham bahwa Sasuke tidak mudah dibantah saat semua alasan terlihat masuk akal baginya. Akhirnya Sakura pun memilih sepasang sepatu converse berwarna putih.

"Ok, anda puas sekarang?" ia berdiri di depan Sasuke, kedua jari telunjuknya menunjuk sepatu converse yang ia kenakan. Sasuke memandang Sakura dari atas hingga bawah dan tidak berkomentar apapun, pria itu beranjak meninggalkan toko dan Sakura mengikutinya, mereka menuju hotel kembali untuk menjemput mobil Sasuke.

Keduanya menunggu di lobi saat pelayanan mengambil mobil di parkiran basement. Sakura duduk di samping Sasuke sambil memperhatikan resepsionis wanita yang terus-terusan mencuri pandang ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah Sasuke yang duduk tenang disampingnya sambil berkutat dengan ponsel. Pikiran Sakura pun bercabang ke dua arah, yang pertama... resepsionis itu mungkin berpikir bahwa Sasuke dan dirinya 'bermalam bersama', entah kenapa Sakura jadi kikuk sendiri, sedangkan yang kedua... sepertinya resepsionis itu terus-terusan memandangi Sasuke karena wujud pria itu tidak sembarangan. Sakura pun mengambil opsi kedua karena opsi pertama terlalu ekstrim, ya.. walau kondisinya benar tapi kenyataannya mereka tidak melakukan 'apa-apa'. Penerawangan tidak penting ini sering terjadi pada siapa saja dan itu wajar.

Tiga menit menunggu dan akhirnya Honda CR-Z Sasuke terparkir cantik di teras gedung. Mereka lalu bergegas meninggalkan lobi.

"Sasuke-san, aku akan mengganti uangmu untuk semua pakaian ini." ucap Sakura setelah mereka masuk ke dalam mobil. "Emm..., mungkin bulan depan." gadis itu meralat ucapannya, setelah dipikir-pikir ia tidak tega memecah tabungan ayamnya, lebih baik mengganti uang Sasuke saat menerima gaji pertamanya nanti.

"Apa aku memintamu untuk menggantinya?" Sasuke mengendarai mobilnya keluar area hotel.

"Jangan begitu Sasuke-san. Aku akan tetap menggantinya." elak Sakura.

"Kalau begitu sekalian pakaianku."

Sakura langsung menoleh, terpancar ketidak ikhlasan di raut wajahnya.

"Boleh..., mungkin bajumu saja." ucap Sakura ragu-ragu sambil menunjuk baju Sasuke.

"Lupakan itu, saatnya menikmati hari minggu." Sasuke mengenakan kaca mata hitam, menekan tombol pemutar musik dan lagu Jet berjudul Got me outta here mengiringi perjalanan mereka menuju pacuan kuda.

.

.

Menempuh jarak dua puluh kilometer keluar dari pusat kota. Setelah melewati empat puluh menit mereka pun tiba di kawasan pacuan kuda, melewati jalan lurus di antara deretan pepohonan beech dan maple yang meranggas dengan nuansa kuning, merah, dan jingga. Pemandangannya cantik, mata Sakura menyesap warna-warni musim gugur saat ia membuka jendela, angin silir spoi-spoi menerpa wajahnya, seakan pernah mengalami ini di suatu tempat, Sakura merasakan deja vu saat ini.

"Ada dua anak kecil di sana, mereka keponakanku." ujar Sasuke. Sakura pun menoleh.

"Keponakan? benarkah..., berapa umur mereka?" Sakura menutup kembali kaca jendela mobil.

"Yang sulung berumur tujuh tahun, sedangkan adiknya empat tahun. Kau suka anak-anak?"

"Ya, anak kecil menggemaskan..., apa mereka bisa menunggang kuda?"

"Mereka menunggang kuda poni, sama sepertimu." Sasuke tersenyum tipis saat mengatakannya, ucapan itu terdengar mengejek dan Sakura bersumpah ia akan menunggang salah satu kuda di sana seperti Koboy.

"Si sulung sedikit sulit diatasi. Biasanya dia akan cari perhatian dengan orang baru, bersiaplah."

Sakura pun mengangguk paham.

Sasuke memarkirkan mobil di pinggir area pacuan kuda setibanya di lokasi. Tampak dua bocah laki-laki sedang bermain di atas hamparan rumput hijau di depan halaman rumah singgah, yang satu berambut jabrik pendek, bocah itu memakai kaos hitam, sedang memberi makan kuda poni sambil membawa ranting kayu panjang, sedangkan yang satunya lagi tampak berumur lebih kecil, anak itu berambut jabrik yang mencuat di bagian belakang dengan poni berserakan di depan, ia memakai kaos putih dan sedang mengelus-ngelus kepala kuda. Sakura tidak bisa melihat dengan jelas wajah kedua anak itu, ia langsung menebak mereka adalah keponakan Sasuke.

"Paman Sasu datang!"

Sang sulung berseru penuh semangat saat melihat Sasuke dan Sakura turun dari mobil. Sasuke hanya melambaikan tangan dari kejahuan dengan wajah datar, ia dan Sakura memasuki halaman rumah singgah bergaya country di pinggir jalur pacuan kuda. Tampak seorang wanita memakai dress biru sepanjang lutut dan topi bundar sedang memanggang barbeque bersama pria setengah baya berkepala botak tengah.

"Paman Sasukeeeeeeeeee...!" si sulung berlari kencang menghampiri Sasuke sambil membawa dahan kayu panjangnya. Sakura langsung mengerti 'sulit dikendalikan' yang dimaksud Sasuke saat melihat semangat anak laki-laki itu, mengingatkannya pada sosok Naruto sewaktu kecil.

"Paman Sasu yeeeee..." sang adik ikut berlari tergopah-gapih sambil merentakan kedua tangan, anak itu sangat lucu dan hei! Sakura, dia kan...

"Kenji?" ekspresi Sakura terkejut saat melihat bocah itu. Memastikan bahwa ia tidak salah melihat. Sasuke langsung menoleh dan di saat bersamaan si sulung menabrak kaki Sasuke lalu memeluknya.

Sasuke sedikit tersentak ke belakang, "Kau mengenalnya?" ia memasang wajah bertanya. Serontak Kenji berhenti saat melihat Sakura.

"Siapa dia?" si sulung menunjuk Sakura dengan ranting kayu.

"Hai..." Sakura menyapa si sulung sementara Sasuke berjongkok untuk menyambut Kenji yang berjalan sambil tersenyum lucu padanya, kemudian Sasuke bertos ria dengan kedua bocah itu.

"Kenji, Itaru. Ini Sakura." Sasuke memperkenalkan. Sakura melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.

"Neechan.." Kenji menghampiri Sakura sambil mengangkat tangannya. Sakura berjongkok lalu bertos ria dengan Kenji.

"Hallo Kenji-kun, kau masih mengingatku?" tanya Sakura. Kenji pun mengangguk-ngangguk sedangkan Itaru memandang Sakura secara intens.

"Kenji..., Itaru... Sosis kalian sudah matang!" seru wanita di depan rumah singgah, ia melambaikan tangan ke arah mereka. Sakura yakin wanita itu yang ditemuinya di pusat informasi mall dulu. Itaru dan Kenji langsung berlari menuju lokasi barbeque sedangkan Sasuke dan Sakura menyusul di belakang.

"Oh... Nona! tidak kuduga kita akan bertemu lagi..." wanita itu ramah menyambut Sakura. "Kalian saling mengenal?" ia menunjuk Sasuke dan Sakura bergantian. Itaru sudah naik ke atas kursi dan mengambil sosis sedangkan Kenji berjinjit di samping meja meminta bagiannya.

"Hallo nyonya, apa kabar?" Sakura membungkuk memberi salam. Paman kepala botak yang sedang memanggang daging barbeque mengangguk ke arah Sakura dan juga sebaliknya.

"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" Sasuke mengangkat tubuh Kenji untuk mengambil sosis panggang di atas meja.

"Dulu kita pernah bertemu di mall, saat Kenji hilang nona ini yang menemukannya." jawab Konan.

"Ah maaf, kita belum berkenalan sebelumnya nyonya, perkenalkan namaku Haruno Sakura." gadis itu mengulurkan tangan.

"Aku Konan, kakak ipar Sasuke." Konan bersalaman dengan Sakura sambil mencium pipi kiri dan kanan.

"Rambutnya merah muda seperti bunga Sakura." Itaru memperhatikan Sakura sambil menjilati permukaan sosisnya.

"Itaru, apa kau sudah menyapa neechan ini? panggil namanya dengan baik." tegur Konan, Itaru hanya memandang Sakura sambil asik melahap sosis.

"Mana ayah kalian?" tanya Sasuke.

"Otousan sedang bersama Manda." jawab Itaru, di saat bersamaan suara larian kuda terdengar di jalur balapan kuda. Sakura melihat pria dengan paras seperti Sasuke menunggang kuda hitam dengan santai, dilihat dari auranya, Sakura yakin itu adalah kakak Sasuke.

Itachi melambaikan tangan saat melewati rumah singgah, beberapa menit kemudian pria itu menepikan kuda dan ikut bergabung. Sakura mengucapkan salam dan memperkenalkan dirinya. Itachi menyambut Sakura dengan ramah tapi Sakura cukup gugup saat bersalaman dengan pria itu. Itachi mempunyai pesona yang sangat sulit diartikan.

"Sasuke belum menceritakannya pada kami sayang..." Senyuman Konan mengandung arti tersendiri dan Sakura yang tidak tahu maksudnya hanya membalas senyuman wanita berparas elegan itu seadanya.

"Kalian satu tempat kerja?" tanya Itachi, ia menuangkan es lemon pada gelas.

"Ya, kami satu tempat kerja Itachi-san." jawab Sakura, ia duduk di samping Kenji yang mulutnya penuh dengan sosis, sedangkan Itaru kini memanjat kursi ingin memanggang ulang sosis yang sudah setengah dilahap, anak-anak memang aneh, biarkan saja.

"Kau bekerja di devisi apa?" Sakura sedikit terkejut Itachi tahu pembagian devisi di studio tempat ia bekerja.

"Sa-saya bekerja di devisi background 2D." entah kenapa Sakura gugup saat ditanya olehnya.

"Em, Kau seorang artist background rupanya.. Sakura pasti mahir melukis eh Sasuke?" tanya Itachi pada Sasuke yang tengah mengganti sepatunya dengan sepatu boots berkuda.

"Hn." jawab adiknya itu.

"Apa anda pernah berkunjung ke studio kami Itachi-san?" tanya Sakura. Sekejap gerakan tangan Sasuke berhenti sedangkan paman berkepala botak dan Konan saling menoleh. Itachi tetap tenang menyeruput minumannya sambil tersenyum samar.

"Ya, aku pernah berkunjung ke sana. Menjenguk Sasuke." Itachi tersenyum, ia bangkit dari kursi bersamaan dengan Sasuke yang sudah siap mengenakan sepatu boots.

"Sasuke, kau tidak sarapan dulu?" tanya Konan saat Sasuke dan Itachi akan beranjak.

"Paman Sasuke! kau berjanji melatihku menunggang kuda besar!" Itaru menunjuk Sasuke dengan sosis yang sedang dipanggangnya.

"Kenji mau naik kuda belsama paman Sasu.." Kenji turun dari kursi lalu menghampiri Sasuke.

"Setelah aku melawan ayahmu, ok? kalian bisa memberi makan kuda-kuda kalian bersama Sakura. Dia jago memberi makan kuda." Sakura merasa Sasuke sangat mengada-ngada, jago? memang apa susahnya memberi makan kuda? Sakura hanya menatap Sasuke dengan tatapan malas.

"Apa dia bisa naik kuda? rambutnya bahkan berwana pink!" tunjuk Itaru. Sakura heran, memangnya wanita berambut merah muda tidak bisa naik kuda?

"Itaru.. kau tidak boleh berbicara seperti itu." Konan menegur sambil mengelap mulut Kenji yang belepotan. Itaru cuek membolak-balikkan sosis dengan mulut manyun kedepan. Sasuke dan Itachi lalu pergi menjemput kuda mereka.

"Ayo Saku-chan kita memberhhi makan balbalo..." ucapan Kenji masih jedal, suaranya lucu dan menggemaskan, ia menarik tangan Sakura menuju dua kuda poni yang diikat tidak jauh dari halaman rumah singgah. Itaru langsung loncat dari kursi meninggalkan sosisnya dan menyusul mereka.

Sakura mengikuti Kenji, bocah imut itu mengambil rumput kering di dekat kandang, kemudian mereka menuju kuda Kenji yang bernama Barbaro. Kenji mengucapkannya dengan intonasi 'balbalo'. Kuda poni itu gemuk, berwarna cokelat dengan rambut berwarna putih, sangat lucu. Itaru tidak mau kalah, ia mengambil banyak sekali rumput, bahkan tidak setengah-setengah mengambilnya, satu gulungan jerami yang diikat ia seret dan digelindingkan menuju kuda poni hitamnya yang lebih besar.

"Siapa nama kudamu Itaru-kun?" tanya Sakura, ia berjongkok di samping bokong kuda.

"Troya, panggilannya Troy." jawab Itaru, ia melepas ikatan gulungan jerami lalu memberi makan kudanya dengan ekspresi serius. Sakura memandang anak itu, wajah Itaru mirip seperti ayahnya, ia dan Kenji bagaikan kopian Itachi dan Sasuke. Sakura pernah berangan-angan memiliki anak seperti Kenji, terbesit di pikiran seperti apa anaknya kelak jika ia menikahi Sasuke nantinya. Apa? menikahi? wajah Sakura sesaat merona tidak jelas. Itaru melirik gadis itu dan spontan ia menyentuh bagian leher kudanya.

PRAK!

Ekor Troya secara reflek menampar wajah Sakura. Perih. Itaru pun menyeringai tipis. Jahil juga anak ini...

Drup...Drup...Drup...!

Suara kaki kuda terdengar dari jalur balapan. Sasuke dan Itachi menunggang kuda mereka sangat kencang. Sakura langsung berdiri saat mereka mendekat, aksi kakak beradik Uchiha itu terlihat keren. Sakura terpesona menyaksikan penampilan Sasuke yang terlihat seperti pendekar tampan di film-film kolosal Jepang, raut wajahnya serius bercampur tenang saat sekelibas melewati Sakura dan kedua keponakannya.

"Otousan! Yeahhh!" Itaru berseru menyemangati ayahnya yang melaju lebih cepat dari Sasuke.

"Paman Sasu... Yeay!" Kenji ikut-ikutan bersorak seperti kakaknya. Sakura ingin ikut bersorak menyemangati Sasuke tapi dia masih ingat batasannya, gadis itu hanya melambai-lambaikan jerami seperti pom-pom.

"Kenji ayo beri makan kuda yang lainnya." Itaru menggandeng tangan adiknya menuju kandang kuda, Sakura meletakkan rumput jerami di samping Troya lalu mengikuti kedua anak itu.

"Sakura-chan, kau membawa tumpukan jeraminya." perintah Itaru. Sakura mengambil beberapa jerami tapi Itaru menyuruhnya membawa satu ikat jerami sama sepertinya tadi. Sakura menggelindingkan ikatan jerami itu tapi Itaru bilang jeraminya akan berserakan ke tanah jadi dia harus mengangkatnya. Shannaro.

"Sakura-chan... ayo cepat-cepat!" Itaru dan Kenji sudah masuk di dalam kandang besar, mereka melambai-lambaikan tangan pada Sakura yang jalan sedikit zigzag saat membawa satu gulung jerami besar. Ada paman penjaga yang sedang membersihkan kandang kuda, paman itu tidak melihat ke arah Sakura karena ia asik membersihkan kandang sambil mendengar musik rock melalui headset dengan volume kandas.

"Ok, ok, ok aku datang..." Sakura menjatuhkan jerami di depan deretan kandang kuda, ia membuka ikatannya dan kedua anak itu langsung mengambil jeraminya. Itaru memberi makan kuda dari balik pembatas kandang sementara Kenji berjinjit-jinjit ingin memberi makan langsung sama seperti kakaknya, Sakura lalu menggendong Kenji menuju mulut kuda.

"Makanlah Black..." salah satu Kuda hitam yang bentuknya menakutkan menurut pada Itaru. Kuda itu besar dan gagah, mungkin peranakan dari lima benua. Sakura yang melihatnya cukup terpenganga, ia lebih memilih memberi makan kuda yang auranya santai dan anggun sambil mengawasi kedua keponakan Sasuke.

"Kau sangat menyukai kuda eh Itaru-kun?" tanya Sakura, ia masih menggendong Kenji yang memberi makan kuda lainnya.

"Kuda-kuda ini semua temanku." ucap Itaru dengan yakin.

"Kuda bisa mengenali pemiliknya dengan baik. Apa kau pernah menunggang salah satu dari mereka?" tanya Sakura.

"Belum. Aku hanya boleh menunggang Troya. Kau bisa naik kuda?" tanya Itaru.

"Aku juga tidak bisa, tapi mungkin Sasuke-kun akan mengajariku..." Sakura tersipu saat memanggil nama Sasuke dengan akhiran kun walau cuma di depan keponakannya saja. Mendengar Sasuke akan mengajari Sakura, Itaru sedikit melirik tidak senang.

"Kau mau memberi makan si Black?" tawar Itaru, sebenarnya Sakura takut dengan Black tapi demi harga dirinya sebagai orang dewasa, gadis itu pun menurunkan Kenji lalu berlagak santai mengambil jerami dan mendekati Black.

"Lebih dekat Sakura-chan." pinta Itaru, Sakura berdiri satu meter jaraknya dari pagar pembatas. Black menatapnya sangat tajam, kuda besar hitam mengendus-ngendus seperti banteng. Sakura gugup saat mengulurkan jerami pada Black.

BANG!

Itaru memukul drum kosong dengan gagang penggaruk jerami, suaranya begitu nyaring sampai si Black terkejut dan merontak, kaki depannya terangkat ke depan dan Sakura tersentak kaget, gadis itu meloncat jauh ke belakang dan menginjak 'ranjau.'

Shannaro!

"Kau menginjak kotoran kuda!" seru Itaru.

"Ya Tuhan..." Sakura menatap sepatu converese-nya setengah terbenam di kotoran kuda, bunyi lengket terdengar saat ia mengangkat kaki. Menjijikkan, sebaiknya diblur.

"Ada monster kotoran kuda! jangan mendekat!" seru Itaru, ia berlari menjauh disusul Kenji di belakang. Kedua anak itu meninggalkan kandang sambil meneriakkan 'ada monster kotoran kuda.'

"Waaaaaaaaaa..!" Itaru dan Kenji berlari menuju halaman rumah singgah. Konan bingung dengan apa yang terjadi sampai melihat Sakura tergopong-gopong berjalan mencari kran air.

"Astaga Sakura, kau menginjak kotoran kuda." Konan menghampiri gadis itu, paman botak langsung menuntun Sakura menuju kran air. Sakura melepas sepatunya dan menyemprot sepatu itu tanpa ampun seperti petugas pemadam kebakaran. Sasuke yang usai dengan balapan langsung menghampiri Sakura saat Kenji mengatakan Sakura menjadi monster kotoran kuda.

"Bagaimana sampai kau bisa menginjak kotoran kuda?" tanya Sasuke, pria itu berdiri dengan pose memasukkan kedua tangannya ke kantung celana sambil memandang Sakura yang sedang menyemprot sepatunya tanpa ampun.

"Aku memberi makan si Black, tiba-tiba dia merontak, aku spontan meloncat dan menginjak ranjau." terang Sakura.

"Black?" Sasuke menautkan alisnya.

"Iya Black, kuda hitam besar menakutkan di sana." Sakura menunjuk kandang kuda. Sasuke mengenal kuda-kuda di sana, Black tidak akan merontak jika tidak ada sesuatu yang mengganggunya.

"Apa Itaru melakukan sesuatu?" tanya Sasuke.

"Kurasa tidak..." Sakura mengangkat bahu, ia yakin Itaru yang melakukannya tapi sebaiknya tidak usah mengadu untuk hal yang sepele walau sekarang ia meruntuki sepatunya yang kini berkubang kotoran kuda.

Sakura membungkus sepatunya dengan plastik, Sasuke mengantarnya menuju mobil untuk menaruh sepatu itu dan menggantinya dengan sandal hotel. Untung Sakura membawa sandal hotel tadi, jika tidak ia akan tersiksa mengenakan heels seharian.

"Itaru, apa kau tahu kenapa Black merontak?" singgung Sasuke saat ia dan Sakura kembali ke halaman rumah singgah. Sakura menyenggol sikut Sasuke untuk tidak mengungkitnya tapi Sasuke tampaknya ingin menegur keponakannya secara halus.

"Itaru-nii..."

"Kenji!" seru Itaru sambil memelotot ke arah adiknya, ia takut Kenji menceritakan kejahilannya di depan Itachi.

"Black merontak karena aku gugup saat memberinya makan. ya..., itu biasa terjadi saat interaksi kuda dan manusia tidak singkron. Benarkan?" Sakura menutup-nutupi kesalahan Kenji. Sasuke pun tidak berkomentar sedangkan Itachi dan paman botak sedikit tersenyum mendengar penjelasan Sakura tentang teori ketidak singkronan kuda.

"Baiklah, siapa yang ingin naik kuda bersamaku?" Sasuke beranjak menuju Kenji.

"Paman Sasuke akan mengajariku duluan." protes Itaru saat Sasuke menggandeng adiknya.

"Mungkin kau harus menunggu giliran ke-tiga." sahut Sasuke.

"Kenapa aku di urutan ke-tiga?" Itaru tidak terima.

"Karena kau akan naik kuda setelah Sakura." Sasuke beranjak meninggalkan Itaru yang kini mengerucutkan mulutnya. Ia seperti sedang menghukum keponakannya secara tidak langsung dan Sakura merasa Itaru akan menyatakan bendera perang padanya. Shannaro... menambah masalah saja.

"Itaru-kun, bagaimana jika kita naik kuda poni?" ajak Sakura, Itaru menolaknya mentah-mentah, ia berjalan menuju kuda poninya sambil membawa ranting kayu yang sempat ia tinggalkan di atas meja makan.

"Maaf dengan sikap Itaru Sakura-chan, ia berusaha mencari perhatian di depan orang baru atau di depan Sasuke." ucap Konan.

"Tidak masalah Konan-san, hal itu sudah sering terjadi pada anak kecil." Sakura tersenyum. "Aku akan menemani Itaru."

Ia pun beranjak, menyusul Itaru yang duduk di atas rumput sambil memandangi Troya. Sakura mengambil tempat di samping anak itu, ia tidak mengatakan apapun sementara Itaru sendiri tampak cuek. Keduanya memandang Sasuke dan Kenji yang kini sedang berkuda. Sakura pun melirik Itaru, anak itu tampak bosan menunggu gilirannya, terlihat dari gerak-geriknya saat menggesek-gesekan ranting kayu ke permukaan rumput.

"Itaru-kun, kau bisa naik kuda setelah Kenji. Aku akan ada di urutan ke-tiga." Sakura memecah keheningan.

"Paman Sasuke bilang kau akan naik kuda setelah Kenji." sahut Itaru, mulutnya manyun saat berucap.

"Ayolah..., dia tidak serius saat mengatakannya. Kau akan tetap naik kuda setelah Kenji." rayu Sakura.

"Benarkah?" Itaru pun menoleh. Terpancar harapan pada raut wajahnya.

"Yup!" Sakura mengangkat jempol sambil tersenyum. Masalah beres.

Sasuke dan Kenji menepi setelah dua putaran. Sakura langsung berlari menghampiri mereka, ia mengatakan bahwa kini giliran Itaru dan Sasuke harus menyetujuinya. Sasuke lalu menghampiri Itaru yang sudah menunggu dengan muka berharap. Ia berdiri sambil bersedekap di hadapan bocah itu. Mereka saling bertatapan beberapa detik, raut wajah Sasuke seperti mengatakan 'jangan berbuat jahil atau aku tidak akan mengajakmu bermain.' dan akhirnya Sasuke mengajak puta sulung Itachi naik kuda.

"Itaru mendapatkan gilirannya ya.." ucap Konan ketika Sakura kembali ke halaman rumah singgah, ia membantu Konan dan paman botak menyiapkan makan siang. Itachi sedang berada di kandang kuda.

"Jadi sudah berapa lama kau bersama Sasuke?" tanya Konan, Sakura yang sedang memotong paprika langsung memasang raut wajah tidak mengerti, mengira-ngira bahwa sepertinya Konan salah paham tentang hubungannya dengan Sasuke.

"Em... ano..." Sakura ingin meluruskan hal itu tapi tiba-tiba Kenji menumpahkan saus tomat di bajunya.

"Ayo sayang.. ganti bajumu..." Konan langsung bergegas membawa Kenji masuk ke dalam rumah singgah. Tinggalah Sakura bersama paman botak yang wajahnya mirip one punch man itu, mereka mengobrol ringan sampai beberapa menit kemudian Sasuke datang bersama Itaru.

"Ah.., kalian sudah selesai? saatnya makan siang..." Konan keluar bersama Kenji, anak bungsunya kini mengenakan kemeja kotak-kotak merah seperti koboy kecil. Sangat menggemaskan, Sakura menahan dirinya untuk tidak berlari menciumi Kenji. Awww...

Makan siang dimulai setelah Itachi kembali dari kandang kuda, pria itu usai menengok keadaan Black yang baik-baik saja. Black adalah kuda kesayangan Fugaku, Sakura bersyukur kuda itu tidak terkena serangan jantung akibat ulah Itaru. Obrolan terjadi saat makan, Sasuke dan Itachi tidak banyak bicara, mungkin keduanya punya ikatan batin keluarga tentang kebiasaan saat di meja makan. Itaru semangat melahap barbeque sedangkan Kenji makan sendiri walau belepotan kemana-mana.

"Apa kau sudah menyampaikan salam kami pada Kakashi, Sasuke?" Konan mengganti obrolan.

"Aa.., ia mengucapkan terimakasih atas kado kalian."

"Kami akan berangkat ke pestanya jika saja pesawat kami tidak delay beberapa jam." terang Konan, Sakura hanya mendengar obrolan itu sambil berfikir ternyata keluarga Sasuke mengenal Kakashi.

"Ayame menitipkan salam untuk kalian. Aku bertemu dengannya di sana." sahut Sasuke, Sakura tidak mengerti kenapa Konan langsung meliriknya.

"Kapan dia datang?" tanya Itachi.

"Kemarin pagi. Ayame akan mulai mengisi soundtrack film Greenoch besok."

"Kudengar studio akan merilis dua film baru Sasuke-kun? Itaru tidak sabar menantikan animasi..., ah..., aku lupa dengan judulnya." Konan mengingat-ngingat.

"Black Jack." jawab Itaru.

"Ah ya.. Black jack." Konan menggerakkan telunjuknya.

"Black Jack akan rilis tahun depan, studio 2D masih dalam tahap produksi." terang Sasuke.

"Apa itu 2D?" tanya Itaru.

"Sakura artist 2D, dia bisa menjelaskannya." sial, serontak perhatian Sakura langsung teralihkan dari barbeque danmenyenggol kaki Sasuke di bawah langsung memandang ke arah Sakura, menantikan jawabannya.

"Emm..., 2D itu artinya..." otak Sakura bekerja. "Dua dimensi Itaru-kun, animasi yang bentuknya rata, seperti kartun Ninja Hatori, Dragon ball, atau Doraemon." mencoba menjelaskan secara sederhana untuk anak usia tujuh tahun. Itaru anak yang cerdas, ia mengerti maksud Sakura dan kembali bertanya tentang animasi 3D. Sepertinya ia pernah mendengar istilah itu dari Sasuke.

"Kalau animasi 3D itu, animasi yang bentuk tokoh serta benda-bendanya menyerupai dunia nyata, eemm..." Sakura kandas, susah juga menerangkannya. "Ah.., Contohnya film animasi Toy story, finding nemo, atau Kungfu panda."

"Fiding nemo, yeaay...!" sahut Kenji, semua perhatian teralihkan pada anak kecil imut itu. "Kenji suka ikan." ucapnya sambil menjilati saus tomat di piring.

"Benarkah itu Kenji? aku juga suka ikan, aku punya sahabat ikan di rumahku." sahut Sakura.

"Benalkah... apa bentuknya sepelti megalodon?" tanya Kenji. Sakura menyerngitkan dahi tidak mengerti apa itu Megalodon.

"Megalodon, ikan hiu jaman purba Sakura-chan. Kenji sangat suka dengan Dinosaurus." terang Konan. Sakura hanya mengangguk-ngangguk sambil tersenyum. 'Anak kecil jaman sekarang...'

"Aku lebih suka luar angkasa dari pada Dinosaurus." Itaru tidak mau kalah.

"Benarkah? kau suka seorang astronot?" tanya Sakura. Kenji mengangguk, anak itu mengatakan bahwa cita-citanya ingin menjadi seorang astronot. Sakura langsung mengingat Sasori. Mereka pun melanjutkan obrolan hingga hidangan habis tersantap.

"Sakura ayo." paman tampan menyudahi topik pembicaraan soal Dinosaurus dan astronot. Sasuke beranjak dari meja makan, Sakura pun mengikutinya menuju pacuan kuda, masih mengenakan sandal hotel, ini aneh tapi mau bagaimana lagi.

.

.

"Bagaimana ini..." Sakura tidak tahu bagaimana caranya naik ke atas punggung kuda.

"Pijakkan kakimu.." Sasuke mengarahkan kaki Sakura ke atas pijakan. Kedua tangannya menyentuh pinggang Sakura dan ia mengangkat gadis itu naik ke atas punggung kuda. Sakura sangat kaku dan tegang, membuat kuda Sasuke sedikit gelisah.

"Jangan tinggalkan aku Sasuke-kun! ah Sasuke-san!" gadis itu sedikit panik saat kaki kuda mulai bergerak di tempat.

"Ssshhhh... tenanglah Aoda." Sasuke menenangkan kudanya, kemudian ia ikut naik di bagian belakang. Kegugupan Sakura langsung berganti tema, gadis itu grogi apalagi saat Sasuke menarik kendali kuda, kedua tangan pria itu merengkuhnya dari belakang, membuat jantung sudah tidak singkron lagi sama seperti dirinya dan Black. Demi semua kuda poni, aroma tubuh Sasuke menguar tajam, Sakura mulai tidak fokus. Konan tersenyum saat melihat mereka dari kejauhan.

"Kuda akan gelisah saat penunggangnya tidak yakin. Jangan membagikan kepanikan pada kuda, ia bisa mengetahuinya dari gerakan, suara, bahkan aroma tubuh." terang Sasuke. Itaru dan Kenji menghampiri dan berdiri di balik pagar pembatas. Itaru menatap bosan ke arah Sakura, menurutnya sama saja, Sakura tidak bisa naik kuda.

"Ok, aku sudah tenang sekarang. Lalu bagaimana?" tanya Sakura.

"Tarik kendali kekangnya seperti ini, jaga kepalanya agar tetap terangkat ke atas, dengan leher rileks dan sedikit menekuk. Titik berat tubuh tegak dan seimbang di tengah." Sasuke menekan tulang punggung Sakura dan gadis itu sedikit merinding.

"Lalu bagaimana cara mengendalikan kuda yang memberontak?" tanya Sakura lagi.

"Tarik salah satu kendalinya, salah satu saja, jangan keduanya atau menarik lurus, tarik ke samping paha. Pilih salah satu, kiri atau kanan."

"Ok, roger!" ucap Sakura, gadis itu menggerakkan kepalanya ke belakang, sepuluh centi jaraknya dari wajah Sasuke, jantungnya semakin bekerja tidak beres. "Aku mengerti, bisakah kau turun sekarang Sasuke-san?" bisik gadis itu, tidak mau ucapannya didengar kedua keponakannya Sasuke, semacam gengsi, apalagi Itaru terus memandangi mereka. Sakura tidak mau dianggap bodoh soal naik kuda.

"Kau yakin?" tanya Sasuke.

"Yup, aku sangat yakin, turunlah." pinta Sakura, lagipula posisi mereka tidak baik bagi kinerja jantungnya. Sasuke pun turun, ia berdiri di samping Aoda sambil memegang ikatan kepala kuda itu.

"Paman Sasuke, bisakah kau naik kuda bersamaku mengiringi Sakura-chan?" pinta Itaru.

"Aku tidak yakin Itaru." sahut Sasuke.

"Sasuke-san aku bisa melakukannya, percayalah. Aku pernah menunggang kuda poni." Sakura mengatakannya secara yakin dan Sasuke hanya memasang wajah datar. Kuda poni?

"Ayolah paman Sasu..., kumohooon..." Itaru menggunakan jurus maut puppy eyes. Kenji di sebelahnya ikut-ikutan mengatakan 'aku mohon' walau ia tidak tahu maksudnya. Kedua bocah itu berisik seperti anak ayam dan Sasuke akhirnya menyerah.

"Baiklah..." pria itu menghela nafas, perlahan Sasuke melepas tangannya dari ikatan kepala Aoda. Sakura tampak cukup seimbang dan bisa mengontrol Aoda untuk berdiri tenang.

"Tunggu di sini, pertahankan posisimu, jangan membuat gerakan yang mengagetkan." Peringat Sasuke. Sakura mengangguk paham sambil mengangkat jempol. Sasuke lalu mengambil Manda, kuda Itachi yang diikat tidak jauh dari sana. Ia pun membawa Itaru naik bersamanya.

"Ayo jalan..." Sasuke memberi aba-aba setelah mendekati Sakura. "Hentakkan kakimu dengan pelan." Ia memberi petunjuk. Sakura pun menghentakkan kaki pada tubuh Aoda dengan lembut sambil berdoa dalam hati. Aoda mulai melangkahkan kaki, aman, tampaknya awal yang baik.

Mereka menelusuri jalur pacuan secara perlahan. Sasuke membuat beberapa jarak di samping Sakura, diiringi nyanyian riang Itaru yang berjudul hari minggu, bocah itu menggenggam ranting sambil mengayunkan kesana-kemari. Jika saja aku memerankan orang yang kebetulan lewat, aku akan mengira mereka adalah keluarga, dimana Sasuke dan Sakura sebagai suami istri dan Itaru anaknya.

"Kami datang..." beberapa saat kemudian Konan dan Kenji menyusul dengan menunggang kuda lain. Mereka berjalan di samping kuda Sakura. Kenji terlihat senang, ia melambai-lambaikan tangannya ke arah Itaru begitu pula dengan Itaru yang menggoyang-goyangkan ranting kayunya dengan semangat dan...

PAK! tidak sengaja mengenai pantat Aoda. Kuda itu tersentak kaget dan spontan tidak terkendali.

"KYAAAA...!"

"Sakura!" seru Sasuke, Aoda membawa gadis itu melaju kencang. "Itaru pegangan yang erat!" Sasuke pun mempercepat Manda dan mengejarnya.

Konan langsung menepi, Itachi yang melihat dari kejauhan langsung berlari mengambil kuda terdekat. Sakura panik, tidak bisa berfikir jernih ketika Aoda melaju tidak terkendali, bingung bagaimana menghentikannya, ia khawatir jika Aoda akan berhenti mendadak dan menghempaskannya ke tanah.

"Sasuke-kun!" teriak Sakura saat Sasuke hampir mendekatinya.

"Tenang Sakura! tarik satu kendalinya!" seru Sasuke.

Tanpa pikir panjang Sakura menarik kendali Aoda ke kiri sambil menekankan kakinya pada pijakan sanggurdi, ia membiarkan semuanya mengalir begitu saja.

NGUEEEERRRRKKKK...!

Aoda memelankan laju dan menghentakkan kaki depan ke atas, membuat Sakura hampir saja jatuh ke belakang tapi spontan ia menahan keseimbangan tubuh saat pelana kuda menahan bagian bokongnya. Sakura menarik kekang Aoda dengan tegas. Kuda itu pun berhenti. Sangat beruntung. Itachi yang menghampiri langsung mengurangi lajunya saat mendekati Aoda, kuda itu masih tampak gelisah sambil menghentak-hentakkan kaki di tempat, membuat tubuh Sakura terguncang karena pergerakan yang tak beraturan. Itachi langsung menenangkan Aoda, kemudian membantu Sakura turun dari punggung kuda itu. Sasuke berlari menghampiri mereka setelah menurunkan Itaru terlebih dahulu yang tampak ketakutan setelah kejadian yang berlangsung cepat ini. Konan langsung menjemput Itaru untuk keluar area pacuan.

"Kau baik-baik saja?" Sasuke memeriksa kondisi tubuh Sakura, gadis itu lemas dengan tangan gemetaran. Sasuke menuntunnya menjauhi Aoda, mereka menuju tepi pacuan kuda dan Sakura langsung ambruk di tempat.

"Tarik nafas... perlahan..." tuntun Sasuke. Sakura mengikuti instruksi itu sampai ia merasa sedikit rileks.

"Apa kau terluka? katakan jika ada bagian yang terasa sakit." Sasuke memastikannya lagi, anak orang... kalau celaka bisa panjang urusannya. Sakura ling-lung, masih syok, matanya berkaca-kaca, tapi lima detik kemudian... gadis ini malah terkekeh.

"Apa yang lucu?" Sasuke menautkan sebelah alisnya.

"Kau melihatnya? aku menghentikan Aoda.." Sakura terkekeh lagi, butiran keringat dingin keluar dari dahi lebarnya.

Sasuke menghela nafas lega, kembali berwajah datar sambil melihat ekspresi Sakura yang tampak baik-baik saja. "Ya aku melihatnya. Kau seperti koboy di acara komedi." sahut pria itu.

"Aku keren kan? Hahah..." keduanya saling bertatapan dan Sakura semakin terkekeh sambil menahan perutnya.

Sasuke pun ikut tersenyum, ia menyentuh kepala Sakura dengan wajah lega, senyuman pria itu begitu menawan, sekejap emerald Sakura berhenti padanya, terpaku. untuk pertama kali melihat Sasuke tersenyum lepas. Kekehan Sakura mereda ketika sesuatu datang menyambar lubuk hati yang paling terdalam.

'Oh Tuhan..., aku tidak ingin jatuh cinta...'

Itaru jadi pendiam setelah kejadian itu, ia duduk menyendiri di tangga teras rumah singgah. Sasuke sedang melihat kondisi Aoda di kandang kuda bersama Itachi. Itaru sangat takut jika Sasuke akan menceritakan pada ayahnya penyebab Aoda memberontak. Tidak ada yang menyalahkan Itaru disini, tapi anak itu merasa bersalah. Sakura mendekatinya dan duduk di samping Itaru, tidak ada obrolan, Itaru merunduk dan tidak mau memandang Sakura, bocah itu memfokuskan perhatiannya pada tali sepatu yang dilingkar-lingkar dengan jarinya, ranting kayu yang dibawa-bawa Itaru sudang leyap entah kemana.

"Hei..., Itaru-kun, kau mau?" Sakura menyodorkan sebuah apel, Itaru tidak menoleh sekejap lalu menunduk lagi.

"Kau tidak bersalah Itaru-kun..." ujar Sakura, "Kau tidak sengaja melakukannya." ia mengusap punggung Itaru. "Apa kau melihat bagaimana aku menghentikan Aoda? aku seperti koboy bukan, hahaha..." gadis itu berusaha mencairkan suasana. Itaru menoleh dengan wajah datar seperti Sasuke, anak itu tidak mengatakan apapun, ia langsung bangkit dan mengacuhkan Sakura begitu saja, berjalan menuju Kenji yang sedang membantu paman kepala botak membereskan peralatan barbeque.

"Sakura-chan kemarilah." panggil Konan dari dalam rumah singgah. Sakura menoleh lalu menghampiri, wanita itu tengah membereskan barang-barang bawaan ke dalam tas di ruang depan.

"Ambilah..." Konan menyodorkan kotak berisi biji pohon pinus yang dicat berwarna-warni. Sakura tidak paham, ia hanya menatap wajah Konan sesaat lalu melihat biji-biji itu lagi.

"Setiap pulang dari tamasya bersama keluarga, Itachi atau Sasuke, salah satu dari mereka akan memberikan sesuatu untuk Itaru dan Kenji sebagai tanda kenangan. Aku yang membuat tradisi ini, aku ingin anak-anakku mengingat semua moment keluarga, Itaru dan Kenji menjaga dengan baik tanda-tanda kenangan mereka di kotak penyimpanan. Kami tidak sering mengadakan tamasya bersama, mereka sibuk dengan urusan masing-masing." terang Konan.

"Kau tahu kan para lelaki Uchiha? mereka sangat kaku dan tidak mengerti hal-hal kecil berbau cinta seperti ini." Konan terkekeh. Untuk pertama kalinya Sakura tahu nama keluarga Sasuke. Saat perkenalan dulu Sasuke tidak menyebutkan namanya secara lengkap.

"Aku mau kali ini kau yang memberikan tanda kenangan ini pada Itaru dan Kenji." pinta Konan.

"Baiklah..." Sakura tersenyum, ia memilih beberapa biji pinus lalu keluar dari rumah singgah bersama Konan.

Sasuke dan Itaci kembali dari kandang kuda. Konan mengatakan sudah saatnya untuk kembali pulang. Kenji menghampiri Sasuke diikuti Itaru yang berjalan ragu-ragu. Kedua anak itu berdiri di hadapan Sasuke, seperti menunggu sesuatu dari paman mereka. Konan lalu menatap Sakura, mengisyaratkan bahwa ini saatnya untuk memberikan tanda kenangan, Sakura pun menghampiri Sasuke dan kedua keponakannya.

"Aku punya sesuatu untuk kalian..." Sakura berjongkok di hadapan Kenji dan Itaru, Sasuke berdiri persis di sampingnya, posenya santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

"Kenji-kun ini untukmu." Sakura memberikan biji pinus berwarna kuning untuk Kenji. Anak itu menatap biji pinusnya sambil tersenyum girang. Kenji lalu memeluk dan mencium pipi Sakura. Betapa senangnya dicium malaikat kecil, bibir Kenji terasa mungil di permukaan pipi.

"Nah, yang ini untukmu Itaru-kun." giliranSakura memberikan Itaru biji pinus berukuran sedikit lebih besar berwarna merah. Itaru mengambil tanda kenangannya sambil menunduk, bocah itu tampak gugup.

"Sakura-chan... maafkan aku." suaru Itaru terdengar sendu dan sangat pelan. Sakura tersenyum tipis lalu mengusap kepala anak itu.

"Hei, kau mau tahu sesuatu?" Sakura mendekatkan wajahnya, Itaru mengangkat kepala dan mereka bertatapan. Sakura mengangkat tangan kiri di samping mulutnya dan berbisik,

"Kakakku seorang astronot." Itaru langsung membulatkan matanya. "Aku akan mengajakmu menemuinya jika ia kembali ke bumi. Bagaimana?" Sakura menaikkan kedua aliasnya dua kali sambil tersenyum.

Itaru mengangguk, ekspresinya langsung berubah, tampak terkejut dan juga senang di balik wajahnya yang tenang. Itaru lalu memeluk Sakura walau gerakan tubuhnya ragu-ragu. Kenji menyuruhnya untuk mencium pipi Sakura karena itu sudah menjadi tradisi namun Itaru hanya menempelkan pipinya ke pipi Sakura. Bocah ini..., harga dirinya tinggi juga...

Sakura lalu berdiri dan merogoh saku celananya. "Nah ini untukmu Sasuke-san, ah...mungkin, Sasuke-kun." ia tersenyum geli sambil memberikan biji pinus berwarna biru. Sasuke menerimanya dengan wajah datar.

"Aa, terimakasih." ucap Sasuke. Itaru dan Kenji menatap ke arah sang paman, apalagi Kenji, seperti menunggu kelanjutannya.

"Apa?" tanya Sasuke pada kedua keponakannya.

"Paman tidak memeluk Sakura-chan." ucap Itaru sambil membuang muka ke arah samping.

"Paman Sasu tidak mencium Sakula-chan.." timpal Kenji.

Shannaro... kenapa malah begini? Sakura pun salah tingkah, tidak berfikir jauh saat memberikan biji pinus itu untuk Sasuke.

"Ke-Kenji-kun..., Itaru-kun, paman kalian..." Sakura menoleh ke arah Sasuke dan..

CUP

pria itu mengecup Sakura tanpa aba-aba, Sasuke hendak mencium pipi tapi karena Sakura menoleh.., bibir mereka pun bertemu. Kecupan singkat itu membuat Sakura salah tingkah. Konan terkekeh dan Itachi memasang wajah tenang. Paman kepala botak yang sedang membereskan perlengkapan barbeque hanya tersenyum simpul. Bagaimana dengan Sasuke? wajahnya tetap datar saja...

"Wajahmu memerah Sakura-chan...!" seru Itaru. Shannaro... Sakura langsung kabur meninggalkan para lelaki Uchia, gadis itu berlagak membatu paman kepala botak dengan membawa satu gelas kosong masuk ke rumah singgah.

Setelah semua perlengkapan selesai dibereskan, mereka pun berpamitan sebelum masuk ke mobil masing-masing. Sakura masih gugup saat bersalaman dengan Itachi. Konan memeluk Sakura dan mereka saling mencium pipi kiri dan kanan, wanita itu hangat... Sakura berpikir pasti Konan yang mengajarkan tradisi memeluk dan mencium pada kedua anaknya. Tradisi yang manis. Sesaat Sakura merasa beruntung, wajahnya merona tidak jelas, kau kenapa Sakura? perlu dicium si Black?

"Terimakasih sudah bergabung bersama kami Sakura-chan. Maaf tadi ada sedikit kekacauan. Tidak jera bermain bersama Itaru dan Kenji kan?" Konan tersenyum ramah.

"Aku sangat senang bisa berakhir pekan bersama keluarga anda Konan-san, terimakasih." ucap Sakura. "Kapan-kapan kita akan bermain lagi ya kenji-kun, Itaru-kun..." Sakura mengedipkan mata pada Itaru. Percaya diri juga, jadi kapan Sasuke akan mengajakmu lagi...

"Tentu..., Sasuke akan sering mengajak Sakura-chan, benar kan Sasuke?" Konan tersenyum penuh arti pada Sasuke, adik iparnya itu tetap memasang wajah datar. Coba lihat wajah Sakura itu, burung-burung di langit bisa lupa jalan pulang.

"Bye..bye... Sakula-chan..." Kenji melambaikan tangan saat masuk ke dalam mobil. Itaru hanya menoleh sesaat pada Sakura, gadis itu juga melambaikan tangan sambil masuk ke dalam mobil Sasuke. Bersama-sama, mereka pun meninggalkan area pacuan kuda.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat melihat Sakura melamun, mobilnya melaju di depan mobil Itachi. Sakura memandang deretan pohon musim gugur tanpa ada pergerakan. Pikirannya sedang menerawang.

"Apa menurutmu Itaru menyukaiku?" tanya Sakura.

"Kurasa dia menyukaimu."

"Benarkah? dari mana kau menyimpulkannya?"

"Karena aku mengenalnya." jawab Sasuke, Sakura terdiam dan sekejap memandang ke depan jalan, gadis itu lalu menyandarkan punggungnya.

"Astaga tulangku seperti akan terlepas... ssshhhh..." rintih Sakura. "Pulang nanti aku akan meminta Naruto memasang koyo di seluruh punggungku." Sasuke langsung menoleh, sekejap menatap Sakura lalu kembali melihat ke arah jalan. Kenapa Sasuke? ada yang salah?

"Ada apa?" tanya Sakura, Sasuke tidak menjawab dan mobil mereka semakin menjahui area pacuan kuda.

.

.

Sasuke mengantar Sakura sampai ke depan gedung apartemen. Gadis itu tertidur selama perjalanan, terlihat lelah sampai bibir terbuka, gaya tidurnya seperti orang pingsan. Sasuke lalu membangunkannya, Sakura membuka mata dengan ekspresi bingung, mengedarkan pandangan ke penjuru halaman apartemen sambil membatin bukankah seharusnya mereka mampir ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli koyo? sepertinya Sasuke melewatkan permintaan itu.

"Bukankan tadi aku berpesan mampir ke minimarket?" Sakura memastikan.

"Kau tidur, lagipula aku juga lupa." wajah Sasuke datar saat mengucapkannya, entah mengapa ada sedikit unsur kebohongan pada wajah datar itu. Sakura pun hanya mengangguk.

"Terimakasih untuk hari ini Sasuke-san..." Sakura melepas sabuk pengaman. "Kau tidak mau mampir dulu untuk istirahat sejenak?"

"Tidak. Aku langsung pulang." jawab Sasuke. Sakura pun turun dari mobil dan menuju bagasi belakang, mengambil converse, gaun dan Heels-nya.

"Hei." panggil Sasuke, pria itu menghampiri.

"Hemmm?" Sakura menoleh sambil mengangkat semua barang bawaannya.

"Istirahatlah. Tidak perlu mamakai koyo atau semacamnya." Sasuke menutup pintu bagasi. "Kau seperti nenek-nenek..." ejeknya, pria itu langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun lagi.

Tin! Tin!

Sasuke membunyikan klakson dua kali dan mobilnya melaju pergi. Sakura masih bengong di tempat sambil memandang mobil yang kian semakin menjauh. Hey.. kau ini kenapa...

.

.

Pikiran Sakura menerawang ketika lift membawanya naik ke lantai empat belas. Rentetan kejadian terulang kembali di kepala, berawal dari kejadian mobil Naruto yang mogok, lalu Sasuke memberinya tumpangan, lalu rencana berubah dan mereka tidur di kamar hotel yang sama, kemudian berakhir pekan bersama keluarga Uchiha. Kedekatan mereka membuat sosok Sasuke terniang-niang di kepala. Timbul perasaan aneh di dalam dada, apa ini? seakan ada yang akan mengetuk pintu, tapi pintu apa? Sakura tahu betul seperti apa rasanya, perasaan gelisah yang merepotkan, perasaan ketika jatuh..., tidak! gadis itu menggelengkan kepala, harus berfikir jernih, wajahnya mulai merona saat pintu lift terbuka dan menampakkan sosok Naruto yang berdiri di depan lift sambil membawa obeng Inggris.

"Pinky? kukira kau tidak pulang semalam, darimana saja kau?" Naruto masuk ke dalam lift sedangkan Sakura melangkah keluar. Gadis itu lalu berhenti dan memandang Naruto dengan tatapan kosong.

"Hei.. Kau baik-baik saja?" tanya Naruto.

"Entahlah..." jawab Sakura, di saat bersamaan pintu lift tertutup dan Naruto menautkan sebelah alisnya.