Balasan untuk yang ngereview ;

febri feven : ini sudah lanjut kok :)

Lukireichan : iya salam kenal juga senpai, ini sudah lanjut kok :)

RAIN

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei

This fic belong to : hatsukari melody

Pairing : Uchiha Sasuke X(female)namikaze Naruko

haruno sakura X sabaku no gaara

Rate : T

Genre : Romance,angst ( sedikit drama mungkin )

part 10...

NARUKO POV

"karin, lihat apa yang nee-chan bawa?" seruku riang begitu memasuki rumah. Namun, mendadak senyuman riangku memudar digantikan ekspresi terkejut. Mataku membulat menatap sesosok pria yang sedang duduk dengan sopan didepan meja. "gaara?"

gaara tersenyum lembut kepadaku. Mataku masih terlalu terkejuut untuk mempercayai keberadaannya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia nekat datang kerumahku tanpa persetujuanku. "hai, naru. Baru pulang?" tanyanya lembut.

"sedang apa kau disini?" tanyaku sinis. Kulihat tou-san muncul dari dapur membawa dua gelas teh hangat. Tou-san menatapku dalam-dalam sambil memberi syarat agar aku tak banyak bicara dan ikut duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menurut, ikut duduk dengan mengambil jarak yang agak jauh dari gaara.

"untuk apa kau kemari?" tanyaku tana basa basi.

"naruko!" tegur tou-san melihat cara bicaraku yang kurang sopan.

Gaara hanya tersenyum seakan sudah terbiasa dengan gertakanku padanya. "aku hanya ingin membawakan kue ini untuk karin. Apa itu salah? Lagi pula karin menyukainya," ujarnya ringan.

Aku menarik napas berat. Mendadak, urusan boneka terlupakan olehku. Aku hanya mengamati gaara yang tengah mengobrol akrab dengan tou-san. Ya, dengan penampilan menarik, sikap yang sopan dan otak yang cerdas, gaara memang dapat dengan mudah menaklukan hati orang tua. Aku menata kedua matanya yang teduh dan tenang. Kedua mata yang memancarkan ketulusan.

Aku mengalihkan pandanganku dengan menatap kaki meja. Dadaku semakin terasa sesak. Melihat gaara membuat perassan bersalahku kembali muncul. Aku tahu dia sangat berbeda dengan tipikal orang kaya yang kubenci, namun aku tetap sulit menghilangkan dendam yang membakar tiap kali melihatnya. Gaara menatapku bingung dan mengeluarkan senyuman manisnya. Ya, dia memang lelaki yang tampan dan baik. Mungkin memang kesalahan besar bagiku menyia-nyiakannya. Tapi setiap aku bertanya, berkali-kali hatiku menjawab, aku belum bisa menerima cintanya. Terlalu menyakitkan bagiku tiap bersamanya.

"tou-san, aku kekamar dulu," ujarku datar. "oh, iya. Tolong berikan boneka ini kepada karin." aku beranjak dari posisi dudukku. Berjalan menjauh menuju kamarku. Aku berlalu tanpa sekalipun berani mempertemukan pandanganku dengan padanya.

q^_^p

"jangan bilang dia akan dipecat!"

"ah, tidak mungkin dia dipecat. Dia, kan, anak pemilik restoran ini."

"tapi bukankah ayahnya sudah meminta agar kita memperlakukannya tanpa hak istimewa apa pun?"

"ya, tapi kurasa dia tidak tidak akan dipecat."

aku melangkah ragu memasuki dapur dan disambut oleh bisik-bisik seru antara lee dan kiba. Aku mendekati mereka perlahan. Rasanya geli melihat dua lelaki bergosip dengan seru seperti ibu-ibu arisan. "hei, ada apa sebenarnya?" tanyaku menyela pembicaraan mereka.

Lee menatapku heran seakan-akan aku berbicara dengan bahasa lain, bukan jepang. "naru, apakah kau tidak tahu?"

"tahu tentang apa?" tanyaku tak mengerti.

"iruka-sama memanggil sasuke keruangannya. Wajah iruka-sama tadi seram sekali. Sepertinya, sasuke dalam masalah," jawab kiba menjelaskan.

Kedua mataku mataku membulat. Sasuke? Untuk apa iruka-sama perlu bicara debgannya? "tapi, sebenarnya karena apa?" tanyaku semakin penasaran.

Kiba mengangkat bahunya. "entahlah," ucapnya singkat. "tapi perkiraan kami ini semua karena kejadian heboh waktu itu. Waktu sasuke menghajar salah satu pelanggan kita."

mendadak, naasku memburu tak beraturan. Detak jantungku terasa semakin mempercepat frekuensinya. Kejadian waktu itu? Aku terdiam tanpa mampu mengatakan apapun. Tapi semua ini bukan salah sasuke, ini salahku. Maka tanpa pikir panjang aku melangkahkan kakiku menuju ruang kerja iruka-sama.

"hei, naru! Mau kemana kau?" tanya lee cepat begitu melihatku berjalan menuju ruang kerja iruka-sama.

"membayar utang," jawabku singkat

q^_^p

"restoran ini terkenal dengan keramah tamahannya dan juga pelayanannya yang sopan juga penuh kasih sayang, apa anda ingin menghancurkan semua itu dalam waktu sehari hanya karena tindakan anda yang gegabah?"

"tapi, aku punya alasan kuat untuk menghajarnya."

"sekuat apapun alasan itu, pasti ada cara yang lebih baik daripada menggunakan kekerasan. Tolong, anda harus tahan ego anda yangt inggi demi restoran ini. Restoran ini milik anda juga kan?"

"kau itu tak akan mengerti, kau tidak melihat sendiri kejadiannya."

"itu bukan kesalahannya, tuan!" seruku memotong perdebatan sengit mereka. Sasuke dan iruka-sama segera menoleh kearahku. Terlihat wajah mmenanti penjelasan dari iruka-sama dan kerutan dahi dari sasuke. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menyakinkan hatiku. "ini semua...semua karena saya, tuan. Lelaki tua itu menggoda saya. Sasuke menghajar lelaki itu karena ingin membela saya. Justru seharusnya kita memberikan dia penghargaan karena telah berhasil menunjukkan rasa kesetiakawanan," ujarku mengarang jawaban agar terasa lebih rumit.

Iruka-sama mengangguk-angguk mengerti. Pandangannya beralih-alih antara aku dan sasuke. Dia tersnyum geli masih menatap kami berdua. "tapi, anda harus berjanji tak akan pernah ada kejadian seperti itu lagi," ujar iruka-sama mengajukan syarat.

Sasuke masih terdiam dan memandang iruka-sama dengan sinis. Dia memandang kaku seakan tak terima pada syarat itu. Aku menyenggol bahunya pelan, namun dia masih tak bergerak dan memandang iruka-sama penuh rasa tidak terima. "baik," ujarku cepat-cepat untuk mewakili jawaban sasuke. "dia tidak akan melakukanya lagi. Percayalah padaku."

lagi-lagi sasuke menatapku dengan heran. Seakan-akan curiga pada semua perkataan yang kuucapkan. Aku hanya mengedipkan mata sebagai kode bahwa dia harus diam. "kalau begitu, kalian boleh bekerja lagi," ucap iruka-sama putus asa.

Sasuke masih memandangiku dengan tak percaya, hingga aku mulai membuka mulut, "utangku lunas, bukan?"

"utang?" ulang sasuke makin tak menentu. "kau punya utang padaku?"

aku tersenyum tipis dan memandanginya lekat-lekat. "aku tidak bisa membayar semua itu sekaligus. Tapi anggap saja ini salah satu bayaranku," kisahku ringan.

Sasuke memandangiku dalam diam. Mungkin dia masih tak mengerti akan perubahan sikapku yang begitu mendadak. "50%" serunya mantap.

"apa?"

"kau hanya melunasinya 50%, aku tunggu bayaran selanjutnya," ujarnya sambil berlari menjauh dariku. Aku menghela napas dengan berat. Sepertinya keputusanku menyelamatkannya tidak sepenuhnya benar.

q^_^p

aku membuka loker kerjaku dengan hati-hati. Aku menguap lebar menahan kantukku. Diluar, masih terlihat langit sore berwarna orangye. Huh, perjuanganku hari ini ternyata masih sangat lama. Aku meneguk air putih dibotolku dengan penuh napsu.

Saat aku menunduukkan kepala, aku dapati selembar lukisan disana. Lukisan berisi sepasang mata bulat yang indah. Dari loker sasuke? Sepertinya hal itu tidak mungkin.

"hei, apa yang kau lihat?" tanya suara itu dari kejahuan. Aku segera membuka loker sasuke yang tak terkunci cepat-cepat dan menjejalkan lukisan itu diantara barang-barangnya.

Kulihat sasuke berdiri diambang pintu. Dengan wajah dinginya dia memandangku curiga. "hei, sasuke!" sapaku berpura-pura ramah. "aku sedang membereskan bawaanku. Ternyata banyak sekali."

"beres-beres bukankah ini masih sore?" tanya sasuke dengan kritis. Aku menyipitkan mata sambil berpikir keras akan jawaban yang paling masuk akal. Namun sepertinya terlambat bagiku untuk merangkai kata-kata lagi. Sasuke terlihat membuka lokernya dan menemukan sehelai kertas berisi lukisan sepasang mata itu. Dia terdiam dan perlahan menoleh kearahku. "kau melihatnya?"

"eh?" aku mulai kehabisan kata-kata. Aku hanya membuka mulutku dan sementara suaraku terasa tertahan dikerongkongan.

Dia memandangku tajam. Membuatu menatap kedua mata onyx nya. Mata itu begitu tajam, terasa mencabik dan membaca pikiran yang kusembunyikan. Jantungku terasa berdegup makin kencang. Perasaan macam apa ini? Kenapa aku bisa begitu mati gaya didepannya? Tak ada sedikit senyum yang terlukis diwajahnya. Tapi kedua matanyanya membuat waktu terasa mati terbunuh. Dan aku hanya terdiam menanti apa yang akan diucapkannya. "ya, sudah," ucapnya ringan.

"ha?"

"memangnya kenapa?" tanyanya dengan wajah datar yang selalu melekat pada dirinya. Dia memalingkan pandangannya dariku. Hatiku terasa mencelos. Perasaan tegangku sungguh tak sebanding dengan hasil akhir. Tapi tunggu, untuk apa aku tegang ?

Kulihat sasuke melai berjalan menjauh dariku. "tunggu!" teriakku otomatis. Sasuke menoleh pelan. Lagi-lagi aku terdiam lama, tak tahu harus berkata apa. Yang ada dipikiranku hanya menahannya sedikit lebih lama disini. Huh, apa sebenarnya yang meracuni pikiranku? "lukisan itu kau yang buat?" tanyaku singkat.

Anggukan kecil terlihat. Dia kembali mengalihkan pandangannya dariku dan berjalan menjauh. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, menambah kesan tak peduli pada dirinya. Terlihat angkuh dan mengesalkan. Ya, sepertinya aku sudah kembali pada kesadaran sepenuhnya. Aku mencibirnya dari jauh. Merasa kesal dengan sikap dinginnya.

q^_^p

aku dengan semangat tinggi mengambil bangku kecil sebagai alat bantuku untuk menaiki meja dapur yang agak tinggi. Dengan lincah kulangkahkan kakiku menapak meja itu aku berpegangan erat pada lemari didepanku, yang memang terletak diatas. Aku membukanya perlahan untuk mencari tumpukan piring yang hendak dipakai. Aku berjingkat untuk mencoba melihat lebih banyak lagi.

"hei, sedang apa kau disana?" tanya suara dingin yang menggelitik telingaku. Aku hanya butuh sedikit melirik kebawah untuk mengetahuia lelaki yang berdiri disana adalah sasuke.

Aku tetap berpegangan erat pada ujung lemari itu dan berucap cepat, "mancari piring yang dimaksud lee. Sepertinya ada disini."

beberapa menit tak ada jawaban darinya. Aku masih sibuk mencari-cari piring itu dengan satu tanganku. Menit-menit yang hening berlalu. Aku hampir saja mengira bahwa sasuke sudah pergi meniggalkanku, sampai kudengar suara itu kembali. "kau bisa tidak?"

aku mengangguk yakin tanpa menoleh ke arahnya. "tentu saja aku bisa. Aku ini sudah terbiasa melakukan apapun. Memangnya kau?" sindirku keras.

"mau kubantu?" tanyanya menawarkan bantuan. Aku terkekeh pelan. "dan membiarkan utang budiku padamu bertambah? Tidak akan. Aku bahkn belum melunasi utangku yang kemarin," jawabku sambil mengulik tumpukan piring itu satu-persatu.

"jadi kau masih memikirkannya, ya?" ujarnya sambil mengulum tawa. Aku masih dapat mendengar kikik pelan dari mulutnya. Apa menurutnya hal ini terlihat konyol? "ya, sudah. Kalau kau tidak mau kubantu, aku pergi." lanjutnya datar.

Aku mendengus peln mendengarnya. Aku menarik napas lega saat melihat piring yang dimaksud lee. Aku mengambilnya dengan hati-hati dan ingin beranjak turun. Namun ternyata meja itu cukup licin. "ah!" pekikku pelan saat kaki kiriku sedikit terpeleset kebelakang.

Aaku berusaha menarik napas untuk menenangkan diri. Pelan-pelan aku mencoba melangkahkan kakiku mundur kebawah. Namun sialnya rasa tegang justru makin membesar saat aku tahu, kakiku tak kunjung betemu dengn bangku kecil itu. Tubuhku kini mulai bergetar tak beraturan. Keseimbanganku mendadak pudar dan tubuhku mulai oleng. "sasuke!" teriakku keras dan...

"Aaaaaaaaa!" aku berteriak keras saat akhirnya tanganku yang makin basah oleh keringat tak kuat untuk berpegangan di ujung lemari. Piringku itu jatuh terlebih dahulu kelantai, dan aku sedikit bersyukur karena piring tersebut terbuat dari plastik. Kini giliran tubuhku yang harus bertegur sapa degan lantai keramik itu. Dannn....buk!

Kurasakan tubuhku terbentur cukup keras. Namun aku tidak merasakan keras dan dinginya lantai keramik. Aku justru merasakan kerasnya tulang dan sedikit rasa empuk. Aku sedikit menoleh saat kudengar rintihan kesakitan dibelakangku. Mataku terbelalak kaget. Aku melihat wajah sasuke yang meringis kesakitan dibelakangku. Dan aku baru menyadari bahwa tubuhku terbaring jatuh tepat di atas tubuhnya. Tanganya yang kuat itu menggenggam lenganku erat-erat. Tiba-tiba, rasanya oto-ototku mulai mengejang. Aku sama sekali tak berkutik, hanya dapat melirik sekilas kewajahnya yang berada didekat kepalaku. Kedua mata itu, rasanya ini terlalu dekat (author note : nggak kebayang gimana aegannya :D). Aku mendengar rintihan darinya mulai berkurang. Sama sepertiku, dai pun hanya terdiam. Tangannya masih menggenggam lenganku erat-erat, seakan takut aku tiba-tiba terbangun tanpa menolongnya. Aku masih terpaku sampai terdengar bunyi musik unik dari ponsel sasuke.

Dengan gugup dan tergesa , sasuke mendorong tubuh ku agar ikut terbangun. Aku cepat-cepat bangun dan mengambil posisi duduk dilantai itu. Jantungku masih berdetak tanpa aturan. Aku dapat merasakan satu kelegaan yang luar biasa diseluruh tubuhku. Huh, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Aku merasa semua reaksi ini diluar jangkauanku. Aku tak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya . Dan, kini aku hanya bisa terdiam melihatnya mengeluarkan ponsel dan mengangkatnya dengan canggung.

"ya?" ucapnya tanpa basa-basi di ujung ponselnya. "apa? Tapi...bukankah ada karyawan tou-san? Tapi,tou-san aku harus...," ucapanya terputus dan kulihat wajahnya memasang ekspresi malas dan bingung yang bercampur menjadi satu. "baiklah aku akan menjemput tamu tou-san, besok. Pukul berapa?"

aku merasa canggung duduk disebelahnya. Tiba-tiba saja, tiap melihat kedua meta sasuke, aku merasa berada didunia yang bukan milikku. Aku merasa terdampar dijiwa yang bukan milikku.

q^_^p

aku melihatnya berbicara diponsel sambil sesekali melirik kearahku. Kedua matanya bertemu dengan mataku. Dapat kulihat dengan jelas wajahnya yang memerah bagaikan tomat dan bibirnya yang dikulum berkali-kali untuk menahan sesuatu. Aku mulai merasa tak beres dengan perasaanku sendiri. Maka aku segera berdiri dan meninggalkan ruangan ini cepat-cepat, tanpa sekali pun menoleh kearahnya lagi.

TO BE CONTINUED