Suasana hening dikamar luhan. Yeoja itu tengah terbarig lemah setelah mendapat suntikan dari dokter tiffany.
Kris menatap sehun tajam. Ia menang tidak tau apa-apa dari tadi tidur dan baru tau saat manager han memanggilnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanyaa!"
"Aku tidak tau hyung, aku baru sampai dan dia sudah seperti itu ditaman" jawab sehun lemah. Kris menghela nafas gusar. Semua ini ada hubungannya dengan yang dikatakan oleh papanya tadi. Mungkinkah luhan dulu sering mengamuk seperti ini?
Kris mengepalkan tangannya marah, melihat taman yang hancur berantakan dari balkon. Ia marah pada dirinya sendiri, ia benci tidak ada disaat luhan membutuhkannya.
"Hyung .. ada yang ingin kebicaraan padamu"
...
Sehun tersenyum lemah, ia sudah mengungkapkan hubungannya dengan luhan pada kris. Ia juga mengatakan kalau ia sangat mencintai luhan. Dari dulu...
Sehun bersyukur kris percaya padanya saat ini, setidaknya ia bisa terang-terangan dengan luhan walaupun dengan teman-temannya saja.
"Bibi sudah selesai?" Tanya sehun pada bibi jung yang sedari tadi membersihkan tangan dan kaki luhan.
"Ya tuan ... saya permisi dulu"
...
Sehun side
Aku duduk disebelah tempat tidurnya, menggenggam tangannya. Dapat kulihat bekas sayatan yang hampir memudar, tapi ada bekas ikatan tali, kata bibi jung tidak ada yang mengikat luhan. Itu memang sering ia lakukan kalau seperti tadi. Tapi aku merasa prilakunya seperti tadi menggambarkan kalau ia saat ini sedang diikat, jiwanya sedang terpenjara.
Saat aku kembali memandang wajahnya, aku dapat melihat air mata yang menetes. Luhan menangis?
"Kau sudah baikan sayang? Kenapa menangis?"
Ia masih bersih keras menutup matanya, padahal aku tau ia ingin berteriak menangias sekeras mungkin.
"Hey ... apa ada yang salah? Hmm ... lu ... uljima"
"Hiks.."
"Hey ... kemarilah ... beri aku pelukan"
Dengan cepat ia bangun mendekap tubuhku. Dapat kurasakan punggungnya bergetar dan nafasnya tidak teratur.
Ia melepaskan pelukan kami.
"Pulanglah" ucapnya serak.
"Aku ingin bersamamu"
"Kumohon pulanglah sekarang jugaa! A-aku ... a- pulang sehun! Pergii!" Racaunya. Aku menghela nafas berjalan menuju pintu. Lebih tepatnya menggantung jaket ku digantungan rusa disana. Aku menatap luhan yang menunduk memeluk lututnya ditempat tidur. Dan aku bergabung disana, bukankah dulu kami sering tidur berdua? Kali ini, tidak ada salahnya kan?
...
Luhan menatap kaget saat sehun kembali dan malah naik ketempat tidurnya. Degup jantungnya mengalahkan rasa takutnya.
"H-hun.."
"Hmm?"
"Aku sudah bilang, kumohon pergilah. Aku tau kau jijik padaku. Aku menakutkan"
"Kau tidak menakutkan. Tapi menggemaskan" sehun menarik luhan kedadanya agar dapat melihat wajah gadis itu.
"A-apaa a-"
"Sudah kubilang, kau menggemaskan, cantik dan ... hmmm ... sempurna. Yaah ... jika tidak ada air mata disini" sehun menghapus air mata luhan.
"Hun ... aku takut"
"Tidak ada yang perlu kau takutkan. Aku ada disini untukmu"
"Ani ... aku ..." luhan menghela nafas ia tidak dapat menyampaikan apa yang ia pikirkan lebih tepatnya tidak dapat menyusun kata-kata yang cocok untuk mengungkapkannya. Memori-memori mengerikan terus bermunculan dibenaknya dan membuatnya takut.
"Hun ... aku merasa ada sesuatu yang kulupakan"
"Tidak penting apapun itu asal kau tidak melupakanku"
Luhan tidak menjawab masih mencoba mengingat memori yang terpenggal itu. Tapi, ia semakin takut. Saat memori itu mengantarnya pada wanita mengerikan yang memegang gunting berlumuran darah. Ia kembali memeluk sehun erat.
"Kenapa kau masih mau menemaniku hun? Sekarang aku terlihat jelek"
"Bagiku kau tetap cantik, seperti apapun keadaanmu"
"Terimakasih sudah ada disampingku"
"Dan terimakasih sudah mengizinkanku berada disampingmu. Lu, aku mencintaimu"
Luhan tersenyum, ia lega saat ini. Karena sehun berada disampingnya.
"Kau tidur?" Gumam luhan.
"Ajik" sehun melepaskan rangkulannya membaringkan luhan lalu ikut berbaring disamping yeoja itu.
"Peluk aku lu, sampai kau tertidur" ucap sehun. Luhan mengangguk melingkarkan tangannya dipinggang sehun. Aroma sehun membawanya pada ketenangan. Luhan tenang, begitu pula jiwanya.
...
Kris tersenyum setelah melihat luhan. Walaupun dalam hati ia mengumpat sehun yang seenaknya memeluk luhan. Tapi, melihat wajah teduh luhan, semuanya tidak berarti. Ia hanya ingin adiknya tersenyum. Dan mungkin ia akan berterimakasih pada sehun nanti.
...
"Good morning semuanyaaaa!" Sapa luhan ceria memegang spatula masak.
"Lu, kau tidak perlu sekolah hari ini" kris berucap.
"Eoh? Waeyo? Aku ingin bertemu teman-teman hari ini dan memamerkan fotoku tidur bersama sehun!" Serunya mengangkat smarphonenya tinggi-tinggi. Wajah sehun merah padam menahan malu.
"Lu! Apa maksudmu? Astaga, aku hampir mati kaget tidak menemukanmu disampingku saat bangun"
Luhan mempoud kesal.
"Kalian belum mandi? Cepat siap-siap" ucap luhan kesal. Sehun dan kris saling bertatapan bingung. Mereka melihat manager han yang ada dibelakang luhan mengangguk memberi kode agar menuruti permintaan luhan.
"Baiklah baiklahh"
Sehun menghampiri luhan penasaran, ia sudah lengkap dengan seragamnya. Sebenarnya milik kris. Agak kebesaran sih ditubuhnya tapi tidak masalah, ia tetap sempurna.
"Lu, kau tidak seriuskan tentang... memamerkan..."
"Aku bercanda kok" kata luhan tenang. Sehun bernafas lega.
"Kau ikut gege atau sehun?" Tanya kris yang baru saja turun.
"Tentu saja denganku hyung" sahut sehun cepat. Kris mendengus kesal.
"Lu, kau sudah baik-baik saja kan? Sudah minun obat?"
Luhan mengangguk mengangkat mangkuk obatnya sudah kosong.
"Lu, mampir kerumahku dulu yaa"
"Apa tidak terlambat hun? Noo noo ... nanti saja"
"Ah! Menyebalkaan! Ayolah lu. Aku tidak percaya diri memakai celana kebesaran kris!" Rengek sehun kumat. Luhan tertawa merangkul tangan sehun menyeretnya halus. "Kajja kesekolah. Kau bisa menelpon seseorang dari rumahmu untuk mengantarkan bajumu"
"Baiklaah baiklah.. hyung aku berangkat dulu"
"Aku berangkat juga geee! Annyeong!"
...
Sehun meringkuk disofa exo camp. Ia gusar menunggu seragamnya datang.
"Kau seperti orang sembelit" ejek luhan kesal. Ia duduk diseberang luhan.
"Ayolah pangeran oh sehun. Kau tetap tampan dengan pakaian seperti iitu mengingatkanku padamu saat masih kecil" goda luhan. Sehun memberenggut kesal.
Luhan tertawa kecil memilih merebahkan tubuhnya disofa marun itu. Sepatu berwarna pinknya menghiasi meja. Sehun memberenggut kesal. Kebiasaan luhan dari dulu.
"Sehun-ah ..."
"Hmm"
"Kau memberitahu kris sesuatu?"
"Aku hanya mengatakan padanya kalau aku pacaran denganmu. Jadi, bersiap mulai sekarang karena kau tidak akan tidur sendiri lagi"
"Mwooo! K-kenapa?"
"Karena aku akan sering tidur denganmu"
"M-mwo ... sirheooo! Dasar mesum!"
"Hahaha ... apa yang mesum. Aku hanya akan berbaring disebelahmu. Apa itu mesum? Memang apa yang kita lakukan jika tidur bersama?" Kini sehun sudah berada dihadapan luhan yang sudah berbaring.
"Hmm ... emmm ... " luhan menahan degup jantungnya gugup.
"B-ba-bagaimana j-jika kau .. k-kau tiba tibaaa .. ti-"
"Maksudmu seperti ini?" Kini sehun menumpukan tangannya diantara kepala luhan. Dalam hati ia tertawa melihat bagaimana wajah rusanya semerah tomat.
Luhan menatap sehun kaget, sehun mengeluarkan smirknya mendekati wajah luhan. Luhan menutup matanya takut.
"H-hun-ah ... j-ja-"
Cup
Luhan membuka matanya saat kecupan singkat dikeningnya. Sehun sudah menjauhi tubuhnya berjalan santai kepintu keluar exo camp. Bajunya sudah datang.
...
Kris tengah berdiri dihadapan papanya.
"Jangan pernah membawa luhan keperusahaan lagi" ucapnya datar masih memandangi layar laptopnya. Lebih tepat rekaman cctv anaknya diruangannya. Kris melirik sebentar kelayar itu.
Wu xian li menutup laptop didepannya kasar.
"Luhan memandangi potret itu" gumam kris.
"Ikut aku" kata pria tua itu. Kris diam selama perjalanan. Mereka sampai dirumah tua tapi tetap mewah. Kris mengikuti lelaki tua itu bingung. Ia menatap lama sebuah foto pernikahan ditengah ruangan.
"Ini rumah lama kami" ucap wu xian li. Kris mengangguk. Ia masih memperhatikan betapa hangat keluarga ini dulu.
"Yaah ... keluarga kami memang tentram dulu ... setidaknya sebelum semuanya terungkap" ucapnya membuka ruangan. Kris masih mengikuti ayah tirinya.
"Wanita itu adalah seorang yang hangat dari luar. Tapi ... hatinya sungguh kejam. Awalnya aku tidak mengerti kenapa ia tidak ingin memiliki anak. Aku memaksanya untuk punya anak. Ia mengandung dan melahirkan. Aku tidak pernah curiga apapun itu" lelaki tua itu menghela nafas.
"Waktu itu dana penyakitan. Ada masalah dengan tulangnya. Ia dirawat diluar negeri. Anak itu beruntung karena tidak sempat dirawat wanita iblis ini" tuan wu mengepalkan tangannya menatap foto sang mantan istri.
"Ia memiliki kelainan mental. Ia bahagia setelah menyakiti anaknya sendiri" wu xian li berjalan membuka pintu rahasia dibawah tanah yang dulunya ia tidak pernah tau.
Kris menatap ruangan itu tidak mengerti. Tingginya hanya sampai setengah tubuhnya. Mereka hanya berdiri diluar. Ruangan bernuansa kuning itu entah kenapa menyayat hatinya. Kris penasaan memasuki ruangan itu sambik menunduk. Ia dapat melihat kursi dan diatasnya ada jejak kaki berwarna merah. Telapak kaki kecil yang mengiris hatinya meyakinkan dirinya bukan orang yang sedari tadi ada dibenaknya.
"Tunggu ... bukankah potret diruanganmu waktu itu..?"
Kris keluar mengikuti ayah tirinya dengan hati berdebar takut. Tubuhnya terjatuh lemah seketika melihat susunan foto menyedihkan dihadapannya.
Foto dimana seorang yeoja mungil disiksa, foto yeoja mugil itu tidak berdaya. Rambut yeoja mungilnya yang botak, badan polosnya dihiasi memang biru, merah bahkan ada yang berwarna ungu. Gambar yeoja mungilnya didalam kotam kubus menyedihkan, gambar yeoja mungil yang setiap paginya mengecup pipinya dengan senyuman meringkuk dipojok didinding dengan kuku tangan kotor tanah bercampur darah hewan.
"Nhgghhhaa aaappaaaa! Apa semuaa ini!" Erang pemuda baleseran itu meracau air matanya tak terbendungkan lagi.
"Itu luhan"
"Tidakk! Tidak mungkin! Siapa yang tega melakukan itu pada anak manis seperti dirinyaa! Hiks ... katakan kalau itu bohong papaa!"
Wu xian li menghapus air matanya. Tubuhnya bergetar suaranya serak karena tangis.
"Aku ayah yang bodoh kris!"
Kris bangkit memeluk tubuh tua yang rapuh itu.
"Setelah mengetahui semua itu otak ku tidak bisa berpikir apapun lagi kris ... aku membawanya kerumah sakit. Tubuhnya memang membaik tapi tidak dengan mentalnya. Ia ketakutan setiap hari kris! Ia menangis meracau lalu terdiam seperti orang bodoh! Yang kulakukan saat itu menghapus semua ingatannya! Aku tidak membakar semua ini untuk menghukum diriku sendiri. Aku bahkan tidak dapat memeluk anakku sendiri karena takut kenangan buruk itu kembali padanya"
Kris melirik jam tangannya sudah jam 1 siang. Ia menghabiskan banyak waktu dengan ayah tirinya itu. Sekarang ia paham apa yang terjadi. Ia memandangi layar ponselnya. Fotonya bersama luhan. Gadis cantik ini memiliki masalalu yang kelam.
...
Luhan menumpukan dagunya pada tangan kesal. Ia tengah dikantin bersama kyungsoo dan baekhyun.
"Sudah lah lu, paling juga dia ada rapat" kata kyungsoo datar.
"Hahh ... "
"Ayolah, bagaimana kalau kita keexo camp, disana kan menyenangkan!"
"Mwo? Sirheo .. ketempat anak-anak sombong itu ... nooo noo!" Kyungsoo mencibir kesal.
"Begitu-begitu pacarmu salah satu dari mereka"
"Hei! Bukankan nanti kita bertemu dikelas seni soo?"
"Hmm ... benar. Ah .. kenapa kelasku harus bergabung dengan kelas otak bebek seperti kalian"
"Mwoo! Yack! Sialankau!"
...
Sehun dan luhan saling menatap lalu tertawa kecil. Mereka tengah dikelas seni kelas melukis.
"Sst, lu bisa kau tatap aku 5 menit sajaa" bisik sehun. Luhan mengangguk tersenyum menatap sehun. Beberapa kali ia melakukan v sign. Disaat yang lain konsentrasi mereka asik bertatap ria.
"Sst, hun-ah bisa kau tegakan kepalamu .. sedikit saja"
Sehun mengangguk menegakan kepalanya agar mudah dilihat luhan.
Kyungsoo mencibir melihat kelakuan sehun dan luhan. Ia berada disebelah sehun dan bersebrangan dengan luhan.
"Baiklah segera kumpulkan hasil kalian" kata im sonsaengnin. Luhan mengangkat tangan lebih dulu menyerahkan hasil karyanya sambil tersenyum lebar. Sehun tertawa kecil, 'seperti luhanku yang dulu, selalu ceria'
"Baiklah, aku akan memamerkan hasil karya sehun dan dana... yaaa ... aku beri nama beauty and the beast" ucap im sonsaeng. Kini mereka berada distudio indoor sekokah. Berhubung akan ada festival jadi mereka membantu menyusun acara sekalian mengumumkan hasil seni.
"Karya oh sehun!" Sonsaengnim memperlihatkan lukisan indah gadis cantik memakai gaun hijau pakaian dewi persephone. Tapi dikepalanya ada tanduk rusa. Semuanya terpana menatap lukisan sehun. Menatap luhan iri karena wajahnya sangat mirip dengan dilukisan. Luhan menunduk malu malu.
"Dan karya dana wu!" Im sonsaeng memamerkan gambar abstrak lelaki entah lelaki atau perempuan tidak jelas. Telanjang dada memakai pakaian khas dewa hades. Ada anjing berkepala yang dilihat seperti kelinci. Wajahnya sama sekali tidak mirip sehun.
Sehun tertawa melihat karya luhan, padahal selama jam melukis si rusa terus memperhatikannya.
"Sonsaengnim! Bisa lukisan itu untukku?" Tanya sehun. Semua bersorak halus. Im sonsaeng menggelengkan kepalanya.
"Padahal aku ingin membawa pulang gambar ini dan meletakannya diloteng agar para tikus kabur"
...
Luhan memberenggut kesal diparkiran.
"Ayolah lu, naik" bujuk sehun.
"Kau tidak lihat cuacanya sangat panas" omelnya kesal. Sehun memijit pelipisnya. Menatap luhan dari atas sampai bawah. Sebuah gulungan kertas menyembul dari dalam tasnya. Begitu juga tas sehun.
Sehun turun dari motornya merapikan anak rambut luhan. Melepas jaketnya dan memasangkan ketubuh mungil yeojanya itu.
"Kulitmu itu pucat, akan bagus jika terkena sinar matahari. Lagi pula ini sudah sore" kata sehun sambil merapikan jaket ditubuh luhan dan memperbaiki simpul hand scarf dilengan mungil luhan.
"Tidak! Bagiku hari ini panaaaaaaasssss! Juga disini!" Ucapnya kesal menunjuk dadanya. Matanya sudah berlinang air mata siap tumpah.
"Heii, luu ... luhan kumohon jangan menangis hmm? Gambaranmu sangat indah aku menyukai ini" bujuk sehun memegang kedua pipi luhan. Luhan memejamkan matanya menggeleng.
Ia kesal saat sonsaengnim memamerkan lukisan seulgi, lukisan wajah sehun yang sempurna. Sangat indah dan mirip sehun. Sedangkan olahannya seperti gambar anak tv yang kucel habis injak-injak.
Sehun menunduk lalu membuka kancing teratas luhan. Lalu menecup lama dada yeoja itu. Luhan menatap kaget mundur satu langkah.
"A-apah ... apa yang kau lakukan" ucapnya menutupi dadanya.
"Agar yang didalan sana tidak panas dan sedih lagi"
"M-mwo "
Sehun tersenyun kecil melihat wajah rusanya memerah. Ia mendekati luhan mengancingkan kembali kemeja luhan.
"Bagiku, karya hasil tanganmu yang terbaik sayang. Aku mencintaimu" bisik sehun mencium kening luhan. Luhan masih tidak bergeming.
"Kajja ... aku ingin minun bubble tea"
...
Setelah minum bubble tea bersama sehun mengajak luhan kerumahnya. Luhan mengulum senyum memasuki rumah sehun. Ia bertemu ibu sehun.
"Lu, aku naik ganti baju dulu ne. Dan eomma selamat mengintrogasi calon menantu eomma. Dan jangan tanyakan hal yang aneh-aneh!"
Kibum tersenyum mengajak luhan duduk disofa. Kibun tidak menanyakan apapun menyangkut masalalu ataupun keluarga luhan. Ia hanya menanyakan bagaimana luhan sekolah, bagaimana berpacaran dengan sehun dan juga yang satu ini.
"Apa kalian sudah sering berciuman? Aah ... sebenarnya itu tidak apa-apa sih. Kisseu sangat lazim dalam berpacaran. Tapi, kalau melakukan hubungan ehm sex. Kuharap kalian jangan melakukannya dulu sebelum menikah. Kau tau kalau sehun dulu tinggal diluar negeri pergaulannya sangat bebas yaah ... kau harus hati-hati dengannya"
Luhan mengangguk, wajahnya merah padam menahan malu.
"S-sehun tidak pernah melakukan hal yang berlebihan seperti itu eomma"
"Baguslahh! Kau tau, sehun itu sering mengigau tentangmu dari duluu"
"N-nee?!"
"Ahahaha ... ia tidak pernah pacaran dengan wanita lain. Katanya dia sedang menunggu luhan nuuna"
"A-aku?"
"Iyaa! Aku dan appanya sempat khawatir kalau kau tidak ada mungkin ia akan menjadi bujangan sampai tua nanti!" Seru kibum semangat. Luhan menggaruk tengkuknya canggung ikut tertawa.
"Kau tumbuh menjadi yeoja yang cantik luhan. Aku titip sehun padamu. Ia sangat mencintaimu" ucap kibum. Luhan tersenyun mengangguk.
"A-aku juga mencintainya"
"Anak manis, eh? Kenapa bocah itu belum turun juga. Ah! Benar! Kau kekamarnya saja dulu! Eomma menyiapkan makan malam. Kau tau aku tidak suka diganggu saat memasak bukan?" Gurau kibun.
"Aku bisa membantu eomma!"
"Ooh nooo noo! Jangan sayang. Bisa-bisa bocah itu akan merajuk padaku selama seminggu jika tau aku menjadikan calon istrinya sebagai pembantu. Lebih baik kau kekamarnya saja dulu nanti eomma panggil"
Luhan mengangguk berjalan melewati tangga.
Luhan tersenyun kecil melihat pintu kamar sehun. 'Prince Oh' ukiran itu ia yang mengusulkan saat dipulau yeonhwa dulu.
"Sehun-naaahh!" Panggil luhan didalam kamar tidak mendapati sehunnya.
"Lu? Aku terlalu lama?" Tanya sehun yang baru keluar dari kamar khusus pakaiannya.
"Eoh? Tidak kok. Eomma menyuruhku menunggu disini"
"Jincha? Aaaah eomma yang pengertian"
Tok tok
Sehun membuka pintu kamarnya seorang pelayan membawakan pakaian untuk luhan.
"Nyonya menyuruh mengantarkan ini. Katanya untuk nona luhan"
Sehun mengangguk mengambil alih keranjang pakaian
"Lu, ini baju ganti untukmu. Kau mau mandi dulu?"
"Lebih baik mandi, badanku lengket seharian disekolah"
Luhan menatap pantulan dirinya dicermin. Ia tersenyun menegang dadanya. "Sehun menciumnya tepat ditengah sini. Dan aku suka"
Luhan menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamar mandi. Ia melihat sehun yabg tengah menempelkan lukisan jeleknya didinding.
"Hunnaaah"
"Eh? Kau sudah selesai? Kenapa belum keluar?" Tanya sehun bingungn ia tersenyun dalam hati memuja eommanya. Seorang designer terkenal. Memberikan luhan baju yang manis. Dress diatas lutut dengan corak bunga berwarna kuning bagian bawahnya mengembangi indah dan dibahunya sedikit terbuka. Luhan sangat cantik, dan sehun berniat mengajaknya berkencan malam ini.
"I-inii" ucap luhan risih mendekati sehun.
"Aku tidak bisa menjangkau resletingnya" ucap luhan pasrah menggapai punggungnya.
"Biar aku" sehun meneguk air liurnya kasar menatap punggung polos dihadapannya.
Cup
Nafsunya tidak tertahan lagi. Ia mengecup tengkuk luhan menghisap kulit semanis cherry itu.
"H-hunah"
Sehun melepaskan hisapannya ia mengecup bekas kemerahan ditengkuk luhan menaikan resleting yeoja itu. Ia menggeram tertahan menahan hormonnya agar tidak menyerang rusa manis didepannya.
"Tsk, dasar mesum" gumam luhan. Berjalan ketempat tidur langsung merebahkan dirinya. Dalam hati ia mencoba menahan getaran tangannya dan berdoa dalam hati agar wajah merahnya tidak terlihat. Sedangkan sehun kabur entah kemana. Mungkin menuntaskan hasrat alamiahnya.
Luhan tersenyun kecil mendapati kotak besar didekat meja belajar sehun. Semua isinya adalah kenangan mereka bersama.
Luhan memegang kepalanya sakit, ia merasa telah melewatkan kenangan itu. Tidak, ia merasa meloncati kenangan itu. Ia merasa ada sesuatu yang telah dilupakannya. Setiap ia mengingatnya hatinya berdenyut sakit.
'Kenangan apa sebenarnya ini. Jika itu hal menyedihkan ... aku tidak ingin mengingatnya'
.
.
.
TBC
.
.
.
naah ... fast update kaannn ;;)
Tau kan udah kenapa alasannyaa :)
BIG THANKS!
Kachimato|egatoti|SFA30|guest|ruixi1| |kiranMelodi|nova hunhan|younlaycious88|khalidasalsa|Kimsibling|hatakehanahungry|3678fans-EXO|kimpandakim1|kimyori95|ramyoon|luhannieka|ChagiLu|hanhyewon357
And big thanks yang udah nge-fav sama follow ff ini! Jeongmal gomawo ...
See you next chapter ...
Review juseyoo ...
Don't be a silence reader :)
